Chapter Text
“Aku pulang duluan.” Seorang pemuda berambut merah panjang membereskan tumpukan bukunya di meja perpustakaan.
“Kau yakin pulang sendiri, Camus? Ini sudah malam. Kereta terakhir sudah lewat. Tunggulah sebentar, nanti kuantar.” Ujar seorang pemuda berambut coklat pendek yang merupakan pengurus di perpustakaan itu, “Lagipula aku yang memintamu membantuku membereskan perpustakaan ini.”
“Thanks, Aiolos. Aku bisa pulang sendiri. Masih ada taxi jam segini.” Dia pun meninggalkan perpustakaan kota dan berjalan sampai ke pinggir jalan. Dia memberhentikan sebuah taxi yang akan mengantar sampai ke apartemennya.
oxoxoxo
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Saint Seiya © Kurumada Masami
Saint Seiya Lost Canvas © Teshirogi Shiori
In The Moonlight © aicchan
Romance –angst – Hurt/Comfort
-Alternate Universe-
Kardia x Camus
Vampire fic
T for Boy X Boy action
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
oxoxoxo
Camus turun di depan mini market 24 jam yang tak jauh dari tempatnya tinggal. Berhubung besok sabtu, dia tak ada kuliah dan kerja sambilan, rasanya bukan masalah kalau sisa malam ini dia pakai untuk bersantai. Mungkin menonton DVD ditemani camilan dan beberapa kaleng bir. Dia tak peduli alkohol, karena dasarnya dia memang susah mabuk.
Setelah membeli satu plastik penuh makanan ringan dan juga minuman kaleng, Camus pun menuju ke apartemennya. Saat melewati sebuah lorong gelap, Camus melihat sosok seseorang di minimnya cahaya malam itu. Orang itu tampak sempoyongan, tubuhnya dibalut kain lusuh yang sudah compang-camping. Camus mengira itu adalah salah seorang homeless yang memang banyak ‘beredar’ di lingkungan ini. Niat Camus untuk meneruskan langkahnya langsung hilang begitu dia mendengar suara berkelontangan dan melihat sosok tadi kini terkapar di tanah.
Camus, yang memang paling tidak bisa melihat orang kesusahan, akhirnya masuk ke dalam lorong itu dan menghampiri sosok yang terbaring diam. Camus hanya bisa berdoa supaya orang itu tidak mati, dia tak mau berurusan dengan polisi.
Perlahan Camus mengguncang pundak orang itu dan langsung lega karena ada reaksi berupa geraman lirih. Lalu pemuda berambut merah itu membantu orang tadi berdiri. Kain lusuh disana merosot dan menampakkan wujud di baliknya, membuat Camus tanpa sadar jadi menahan napas. Yang tampak bukanlah sosok yang lusuh dan tak terawat, namun sosok pemuda tampan dengan rambut biru panjang. Memang sosoknya dikotori tanah dan debu, tapi itu tak menutupi paras tampan yang mempesona.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Camus.
“Ah… aku… tidak apa…” ucapan pemuda tadi tak selesai karena badannya limbung dan pasti akan jatuh lagi kalau Camus tak sigap menopangnya.
“Kakimu terluka.” Ujar Camus saat menyadari kalau pemuda itu berdiri hanya bertumpu pada sebelah kaki sementara yang lain sedikit ditekuk.
Akhirnya Camus pun membawa pemuda itu ke apartemennya agar dia bisa merawat luka itu. Memang riskan membawa orang asing ke rumahnya, terlebih di belantara kota New York yang penuh dengan kriminalitas dengan berbagai tingkatan. Namun karena pada dasarnya jiwa sosial Camus kelewat tinggi, dia mengesampingkan resiko yang ada.
Sampai di apartemennya, Camus membaringkan pemuda tadi di sofa. Dia pun bergegas menuju ke dapur untuk mengambil kotak P3K lalu segera kembali ke sofa. Perlahan Camus melepaskan kain kotor yang melilit tubuh sang pemuda asing yang kini entah tidur atau pingsan, yang jelas dia demam. Camus pun melepaskan sepatu lusuh dan juga merobek kain celana yang ternoda lumpur dan darah kering. Dia mengerutkan alisnya begitu melihat luka di sepanjang betis pemuda asing itu. Mungkin luka ini sudah ada sejak dua-tiga hari lalu, tapi tak diobati. Dengan hati-hati Camus membersihkan luka itu, mengobatinya dan membebatnya dengan perban. Setelah membereskan kotak obatnya, Camus menyimpannya kembali di dapur.
Saat itu dia mengambil handuk bersih dan sebaskom air untuk mengompres.
Semalaman Camus berjaga di samping sofa, duduk di karpet dan melupakan snack juga bir yang dia beli di mini market.
.
Sinar matahari menerobos masuk dari sela tirai jendela. Camus menguap pelan, semalaman dia tak tidur karena kelewat cemas. Demam pemuda asing di sofanya sempat memburuk di tengah malam sampai dini hari tadi, namun sekarang suhu tubuhnya sudah menurun dan cukup untuk membuat Camus lega.
Camus berdiri dan berniat untuk ke dapur, membuat sarapan untuknya dan juga ‘tamu’nya.
Namun baru saja dia berdiri, pemuda di sofanya bergerak tak nyaman dan mengerang lirih. Camus kembali bertumpu pada lututnya dan menghapus peluh di kening pemuda itu.
“It’s okay… kau aman disini.”
Si pemuda berambut biru itu perlahan membuka matanya. Sejenak, Camus terpana memandang sepasang permata jernih berwarna biru, senada dengan rambutnya.
Akan tetapi, mendadak saja pemuda itu duduk begitu memandang Camus di sebelahnya. Wajahnya pucat dengan ekspresi terkejut yang amat sangat, seolah sedang berhadapan dengan makhluk halus. Camus sendiri sampai terkejut karena reaksi yang diluar dugaannya.
“… -gel…”
Detik berikutnya Camus merentangkan tangannya, menangkap si pemuda berambut biru itu agar tak terjatuh dari sofa, “Tenanglah! Jangan bangun mendadak! Tubuhmu masih lemah.” Dia membaringkan pemuda itu lagi, “Siapa namamu? Dan kenapa kau bisa terluka?”
“… Namaku… Kardia.”
Camus menunggu sampai pertanyaan keduanya terjawab, tapi sampai beberapa detik, harapannya tak terkabul, jadi dia mengasumsikan kalau Kardia ini enggan memberitahu penyebab luka di kakinya. Dia pun tak memaksa. Camus berdiri dan memandang Kardia, “Baiklah… Kardia. Namaku Camus dan menurutku luka di kakimu itu cukup parah. Jadi sampai kondisimu lebih baik, kau boleh tinggal disini.”
Kedua mata Kardia lurus menatap mata Camus, “… Terima kasih. Aku berhutang padamu.”
“Tak usah dipikirkan. Sekarang kau istirahat dulu. Aku belikan sarapan dan setelah itu kau harus mandi! Maaf kalau menyinggungmu, tapi kurasa kau memang harus membersihkan diri.” Kemudian pemuda dengan rambut merah panjang tergerai sampai melewati pinggangnya itu pun menuju ke pintu depan tanpa menyadari kalau Kardia masih terus memandangnya.
.
Setelah menyantap sandwich yang dibeli Camus di minimarket dan juga membilas diri dengan air panas lalu memakai pakaian bersih, Kardia tampak lebih segar. Camus duduk di sofa bersama ‘tamu’nya itu dan mengobrol singkat. Dia jadi tahu kalau Kardia berasal dari Yunani dan sempat tinggal di Paris untuk beberapa waktu. Dia datang ke New York sekitar seminggu lalu dan yang menyambutnya adalah para kriminal kelas rendah yang merampas seluruh harta bendanya.
Sebenarnya Camus sudah banyak mendengar cerita dari teman-temannya di kampus tentang para homeless yang memakai cerita palsu untuk menarik simpati. Tapi anehnya, Camus sama sekali tak curiga pada Kardia. Entah apa alasannya, Camus tahu dia bisa percaya pada pemuda berambut biru itu.
“Apa kau sudah melapor ke kedutaan?” tanya Camus, menuangkan secangkir teh untuk Kardia.
Kardia menerima cangkir itu dan meminum isinya sedikit sebelum menjawab, “Sudah kucoba. Tapi dengan penampilan lusuh seperti kemarin, tak ada yang memedulikan aku.”
“Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Aku… dulu punya teman. Kabar terakhir yang kudengar, dia ada di kota ini. Mungkin aku akan coba mencarinya.”
Camus menyisir poninya dengan jemari, “Mencari orang di rimba gedung seperti ini sama sulitnya seperti mencari jarum dalam jerami. Tak akan ketemu dalam satu-dua hari.”
“Aku tahu.” Kardia meletakkan cangkirnya di meja, “Mungkin aku akan coba cari kerja dan tempat tinggal sebelum mulai mencari.”
“Kerja…” Camus menggumam, teringat kalau dia punya sesuatu yang mungkin bisa membantu Kardia, “Aku punya kenalan yang memiliki sebuah coffee shop, aku bisa kenalkan kau padanya.”
Saat itu Kardia memandang Camus, “Kau yakin? Maksudku… kau bahkan tidak mengenalku, tapi kau menawarkan pekerjaan padaku?”
Camus mengangkat bahunya, “Aku hanya tahu kalau kau tidak berbohong. Jadi ya, aku akan membantumu.”
Ada senyum samar di wajah Kardia, “Kau orang aneh.”
“Banyak yang bilang begitu dan aku tidak keberatan.” Camus beranjak berdiri, “Ayo. Kita ke coffee shop dan kita lihat apa kau bisa bekerja disana.” Dia meminjamkan jaket juga mantel pada Kardia karena saat ini New York masih ada di musim dingin yang membekukan.
.
Sebuah coffee shop bersimbol zodiac Sagittarius terletak di sudut jalan di salah satu bagian kota New York. Tempatnya tak begitu luas, tapi interior-nya sangat nyaman dan dan bernuansa kayu alami. Kardia diminta duduk menunggu di salah satu kursi sementara Camus bicara dengan sang pemilik coffee shop, Sisyphus, yang juga adalah kakak dari sahabat karibnya, Aiolos.
Sisyphus memandang Camus tanpa komentar untuk beberapa saat begitu dia mendengar tentang Kardia. Sudah jadi rahasia umum kalau dibalik wajah dingin dan tidak bersahabatnya, Camus adalah orang yang kelewat perhatian pada orang lain. Sudah tidak terhitung berapa banyak masalah yang timbul karena sifatnya ini. Namun ini kali pertama Camus sampai mau repot mencarikan pekerjaan untuk orang yang dia ‘pungut’.
“Camus… kau yakin dengan ini? Kau baru bertemu dengannya semalam.” Ujar Sisyphus.
Anggukan cepat menjadi jawaban dari Camus, “Mungkin terdengar aneh, tapi… aku tahu dia jujur, Sisyphus. Aku tidak mengerti kenapa, yang pasti aku yakin dia tidak memiliki niat buruk.”
Sisyphus menghela napas, memandang sosok Kardia yang duduk diam sambil memandang orang yang berlalu lalang di jalanan, “Baiklah kalau kau begitu yakin, dia bisa bekerja disini.”
Itu membuat raut wajah Camus berubah senang, bahkan sebuah senyum langka menghias wajahnya, “Thanks, Sisyphus.”
Terpana begitu melihat ekspresi yang mungkin hanya pernah dia liat dalam hitungan jari, Sisyphus menggelengkan kepalanya melihat Camus yang langsung menghampiri Kardia untuk menyampaikan kabar gembira.
Lalu Camus pun memperkenalkan Kardia pada Sisyphus dan setelah itu dia pun berpamitan agar tak mengganggu kegiatan di sana. Sebelum pergi, dia sempat bilang pada Kardia agar dia kembali ke apartemennya setelah pekerjaannya selesai. Karena rencana hari sabtunya berbeda dari apa yang dia pikirkan, Camus pun menuju ke sebuah toko buku yang tak jauh dari coffee shop untuk mencari beberapa bahan bacaan untuk menghilangkan bosan.
“Hei!”
Tepukan di pundaknya membuat Camus menoleh. Dia mendapati sosok Aiolos di belakangnya.
“Kupikir kau akan ada di rumah seharian.” Ujar Aiolos yang telah menjadi sahabat Camus sejak mereka duduk di bangku SMP.
“Perubahan rencana.” Camus mengambil sebuah novel dari rak di depannya, “Kau sendiri? Tidak bosan dikelilingi buku setiap hari?”
“Mana mungkin bisa bosan,” jawab Aiolos yang memang seorang kutu buku yang lebih parah dari Camus, “lagipula aku cari buku untuk bahan kuliah hari senin besok. Tugas kuliah perlahan membunuhku.”
Camus mengangguk setuju.
“Baiklah. Aku pergi dulu kalau begitu.” Aiolos pun menghilang dibalik rak-rak tingggi di toko buku itu.
Kembali pada tujuannya, Camus menjelajahi rak best seller dan menarik keluar dua buah novel dan memutuskan untuk pulang saja dan menikmati sisa hari di apartemennya. Dia menyempatkan diri mampir ke salah satu restoran masakan China yang menjadi langganannya. Setelah membeli seporsi nasi ayam pedas, Camus berjalan ke pintu depan restoran itu, namun mendadak pintu itu terbuka dari luar, membuatnya berpapasan dengan dua orang yang membuat Camus terdiam di tempatnya.
Yang di depan adalah seorang dengan paras tercantik yang pernah Camus lihat dengan rambut panjang sewarna birunya langit, samar Camus menghirup aroma wangi mawar segar disana. Seorang yang lain berbadan tinggi dengan rambut keperakan panjang dan poni yang nyaris menutupi kedua matanya. Kombinasi yang unik, tapi entah kenapa terkesan seimbang.
“Maaf, apa kami bisa lewat?” ujar si cantik, membuyarkan lamunan Camus.
“Ah!! Ya…. Tentu.” Camus langsung menyingkir agar kedua orang itu bisa lewat. Sekali lagi memandang dua orang asing itu, Camus pun meninggalkan restoran itu menuju ke apartemennya, tak melihat kalau kedua orang tadi berbalik mengawasi sampai pintu restoran tertutup lagi.
.
Malam harinya, Kardia pulang dengan wajah yang bisa dibilang ceria. Pemuda itu melepaskan mantel dan menggantung di tempat yang disediakan di dekat pintu masuk.
“Hei, bagaimana hari pertamamu bekerja?” tanya Camus dari dapur, mencoba menyiapkan makan malam meski kemampuan memasaknya lebih parah dari anak TK.
“Lancar. Sisyphus orang yang baik.” Kardia menyusul ke dapur dan mengangkat sebelah alisnya saat melihat asap mengepul dari benda yang ada di penggorengan, “… Kau… masak apa?”
“Entahlah… Omelet… mungkin?” jawab Camus ragu.
Kardia menghela napas dan menggantikan posisi Camus di depan kompor. Memandang iba pada apapun yang ada di penggorengan. Kardia pun membuang benda malang berwarna hitam itu ke tempat sampah, “Boleh kupakai isi kulkasmu?”
“Silahkan saja.” Camus mundur dan melihat bagaimana Kardia dengan cekatan mengolah telur dan daging cincang kalengan menjadi omelet yang menebar aroma yang menggugah selera. Begitu sadar, sepiring omelet disodorkan Kardia padanya, “… Wow… kau bisa memasak.” Camus menerima piring itu dengan takjub.
“Lumayanlah. Paling tidak masih bisa dimakan.”
Camus membawa piring itu ke sofa karena memang apartemennya tak muat dimasuki meja makan. Kardia mengikutinya dan duduk di sebelah pemuda yang telah menolongnya. Camus menikmati sajian di piring itu dan harus mengakui kalau rasanya lezat sekali.
“Kau tidak membuat untukmu?” tanya Camus.
“Sisyphus sudah mentraktirku makan tadi.” Kardia memandang Camus yang memakan omelet buatannya dengan lahap, “Aku… benar-benar berterima kasih padamu, Camus. Kau sudah menolongku, memberiku pekerjaan bahkan mengizinkanku menumpang di rumahmu. Aku tidak tahu bagaimana membalasnya.”
Rasanya canggung mendengar pujian seperti itu, “Yang penting kau tak membuat keributan di coffee shop milik Sisyphus.”
Kardia tersenyum, “Kau orang baik. Kupikir orang sepertimu tak tersisa lagi di dunia ini.”
Sisa malam itu mereka habiskan untuk mengobrol dan saling mengenal lagi. Camus, mengabaikan rasa heran pada dirinya sendiri, bercerita pada Kardia bahwa dia tak lagi memiliki orang tua dan tumbuh di panti asuhan. Dia kuliah dengan biaya dari beasiswa dan bekerja paruh waktu di salah satu kantor detektif swasta untuk menambah penghasilannya. Kardia juga bercerita kalau nasibnya kurang lebih sama seperti Camus. Tapi alih-alih menetap di sebuah kota, Kardia memilih untuk menjadi backpacker dan berkelana. Interaksi singkat itu membuat mereka semakin akrab, seolah mereka sudah mengenal lama.
Camus lega dengan pribadi Kardia yang lebih vocal dari pada dia. Jadi pembicaraan tak harus terputus dengan canggung.
.
.
Empat minggu berlalu sejak Camus bertemu dengan Kardia, selama itu, hubungan mereka sudah seperti sahabat karib. Camus tak mengerti, padahal selama ini dia susah sekali dekat dengan orang lai, tapi dengan Kardia— dia merasa begitu nyaman.
“Apa yang kau lamunkan?”
Sebuah suara berat membuat Camus menoleh, memandang sosok pria bertubuh tinggi dengan kulit gelap. Dialah Defteros, detektif pemilik kantor tempat Camus bekerja.
“Aku lihat sudah ada lima menit kau berdiri memandangi rak buku itu.”
Camus baru sadar kalau dia memang diam di tempatnya setelah membereskan buku-buku yang menumpuk di meja.
Defteros menghampiri pemuda itu, “Kau ada masalah?”
“Tidak…. Maaf.”
“Tak perlu minta maaf.” Defteros menepuk pundak Camus, “Kalau kau sedang tidak konsentrasi, kau boleh ambil libur hari ini.”
Camus menggeleng, “Aku tidak apa-apa. Sungguh. Aku bisa bekerja sampai selesai.”
Tak memaksa lagi, Defteros kembali ke meja kerjanya. Sejenak yang terdengar hanyalah suara gesekan kertas-kertas file yang dibereskan, namun kesunyian segera pecah saat pintu kantor itu terbuka dan masuklah dua pemuda berwajah bagai pinang dibelah dua. Saga dan Kanon, senior Camus di universitas.
“Sudah kubilang kalau materi itu bisa diselesaikan dengan melihat penjelasan di bab dua!”
“Tapi penjelasan di bab tujuh lebih ringkas, Kanon!!”
Defteros menghela napas melihat kelakuan kedua adiknya, “Saga, Kanon! Bisa tidak sih, sehari saja kalian ini tidak ribut?”
Mengabaikan kakak mereka, Saga juga Kanon menghampiri Camus dan menyeret pemuda itu duduk di sofa. Seperti biasa, mereka menjadikan Camus sebagai ‘hakim’ untuk memutuskan penyelesaian masalah mereka.
“Kenapa kalian malah bertanya pada Camus, sih? Dia kan adik kelas kalian.”
“Tapi Camus lebih pintar dari kami.” Jawab Saga dan Kanon kompak, membuat Defteros sekali lagi menghela napas. Kemudian dia menoleh ke arah pintu yang sekali lagi terbuka dan kali ini masuklah pria yang merupakan kakak kembarnya, Aspros, yang bekerja sebagai kepala polisi.
“Selalu saja ramai.” Aspros menghampiri adik kembarnya, “Apa hari ini kau sibuk?”
“Tidak begitu. Paling juga sibuk menjaga bocah-bocah itu. Sejak kapan kantor ini jadi tempat mereka belajar bersama?”
Aspros tertawa, “Lumayan buat penyegar suasana. Ayo! Aku membawa kasus untukmu, adikku sayang.”
Suasana di kantor detektif sore itu selalu saja sama seperti hari-hari lain. Aspros dan Defteros membahas kasus yang menumpuk, sementara Camus, terperangkap diantara Saga dan Kanon yang berujung dengan dia mengeluarkan seluruh buku kuliahnya lalu mengerjakan tugas bersama si kembar itu.
Seperti inilah kerja sambilan Camus, membantu menata file tiap kasus yang telah diselesaikan, menata buku-buku yang berserakan, juga mempelajari bagaimana kerja detektif secara nyata, karena Camus memang berniat untuk menjadi seorang detektif. Camus juga senang dengan para ‘penghuni’ disini. Dua pasang anak kembar yang sangat akrab. Pertama bertemu, Camus dibuat terpana, karena dia tak pernah bertemu dengan saudara kandung yang seperti ini.
“Hei, Camus. Aku dengar kalau kau sekarang tinggal dengan seorang pemuda tampan.” Kanon menyenggol lengan Camus, “Siapa dia?”
“Bukan siapa-siapa.”
“Kau tak akan mengundang ‘bukan siapa-siapa’ untuk tinggal bersamamu.” Sambung Saga yang sudah mendengar semua kisah lengkapnya dari Aiolos. Mereka berdua memang dua sejoli yang dimabuk cinta tapi masing-masing selalu sok memasang sikap cool jika sedang berduaan.
“Sungguh. Dia hanya kenalan lamaku. Dia butuh bantuan dan aku menawarkan padanya. aApa itu aneh?” jawab Camus.
Saga dan Kanon saling berpandangan lalu bersamaan mengangkat bahu kemudian kembali pada tugas kuliah mereka.
.
Camus selesai dengan kerja sambilannya pukul sembilan malam dan langsung berpamitan untuk pulang karena besok dia masih ada kuliah pagi. Semenjak tinggal bersama Kardia, Camus bisa menghemat uang makan karena Kardia selalu memasakkan sarapan dan makan malam untuknya.
Jalanan malam di kota New York bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati sambil bersantai. Terlebih di kawasan tempatnya tinggal yang memang jauh dari gemerlap kehidupan kota yang seakan tak pernah tidur ini.
Mempercepat langkahnya, Camus meninggalkan stasiun subway dan setengah berlari menuju apartemennya. Entahlah. Sejak meninggalkan tempat kerjanya, Camus merasa seperti diikuti oleh seseorang. Entah paranoid atau apa, yang jelas perasaan Camus sangat tidak enak hingga akhirnya dia berlari masuk ke gedung apartemennya dan menaiki tangga menuju lantai tiga.
Suara pintu yang terbuka dan tertutup lagi dengan kasar membuat Kardia, yang sedang ada di dapur jadi terkejut.
“Camus?” dia mematikan kompor dan menuju ke depan, heran memandang Camus yang terengah bersandar pada pintu, “Kau kenapa? Terjadi sesuatu? Ada yang mengejarmu?”
Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban dari Camus karena dia masih kesulitan bernapas. Kardia mengambilkan segelas air dari dan memberikannya pada pemuda itu. Wajah Camus tampak lebih baik setelah menenggak habis isi gelas itu.
Kardia mengusap-usap punggung Camus, “It’s okay…”
Merasa lebih baik, Camus melepas mantel dan jaketnya lalu segera duduk di sofa.
“Kau ada masalah?”
“Tidak… aku hanya merasa ada seseorang yang membuntutiku sejak aku keluar dari tempat kerjaku.”
“Membuntuti? Kau yakin?”
“Entahlah.”
Kardia menepuk kepala Camus seperti berhadapan dengan anak kecil, “Mandilah dulu! Makan malam sudah aku siapkan.”
“Okay.” Sedikit lemas, Camus berjalan menuju ke kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Kardia beranjak menuju ke jendela dan mengintip dari sela tirai. Dari sana dia bisa melihat, terlindung dalam gelapnya lorong di antara gedung, ada seseorang yang berdiri sambil terus mengawasi sekeliling.
Mata biru Kardia berkedip sekali dan begitu terbuka, kilau biru jernih itu berubah menjadi warna merah darah pekat. Dia tetap berdiri di sana sampai Camus keluar dari kamar mandi.
“Kardia? Kau tidak makan?”
Kardia berbalik pada Camus, warna matanya telah kembali berwarna biru cerah, “Tidak. Aku sudah makan tadi.” Dia kembali memandang keluar jendela, namun sosok di lorong tadi telah menghilang. Dia menutup rapat tirai jendela itu lalu beranjak dari sana
.
Minggu pagi, Kardia diberi satu hari libur karena sebulan ini dia bekerja tanpa henti. Camus pun tak ada kerja sambilan di hari minggu. Karena ini hari libur bersama mereka yang pertama, jadilah mereka berdua memutuskan untuk menikmati waktu luang mereka di kota. Camus mengajak Kardia ke Central Park, menikmati ruang hijau di antara hutan besi dan baja.
Mereka berjalan di tepi danau kecil di taman yang sangat luas itu, “Aku biasa menghabiskan hari liburku disini,” ujar Camus, “kau mau crepe? Yang jualan di sana rasanya sangat enak.”
“Tidak. Aku tidak begitu suka beli makanan di luar.”
“Hmm… baiklah.”
Taman utama di kota New York itu tampak ramai meski salju masih menutupi beberapa bagian jalan. Saat mereka berbelok, Camus tak sengaja melihat sekelompok polisi tengah memasang police line di pohon-pohon, dia juga melihat Aspros berada di sana. Camus mengajak Kardia mendekat pada kerumunan orang disana. Saat itu, Aspros tak sengaja menoleh dan melihat Camus, dia pun menghampiri pemuda itu.
“Hei,” sapa Camus, “Kasus lagi?”
“Ya. Korban keempat dalam bulan ini.” Kemudian Aspros memandang pemuda di sebelah Camus, “Apa dia ‘Kardia’ yang dirumorkan itu?”
Camus memutar bola matanya, “Jangan mulai bicara macam-macam, Aspros.”
Tak mengacuhkan Camus, Aspros mengulurkan tangannya pada Kardia, “Namaku Aspros. Aku kepala polisi dan kakak dari bos Camus di tempat kerjanya.”
Kardia menyambut uluran tangan itu, “Aku Kardia. Parasit di rumah Camus.”
“Kau bukan parasit,” kata Camus, “tapi juru masakku.” Imbuhnya. Membuat Aspros dan Kardia tertawa pelan.
“Baiklah. Aku harus kembali bekerja.” Aspros menepuk pundak Camus, “Sampai jumpa.”
Camus pun mengajak Kardia meninggalkan tempat itu
“Kau tahu kasus ini?” tanya Kardia begitu mereka jauh dari lokasi kejadian.
“Ya. Sejauh yang aku tahu, sejak awal bulan lalu, ditemukan korban pembunuhan yang… aneh.”
“Aneh?”
Camus membenahi mantelnya, “Ya. Aneh. Ditubuh korban itu, tak tersisa setetes darah pun dan ada dua luka tusuk di leher. Seperti…”
“Vampire…”
“Begitulah. Tapi itu mustahill!” kata Camus cepat, “Semua pasti bisa dijelaskan dengan ilmiah. Lagipula menurut Aspros, ini bukan kali pertama kasus semacam ini terjadi di New York. Beberapa tahun yang lalu pernah terjadi kasus serupa.”
Kardia mengangkat sebelah alisnya, “Apa pelakunya tertangkap?”
“Tidak.” Camus menggeleng, “Ada dugaan kalau pelakunya sama seperti kasus yang dulu. Tapi semua masih dalam penyelidikan… dan aku tak tahu kenapa aku ceritakan semua ini padamu. Harusnya ini rahasia.”
Mendengar itu, Kardia tertawa, “Tenang saja. Aku pintar menyimpan rahasia.”
“Sebaiknya begitu. Kalau tidak, Defteros bisa benar-benar menggantungku.”
Mereka masih mengitari Central Park sampai hari menjelang malam. Sebenarnya Camus ingin mentraktir Kardia makan malam, balasan atas semua bantuan Kardia sebagai ‘juru masak’nya, namun dia mengurungkan niatnya karena melihat wajah Kardia sedikit pucat.
“Sebaiknya kita pulang, Kardia. Kau tampak sakit.”
Kardia menggangguk, “Sorry.”
“Kita naik taxi saja.”
Mereka menuju ke tempat pemberhentian taxi. Camus sampai harus memapah Kardia karena pemuda itu bahkan tak bisa lagi berjalan dengan benar. Aneh sekali, padahal pagi tadi Kardia tampak sehat dan bersemangat seperti biasa. Setelah mendapatkan taxi, Camus dan Kardia duduk di kursi penumpang. Disana Camus membiarkan Kardia bersandar padanya. Camus sedikit tersentak merasakan suhu tubuh Kardia yang sangat dingin.
“Kau butuh obat? Atau kita ke dokter saja?”
Kardia menggeleng, “Tidak. Aku hanya butuh istirahat saja.”
“Kau yakin?”
“Yeah. Besok aku pasti sembuh. Aku janji.”
Tapi Camus tak mengiyakan begitu saja, “Kau harus istirahat sampai benar-benar sembuh. Aku akan mintakan izin pada Sisyphus.”
“Itu tidak perlu.”
“Aku tak terima bantahan!!”
Taxi melaju pelan di jalan bersalju dan berhenti tepat di depan gedung apartemen. Setelah membayar, Camus kembali memapah Kardia. Namun langkah mereka terhenti saat ada yang menghalangi jalan masuk ke pintu apartemen. Camus terkejut melihat sosok dua orang yang pernah dia lihat di restoran China dulu.
“Kalian…”
Belum lagi Camus selesai bicara, orang berambut keperakan panjang di depannya keburu menyela.
“Kau tampak parah, Kardia.” Dia berkacak pinggang, “Sepertinya instingmu memudar, eh?”
Kardia berdiri sedikit kepayahan seraya bersandar pada Camus, “Senang bertemu kalian lagi, Minos, Albafica….”
“Kau mengenal mereka, Kardia?” tanya Camus.
“Teman lama.” Jawab Kardia lirih.
“Orang yang kau cari?”
“—Begitulah…”
Pria berambut perak bernama Minos itu menyeret Kardia menjauh dari Camus dan berbisik, “Sudah berapa lama?”
“…. Hampir satu bulan.”
Minos mencengkram lengan Kardia, “Kau gila?” desisnya.
Saat akan menyela, Camus dihadang oleh Albafica, “Malam ini biarkan Kardia bersama kami.”
“Tapi dia sedang sakit.”
“Kami mengerti kondisi tubuhnya.” Ujar Albafica, “Kami akan kembalikan dia besok.”
“Kau… jangan perlakukan orang seperti barang!!” protes Kardia dengan suara yang semakin menghilang hingga akhirnya dia roboh.
Minos menahan tubuh Kardia tepat pada waktunya.
“Kardia!!”
Albafica menahan Camus, “Tidak apa. Dia akan baik-baik saja.”
“Tapi…”
“Percayalah pada kami. Dia akan kembali esok pagi.”
Tanpa Camus bisa mencegah, Minos dan Albafica membawa Kardia perdi. Saat Minos sekilas menoleh lagi pada Camus, pemuda berambut merah itu membeku di tempatnya begitu melihat kilat merah berbahaya di kedua mata Minos.
Yang dia tahu, dalam sejejap mata sosok tiga orang itu menghilang di antara orang-orang yang masih berlalu lalang di jalanan.
oxoxoxo
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
TO BE CONTINUED
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
oxoxoxo
