Work Text:
“Hyung ….”
“Hyung … Seokjin-hyung….”
Jungkook berkedip beberapa saat sebelum menoleh pada Taehyung di sebelahnya. Lewat lirikan mata, ia meminta bantuan pada kakaknya yang satu lagi. Taehyung menggaruk belakang kepala sebelum berdeham.
Ia mendekat pada Seokjin, sang kakak, yang jiwanya tampak sedang berkelana. Ia menjetikkan jarinya di depan wajah sang kakak. “Seokjin-hyung … bumi memanggil Seokjin-hyung!”
Seokjin tampak terkejut. Ia tersentak dari apa pun yang tengah mendistraksinya saat itu. Keningnya mengernyit, sedikit tidak suka karena terganggu. Bibir tebalnya mengerucut sebentar. “Apa?” tanyanya polos.
Kedua adiknya tertegun sejenak. Mereka saling berpandangan, dengan ekspresi tak percaya tampak jelas di wajah mereka.
“Hyung, masih ingat kita sedang akan memesan makanan bukan?” tanya Taehyung hati-hati.
“Kau belum memesan apa pun, hyung. Masa kau mau membiarkan nona cantik ini berdiri seharian menunggumu selesai melamunkan apa pun itu?” timpal Jungkook kemudian. Jari jempolnya menunjuk ke arah gadis manis yang sedang melayani mereka.
Seokjin berdeham, lalu kembali menekuni buku menu yang sempat terabaikan. “Uh, ehem … aku pilih paket makan siang saja deh. Ini yang ini,” ujarnya memperlihatkan kepada sang pelayan. Si gadis mencatat dengan cekatan.
“Ada tambahan lain? Kami juga menyediakan dessert.”
“Aku mau parfait.”
“Aku red velvet. Hyung?”
Seokjin lagi-lagi tak memperhatikan kedua adik dan seorang pelayan yang menunggunya merespon. Mata cokelatnya tak bisa berpaling dari seseorang yang berdiri di belakang konter. Menyiapkan hidangan langsung dari tangan terampilnya. Pertunjukan memasak secara live. Beberapa pengunjung bertepuk tangan saat melihat aksi terampil sang koki di restoran keluarga bergaya eropa yang baru saja buka di salah satu sudut kota Seoul. Tempat Seokjin mengajak kedua adiknya makan siang untuk merayakan keberhasilan keduanya di sekolah.
Yang menarik perhatian Seokjin, bukan hanya karena tangan-tangan terampil sang koki yang sibuk menari dengan bahan-bahan makanan dan mengolahnya dengan cermat dan juga atraktif. Namun juga karena senyum di wajah sang koki yang tampak begitu … menawan? Entahlah … sejak duduk di mejanya ini, Seokjin tak mampu berpaling. Atensi miliknya tersedot sepenuhnya pada sang koki. Bagaimana si koki terampil mengiris sayuran dan daging. Mengupas kentang dan wortel. Mencincang daging. Menguleni adonan pie. Atau mengocok telur dan gula untuk membuat cake. Seokjin tak mengerti bagaimana kegiatan yang biasa-biasa saja itu malah memaku atensinya.
Belum lagi sesekali si koki bertegur sapa ramah dengan para pengunjung. Interaksinya dengan para pengunjung membuat Seokjin menyesal memilih meja di mana mereka berada sekarang. Uh, senyumnya itu membuat Seokjin merasa gemas. Apalagi sesekali lesung pipi sang koki menyembul manakala sudut-sudut bibirnya membentuk lengkungan manis. Aaahhh … rasanya seperti jatuh cinta.
Eh?
Seokjin kembali menggelengkan kepala ketika kali ini, Jungkook dan Taehyung melakukan segala cara untuk menariknya dari entah-alam-yang-mana.
“Kau sakit hyung?”
“Gimana kalau kita ke rumah sakit saja? Minta Hoseok-hyung memeriksamu?”
Seokjin menggigit bibirnya. “Aku nggak apa-apa kok. Ah anu, aku mau chocolate cake seperti yang sedang dibuat di sana.”
Si gadis dengan cermat menuliskan pesanan Seokjin yang terakhir. “Apa ada yang lain lagi? Perlukah saya membacakan ulang?”
Ketiganya menggeleng serempak. Dan Seokjin mati-matian untuk menjaga fokusnya pada si gadis pelayan terlebih dulu. Ah, sial. Kenapa sih koki itu ganteng sekali? Dasar si senyum kriminal!!! Lesung pipi ilegal!
Oopsie!!
Seokjin menelungkupkan wajahnya ke atas meja, kedua tangannya mengusak kasar dan gemas rambutnya. “Aish, sial sial sial sial!” geramnya dengan suaranya yang tertahan dan teredam di meja. Pipinya pun mulai dirambati kalor yang membuatnya merah tak ubahnya seperti lobster panggang yang baru saja disajikan sang koki untuk pelanggannya yang duduk di sebelah kirinya. Merah membara. Atau seperti chocolate cake yang baru saja dipesannya, yang mirip dengan cake yang dinikmati orang-orang di depan sana, meleleh, lumer di lidah. Ah, sial!
Jungkook dan Taehyung tak pernah mengerti kenapa hyung kesayangan mereka bertingkah sangat aneh sekarang ini.
.
.
.
End
