Work Text:
Bunyi ketukan yang teratur itu menggema di sepanjang jalan yang kebetulan lampu penerangan jalannya mati. Gelap sekali. Namun Dominic tetap berjalan dengan santai. Senyumnya sesekali tersungging. Dari celah bibirnya kemudian mendendang nada-nada ringan yang menemaninya kembali ke rumah.
Sebelum ia merasa bahwa ia sedang diikuti. Dominic menoleh ke belakang. Tak melihat apa pun. Bibirnya kembali menyungging senyum. Lalu ia kembali berjalan.
Sosok itu berdiri di samping jalan, sedikit bersandar pada tiang lampu jalan. Memperhatikan bagaimana Dominic berjalan mendekat ke arahnya.
Dominic berhenti. Ia menoleh ke sosok itu. “Hello, Matt. Tak sabar menungguku pulang?”
Matt—Matthew menubruk Dominic dan memeluknya erat. “Katakan kau berhasil membungkam mereka, Dom?!”
Dominic balas memeluk erat, mengecupi pipi Matt sebelum mengklaim bibirnya. “Oh, haruskah di sini? Yang benar saja, Matt.”
Bibir itu mengerucut lucu. “Dom … please, aku benci kalau kau bermain petak umpet seperti ini. Aku hampir gila menunggu di rumah, kau tahu?! Katakan. Hasilnya. Padaku.”
Dominic menyeret Matthew. “Baiklah, baiklah, sayangku.” Dominic menghela napas, merangkul mesra Matthew yang menolak lepas dari pelukannya saat mereka berjalan. “Menurutmu, kalau aku berdendang seperti tadi, hasilnya bagaimana?”
Matthew menggeram tak sabar. “Dom … please.”
“Kalau begitu ada syaratnya. Kau akan menemaniku berburu, malam ini.”
Matthew menyeringai. Dominic menyukainya.
.
.
End
