Chapter Text
Pasti ada momen-momen singkat dalam hidup ketika kau sengaja menyisihkan waktu sekadar untuk mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan sesuatu. Bukan karena perbendarahaan kata yang terbatas, atau mungkin pemahaman bahasa yang kurang, tapi lebih karena ‘sesuatu’ itu terlalu membingungkan dan sulit dijelaskan. Seperti mengenali penggalan lagu tapi tidak pernah mengingat judulnya, seperti mencium aroma familier tapi tidak pernah tahu namanya, terkadang momen itu bisa membuat seseorang frustrasi berkepanjangan.
Lee Taemin ingin menjadikan hal itu sebagai alasan keterlambatan datang ke kelas pagi ini, tapi tetap saja dia menerima pukulan di kedua telapak tangannya dan dihukum berdiri di koridor, sedangkan teman-temannya terkekeh-kekeh puas di dalam kelas. Tampaknya Guru Kim adalah pria yang praktis; dia tidak menerima keterlambatan kecuali oleh sesuatu yang sangat mendesak, seperti katakanlah kau terguling ke parit dan terseret arus sungai sampai ke laut. ‘Saya bangun awal, tapi melamun di meja makan dan tidak ingat di mana meletakkan sebelah sumpit saya’ tidak ada dalam kamus pria itu.
Setidak-tidaknya, berdiri sendirian di koridor memberikan Taemin kesempatan untuk berpikir lebih dalam. Atau lebih tepat disebut melanjutkan pemikirannya tentang kata yang hilang. ‘Bosan’ terdengar terlalu superfisial, sedangkan ‘lelah’ terkesan dramatis. Bukan keduanya, sekaligus mendekati keduanya. Rasanya Taemin ingin mengeluarkan hatinya, meremas benda itu kuat-kuat sampai dia bisa mendapatkan tetesan intisarinya.
Dengan tidak sabar dia mengetuk-ngetukkan sol sepatu ke koridor, meskipun hanya bertahan sekitar tiga menit, karena pelototan Guru Kim serasa bisa melubangi bagian belakang kepalanya. Masalahnya, ini bukanlah penggalan lagu atau semilir aroma yang bisa dikesampingkan sementara dia melanjutkan kegiatan sehari-hari. Dia memberikan tenggat waktu pada dirinya, dan jika sampai melebihi waktu tersebut dia belum bisa menggambarkan perasaannya, dia merasa kekasihnya akan berusaha mencuci otaknya bahwa perpisahan mereka sangat tidak masuk akal sehingga perlu dibatalkan.
Itu benar. Dari kemarin Taemin berusaha mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaannya kepada sang kekasih, yang mana ‘cinta’ sudah kedaluwarsa sedangkan ‘benci’ terlalu keji. Tidak, bukan keduanya, sama sekali tidak mendekati keduanya. Dia masih merasa nyaman di sisi lelaki itu, tapi masa depan bersamanya terkesan agak dipaksakan. Seperti berusaha membayangkan dirimu menikahi idolamu: itu tidak mungkin.
Tentu saja kekasihnya tidak menuntutnya untuk mencari satu kata saja dan tidak boleh lebih, seolah-olah dia sedang mengikuti kuis konyol. Bisa saja Taemin menggulung lengan bajunya ke siku, melemaskan jari-jemarinya, kemudian mengetik esai sepanjang sembilan halaman mengenai hubungan mereka yang ingin diakhirinya. Akan tetapi, apa artinya semua itu? Jika bisa menyampaikannya secara lugas, kenapa Taemin harus menyiksa lelaki itu dengan surel panjang-lebar yang intinya sama?
Mau tidak mau Taemin mengingat kembali ekspresi wajah lelaki itu—mereka melakukan video call—ketika dia menyampaikan keinginannya. Di Seoul sudah lewat tengah malam, tapi latar belakang lelaki itu adalah sore yang merah muda; Taemin bisa melihat langit yang cerah di pinggiran payung besar berwarna hijau yang menaungi meja kafe tempat kekasihnya sedang duduk. Mungkin Taemin sengaja memperhatikan detail-detail kecil supaya tidak perlu melihat air muka lelaki itu membeku.
“Maaf, apa?” Choi Minho semakin membelesakkan earphone ke telinganya, seolah tidak mempercayai pendengarannya. Keterkejutannya masih berkerak di ujung-ujung bibir yang berusaha ditariknya menjadi senyum lebar. “Barusan angin berembus keras sekali, jadi—” tapi senyum itu gagal mengudara; matanya yang bulat dan besar menatap Taemin nanar. “Kau … apa yang sebenarnya …?”
“Ini bukan salahmu,” kata Taemin menenangkan seraya mengubah posisi menjadi tengkurap, dagunya diganjal bantal yang dilipat jadi dua. “Tapi aku merasa kita tidak bisa melanjutkan ini.”
Minho berusaha tertawa lagi, seakan sudah lupa kegagalannya tiga puluh detik lalu. “Taemin, ini tidak lucu. Apa ini lelucon yang sedang tren sekarang?”
“Aku tidak bercanda.”
“Kau bercanda,” desak Minho, nadanya keras, dan Taemin memang tidak menyalahkannya. Bayangkan saja kalian sedang mengobrol soal scone dan mendadak diminta putus. Taemin mengangkat satu tangannya sebelum Minho membuka mulut lagi.
“Aku sudah memikirkannya sejak lama, jujur saja, dan kesimpulanku pada akhirnya selalu sama. Aku merasa kita tidak bisa bersama, tidak lagi, apalagi dengan jarak yang terpaut jauh di antara kita, secara harfiah maupun kiasan.”
“Karena jarak?” sergah Minho, mukanya mulai kehilangan warna. “Aku—aku akan cari penerbangan paling pagi besok, dan kita bisa bertemu langsung besok lusa. Sekolahku di sini—”
“Kau tahu itu mustahil,” potong Taemin. “Bukan itu poinnya, walaupun memang jarak memiliki porsi tersendiri. Aku hanya merasa,” isi kepalanya kosong, dan di sinilah masalah dimulai, “kita tidak bisa bersama.”
“Kau merasa?” Taemin bersumpah sempat melihat bola mata Minho berubah hijau. “Bagaimana dengan perasaanku? Taemin, aku sudah mengatakannya berulang kali, tapi satu-satunya alasan aku bisa bertahan di sini adalah karena aku memilikimu.”
“Begini, dengar—”
“Hubungan itu soal dua orang, Taemin. Aku tidak akan putus denganmu jika kau hanya merasa kita tidak bisa bersama. Kita … kita selalu bisa memperbaikinya.” Nada suara Minho mulai memohon dan, seolah berniat mendukungnya, tiba-tiba rintik-rintik gerimis turun dengan lembut melunturkan kejinggaan di belakangnya. “Tapi kalau kau memang punya orang lain …”
“Aku tidak punya,” sela Taemin cepat. Dia hanya tidak ingin dianggap sebagai pecundang yang tidak punya prinsip.
“Kalau begitu, kau membenciku?”
Taemin mulai ragu. “Tidak, aku menyukaimu.”
“Lalu kenapa?”
Kemudian Taemin hanya bisa memandangi Minho kosong, tidak tahu harus berkata apa, karena dia memang tidak punya bayangan bagaimana memaparkan perasaannya di depan Minho. Mungkin ekspresi wajahnya cukup menggambarkan kegamangan itu, karena Minho lantas mengembuskan napas pelan dan mengangguk kecil.
“Aku tidak ingin memaksakan perasaanku padamu, Taemin, dan aku berharap kau tidak melakukannya juga padaku,” kata lelaki itu sambil merapatkan mantelnya menutupi sweter biru gelap yang dia kenakan. Pasti semakin dingin di sana. “Aku ingin kau memikirkannya dalam-dalam, tentang kenapa kau merasa ingin berpisah, tentang kenapa kau merasa hubungan kita pantas dikandaskan ketika kita sudah berjalan sejauh ini.”
Lalu Minho menutup percakapan mereka dengan selamat tidur yang terdengar menyakitkan, kemudian di sinilah Taemin berada, berdiri menghadap poster penuh warna tentang disiplin waktu.
Sebenarnya bisa saja Taemin menggunakan jarak sebagai senjata sekaligus tamengnya, seperti yang sering disaksikannya di cerita-cerita picisan, tetapi dia tidak ingin Minho merasa bersalah sudah diterima di University of Manchester. Itu jelas-jelas bukan sesuatu yang patut dipermalukan. Di sisi lain, tetap memendam keinginannya untuk berpisah terasa akan menyiksa bukan hanya dirinya, tetapi juga Minho, siapa tahu dia tanpa sadar berubah menjadi monster pasif-agresif yang beracun.
Bel berdering dari pengeras suara tepat di atasnya, membuatnya melonjak kaget. Anak-anak di dalam kelas mulai menguap atau mengeluarkan kotak makan siang mereka sebagai pengganjal perut sampai jam istirahat nanti; kursi-kursi berderit, buku-buku ditutup, dan percakapan mulai berdengung. Guru Kim keluar dari kelas dan menatapnya penuh hina, sebelum memutar tumit ke arah koridor. Hanya karena ingin, Taemin mengacungkan jari tengahnya ke punggung pria itu dan berjalan masuk.
Kim Jongin cengar-cengir melihatnya. “Pangeran Tidur.”
“Aku tidak ketiduran,” bantah Taemin tegas seraya menjatuhkan dirinya di kursinya, merasakan betul tungkai-tungkainya akhirnya mendesah lega bisa beristirahat. “Aku hanya berpikir, kau tahu. Banyak yang kupikirkan akhir-akhir ini.”
“Otakmu itu cuma dekorasi, jangan memaksakan diri.”
Taemin pura-pura akan menonjok temannya, yang tentu saja membuat pemuda itu semakin girang berhasil mengganggunya. Beberapa anak yang lain mulai mengerumuninya, meledeknya, tapi kebanyakan menanyakan kabar kakak perempuannya. Seharusnya tadi dia membolos saja, pikir Taemin penuh sesal, ketika seseorang mencekiknya dari belakang karena dia enggan membagikan kontak kakaknya. Seharusnya dia tahu datang ke sekolah tidak akan membantunya berpikir. Waktu terus berputar dan Minho akan semakin gelisah, sehingga, pada satu titik, lelaki itu akan benar-benar mengepak barang-barang dan terbang ke Seoul.
Tapi itu tidak mungkin, pikir Taemin sambil balik mengunci leher bajingan yang baru saja mencekiknya. Walaupun memang berasal dari keluarga berada—ayahnya seorang pemilik perusahaan penerbitan sedangkan ibunya mantan model yang punya lini pakaian sendiri—Minho tetaplah mahasiswa yang punya banyak tugas dan kehidupan sosial yang harus dipertahankannya. Secara impulsif mendatangi pacar di kampung halaman hanya dilakukan oleh pemeran utama drama yang selalu punya terlalu banyak uang dan entah bagaimana tidak memedulikan kehidupan personalnya.
Guru Han memukulkan penggaris ke papan tulis berkali-kali, menyebabkan adu gulat di seputar meja Taemin bubar dan para murid merayap ke meja masing-masing dengan patuh. Taemin membuka buku bahasa Inggris, pura-pura menjadi siswa teladan supaya tidak perlu ditunjuk membaca kutipan, tetapi gambar London’s Eye di halaman yang dibukanya serta-merta membuatnya tertegun. Inggris, baginya yang lembaran paspornya masih polos, hanya bisa diasosiasikan dengan Choi Minho.
“Absen nomor dua belas.”
Taemin melonjak berdiri. “Saya, Pak.”
Guru Han mengernyit heran. “Iya, saya tahu. Baca dari paragraf satu sampai saya minta berhenti.”
Beberapa anak yang duduk di dekatnya terkekeh-kekeh menikmati kesialannya. Taemin mendekatkan buku sampai hampir menyentuh batang hidungnya, kemudian memundurkan buku kembali sambil meringis kecil, baru sadar dia bahkan tidak tahu bagian mana yang harus dibaca. “Maaf, Pak. Saya lupa bawa kacamata baca.”
“Apa kau setua itu hingga menderita hipermetropi? Berdiri di belakang kelas dengan tangan diangkat sampai saya minta berhenti.” Guru Han berdecak-decak. “Absen empat, kalau begitu.”
Dihukum seperti ini memberikan keuntungan bagi Taemin, apalagi setelah kepalanya sekali lagi dipenuhi oleh Choi Minho. Buku bahasa Inggris bedebah. Dia mengingat bagaimana tatapan mereka bertemu setiap kali berpapasan di koridor, bagaimana matanya selalu berusaha mencari Minho di lapangan, bagaimana Minho sengaja menegok ke pintu kelasnya manakala lewat.
Waktu itu dirinya adalah murid baru yang culun, tapi dia tidak polos. Dia tahu makna curian pandang mereka, jadi dia bukannya kelabakan ketika akhirnya Minho memanggilnya setelah semua pelajaran tambahan di liburan musim panas berakhir. Dia tahu apa yang akan terjadi, dan menginginkannya pula, sehingga ciuman pertama mereka di toilet lantai satu itu juga sudah diantisipasinya. Mereka resmi menjadi pasangan di tanggal dua puluh tujuh Agustus, yang mereka rayakan secara taat setiap tahun.
Hubungan mereka selalu dipenuhi gelora. Bukan gelora cinta yang membuat bagian belakang terantuk-antuk dinding seperti boneka dasbor setiap kali mereka berciuman, tetapi lebih seperti gelora … apa ya namanya? Mereka pergi ke arcade dan main tembak-tembakan secara penuh semangat sampai menjadi tontonan pemgunjung lain, mereka bersepeda ke gunung dengan jiwa membara, mereka bahkan belajar dengan penuh semangat pula. Minho punya jiwa kompetitif, sedangkan Taemin senang menantang dirinya sendiri, dan mereka menjadi pasangan seperti itu.
Redup. Kata itu berkelebat di benak Taemin seperti api lilin yang berguncang disaput angin. Hm, kata yang bagus. Bisa jadi perasaannya pada Minho meredup, sehingga dia merasa hubungan mereka pantas diakhiri. Taemin menggulirkan kata ‘redup’ di lidahnya untuk mencicipi ketepatannya. Tidak benar-benar tepat, tapi lumayan menggambarkan perasaannya. Setidaknya ‘redup’ berada di antara ‘nyala’ dan ‘padam’, dan dia memang memerlukan sebuah kata yang berada di tengah-tengah semacam itu.
“Lee Taemin. Kau boleh duduk.”
Taemin menurunkan kedua lengannya yang pegal. “Terima kasih, Pak,” katanya seraya berjalan kembali ke bangkunya dan memijat-mijat lengan atas, berusaha meraba bisep yang siapa tahu memadat selama dua puluh menit mengangkat tangan.
Redup. Taemin kembali memikirkannya sambil membalik halaman bukunya ke bacaan yang tepat, sekarang gambar dua orang Barat saling bercakap-cakap di samping monitor komputer sebesar laci. Setelah berakhirnya pelajaran, dia akan mengirim pesan kepada Minho mengenai perasaannya—tidak, lebih baik meneleponnya langsung. Minho memang seorang malaikat, tapi dia pandai memelintir sebuah kata layaknya setan yang berusaha mencari celah untuk menyedot nyawa manusia.
Kalau dia menelepon sekitar pukul tiga sore nanti, batin Taemin sambil melakukan perhitungan sederhana di sudut bukunya, sudah pukul tujuh pagi di London. Pagi hari bukan saat yang tepat untuk menerima kabar bahwa hubunganmu yang berlangsung selama dua tahun sudah berakhir, tapi menundanya tidak akan memberi keuntungan pada siapa pun. Maaf, Minho, lebih cepat selesai lebih baik.
Setelah menulis kata ‘redup’ di telapak tangannya, kalau-kalau nantinya dia lupa, Taemin melanjutkan kehidupannya dengan lebih tenang. Dia melayani ledekan Jongin tapi menonjok wajahnya sungguhan sebagai ganjaran, mengintimidasi adik kelas yang menutupi jalannya menuju kantin, dan diam-diam menyeruput susu pisang di pelajaran setelah istirahat makan siang. Jarum jam di atas papan tulis terus merangkak: menyapu angka satu, menyapa angka dua. Tinggal setengah jam sampai dia bisa menggantikan tugas alarm untuk membangunkan Minho.
Pada akhirnya, ketika jarum panjang bergeser ke angka dua belas dan jarum pendek benar-benar menunjuk angka tiga, diam-diam Taemin mengantongi ponselnya di saku celana, kemudian mengangkat tangan. Guru Park, yang sedang berkutat dengan proyektor yang mau tidak menyala sedangkan tidak ada yang mengingatkan bahwa kabelnya belum ditancapkan ke stop kontak, mendongak menatapnya nyaris putus asa.
“Maaf, saya hendak izin ke kamar mandi.”
“Jangan lama-lama.”
Taemin beranjak keluar, tangannya yang berada dalam saku menggenggam ponsel erat-erat. Dia baru hendak berbelok ke toilet saat pengeras suara di koridor bergemeresak dan serangkaian nada pengumuman bergaung ke dinding dan lantai.
“Kepada Lee Taemin, murid kelas 12-4, silakan datang ke ruang guru. Sekali lagi, kepada Lee Taemin—”
Aku? Taemin mengerutkan kening, tapi tetap mengubah haluan langkahnya menuju ruang guru. Ibunya sudah berjanji untuk tidak menghubungi ruang guru jika hendak mengantarkan bekal makan siang atau seragam olahraga yang tertinggal. Ataukah Guru Kim melihatnya mengacungkan jari tengah dan menyimpan dendam sampai sekarang? Rasanya hampir tidak mungkin: menjadi seorang guru berarti kau harus kebal terhadap umpatan dan isyarat tidak sopan. Lagi pula, apa artinya menyimpan dendam jika bisa langsung memukul pantat muridnya saat itu juga.
Berkebalikan dengan segala asumsi Taemin, ruang guru menguarkan atmosfer ceria yang merembes sampai ke koridor. Taemin melangkah masuk, separuh ingin tahu-separuh karena disuruh, dan serta-merta langkahnya terhenti. Dia tertegun.
Choi Minho berhenti menghibur mantan-mantan gurunya dan menoleh ke arah pintu, senyumnya terkembang semakin lebar. “Taemin!”
Taemin masih melongo di ambang pintu, bahkan setelah lelaki jangkung itu berlari riang ke arahnya dan mendekapnya tepat di hadapan para guru.
“Aku merindukanmu,” desah Minho sambil memundurkan Taemin lagi tanpa benar-benar melepaskan pegangannya di lengan. Dia memperhatikan Taemin dari atas ke bawah dengan penuh haru. “Coba lihat anak ini, semakin tampan dari hari ke hari.”
“Tunggu—apa?”
Minho meluncurkan pegangannya ke pergelangan tangan Taemin, kemudian berbalik menghadap para guru yang sepertinya tidak yakin harus bergegas pura-pura mengagumi cinderamata dari Minho atau tetap memandangi mereka.
“Saya akan membawa Taemin sebentar saja.” Dia membungkuk rendah. “Tolong izinkan saya.”
“Pokoknya kembalikan dia,” kekeh Guru Kim—tidak pernah lelaki itu tertawa kecuali di depan murid berprestasi semacam Minho—dan guru-guru lain memutuskan ikut tertawa kering. Minho menegakkan badan dan segera menarik Taemin menyusuri koridor menuju pintu keluar.
“Tunggu,” sergah Taemin sambil memegangi tangan Minho, berusaha melepaskan cengkeramannya. “Apa yang kaulakukan di sini?”
Secara mendadak Minho berhenti melangkah dan memutar tumit menghadap Taemin. Raut berseri-serinya sudah berubah menjadi keruh. “Aku merasa jarak benar-benar membuat kita jauh, Taemin, karena itu aku memesan penerbangan pukul setengah delapan malam untuk menemuimu. Itu penerbangan paling awal yang bisa kuetemukan.”
Siapa yang tadi bilang mustahil Minho mendatanginya? Oh, benar, Taemin sendiri.
Karena Taemin tidak menyahut, Minho terus menariknya menuju Land Rover yang dibanjiri cahaya matahari di halaman sekolah dan membuat mereka berdua masuk ke bangku belakang. Dan di sanalah Minho memeluknya sekali lagi, kali ini lama dan jauh lebih emosional dibanding sebelumnya. Taemin bisa merasakan denyut jantung Minho yang cepat serta pegangannya yang erat.
“Jangan tinggalkan aku, Taemin,” bisik Minho di pundak Taemin, teredam serat kain tidak mencegah emosinya merembes. “Kumohon jangan tinggalkan aku. Kau adalah hidupku, kau adalah segalanya buatku.”
“Bagaimana dengan kuliahmu?”
Seolah sudah menunggu pertanyaan itu dari tadi, Minho memundurkan badan lagi. Senyumnya terkembang lebar. “Aku mengambil cuti.”
Taemin melebarkan mata. Minho meraih satu tangan Taemin dan mengecup telapaknya dengan lembut, sinar matanya tampak bermain-main sekaligus penuh kasih.
“Aku akan membuatmu kembali mencintaiku, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, mati-matian.”
“Minho, aku …”
“Apakah aku tidak bisa?”
Sorot mata Minho yang penuh harap dan menyerupai anak anjing selalu berhasil membuat Taemin bertekuk lutut. Dia memejamkan mata, merasakan tulisan di telapak tangannya menggigit protes, tapi kemudian menggeleng sambil mendesah.
“Lakukan semaumu.”
