Chapter Text
Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+
Warning : Typo, OOC, OCs bertebaran, headcanon-AU author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.
.
.
Buzen no Kuni.
Di sebuah halaman depan honmaru, terdengar suara dalam dan berat tanpa keramahan yang dibuat-buat dari sosok seseorang yang berdiri tegap seperti patung batu.
“Nama saya Reizei dari divisi investigasi. Saya datang untuk pemeriksaan.”
Semua penghuni honmaru itu menoleh ketika sosok asing itu berjalan melintasi koridor, saling bertanya siapakah orang itu, kenapa bukan saniwa mereka yang datang.
Sudah 3 hari saniwa mereka tak kembali, tentu saja semua mengira orang yang datang dari pintu gerbang adalah sang pemilik honmaru.
Tak lama kemudian semua toudanshi kembali mengerjakan tugas harian mereka, tidak meributkan lagi keberadaan si pendatang baru tersebut.
Gokotai berjalan menyusuri koridor, sesekali saja menoleh ke belakangnya, takut pria itu menganggapnya tidak sopan jika menatap terlalu lama. Harimau-harimau putih Gokotai mengikuti mereka dengan penuh semangat, ada yang mengekor Gokotai dan ada pula yang berusaha menarik perhatian Reizei.
Ia ingat bahwa aruji-sama pernah mengatakan sesuatu tentang ‘investigator’ dari organisasi tempat semua saniwa berasal, tapi baru kali ini Gokotai bertemu dengan manusia investigator ini.
Hal yang menjadi fokus utama jika orang melihat pria itu adalah luka besar di sebelah kanan wajah pria itu, kulit sedikit membengkak dan mengeriput, merambat dari kening hingga leher sampai tertutupi kerah jas seragamnya. Sekilas terlihat sebuah gerakan ganjil di dalam rongga mata yang nyaris tak bisa terbuka itu, bola mata yang berkilat terkena cahaya, menampilkan teksturnya yang terbuat dari kaca. Pria itu tak berusaha menutupi profil wajahnya itu.
Artifisial, sebuah kosa kata baru yang Gokotai pernah pelajari dari saniwa mereka.
Tantou itu sendiri memiliki tubuh manusia normal, jadi ia tak mengerti dari konsep kata itu.
Mebayangkan sesuatu yang bergerak bagai anomali di dalam wajahnya membuat Gokotai merinding. Tapi Gokotai takut pada pria itu bukan karena penampilannya. Ada suatu aura yang memperingati dirinya untuk tidak ikut campur atau menanyakan apa pun mengenai keberadaan pria itu di sini. Bukan tipe orang yang bisa diajak melakukan basa-basi. Langkah kaki yang tegap dan berat setiap menapak di lantai kayu itu sudah cukup membuat tantou itu mempercepat langkahnya sendiri.
Kalau bukan karena sedang bertugas sebagai sekretaris, Gokotai tidak akan memberanikan diri mengantar Reizei mengelilingi honmaru mereka.
Mereka tiba di sebuah ruangan dengan pintu kayu berukir yang kontras dengan semua pintu shouji yang mengapitnya.
Gokotai bertanya, “Anu.. Maaf, tapi apa saja yang harus anda periksa dari ruangan Aruji-sama?”
“Hanya sebuah dokumen.”
Reizei tidak langsung melangkah masuk. Pria itu malah melangkah turun dari lantai kayu yang tinggi ke atas tanah pekarangan, berlutut satu kaki memperhatikan rongga bagian bawah bangunan yang ditopang deretan kayu.
Gokotai tidak mengerti apa yang pria itu lakukan, tapi tidak berkata apa-apa.
.
.
Pandangan menusuk dari naga di dalam lukisan di dinding menyambutnya saat memasuki ruangan itu.
Reizei melihat sekilas keseluruhan isi ruangan. Khas tempat tinggal tradisional biasa; lemari kayu terbuka dengan isi tersusun rapi, meja rendah untuk menulis yang penuh dengan kertas, lemari geser tempat menyimpan futon, ceruk di dinding untuk menaruh barang-barang antik.
Lukisan naga di belakang meja kecil dan beberapa hiasan simpul tali di dalam lemari kayu serta koleksi hiasan guci keramik di ceruk dinding memberikan konfirmasi pada data yang Reizei punya mengenai saniwa pemilik ruangan ini, meski Reizei hanya mengenali pria bernama Shouri itu dari data yang diberikan kepadanya.
“Apa Shouri-san membeli semua guci qing-hua itu di alur waktu ini?”
Gokotai tak ikut memasuki ruangan, hanya berdiri dengan gugup di ambang pintu.
“Ah, iya… Kadang kalau ke kota, Aruji-sama membeli beberapa benda untuk hiasan.”
Reizei bergerak memeriksa segala sudut ruangan itu tanpa terburu-buru. Semua guci ia angkat dan periksa isinya sebelum diletakkan kembali ke posisi semula, isi lemari ia keluarkan dan rapikan kembali seakan tak pernah disentuh. Pria itu juga memandang langit-langit ruangan, setelah itu berjalan ke arah lukisan.
Bukankah hanya mencari sebuah dokumen, tanya Gokotai dalam hatinya.
“Lukisan ini,” tanya Reizei lagi, berdiri menatap lukisan naga itu, tak menyentuh, “apa kamu ingat di mana Shouri-san membelinya?”
Sebagai salah satu tantou yang datang ke honmaru itu paling awal, Gokotai memang banyak menemani Saniwa Shouri ke berbagai tempat meski sedang tidak bertugas sebagai sekretaris. Asal benda seperti gulungan lukisan naga yang sangat besar ini tidak mudah untuk dilupakan.
Gokotai tersenyum saat mengingat hal itu.
“Lukisan itu, Aruji-sama membelinya dari seorang pedagang keliling yang sedang berhenti di pelabuhan. Ah, saat itu kami baru selesai menjalankan ekspedisi.”
Reizei yang memunggunginya kini berbalik dan menatap Gokotai. Bola mata artifisial milik Reizei lagi-lagi bergerak sendiri beberapa kali.
“Shouri-san ikut pergi ekspedisi? Di Buzen no Kuni?”
“Oh, bukan.” Gokotai menggelengkan kepala. “Di dataran Ming.”
“.... Ekspedisi ke dataran Ming?”
“Aruji-sama pernah berjanji untuk membawaku pergi ke tempatku pernah bertemu harimau dulu.” Gokotai menjelaskan. “Jadi saat itu kami pergi ke sana sebentar sebelum kembali ke honmaru.”
“Transportasi kapal di alur waktu tersebut atau portal?”
“Ah, selalu portal. Kalau kapal terlalu lama, kata Aruji-sama.”
“Konnosuke kalian juga ikut?”
Gokotai tampak bingung mendengar pertanyaan beruntun seperti itu.
“Um… Kalau tidak salah ingat, Konnosuke-san sempat berkata akan kembali terlebih dahulu ke honmaru, jadi dia masuk kembali ke dalam hologram Aruji-sama.”
Gokotai menganggap bahwa semua pertanyaan Reizei bersangkutan dengan inspeksi. Keseharian di honmaru mereka mungkin harus dilaporkan juga, jadi ia menjawab semuanya dengan jujur.
Reizei bertanya lagi, “berapa kali kalian pergi ke dataran Ming?”
Gokotai berusaha mengingat, “kalau tidak salah… 5 kali? Saya hanya ikut sekali saja…”
“Apa saja yang kalian lakukan disana?”
“Hanya berkeliling di area pelabuhan atau hutan. Aruji-sama selalu kembali membawa benda-benda antik untuk koleksinya.”
Kedua mata Reizei kembali melirik ke arah lukisan naga.
“Shouri-san bergerak terpisah dari kalian?”
“Iya, kadang-kadang.”
“Begitukah. Terima kasih atas jawabannya.”
Reizei mengitari meja kecil itu dan kembali ke arah ceruk dinding tempat hiasan guci.Kali ini, pria itu berlutut memeriksa area sudut lantai.
“Touken danshi pertama di honmaru ini?” Reizei berusaha mengkonfirmasi dari data yang ia baca dengan Gokotai.
“Kasen Kanesada-san.”
“Apa dia sedang sibuk?”
“Seharusnya Kasen-san sudah selesai bertugas,” gumam Gokotai, “apa Reizei-san ingin berbicara dengannya?”
“Ya.” Balas Reizei singkat.
Gokotai pun menganggukkan kepala dan berbalik pergi dari ruangan itu.
Ketika langkah kaki Gokotai sudah tidak terdengar lagi, barulah Reizei menggeser pintu, menutup dirinya di dalam ruangan itu.
Sebenarnya Reizei ingin menyelesaikan inspeksi ini dengan cepat. Ia tidak suka berlama-lama di Buzen no Kuni. Rasa bersalah dan tak nyaman itu selalu menganggu kinerja dirinya setiap berada di daerah ini.
Namun, sepertinya inspeksi kali ini akan berjalan cukup lama.
Reizei berusaha mengingat tinggi bagian bawah lantai bangunan yang ia lihat sebelum memasuki ruangan, mengetuk beberapa bagian lantai dan dinding ruangan.
Lalu ia berhenti tepat di antara meja kecil dan lukisan.
Bantal kecil sebagai tempat duduk ia singkirkan, jemarinya mengetuk bagian bawah lantai yang tak berdebu itu dengan seksama.
Ada bunyi rongga bergaung, menandakan kosongnya area di bawah permukaan itu.
Reizei meraba pinggiran tatami, menatap lapisan kayu di bawahnya yang memiliki kunci dalam bentuk hologram, digabung dengan sistem engsel yang memiliki pola tertentu agar bisa di buka.
Kunci hologram bisa ia buka paksa dengan fitur khusus di matanya, sedangkan kunci dengan engsel itu…
Matanya tertuju kepada posisi pengaturan guci keramik di ceruk dinding.
.
.
Inspeksi akan dilakukan setelah divisi mereka menerima laporan dari atasannya.
Reizei hanya menerima perintah untuk penyelidikan lebih lanjut atas tuntutan terhadap seorang saniwa yang diduga melanggar peraturan yang sudah ditetapkan. Bukti-bukti yang ada seharusnya tertinggal di honmaru saniwa tersebut.
Mata artifisial di dalam rongga mata sudah merekam seluruh percakapannya dengan Gokotai; bukti bahwa tantou itu tidak terlibat dengan semua tindakan sang saniwa sudah ia miliki. Dari sikap Saniwa Shouri kepada Gokotai, Reizei akan menganggap bahwa pria itu bergerak sendiri dan tak mengatakan apa-apa kepada seluruh touken danshi di honmaru-nya.
Membeli barang-barang produksi standar dan banyak beredar di tempat jual-beli sebagai barang koleksi bukanlah hal yang tabu untuk para saniwa.
Masalahnya ada pada tingkat kelangkaan benda yang ‘dibeli’ Saniwa Shouri.
Reizei ada di sini untuk mencari bukti, belum mengetahui bagaimana informasi seperti itu bisa sampai di telinga atasannya. Perintah tertulis dan legal sudah turun dari atas, ia tinggal mengerjakannya saja.
Berdasarkan pernyataan Gokotai, Saniwa Shouri bahkan pergi langsung ke negera sebelah menggunakan portal. Hal itu baru ia ketahui hari ini, tampaknya divisi investigasi masih kurang teliti dan luput memperhatikan data penggunaan portal setiap saniwa.
Kombinasi kunci digital dalam bentuk hologram dengan kunci engsel yang hanya terbuka jika digeser sesuai pola tertentu sudah berhasil ia buka. Pengaturan posisi guci di dinding memberinya sebuah petunjuk untuk membuka kunci engsel tersebut.
Siapa yang menyangka, ketika Reizei mengangkat lantai kayu itu, sebuah kelebat hitam menyambar tepat ke arahnya.
.
.
Gokotai dan Kasen yang berjalan menuju pintu ruangan saniwa mereka tidak sempat bereaksi ketika pintu-pintu shouji berderak dan terhempas ke segala arah, saling menabrak dan mengeluarkan suara keras mengerikan.
Seekor naga menerjang Reizei, meninggalkan ruangan saniwa dengan menyisakan isi ruangan yang terbang ke segala arah dan sebuah lukisan kosong.
