Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2019-03-21
Updated:
2019-09-15
Words:
752
Chapters:
2/?
Kudos:
3
Hits:
60

the palace and a brightness

Summary:

Hanya jalinan kata yang mempertemukan antara seorang pangeran egois dan lelaki berlidah tajam.

[Drabble Collection]

Notes:

ダイヤのA | Daiya no A | Ace of Diamond belongs to Terajima Yuuji.

Persembahan untuk otp kesayangan, dan upaya untuk bangkit dari WB.

Chapter 1: smirk

Summary:

Ryousuke menyesal—ia ingin menghapus senyum menyebalkan itu.

Notes:

ダイヤのA | daiya no a | ace of aiamond belongs to terajima yuuji. no copyright law infringement, no profit gained.

persembahan untuk otp kesayangan, dan upaya untuk bangkit dari wb.

Chapter Text

Mei tersenyum.

Setelahnya tawa mengejek mengiringi.

Hal ini terasa salah bagi Ryousuke. Tidak, tidak, tidak. Sama sekali tidak ada yang lucu. Sebaliknya, Ryousuke ingin sekali menghapus senyum dari wajah Mei. Sudah sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak menempelkan kepalan tangannya ke wajah menyebalkan Mei.

"Oh, ayolah. Jangan berwajah masam seperti itu, kau tetap harus melaksanakannya. Toh tadi kita sama-sama bertaruh hal yang sepadan," decakan terlepas dari lidah tajam Ryousuke. Ia (sangat) menyayangkan terjebak di situasi tidak menyenangkan seperti ini. Coba saja tadi ia tidak nafsu untuk membully sang Pangeran, menahan diri untuk menunggu waktu yang pas, pastinya akan ia menangkan taruhan terkutuk ini.

Oke, tenanglah Ryousuke, bukan berarti dirimu kalah sama sekali! "Baiklah Pangeran Mei yang Maha Agung, akan kulayani dengan sepenuh hati."

Meskipun kalimat yang dilantunkan berbunyi anggun, nada yang digunakan Ryousuke penuh sinisme. Ryousuke akan dengan senang hati untuk terus 'memuji' pangerannya, "Ohohoho, jangan terlalu memujiku, kau membuatku malu~" tangan dilambai-lambaikan di depan wajah, Mei tidak henti-henti tersenyum mengejek untuk membalas lawan bicaranya.

Rambut sewarna permen kapas Ryousuke acak kasar, menjernihkan pikirannya dan memutar otak supaya dapat bertahan saat menjadi 'pembantu' Mei selama seharian—atau setidaknya menemukan cara untuk menghentikan senyum menyebalkan kepunyaan Mei.

Tunggu dulu ... Ryousuke tahu benar jawabannya. Klise, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, malah ia ingin sekali segera mengaplikasikannya!

Kini giliran Ryousuke yang tersenyum—tidak, tapi menyeringai, "H-huh, apa-apaan senyummu itu, sangat tidak sopan untuk di hadapkan kepada pangeran tahu!"

"Apa benar begitu adanya, pangeran? Atau jangan-jangan kau hanya terlalu menyukai senyumanku, dan mencoba mendistraksi diri?"

Mei menggeleng agresif, selekas mungkin membalas argumen Ryousuke dengan sedikit tergagap, "Hah!? Ti-tidak mungkin—,"

Dengan cepat Ryousuke mengisi ruang antara dirinya dan Mei, hitung mundur dimulai; tiga, dua, dan satu. Selanjutnya kedua bibir saling bertemu, kecupan yang ringan namun manis, sangat manis. Ryousuke suka.

Namun lebih dari itu, Ryousuke sangat menyukai ekspresi Mei saat ini; wajah memerah, senyum menyebalkan sudah terhapus sempurna dan tergantikan dengan mulut Mei yang sedikit memegap, serta fokus mata Mei yang menjadi tak karuan. Lucu dan manis sekali.

Untuk kedua kalinya, Ryousuke mendekatkan wajahnya ke wajah lawan bicaranya. Tetapi kali ini bibirnya mendekati telinga lawannya, sangat sensual, "Sekarang, apanya yang tidak mungkin, pangeran?"

Ryousuke senang, senyum tipis mengembang. Kali ini pun ia menang lagi.