Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Way To Kisses
Stats:
Published:
2019-05-06
Words:
1,158
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Hits:
159

One Blow

Summary:

Saat kata-kata terangkum dalam kecupan-kecupan.

Notes:

BTS © Big Hit Entertainment and themselves

I don't gain any profit from this fanworks, but some fun.

Diambil dari kiss prompt: 1st post break-up kiss. Hope you enjoy and happy reading❤

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


Siapa yang tidak kenal Seokjin dan Namjoon?

Dua sejoli yang seolah memang sudah dipasangkan oleh sang Takdir sendiri, jodoh sehidup semati. Meski acapkali terlihat bertengkar, tak urung berakhir dengan putusnya hubungan cinta keduanya, tapi benang takdir yang terpasang di kelingking keduanya tak jua putus. Malah kembali mempertemukan mereka dan menyambung kembali rajutan yang sempat terputus.

Agaknya istilah “Kalau sudah jodoh tak akan ke mana” memang cocok dan benar adanya bagi kasus asmara di antara dua anak Adam ini. Jadi, tak akan ada yang heran bila di suatu siang, Namjoon menyeret Seokjin yang saat itu berstatus “mantan” dari hadapan teman-teman mereka. Seokjin tengah menghabiskan waktu istirahat dengan Yoongi, Hoseok, Jaehwan, Jackson, dan Sandeul di kantin kampus, makan siang. Ketika Namjoon menghampiri dengan wajah datar, entah kesal atau cemburu, atau entah Seokjin tidak peduli sebetulnya. Akan tetapi ketidakpedulian itu menjadi masalah karena Namjoon sedang bersemangat meladeni amarah Seokjin yang terpancing akibat Namjoon mengganggu waktunya bersama teman-temannya—yang adalah teman Namjoon juga.
.
“Kau ini gila, atau apa sih, Kim? Aku belum selesai makan! Lepas!! Ayam gorengku bukan dibeli pakai lembaran daun!”

Namjoon hanya berkedik. Toh tenaganya jauh lebih kuat daripada sang “mantan” eh maksudnya calon kekasih (lagi). “Aku pinjam Jin-hyeong sebentar. Ada masalah yang harus kami selesaikan. Maafkan aku sudah mengganggu makan siang kalian, Yoongi-hyeong, Hobi-ah, Jackson-ah, Jaehwan-hyeong, Sandeul-hyeong.”

“Heh, aku bukan barang!!!”

Teman-teman mereka hanya tersenyum simpul sambil melambaikan tangan. Sandeul dan Hoseok sudah getol menggoda keduanya dengan bersiul, membuat Seokjin semakin mengamuk dan segera diseret Namjoon keluar kantin sebelum yang bersangkutan kembali kabur dan menghilangkan jejak.

Namjoon menyeret Seokjin hingga mereka tiba di samping lab biologi fakultas. Tempatnya teduh dan sepi saat jam makan siang. Cocok untuk tempat bicara dari hati ke hati.

Namjoon menghela napas mendapati bibir tebal Seokjin mengerut sebal dengan wajahnya yang semasam jeruk lemon. Seokjin membuat gestur dengan bibirnya, secara tak langsung memerintah Namjoon untuk melepaskan tangannya yang sejak tadi dicengkeram oleh Namjoon. Namjoon baru menyadari bekas kemerahan yang tecetak di pergelangan tangan Seokjin.

“Maaf hyeong.”

Seokjin masih enggan melepas topeng kesalnya. Toh ia memang masih kesal sungguhan. Ditatapnya pemuda jangkung yang tak pernah mau hengkang dari takhta di hatinya itu. Rasanya sudah bukan rahasia kalau Namjoon adalah pemilik hatinya, tak akan bisa digantikan meski kerapkali kesalahpahaman menjadi sumber derita. Seokjin tak bisa memungkiri kenyataan bahwa ia masih dan akan selalu mencintai pemuda berlesung pipi paling manis sejagat itu. Meski ia enggan mengakuinya terang-terangan akibat masih dongkol dengan ulah yang bersangkutan empat bulan yang lalu. Siapa yang menyuruh untuk membuatnya kesal?

Namun sepertinya putus-nyambung itu sudah menjadi bagian dari kisah asmara mereka yang cukup dramatis.

Setelah sunyi yang mengisi jeda setelah tangan Seokjin dilepaskan oleh Namjoon terasa menyesakkan, Namjoon kembali berdeham. Menarik atensi Seokjin yang sedari tadi terpaku pada pergelangan tangannya yang masih memperlihatkan bekas merah dari jemari Namjoon.

“Apa?!” sentaknya ketus. “Kalau tidak ada keperluan aku mau balik, ayamku masih menungguku di kantin!”

Hyeong, kumohon. Jangan begini. Aku harus melakukan apalagi supaya kamu bisa kembali bersamaku? Taehyung kan sudah menjadi saksi hidup bahwa aku benar-benar tidak ada hubungan dengan Minjae-noona. Kami hanya kebetulan bertemu, dia memang kenalanku, tapi hubungan kami hanya sebatas model lepas yang kebetulan pernah beberapa kali berada dalam proyek yang sama. Taehyung dan Jeongguk juga selalu ada di sana, semua foto-foto itu adalah ketidaksengajaan. Atau mungkin ada yang sengaja mengedit atau entahlah bagaimana. Tapi aku berani sumpah aku tidak punya hubungan lain selain rekan kerja dengan Minjae-noona. Harus berapa kali kujelaskan biar Hyeong mau mengerti?”

“Tetap tidak menjelaskan kenapa harus kau dan dia yang berpose mesra sementara model lain tidak.”

Cemburunya Seokjin itu menggemaskan sekaligus merepotkan. Namjoon mengelus dada. “Seokjin-hyeong, kesayanganku, Jinseokku…,” eja Namjoon sembari mengungkung tubuh atletis Seokjin di antara kedua tangannya. “Kami tidak berpose mesra. Aku berada dalam jarak yang jauh dengannya, di sampingku selalu ada setidaknya satu model, bisa Jeongguk atau Taehyung atau Soobin atau model lainnya, tidak pernah langsung berpasangan dengan Minjae-noona. Konsepnya saja berbeda. Kami ada di satu frame itu juga karena foto itu yang akan menjadi highlight katalognya. Di luar pemotretan aku juga berinteraksi sewajarnya. Bukankah alasan cemburumu itu terlalu dibuat-buat, hyeong? Apa kau sebegitunya tak mau lagi bersamaku? Ingin benar-benar berpisah?”

“Hentikan semua omong kosong ini, Kim! Tidak usah berniat apa pun. Bukankah kau sendiri sudah menyimpulkan?”

Seokjin mengempas sebelah tangan Namjoon yang tadinya memenjarakannya, ia sudah lelah. Dibuat-buat katanya? Padahal Seokjin benar-benar melihat sendiri interaksi Namjoon dengan Minjae. Omong kosong dengan pengakuan Namjoon, ia melihat sendiri Namjoon memperlakukan Minjae dengan spesial. Sepertinya memang sudah tidak ada masa depan bagi hubungan mereka, bagi dia dan Namjoon. Hatinya remuk redam. Seharusnya ia tidak perlu mendengarkan penjelasan Namjoon, jika ujung-ujungnya tetap ia yang disalahkan dan ayamnya! Demi apa pun, harusnya Seokjin mendengarkan perutnya ketimbang hatinya. Persetan dengan cintanya untuk Namjoon!

Belum sempat melangkah lebih jauh, tubuhnya kembali disentak dan menabrak dada bidang nan kokoh Namjoon. Seokjin mengumpat.

Entah gemas, atau apa. Namjoon kembali memerangkap Seokjin dalam dekapan sekaligus memepetnya ke dinding. Emosi Seokjin masih membara, terlihat dalam kedua bola mata cokelatnya yang berkilat penuh gelegak amarah karena tersinggung. Tidak ingin melewatkan kesempatan mungkin? Mendadak saja, Namjoon tak sempat berpikir dua kali. Ia meraup bibir penuh Seokjin yang masih menggerutu dengan bar-bar. Membuat tubuh keduanya berjengit bersamaan. Terkejut. Keduanya saling berpandangan. Napas berembus bersamaan, tapi bibir enggan melepas.

Namjoon memberi kecupan-kecupan kecil, sesekali menjilat bibir bawah Seokjin lalu kembali mengecup pelan. Dengan lembut, penuh kehati-hatian. Mewakili semua penjelasan yang diucapkan berulang-ulang seperti sebelumnya.

Seberkas perasaan rindu menyeruak dari dalam hati. Membuat gelenyar tak nyaman di perut Seokjin. Seolah kekosongan yang selama ini ada, kini diisi perlahan-lahan hingga penuh dan meluber hingga menyesakkan. Sesak yang tak mampu Seokjin definisikan. Hingga membuatnya larut, mengikuti nalurinya untuk membalas kecupan demi kecupan yang Namjoon labuhkan. Matanya terpejam, cecair bening yang menumpuk di pelupuk pun meleleh menuruni pipi. Rindu yang menjelma haru pun meluap.

Namjoon melepaskan bibir penuh candu itu sejenak. Kedua tangannya tak lagi memerangkap paksa tubuh Seokjin, tapi kini mendekapnya mesra. Sebelah tangannya menangkup pipi basah Seokjin, ibu jari menyeka air mata yang membanjir. Lalu dibelainya pipi tembam Seokjin dengan lembut. Namjoon kembali mengecup kening dan pucuk hidung, sebelum kembali melumat lembut bibir merekah Seokjin. Kecupan hati-hati, penuh dengan determinasi. Ingin menunjukkan pada Seokjin betapa ia benar-benar menyesal atas kesalahpahaman yang terjadi. Atas rasa sayang dan cinta yang tak terperi. Pemujaan pada sang pemilik hati. Agar Seokjin tahu, di hati Namjoon hanya Seokjin yang bertakhta. Agar Seokjin tahu, betapa tersiksanya Namjoon selama Seokjin berada jauh darinya. Agar Seokjin kiranya sudi memberikan pengampunan atas keteledorannya.

Namjoon bahkan belum mampu memaafkan dirinya sendiri bila membuat Seokjin terluka. Namun kini, biar kecupan-kecupan ini yang menjadi perantara. Menjelaskan tanpa kata-kata, tentang apa yang mereka rasa. Tangan Seokjin naik menuju leher Namjoon dan bergelayut manja di sana. Namjoon segera merespon dengan memperdalam ciuman sembari mempererat dekapan. Kecupan dan lumatan lembut kian menggelora. Masa bodoh dengan lonceng yang nyaring berbunyi. Masa bodoh dengan ponsel yang berdering. Ciuman mereka (saat ini) lebih penting dari apa pun.

 

End

 

Notes:

Thank you for came and read.

NamJin is too wonderful, im so sorry if i made them became like this, im just too attached to their charm and fanservice.

See you later.....

Rexa, sign out

Series this work belongs to: