Chapter Text
“Akhirnya kita sampai juga.” Aspros menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berlantai dua dengan arsitektur Queen Anne yang diberi sentuhan modern di beberapa bagian, rumahnya tampak kuno, tapi terawat dengan baik. Halamannya luas dan jajaran pepohonan dan semak alami jadi pagar yang membatasi dengan rumah tetangga.
“Waah!! Rumah yang besar!!” seru Kanon, adik bungsu Aspros yang duduk paling belakang, “Ayo cepat turun!! Aku ingin lihat di dalamnya!” anak lelaki berumur tiga belas tahun itu sangat tidak sabar untuk melihat rumah barunya.
“Sabar sedikit, Kanon!!” yang bicara adalah Saga, kakak kembar Kanon yang duduk di sebelah adiknya, “Biarkan Asmita dan Shaka keluar dulu!”
“Kalian berdua ini tetap saja berisik!” Defteros membuka pintu depan mobil itu bersamaan dengan kakak kembarnya, Aspros. Empat kakak beradik itu memang unik karena terdiri dari dua pasang anak kembar. Lalu Defteros membuka pintu tengah mobil bermodel SUV itu, “Shaka masih tidur? Biar aku gendong dia,” katanya pada pemuda berambut pirang panjang di sana, Asmita, yang merupakan kekasihnya sejak tiga tahun lalu.
“Tidak usah, biar aku saja,” Asmita membenahi posisi Shaka, adik atau mungkin lebih pantas disebut anak angkat yang dia asuh sejak Shaka masih bayi. Shaka sendiri sejak tadi tidur di pangkuan Asmita. Perlahan Asmita turun dari mobil sambil menggendong bocah kecil yang tetap lelap tanpa gangguan itu. Meski tak berhubungan darah, Asmita dan Shaka benar-benar mirip, mereka berdua berambut pirang dan bermata biru.
Setelahnya Kanon dan Saga juga keluar dari dalam mobil. Pakaian mereka kusut dan dipenuhi rempah camilan yang mereka makan sejak dari bandara sampai ke rumah baru mereka. Si kembar itu langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Ya, mereka baru saja tiba di New Westminster, Inggris karena Aspros diberi kepercayaan oleh perusahaannya untuk mengurus cabang yang ada di kota ini. Berhubung mutasi kerja ini tak bersifat sementara, akhirnya Aspros memboyong semua adiknya, termasuk Defteros yang bekerja sebagai seorang guru. Entah bagaimana, Aspros berhasil memindahkan adik kembarnya untuk bekerja di kota yang sama dengannya.
Akhirnya, karena tidak tahan harus berpisah, Defteros juga mengajak Asmita untuk ikut pindah bersamanya. Asmita sendiri tak keberatan karena dia adalah seorang penulis novel yang tak terikat untuk bekerja di satu tempat saja. Selain itu, Aspros juga sudah menganggap Asmita sebagai adiknya sendiri. Saga dan Kanon juga dekat dengan Asmita, si kembar itu juga sayang dan memanjakan Shaka, jadi tidak ada masalah sekali.
Maka disinilah mereka, menyebrangi benua dan sampai di kota yang sama sekali asing bagi mereka. Namun karena mereka tak sendiri, mereka semua yakin, kota ini, rumah ini, akan memberi cerita baru dalam hidup mereka.
oxoxoxo
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Saint Seiya © Kurumada Masami
Saint Seiya Lost Canvas © Teshirogi Shiori
Trace © aicchan
-Alternate Universe-
Family – Horror
Defteros x Asmita
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
oxoxoxo
Sore sudah beranjak petang ketika semua barang selesai diturunkan oleh truk-truk dari perusahaan jasa pindahan. Mereka tak bawa barang besar dari rumah lama mereka di New York seperti lemari atau tempat tidur, hanya beberapa meja kecil dan juga rak buku, karena di rumah ini sudah disediakan perabotan lengkap.
"Aspros!! Kami tidur di kamar yang menghadap kolam renang, ya?!” seru Kanon setelah dia dan kakaknya juga Shaka, yang bangun begitu masuk ke dalam rumah, selesai menginspeksi satu per satu kamar. Ada total empat kamar di rumah itu dan ukuran masing-masing cukup besar.
“Terserah kalian. Tapi sementara kalian tidur bertiga dalam satu kasur, oke?!” kata Aspros yang sedang membongkar kardus berisi perlengkapan kerjanya.
“OKE!!” seru tiga anak itu.
“Sekarang tenanglah dan bantu menata barang!”
“OKEEE!!!” tiga anak itu kembali berseru dengan kompak lalu sambil tertawa-tawa mereka membongkar sebuah kardus yang cukup besar.
Sementara itu Defteros dan Asmita sedang membereskan dapur. Mereka menata segala alat masak dan alat makan di tempat yang tersedia. Lemari pendingin masih kosong karena mereka belum sempat belanja. Dapur itu tepat menghadap beranda belakang yang bersebelahan dengan kolam renang berbentuk bulat. Taman belakang ditumbuhi rerumputan hijau dan sepetak bunga berwarna-warni.
Ada sebuah G-POD di sisi kolam, di tengah rerumputan dan dekat dengan satu-satunya pohon besar di sana. Ukurannya sedang, dua orang dewasa bisa masuk di ruangan santai berbentuk bulat transparan itu. Di dalamnya tak berisi sofa melingkar dan meja kecil, tapi diganti menjadi kasur santai dengan bantal-bantal kecil beraneka warna. Tadi Defteros mengecek dan di bawah kasur itu ada rak yang bisa dibuat menyimpan buku. Tempat yang cocok untuk bersantai di sore hari.
“Malam ini kita pesan makan dari luar saja, ya?! Aku tidak sanggup kalau harus belanja sendiri.”
“Terserah saja. Asal jangan pesan pizza. Anak-anak itu butuh makanan bergizi.”
“Iya, aku tahu.” Defteros membuka-buka laci di dapur sampai menemukan sebuah buku berisi alamat restoran yang menyediakan layanan pesan antar di daerah ini, “kau mau pesan apa?” tanya pemuda berkulit gelap itu.
“Apapun yang penting mengenyangkan.” Asmita membuka kardus berisi gelas-gelas dan menatanya di rak piring.
Defteros keluar dari dapur sambil membawa buku itu untuk menanyakan pesanan pada yang lain. Asmita masih bekerja di dapur karena hanya tinggal dua kardus lagi yang belum di bongkar. Dia membuka kardus yang berisi mangkuk-mangkuk besar, sejenak Asmita berhenti dan mengamati seisi dapur, mencari tempat yang pas untuk menyimpan isi kardus ini. Akhirnya dia memutuskan untuk menyimpannya di lemari yang ada di rak di atas kompor. Satu-satunya tempat yang belum tersentuh.
Pemuda itu menggeser letak sebuah kursi makan agar dia bisa menjangkau ke lemari. Namun mendadak dia seperti merasa ada yang meniup tengkuknya. Itu membuatnya segera membalikkan badan dan hanya menemukan kehampaan, tak ada siapa-siapa di sana. Mengusap tengkuknya, Asmita mengacuhkan bulu kuduknya yang sedikit meremang.
Lalu dengan berpijak pada kursi, Asmita membawa setumpuk mangkuk besar dengan niat untuk meletakkannya ke dalam rak dan menyelesaikan pekerjaannya di sini. Namun baru saja dia mengangkat mangkuk-mangkuk itu, dia merasakan hantaman di kaki kursi, seketika membuat keseimbangannya goyah dan tanpa sempat melakukan apa-apa, tubuh Asmita pun terjatuh ke lantai dan mangkuk yang dia bawa terbanting pecah di lantai.
Keributan itu membuat semua yang ada di ruang tengah langsung berlari ke dapur dan mereka terkejut melihat Asmita tergeletak di lantai, di antara pecahan keramik.
“ASMITA!!” Defteros menyingkirkan pecahan tajam dari lantai sebelum membopong Asmita. Dia lega karena tak tampak luka serius pada pemuda itu, hanya luka kecil di kepala. Defteros membawa Asmita ke ruang keluarga dan membaringkannya di sofa sementara Aspros membongkar barang-barang, mencari kotak P3K.
“Kenapa kau bisa sampai terjatuh?” Defteros menerima handuk bersih yang dibawakan Saga lalu membersihkan luka di sisi kepala Asmita.
“Entahlah. Seperti ada yang menabrak kursi.”
“Menabrak? Kau yakin?” Defteros menyibak poni panjang Asmita.
Tak tahu pasti apa yang terjadi, Asmita pun menggeleng, “Mungkin aku cuma lelah saja.” Kemudian dia memandang Shaka yang menangis dalam diam di belakang Kanon, “Kemarilah! Kenapa kau malah menangis?”
Shaka langsung memeluk Asmita dan menangis terisak.
Tak lama Aspros kembali membawa kotak obat. Setelah menyerahkannya pada Defteros, Aspros pun menuju ke dapur untuk membereskan kekacauan di sana. Saga ikut dengannya untuk membantu. Aspros menyapu pecahan mangkuk di lantai sementara Saga membereskan kursi yang patah. Saat itu Aspros melihat ada yang aneh pada patahan kaki kursi.
“Tunggu sebentar, Saga!” Aspros meletakkan sapunya dan mengambil kursi kayu itu dari adiknya. Dia melihat patahan di kaki kursi itu tampak seperti habis dimakan serangga, “Aneh. Padahal semua perabotan di sini baru, tak mungkin sudah lapuk dan menjadi sarang rayap.”
Saga ikut memperhatikan kursi itu, “Mungkin produksi gagal,” komentarnya asal.
Tak mau berpikir yang aneh, Aspros menerima saja tanggapan Saga barusan. Lalu dia menyuruh adiknya membuang kursi itu ke halaman depan dan baru dipilah lagi besok pagi. Selesai membereskan dapur, mereka pun kembali ke ruang keluarga di mana Defteros sudah selesai mengobati luka Asmita dan Shaka masih duduk dipangkuan kakaknya.
“Kau sudah tidak apa-apa, Asmita?” tanya Aspros.
“Ya. Hanya luka kecil.”
Aspros mengambil telepon dan buku alamat, “Ya sudah, biar aku yang pesankan makan malam. Setelah makan lebih baik kita tidur!”
Tak ada yang membantah, semua kembali menyibukkan diri untuk membereskan sisa-sisa isi kardus yang sudah terlanjur dibongkar.
.
#
.
Pagi datang dengan damai. Defteros sudah menyiapkan sarapan, meski hanya hasil sisa pesanan semalam yang dipanaskan dengan microwave. Sepertinya siang nanti mereka harus berbelanja bahan pangan juga persedian camilan untuk para bocah.
Selesai menata sarapan di meja, Defteros dikejutkan dengan keributan dari lantai atas. Dia pun meninggalkan dapur dan menuju ke kamar si kembar dan melihat adik-adiknya sedang berada di antara pakaian mereka yang berserakan di lantai. Shaka hanya duduk diam di tempat tidur sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.
“Apa yang kalian lakukan pagi-pagi begini?” Defteros berkacak pinggang di ambang pintu.
“Jaketku!!” Kanon menunjukkan jaket baseball kesayangannya yang berwarna putih, tapi di sana kini ada noda besar berwarna kehitaman.
Defteros memandang noda itu dengan heran, seingatnya jaket itu baik-baik saja waktu dimasukkan ke dalam kardus, “Memang jaket itu kau letakkan di mana?”
“Di atas kardus. Niatnya ingin aku pakai hari ini!!” wajah Kanon tampak benar-benar kesal.
“Beberapa bajuku juga bernoda seperti itu,” Saga menunjuk beberapa helai kaus dan juga celana jeans yang dia pisahkan dari bajunya yang lain.
Defteros akhirnya masuk dan melihat baju-baju milik dua adik kembarnya. Memang aneh, noda itu sekilas seperti tumpahan kopi, tapi mustahil, kan? Kardusnya sama sekali tak basah dan tak ada yang minum kopi sejak mereka tiba di sini.
“Ada apa ini? Kalian berisik sekali!!” Aspros muncul di ambang pintu masih dengan piyama tidurnya, “Kenapa kalian sudah membongkar pakaian?”
Malas menjelaskan, Defteros menyuruh semuanya untuk bersiap dan turun untuk sarapan. Setelah itu dia menuju kamar yang dia tempati bersama Asmita. Di sana dia melihat Asmita sedang membereskan tempat tidur dan pemuda berambut pirang panjang itu tampak sudah rapi.
“Kepalamu bagaimana?” tanya Defteros.
“Masih sedikit nyeri, tapi tidak apa-apa.”
“Apa perlu kita ke dokter?”
“Tidak,” Asmita menata bantal lalu beranjak ke jendela untuk membuka tirai, “luka segini saja tidak perlu dibesar-besarkan.”
Paham kalau dia tidak akan bisa memaksa, Defteros pun mengalihkan topik, “Aku sudah siapkan sarapan. Yang lain sebentar lagi juga turun.”
“Shaka sudah bangun?”
“Sudah. Kurasa dia terbangun karena Kanon dan Saga ribut.”
Keduanya pun keluar kamar dan sementara Defteros langsung turun, Asmita menuju kamar para adik. Dia melihat Saga dan Kanon berebut mandi duluan, meski di rumah itu ada dua kamar mandi. Shaka masih tampak terkantuk-kantuk di tempat tidur.
“Jangan mulai bertengkar pagi-pagi begini,” Asmita memisahkan si kembar lalu menggendong Shaka, “Lekas mandi dan turunlah! Saga, kau bisa pakai kamar mandi di bawah, kan?”
“Aku tidak suka kamar mandi itu,” Saga memeluk handuknya.
Asmita memandang kakak Kanon itu dengan heran, “Memang ada apa? Rasanya sama saja dengan kamar mandi di atas.”
“Pokoknya aku tidak mau!!”
Tak biasanya Saga keras kepala seperti ini, “Ya sudahlah. Kanon, kau saja yang pakai kamar mandi bawah.”
Tapi Kanon juga menggelengkan kepalanya.
Menghela napas, akhirnya Asmita menyuruh Kanon mandi duluan, bergantian dengan Saga. Lalu dia mengambil baju dan perlengkapan mandi Shaka dan membawa bocah berumur enam tahun itu ke bawah.
Setelah kerusuhan di pagi hari itu sedikit berkurang, semuanya berkumpul di ruang makan untuk menikmati sarapan. Kanon dan Saga berseru senang saat Defteros bilang mereka akan pergi ke supermarket hari ini untuk berbelanja. Tapi Aspros memilih di rumah saja dan menyiapkan pekerjaannya untuk besok.
Selesai sarapan, semua, kecuali Aspros, segera masuk ke dalam mobil mencari letak supermarket dengan GPS di mobilnya.
“Apa kami boleh beli es krim?” tanya Kanon.
“Boleh saja. Asal tidak langsung kalian habiskan dalam sehari,” Defteros pun memundurkan mobilnya.
Saat itu Shaka yang sejak tadi duduk diam mendadak menoleh ke jendela dan melambaikan tangannya.
“Kau melambai pada siapa, Shaka?” tanya Saga.
“Tadi ada anak laki-laki di bawah pohon itu.” Shaka menunjuk sebuah pohon besar di tepi jalan yang tak jauh dari rumah mereka.
Saga dan Kanon melihat ke arah yang ditunjuk Shaka, tapi mereka tak melihat apapun. Mungkin anak tetangga, pikir mereka.
Mobil meluncur meninggalkan daerah perumahan dan segera masuk ke jalan raya. Perumahan tempat mereka tinggal cukup strategis dan dekat dengan Queen’s Park, jadi kalau sedang bosan, mereka bisa santai dan berkreasi di salah satu tujuan wisata utama kota ini. Defteros dengan lancar mengemudikan kendaraannya hingga mereka sampai ke supermarket yang berjarak 20 menit dengan mobil.
“BELANJAAAA!!!” Kanon menggandeng tangan Shaka dan berlari duluan ke dalam supermarket. Saga mengikuti keduanya dan sibuk menyuruh Kanon supaya tenang sedikit.
Defteros menghela napas, “Bocah-bocah yang penuh semangat ya?! Padahal badanku saja masih pegal setelah perjalanan jauh kemarin.” Keduanya menyusul adik-adik mereka yang sudah melambai penuh semangat sambil membawa keranjang dorong.
Mereka semua mengelilingi supermarket yang sangat luas itu sampai keranjang mereka penuh dan bahkan sampai harus mengambil keranjang jinjing untuk tambahan. Shaka sekarang digendong oleh Defteros karena anak itu sudah tidak kuat berjalan lagi setelah berlarian bersama Saga dan Kanon.
“Sepertinya sudah semua,” Asmita memandang belanjaan mereka. Mulai daging sampai makanan ringan ada di sana.
“Ayo pulang!! Aku lapar!!” Kanon menarik langan baju Defteros, “Kita makan di luar, ya?!”
“Makan? Ini belum waktunya makan siang.” Defteros melirik jam tangannya.
“Tapi aku lapar!!” seru Kanon lagi.
Mengalah, Defteros menghela napas, “Kalau begitu kita beli burger saja, oke?”
Tersenyum puas, Kanon tak memaksa lagi.
Mereka lalu mengantri di kasir untuk membayar semua belanjaan itu. Saat Asmita sedang membayar, Shaka lagi-lagi melambai ke arah belakang.
Kanon dan Saga otomatis menoleh, tapi mereka tak melihat siapapun yang membalas lambaian tangan Shaka.
“Kau melambai pada siapa?” kali ini Saga yang bertanya.
“Anak laki-laki yang aku lihat tadi di dekat rumah.”
Si kembar itu saling berpandangan tapi tak ada yang bicara. Mungkin Shaka salah lihat, batin mereka.
.
.
Sesampainya di rumah, Defteros dan Asmita kembali berkutat di dapur untuk mengatur belanjaan mereka. Kanon dan Saga juga Shaka membantu Aspros untuk membereskan barang-barang di ruangan lain.
Asmita baru saja membongkar kantung kertas berisi bumbu-bumbu masak saat dia menangkap sosok di sudut matanya. Asmita menoleh ke arah pohon besar di belakang rumah dan di sana dia melihat sosok seorang anak laki-laki berbaju biru dan membawa bola berwarna merah. Wajah anak itu tak terlihat jelas karena tertutup bayangan pohon. Sejenak pandangan Asmita terpaku pada sosok itu sampai dia dikejutkan dengan tepukan di bahunya.
“Kenapa melamun? Apa yang kau lihat?”
Asmita menoleh sejenak pada Defteros, namun begitu dia kembali memandang ke luar, sosok anak tadi sudah tidak ada.
“Ada apa di sana?”
Asmita menggeleng, “Mungkin anak dari sekitar sini. Tidak ada pagar, jadi bisa dimasuki siapa saja.”
“Hmm… mengkhawatirkan juga, sih. Lebih baik besok aku panggil security service untuk memasang alarm.”
Mereka kembali berkutat dengan belanjaan sampai Shaka datang sambil membawa bonekanya.
“Ada apa, Shaka? Kau mengantuk?”
Si kecil itu mengangguk.
“Kau temani saja dia, biar aku yang bereskan ini.”
Asmita mengangguk, lalu dia menggendong Shaka yang sudah menguap. Saat melewati ruang tengah, Asmita melihat Aspros dan dua adik kembarnya sedang menggantung pigura foto di dinding. Kanon ribut supaya dia diizinkan memaku, tapi Aspros tak mempedulikannya.
“Shaka, kau mau tidur?” Saga meletakkan pigura yang dia bawa ke meja lalu menghampiri Asmita, “Bagaimana kalau denganku saja? Kepalamu pasti masih sakit kan, Asmita?”
Mengakui kalau memang luka di kepalanya cukup mengganggu, Asmita membiarkan Shaka digendong oleh Saga, “Tolong, ya.”
“Tenang saja, aku akan menjaganya sampai dia bangun nanti.” Saga pun menggendong Shaka ke lantai atas.
“Kau juga istirahatlah, Asmita!” ujar Aspros yang baru saja selesai menggantung pigura berisi foto saat mereka semua berlibur ke pantai, “kalau kau sampai ambruk, Defteros bisa kalap.”
“Jangan memperlakukanku seperti orang lemah,” proses Asmita. Lalu dia pun duduk di sofa, membereskan setumpukan buku yang merupakan koleksinya. Dia menyusunnya sesuai abjad dan pengarang supaya dia tak bingung mencari. Sedang serius memilah buku, Asmita menyadari kalau beberapa bukunya tampak kotor. Bukan karena debu, tapi berbercak kehitaman. Kenapa ini? Batinnya sambil mengusap sampul bukunya yang ternoda. Rasanya waktu aku masukkan ke dalam kardus semua baik-baik saja.
“Kanon, bawa turun baju-bajumu yang kotor dan masukkan ke mesin cuci!” ujar Aspros yang sudah selesai dengan misinya untuk menggantung pigura foto.
Tak membantah, Kanon segera melesat ke lantai atas.
Lalu Aspros menghampiri Asmita, “Kenapa bukumu jadi kotor begitu? Ketumpahan kopi?”
Asmita menggeleng, “kalau kena kopi, halamannya pasti rusak. Ini hanya sampulnya saja,” pemuda itu meletakkan buku-buku yang kotor di sebelah kanannya.
“Defteros masih di dapur?”
“Ya. Tadi kami belanja banyak sekali.”
Aspros duduk di sebelah Asmita, “Aku bisa lihat itu. Kalian tampak seperti mau memborong seisi supermarket.”
“Lebih banyak persediaan camilannya daripada bahan pokok,” Asmita menarik kardus lain yang berisi koleksi buku miliknya. Beberapa buku yang ada di dalamnya juga tampak bernoda kehitaman.
Belum habis rasa herannya, Kanon turun membawa sepelukan baju dan celana lalu anak itu melemparkannya ke karpet.
“Hilang!! Nodanya hilang!!!” seru anak berambut biru gelap itu.
Aspros dan Asmita memandang tumpukan baju di karpet.
“Noda yang kau bilang mengotori jaket kesayanganmu itu?” tanya Aspros yang tak melihat langsung noda di baju adiknya tadi pagi.
Kanon mengangguk, lalu dia mengambil jaket putihnya dan membentangkan lebar, “lihat!! Hilang sama sekali!!” kain putih itu memang tampak bersih sempurna, padahal pagi tadi jelas sekali noda pekat di sana.
Ketiganya terdiam, tidak tahu harus berkata apa.
Kanon lalu memeluk jaketnya, “J-jangan-jangan… di rumah ini ada han—”
“Tidak ada yang seperti itu, Kanon! Kau terlalu banyak menonton film horor,” Aspros memotong ucapan adiknya lalu dia pun beranjak menuju ke dapur.
Kanon masih bergeming di tempatnya, lalu dia memandang Asmita dan segera perhatiannya teralih pada tumpukan buku di sebelah kanan pemuda itu, “Asmita… noda di bukumu itu…”
Asmita melirik pada sampul buku-bukunya yang kotor. Kalau dilihat lagi, noda itu warnanya mirip dengan noda yang tadinya ada di jaket Kanon.
Mendadak wajah Kanon menjadi makin pucat, “Jangan-jangan memang benar ada hantu di rumah ini,” suara anak itu berubah menjadi sangat pelan.
“Jangan berpikir yang macam-macam!” Asmita berdiri lalu memunguti pakaian di karpet, “karena sudah terlanjur dikeluarkan, lebih baik kita jemur saja biar lebih segar. Ayo!”
Meski masih ragu, akhirnya Kanon berdiri dan mengikuti Asmita ke belakang rumah untuk menjemur pakaian mereka.
.
Hari sudah gelap saat kegiatan bersih-bersih mereka selesai. Saga, Kanon dan Shaka juga sudah mandi karena sejak si kecil bangun tidur, mereka heboh bermain di kolam renang sesorean.
Saat Asmita dan Defteros, yang bertanggung jawab pada tugas dapur, sedang menata meja makan, bel pintu berbunyi dan disambut dengan suara Kanon yang lantang seperti biasa. Anak itu membuka pintu dengan lebar dan menyambut tamu di balik pintu.
Di depan pintu itu berdirilah seorang pria tinggi bersama seorang anak yang mungkin seumuran dengan Kanon.
“Hei, kami tetangga di depan,” ujar pria berwajah seram itu sambil menunjuk rumah di seberang jalan dengan ibu jarinya. “Namaku Manigoldo dan ini Angelo,”
lalu pria itu menyodorkan sebuah wadah berisi pasta. “Salam perkenalan dari kami. Boleh kami masuk?”
“Hah?” terkejut, Kanon menerima piring besar itu, “tentu saja. Masuklah!” dia membuka pintu lebar dan mengantar kedua orang itu sampai ke ruang keluarga di mana yang lain sedang berkumpul.
“Kanon, siapa mereka?” tanya Aspros yang sedang memangku Shaka.
“Manigoldo dan Angelo. Mereka tetangga kita, rumahnya ada tepat di seberang jalan,” seru Kanon. “Lihat! Kita dapat pasta!! Aku bawa ini ke dapur dulu, ya?!”
Aspros menurutkan Shaka dan menghampiri Manigoldo lalu mereka pun berjabat tangan, “Mohon bantuannya. Kurasa keramaian adik-adikku akan sedikit merepotkan kalian.”
Manigoldo mengangkat sebelah bahunya, “Tak masalah. Bocah di rumahku juga ramai, kok. Jadi ku rasa mereka akan cocok.”
Aspros memandang Saga yang berdiri dan berkenalan dengan Angelo. Shaka berdiri setengah tersembunyi di belakang Saga. Anak itu memang pemalu kalau masih belum kenal, tapi kalau sudah akrab, dia bisa jauh lebih bawel dari si kembar. “Bagaimana kalau kalian makan malam di sini?”
Tawaran itu diterima oleh Manigoldo. Kemudian Aspros mengantar tetangga mereka itu dan memperkenalkan pada Defteros dan Asmita. Tak ada raut terkejut atau apa di wajah Manigoldo maupun Angelo saat Aspros memberitahu mereka status hubungan Defteros dan Asmita.
Setelah perkenalan itu, mereka pun duduk bersama dan menikmati makan malam. Para anak kecil sudah mengobrol seru seolah mereka teman yang kenal sejak lama. Sementara para orang dewasa juga mengobrol santai.
“Jadi kau bekerja sebagai guru? Kalau begitu aku titip si bocah kalau di sekolah. Dia itu susah sekali diatur,” ujar Manigoldo pada Defteros. “Omong-omong, aku baru sadar kalau rumah ini lebih luas dari tempatku. Padahal dari luar tampaknya sama,” dia memandang ke halaman belakang yang tampak jelas dari ruang makan yang menjadi satu dengan dapur itu, “Rumah ini sudah lama kosong, sejak aku pindah ke daerah ini sepuluh tahun lalu, tak ada yang menghuni tempat ini. Dari mana kau tahu ada yang menjual rumah ini?”
“Ah… semua diatur perusahaan. Aku terima jadi saja,” Aspros mengisi lagi piringnya dengan pasta yang dibawa oleh Manigoldo, “lagipula harganya murah untuk rumah seluas ini.”
“Hmm…” mata Manigoldo belum beralih dari luar, “well, dengan anggota keluarga sebanyak ini, memang butuh tempat yang luas supaya bisa lebih leluasa.”
“Begitulah,” Aspros memandang Manigoldo, “Kau sendiri, berprofesi sebagai apa?”
“Aku?” Manigoldo meminum air putih dalam gelasnya, “Exorcist.”
Seketika suasana jadi hening, termasuk para bocah yang sedetik tadi masih heboh. Kini semua mata memandang pada Manigoldo.
“Maaf—kau… apa?” Aspros sepertinya meragukan pendengarannya sendiri.
Manigoldo tersenyum, meski lebih mirip seringai, “Exorcist. Kau tahu, pemburu hantu, pemusnah roh jahat. Hal-hal yang berhubungan dengan supranatural.” Dia tertawa pelan, “Yeah, tak semua bisa menerima pemikiran kalau kita tidak sendirian di dunia ini. Aku juga tak memaksa kalian untuk percaya.”
“Ja-jadi hantu itu sungguhan ada?!” seru Kanon seketika.
Manigoldo tertawa, “Aku tak bisa menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’.”
Kanon tampak sangat tidak puas dengan itu.
Kemudian acara makan malam pun dilanjutkan dengan obrolan yang lebih ringan, meski begitu sekali dua kali Manigoldo masih mengarahkan pandangannya ke luar seolah ada yang sangat menarik perhatiannya di sana.
oxoxoxo
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
TO BE CONTINUED
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
oxoxoxo
