Chapter Text
Sebagaimana kesaksikan orang-orang, penyesalan selalu berada di akhir, tapi Lee Taemin tidak menyangka penyesalan itu datang dengan begitu cepat padanya, kira-kira hanya sepersekian detik setelah telunjuk serta ibu jarinya menarik balok kayu berukuran mungil itu dari bawah tindihan balok lainnya. Seperti film yang diputar ulang dengan kecepatan dua kali lipat, Taemin mengingat seluruh kehidupan yang sudah dijalaninya, sementara menara tumpukan balok-balok kayu itu berjatuhan selayaknya masa depannya.
“Pemain yang menjatuhkan blok harus menuruti semua keinginan pemenangnya.” Pandangan Taemin seolah-olah berpuntir mengingat kata-kata seniornya. “Apa pun itu. Kalau sampai ketahuan tidak melakukannya, maka pemenangnya berhak memberikan hukuman.”
Artinya, penindasan dobel. Tadinya Taemin mangut-mangut saja mendengar peraturan tersebut diberikan seniornya yang cengar-cengir. Dia berpikir, meski tangannya terkenal dengan kemampuan untuk menghancurkan apa saja yang disentuh, setidaknya semua bakal pemain sudah setengah mabuk sehingga mengurangi keawasan mereka, apalagi permainan jenga sering dia lakukan bersama teman-temannya semasa SMP. Lima belas menit lalu, dia sama sekali tidak menyangka kesialan itu akan ditimpakan padanya.
Dengan muka pucat, Taemin mengarahkan pandangannya pada lelaki yang duduk di seberang meja. Kemudian napasnya tersekat di pangkal tenggorokan. Choi Minho mencengir lebar sekali, kepalanya sedikit dimiringkan ke arah telapak tangan yang menopang pipinya.
“Jadi, kau harus menuruti permintaanku, huh?” Tarikan bibir itu agak bergetar, jelas-jelas senior di tingkat dua tersebut teramat menikmati kekuasaan yang baru saja didapatkannya. Dia menegakkan kepala dan memperbaiki kedua lapel jaket kulitnya, sedangkan sisa pemain yang ada menyorakinya. “Sial, aku tidak menyangka bakal seru begini.”
Taemin benar-benar menyesal, bukan saja menyesali kemampuan bermain jenga yang terbukti payah, tapi terutama keputusannya untuk datang ke pesta penyambutan mahasiswa baru ini. Seandainya saja dia punya alasan untuk mangkir, seperti teman-temannya yang sekarang mungkin sudah bergelung nyaman di kasur masing-masing, dia tidak mungkin terjebak dalam penindasan yang pasti akan dialaminya ini. Dia sedikit berjengit ketika Choi Minho beranjak berdiri, tampak menjulang sekali di antara keremangan lampu kedai. Lelaki itu menepuk-nepuk pundak setiap orang yang dilewatinya, dan Taemin memaknainya sebagai hitung mundur eksekusi matinya.
Seandainya saja meja ini panjangnya ratusan meter, batin Taemin ngeri sekaligus putus asa ketika Minho sudah mencapai ujung meja dan bersiap memutar ke sisi lainnya---sisi tempatnya berada. Seandainya saja seniornya terpeleset daun selada yang jatuh di lantai kemudian menghantamkan kepalanya ke pilar sehingga membuatnya gegar otak. Seandainya saja ada serangan Godzilla yang menyemburkan api ke atap kedai. Seandainya—
Telapak tangan lebar itu mendarat di pundak Taemin dengan tekanan yang sama seperti palu hakim yang mengesahkan vonis hukuman mati. Perlahan-lahan Taemin mengangkat pandangan; ledekan dan sorak-sorai, juga desahan lega diam-diam, orang-orang di sekelilingnya tidak lagi terdengar oleh telinganya yang dipenuhi debur darahnya di sepanjang pembuluh.
“Ikut aku,” kata Choi Minho, masih sambil mencengir, ibu jarinya menusuk udara di balik pundaknya. “Aku akan menjelaskan keinginanku, empat mata saja.”
Samar-samar saja, Taemin mendengar, “Oi, bajingan, jangan seenaknya jadikan anak orang sebagai budakmu!” Tetapi, menilai dari tawa yang kemudian menggemuruh, orang yang mengatakannya pasti tidak sungguh-sungguh berniat menegakkan keadilan. Setelah susah-payah meneguk ludah, Taemin mengumpulkan kekuatan pada kedua tungkainya dan membawa tubuhnya berdiri.
“D-di mana, sunbaenim?”
“Luar.”
Lantas, Choi Minho membalikkan badan dan mulai berjalan di antara punggung-punggung yang merunduk, melewati beberapa pramusaji parowaktu yang kewalahan memenuhi tuntutan minuman beralkohol para pengunjung yang sudah sangat teler. Taemin berjalan dengan langkah-langkah kecil penuh ketakutan, sesekali menoleh ke arah meja mereka, bertanya-tanya mengapa tidak seorang pun ingin menjadi kesatria dengan menyelamatkannya dari situasi mengerikan ini. Teman-teman seangkatannya, yang sama-sama berada dalam posisi terpojok, sekadar merunduk dan berpura-pura meneguk minuman, enggan mengakui sinyal SOS-nya.
Taemin hampir menubruk pintu kaca lantaran terlalu lama menoleh ke belakang. Di luar, Minho sedang memandanginya penuh penantian. Taemin mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya, sekaligus membuang sisa-sisa harapan yang dipunyainya, selama meraih handel aluminium itu dan mendorong pintu ke depan.
Udara bulan Maret mencengkeram leher dan lengan-lengan Taemin, mengingatkannya pada jaket yang masih disampirkan di punggung kursi. Selagi melirik Minho dari balik riap-riap rambutnya, Taemin membayangkan jaket itu akan terlipat rapi di depan fotonya yang sudah diberi pita hitam, ibunya menangis tersedu-sedu di pelukan ayahnya, sementara teman-teman lamanya menatap altar dengan nanar ...
Nah, itu tidak mungkin terjadi. Perundungan di kampus pasti tidak seekstrem itu. Ya, kan?
“Brr, dingin sekali,” gumam Minho pada dirinya sendiri sambil menyulut rokok yang sudah diselipkan di bibir. Dia mengembuskan asap putih ke arah yang berkebalikan dari Taemin, lalu menoleh. “Kau merokok?”
Selama sesaat Taemin tidak tahu caranya merespons tanpa mematahkan lehernya, tapi pada akhirnya kedua tangannya terulur dengan sendirinya ke depan. Minho mendengus kecil dan memberikannya sebatang rokok beserta pemantik.
“Tidak perlu tegang seperti itu, aku tidak akan menyuruhmu menjadi budakku. Hal semacam itu hanya terjadi di SMA.”
Taemin mengangguk, lalu mengembalikan pemantik Minho setelah menyalakan rokoknya sendiri. Saat telapak tangan Minho terulur, dia baru sadar lelaki itu sedang memandanginya lekat-lekat. Taemin mengerjap-ngerjapkan mata, satu-satunya reaksi yang dapat dilakukannya karena otaknya sudah lama sejak memutuskan padam, tidak mau berurusan dengan situasi ini.
“Kau pikir aku bercanda?”
“Tidak, sunbaenim. Sama sekali tidak,” jawab Taemin cepat. Minho mengangguk dan mengantongi pemantik, lalu menyandarkan punggung pada dinding lembap yang berada di belakangnya sambil mengerang keras.
“Jujur saja, aku sudah suntuk di dalam. Kupikir aku harus terjebak dalam suasana canggung itu sampai tengah malam, sama sekali tidak menyangka kau akan menjadikan aku pemenang dan membuatku punya alasan keluar.” Minho menurunkan rokok ke tangannya, lantas mencengir lebar. “Jadi, trims.”
Taemin bisa merasakan otaknya berkeriut dan berdecit mendengar Choi Minho beramah-tamah. Dia yakin pernah dengar bahwa Choi Minho adalah tipikal kupu-kupu sosial yang punya banyak sekali teman, tapi kemampuan itu sekaligus membuatnya arogan dan semena-mena. Untuk orang-orang yang berada di pijakan yang sama dengannya, Choi Minho terkesan seperti orang supel yang ramah, tapi bagi orang-orang di bawahnya, dia adalah mimpi buruk yang senantiasa mendorong dan mendesak.
“Rumahmu di mana?” Minho membuka topik baru sambil mengetukkan abu rokok ke tempat sampah yang memisahkan mereka. “Kau asli Seoul, kan?”
“Um, iya ...”
“Di mana?” ulang Minho, tidak memberikan Taemin kesempatan kabur. Taemin meringis, lalu menggumamkan salah satu area yang berjarak lima belas menit berkendara dari sini. Mata Minho sontak membulat. “Sungguh? Kau orang kaya?”
“Tidak ...”
“Oi, hanya orang kaya yang tinggal di Cheongdam.” Taemin berjengit mendengar nada kasar Minho. “Dasar, kau ini tipe yang rendah hati, ya? Kau benar-benar tidak terlihat seperti orang yang tinggal di distrik Gangnam. Berani bertaruh sehari-harinya kau dilayani oleh pramuwisma, ya kan?”
Intonasi serta nada bicara Minho menyebabkan Taemin berpikir lelaki itu berniat menyindirnya, satu langkah sebelum memasuki lingkaran setan perundungan. Sekali lagi Taemin terdiam lama, tidak yakin jawaban apa yang sudah ada di kepala Choi Minho. Dia cukup tahu perundung hanya akan menerima jawaban yang mereka inginkan, karena kedapatan salah di hadapan orang yang seharusnya berada di bawahnya terasa cukup memalukan, bahkan meski hanya mereka sendiri yang tahu.
“Kau bisa bicara tidak?”
Taemin terlonjak. “Bisa, sunbaenim. Maaf. Tidak, orang tuaku tidak memperkerjakan pramuwisma.”
“Punya saudara?”
Pertanyaan-pertanyaan Minho memberikan jejak yang tidak menyenangkan di lidah Taemin. Dia tidak tahu apa pentingnya semua fakta itu, dan apa hubungannya dengan plot apa pun yang sudah direncanakan Choi Minho. Namun, menentang tampaknya bukan keputusan yang bagus jika Taemin sendiri masih menjadi mahasiswa selama seminggu.
“Tidak, sunbaenim.”
Minho memicingkan mata, kemudian menyandarkan bagian belakang kepalanya ke dinding, berpikir-pikir sambil menghela substansi dari sigaretnya yang tinggal separuh. Rokok Taemin juga, sebenarnya, tapi dia tidak tahu waktu yang tepat untuk merokok tanpa menimbulkan kesan tidak punya tatakrama. Dia berakhir sekadar memandangi silinder itu menguarkan sehelai asap dari ujung yang sudah rompal, sedangkan Minho masih berpikir di sebelahnya.
“Kau tahu, soal permainan jenga tadi.” Jantung Taemin melorot sampai dasar perut, dan berdentum-dentum keras di sana, menjadikan seluruh organ dalamnya ikut bergetar. Dia menoleh dan menatap Minho yang kini menggerus ujung rokoknya ke pinggiran tempat sampah, masih ada asap yang diembuskan celah bibirnya. “Aku sudah memutuskan apa yang akan kuminta darimu.”
Harta, tenaga, nyawa ...? Otak Taemin tidak bisa berhenti berputar, sebagian besar karena panik, ketika perlahan-lahan Minho mengangkat kepala dan membalas tatapan matanya. Pertama-tama lelaki itu membiarkan mata mereka saling terkunci satu sama lain, sebelum ujung-ujung bibirnya lambat-laun terangkat membentuk seringai kecil.
“Aku ingin kau jadi pangeranku.”
~~~
Taemin mengempaskan tubuhnya yang lelah di bangku keras bus, lantas matanya terpejam begitu bus menderum meninggalkan halte. Guncangan lembut dari mesin, juga samar-samar desisan suara di luar, membuai Taemin dalam kantuk yang sejatinya sudah ditahan sejak tadi. Seperti nina bobo, segala peristiwa yang sudah dialaminya hari ini datang bergantian dalam bentuk bayang-bayang yang pudar.
Hingga tibalah pada permintaan Minho.
Mata Taemin sontak terbuka, kantuk menghilang tak bersisa dari kelopak matanya. Dia menoleh ke arah jalan raya yang sudah lumayan lengang, memandangi bayangan wajahnya sendiri. Entah apa yang dilihat Minho dari wajah itu hingga mencetuskan sebuah permintaan paling absurd yang pernah didengar Taemin.
“Kau tahu, melayani seorang pangeran selalu menjadi keinginanku sejak kecil,” jelas Minho sambil menyeringai. “Membayangkan diriku bisa menjadi sandaran seseorang yang menguasai segalanya kecuali cara mengurus diri sendiri selalu membuatku senang. Ada perasaan superior, kau tahu, kan?”
Tidak, sejujurnya Taemin sama sekali tidak mengerti. Dia bahkan belum paham benar mengapa dirinya disebut ‘pangeran’ oleh Minho—hanya karena dia tinggal di Cheongdam? Tawaran Minho terdengar seperti mulut terowongan ejekan, tempat gelap dan dingin yang mungkin saja tak berujung, sehingga Taemin tidak bisa mencegah dirinya bungkam tanpa menanggapi ucapan Minho.
Minho menyikut lengannya tidak sabar. “Kau tidak perlu melakukan apa-apa, sungguh. Anggap saja aku kesatriamu, bagaimana? Aku akan menjemputmu, memilihkanmu pakaian, apa saja. Bukankah terdengar menggiurkan? Kau tidak akan mendapatkan hal semacam ini jika bukan aku yang memenangkan jenga.”
Kemudian senior lain yang sudah mabuk datang dan mulai mengomel mengapa mereka lama sekali di luar. Semula Taemin bersyukur lelaki itu menyelamatkan mereka dari keharusan mengobrol lebih lama dengan Minho, tapi nampaknya dia bersyukur terlalu cepat; begitu tiba di meja, Minho mendadak merangkul pundaknya dan merapatkannya ke dada.
“Pengumuman semuanya,” katanya dengan suara menggelegar. “Mulai besok anak ini akan terikat padaku. Kalau ada yang melihatnya keluyuran sendiri, kalian bisa segera membawanya padaku.”
Taemin mengernyit dan menjatuhkan kepala ke tadahan kedua telapak tangan begitu mengingat ledakan tawa dan dukungan yang membubung di meja mereka setelah Minho berbicara. Ini buruk. Kehidupan kampusnya yang awalnya sudah berusaha diperbaiki tak salah lagi akan menapaki jalan yang sama dengan kenangan buruk semasa SMA.
Berusaha tidak menangis frustrasi, Taemin lantas melipat kedua lengan di atas ransel yang dipangkunya, memilih mendistraksi pikirannya dari keputusasaan yang mulai meliliti perutnya. Besok, pikirnya sendu. Segala hal buruk akan dimulai besok, terlepas dari kenyataan bahwa Taemin sama sekali tidak memahami makna dari ‘melayani pangeran’ yang dibicarakan Minho—apakah itu penting? Dia yakin hasil akhirnya sama saja. Seandainya saja besok tidak pernah datang. Seandainya saja besok tidak lebih dari kata kosong tanpa rupa.
Ponsel dalam ranselnya bervibrasi, membuatnya cepat-cepat mengeluarkan benda itu. Nama pemanggil ‘Ibu’ yang berada di layar seketika melesakkan jantungnya. Dia mengatur napas, menarik kedua ujung bibirnya ke atas, lalu menjawab panggilan tersebut.
“Ibu tidak menyangka kau akan menjawab secepat ini!” ibunya bercericip gembira. “Bagaimana pesta penyambutannya, Sayang? Kau berada dalam perjalanan ke bar kedua?”
“Bar kedua apanya,” dumal Taemin lamat-lamat, kepalanya merosot ke samping hingga menumbuk permukaan jendela yang dingin. Kemudian, dengan suara lebih keras dia menjawab, “Aku sudah berada dalam perjalanan pulang.”
“Oh? Kenapa cepat sekali?”
Taemin memejam, dan seketika itu pula raut-raut muka tanpa nama yang menertawakannya kembali berkelebat di balik kelopak matanya. Dia membuka mata lagi. “Aku lelah. Untungnya senior-seniorku paham dan mengizinkanku pulang duluan.”
“Seniormu terdengar seperti orang-orang manis.”
“Benar.” Taemin menyangga kepala dengan satu tangan, lantas jari-jemarinya mulai mencengkeram pangkal rambut, berusaha tidak menyalurkan kefrustrasiannya pada orang yang tidak bersalah. “Aku sudah hampir tiba, Ibu. Sampai nanti.”
