Chapter Text
Prolog
Rumah Pasar Minggu, Jakarta
01.00 WIB
Jam antik di ruang tengah menunjukkan pukul 1 pagi dini hari ketika Ibun menutup pintu garasi. Rania Nazyk atau Ibun—singkatan dari Ibunda—baru pulang dari rumah sakit tempat ia bekerja sebagai dokter spesialis kandungan. Sejak pagi, Rania meloncat ke sana kemari untuk menyelesaikan tugasnya, seperti mengajar kuliah umum kesehatan perempuan bagi mahasiswa S-1, rapat staf pendidikan universitas, dan melakukan operasi di rumah sakit. Hari ini ada 5 ibu yang harus ia bantu persalinannya lewat operasi bedah Kaisar. Saat hendak pulang dan melewati instalasi gawat darurat (IGD), Rania melihat wajah pasien lamanya dan memeriksanya dulu sebelum pulang. Syukurlah bayi dan ibu tidak perlu tindakan segera sehingga Rania dapat langsung pulang ke rumah. Kedua kakinya terasa seperti dua bongkah besi dan berhasil membuat Rania ingin langsung melemparkan diri ke kasur. Namun, langkah kaki Rania yang gontai tidak menghentikannya untuk melakukan rutinitasnya setiap malam, yaitu melihat para putranya sebelum tidur.
Rania memiliki 4 putra—Jeno, Jaemin, serta si kembar Chenle dan Jisung. Jeno, si sulung jangkung, merupakan putra pertamanya dengan mantan suaminya, Jung Yoonoh. Meskipun kadang terlihat belagu dan detached , Jeno sebenarnya murahan—sukanya makan nasi pakai telur mata sapi. Jaemin atau Nana adalah anak angkat pertamanya setelah perpisahannya dengan Yoonoh. Nana adalah penghangat keluarga kecil mereka. Meskipun usianya sama, kepribadian Nana berbeda 180 derajat dari Jeno. Nana sangat manis dan vokal dalam menyuarakan pendapat dan rasa cintanya ke orang-orang di sekitarnya. Jeno dan Nana saat ini kelas 1 SMA di Jakarta High. Sekitar 5 tahun lalu, Rania jatuh hati pada anak kembar prematur Chenle dan Jisung yang ia selamatkan dari kandungan seorang perempuan muda korban kecelakaan.
Setelah pintu kamar Jeno terbuka, Rania kaget menemukan keempat bayi besarnya terlelap dalam bungkusan selimut tebal. Ia baru ingat bahwa ini hari Sabtu. Jisung dan Nana berada di kasur atas. Kepala besar Jisung berada di perut Nana sementara kakinya menggantung tepat di atas wajah Lele yang menguasai kasur geser di bawahnya. Lele tidur sendirian, meninggalkan sang empunya kamar untuk berpuas hati tidur di atas karpet bulu tebal berwarna abu-abu.
Rania terkikih geli melihat kaki-kaki mereka yang mengintip dari ujung selimut. Hal itu adalah kebiasaan mereka yang tidak pernah hilang sejak dulu. Seulas senyum merekah di wajahnya yang lelah saat ia melangkah mendekati figur anak-anaknya. Di sekitar mereka, bantal dan plushie berserakan seakan ruangan tersebut baru dibanjiri bom molotov. Pasti mereka kelelahan setelah perang bantal. Di rumah ini, Rania mengizinkan anak-anaknya untuk tidur bersama hanya pada akhir pekan agar konsentrasi untuk kewajiban utama mereka—sekolah—tidak terganggu.
Ia memasukkan kaki para bayi ke dalam selimut sambil memandangi wajah polos mereka. Rania masih suka terheran-heran melihat betapa banyak waktu telah berlalu. Jeno dan Nana telah tumbuh menjadi remaja yang tampan, dan ia tahu hanya masalah waktu bagi Lele dan Jisung untuk menyusul mereka. Setiap harinya, Rania merawat ibu hamil dan janin mereka yang lucu, namun tidak ada bayi yang paling ia sayangi di dunia ini selain keempat putranya. Sebesar apapun, mereka akan tetap selamanya menjadi bayi-bayi kecil di mata Rania. Sambil menguap, Rania mengecup puncak kepala mereka satu per satu.
“Mimpi indah ya, Sayang-sayangnya Ibun,” bisik suaranya yang lirih dan serak sebelum Rania kembali ke kamarnya.
