Chapter Text
Mata Kakeru memindai ruangan perpustakaan untuk menemukan tempat duduk setelah ia mendapatkan buku yang ia cari sebagai referensi tugasnya. Hari ini pengunjung perpustakaan cukup ramai dan Kakeru hampir tidak melihat ada bangku kosong, namun matanya berbinar ketika ia melihat sebuah bangku tak berpenghuni disebelah pria berambut cokelat.
Kakeru melangkah menuju bangku tersebut hanya untuk dibuat terkejut. Bisa-bisanya ia tak mengenali pria berambut cokelat yang tak lain adalah Kapten timnya sendiri yang sedang duduk memunggungunya itu karena penampilannya agak berbeda. Sweater Hoodie abu-abu dan celana jeans hitam yang mencetak kaki rampingnya. Kakeru tahu kalau Haiji bukan tipe orang yang mau membuang-buang waktu memikirkan apa yang akan ia pakai, tapi mungkin Haiji bisa mendapat pacar kalau ia jalan-jalan di sekitar Shibuya dengan pakaian seperti ini.
Haiji tampak fokus dengan apapun yang sedang ia baca. Kakeru jadi iseng ingin mengintip sedikit bacaan seperti apa yang bisa membuat Haiji begitu fokus, sampai-sampai ia tak sadar kalau Kakeru sudah berdiri terlalu dekat dibelakang punggungnya sambil menunduk menyejajarkan kepala mereka.
Hanya sebuah novel ternyata, Kakeru berkata dalam Hati. Tapi lucu juga rasanya melihat Haiji tertarik kepada hal lain selain lari. Kakeru menimbang-nimbang apakah akan mengganggu kalau ia menyapa Haiji. Atau ia cari tempat duduk lain saja.
Ekor mata Kakeru melirik sisi wajah Haiji. Kalau dipikir-pikir seniornya ini memang sangat jauh dari kata jelek. Wajah oval dengan mata bulat dan bulu mata panjang merupakan perpaduan yang bagus, tulang hidung yang menonjol namun tidak terlalu mancung, bibir merah mudanya tertutup rapat dan kulitnya yang mulus tampak menggoda untuk disentuh.
“Cantik”
“WHOAA,” suara Kakeru yang bergumam tepat disamping telinganya membuat Haiji terlonjak dan reflek menjauhkan diri dengan sebuah jeritan yang lolos dari bibirnya. Wajah terkejut Haiji membuat Kakeru menatap bingung padanya.
Seisi perpustakaan melempar pandangan tak suka pada mereka. Haiji menundukkan badan beberapa kali sebelum kembali ke bangkunya sambil berusaha mengendalikan jantungnya yang nyaris melompat keluar.
“Apa yang kau lakukan?” Haiji berdesis pada Kakeru yang entah sejak kapan duduk disampingnya.
“Huh?” Kakeru memiringkan kepala dengan polosnya. Ia meneliti wajah Haiji yang memerah dan matanya yang melotot galak.
Detik kemudian Kakeru yang memerah begitu ia sadar ia baru saja keceplosan menyebutkan isi pikirannya.
“Ah, bukan apa-apa. Aku hanya berniat menyapamu,”
“Siapa yang kau bilang cantik?”
“Bukan siapa-siapa?”
“Oh” Haiji memilih untuk tak membahasnya dan melanjutkan apa yang ia baca.
Suasana kembali hening seperti sedia kala. Tapi entah kenapa ucapan Kakeru membuat Haiji kehilangan fokus. Haiji menoleh kepada Kakeru yang sedang mencatat sesuatu sambil sesekali mengalihkan pandangan ke buku cetak.
Cantik?
Apa Kakeru baru saja melihat wanita cantik?
Kenapa juga Haiji penasaran?
Kakeru yang sadar ia menjadi pusat perhatian seniornya ikut menoleh. Haiji berjengit ketika pandangan mereka bertemu dan matanya yang bulat semakin membola seolah ia tertangkap basah melakukan sesuatu yang ilegal.
“Ada apa Haiji-san?” Kakeru bertanya melihat reaksi aneh Haiji.
“Tidak ada” Haiji menjawab sambil mengalihkan pandangannya dari Kakeru “Aku hanya kaget bertemu denganmu disini”
“Apa aku mengganggu?”
Haiji menggeleng lalu membuka Novel tebalnya dan mengangkatnya hingga menutupi wajah.
Kakeru kembali menelaah lembar demi lembar bukunya dan mencatat beberapa hal penting yang akan berguna untuk perkuliahannya, sementara Haiji sudah tidak terlalu berminat pada Novel yang sedari tadi ia baca karena satu Kata yang keluar dari mulut Kakeru mengusik kepalanya.
“Haiji-san..” Kakeru baru saja tersadar akan sesuatu dan menoleh pada Haiji.
Kedua pasang bola mata dengan warna yang berbeda itu kembali bertemu. Telunjuk Kakeru mengarah pada novel tebal ditangan Haiji yang ia pegang sejajar dengan wajahnya “Kau bisa membaca terbalik seperti itu?”
“EEH??” Haiji otomatis menjatuhkan novelnya seolah itu adalah benda yang berbahaya.
Mereka lagi-lagi mendapat teguran dari pengunjung lain untuk diam dan kali ini Kakeru yang berinisiatif membungkuk memohon maaf. Kakeru menatap Haiji yang membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Kulit wajahnya yang memerah membuat Kakeru sedikit khawatir.
“Kau tidak apa-apa?” tangan Kakeru seperti mempunyai pikiran sendiri ketika ia sadar ujung jemarinya sudah menyentuh poni kecoklatan Haiji dan menepikannya, menampakkan wajah menawan yang sudah merona parah sampai ke ujung telinga yang entah kenapa membuat sesuatu didalam diri Kakeru berdesir tidak nyaman.
“Hei!” Haiji menepis tangan Kakeru ketika merasakan jemari juniornya itu justru sudah bermain didaun telinganya.
“Ouch, maaf!” Kakeru sedikit kecewa dengan tindakan Haiji, tapi siapa suruh punya tangan kurang ajar!
Haiji mengemasi barangnya dan memasukan kedalam ransel “Kau bersikap aneh” gumamnya tanpa menoleh namun masih bisa didengar oleh Kakeru.
Kalau boleh protes yang aneh itu Haiji karena tiba-tiba berubah menjadi sangat menarik begitu!
“Aku pergi! Sampai ketemu nanti” sambil menyandang ransel, Haiji pamit dan sepertinya ia membuang muka pada Kakeru. Sisa rona di wajah Haiji bahkan masih terlihat jelas.
Helaan nafas berat dilepaskan ketika punggung Haiji sudah tak tampak oleh Kakeru. Suhu tubuhnya naik, tapi sepertinya bukan demam atau flu.
Apa ada demam yang membuat jantungnya bedebar tak karuan?
Haiji memang cantik. Kakeru mengakuinya. Tapi entah kenapa itu membuatnya terganggu.
