Chapter Text
Minho menggebrak jam wekernya untuk memulai hari sebagai anak yang berbakti. Liburan semester sudah tiba, jadi dia akan membantu ibunya mengurusi toko bunga mereka. Lumayan, menambah uang jajan dan membuatnya tidak terlihat seperti mahasiswa nganggur kere yang menyedihkan.
Pekerjaannya dimulai dengan mengganti air, merapikan potongan batang kembang, mengecek persediaan dan label pada setiap wadah sebelum membuka toko. Sontekan tentang arti bunga beserta warna juga sudah disiapkan di kantong celemeknya. Meskipun ketika kebingungan ia bakal meminta tolong ibunya sih, tapi setidaknya kan Minho sudah terlihat berusaha.
Toko dibuka pukul sepuluh setelah selesai beberes dan sarapan. Tugasnya menjaga kasir dan merekomendasikan bunga. Ia belum mahir merangkai dan menurutnya sia-sia juga jika mahir merangkai tanpa bisa menyadari keindahan kumpulan bunga itu sendiri.
“Selamat datang!” Minho keluar dari bilik kasir untuk menyapa pembeli pertama hari ini. “Bunga apa yang anda butuhkan?”
“Hmm, kira-kira bunga apa yang bisa dibawa untuk kencan pertama?”
Minho menunduk sedikit dan berbicara sepelan mungkin. “Maaf, apakah ini untuk kencan buta atau belahan jiwa anda?”
Pria yang ia tanya terlihat salah tingkah, “A- apa ada bedanya?”
Minho tersenyum lebar, “Mungkin saya bisa merekomendasikan mawar untuk anda. Mari, sebelah sini.”
Pria di belakangnya mengikuti sambil menatap sekeliling mereka. Ia cukup sering melihat sejak ditugaskan menjaga kasir saat SMA. Biasanya yang kebingungan begini adalah orang yang belum lama bertemu belahan jiwanya.
“Anda bisa memilih yang disuka, kami memiliki banyak varian warna.” Minho berdehem kecil untuk menarik perhatian pelanggannya. “Mawar merah melambangkan cinta, mawar putih ketulusan dan awal yang baru atau mungkin mawar ungu yang melambangkan cinta pada pandangan pertama? Tapi maaf, untuk mawar ungu harganya agak sedikit mahal karena cukup langka.”
Pria di sampingnya mengerutkan dahi. “Apa bisa dikombinasi warnanya?”
“Tentu saja, anda bisa membuat kombinasi jika mau. Tetapi,” Minho sengaja memotong dan membuat sang pria mengalihkan pandangan dari mawar-mawar di hadapan mereka. “ Jika ingin langsung tepat pada sasaran. Saya sarankan dua belas mawar merah untuk mengatakan ‘aku mencintaimu, jadilah milikku’.”
“Oke, dua belas mawar merah kuambil.”
“Baik, akan saya rapikan untuk anda.”
Minho mengambili mawar dari tabung yang diberi tulisan kecil merah segar, sebelum dihentikan oleh pembelinya. “Ya, Tuan?”
“Orang yang akan kuberi bunga biasa memakai warna merah yang agak tua, bisa diganti merah lebih gelap?”
“Maaf Tuan, tapi artinya akan berubah menjadi penyesalan atau kesedihan.”
“Eh, bisa seperti itu?”
Minho tersenyum tipis. “Tentu bisa karena setiap warna, sekecil apapun bedanya akan memiliki arti yang berbeda. Sebab itu, setiap orang yang telah menemukan belahan jiwanya akan diberi anugerah untuk bisa melihat warna. Agar mereka menghargai setiap hal kecil dalam kehidupan mereka.”
“Ah, maaf. A- aku baru bisa melihatnya. Jadi belum banyak yang kupelajari.”
Minho hanya tersenyum lalu memproses pembuatan buket dengan cekatan. Buket satu warna memang lebih gampang, tidak butuh menghapal letak bunga beda warna, tinggal ikat lalu selesai. Pemuda itu mengucapkan selamat jalan dan silakan kembali kapan saja dengan senyum lebar.
Bermulut manis memang perlu di situasi seperti ini. Meski ia harus melempar analogi omong kosong dari serial drama yang selalu ditonton ibunya setiap malam. Haha, punya pacar saja belum, apalagi bertemu belahan jiwa.
-.-.-.-
Memasuki pertengahan musim panas, semua terasa sinting. Minho menempelkan plester dingin di pangkal lehernya yang tertutup kaos berkerah. Pendingin ruangan juga sudah bekerja keras agar tidak ada bunga yang berubah menjadi rebusan teh saking panasnya.
Banyak orang keluar masuk toko untuk membeli kaktus mini murah atau satu dua batang bunga terserah. Bagi mereka, pendingin ruangan dan sebotol kecil air mineral dingin bagi pelanggan sudah cukup untuk bertahan hidup.
Minho baru saja membuka toko. Pukul dua belas tepat di hari Minggu. Di luar seperti neraka bocor dan ia sudah tidak peduli untuk menempel plester dingin di dahi.
Seorang pemuda ceking masuk ke tokonya. Pemuda itu terlihat akan semaput karena sudah sempoyongan memegang gagang pintu. Minho segera mengambil air dingin, bisa gawat jika ada pembeli yang pingsan di tokonya.
“Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu?” Minho menyodorkan botol di genggamannya. “Mungkin anda mau minum dulu sebelum memilih bunga yang diinginkan.”
Botol di genggamannya diterima. “Uh, ibuku ingin menghias rumah dengan bunga tapi aku tidak tahu apa.”
“Hydrangea cocok untuk menghias rumah, anda bisa memilih warna putih biru atau merah muda. Jika ingin sesuatu yang sesuai dengan musim panas, saya sarankan bunga matahari yang cocok untuk menggambarkan keceriaan musim panas.”
“Ketimbang keceriaan, kurasa seperti pembunuhan berencana,” gumam sang pemuda. “Mungkin ibu akan lebih suka yang bunganya banyak, kira-kira wa-“
Pemuda itu mendongak, Minho menoleh untuk menanggapi. Saat tatapan mereka bertemu, tidak ada yang menyangka hal yang selanjutnya terjadi. Keduanya menjerit, Minho menabrak tabung hydrangea putih sementara pelanggannya menggelepar di lantai.
Matanya pedih dan panas, seperti terciprat kuah pedas. Minho meraba-raba, mencari apa saja yang sekiranya bisa untuk meredam pedih. Sementara pelanggannya menjerit ‘Ibu, tolong! Aku tidak mau buta!’.
Rasa perihnya berangsur menghilang. Minho mengucek mata sebelum membukanya pelan-pelan. Ada pendar-pendar aneh yang terlihat seperti saat mulai mabuk.
Pelanggannya masih berada di lantai (dan sepertinya menangis). Minho mencoba berdiri setelah menyadari bahwa ada yang berbeda (dan ibunya yang membawa pentungan dengan wajah bingung). Bunganya tidak redup lagi!
Minho meraup pelanggannya dari lantai yang semakin histeris. “Coba buka matamu pelan-pelan.”
“Tidaaak!! Aku akan butaa!”
“Hei, kau tidak akan buta. Coba buka mata.”
Pemuda di hadapannya terisak, meski akhirnya menuruti untuk membuka mata. Ia mengerjap beberapa kali, mungkin pandangannya masih kabur oleh air mata. Jadi Minho membantu mengusap kedua mata berair itu dengan ibu jarinya.
“Bagaimana? Kau baik-baik saja, kan?”
Pemuda ini mengangguk. “Astaga, kupikir aku buta. Ternyata hanya bertemu jodoh.”
05.39
23.05.19
