Work Text:
“Tau Nishizawa anak kelas sebelah nggak? Yang body nya mantep itu lho. Katanya jadian sama si culun Satou! Berita besar, berita besar!”
Bunyi telepon genggam berantuk dengan lantai, buku komik yang terlempar ke arah jendela; seketika anak laki-laki yang bergerombol di pojok kelas pun melengking bersamaan. Sementara si pembawa berita—dengan lengkingan yang tak kalah tingginya—menggebrak-gebrak meja kayu dengan telapak tangannya. Bagai genderang yang terdengar sayup di antara lantunan musik penyumbat telinga.
“Ini aku lihat sendiri lho, kemarin aku ‘kan beresin gudang perlengkapan sendirian karena dihu—ah nggak penting, yang penting itu, pas aku lewat kelas sebelah, aku liat si Nishizawa! Lagi ciuman! Sama SATOU!!! Aku tahu kalian mikir apa, ‘nggak mungkin’, begitu ‘kan? Tapi suer! Nah makanya, mau ga nih sore ini kita cegat Satou terus interogasi? Ga ngapa-ngapain, cuma minta ajarin saja teknik kayak gimana yang bisa bikin cewe sekelas Nishizawa tekuk lutut begitu! Bagaimana, setuju?”
Bersahut-sahutan berbagai macam jawaban dengan makna serumpun. Mengintip sedetik dari balik bukunya, melihat para laki-laki yang asyik tertawa sembari memasang wajah bersemangat. Lalu bola matanya bertemu pandang dengan si ‘pemimpin sekte’, yang senyumnya mengembang tambah lebar, yang jaraknya tambah dekat; yang jemari basahnya menepuk pundak si ‘pengamat’ itu.
“Yamada juga mau ikut?”
“Eh,” yang ditegur menghela napas dan melepas headphone merah yang dipinjam dari kakaknya. Tak seharusnya ia penasaran wajah-wajah serangga kelaparan yang berkerubung di depannya. “Buat apa?”
Jawaban antusias berirama layaknya salesman dari rumah ke rumah. “Ya buat tau kisah sebenarnya lah! Memang kamu nggak penasaran kenapa mereka bisa jadian? Nggak merasa aneh? Kok bisa, gitu lho?”
Kembali menghela napas dalam-dalam, ujung telunjuknya menari bersama sudut buku dengan karpet kayu sebagai lantai dansa. Tanpa sadar pikirannya terbawa ke malam kemarin ketika ia, soda dingin, dan buku matematika nya berkumpul di ruang tengah. Tak perlu memainkan musik dari pemutar yang melingkar di leher, volume TV yang hampir maksimal sudah lebih dari cukup untuk memekakkan telinganya. Tapi ia masih bisa tahan, andai saja kebisingan itu tak diikuti suara tawa yang meledak-ledak, tepukan antara kulit dan bantal empuk, kaki yang dihentakkan dengan—
“Berisik, Jiro!”
Mata sayu beralih dari layar dan memicing padanya. Oh, sudah ia tunggu-tunggu; wajah angkuh yang penuh amarah itu. “Kalau ga mau berisik ya jangan belajar di sini! Masuk kamar sana!”
“Oh?”, Lengosan bernada mengejek meluncur dari bibir, “jangan bilang kamu sengaja ketawa kencang-kencang dan nyetel TV keras-keras biar aku belajar di kamar dan kamu bisa nyambut Ichi-nii pulang sendirian ya? Dasar tikus licik!”
“Wah, boleh juga idemu! Sini kulempar kau ke kamar, biar aku nyambut nii-chan sendiri!”
Jiro merangkak dan menyergapnya tiba-tiba. Tak siap menjadikan buku pelajaran sebagai tameng; lengannya lah yang dikorbankan untuk lebih dulu maju dan menghalau jemari kurus yang mencari celah, menyibak kain dan menggelitik kulitnya. Bahu, perut, pinggul, dengan reflek cengkramannya menarik kerah baju pemuda yang lebih tua. Mengantukkan kening; mengadu deru.
Helai kelam dirajut jadi satu. Warna seolah berpadu menjadi biru. Sekejap tercium wangi mentol di indranya, ah, sama dengan yang ia pakai; namun entah mengapa, ada sedikit aroma jeruk di sana. Deodoran baru? getah kulit jeruk mandarin menempel di sela-sela kukunya? Apapun itu, mengapa rasanya begitu serasi?
Di sekejap yang berikutnya, baru disadari jika dentuman di dadanya semakin kencang terasa. ‘Ah, lagi-lagi;’, batinnya. Ia sudah menghabiskan banyak waktunya untuk berpikir, menerka, menolak, menduga; sampai akhirnya ia tiba di ujung tebing kesabarannya. Tak terelakkan; jantung yang spontan memacu deras tanpa bisa ia kendalikan. Terutama saat senyum itu kadang kala terpatri untuknya.
Senyum mengejek yang entah bagaimana terlihat manis. Mungkin matanya saja yang buta.
“Kenapa? Gini saja sudah kalah?”
“Brengsek—“ lalu ia balas dorong pemuda itu, menghempaskannya ke lantai; menarik kaos hitam dengan risleting setengah terbuka. Makin keras bunyinya maka makin tinggi emosinya. Meski sudah lelah, kata ‘kenapa harus dia?’ kadang-kadang masih mampir dan menari di kepalanya. Dengan bermacam frasa, adu padan tata kata,
Kenapa harus dia yang tanpa sadar mempermainkan hati?
Kenapa harus dia yang senyumnya menyakiti dada?
Kenapa harus dia yang matanya mengaduk rasa?
Kenapa harus dia,
“Lho, kalian lagi apa?”
“Nii-chan! Selamat datang!”
Yang ketika genggamannya lepas dan sorotnya beralih, begitu mampu menyesakkan rongga?
“Kalian pasti berantem lagi ya? Jiro, Saburo, cepat baikan!”
Betapa sayangnya ia kepada kakaknya itu, lidahnya terlalu kelu untuk berkata ‘Ini semua bisa jadi salahmu’. Jika Ichi-nii datang, Ichi-nii yang dikasihinya itu; maka semua yang di awal menjadi miliknya akan berpindah tangan begitu saja. Selanjutnya, dunia akan berputar dengan sang kakak yang menjadi pusatnya. Bahkan mungkin takkan ada sepatah katapun untuknya, takkan pernah ia dengar suara itu memanggil namanya, ia sendiri tidak tahu sejak kapan Jiro-nya itu terasa jauh dan mulai meniti jejak langkah Ichi-nii.
Sama tidak tahunya ia mengenai sejak kapan dirinya tanpa sadar menambah ‘-nya’ dan ‘-ku’ setelah nama pemuda sialan itu.
Dalam hatinya mengerti, kalau mereka saudara. Jika Ichi-nii menyayangi mereka secara adil, lalu si brengsek itu membagi seluruh kasih saudara kepada dirinya, sementara untuk Ichi-nii—
Untuk Ichiro, ia tawarkan yang lebih dari itu.
Soal ini, tahu darimana?
Entahlah, siapa peduli? Ia tahu begitu saja. Ibarat pengalaman menghantarkan seseorang untuk mengalami sesuatu, dirinya yang kalah pada rasa penasaran dan jawaban yang paling timbul di antara praduga lainnya; apalah ia yang umurnya masih seumur jagung itu tahu soal rasa dan hati? Layaknya puzzle yang tak pernah selesai, selalu ada satu kepingan yang hilang. Tapi ia tahu. Bagaimana rasanya mencintai kakak tercintanya sebagai seorang kakak, mencurahkan setiap tetesnya di sana, lalu membiarkan rasa cinta yang lain tumbuh dan mengalir di kaki pemuda yang takkan pernah menoleh padanya.
Kepingan yang tak mungkin muncul, dan ia takkan bisa menyelesaikan teka-teki yang menjadi hobinya.
Seberapa susahnya jika cinta pertama Saburo adalah kakaknya sendiri?
Jika sudah menerima, maka semua ikut terasa lebih mudah. Ada banyak bentuk kasih di dunia ini, dan apapun itu, miliknya lebih ekstrim daripada gosip si cantik dan si buruk rupa yang digaungkan berulang kali. Tidak menarik sama sekali.
“Kalau sudah cinta, apa boleh buat ‘kan?”
Lagaknya seperti yang sudah mahir saja; tapi nyatanya tidak begitu. Memutar lagu yang selalu jadi pelindung antara ia, jantungnya, dan telinga siapapun—terutama telinganya sendiri. Lalu ia memikirkannya, sambil mengeluh kembali mengapa ia tak bisa memilih. Tapi subjeknya itu juga tidak bisa memilih. Mereka ditakdirkan untuk sama-sama mencintai orang yang salah, sama-sama memendam hingga mati sendiri, ah, betapa takdir itu kejam; andai saja pemuda itu juga memandangnya, apa yang akan terjadi?
Bukannya lebih mudah kalau tak bersambut seperti ini? Bagai menghitung mundur, tiga, dua, satu … lalu semuanya akan baik-baik saja.
… Ya, seburuk-buruknya rasa itu; cinta pertama akan selalu layu. Jadi ia hanya perlu sabar dan terus menghitung, sembari diam-diam menyimpan iri kepada pungguk yang dapat merengkuh bulan.
Bukan begitu?
Yang menjadi masalahku adalah, aku tenggelam ke dalam ia yang jatuh hati kepada orang lain. Hanya saja, ia terlalu dungu. Tak mungkin sadar sendiri. Tak perlu juga dibuat sadar, biar ia selamanya hidup dalam ketidaktahuan, dan selamanya memendam rasa pada ia yang takkan menyambut rasanya.
‘Sama seperti aku’? Bodoh sekali jika itu pernah lewat di benakku.
………
Sial.
