Actions

Work Header

PRISON

Summary:

Apa yang mampir di pikiranmu jika kau mendengar kata ‘penjara’?
Sebuah kamar kecil kotor dan berbau apek dengan jeruji besi?
Sebuah arena di kelilingi pagar tinggi di mana kau dijagai seperti binatang liar tanpa akal budi?
Padahal terkadang penjara adalah perasaan dan emosi
“Jyuto memenjarakan seorang penjahat di rumahnya.”

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

“Jyuto memenjarakan seorang penjahat di rumahnya.”

.

.

P R I S O N

Hypnosis Microphone © Otomate & King Records

I take no profit from this fan work

Iruma Jyuto x Kannonzaka Doppo

Past Izanami Hifumi x Kannonzaka Doppo

Angst | Crime | Mature content | Love Triangle

(1/3)

.

.

Apa yang mampir di pikiranmu jika kau mendengar kata ‘penjara’?

Sebuah kamar kecil kotor dan berbau apek dengan jeruji besi?

Sebuah arena di kelilingi pagar tinggi di mana kau dijagai seperti binatang liar tanpa akal budi?

Padahal terkadang penjara adalah perasaan dan emosi

.

.

Bagi Kannonzaka Doppo, yang akan ia sebut penjara adalah sebuah apartemen luas dan mewah di pusat Yokohama. Sebuah kamar tak terkunci, tanpa penjagaan berarti karena polisi penjaga tempat itu kelewat meremehkannya.

Tidak salah. Doppo memang lebih memilih untuk tidak menginjakan kaki keluar dari tempat ini. Setidaknya, untuk sementara waktu, berada di sisi seorang Iruma Jyuto adalah pilihan paling logis dan teraman yang bisa ia ambil.

Ironis. Padahal dibanding Doppo, pria berprofesi polisi itu jauh lebih berbahaya. Doppo bisa jadi adalah otak dari beberapa tindak kejahatan besar, informan penyebab keributan dunia belakang. Tapi level seorang Iruma Jyuto berada jauh di atasnya. Cukup untuk bisa membuatnya menahan penjahat sekelas Doppo di sisinya.

Jadi siapa yang sebetulnya ‘penjahat’ di sini?

Sungguh, Doppo juga ingin tahu jawaban dari pertanyaan itu.

“Apa yang kamu lakukan seharian ini?”

Jyuto sesungguhnya tahu apa jawaban untuk pertanyaan itu tanpa perlu bertanya. Bukankah rutinitas seorang Kannonzaka Doppo selalu sama?

Doppo akan duduk seharian di kamar kerjanya mulai dari waktu Jyuto pergi sampai pria itu kembali pulang. Mengerjakan berbagai hal yang sulit dipahami oleh orang awam. Pria berambut coklat kemerahan akan dengan mudah membobol sistem fire wall bank data negara, memindahkan saldo konglomerat kotor ke rekening yayasan kemanusiaan, menyelam ke dalam website berbahaya di mana obat dan senjata diperdagangkan, meretas berbagai informasi yang dapat diperjualbelikan kembali dengan harga tinggi.

“Tidak ada yang khusus.” Doppo menjawab tanpa menoleh ke balik punggungnya. Layar komputer berkedip, menampilkan kode pemrograman kompleks yang bergerak begitu cepat. Memusingkan  orang yang tidak terbiasa. “Aohitsugi.”

“Belakangan ini, Samatoki sering sekali memanfaatkanmu ya?” Jyuto yang semula berdiri dengan bersandar pada kusen pintu melangkah mendekat. Melingkarkan lengannya di pundak pria yang lebih kurus, Jyuto bertanya lagi. “Apa bayarannya sesuai?”

“Lumayan.”

Selalu jawaban pendek. Seolah Doppo malas beramah tamah dalam sebuah sesi tanya jawab yang hangat bersama Jyuto.

“Kali ini informasi apa?” Jyuto persisten. Menggosokan ujung hidung mancungnya ke belakang telinga Doppo. Pria yang mencoba mengusirnya dengan menggerakan pundak itu masih berbau harum sabun. Maklum saja, sejak mandi tadi pagi, Doppo terus berada di ruangan berpendingin dan duduk anteng berhadapan dengan program juga sesama peretas data via internet.

“Bukan urusanmu, Jyuto-san.”

Oh. Sungguh, Iruma Jyuto tidak menyangka tiba masanya di mana Doppo bersikap sebegini dingin. Kaku. Seolah dirinya adalah robot tanpa emosi.

“Tengoku?”

“Kalau sudah tahu kenapa bertanya lagi?”

“Kamu berubah.” Jyuto akhirnya melepaskan pelukannya, memberi ruang pada Doppo untuk bekerja lebih serius. “Dulu kamu tidak seperti ini. Kamu lebih—”

“Orang berubah, Jyuto-san. Kamu juga menjadi semakin buruk bukan?” Doppo melemparkan komentar sarkastik masih dengan wajah datar. Ekspresi dingin yang membuat Jyuto gemas alih-alih emosi. “Dulu kenakalan Jyuto-san hanya sekedar merokok di halaman belakang sekolah.”

“Dan menertawaimu yang tersedak asap rokok pertamamu,” tambah Jyuto dengan senyum dan dengus geli.

Senyap. Yang mengisi kekosongan hanya suara jemari Doppo yang menari di atas keyboard.

“Jyuto-san bisa mandi duluan jika mau.” Doppo berkata tanpa menoleh. “Aku masih akan sibuk untuk satu jam ke depan.”

Jyuto sudah terbiasa dengan tingkah tawanannya yang satu ini. Bahkan, Jyuto bisa dibilang menyambut dengan senang hati sikap Doppo seperti ini. Tanpa canggung dan malu menguasai teritori Jyuto seolah dia adalah ratu yang turut punya hak atas tanah seorang raja.

“Tidak mau menemaniku?”

“Tidak.”

.

.

Kenakalan remaja Doppo sebatas membolos dan mencuri kesempatan merokok di halaman belakang sekolah. Bersembunyi di belakang gudang penyimpanan alat olahraga, bersama dengan sahabat masa kecilnya yang bernama Izanami Hifumi, Doppo menyalakan pemantik dan menyulut ujung batang nikotin.

Ide Hifumi tentu saja. Doppo bukan remaja yang gemar membuat masalah. Tapi dia tidak pernah cukup tegas untuk menolak ajakan sahabat pirangnya yang justru adalah magnet untuk banyak hal buruk—terutama karena tendensi untuk mencoba segala sesuatu paling tidak satu kali agar tidak penasaran.

“Doppo-chin? Kamu ketagihan merokok ya?”

Sayangnya, walau Hifumi yang memulai, Doppo seringkali menjadi yang lebih lama terjebak dalam masalah. Seperti saat ini.

Doppo tidak menjawab. Masih dalam diam menyesap nikotin yang membuat kepalanya terasa lebih ringan. Asap putih dihembuskan, menghilang di udara bebas.

“Ini salahku juga sih ya. Bahkan kita sampai ketahuan Iruma waktu itu.” Hifumi tertawa kecil. Tawa yang mengejek kebodohannya sendiri. Doppo tidak suka itu. Dia benci bagaimana Hifumi menyalahkan dirinya sendiri untuk kenakalan yang mereka lakukan bersama-sama.

“Bukan masalah kok.” Doppo memutar bola mata. Mengingat bahwa mereka dan sang ketua dewan siswa saling memergoki kesalahan masing-masing. “Siapa sangka dia ternyata lebih bandel dari kita?”

Lucu jika mengingat Iruma yang terkenal teladan itu justru yang memberi tips pada mereka berdua agar bisa merokok tanpa perlu terbatuk tolol.

Hifumi terkekeh pelan. Hanya sebentar sebelum ia kembali terdiam menyaksikan bagaimana Doppo menghisap rokoknya khidmat.

“Tidak boleh keterusan lho.” Hifumi menari lembut rokok dari mulut Doppo. “Aku kan tidak mau Doppo meninggalkan aku lebih dulu cuma karena merokok.”

“Hifu—”

Bibir Hifumi mengecup lembut bibir Doppo. Sentuhan yang polos. Ciuman pertama yang diminta tanpa permisi tapi pada akhirnya dibiarkan begitu saja.

Memang, Hifumi Izanami akan selalu menjadi kelemahan Doppo.

“Doppo-chin.”

Ibu jari Hifumi bergerak, mengusap permukaan bibir pucat yang lembut dan kenyal. Tidak mendapat perlawanan, ujung lidah menyusuri garis bibir. Ciuman kedua mendarat. Masih dengan hati-hati, selembut yang Hifumi bisa.

Karena Doppo di mata Hifumi adalah eksistensi rapuh dan cantik yang harus dijaga dengan seksama.

Doppo membiarkan Hifumi merapatkan tubuh mereka, tak menjadikan fakta bahwa ia terkepung di antara Hifumi dan dinding sebagai suatu masalah.

“Kau pernah mencium orang lain sebelum ini, Hifumi?” Doppo tidak tahu standar ciuman yang baik seperti apa. Tapi Hifumi berhasil membuat Doppo merasa kakinya lemas seperti agar-agar.

“Tentu tidak pernah.” Hifumi tertawa. Pipinya memerah. “Hanya Doppo saja kok.”

Hifumi memeluk Doppo. Disembunyikannya wajah di ceruk leher pemuda yang lebih pendek. “Aku hanya akan melakukan hal-hal seperti ini pada Doppo.”

Doppo merasa wajahnya menghangat, jauh lebih merah dibanding semu merah jambu di pipi Hifumi. Salah tingkah, ia hanya bisa menepuk-nepuk punggung Hifumi.

“Jangan lakukan pada orang lain.”

.

.

Di usia menginjak tiga puluh, kini ciuman yang Doppo dapatkan bukan lagi sentuhan polos dan hati-hati dari sahabat kecilnya. Yang ada untuknya sekarang adalah kecupan sensual yang mengirim geletar listrik ke sekujur tubuh dari seorang Iruma Jyuto.

“Aku sedang tidak mood, Jyuto-san.” Doppo mendorong dada Jyuto menjauh. Bergeser ke pinggir tempat tidur, Doppo berbalik badan. Memunggungi Jyuto yang kini menatapnya dengan amarah tertahan.

“Tidak ada bayaran untuk tuan rumahmu yang baik hati, huh?” Jyuto menertawakan situasi saat ini. Dia seorang pria yang digilai banyak orang. Tampan dan punya posisi penting di kepolisian. Tapi nyatanya itu tidak cukup untuk seorang Doppo. 

Doppo tidak menjawab. Menggulung dirinya dengan selimut yang beraroma seperti Jyuto, Doppo berusaha untuk bisa segera lelap.

“Doppo.” Hela napas berat.

Bohong jika Jyuto bilang dia tidak kecewa. Setelah sekian banyak pengorbanan yang dia lakukan untuk Doppo, setelah mempertaruhkan karir dan kepala dengan menyembunyikan seorang peretas di apartemennya sendiri, dia berharap Doppo bisa sedikit saja melihat ke arahnya.

Sedikit saja, Jyuto berharap Doppo bisa memandangnya sama seperti cara pria itu memandang Hifumi.

“Aku harus bangun pagi besok.” Doppo menoleh sedikit ke belakang. Hatinya sendiri terasa sakit melihat ekspresi Jyuto yang adalah campuran kekecewaan, amarah, dan mungkin cemburu.

“Baiklah. Aku mengerti.”

Jyuto harus mengerti. Mau, tidak mau. Suka, tidak suka. Karena jika sekarang ini dia salah memainkan kartunya sedikit saja, Doppo dengan mudah akan pergi. Dan mencarinya nanti akan menjadi sebuah perkara sulit yang buang-buang waktu.

Doppo berharap bisa menghapus sedikit rasa bersalahnya pada Jyuto. Maka dari itu, ia menarik belakang kepala polisi berambut gelap. Mendaratkan ciuman Perancis tanpa benar-benar merasakan gairah untuk melakukannya.

“Maafkan aku, Jyuto-san,” lirih Doppo usai tautan bibir mereka terlepas.

Jyuto bukannya idiot. Dia tahu apa maksud ciuman ini, tanpa perlu Doppo meminta maaf. Namun, alih-alih menolak karena harga dirinya terluka, dia sudah memutuskan menerima apapun yang bisa ia dapatkan saat ini.

“Jyuto-san!”

“Ssh.”

Jyuto meletakan telunjuknya di bibir Doppo. Selimut disibak. Jyuto menarik karet celana piyama Doppo. Doppo menahan pergelangan tangan Jyuto sebelum ia benar-benar habis dilucuti. Matanya menatap serius, menyiratkan ketidaksetujun.

“Kau hanya perlu diam saja, Doppo. Dan kupastikan kau tidak akan bangun terlambat besok.” Jyuto mendaratkan kecupan di daun telinga Doppo, membaui harum shamponya sendiri dari rambut pria di bawahnya. “Serahkan semua padaku.”

.

.

Kacamata berbingkai tebal menutupi mata cantik yang sangat Jyuto sukai. Topi baseball hitam dengan inisial huruf ‘I’ menaungi wajah pria yang akan Jyuto daulat sebagai yang paling rupawan di Yokohama.

I untuk Izanami. Walau Jyuto terkadang menolak kenyataan bahwa I itu bisa saja untuk Iruma, tapi ia ingat jelas siapa pemilik topi itu sebelum Doppo menjadikannya properti pribadi.

“Kenapa Jyuto-san mengikutiku?”

“Apa aku tidak punya hak mengunjungi Izanami?” Jyuto memasang wajah pura-pura terkejut. “Kita bertiga berteman.”

Ya dan tidak. Lucu rasanya sebuah pernyataan bisa terasa benar sekaligus salah di saat bersamaan. Dulu, Jyuto dan Hifumi selalu terlibat rivalitas yang aneh. Mereka saling benci namun menoleransi keberadaan satu sama lain karena adanya Doppo di tengah mereka.

Doppo menatap Jyuto curiga. Mata menyipit ketika mencari perubahan ekspresi di wajah tenang sang polisi. Nihil. Dia tidak menemukan apa-apa di sana.

“Tunggu apa lagi?” Jyuto menggandeng tangan Doppo tanpa izin, memasukan tangan itu ke saku coat hitamnya. Doppo dapat merasakan ibu jari yang terbungkus sarung tangan merah mengusap buku-buku jarinya. “Aku yang menyetir.”

Doppo tidak diberi kesempatan menolak. Jyuto langsung menariknya memasuki lift apartemen. Sepanjang perjalanan turun dari lantai dua belas menuju basement, beberapa orang keluar masuk di lift yang sama. Doppo jadi merasa bahwa memang sebaiknya dia bersama Jyuto. Terlalu lama mengurung diri membuatnya gelisah jika harus bersama dengan orang lain, sekalipun mereka tidak tahu dirinya siapa dan apa saja yang sudah diperbuatnya.

Jyuto yang menyadari hal ini mengetatkan genggaman tangannya pada Doppo.

.

.

“Kau pacaran dengan Izanami?”

Pertanyaan itu membuat tangan Doppo yang sedang membereskan arsip spontan berhenti.

“Apa pertanyaanku kurang jelas?” Jyuto mengulangi sekali lagi. “Apa kau pacaran dengan Izanami?”

Doppo tidak curiga sama sekali ketika Jyuto memintainya bantuan sepulang sekolah. Ia sudah cukup terbiasa. Jyuto si ranking satu sekolah lebih percaya pada Doppo yang duduk di peringkat dua untuk membantunya menyelsaikan berkas dan proposal ketimbang si sekretaris sebenarnya.

Sinar matahari sore menembus kaca jendela. Cahaya jingga membuat Doppo sulit menerka ekspresi macam apa di wajah Jyuto saat ini.

“Ti...dak.” Doppo menjawab ragu. “Kami teman baik.”

“Apa kau akan mencium temanmu sendiri, Doppo-kun?”

Pertanyaan itu membuat Doppo tahu bahwa Jyuto lagi-lagi memergokinya dan Hifumi. Hanya saja lebih parah dari insiden pertama mereka coba-coba merokok.

“Iruma-kun.” Doppo melangkah mundur. Jyuto mendekat padanya dengan tatapan tajam. Tangan kanan melewati samping telinga Doppo. Tangan kiri menarik dasi hitam seragam mereka. Doppo tertegun. Membeku.

Jyuto begitu dekat. Doppo baru menyadari betapa panjang bulu mata sang ketua dewan siswa. Pandangan Jyuto menusuk, membuat Doppo terpaku.

“Jika kau bisa mencium temanmu...” Jyuto berbisik. Suara yang hampir tenggelam karena Doppo sibuk menenangkan debaran jantungnya sendiri. “Bukankah kau seharusnya bisa menciumku juga?”

Mungkin benar kata Hifumi. Doppo memang penuh celah, mudah lengah. Karenanya Hifumi selalu berhasil mencuri ciuman kilat dari Doppo. Dan kali ini, Jyuto juga memanfaatkan momen itu.

“Iruma-kun!” Doppo berusaha mendorong dada Jyuto menjauh. Tapi Jyuto Iruma tidak suka dilawan. Dia selalu menjadi nomor satu di sekolah. Dan egonya mengatakan bahwa seharusnya dia juga menjadi nomor satu di mata Doppo.

“Hng!”

Doppo terpaksa menggigit bibir Jyuto agar pria itu melepaskannya. Sebelum Doppo benar-benar kehabisan napas dan kehilangan akal sehat, sebaiknya ia menghentikan invasi kurang ajar ini.

“Iruma-kun...” Doppo mengelap basah di bibir dengan punggung tangan. “Apa yang kau lak—”

Jyuto membuang muka, memandangi jari yang terkena darah usai mengecek efek gigitan Doppo di bibirnya.

“Aku menyukaimu, Kannonzaka.”

Jauh sebelum Izanami menyadari perasaanya sendiri padamu. Aku tahu karena selama ini aku selalu memerhatikanmu.  

“Apa?” Doppo mengrenyitkan dahi. “Sejak... kap—”

“Sejak awal kita berkenalan...” Jyuto melirik Doppo. “Jika tahu akan seperti ini, aku tidak akan melakukan pendekatan lambat. Seharusnya langsung kurebut saja kau dari sisi Izanami.”

.

.

“Pagi, Hifumi. Maaf lama tidak mengunjungimu.”

Karangan bunga diletakan di depan pusara putih. Doppo dapat melihat sisa-sisa dupa yang masih baru, tanda bahwa keluarga Hifumi baru saja mengunjungi makam pria itu.

Jyuto menjaga jarak, membiarkan Doppo memejamkan mata dan berdoa barang sebentar. Dia memang posesif, tapi tidak cukup ‘sakit’ untuk mengganggu orang yang sedang berziarah. Lagipula, seperti apapun ia cemburu pada Hifumi, yang bersangkutan saat ini sudah menjadi abu. Tak pantas membuatnya terbakar api cemburu seperti ketika mereka masih begitu muda dulu.

Angin musim gugur berhembus kencang. Jyuto dapat melihat bahwa meski hari masih siang dan langit begitu cerah, di kejauhan awan hitam bergulung-gulung seperti permen kapas. Menandakan akan datangnya hujan. Maka dari itu, segera setelah Doppo berdiri usai berdoa, Jyuto menepuk pundaknya, merangkul pria itu kasual untuk berjalan kembali ke arah mobil.

“Kannonzaka-kun?”

Sebuah panggilan menghentikan langkah Doppo dan Jyuto. Ketika mereka menoleh, seorang ibu berwajah mirip sekali dengan Hifumi menatap ragu.

“Ma—maaf. Kamu...”

Jyuto mengambil alih situasi sebelum terjadi masalah lebih jauh lagi. Menyembunyikan Doppo di belakang tubuhnya, dia berkata. “Nyonya mungkin salah mengenali orang.”

Doppo merasa beruntung tidak membuka kacamata, dan topinya. Tanpa kamuflase, tidak mungkin ibu Hifumi gagal mengenalinya. Doppo yang sekarang memang jauh lebih kurus, lebih muram, lebih dingin. Aura Doppo berbeda dengan ketika Hifumi masih ada bersamanya. Tapi ibu Hifumi mengenalnya sejak ia kecil.

“Ah. Begitu?” Meski demikian, wanita itu masih berusaha mencuri lihat ke belakang punggung Jyuto.

Jyuto mengeluarkan senyum yang paling meyakinkan. “Kami permisi, Nyonya.”

Doppo mati-matian menahan air mata yang merebak agar tidak menetes. Diikutinya langkah-langkah cepat kaki panjang Jyuto Iruma tanpa protes.

Jyuto membukakan pintu mobil. Mendampingi Doppo sebelum kemudian duduk di tempatnya sendiri, di belakang kemudi. Ia menyadari Doppo gemetar, maka dipacunya mobil secepat ia bisa. Tujuan bukan hal yang pentin sekarang ini.

Ia hanya ingin membawa Doppo pergi. Jauh dari kenangan-kenangan yang menyakitkan.

.

.

Doppo tidak ingat apa yang dilempar bibi Izanami saat itu padanya. Tapi rasanya sesuatu yang cukup tajam. Cukup ampuh membuatnya mendapat empat jahitan luka di pelipis kanan.

Makian itu terasa seperti baru didengarnya kemarin. Kericuhan di rumah sakit. Kemarahan seorang ibu yang kehilangan putra kesayangannya.

“KAU MEMBUNUH ANAKKU!”—tuduhan pedas yang menyakitkan. Membuat Doppo sendiri merasa ingin ikut mati. Menyusul Hifumi saat itu juga. “JIKA BUKAN KARENA MELINDUNGIMU MAKA HIFUMI—!”

Butuh tiga orang perawat pria untuk menahan ibu Hifumi yang marah dengan membabi buta.

Tapi hanya perlu seorang Iruma Jyuto untuk menahan Doppo untuk tidak benar-benar mati.

“Bukan salahmu.” Jyuto menggenggam tangannya saat itu. “Tapi kalau bisa membantu meringankan perasaanmu, Doppo. Ikutlah denganku. Aku akan membantumu.”

Doppo masih ingat dengan jelas ketika takdir memainkan kartunya dalam cara yang menggelikan. Kematian Hifumi mengantarkannya pada seorang polisi yang tak lain dan tak bukan adalah orang yang pernah memaksakan cinta padanya.

Iruma Jyuto.

.

.

“Kenapa kau menyukaiku, Jyuto-san?”

Pertanyaan itu dilemparkan setelah keheningan yang berlangsung kurang lebih lima belas menit. Jyuto memarkir mobilnya di tanah lapang, membiarkan suara musik instrumental berduet dengan bunyi deras hujan yang memukul kaca jendela.

“Apa tidak boleh?”

“Aku penjahat.”—aku bukan Doppo yang dulu, yang pernah kau sukai.

“Aku bisa menjadi pesaingmu untuk penghargaan penjahat intelektual tahun ini.”

Jawaban Jyuto ringan. Tapi Doppo tahu itu bukan sebuah candaan. Bukannya mereka sudah paling tahu kebusukan masing-masing? Iruma Jyuto si polisi kotor yang menghalalkan segala cara untuk menyelesaikan kasus—termasuk memanfaatkan para penjahat itu sendiri seperti bidak yang bisa dibuang ketika sudah mati langkah—dan Kannonzaka Doppo; peretas yang paling dicari karena begitu banyak insiden yang timbul sebagai akibat perbuatannya.

Jyuto menyibak poni Doppo lembut, menyentuh ringan bekas luka di pelipis Doppo.

“Kematian Hifumi itu bukan salahmu.”

“Jika bukan karena melindungiku, dia masih akan ada di sini.”

“Jika bukan karena dia dan pilihan pekerjaanya yang bodoh sebagai host, kamu tidak akan pernah menjadi seperti sekarang ini.”

Kematiannya menjadikanmu seperti ini.

Jyuto dan Doppo berbalas tatap. Keduanya sama-sama mencari makna tersirat dari ucapan masing-masing.

Tak ada apapun. Doppo serius masih menyalahkan dirinya sendiri setelah semua yang terjadi. Jyuto juga teguh pada pendapatnya bahwa Doppo tidak bersalah.

Jika bisa, ingin rasanya Jyuto singgah sebentar ke alam sana—tempat mereka yang telah tiada—untuk menghajar Hifumi karena kematiannya merusak Doppo sampai seperti ini. Hifumi bisa tetap mati. Jyuto dengan senang hati mengambil tempat dan perannya mengurusi Doppo sampai akhir hayat pria itu nanti. Tapi andai waktu bisa diputar kembali, Jyuto berharap cara kepergian pria itu bisa lebih baik lagi, agar Doppo tak perlu menjadi tawanan dari rasa bersalah itu sendiri.

Ponsel Doppo berbunyi. Caller ID menunjukan nama Aohitsugi Samatoki.

“Aohitsugi-san. Ada apa?”

“Kannonzaka. Aku perlu bertemu denganmu. Sekarang kalau bisa.”

“Sekarang?”

Jyuto mendengarkan dengan seksama.

“Minta si brengsek mengantarmu ke sini. Apa susahnya sih? Kau akan menyesal kalau melewatkan kerja sama denganku kali ini.”   

Untuk orang dunia belakang yang memakai jasa informan seperti Samatoki, Doppo dan Jyuto mungkin sudah dianggap sebagai satu paket lengkap. Peretas data handal dan seorang polisi aneh yang suka rela menampung dan bahkan melindunginya.

“Oke. Itu bukan ancaman. Tapi aku benar-benar perlu kau ke sini sekarang.”

“Ada masalah apa?”

“Ichiro menghilang. Aku tidak bisa menghubunginya sejak kemarin.”

Ah, Doppo mengerti. Tentu masalah besar jika anak kesayangan Samatoki, orang ketiga dalam klan setelah dirinya dan Nurude Sasara, menghilang begitu saja.

“Ini berhubungan dengan Tengoku. Ichiro sedang menginfiltrasi tim mereka. Dan mungkin setelah sekian lama, kau bisa menemukan Shitou Mozuku.”

Jyuto melihat tubuh Doppo yang mendadak kaku. Mata yang mendadak dipenuhi nafsu membunuh. Kepalan tangan Doppo mengetat.

“Aku akan ke sana.”

“Heh? Itu jawaban yang kuinginkan.” Samatoki mendenguskan tawa puas. “Kutunggu.”   

.

.

"Pain changes people. I never heard words truer than those."

.

.

To be continued

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Notes:

Tadinya mau buat plot Light Novel. Tapi ya kita lihat saja. Haha. Kalau kuat jadi LN paling tulisan sepotong-sepotong ini hilang. Kalau ga kuat ya seadanya lah. Aku ngisi waktu saja, sementara plot lain mandek.