Chapter Text
“Sanji itu… kalau memasak serius sekali, ya?”
Sanji menoleh pada makhluk imut menggemaskan yang duduk di sisi lain meja, bersebrangan dengan dirinya yang sedang menyiapkan bahan untuk makan malam hari ini.
“Serius bagaimana?” Sanji balas bertanya pada Chopper, rusa kecil yang merupakan dokter untuk kelompok bajak laut Mugiwara tempat mereka bernaung saat ini.
“Ya… serius saja. Selalu memastikan takarannya tepat. Kalau kuperhatikan, kau bisa menghabiskan waktu dua jam sendiri untuk menyiapkan makanan.”
Itu membuat Sanji tersenyum. “Chopper, kau kan seorang dokter. Kurasa koki juga mirip seperti seorang dokter.”
Chopper menutup buku yang sejak tadi terbuka sia-sia di meja, “Maksudnya?”
“Dokter juga harus memastikan takaran obat yang mereka berikan ke pasien itu tepat, kan? Begtu juga dengan koki. Kalau bumbunya melenceng sedikit saja, rasanya akan sangat berbeda.” Jelas Sanji sambil mengupas sisa kentang di keranjang. “Kalau dokter salah memberi dosis obat, bahaya, kan?”
Chopper tertawa bersama Sanji.
xoxoxoxoxoxoxox
oxoxoxoxoxo
ONE PIECE © Oda Eiichiro
Blue Sphere © aicchan
Family – Friendship - Romance
Alternate Reality
Zoro x Sanji
Multichap – Mutlipair - Multigenre
ENJOY
oxoxoxoxoxo
xoxoxoxoxoxoxox
“Oi, baka marimo. Ngapain kau di situ?” Sanji menghampiri seorang pemuda berambut hijau yang mengenakan kaus putih dan celana panjang hitam dengan haramaki di perutnya, dilapis dengan mantel hitam panjang. Dia adalah Zoro, ahli pedang yang merupakan orang kepercayaan kapten kapal, sekaligus orang yang sejak beberapa bulan lalu, entah bagaimana caranya, menjalin hubungan khusus dengan Sanji, walau masih belum jelas status mereka itu sebagai apa.
“Ah, cook. Aku menunggu siapapun yang lewat sini.” Kata Zoro yang duduk di bangku taman.
Mendengar itu, muncul senyum geli di wajah Sanji, “Kau nyasar lagi? Payah. Penyakit buta arahmu itu semakin parah saja, ya?”
Kesal, tapi tak bisa menyangkal, Zoro hanya diam.
Sanji terkekeh, “Kau mau kembali ke kapal atau ada sesuatu yang harus kau beli?”
Tampak berpikir sebentar, Zoro lalu berdiri, “Kau mau kemana?”
“Hah? Tentu saja belanja. Kau pikir kita tak butuh makan?”
“Kalau begitu kutemani.”
Sanji sampai tak sempat menutup mulutnya begitu Zoro menyeretnya meninggalkan taman.
“Kau mau beli apa?” tanya Zoro begitu mereka sampai di daerah petokoan.
Sanji pun mengeluarkan dafta belanjaan dari sakunya. Gulungan kertas itu panjangnya sampai sebatas pinggang, membuat Zoro ternganga.
“Kau butuh semua itu?”
“Yep.”
“Tak bisa kurang?”
“Bisa kalau kau mau makan sehari sekali.”
“… Aku tak tahu kau selalu berbelanja sebanyak itu.”
“Biasanya juga seperti ini kalau sampai ke kota. Bosan juga kan kalau setiap hari makan ikan?” Sanji menyimpan lagi daftar belanjaannya. Dia menyalakan rokok yang sudah berfungsi sebagai pengisi energi. “Ayo. Nanti bahan-bahan segarnya keburu habis.”
Mereka pun memulai perburuan dan mampir dari satu toko ke toko yang lain. Zoro sampai harus menyewa sebuah gerobak untuk membawa belanjaan mereka. Kata Sanji, menurut Nami mereka baru akan menemukan pulau lain sekitar tiga sampai empat minggu lagi, jadi Sanji harus memastikan mereka memiliki bahan makanan yang cukup untuk pelayaran.
“Gila. Kau disembah seperti dewa,” Zoro memandang para pedagang yang mengantar kepergian mereka dengan suka cita karena dagangan mereka hampir terjual habis.
Sanji terkekeh, “Nami-san sudah memberi titah supaya aku membeli bahan yang terbaik. Jadi ya—seperti inilah hasilnya.”
“Si pelit itu sudi mengeluarkan uang lebih demi makanan.”
“Tandanya masakanku memang super enak sampai Nami-san pun dibuat terlena.” Sanji membaca lagi daftarnya yang sudah penuh coretan, pertanda ‘perburuan’ mereka sudah hampir berakhir. “Ah! Tunggu di sini! Aku ke toko itu sebentar.” Sanji berjalan menuju ke sebuah toko kecil di ujung jalan. Tapi tak lama dia berhenti dan berbalik lagi memandang Zoro, “Jangan beranjak dari situ.” Dia berjalan tiga langkah dan berhenti lalu berbalik lagi, “Jangan maju selangkah pun!!”
“IYA!! SUDAH SANA PERGI!!”
Sanji terbahak dan bergegas menuju ke toko. Dia selalu senang melihat wajah kesal Zoro kalau penyakit buta arahnya dijadikan bahan candaan. “Oh~ nona cantik. Tak kusangka ada bidadari di tempat seperti ini.” Sepertinya mulut Sanji selalu begitu saja mengucapkan kata-kata manis jika dia bertemu dengan gadis yang menarik baginya. Meski dia sadar benar, apa yang dia rasa hanya sebatas ‘kagum’ belaka.
Dengan teliti Sanji pun membeli bahan-bahan yang dia butuhkan, tentu saja dengan kualitas yang terbaik. Dia tak ingin mengecewakan kapten juga teman-temannya yang lain. Usai belanja, dia kembali pada Zoro yang masih berwajah masam. Dia terkekeh, “Anak manis. Aku akan membuatkanmu puding teh hijau nanti.”
Zoro tak menjawab. Dia pun menerima bungkusan yang dibawa Sanji untuk diletakkan dalam gerobak. Saat itu tak sengaja dia menyentuh jemari Sanji. Anehnya, terasa sedikit panas.
“… Apa?” tanya Sanji saat melihat Zoro memandangnya tanpa berkedip.
Zoro menggeleng, “Tidak,” jawabnya singkat sambil meletakkan bungkusan itu di atas tumpukan barang lain. “Sudah semua?”
“Ya. Aku hanya tinggal membeli pengasah pisau yang baru.” Sanji menghembuskan asap rokoknya menjadi bulatan.
“Kenapa tak beli saja pisau baru?”
Mendengar itu, Sanji mendecakkan lidahnya, “Ck ck ck, Pirate Hunter, Roronoa Zoro. Jangan kira pisau masak itu tak lebih berharga dari pedang-pedangmu. Aku juga harus memastikan pisauku ada dalan kondisi terbaik untuk memasak. Itu benda sakral para koki. Jadi tak bisa sembarangan beli yang baru.”
Zoro tersenyum simpul.
Mereka berjalan ke arah pelabuhan di mana kapal megah mereka merapat. Thousand Sunny. Kapal yang istimewa dan sangat mewah. Selain punya dek yang berumput hijau subur, ladang buah anggur dan juga ruang duduk yang dilengkapi Aquarium, kapal mereka punya banyak senjata rahasia yang tersembunyi di setiap sudutnya.
“Hei, kapal siapa itu?” Zoro menghentikan gerobak yang sejak tadi dia tarik. Bersama Sanji, dia pun mengangkut isi gerobak itu yang hampir enam puluh persennya adalah daging.
Sanji baru menyadari kehadiran sebuah kapal kecil yang berhias motif api di kedua sisinya. Kapal kecil itu melaju kencang dari kejauhan dan berhenti tepat di sebelah Sunny. “Siapa lagi. Sudah tentu Ace, kan?”
“LUFFY!!! AKU DATAAAANG!!” seiring suara kencang itu, pemuda bertelanjang dada dengan tato di berbagai bagian tubuhnya melompat dari kapalnya dan melesat ke atas, mendarat mulus di pagar dek Sunny.
“AAH!! ACE!!! KOK KAU TAHU AKU DI SINI?!!”
Sanji dan Zoro sudah maklum saja dengan kehebohan yang terjadi kalau kakak beradik itu bertemu.
“Sepertinya jatah tiga minggu akan berkurang jadi seminggu,” kata Zoro, membawa hampir separuh isi gerobak di kedua tangannya.
“Ya… terpaksa bertahan dengan ikan lagi.” Sanji membawa sisa isi gerobak tanpa kesulitan. Keduanya pun masuk ke dalam kapal dan menyimpan belanjaan di gudang persediaan yang dibuat khusus oleh Franky, penanggung jawab kapal. Setelah memastikan bahan makanan aman, Sanji mengunci ruangan itu, karena kalau tidak, bisa-bisa semua akan habis dalam satu hari.
.
Malam sudah beranjak larut, Sunny sudah meninggalkan pelabuhan sekak sore dan kini beristirahat di tengah laut yang tenang. Suasana di kapal bajak laut Mugiwara itu belumlah sepi. Di dek masih tampak Luffy, Ace, Ussop, Franky dan Brook yang sedang menikmati sake dan bercanda tawa sambil bernyanyi diiring petikan gitar yang dimainkan oleh Brook. Nami, Robin dan Chopper bersantai di ruang duduk dan menikmati koleksi ikan yang mereka dapatkan sepanjang perjalanan. Sanji sendiri masih ada di dapur, menyusun menu untuk seminggu ke depan. Zoro juga di sana, diam menemani.
Dia memmandang wajah serius Sanji yang menulis entah apa di buku tebal. Seingatnya Sanji menyebut buku itu dengan “Sejuta Satu Resep Istimewa”, karena seribu baginya terlalu sedikit. Sambil menulis, Sanji sekali dua kali menggumam sendiri, mencoret ini dan itu lalu menulis lagi.
“Oi.”
Sanji berhenti menulis dan memandang Zoro. “Apa? Kau lapar? Masih ada sisa nasi kalau kau mau onigiri.”
Zoro melipat tangan di dadanya, “Ini sudah lewat tengah malam. Sebenarnya kau mau tidur jam berapa?”
“Setelah ini selesai.”
Alis Zoro nyaris bertaut. Dia selalu tahu kalau Sanji bangun jauh lebih awal dari penghuni kapal yang lain, tapi dia tak tahu kalau Sanji juga tidur selarut ini jika mereka tidak sedang menghabiskan waktu berdua. Zoro masih memandang Sanji yang kembali sibuk dengan buku catatannya. Sering sekali dia melihat Sanji mengusap wajah dengan telapak tangannya, juga memijat pangkal hidungnya. Dilihat dari sudut manapun, tampak jelas kalau dia lelah.
“Oi.”
Sanji mengangkat sebelah alisnya, “Apa lagi?”
“Kau butuh tidur.”
“Hah?”
Zoro berdiri dan berpindah ke sebelah Sanji. Dia menarik lengan Sanji, memaksa pemuda itu berdiri. “Kau bisa lanjutkan itu besok.”
Baru saja Sanji hendak protes, mendadak saja kepalanya seperti terhantam benda keras.
“OI!!!” Zoro menahan tubuh Sanji yang tak sadarkan diri. Tubuh Sanji terasa panas sekali dan itu membuat Zoro panik. Dia pun membopong Sanji lalu membawanya ke ruang kesehatan, untunglah saat dia sampai ke sana, Chopper ada di tempat.
Begitu melihat siapa yang datang, Chopper langsung jadi pucat pasi, “Sanji kenapa, Zoro?!” tanyanya.
Zoro membaringkan Sanji di tempat tidur, “Entah. Mendadak saja dia pingsan. Kurasa dia demam.”
Dengan cepat Chopper pun memeriksa kondisi Sanji. Tapi wajah cemasnya dengan segera berubah lega begitu selesai memeriksa Sanji. “Syukurlah… Sanji hanya kelelahan saja. Dia juga kurang tidur.” Chopper menyimpan stetoskop miliknya ke dalam laci meja. “Biarkan dia tidur sampai puas, nanti kalau dia bangun aku akan berikan obat untuknya.”
Zoro memandang wajah Sanji yang sedikit pucat. “Kau yakin dia tak apa-apa?”
Chopper mengangguk pasti.
“Baiklah. Tolong jaga dia, ya!”
Zoro pun keluar dari ruang perawatan dan berniat menuju ke kamar yang dia bagi bersama para kru lelaki lainnya. Ada total tiga ruang tidur di Sunny. Chopper lebih memilih tidur di ruang perawatan yang menjadi area kekuasaannya, Nami tentu dengan Robin, dan Luffy sebagai kapten, memiliki kamarnya sendiri. Meski Luffy lebih sering merusuh ke kamar para cowok karena dia tak suka tidur sendiri.
Sampai di anak tangga terakhir yang tersambung dengan dek depan, langkah Zoro terhenti oleh Luffy.
“Kenapa Sanji? Aku tadi lihat kau membopongnya keluar dari dapur.”
“Dia hanya kurang tidur. Chopper bilang dia akan baik-baik saja kalau dibiarkan tidur sampai puas.”
Luffy berkacak pinggang, “Kau apakan dia sampai kurang tidur begitu?”
Seketika Zoro rasanya ingin menghantamkan kepalanya ke tiang kapal. Kaptennya ini kadang berlagak seperti pemuda lugu dan polos, tapi ucapannya sering sekali menohok seperti sekarang. “Jangan bicara macam-macam, Luffy!!”
Lalu Ace datang menghampiri mereka, “Hei hei, Luffy. Kau tak boleh begitu, nanti kau kena karma.” Ace merangkul leher adiknya.
“Karma yang seperti apa?” tanya Luffy.
“Hmm… mungkin kau jadi tak bisa makan daging selamanya?”
Seketika wajah Luffy berubah pucat pasi, “EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHH!! AKU TIDAK MAU!! AKU SUKA DAGING!!!” serunya heboh. “ACE!! BAGAIMANA INIII?”
Ace tertawa, “Tenanglah. Kalau kau tenang, mungkin karmanya akan pergi.”
Seketika luffy langsung diam dan dia menurut saat Ace mengajaknya kembali pada Brook, Ussop dan Franky yang masih seru bernyanyi.
Zoro menghela napas, selalu takjub pada Ace yang bisa mengendalikan Luffy. Dua saudara tak sekandung itu semakin akrab saja. Terlebih setelah perang besar di Marine Ford dua tahun lalu. Perang yang nyaris merengut nyawa Ace dan juga Luffy. Perang yang menjadi tonggak sejarah baru bagi para bajak laut, perang yang membawa begitu banyak ombak besar yang membuat Gran Line, juga New World, mengalami perombakan besar.
Tapi kalau Zoro pikir lagi, sejak melewati Sabaody dan masuk ke New World –abaikan kalau dia kini memegang gelar sebagai salah satu dari sebelas bajak laut muda yang disebut Worst Generation-, mereka juga banyak mengalami perubahan. Fisik dan mental. Mereka bukan lagi ‘junior’ yang tak tahu apa-apa, mereka kini diperhitungkan sebagai salah satu kelompok bajak laut terkuat. Mereka juga mendapat teman juga lawan baru. Tapi bagi Zoro, mereka dapat lebih banyak teman dari pada musuh.
Karena apa yang Luffy lakukan untuk Ace, kelompok bajak laut White Beard jelas menjadi sekutu. Bahkan sang legenda hidup, Edward ‘Whitebeard’, sudah jelas jatuh sayang pada Luffy, menganggap Luffy fan kru bajak laut Mugiwara juga adalah anak-anaknya. Belum lagi mereka juga bertemu dengan Sabo, saudara angkat Ace dan Luffy yang mereka kira telah tewas. Sabo adalah tangan kanan Dragon, pimpinan Revolution Army dan merupakan ayah kandung Luffy. Tak perlu ditanya apakah mereka kawan atau lawan.
Zoro tak pernah mengira kalau keputusannya untuk ikut dengan Luffy akan membawanya pada perjalanan yang sangat seru seperti ini.
“Zoro.” Menoleh ke atas, Zoro melihat Nami dan Robin, “Sanji-kun sakit?” tanya Nami.
“Tidak. Hanya kurang tidur saja.”
“Wah, berarti besok kita tidak akan menikmati masakan Sanji-kun, donk!!” wajah Nami tampak kecewa. “Makan kare saja, ya…” katanya pada Zoro.
“Apapun.” Jawab Zoro. Karena tak berniat mengobrol lagi, Zoro pun masuk ke bagian dalam kapal setelah berpamitan pada dua gadis itu.
.
.
Keesokan harinya, seperti dugaan, Sanji belum juga bangun. Jadilah Nami dan Robin yang bertanggung jawab pada urusan dapur pagi ini. Zoro menerima sepiring nasi kare dari Nami dan mulai makan. Enak. Tapi tetap saja rasanya sama sekali tak mendekati masakan Sanji.
“Maaf ya, seadanya saja.” Kata Nami.
“Hmm… ini enak kok,” Luffy menyodorkan piringnya yang sudah kosong, minta tambah. “Tapi terasa ada yang aneh. Kurang bumbu.”
“Masa? Menurutku ini sedikit terlalu asin,” kata Chopper.
Saat itu Robin tersenyum, hampir tertawa, membuatnya jadi pusat perhatian. “Tentu saja rasanya berbeda. Aku dan Navigator-san memasak dengan bumbu dasar, tapi Cook-san memberi perhatian ekstra pada selera masing-masing.”
Semua, kecuali Zoro, memandang Robin penuh rasa ingin tahu.
“Sejak lama aku perhatikan kalau Cook-san selalu memberi bumbu tambahan yang berbeda di setiap piring. Captain-san dan Longnose-san tak punya selera khusus, tapi lebih suka kalau makanannya memiliki bumbu yang kuat. Doctor-san suka makanan yang sedikit hambar, tak terlalu banyak garam. Aku sendiri lebih suka makanan yang pedas.”
“Hmm… begitu ya? Aku tak tahu Sanji memperhatikan yang seperti itu.” Kata Luffy.
“Yohohoho~ Untukku, masakan Sanji-san tetap nomor satu se-lautan.” Ujar Brook.
“Aku setuju!!” seru Franky.
Zoro tak berkomentar sama sekali. Dia menghabiskan makanannya lalu segera meninggalkan dapur. Dia pun melangkah ke ruang kesehatan. Di sana dia duduk di samping Sanji yang masih tidur. Setidaknya wajah pemuda itu tak lagi pucat seperti semalam.
“Idiot…” gumamnya.
Dalam keheningan Zoro mendampingi Sanji. Merasakan ombak yang mengayun mereka dengan lembut. Zoro menggenggam tangan Sanji, masih terasa sedikit panas. Dalam absennya suara, Zoro jadi teringat saat pertama dia bertemu Sanji. Di Restoran Laut Baratie. Awalnya Zoro melihat Sanji sebagai koki bodoh yang suka sekali menggoda wanita. Apalagi sejak Sanji bergabung, mereka berdua selalu bertengkar, padahal hanya masalah sepele.
Tapi pandangan Zoro perlahan berubah seiring waktu. Di matanya Sanji tak lagi hanya sekedar penyebar gombal pada tiap wanita yang dia temui, Sanji adalah seorang petarung yang handal, kesetiaannya pada Luffy pun tak perlu ditanyakan. Dan seperti kata Robin tadi, segila apapun kelakuan Sanji, dia perhatian pada teman-temannya. Detail sekecil apapun selalu dia perhatikan. Kalau ada yang minta dibuatkan makanan, walau kadang sambil menggerutu, Sanji selalu memberi yang lebih baik dari harapan, tentu saja lain cerita kalau Nami atau Robin yang meminta sesuatu.
Lalu tak tahu bagaimana awalnya, mereka malah memiliki hubungan yang tidak jelas. Seingat Zoro, semua dimulai tepat di malam Brook resmi menjadi bagian dari mereka. Pelayaran pertama setelah insiden Thriller Bark, untuk kali pertamanya mereka menghabiskan malam berdua, entah pengaruh alkohol, atau hanya sebagai pelepas rasa frustasi.
Di malam itu, Zoro dan Sanji juga untuk kali pertamanya berbincang tanpa saling lempar ejekan. Untuk pertama kali mereka saling mengenal, saling bercerita tentang diri mereka. Zoro menceritakan tentang masa lalunya, tentang Kuina. Begitupun juga dengan Sanji yang menceritakan tentang apa yang dia alami saat dia masih kecil.
Zoro dibuat terkejut saat Sanji mengatakan kalau selama ini dia tak pernah tertarik pada wanita secara seksual. Baginya sosok wanita adalah sosok yang suci dan bersih, tak boleh ternoda oleh tangan pria. Semua perhatian yang Sanji berikan untuk para wanita tak lain hanyalah caranya menunjukkan betapa dia memuja mereka….
Lamunan Zoro buyar saat dia merasakan sentuhan di jemarinya. Saat memandang Sanji, dia melihat pemuda itu sudah bangun.
“Zoro…”
“Jangan bangun dulu!” Zoro menahan Sanji, menyuruhnya tetap berbaring. “Semalam kau pingsan. Chopper bilang kau hanya kurang tidur.”
Sanji membiarkan Zoro membenahi selimutnya.
“Kau mau makan? Tapi kurasa sebaiknya kau tidur lagi saja! Wajahmu masih berantakan.” Zoro mengacak rambut Sanji dan dia lega karena pemuda itu langsung pulas lagi.
Tak ingin mengganggu, Zoro pun keluar dan menutup pintu perlahan. Saat sampai di dek, dia kembali tertahan oleh Luffy.
“Bagaimana keadaan Sanji?”
“Barusan dia bangun, tapi kusuruh dia tidur lagi.”
Luffy mengangguk. “Biarkan dia tdur sampai puas.”
Saat itu Zoro baru sadar kalau dia sama sekali tak melihat Ace. “Di mana kakakmu?”
“Ace sudah pergi. Semalam.”
“Sibuk sekali kakakmu itu.”
Luffy tersenyum lebar, “Dia juga punya petualangannya sendiri. Kita tak boleh mengganggunya.”
Akhirnya mereka berjalan ke arah yang berlawanan. Zoro menuju ke dek belakang untuk memulai latihan rutinnya meski hampir seluruh isi kepalanya kini penuh oleh rasa cemas pada kondisi Sanji.
.
.
Di hari berikutnya, Sanji pulih sepenuhnya. Chopper juga sudah mengizinkan Sanji untuk kembali beraktifitas seperti biasa.
“Na~mi-san~ Ro~bin-chan~ aku buatkan petit four untuk kalian.” Sanji menghidangkan kue-kue dalam ukuran mini pada Nami dan Robin yang sedang duduk santai di dek kapal.
Zoro memandang bagaimana Sanji melayani dua gadis itu seolah sedang melayani ratu.
“Sanji!!! Mana bagian kami?!!” seru Luffy dan Ussop.
“Ada di dapur!!”
“HOREEEE!!!” Luffy dan Ussop pun segera berlari ke dapur seperti anak kecil.
Lalu Sanji menghampiri Zoro, “Onigiri dan teh hijau untukmu, marimo.” Dia meletakkan piring kecil berisi tiga kepal onigiri dan cangkir tembikar di sebelah Zoro.
“Thanks.” Zoro mengambil sekepal onigiri dan memakannya. Ah… rasa yang dia suka.
“Yang kemarin, terima kasih. Chopper bilang kau menungguiku semalaman.”
“… Aku hanya sedang tidak bisa tidur.” Zoro mengambil kepal ke dua onigiri di piring. “Tapi kalau kau memang niat mengucapkan terima kasih, malam ini tugasku berjaga di atas.”
Sanji memandang Zoro sejenak sebelum dia tertawa, “Marimo mesum.”
Zoro tak membalas dan meneruskan makannya.
Hari itu, pelayaran terasa sangat damai sekali. Ombak bersahabat, cuaca cerah menyenangkan seperti ada di tengah musim semi, begitu sejuk. Luffy, Ussop dan Chopper memancing karena malam ini mereka ingin makan ikan. Nami sibuk di ladang jeruknya. Robin duduk santai sambil membaca dan menikmati alunan biola yang dimainkan Brook. Franky ada di ruang mesin, entah apalagi yang mau dia tambahkan di Sunny ini.
Sementara Zoro ada di dapur, menemani Sanji yang mulai menyiapkan makan malam. Tenang rasanya melihat Sanji ada di tempat yang biasa. Sibuk menyiapkan ini itu, memastikan porsi yang akan dia masak cukup untuk mengisi perut semuanya. Tak lama, yang memancing masuk ke dapur dan menyerahkan hasil tangkapan mereka, lalu Sanji pun segera mengusir ketiganya keluar dari dapur supaya tak merusuh.
Setelah memasukkan bahan untuk kaldu, Sanji pun duduk berhadapan dengan Zoro sambil menunggu kaldunya matang. Zoro meraih jemari Sanji dan membawanya mendekat.
“Apa?”
Tak ada jawaban dari Zoro. Sang ahli berpedang itu mencium ujung jemari Sanji, kemudian beralih pada telapak tangannya.
“Waktu jagamu masih lama, marimo. Apa kau sudah tak sabar?”
“Tentu saja aku tak sabar.”
Jawaban lugas dari Zoro membuat Sanji mendadak terdiam.
Zoro menjalin jemarinya pada jemari Sanji, “Tapi untuk sekarang aku lega melihatmu ada di sini. Seperti biasa.”
“Heh!!” Sanji tersenyum lebar. “Kau kenapa? Salah makan? Sejak kapan mulutmu manis seperti itu?”
Lalu Zoro berdiri sedikit dari duduknya, mencondongkan tubuhnya ke arah Sanji dan mencium bibir pemuda berambut pirang itu. Sebelah tangannya yang lain meraih sisi wajah Sanji, membawanya lebih mendekat. Zoro menikmati setiap detik sentuhan itu, menikmati jejak pahit aroma tembakau yang terasa di bibir Sanji.
Mereka pasti tak akan sudi berpisah kalau saja tak mendengar suara langkah yang mendekati dapur. Zoro kembali duduk sedang Sanji beranjak memeriksa kaldu yang mulai mendidih. Tak lama pintu dapur pun terbuka oleh Luffy yang tampak sudah sangat kelaparan.
“Sanji… makaaaaan…”
Menghela napas, Sanji membuka kulkas dan memberikan sisa kue yang dia buat sore tadi, “Tahan dengan ini dulu. Tiga puluh menit lagi makanan siap. Beritahukan yang lain juga!”
Menerima piring berisi kue-kue lezat, Luffy sepertinya sudah tak mendengarkan apa kata Sanji.
Zoro hanya tersenyum simpul melihat adegan biasa di dapur itu. Sungguh… baginya tak ada yang lebih melegakan dibanding melihat seluruh nakama-nya baik-baik saja.
.
Napas Zoro membuat kaca menjadi berembun. Walau penghangat ruangan sudah dinyalakan, tetap saja udara masih terasa dingin. Menurut Nami mereka memang akan segera memasuki wilayah dengan iklim dingin, jadi semua diminta waspada pada perubahan suhu yang pastinya menurun drastis.
Malam ini bulan tertutup awan, membuat pemandangan di luar jadi kelam sempurna.
Pandangan Zoro beralih saat mendengar pintu ruangan itu terbuka. Karena ruang jaga ada di atas, pintunya pun otomatis terletak di lantai.
“Yo, aku bawa camilan.” Sanji datang dengan kotak makan berukuran sedang juga sebuah termos yang mungkin berisi teh atau kopi panas.
Zoro memberi isyarat supaya Sanji mendekat.
Si koki pun menutup pintu dan dengan kakinya, dia mengaitkan kunci di sana. “Russian Roulette Onigiri.”
“Hah?”
Sanji meletakkan termos dan kotak makan dari bambu itu di meja, “Aku buat isinya bermacam-macam. Entah mana yang berisi wasabi, mustard dan cabai segar.”
“Kau mau membunuhku?”
Sanji terkekeh, “Mencoba keberuntunganmu.” Dia duduk di sebelah Zoro dan ikut memandang ke luar. “Gelap sekali. Padahal biasanya kan malam musim dingin itu bertabur bintang.”
Zoro mengeluarkan selimut dari laci yang ada di bawah sofa di sekeliling ruangan bulat itu dan membungkus tubuh Sanji dengan helai hangat yang nyaman. Kedua tangan Zoro memeluk Sanji dari belakang, erat.
“Sebenarnya kau ini kenapa, marimo? Kelakuanmu aneh sejak tadi.”
Membiarkan pertanyaan itu tak terjawab, Zoro membenamkan wajahnya di lekuk leher Sanji. Dia menghirup aroma Sanji yang bercampur antara cologne dan juga bumbu masakan.
“Cook…”
“Apa?”
Zoro mempererat pelukannya, “Kau masih ingat kan… aku pernah bilang aku tak bisa menjadikanmu lebih utama dari Luffy.”
“Ya— kita sudah pernah bahas itu.” Sanji bersandar dalam pelukan Zoro, “Aku tahu kau selalu memegang ucapan dan janjimu. Kau sudah bertekad mengantar Luffy untuk menjadi Raja Bajak Laut, kan? Kau tak perlu melanggar sumpahmu hanya untuk aku.”
“Dengarkan aku dulu!!”
Sanji tersentak. Dia terdiam dan membiarkan Zoro membalik badannya hingga mereka saling berhadapan. Sanji benar-benar kehilangan kata saat memandang wajah Zoro saat itu.
“Sanji…”
Hanya bisa berkedip, Sanji balas memandang mata Zoro yang lurus padanya. Hanya sekali dalam sekian bulan Zoro memanggil namanya dengan benar dan itu berarti dia sedang sangat serius.
Zoro menyentuh sisi wajah Sanji, “Meski begitu… aku tak ingin lagi ini jadi sekedar ‘pengisi waktu luang’. Aku tak ingin lagi ini menjadi sekedar ‘casual sex’.” Zoro mengecup bibir Sanji, “Aku ingin kita serius.”
Debur ombak terdengar samar seolah berasal dari kejauhan. Sanji tak berkedip memandang Zoro yang masih berwajah serius. Akhirnya Sanji tak bisa menahan diri dan langsung tertawa terbahak-bahak.
Jelas saja itu membuat Zoro kesal, “Apa yang lucu, shitty cook?!”
Sanji masih saja tertawa, tak peduli Zoro yang mengguncang badannya. “AHAHAHA!!! Ah… Aduh… aku sudah tidak tahan lagi.” Sanji mencoba menahan diri walau tak bisa menghentikan tawanya. “Ah… kau membuat perutku sakit, marimo.”
“Berhenti tertawa, kataku!!”
Sanji menghapus air mata di sudut matanya yang menetes karena terlalu banyak tertawa. “Dengar ya, marimo mesum,” dia menyentuh dagu Zoro dengan telunjuknya. “Dengan kata lain, kau memintaku untuk jadi milikmu sendiri?”
“Hah?”
“Hargaku ini mahal. Kau bisa membayarku?”
“… Aku bisa minta pinjaman pada Nami, tapi kau yang bayar bunganya tiga ratus persen.”
Sanji kembali tertawa terbahak-bahak. Kali ini Zoro tertawa bersamanya.
“Mm… tak ada buruknya juga.” Sanji berdehem dan menyentuh sisi wajah Zoro, “Aku terima lamaranmu, marimo mesum,” ujarnya seraya mencium pipi Zoro.
Seketika Zoro terdiam. Terkejut. Detik berikutnya dia berseru, “AKU TIDAK MELAMARMU, SHITTY COOK!!!”
Tawa Sanji masih membahana, membuat Zoro kesal dan menerjang Sanji.
Malam itu, mungkin menjadi awal yang baru untuk kehidupan mereka…
.
#
.
“NA~MI-SA~N!! RO~BIN-CHA~N!!”
Zoro memandang bagaimana Sanji sudah seperti pemain sirkus saja saat menyajikan camilan sore untuk dua kru wanita di Sunny.
“Tart Walnut dan teh juga kopi untuk kalian, my ladies.”
“Wah! Makasih, Sanji.”
“Terima kasih, cook-san.”
“Aaaah~ Pujian dari kalian membuat hariku sempurna,” Sanji pun membungkuk seperti seorang pelayan dan pergi sambil bersiul-siul senang. Dia berhenti di depan Zoro dan mengangkat sebelah alisnya, “Apa, marimo? Kau tidak berharap aku memperlakukanmu seperti itu kan?”
Zoro mengerutkan keningnya, “Yang ada kau kutendang dulu ke laut.”
Sanji terkekeh, “Kau mau adu kaki denganku? Jangan harap kau menang.”
Belum sempat Zoro membalas, suara Luffy terdengar nyaring dari dek depan.
“SANJIIIIII!!!! MANA KUEKUUUUU???”
Menghela napas, Sanji menyuruh Luffy mengambil camilan sorenya di dapur. Saat dia hendak melangkah, kakinya ditahan oleh kaki Zoro, membuat Sanji memandang pemuda yang duduk bersandar di pagar kapal. “Apa?” tanyanya.
“Mana untukku?”
“Kau mau juga?”
Zoro menyeringai, “Kalau kau tak siapkan juga tidak apa-apa. Aku bisa menikmati camilan yang lain.”
Itu membuat Sanji menghembuskan asap rokoknya tepat di muka Zoro, “Kalau kau selamat melewati onigiri mautku, aku turuti apa maumu, marimo mesum.”
“HEH!! Siapa takut. Bawa sini!”
“Wish you luck.”
Zoro hanya tersenyum, membiarkan Sanji beranjak pergi. Sepertinya, malam ini akan jadi menyenangkan. Tentu saja begitu… karena dia selalu percaya pada keberuntungannya.
xoxoxoxoxoxoxox
oxoxoxoxoxo
TO BE CONTINUED
oxoxoxoxoxo
xoxoxoxoxoxoxox
