Actions

Work Header

That Night

Work Text:

“JingYi!! JingYi!! Berhenti!! Kau tidak boleh begitu!!” Lan SiZhui berusaha menghentikan sahabatnya yang hendak naik ke lantai dua penginapan.

“Kau ini kenapa sih? Aku gak niat ngintip kok!!”

“Tapi kau mau menguping, kan? Itu sama buruknya!! Turunlah!!” Lan SiZhui menahan lengan Lan JingYi yang masih berusaha menaiki tangga, “JingYi~”

Lan JingYi berhenti di anak tangga ke tiga, membuat posisinya ada lebih tinggi dari SiZhui, “Kau ini tidak penasaran apa sama hubungan HanGuang-Jun dengan Senior Mo?”

“Untuk apa penasaran?” Lan SiZhui masih belum melepaskan lengan Lan JingYi.

Kening Lan JingYi berkerut, “Kau tidak lihat tadi? Ikat kepala HanGuang-Jun diikat di tangan Senior Mo!! HanGuang-Jun tidak akan melakukan itu sembarangan!!”

Lan SiZhui menghela napas, “Kalau pun mereka punya hubungan khusus, itu urusan mereka pribadi. Kita tidak berhak ikut campur.”

Wajah JingYi berubah masam dan akhirnya dia menurut lalu mengikuti SiZhui kembali ke meja mereka.

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

Mo Dao Zu Shi (Grandmaster of Demonic Cultivation)

© Mo Xiang Tong Xiu

That Night © aicchan

Lan SiZhui – Lan JingYi – Jin Ling

Friendship – Humor

(Fanfiksi ini ditulis tanpa tujuan untuk mendapatkan keuntungan materi)

ENJOY

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo

“Kalian sedang apa kasak-kusuk di tangga tadi?”

Lan SiZhui dan Lan JingYi menoleh dan menemukan sosok Jin Ling berdiri di samping meja mereka sambil berkacak pinggang.

“Kami tidak kasak-kusuk,” kata Lan JingYi, “aku hanya ingin ke depan kamar HanGuang-Jun saja. Aku penasaran.”

Alis Jin Ling hampir bertaut, “Penasaran apa?”

“Penasaran tentangnya dan Senior Mo.”

Mendengar itu, Jin Ling tampak tertarik, dia pun duduk di kursi yang kosong, “Benar juga. Tadi HanGuang-Jun tidak memakai ikat kepalanya dan malah diikat ke tangan Mo XuanYu. Ikat kepala kalian kan bukan benda yang bisa dilepas seenaknya.”

Lan JingYi menganggukkan kepalanya penuh semangat, “Makanya itu, aku mau tahu apa mereka benar punya hubungan khusus.”

“Hubungan khusus seperti … kekasih? Begitu?”

“Ya!!” seru Lan JingYi.

Jin Ling tampak sedang berpikir keras. Di satu sisi dia risih dengan hubungan seperti itu, di sisi lain, dia tidak menyangkal kalau dia juga penasaran. Kenapa orang seperti Lan WangJi bisa terjebak dalam jerat Mo XuanYu.

Lan SiZhui menghela napas, “JingYi, Tuan Muda Jin, tolong jangan seperti ini. Kalau sampai ketahuan, kita bisa dapat masalah.”

Di tengah keramaian para kultivator junior di ruangan itu, Lan SiZhui, Lan JingYi dan Jin Ling mendengar suara dari lantai atas, membuat tiga remaja itu menengadahkan kepala mereka.

“Kalian pikir … mereka sedang apa?” tanya Lan JingYi pada dua temannya.

“JingYi … jangan mulai lagi!”

Pandangan Lan JingYi terarah pada Lan SiZhui, “Ayolah, SiZhui!! Jangan bilang kau tidak penasaran!!”

“Aku penasaran!!” yang menjawab justru Jin Ling. Dia berdiri dan tanpa basa basi langsung menaiki tangga. Dengan penuh semangat, Lan JingYi mengikuti langkahnya, meninggalkan Lan SiZhui yang duduk mematung untuk beberapa detik sebelum menyusul kedua temannya yang sudah sampai ke lantai dua.

“Jingyi!! Tuan Muda Jin!!” Lan SiZhui terdengar sudah separuh putus asa menahan dua pemuda di depannya yang menuju kamar tempat senior mereka bermalam.

“Shhh!!” Lan JingYi meletakkan telunjuk di bibirnya, “kalau kau berisik, nanti kita bisa ketahuan, SiZhui!!”

Akhirnya mereka tiba di depan pintu kamar HanGuang-Jun. Dari dalam terdengar suara langkah kaki dan suara Mo XuanYu.

“Baiklah, aku akan bermain denganmu sebentar, Lan Zhan. Aku sedang baik hari ini. Jadi kau harus berterima kasih padaku nanti.”

Lan SiZhui, Lan JingYi dan Jin Ling saling berpandangan.

“Main?” tanya Lan JingYi dengan suara berbisik, “main apa malam-malam begini?”

Kening Jin Ling berkerut, “Ya tidak mungkin juga mereka main petak umpet kan?” suara Jin Ling sedikit meninggi, membuat Lan SiZhui memberi isyarat padanya supaya diam.

Ketiga remaja itu kembali hening, mendengarkan lagi suara langkah kaki dari dalam, juga suara tawa Mo XuanYu yang terdengar geli.

“Ayo larilah! Lari! Aku akan menangkapmu dan akan menghukummu!!”

Lan JingYi mendekatkan telinganya ke daun pintu, begitu juga dengan Jin Ling, hanya Lan SiZhui yang mengambil jarak aman.

Terdengar suara gerakan dari dalam diikuti suara lirih Lan WangJi, “Kau menangkapku.”

Lan JingYi sampai harus menutup mulutnya sendiri sebelum dia membuat mereka ketahuan dan bisa jadi dihukum sampai bulan depan.

“… Lagi,” entah mereka salah dengar atau bagaimana, suara Lan WangJi terdengar sedikit bergetar.

“Lagi? Apanya yang lagi?”

Suara kain yang tersibak dan langkah ringan terdengar lagi dari dalam untuk beberapa saat sampai keadaan hening kembali.

“Aiya … kau ini sengaja ya, Lan Zhan?”

Terdengar suara orang duduk, mungkin di kursi, atau di tempat tidur.

“Kau suka ini, kan?” Jangan berbalik!! Bicaralah! Kau suka atau tidak? Kalau kau suka, tidak perlu lari seperti itu. Bagaimana kalau aku biarkan kau bersenang-senang sampai kau puas?”

Yang terdengar selanjutnya membuat tiga remaja di sana langsung berlari turun dengan napas tersengal dan wajah merah padam.

Lan JingYi bertukar pandang dengan Jin Ling, “K- kalian dengar kan?”

Jin Ling mengangguk, tak bisa berkata apa-apa. Begitu juga dengan Lan SiZhui yang wajahnya paling merah di antara dua teman karibnya.

“M- mereka berci—”

“Sebaiknya kita tidak usah bahas ini lagi!!!” sergah Lan SiZhui dengan suara yang sedikit keras, hanya untuk mengatasi jantungnya yang berdebar kencang, “J- jangan dibicarakan lagi!!”

Tanpa suara, mereka bertiga sepakat untuk menyimpan ini sebagai rahasia yang tidak akan mereka bagi pada siapapun, sampai kapanpun.

.

.

#

.

.

Udara malam terasa dingin menusuk sampai ke tulang, tapi tak ada satupun anggota junior dari bermacam klan di perahu itu yang ingin masuk ke dalam kabin. Mereka lebih memilih ada di luar meski artinya harus menghabiskan sisa perjalanan berdekatan dengan Wen Ning, sang fierce corpse, Ghost General ciptaan pamungkas seorang Yiling Laozu yang ternama karena kisahnya yang penuh dengan darah.

Namun tak seorangpun merasakan takut walau berdekatan dengan sosok dalam cerita mengerikan yang sering mereka dengar saat kecil, karena nama-nama yang seakan menjadi noda kelam dalam sejarah dunia kultivasi itu justru telah dua kali menyelamatkan nyawa mereka.

Lan SiZhui duduk paling dekat dengan Wen Ning, tampak nyaman saja bersebelahan dengan sosok raga yang telah mati namun memiliki kesadaran sendiri. Di dekatnya ada Lan JingYi yang menggosokkan kedua telapak tangannya untuk mengusir dingin. Pandangan Lan JingYi sesekali tertuju pada kabin perahu yang pintunya tertutup.

Di dalam sana ada HanGuang-Jun dan juga Mo XuanYu, ah, bukan, tapi Wei WuXian yang kini menempati tubuh Mo XuanYu melalui ritual pengorbanan. Tadi tiba-tiba saja kondisi Wei WuXian memburuk sampai dia kehilangan kesadaran. HanGuang-Jun membawanya ke dalam kabin yang tadinya juga berisi para anggora junior, tapi atas kesadaran diri dan inisiatif dari Lan SiZhui, semua memberi ruang pribadi untuk dua senior mereka.

“Mereka berdua itu … yakin bukan pasangan?” tanya Lan JingYi pada Lan SiZhui dengan suara yang sangat pelan.

“Kau ini … masih sempat berpikir begitu?”

“Ya habisnya lihat saja mereka! Apa kau pernah lihat HanGuang-Jun seperti itu? Dia bahkan tidak peduli pada penampilannya, yang dia perhatikan hanya kondisi Senior Wei saja!!”

Wen Ning yang dari tadi diam akhirnya bersuara juga, “T- Tuan Muda Wei dan HanGuang-Jun memang selalu seperti itu. Mereka … saling peduli satu sama lain.”

Pandangan mata Lan JingYi terpusat pada Wen Ning, “Tuan Wen, kau kan selalu bersama mereka, kau tahu tidak sebenarnya mereka itu sepasang kekasih atau bukan?”

“JingYi!!” Lan SiZhui menyela tapi Lan JingYi tidak peduli.

Wen Ning sendiri tampak berpikir walau ekspresi wajahnya tidak berubah, tentu saja, mayat hidup tidak akan memiliki ekspresi seperti manusia, “Hmmm … a-aku juga tidak begitu tahu. Tapi … tapi kurasa hubungan mereka berdua lebih dari sekedar itu.”

Kali ini Lan SiZhui ikut memandang Wen Ning bersama Lan JingYi, “Lebih dari sekedar itu?”

Wen Ning mengangguk, “Tuan Muda Wei dan Tuan Muda Lan itu … seperti Yin dan Yang. Melengkapi. Menyeimbangkan.”

Walau suara Wen Ning terdengar datar, tapi Lan SiZhui dan Lan JingYi menangkap rasa takjub, “T- Tuan Muda Wei tidak pernah tampak sebahagia ini.”

“Yang benar? Senior Wei sepertinya orang yang santai,” Lan JingYi berpidah posisi jadi duduk bersila.

Wen Ning menengadahkan kepalanya, memandang langit malam yang tak tertutup kabut, “Tuan Muda Wei … memang terlihat seperti tidak pernah memikirkan hal dengan serius, tapi sebenarnya … dia orang yang mudah kesepian. Terkadang … Tuan Muda Wei seperti layangan yang terbang tanpa arah. Hanya saat bersama HanGuang-Jun sajalah … Tuan Muda Wei seperti menemukan tempatnya untuk berpijak.”

Tak menyangka seorang Ghost General yang ditakuti bisa mengeluarkan untaian kata puitis seperti itu, Lan SiZhui dan Lan JingYi terdiam. Mereka melirik lagi ke arah kabin, memikirkan apa yang dikatakan Wen Ning.

Bagi Lan SiZhui dan Lan JingYi, sosok HanGuang-Jun adalah panutan mereka. Karya nyata sempurna dari seluruh ajaran di klan mereka. Selalu berkepala dingin, tingkah laku yang seakan tanpa cela, penampilan yang senantiasa rapi dan sedap dipandang.

Tapi saat bersama Wei WuXian, senior kebanggaan mereka itu tampak tak peduli lagi pada dunia. Walau tubuhnya dikotori tanah dan darah, walau pakaiannya tampak lusuh dan robek di beberapa bagian, HanGuang-Jun tak menganggapnya penting.

Mendadak Lan JingYi menarik napas panjang, “Cinta itu … sesuatu yang luar biasa ya?”

Lan SiZhui setuju dalam diamnya.

.

.

#

.

.

Suara gemeretak api yang terlalp api menjadi pengisi suara di antara tiga remaja yang mengambil istirahat sejenak dari perburuan malam mereka. Udara hangat membuat ketiganya merasa nyaman.

“Aaah!! Kesal sekali aku tidak ada di sana!!” Lan JingYi mengarahkan telapak tangannya ke dekat api, “Kau beruntung Jin Ling, bisa melihatnya secara langsung.”

“Beruntung apa?!” Jin Ling menghentakkan kakinya, “Aku malah ingin melupakan kejadian itu. Aaaah!!! Pernyataan cinta vulgar seperti itu tidak pantas dikenang!!!” Jin Ling tampak seperti hendak menjambak rambutnya sendiri karena teringat kemesraan dua insan yang baru saja menautkan hati mereka di tempat dan situasi yang amat sangat tidak tepat. Hasilnya, Jin Ling seperti melihat pertunjukan drama panggung yang dua tokoh utamanya menolak untuk terpisah meski tengah melawan musuh.

Lan SiZhui tersenyum, memandang tarian api di kayu yang mulai terkikis habis, “Ya sudahlah. Bagus kan kalau mereka akhirnya berstatus jelas?!”

Itu membuat Lan JingYi dan Jin Ling memandang Lan SiZhui.

“Apa?” tanya Lan SiZhui.

“Kau itu juga sama saja! Punya rahasia tapi tidak memberitahu kami, teman baikmu!!” seru Lan JingYi.

Wajah Lan SiZhui tetap tenang, “Aku kan sudah bilang, aku baru ingat waktu melihat ChenQing milik Kakak Xian.”

“Kau sempat tinggal bersama Yiling Laozu dan yang kau ingat cuma hal tidak jelas,” gerutu Lan JingYi.

Jin Ling memandang Lan SiZhui penuh selidik, “Kau sungguhan pernah ditanam sama Paman Wei seperti lobak?”

“Ya. Itu yang pertama aku ingat. Dia bilang itu akan membuatku tumbuh tinggi. Setelah itu Kakak Xian dijewer oleh Kakak Qing.”

Membayangkan seorang Yiling Laozu dijewer oleh seorang wanita sempat membuat kepala Jin Ling dan Lan JingYi berhenti berfungsi sejenak.

“Tidak menyangka juga kau masih ada hubungan keluarga dengan Ghost General,” Lan JingYi memandang ke sekeliling, yakin kalau Wen Ning pasti ada tak jauh dari mereka. Selalu seperti itu setiap kali Lan SiZhui pergi berburu di malam hari.

Lan SiZhui hanya tersenyum.

“Tidak menyangka ya … ternyata kasus dari desa Mo malah jadi seperti ini,” Lan JingYi meluruskan kakinya, “tapi syukurlah semua selesai dengan baik.” Selesai bicara, Lan JingYi seolah menyadari kalau ucapannya bisa dicerna salah oleh Jin Ling. Namun saat melihat ke arah pemuda itu, Lan JingYi tak menemukan amarah kekanakan yang biasa tampak di wajah Jin Ling.

Tangan Jin Ling menyusuri pedang di pinggangnya, pedang peninggalan mendiang ayahnya yang menjadi korban dari konspirasi masa lalu. Wajahnya tampak tenang, “Ya … semua sudah selesai.”

Lan SiZhui dan Lan JingYi sudah mendengar semua tentang apa yang terjadi pada kedua orang tua Jin Ling, juga keterlibatan Wei WuXian dan Wen Ning dalam tragedi itu. Dalam hati mereka berdua bersyukur karena Jin Ling sepertinya sudah mulai bisa melupakan dendamnya dan bahkan membuka diri pada Wei WuXian. Seperti barusan, dia memanggil Wei WuXian dengan sebutan ‘Paman’. Walau tentu saja dia memanggil begitu kalau yang bersangkutan tidak ada di dekatnya, di depan Wei WuXian langsung, Jin Ling akan kembali bertingkah seperti bocah tantrum.

Lan JingYi memandang ke langit yang tampak dari sela dedaunan, “Kira-kira … HanGuang-Jun dan Senior Wei sekarang ada di mana ya?”

“Ku dengar ada ‘penampakan’ Yiling Laozu di desa yang tak jauh dari wilayah YunMeng,” kata Jin Ling, “Paman Jiang sudah senewen saja, sampai aku ikut stress mendengarnya.”

“Bukannya Pemimpin Klan Jiang sekarang sudah berbaikan dengan Senior Wei?” tanya Lan JingYi.

Jin Ling mendengus, “Hmph!! Berbaikan apa? Dia sama saja seperti dulu.”

Walau Jin Ling sempat memalingkan wajahnya, tapi Lan SiZhui dan Lan JingYi tidak luput melihat senyum di bibir Jin Ling.

“Aaaah~ Aku tidak sabar bertemu mereka lagi. Kapan ya mereka datang ke Gusu?” Lan JingYi merebahkan tubuhnya ke tanah. “Pasti seru kalau bisa ikut perburuan malam bersama HanGuang-Jun atau Senior Wei.”

Lan SiZhui juga memandang ke arah langit, “Semoga saja mereka lekas kembali.”

Tiga sebaya itu menikmati sisa waktu istirahat mereka dalam diam. Membiarkan hangat dari api ungun mengusir dinginnya malam.

Satu petualangan besar telah mereka lewati, tapi mereka juga yakin kalau di luar sana, masih banyak petualangan lain yang menunggu. Karenanya mereka bertekad untuk menjadi lebih kuat agar mereka masih bisa mengisi kehidupan ini dengan cerita seru lainnya. Supaya mereka bisa menjadi seperti sosok-sosok yang mereka kagumi juga hormati.

“Yosh!! Sudah cukup istirahatnya!!” Jin Ling melompat berdiri dan membersihkan bajunya.

Lan JingYi ikut berdiri dan meregangkan kedua tangannya ke atas, “Hngg!! Cepat selesai, cepat pulang, tulis laporan, tidur!!”

“Pastikan kau mandi dulu, JingYi,” Lan SiZhui mematikan api unggun sebelum ikut berdiri dan menyandang guqin yang tadi dia letakkan di sampingnya.

Jin Ling tertawa, “Lan Yuan, kau ini sudah seperti pengasuhnya saja.”

“Ya … bagaimana lagi. Aku harus memastikan dia tidak membuat kotor tempat tidurnya dan malah mendapat hukuman.”

“HEI!! Aku kan tidak selalu begitu!!” protes Lan JingYi.

Kehebohan itu megiringi langkah mereka untuk menuntaskan tugas malam ini sebelum kembali pulang dan menyambut hari yang baru.

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

THE END

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo