Actions

Work Header

Pulau Sentana (0)

Summary:

Tentang surat misterius, mimpi, semesta paralel, dan pulau kemungkinan.

“Di penghujung adegan rindu ini,
Yang kerap kali mengitari kepalaku,
Kudengar suara yang sudah sangat familiar.
Ini bukanlah mimpi, bukan?
Bukan.”—Replay (PM 01:27)

Notes:

[!!!] Tolong Dibaca [!!!]

1. Istilah-istilah di dalam fic ini dibuat sebahasa-indonesia mungkin jadi gapake Hyung dll. (Lestarikan budaya Indonesia!) Kecuali memang ada part di mana mereka ngomong pake inggris, berhubung setting-nya di Amerika karena cerita ini pada dasarnya dibuat mengenai tur mereka selama di Amerika Utara. Dan, btw, berhubung ku dari Sumut yang notabenenya jarang manggil Kak ke laki-laki kecuali di situasi formal kek sekolah/kuliah (itu pun kalo udah deket jadi Bang lagi) makanya pake kata Bang. Pun supaya lebih natural aja.

2. Asal kata:
sentana (adv.): kalau; dengan sepertinya; dengan selayaknya; dengan kira-kira.

3. Kalau -0- artinya mereka lagi di parallel universe (semesta paralel) alias di pulau sentana itu. Kalau ada tanggalnya ya berarti di semesta yang kita tinggali ini.

4. Pairing utamanya Johnyong, Yujae, Dodong tapi di Chapter 1 ini masih jelasin asal mulanya jadi belum keliatan johnyong yujae dodong nya & beberapa karakter juga belum muncul. Dan lagipula yang terpenting mereka semua di sini temenan bin bro-broan, ga musuh-musuhan.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: The Origin

Chapter Text

-0-


Johnny teringat terakhir kali ia hendak menutup mata, tadi malam, ia merasakan lampu di biliknya bercahaya agak aneh. Sudah berapa malam ia tidur di bilik bus tur yang sama, di balik tirai kelabu yang sama, namun baru kali itulah ia merasa janggal. Terlalu mengantuk, ia hanya menepikan pikiran sesaat tersebut.


Dan, terang saja.


Pagi ini, entah bagaimana cara semesta bekerja, ia menemukan diri terbangun di tempat yang sama sekali tidak seperti bilik kecilnya. Punggung terasa pegal lantaran ia tak lagi berbaring di matras, melainkan … pasir putih.


Johnny terperanjat melihat sekeliling seketika. Gelagapan ia menginspeksi dan meraba seluruh anggota tubuh yang, kalau-kalau, ada yang hilang. Syukurnya tidak. Sejauh mata memandang ke depan yang dilihat hanyalah pantai dan laut terhampar tak berujung, sementara di belakang berjajar angkuh pepohonan hutan. Namun tak satu pun dari itu semua adalah tanda-tanda kehidupan yang ia harapkan muncul.


“Ya Tuhan!” ia bangkit dan menoleh-noleh ke sekitar, “Taeyong?! Yuta! Abang Manajer? Siapapun, di mana kalian?!!” teriaknya parau sehabis bangun tidur.


Tak menyerah, ia berjalan sepanjang bibir pantai sembari mengabsen satu per satu nama teman grupnya dengan suara lantang di tengah daratan lepas. Barangkali mereka menyelam, pikirnya, meski situasi ini sungguh tak masuk akal sebab ia ingat betul sedang berada dalam bus.


Beberapa menit yang melelahkan kemudian, dengan terseok-seok akhirnya ia kembali ke titik asal. Oleh karena suara habis namun tak satu kepala pun muncul. Di satu sisi juga khawatir bila ia tak di tempat jika memang member mencarinya.


Diperhatikanlah area ia berbaring di awal tadi. Baru ia tersadar di atas pasir terdapat lingkaran besar yang digambar dengan kayu atau sejenisnya, persis mengelilingi tempat ia berbaring tadi, melihat dari bekas cetakan samar tubuhnya di sana.


“Apa ini lelucon?” kening Johnny mengerut, sama sekali tak tampak puas dengan apa yang ditemukan. Lingkaran itu cukup jauh dari batas pasang air pantai, ngomong-ngomong. Jadi tak sampai hilang terhapus sambaran air.


“Ayolah, katakan ini lelucon,” intonasi suara ia kini terdengar putus asa bahkan untuk telinga optimis seorang Johnny. “Aku tidak akan marah apalagi memukul,” rengeknya seraya merengut; dalam hati berharap seseorang sedang memperhatikan di balik semak kemudian muncullah suara gelak Haechan di tengah-tengah nelangsanya.


Namun tidak.


Alih-alih jawaban, hanya ada angin pantai yang berhembus menggelitik telinga dan meniup helaian rambut laki-laki itu hingga jatuh menutupi mata, belum lagi menggigit lengan dan kakinya yang terekspos—ia hanya mengenakan kaus polos putih dan celana pendek.


Merasa sungguh-sungguh sendirian, ia lalu terduduk, melipat lutut di bawah dagu, lantas memeluk kedua kaki sambil membenamkan kepala di tengah rongganya.



--190506--


“Kau tahu mengenai penggemar yang masuk ke bus kita?”


“Oh, benar,” Johnny menenggak air putih untuk kesekian kali malam itu sehabis konser. Ia lantas duduk berhadap-hadapan dengan teman grup yang berambut cukup panjang kemerahan di antara mereka. Masing-masing bertengger di pinggir matrasnya sendiri, dengan kepala menjulur keluar dari bilik sebab atapnya terlalu rendah untuk ukuran mereka. Temannya mengerjap-ngerjapkan mata mengantisipasi respon sungguhan Johnny. “Sudah lewat berapa hari sejak kejadian, heh? Ngomong-ngomong, kau perlu potong rambut, Yuta.”


Yang disebut namanya langsung menggenggam sejumput rambut di tengkuk, “Ini?” sebelum Johnny bahkan menjawab ia melanjutkan, “aku suka rambut panjang,” ucap Yuta mengangkat bahu acuh tak acuh.


Johnny terkikik kecil khasnya, “Lagipula kau memang lebih cocok rambut panjang.”


Air muka Yuta berubah cerah, “Trims,” senyumnya. Melihat Johnny tak lagi mengalamatkan maslahatnya, Yuta pun kembali membuka suara, “Koreksi, baru lewat satu hari sebenarnya. Dengar-dengar dia penggemarmu.”


“Apa?” baru terlihat ketertarikan di wajah Johnny. Yuta mengangguk saja. “Uh, maksudmu yang ada di video itu?” Johnny bergidik ngeri membayangkan bila itu benar penggemarnya.


“Oh, bukan, bukan,” yang lebih muda selisih bulan itu mengibas-ngibaskan tangan, “Kau tidak tahu, berarti?”


“Apa ini penggemar berbeda?”


Yuta mengangguk lagi, membuat Johnny mendengus tak percaya mengingat banyaknya penggemar yang sudah memijak kaki di bus mereka. “Setelah staf keamanan kita mengecek dan memanggil polisi, selang berapa menit seorang penggemar entah bagaimana menyusup dan meninggalkan sebuah surat. Bus dalam keadaan sudah terkunci saat itu.”


“Ah, yang benar,” ucap Johnny skeptis.


“Yeah,” Yuta mengucek-ucek mata yang lelah setelah seharian bergerak, “kau harus baca suratnya sebab itu dalam bahasa Inggris. Entah kenapa instingku bilang itu penting,” ujar Yuta serius secara tak perlu, “Yang bisa kutangkap dari suratnya hanya kata ‘johfam’ jadi aku yakin itu penggemarmu.”


“Di mana suratnya?” Johnny tak yakin ia ingin tahu sebetulnya—siapa pula yang mau mengakui penyusup sebagai penggemar? Namun perkataan Yuta lumayan terpercaya. Teman sebayanya itu seorang yang berpegang teguh pada omongan lagipula; apa yang keluar dari mulutnya, itu yang dia lakukan, sampai akhir tak akan berbalik badan.


Yuta menggaruk-garuk kepala kikuk meski tak gatal, “Uh … mungkin di tong sampah,” ia membersihkan kuku menghindari pandangan Johnny kemudian.


“Apa-apaan …,” Johnny menjawab datar. Namun cukup membuat Yuta bergetar di dalam dada mengetahui Johnny bisa menjadi seram saat tak senang, “Sumpah, dengar, bukan aku yang membuang,” si rambut merah berkilah dengan dua jari teracung membentuk v, “coba kautanya Jaehyun. Dia yang terakhir kali memegang.”


Johnny mengibas tangan dan langsung mengubah posisi untuk berbaring, “Hm, besok saja,” katanya tak sungguh-sungguh sambil menarik selimut dan menyamping menghadap Yuta, “Kau kelihatannya tahu benar tentang ini. Manajer kita tahu juga, tidak?”


Seketika Yuta menyengir picik, “Tidak. Aku saksi mata pertama saat gadis itu keluar dari bus dan buru-buru lari saat kupanggil,” nadanya sedikit terlalu bangga untuk perihal surat-menyurat sepele ini, pikir Johnny. “Aku sudah hampir mengambil fotonya untuk jadi bukti kepada Abang Manajer dan, mungkin, polisi. Saat kucoba membuka pintu bus, dan itu sungguh terkunci sama sekali. Di situlah aku merinding.”


Johnny mengerutkan kening sementara Yuta menyapukan rambut ke belakang dengan gerakan dramatis, “Jadi kuputuskan untuk tak beritahu siapa-siapa.” Yuta benar-benar menganggap hal ini layaknya kasus perdetektifan atau apa. Yang jangkung sudah membuka mulut protes hanya untuk disela, “Tapi tampaknya semesta memutuskan ini bukanlah rahasia yang harus kusimpan sendirian.”


Ngomong apa lagi dia? Johnny memperhatikan tanda-tanda mabuk di wajah Yuta; nyatanya nihil.


“Maka saat pintu bus akhirnya dibuka oleh sopir, kucoba periksa seluruh ruangan kalau-kalau tertinggal barang berbahaya—kalian masih dalam perjalanan menuju bus—tiba-tiba Jaehyun datang membantu—”


“Terang saja kubantu. Kau yang mondar-mandir seperti orang bingung selama lima menit di depan mataku,” suara gerung agak serak terdengar dari bilik di atas kepala Yuta. “Orang waras manapun pasti akan membantu supaya kauberhenti melakukan apapun itu yang kaulakukan."


Dua pasang mata lantas mengarah ke atas. Sedetik kemudian, dari balik tirai menyembul kepala bersurai pink kotor dengan mata memerah sehabis tidur: Jaehyun.


“Tidak bisakah kalian diam? Ini sudah setengah tiga, yang benar saja.”


Alih-alih tersinggung, Yuta justru tersenyum jenaka khas dirinya sembari terkekeh, “Aih, adik kita nan sensitif suara ini bobo-nya terganggu, ya,” suaranya dibuat kekanak-kanakkan.


Hal itu cuma membuat wajah merah asli Jaehyun semakin memerah, “Ugh, diamlah, Bang,” ia kembali menutup tirai kasar, “atau kubocorkan opinimu tentang foto Bang Johnny di Miami,” gumam Jaehyun, yang malangnya cukup terdengar jelas di tengah keheningan deru laju bus.


Yang diancam itu pun segera membelalakkan mata menatap Johnny dengan mulut kian ternganga, tak percaya Jaehyun mengkhianatinya begitu saja hanya perkara susah tidur.


Sementara Johnny sudah memasang muka menuntut penjelasan, “Kukira selama ini kita sungguhan teman. Tapi ternyata kau tipe teman yang senang membicarakan teman dari belakang.”


Johnny menghela napas mendramatisir pura-pura kecewa dan lelah—di satu sisi memang lelah karena aktivitas tur ini—demi melihat reaksi Yuta. Lalu berbalik badan menghadap dinding bus, seakan bersiap tidur.


“Eh, bukan begitu. Johnny, dengar dulu. Aku—” ia lantas menggigit bibir ragu. Sebelum akhirnya menyerah dan menghembuskan napas, “Baiklah, baiklah, aku akan jujur.”


Johnny perlahan berbalik badan lagi memandang Yuta, dengan raut masih terluka. Yuta jadi merasa tak enak mengingat mereka, kurang lebih, dalam samar-samar ingatan, memang pernah berjanji untuk saling transparan mengenai satu sama lain.

 

Sebab Johnny adalah konselor pribadinya di kala ia sedang di titik terendah kehidupan.


“Sebenarnya, aku bilang …,” Yuta berkutat dengan jari-jari tangannya, canggung dan gugup, “Tapi kau janji jangan tertawa, oke?”


Johnny mengangkat sebelah alis. Namun Yuta bersikukuh, “Janji dulu.”


“Oke,” balas Johnny malas-malasan, namun tetap memfokuskan pandangan pada Yuta, membuat Yuta semakin gugup saja. “Apa itu? Opinimu,” desak Johnny lagi.


Wajah Yuta terasa kian memanas, “Anu …,” ia terbata, “kautahu, kan, foto-foto kita dengan outfit musim panas di pantai Miami? Baju putih plus celana pendek.”


“Uh-huh,” jawab Johnny singkat, masih tak bisa mengaitkan apa hubungannya.


“Di situ kau …,” Yuta menelan ludah, “mungkin, mungkin ..., menurutku terlihat sedikit keren dan, seksi dengan lengan baju digulung dan celana di atas lutut.”


Johnny mendengus keras tak menyangka dengan apa yang baru didengar. Kontan saja ia terbahak keras tanpa ampun.


Sekejap kemudian suara tawa renyah lain pun mengiringi milik Johnny, yang tak lain dan tak bukan berasal dari mulut Jaehyun. “Begundal ini …,” gumam Yuta menggeretak gigi sambil menatap ke arah atas seakan sinar mata bengisnya bisa menembus tirai dan mengoyak Jaehyun.


“Sudah kubilang jangan tertawa!” gantian ia memelototi Johnny yang memegangi perut seraya terkekeh tak henti memandangi Yuta—yang seketika rasanya ingin terjun dari bus saja. “Inilah alasan kenapa aku tak mau mengatakan padamu. Kau sudah janji untuk tak tertawa lagipula, ugh,” sekarang giliran Yuta yang bergegas menarik selimut hingga kepala berharap meredam gelak nyaring Johnny; malu.


“Oke, oke, sorry,” Johnny mengusap air di sudut mata hasil tawanya tadi, “Paling tidak kita impas; kau membicarakanku di belakang, sedangkan aku tak tahan kalau tidak tertawa.”


Tak ada jawaban. Yuta tetap bergeming di bawah selimut.


“Yuta? Yuta,” panggil Johnny terheran. Ia biasa bercanda adu argumen begini dengan Yuta dan tak satu pun dari mereka pernah sakit hati.


Jaehyun pun menyibak tirai kembali dan menjulurkan kepala ke bilik di bawahnya, “Bang, Yut?” suaranya terdengar tak enak. Ia melihat Johnny bangkit dari kasur dan menghampiri Yuta.


“Hey, sorry,” ucap Johnny untuk kedua kali sembari meletakkan tangan di punggung Yuta. Namun yang satu lagi kerap hening. Membuat ia mau tak mau menyingkap selimut Yuta dalam satu tarikan napas.


Ketika pemandangan di depannya membuat ia terkesiap. “Hah.”


Yuta mendengkur halus dengan mulut sedikit terbuka. Ragu, Johnny menggerak-gerakkan telapak tangan di depan mata Yuta—memastikan jika dia bisa melihat. Johnny bisa jadi berpikir ia hanya pura-pura, namun napas Yuta yang teratur sungguh terlihat meyakinkan. Temannya itu tidak pandai berpura-pura lagipula, ia mungkin sudah tertawa detik ini juga jika itu hanya akting.


“Bisa secepat itu terlelap? Dia terkena bius atau apa,” mata Jaehyun melebar terkesima.


Johnny, meski dengan dahi berkerut, berusaha memikirkan alternatif positif, “Well, pasti dia benar-benar lelah,” ia mengembalikan posisi selimut Yuta hanya sampai lehernya, “Dia biasa tidur cepat, kan.”


Yang paling kecil mengangkat bahu lebih kepada diri sendiri. Dengan mulut mengerucut penuh tanda tanya, ia kembali menarik diri ke dalam kubik kecil tempat tidurnya.


Sementara Johnny mematikan lampu tidur Yuta dengan menekan saklar di dekat sudut siku ‘kamar’ berukuran 0,8x2m itu. Alih-alih mati, cahaya yang tadi berwarna putih keemasan kini berubah jadi merah temaram, dan berkedip konstan dengan teramat lambat. Entah berapa kali sudah Johnny mengerutkan kening hari itu.


Tapi rasa kantuk yang perlahan menyergap membuat ia tak berpikir panjang akan hal tersebut. Ia kembali memanjat ke dalam biliknya sendiri, menarik tirai berikut selimut, lalu mematikan lampu dengan mata yang sudah setengah terkatup.


Tak menunggu lama sampai suara dengkuran Johnny terdengar sepanjang lorong bus.



--190510—


What would you do if you woke up tomorrow and all of this were just a dream?” MC berbadan gempal itu membacakan pertanyaan seorang penggemar. Ini kali pertama mereka mendengar pertanyaan ‘dalam’ semacam ini alih-alih sekadar tinggi badan atau pasta gigi/air terlebih dahulu. Tak dipungkiri lumayan membuat mereka ber-oh~ serempak.


Sementara yang lain masih berpikir, Johnny tampaknya memutar otak lebih cepat—hal yang semakin hari sudah biasa ia lakukan demi menyelamatkan grup atau mengisi keheningan, “Go back to sleep?”

“Ahahah …,” leader mereka tertawa dengan mik tersodor depan mulutnya dipegangi Mark, lalu mengacungkan jari telunjuk ke arah Johnny yang duduk di ujung belakang sebagai tanda apresiasi atas jawaban cerdik sejawatnya.


Gotta go back to that dream!” Mark mengamini dengan antusiasme.


Taeyong secara lambat-lambat juga ikut menjawab, “Firstly, dang?”


Dang!” Johnny mengulangi dengan senyum tipis. Setelah sekian lama ia memberitahu ungkapan Inggris tersebut pada Taeyong, baru kali itulah diucapkan di depan kamera. Sejenak ada rasa puas tersendiri hinggap di dalam dada.


Sementara MC berpindah ke pertanyaan berikutnya, Johnny tiba-tiba merasakan sesuatu menyelusupi sepatu secara berangsur-angsur yang semakin lama semakin jelas terasa teksturnya; seperti pasir ….



-0-


“Oh, dang!” Johnny menyentak diri kembali ke posisi tegak setelah cukup lama memeluk lutut. Entah mengapa semua memori-memori barusan berkelebat cepat di pikiran tepat di saat seperti ini. Memang ia tak percaya takhayul atau hal-hal sejenis tapi mungkin ini pertanda.


Pertanda kalau ia sedang bermimpi.


Ya, benar, pikir Johnny sedikit lega. Ia langsung menampar pipi sendiri, “Aw!” rintihnya pedih.


Mungkin ini rasa sakit yang ada dalam mimpi, tidak nyata, ia bersikukuh dalam hati. Tahap selanjutnya ia memposisikan diri dalam lingkaran besar jelek tak sempurna yang tadi jadi tempat ia tidur.


Kalau ia berusaha sedikit lebih keras harusnya ia bisa tidur dan kembali ke dunia nyata; kembali bertemu yang lain. Harusnya.


Ia membaca-baca doa dalam hati berharap Tuhan mendengarnya dan ini semua memang tak lebih dari sekadar mimpi di alam bawah sadar.


Meski tak nyaman berbaring di pasir, dan melalui beberapa kali balik-balik badan hingga baju putih pun berubah keabuan di beberapa sisi, Johnny akhirnya tertidur pulas juga dengan posisi meringkuk. Angin yang sepoi-sepoi syahdu pastilah salah satu faktor pembantu.


Seperti sihir, pasir di bawah kaki telanjang Johnny bergerak secara lembut menyelimuti laki-laki itu; mulai dari sela-sela jari kaki, memanjat ke tungkai kakinya nan panjang, berangsur menuju pertengahan badan, sampai dengan sempurna menjalar menutupi seluruh badan hingga kepala.


Diiringi bunyi ‘poof!’, ia lenyap dalam sekejap dari daratan asing itu.


Daratan berjuta kemungkinan, yang bernama, Pulau Sentana.[]