Actions

Work Header

The Longest Road

Summary:

Pertemuan pertama menjadi awal dari rangkaian kisah yang tak terhalang waktu.

Chapter Text

Hujan mendadak turun di sore hari yang sebelumnya cerah, membuat tiga anak kecil yang tadinya sedang bermain riang, langsung berlari masuk. Namun ketiga bocah itu tak tinggal di rumah yang berada dalam kawasan perumahan yang normal. Ketiga anak itu tinggal dalam sebuah bangunan gereja megah yang dari luar hanya tampak sebagai reruntuhan tua yang tak terurus.

Ya… ketiga anak itu bukanlah anak biasa. Ketiganya adalah keturunan dari mereka yang memiliki darah malaikat. Mereka yang meiliki misi untuk menjaga dunia ini dari iblis yang senantiasa mengintai dari sudut tergelap.

Mereka disebut sebagai Shadowhunter.

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

The Mortal instruments ©  Cassandra Clare

Longest Road © aicchan

Magnus B. & Alexander L.

No-war fic

ENJOY

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo

Alec mengeringkan rambutnya dengan handuk yang diberikan oleh ibunya. Helai hitam itu melekat di keningnya dan hampir menutupi matanya. Dia melihat Isabelle, adiknya, sedang berdiri pasrah sementara ibu mereka berusaha melepaskan kepangan rambut putrinya itu.

“Kalian lekaslah mandi!” Ujar Maryse, ibu dari Alec dan Isabelle. “Setelah itu bersiaplah untuk makan malam! Jace,” dia berpaling pada satu-satunya anak berambut pirang di sana, “ayah dan ibu juga adikmu sudah datang. Mereka ada di ruang musik bersama Hodge.”

Anak bernama Jace itu segera berlari meski badannya masih setengah basah. Jace memang tetap ada di Institute New York saat keluarganya kembali ke Idris untuk menghadiri rapat penting.

Maryse tertawa kecil, “Anak itu, biar kelihatan tenang, tapi ternyata tetap saja rindu pada keluarganya. Nah,” dia kembali pada dua anaknya, “mandi, ganti pakaian dan bersiap untuk makan malam!”

“Baiiiiiik,” Isabelle segera berlari menuju ke kamarnya.

Tapi Alec tak beranjak dan memandang ibunya, “Ma…”

“Ya, Alec.”

Anak lelaki itu mengeluarkan replika pedang seraph, senjata para Pemburu Bayangan, dari balik jaketnya, “maaf aku mematahkannya.”

Maryse tersenyum dan mengambil patahan pedang kayu itu, “tidak apa-apa, Alec. Ini hanya alat untuk berlatih. Mandilah! Kami tunggu di ruang makan.”

Alec mengangguk dan berbalik menuju ke kamarnya sendiri. Menuruti kata-kata ibunya, bocah itu segera mandi lalu berganti pakaian dengan kaus longgar berwarna hitam dan celana pendek dari bahan jeans.

Setelah menyisir rambut seadanya, anak berumur sebelas tahun itu keluar kamar dan bergegas menuju ke ruang makan. Sekali dua kali dia berpapasan dengan beberapa Pemburu Bayangan yang kebetulan sedang berada di New York dan menghabiskan malam di Institute tempatnya tinggal ini. Alec sangat mengagumi para Pemburu Bayangan dan dia bercita-cita menjadi salah satu yang terhebat.

Sedang asik berjalan sambil memandangi para pemburu iblis yang sedang mengobrol di koridor, Alec jadi tak memperhatikan jalan dan hasilnya, dia dengan telak menabrak seseorang dan membuat tubuh kecilnya terjerembab ke lantai batu yang dingin.

“Kau tidak apa-apa, bocah?”

Alec menengadahkan kepalanya dan menemukan sosok seorang pemuda yang mengenakan pakaian serba hitam dengan mantel bertudung. Rambutnya tampak dihiasi glitter terang berwarna-warni, membuatnya jadi kontras dengan warna pakaiannya. Tapi yang lebih menarik perhatian Alec adalah sepasang mata dengan pupil panjang seperti mata kucing berwarna hijau yang seolah berpedar keemasan.

Sadar kalau dia tak berkedip sedari tadi, Alec langsung berdiri dan membersihkan bagian belakang pakaiannya, “maaf, aku tidak sengaja.”

Orang bertudung tadi hanya menepuk kepala Alec dan berlalu begitu saja. Alec sendiri melanjutkan langkahnya yang tertunda tanpa menyadari kalau orang tadi berbalik dan terus mengawasinya.

.

#

.

“Alec!!”

Suara Jace yang keras membuyarkan lamunannya. Alec memandang sahabat baiknya yang memasang wajah kesal, “Ya, Jace?”

Jace berkacak pinggang, “bukan ‘Ya,Jace?’!! Kau itu melamun terus dari tadi. Lihat! Lemparanmu sama sekali tak ada yang mengenai sasaran. Itu aneh!”

Mata Alec beralih pada papan bulat yang menjadi sasaran latihan mereka melempar pisau. Dan semua belati milik Alec justru menancap di dinding di sekeliling papan itu, “ah…”

Jace memutar bola matanya, “kau kenapa sih?”

“Tidak.” Alec menuju ke papan dan mencabuti belatinya, “hey, Jace. Kau tahu tidak orang dengan mata kucing yang kemarin datang?”

“Hah? Kucing?”

“Tidak… Lupakan!” Alec kembali ke sebelah sahabatnya dan bersiap berlatih lagi, tapi gerakannya terhenti saat melihat Isabelle dan Clary datang ke ruang latihan. “kenapa kalian kemari?”

Isabelle berkacak pinggang, “latihan kami sudah selesai. Ma menyuruh kami menyusul kalian.”

“Ayo, Jace! Mama memasakkan omelet keju kesukaanmu,” Clary menghampiri kakaknya dan menyeret lengan saudara lelakinya itu.

Akhirnya keempat anak itu meninggalkan ruang latihan di lantai dasar lalu menuju ke dapur. Di sana sudah ada Maryse bersama dengan Jocelyn, ibu Jace dan Clary.”

“Di mana ayah?” tanya Jace setelah dia mencuci tangannya dan duduk bersebelahan dengan Alec.

“Para ayah sedang sibuk mengurusi pertemuan dengan pimpinan masing-masing Downworlder di New York,” Jocelyn menyajikan empat piring omelet di meja. “Setelah makan, pergilah ke ruang baca dan kerjakan tugas yang diberikan Hodge pada kalian!”

Keempat anak itu makan dengan lahap lalu setelahnya dengan patuh menuju ke ruang baca untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Di sana, Hodge, pembimbing mereka dalam mempelajari segala ilmu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Shadowhunter, sudah menunggu.

Tanpa perintah, keempat anak itu duduk di sofa dan mulai mengerjakan tugas-tugas mereka yang sudah di siapkan di sana.

Alec memangku sebuah buku tebal tentang sejarah Shadowhunter. Saat dia akan merangkum satu bab dalam buku itu, dia melihat ayah Jace dan Clary masuk ke ruangan itu. Alec selalu segan pada sosok Valentine Morgenstern yang dikenal sebagai pimpinan dari Ring yang berisi para Shadowhunter berkemampuan luar biasa.

Pria berambut pirang itu mendekat pada Hodge dan membisikkan sesuatu, membuat salah satu anggota Ring itu buru-buru keluar dan meninggalkan para calon Shadowhunter di tangan Valentine.

“Ada apa, Pa?” tanya Jace.

“Ada sesuatu yang harus diselesaikan oleh Hodge. Hari ini aku yang akan mengawasi kalian. Jadi, lanjutkan tugas kalian!”

Tak ada yang berani membantah dan keempat pasang mata anak-anak di sana kembali pada buku mereka. Alec masih bergelut dengan sejarah panjang kaum Shadowhunter. Jace masih menghapal beberapa rune utama yang diperlukan. Clary tampak sibuk mencoret-coret buku sketsanya. Sejak awal pendidikannya, Clary memang sudah menunjukkan minat dan bakat di bidang rune. Isabelle sendiri lebih memilih mempelajari jenis dan detail senjata yang sering digunakan para Shadowhunter. Alec sudah yakin sendiri kalau adiknya akan jadi salah satu Shadowhunter yang tangguh.

Sesi belajar bersama Valentine tak sama seperti Hodge. Kalau Hodge akan dengan senang hati memberi tahu jawaban yang ditanyakan, Valentine hanya akan memberi petunjuk dimana jawaban dari pertanyaan itu berada. Alec justru suka yang seperti itu, jadi dia malah lebih sering bertanya ini itu, mencari jawaban dalam buku-buku yang ada di ruangan tempat mereka belajar dan akan senang sekali kalau bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya. Alec memang lebih suka membaca, menjejali kepalanya dengan berbagai pengetahuan, daripada terus berlatih ini dan itu. Jace kadang sampai dibuat kesal oleh sobatnya yang satu itu.

“Pa, apa benar keluarga Herondale akan datang?” tanya Clary setelah sesi belajar mereka selesai.

“Ya. Mereka akan datang dan menghadiri rapat di sini.”

“Asiiiik!! Jadi Sebastian akan datang juga!!!” seru Clary dan Isabelle bersamaan.

Alec jadi teringat dengan sepupu jauh mereka. Sebastian Herondale, putra dari Stephen Herondale yang juga adalah anggota Circle Keluarga Herondale diberi tugas untuk memimpin Institutee Paris yang membuat mereka jarang bisa bertemu di luar urusan Institute.

Sebastian seusia dengan Alec, setahun lebih tua dari Jace. Alec pribadi cukup akrab dengan anak berambut pirang itu karena mereka sama-sama hobi membaca, tapi sifat mereka cukup bertolak belakang. Berbeda dengan Alec yang pendiam, Sebastian lebih vokal. Berbeda juga dengan Jace yang sepertinya akan terus ada dalam suasana bad mood permanen, Sebastian lebih ceria dan suka bercanda. Usil tepatnya. Tapi justru sifatnya yang seperti itu yang membuat dia disayang banyak orang.

“Setelah ini kalian bergantilah dengan pakaian resmi. Kalian akan ikut menyambut perwakilan pihak Downworlder di aula.” Ucapan Valentine membuat keempat anak di sana bergegas membereskan buku dan alat tulis lalu melesat ke kamar mereka.

Di dalam kamarnya, Alec melihat sebuah kaus lengan panjang dan celana berwarna hitam, pasti sudah disiapkan oleh ibunya. Dia pun segera berganti pakaian dan menyisir rambut seadanya. Dia memang tak peduli dengan penampilan, yang penting rapi. Tidak seperti Jace yang sepertinya akan betah di depan kaca seharian demi memastikan semua sempurna.

“Alec.” Pintu kamarnya terbuka dan muncullah Isabelle yang mengenakan gaun berwarna hitam, warna natural untuk para Shadowhunter. Rambut hitam panjangnya terjalin dalam dua kepangan, tapi jalinan di sisi kanannya sedikit berantakan.

Mengerti maksud kedatangan adiknya, Alec menyuruh gadis kecil itu duduk lalu dia pun membenahi tatanan rambut Isabelle. Karena ibu mereka masih sibuk melaksanakan tugas sebagai Shadowhunter; juga merawat adik mereka yang paling kecil, Max, Alec sudah biasa mengurusi Isabelle agar tak merepotkan kedua orang tua mereka. Hanya hal kecil seperti menemani belajar, berlatih atau seperti sekarang, menjadi penata rambut pribadi adik perempuannya.

“Sudah selesai.”

Isabelle menatap puas penampilannya di kaca, “Thanks, Alec.”

Lalu kedua kakak beradik itu pun menuju aula yang terletak di bagian depan Instute, di sana sudah ada Jace dan Clary bersama satu anak lain, Sebastian. Alec dan Isabelle pun segera menghampiri.

“Sebastian, lama tidak bertemu. Apa kabarmu?” sapa Isabelle.

“Baik, Izzy. Kau semakin cantik saja.” Ujar Sebastian sambil tersenyum.

Alec berdehem, “Bisa tidak kau berhenti menggoda adik orang di depan kakaknya?”

“Kau tampak sehat, Alec.” Sebastian tersenyum, tak mengacuhkan pertanyaan anak berambut hitam itu.

Kemudian mereka semua pun masuk ke dalam aula dan duduk di tempat yang disediakan.

Di bagian depan ada meja panjang berisi delapan buah kursi yang akan menjadi tempat rapat akan dilaksanakan. Kalau Alec tak salah dengar, rapat kali ini akan membahas tentang penyerangan misterius yang menimpa beberapa anggota Downworlder yang telah menimbulkan lima korban jiwa. Sampai sekarang belum ada kejelasan siapa pelakunya.

Jace sudah tampak tidak sabar menunggu sampai rapat di mulai, Alec mengerti benar karena Jace sangat suka menghadiri rapat kalau sedang membahas masalah seperti ini. Sebastian juga sama saja. Mereka memang termasuk calon Shadowhunter dengan kemampuan fisik yang di atas rata-rata.

Kemudian satu per satu anggota rapat pun mulai masuk. Alec melihat Roberts –ayahnya-, juga ayah Jace duduk di salah satu kursi bersama dengan Hodge dan ayah Sebastian.

Lalu masuklah seorang wanita cantik dengan rambut pirang yang digelung tinggi. Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna hijau yang sangat cocok di kulitnya yang putih dan serasi dengan warna matanya. Alec mengenalinya sebagai Camille Belcourt, pimpinan para vampire di New York. Wanita itu  bergerak dengan sangat anggun dan duduk di kursi yang bersebrangan dengan Valentine.

Di belakang Camille ada seorang pria tampan berambut pirang terang yang mengenakan pakaian resmi berwarna putih seolah dia adalah bangsawan dari abad pertengahan. Alec pernah bertemu sekali dengan Woolsey Scott itu yang merupakan anggota Preator Lupus, organisasi yang mengasuh para Downworlder khususnya werewolf yang tak memiliki keluarga agar mereka tak menjadi liar hingga membuat kekacauan.

Yang masuk setelah Woolsey membuat Alec hampir lupa berkedip. Itu adalah orang yang dia tabrak kemarin, pemuda dengan mata kucing. Alec terkesiap saat pemuda bertudung hitam itu menoleh dan tersenyum padanya. Canggung, Alec langsung memalingkan wajahnya.

“Kau kenapa?” tanya Jace heran.

“Tidak. Tidak ada apa-apa.”

Yang terakhir masuk adalah utusan dari klan peri, Merlion. Alec tak pernah suka dengan para peri. Mereka memang cantik dan tampan, tapi di balik itu mereka menyimpan kelicikan yang tak pernah terbayang oleh orang lain.

Akhirnya rapat pun dimulai setelah Jocelyn, Maryse dan Celine –ibu Sebastian- masuk ke aula dan duduk di dekat para anak.

Alec pun berkonsentrasi mengikuti rapat itu. Meski usianya masih belia, kelak dia akan memikul tanggung jawab sebagai Shadowhunter yang memiliki misi untuk menjaga dunia ini dari para iblis.

.

#

.

Hari ini hujan turun dengan deras, membuat para anak calon Shadowhunter berlatih di dalam ruangan. Jace sedang sparring dengan Sebastian. Dua anak itu benar-benar cocok, sama-sama tidak bisa diam. Isabelle dan Clary sedang berlatih lempar pisau. Alec sendiri berdiri di depan rak senjata, bingung memilih untuk latihan apa yang tak membutuhkan partner.

Akhirnya dia menemukan sebuah busur dan sewadah anak panah. Alec pun mengambil panah itu. Selama ini dia tak begitu mendalami ilmu panahan, karena selain serangannya terbatas, Alec sangat payah dalam membidik.

“Hoo… panahan. Apa kau jago, bocah?”

Suara yang terdengar tiba-tiba itu membuat Alec terkejut dan menjatuhkan senjata di tangannya. Dia berbalik dan mendapati pemuda bermata kucing berdiri di sebelahnya, bersandar pada salah satu pilar batu di ruangan itu.

Alec mengedipkan matanya beberapa kali, memproses informasi tentang siapa pemuda di hadapannya ini. Magnus Bane. Seorang High Warlock di Brooklyn, yang artinya, pemuda itu adalah makhluk immortal, sama seperti vampire.

Alec juga melihat sosok Church, kucing yang telah menjaga Institute ini sejak dulu, ada dalam pelukan Magnus. Itu cukup untuk membuatnya terpana karena Church sangat tak suka disentuh orang. Sudah tak terhitung berapa kali Alec kena cakaran maut kucing berwajah galak itu.

“Perlakukan senjatamu dengan baik, bocah, kalau tidak dia tidak akan berfungsi maksimal.”

“Aku bukan bocah. Namaku Alexander Lightwood.”

“Ah… Alexander, kalau begitu,” ulang Magnus.

“Kau bisa memanggilku Alec,” anak berambut hitam itu mengambil lagi busur dan anak panah yang berserakan di lantai.

Tapi matanya tak bisa berhenti melirik pada penampilan warlock di hadapannya. Magnus tak lagi mengenakan pakaian serba hitam, tapi kali ini mengenakan pakaian dengan gaya seperti anak punk, dengan segala jenis atribut kulit dan metal, kaus tanpa lengan yang berjejalan tulisan entah apa, dipadu dengan celana warna-warni dan sepatu boots tinggi. Tak ketinggalan glitter yang menghiasi rambutnya.

Magnus berkacak pinggang, “ada sesuatu di wajahku?”

Pertanyaan itu membuat Alec tersadar dan buru-buru menuju ke sudut lain ruangan itu yang menyediakan sebuah sasaran panah. Alec berusaha tidak peduli pada Magnus yang mengekor di belakangnya.

Alec menarik napas panjang lalu mulai bersiap untuk berlatih. Dua tiga anak panah yang dia lepaskan sama sekali tak mengenai bagian tengah sasaran. Malah ada yang tak menancap. Itu membuatnya jadi sedikit kesal. Baru saja dia menyiagakan anak panah lain pada busurnya, badannya mendadak terasa kaku begitu Magnus berdiri di sebelahnya dan memperbaiki posisinya.

“Sejajarkan lengan dengan pundakmu dan jangan menarik terlalu keras. Sesuaikan tenagamu dan tali busur,” ujar Magnus, “fokuskan pada target dan atur napasmu!”

Akhirnya Alec menuruti instruksi dari warlock itu dan dia pun melepaskan anak panah di busurnya. Kedua bola mata birunya membulat penuh rasa terkejut saat anak panah itu meluncur mantap dan menembus target tepat di tengah.

Magnus menepuk kepala Alec, “Nah. Seperti itu. Perlahan saja,” kemudian warlock itu pun berlalu dari ruangan latihan sambil melambaikan sebelah tangannya, meninggalkan Alec yang mematung di tempatnya.

.

#

.

Sampai tujuh hari berikutnya Alec masih terus berlatih memanah, membuat Jace jadi heran karena kemampuan Alec mendadak jadi lumayan jago, padahal sebelum ini sobatnya itu paling anti dengan panahan.

“Kenapa mendadak kau jadi jago begitu sih?” Tanya Jace, mengambil sebuah anak panah yang ada  di wadahnya, “siapa yang mengajarimu?”

“Aku… berlatih sendiri,” Entah kenapa Alec harus menyembunyikan fakta kalau seorang warlock lah yang mengajarinya.

“Kau mau menjadikan panah sebagai senjata utamamu? Kau bilang panah itu tidak praktis.” Jace memutar-mutar anak panah di tangannya.

Alec berposisi lagi untuk memanah, “aku juga tetap berlatih pedang dan yang lain. Panah bisa jadi senjata pendukung yang bagus. Lagipula kau sudah punya pasangan berlatih, kan? Jadi tidak masalah kalau aku berlatih panah sendiri.”

Mendengar itu, Jace mengangkat sebelah alisnya, “dasar aneh. Kau marah kalau aku berlatih sama Sebastian?” dia berkacak pinggang, “aku kan sudah bilang, kelak, aku dan kau akan jadi parabatai.”

“Jangan seenaknya memutuskan.” Ujar Alec, membiarkan anak panah melesat dan menancap di target.

“Jadi kau tidak mau?”

“Bukan itu masalahnya.”

“Jadi beres, kan. Pokoknya aku tidak mau menjadi parabatai orang selain kau, Alec. Ingat itu, ya!!”

Alec menghela napas dan membiarkan Jace pergi untuk berlatih kembali dengan Sebastian.  Memang, sejak mereka memulai pendidikan sebagai calon Shadowhunter, Jace dan Alec sudah berjanji bahwa kelak mereka akan menjadi parabatai, sepasang Shadowhunter yang memiliki hubungan lebih erat dari saudara. Sepasang petarung yang terikat sumpah untuk saling menjaga.

“Alexander.”

Mendengar namanya dipanggil, dia menoleh dan mendapati ayahnya berdiri di depan ruang latihan. Alec pun langsung menghampiri ayahnya. Dia melihat sosoklain di belakang ayahnya dan Alec segera mengenali siapa dia.

“Kau pernah bilang ingin tahu lebih banyak tentang Preator Lupus, kebetulan hari ini pendirinya datang, dia sudah setuju untuk berbincang sedikit denganmu.”

Alec memandang sosok Woolsey Scott di belakang ayahnya. Pria itu mengenakan kaus putih yang dipadu dengan jaket kulit hitam dan celana jeans. Sebuah kalung berliontin batu menghiasi lehernya.

Pria berambut pirang itu berkacak pinggang lalu membungkukkan badan hingga wajahnya sejajar dengan Alec, “Hoo… jadi kau yang bernama Alexander. Pantas saja…” Woolsey memandang Robert, “aku akan menemani putramu sebentar, kau bisa kembali pada pekerjaanmu.”

Robert mengangguk lalu menepuk kepala Alec, “Pergunakan waktumu dengan baik.”

“Iya,” ujar Alec patuh.

Setelahnya Alec mengikuti Woolsey ke taman belakang Institute. Bagian luar dan lantai dasar Institute memang terbuka bagi anggota kelompok Downworlder yang termasuk dalam perjanjian kerja sama dengan Institute New York.

Mereka duduk di bangku besi yang ada di bawah sebuah pohon rindang. Alec pun tak membuang waktu dan mulai ‘mewawancara’ Woolsey tentang organisasi yang dia dirikan. Awalnya Alec agak canggung, tapi ternyata Woolsey tipe yang mudah diajak bicara, membuat Alec menjadi lega.

Hampir dua jam mereka berbincang sampai langit berubah jingga. Woolsey pun berdiri dan merapikan jaket kulit hitam yang dia kenakan, “Kau anak yang pintar,” dia mengacak rambut Alec, “aku tidak akan kaget kalau kelak kau akan jadi anggota Dewan Utama Shadowhunter di Idris.”

Alec tersenyum, “Terima kasih untuk waktumu.” Dia pun beranjak dan kembali masuk ke Institute.

Sedang Woolsey masih berdiri di tempatnya memandang bocah kecil yang menghilang di balik pintu besi tinggi, “Magnus… kau itu memang pendosa.” Dia menyisir rambut dengan jemarinya lalu berbalik meninggalkan bangunan Institute.

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

TO BE CONTINUED

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo

Di sini saya menjadikan Jace Herondale sebagai kakak kandung Clary memakai nama Jonathan Morgenstern. Sementara Jonathan Morgenstern aka. Sebastian, saya jadikan anak dari Stephen Herondale. Intinya, mereka berdua tukar posisi XD Muahahaha~ ini namanya membalik fakta ya #digorok

Well… semoga bisa dinikmati ^^