Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2019-02-03
Words:
1,436
Chapters:
1/1
Kudos:
8
Bookmarks:
1
Hits:
130

Kopi, Kamu, dan Kita

Summary:

Barista AU!

Manigoldo, barista muda idealis, baru saja membuka cafe idamannya di kota. Harapannya, ia bisa membagikan kecintaannya pada kopi ke khalayak ramai. Tapi... di kehidupan ini, kita selalu mendapat lebih dari apa yang kita harapkan.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Senyum lebar merekah di wajah Manigoldo. Penuh kepuasan dan kebanggaan.

 

Cita-cita dari zaman jakun-nya pertama kali muncul, akhirnya terwujud. Dia, Manigoldo, kini punya café sendiri!

 

Dan bukan sembarang café, kawan. Oh, tentu bukan! Café Delporte khusus menyajikan kopi buat mereka yang mengenal dan mencintai kopi. Buat mereka yang memahami minuman yang sesungguhnya bersahaja, tapi bisa beradaptasi dengan apapun pelengkapnya. Mau pink seperti bibir perawan, mau itu hitam sepekat langit malam, kopi selalu nikmat. Dan tempat ini, jelas-jelas bukan untuk para coffee snob yang tidak memahami prinsipnya.

 

Manigoldo tersenyum-senyum sendiri membayangkan wajah Sejii. Gurunya itu seperti tak pernah habis kesabarannya menghadapi Manigoldo. Dan pria jangkung itu yakin, kalau tanpa bimbingan Sejii, dia tak akan bisa berdiri di sini, di depan café-nya sendiri, sambil membalik papan toko dari ‘TUTUP’ menjadi ‘BUKA’.

 

Saatnya grand opening!

 

--------

 

Manigoldo mulai menyesali keputusannya untuk membuka café-nya di akhir pekan.

 

Meskipun kecil, café Delporte terletak di tengah-tengah distrik perbelanjaan yang sibuk (kudos ke koneksi Sejii yang tersebar di seluruh penjuru dunia, makanya Manigoldo bisa menyewa bangunan ini dengan harga yang relatif murah). Faktor ini, membuat keberadaan Delporte sangat mencolok, bahkan sebelum grand opening-nya.

 

Dan begitu café tersebut resmi dibuka, bisa ditebak, berbagai macam manusia tumpah ruah masuk. Para eksekutif muda mencari tempat yang nyaman untuk berbincang. Para remaja-remaja tanggung terpanggil karena interiornya yang dipenuhi hiasan retro.  Dan para penikmati kopi tertarik karena berbagai macam jenis kopi yang ditawarkan.

 

Tapi bukan Manigoldo namanya  kalau sampai kewalahan menghadapi banjir pengunjung!

 

Dengan professionalisme yang sudah dilatih selama lebih dari satu dekade, pria Italia itu meracik satu demi satu kopi pesanan pelanggannya. Cangkir demi cangkir, gelas demi gelas, silih berganti keluar dari balik counter. Cappuccino, macchiato, espresso, sampai dengan frappuccino.  Dan semuanya, disambut dengan senyum lebar pelanggan-pelanggannya yang puas dengan minuman-minuman buatannya.

 

Senyuman-senyuman itu cukup untuk membuatnya tetap bersemangat melayani para pelanggannya.

 

Plus tip-nya tentu saja….

 

Ritme kerjanya terus berjalan tanpa gangguan. Sampai kemudian menjelang senja, seseorang memesan satu kopi spesifik yang tidak banyak orang berani mencobanya.

 

“Soreee. Bisa pesan satu caffe de rosa?”

 

Manigoldo yang sedang membersihkan tamper-nya langsung menoleh. Dan tak sampai lima detik kemudian, benda itu jatuh menghantam kakinya. Tapi pria itu tak merasakan rasa sakit sama sekali, karena amboy—apakah itu malaikat? Tapi sejak kapan malaikat minum kopi?

 

Kenyataan bahwa lelaki (suaranya sih suara laki-laki) di depannya itu baru saja memesan menu andalan, tapi jarang diminati, itu sebenarnya cukup membuat Manigoldo kaget. Tapi begitu Manigoldo beradu pandang langsung dengan calon pelanggannya, lidahnya langsung kelu. Rambut sepinggang berwarna biru pucat, sepasang mata biru dengan sorot tenang, kulit putih bersih, dan wajah dengan paras ayu nan anggun. Manigoldo jatuh cinta dengan sosok di hadapannya.

 

“Sori. Mau pesan apa tadi?”

 

Padahal mah sudah dengar. Modus saja pingin dengar suaranya lagi.

 

Si cantik tampak kesal. Terlihat dari alisnya yang turun sedikit.

 

Caffe de rosa. Perlu saya tulis sekalian?”

 

Aduuuuh, cantik-cantik galak! Batin Manigoldo.

 

Manigoldo hanya menggeleng sambil tersenyum lebar.

 

“Tidak kok. Saya tadi cuma lengah sebentar. Jarang-jarang ada pelanggan secantik anda mampir soalnya.”

 

Ekspresi si pelanggan tidak berubah. Tapi mata Manigoldo yang jeli bisa dengan mudah mengenali rona merah yang menghiasi pipi dan ujung telinga pria muda itu.  Samar memang, tapi cukup untuk membuat Manigoldo bersorak girang dalam hati. Meski kenyataannya, dia cuma tertawa pelan sambil berpaling untuk mulai membuat Caffe de Rosa pesanan si cantik.

 

Minuman yang dipesan sebenarnya adalah salah satu hasil eksperimen Manigoldo saat mabuk. Terdiri caffe latte yang diberi sedikit sirup rose dan disajikan dingin. Minuman ini awalnya membuat Sejii skeptis dengan kewarasan anak didiknya. Sampai tegukan pertama kemudian mendarat di lidahnya. Dan Sejii merasakan sendiri bagaimana pahit kopi, lembutnya susu, manis-wangi sirup rose bersatu padu memberikan citarasa yang kompleks.

 

Sayangnya, banyak orang yang tidak sependapat dengan Sejii. Ada yang bilang terlalu feminin, ada yang bilang terlalu mengada-ada, dan sejuta alasan lain yang tidak dihiraukan oleh Manigoldo. Makanya, Manigoldo kaget ketika akhirnya ada yang memesan minuman itu.

 

Tak sampai sepuluh menit, minuman pesanan si cantik pun sudah tersaji dengan apik di hadapan pemesannya. Lengkap dengan taburan edible rose petal.

 

Dengan waswas, Manigoldo mengawasi si cantik mengarahkan sedotan ke bibirnya dan mulai meminum kopi andalannya itu. Tiga menit berlalu (iya, dia menghitung), si cantik tidak bereaksi apa-apa. Sampai terdengar suara sedotan di ruang kosong, tanda minuman sudah habis pun, si cantik masih belum berkomentar. Manigoldo pun mulai berpikir kalau pelanggan ini, pada akhirnya juga akan menjadi salah satu dari mereka yang ‘anti’ dengan minuman kreasinya itu. Pria Italia itu pun mulai kembali sibuk dengan peralatannya, ketika si cantik kembali bersuara,

 

“Saya baru tahu mawar dan kopi bisa seenak ini….”

 

Manigoldo sungguhan bersyukur saat itu café sedang sepi. Karena untuk kedua kalinya hari itu, ia berhasil menjatuhkan tamper dalam ketergesaannya menghadapi si pelanggan cantik.

 

“Anda menyukainya?”

 

Si pelanggan cantik cuma mengangguk sambil tersenyum tipis. Sukses membuat hati Manigoldo roll depan roll belakang.

 

“Kalau anda sungguhan menyukainya, anda tidak usah bayar!” Kata Manigoldo, ceria.

 

Paras cantik itu tampak sangat terkejut mendengar pernyataan Manigoldo. Sesaat ia tampak panik dan buru-buru mengeluarkan dompetnya,

 

“Ti-tidak bisa begitu, dong!” Tukasnya. “Anda kan baru buka café di sini! Tidak baik untuk bisnis!”

 

Mendengar ini, Manigoldo hanya tertawa hangat. Ia pun dengan tenang menjawab kepanikan si pelanggan,

 

“Cuma secangkir nggak akan berpengaruh, kok. Lagipula, anda menyukai kopi kreasi saya satu itu sudah cukup. Bertahun-tahun orang memandang caffe de rosa sebelah mata, hanya karena campurannya yang tak lazim,” jelas pria Italia itu.

 

“Makanya melihat anda sungguhan menikmatinya,  adalah bayaran yang cukup buat saya,” tutup Manigoldo sambil tersenyum.

 

Entah untuk alasan apa, si cantik tampak canggung ketika Manigoldo mengakhiri penjelasannya. Tapi Manigoldo sendiri memilih untuk tak menghiraukannya dan malah bertanya lebih jauh ke si pelanggan,

 

“Omong-omong, kenapa bisa tertarik memesan caffe de rosa?”

 

Seketika, bahasa tubuh si pelanggan berubah menjadi lebih santai. Mata biru itu kini menatap Manigoldo dengan sorot berbinar, seolah saat itu mereka sedang membicarakan sesuatu paling menarik di dunia.

 

“Keluarga saya mengelola toko bunga sejak dulu. Jadi saya sejak kecil sudah suka sama bunga. Makanya, begitu saya melihat menu caffe de rosa ini, saya jadi penasaran! Karena selama ini saya berpikir kalau mawar cuma enak untuk teh!”

 

Ah, memang topik favoritnya, ya…. Pikir Manigoldo.

 

“Anda florist?” Tanya Manigoldo penasaran.

 

Si cantik mengiyakan  dan menjelaskan kalau toko bunga yang ia maksud sebenarnya persis di seberang café Manigoldo.

 

……eh?

 

“Eh?? Kok, saya baru tahu ya ada toko bunga di blok ini?”

 

Tawa manis menyambut keheranannya. Membuat ratusan kupu-kupu akrobatik di dalam perut Manigoldo.

 

Baru begini saja sudah seperti perawan kasmaran, pikir Manigoldo

 

“Anda selama ini sibuk, sih,” sahut pemuda berambut biru itu. “Toko saya sudah lama sekali ada di blok ini. Bahkan saya melihat anda saat pertama kali pindahan ke sini.”

 

Manigoldo hanya mengangguk dungu. Memang selama tiga bulan belakangan, ia lebih sibuk dengan persiapan pembukaan café-nya. Sampai-sampai dia sama sekali tak memperhatikan keadaan sekitar. Sekarang, setelah mendengar penjelasan pelanggannya, ia pun jadi melihat sebuah toko bunga dengan puluhan buket mawar di depannya. Tulisan sans serif berwarna hitam terpampang jelas di papan namanya,

 

Alrescha Flower Shop

 

Dan cukup dengan itu saja, sebuah ide muncul di otak Manigoldo.

 

“Anda ngotot ingin membayar minuman anda ‘kan?” Tanya Manigoldo

 

Si cantik tampak kaget. Tapi dia tetap mengangguk meski air mukanya kini berubah dari santai menjadi waspada.

“Kalau begitu bayar dengan nama,” jawab Manigoldo singkat.

 

Ah, rona merah itu kembali. Tanda Manigoldo tidak salah langkah.

 

“Albafica….” Jawab si pelanggan setelah diam beberapa saat.

 

Senyum lebar merekah di wajah Manigoldo.

 

“Oke, Alba! Saya Manigoldo!” Sahut pria Italia itu.

 

“Siapa yang bilang kau boleh menyingkat nama saya?”

 

“Saya sendiri! Lagipula cocok ‘kan? Kulit kamu putih begitu. Kalau nggak mau disingkat, besok datang lagi ya, Albaaaaa!”

 

Rona merah di wajah Albafica makin bertambah intensitasnya. Membuat Manigoldo terkekeh senang. Jarang-jarang ada pelanggan yang secantik dan semenghibur ini. Sekalian hitung-hitung ini balasan sudah membuat hati Manigoldo berantakan karena pesonanya.

 

“Jadi Alba, boleh ‘kan besok saya mengantarkan caffe de rosa ke toko kamu?” Tanya Manigoldo sambil menghampiri Albafica.

 

“….sesukamu,” tukas Albafica singkat sambil berdiri dari kursinya.

 

Hanya untuk ditahan oleh tangan Manigoldo yang memegangi lengan atasnya.

 

Albafica langsung berpaling. Mulutnya terbuka, siap memaki Manigoldo. Tapi kata-kata kasar itu tak pernah keluar ketika mata birunya bertemu dengan sepasang iris ungu si pemilik café. Mata itu memancarkan keseriusan dan ketulusan. Cukup untuk membungkamnya,

 

“Saya serius lho, ini…” ujar Manigoldo. “Jarang ada yang bisa mengapresiasi caffe de rosa. Dan melihat kamu begitu menikmatinya, saya ingin bisa kenalan sama kamu lebih jauh. Kalau kamu nggak nyaman, saya nggak akan datang besok. Gimana?”

 

Albafica terdiam. Begitu juga Manigoldo. Selama beberapa saat, mereka berdua hanya bertatapan. Sampai akhirnya, Albafica dengan suara lirih menjawab,

 

“…besok saya di toko dari jam tiga sore…”

 

Manigoldo menghela napas lega dan kembali menampilkan senyum hangatnya,

 

“Oke. Jam empat saya ke toko kamu.”

 

 

Notes:

Halo! Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai habis! Mudah-mudahan kalian bisa menikmatinya sebagaimana saya menikmati proses menulisnya yaaa, hehehe. Sampai bertemu lagi di cerita berikutnya!