Actions

Work Header

Bersama Teman itu... Menyenangkan

Summary:

Cerita dimana jika bersama teman, pasti ada saja sesuatu yang berkesan. Entah konyol maupun menyenangkan.

Notes:

Joker Game (c) Koji Yanagi

Saya tidak mengambil keuntungan materiil selain hanya untuk hiburan semata

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Bersiul

Summary:

"Oh iya, katanya kalau mau manggil angin, coba bersiul. Nanti ga lama anginnya datang."

Sepoian angin memang datang, tetapi dalam jelmaan yang tidak diduga.

Notes:

Warning :

- bahasa sesuka hati
- indikasi OOC yang luar biasa
- penistaan terhadap para tokoh.

Mohon maaf.

Chapter Text

Jam dua belas siang, matahari terasa sedang terik di pucuk kepala. Bersyukur, Sakuma sedang berada di beranda sekolah lantai dua, jadi teriknya tidak terlalu berasa. Tapi tetap saja sih, absennya desiran angin membuat udara terasa hanya berdiam di tempatnya. Istilah mudahnya adalah gerah yang pengap. Sakuma tak kuat.

"Astagaa kenapa ga ada angin begini sih, ya?"

Sakuma bersungut sambil tangannya menyaput udara sekitar. Berharap desingannya mampu menghasilkan embusan angin. Berhasil, tapi tidak seberapa banyak, hanya mencakup terpaan kecil yang sama sekali tidak bisa melepas pengap.

Disampingnya, Hatano turut melakukan hal yang sama, menerpa ujung tangan untuk menghasilkan deburan angin yang tidak seberapa, "Haihh... Tetap aja ga berasa." sambil berdecak, tangannya menerpa lebih cepat. Kaminaga yang berada di sisi kanan Sakuma melirik sebentar untuk memperhatikan. Kemudian senyum miringnya tercipta nyaris sempurna.

"Biar berasa, mendingan kamu buka aja seluruh kancing seragam mu. Pasti adem."

Sakuma mendengus, dalam hati menggerus, iya matamu yang adem lihat pemandangan ena.

Hatano di sampingnya mendelik galak, "adem engga, masuk angin iya. Gundul!"

"Nanti kalau kamu masuk angin, aku siap ngerokin kok." ujar Kaminaga lagi, plus -cling, kedip nista (ganteng) yang membuat Hatano mendesis geram "Ogah."

Sakuma dalam bayang mendengus lelah, bilang aja mau modus. Dasar Kamemenaga. Tak lama Sakuma tersenyum jenaka, merasa geli sendiri dengan julukan barunya untuk si kawan lama.

"Oh iya." yang disunguti Hatano tadi kembali membuka suara, sedikit melirik ke sisi kiri (dimana ada sedikit hingar-bingar dari para siswi yang baru keluar dari kelas) "katanya kalau mau manggil angin, coba bersiul. Nanti ga lama anginnya datang."

"Hah? Riset dari mana itu?" balas Hatano.

Sakuma menyimak.

"Aku udah pernah nyoba sendiri. Dan berhasil loh."

"Pasti cuma kebetulan." sungut Hatano lagi, kali ini sambil membuka satu kancing seragamnya karena tidak tahan akan kegerahan. Dari seberang pandangan (yang tidak diketahui Hatano) Kaminaga cengar-cengir bahagia.

"Yah, apa salahnya dicoba kan?" kali ini arah suara datangnya dari Sakuma. Walaupun saran Kaminaga terdengar tidak meyakinkan tapi seperti yang ia ujarkan, tidak salah untuk dicoba. Siapa tahu datang sungguhan.

Maka dengan satu tarikan nafas pelan, kemudian Sakuma mengerucutkan bibir yang sedikit membuka, meniupkan hempasan udara dalam rongga dada hingga menimbulkan gesek yang menghasilkan bunyi merdu.

Satu kali dilakukan tapi belum ada perubahan. Dahi Sakuma sedikit mengerut dalam, dicobanya lagi menyuarakan siulan, kali ini dengan nada yang agak panjang dan lantang. Tanpa disadarinya, Kaminaga yang berada di sisi kanan agak tergelak tawa, sayang Sakuma terlalu fokus menyanyikan siulan sampai tidak sadar kalau ada sebuah perubahan besar menghampiri mereka.

Di siulan yang kedua, seorang siswa yang nampak flamboyan, yang tidak sengaja lewat di sekitar (atau malah sengaja?) tergugah hatinya untuk memantuk bunyi siulan Sakuma. Melihat kehadiran serta-merta si siswa dengan dahi lebar dan poni meliuk elegan membuat tawa Kaminaga makin pecah.

"Sakuma-san memanggilku?"

Sakuma yang dihampiri malah makin mengerutkan kening. Tidak paham. Karena ia merasa sedang memanggil angin, bukan Miyoshi.

"Hah?" balas Sakuma makin tak paham. Wajah tanyanya justru mengundang gelak tawa Kaminaga makin membahana. Hatano di samping kiri hanya mampu memutar bola mata. Ini antara ketidaksengajaan atau diam-diam Kaminaga yang mengatur siasat kong-kalikong dengan sohibnya satu itu.

"Iya Miyoshi," Kaminaga bersuara ditengah usaha meredakan tawa, membuat Sakuma curiga, "Sakuma tadi memanggilmu. Katanya minta dikipasin gara-gara gerah."

"Hoi!" sahut Sakuma. Sekarang ia mengerti duduk perkaranya, buru-buru menengok ke arah Miyoshi terlebih saat pandangan tidak sengaja menyapu lirikan tajam Yuuki-sensei (pamannya Miyoshi) yang keluar dari mulut pintu kelas dekat mereka. "Bu- bukan begitu maksudnya- duh Kaminaga!" Sakuma makin beringas membantah terlebih saat si lelaki berwajah jenaka menjawil lengan seragamnya.

"Oh begitu," Miyoshi tersenyum. Legit, yang mengundang gelegar bergidik bagi Sakuma. Kesalahpaham yang diambil sepihak makin merajalela. Semua gara-gara Kaminaga! "Sini ku tiupin supaya Sakuma-san adem."

Tanpa diminta, Miyoshi segera meraih pergelangan tangan Sakuma yang berhenti mengibas, mengajak si lelaki ganteng teman sekelas Hatano itu untuk duduk di bangku depan kelas.

Oh tidak.

Jerit hati Sakuma yang dibungkam lirikan tajam Yuuki sensei. Baiklah, agar tidak menimbulkan perkara makin parah, Sakuma menurut saja. Takutnya, kalau ia membantah, Yuuki sensei bisa saja balik mengerjainya di kelas nanti.

Sakuma mengelus dada, berharap ketabahan bisa dilipatgandakan untuknya.

"Sini, perlu aku bukakan kancing seragamnya?"

"Tidak. Tidak perlu, Miyoshi. Haha- haha-" Sakuma menelan tawa getir dalam wajah merana.

Hatano masih diam di tempat semula, memperhatikan kedua sejoli (kalau Sakuma mendengar hal ini, mati-matian ia akan menolak) yang rusuh memenuhi kursi kayu.

"Hatano mau ditiupin juga?"

Kaminaga sudah menjulang di sampingnya, dengan muka jenaka yang ingin sekali Hatano jitaki kepalanya.

"Najis." balasnya sengit.

Tapi bukan Kaminaga namanya kalau tidak nekat memaksa. Dengan sedikit merundukan kepala (dan Hatano agak mendongak padanya untuk memamerkan wajah kesal) Kaminaga meniupkan udara melalui celah bibirnya yang membuka. Mungkin akan terkesan manis bila dilakukan perlahan seperti yang Miyoshi lakukan pada Sakuma.

Yah, tapi Kaminaga tetaplah Kaminaga, ia justru melakukannya sekuat tenaga, tepat di muka Hatano hingga poninya yang menjuntai di sisi dahi terhempas melawan gravitasi.

Pemuda yang lebih pendek auto mendesis murka.

"KA.MI.NA.GAAAAAA!!!"

Yang diteriaki namanya buru-buru ambil seribu langkah sebelum di banting ke lantai atau jidatnya di jedotkan ke tembok terdekat.