Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 10 of Nyeonbugi Series
Stats:
Published:
2019-06-27
Completed:
2019-06-27
Words:
2,417
Chapters:
2/2
Comments:
2
Kudos:
25
Bookmarks:
2
Hits:
669

Overprotective Brother

Summary:

Hwang Minhyun itu kakak yang overprotektif. Titik.

Chapter 1, hwangmini
Chapter 2, 2hyun

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Hwangmini

Chapter Text

Kesan pertama Kang Minhee terhadap Hwang Yunseong adalah seseorang yang pendiam dengan senyum yang menawan. Dipertemukan saat mereka satu kelompok saat ospek enam bulan yang lalu, yang kemudian bertemu kembali di klub dance. Hwang Yunseong yang dikenalnya sekarang tidak jauh berbeda dengan Hwang Yunseong yang dikenalnya enam bulan yang lalu. Masih tetap seorang yang pendiam dengan senyum yang menawan. 

 

Senyum yang berhasil menawan hati seorang Kang Minhee. Butuh waktu enam bulan untuk menyakinkan Yunseong agar mau berkencan dengannya. 

 

Mengingat betapa pendiamnya Yunseong, bayangkan bagaimana terkejutnya Minhee saat tahu bahwa Hwang Minhyun—kakak seniornya, Ketua Ospek yang terkenal galak, sangat galak—adalah kakak Yunseong. Minhee hanya bisa diam, dengan wajah pucat, saat Yunseong mengatakan bahwa Hwang Minhyun adalah kakaknya. Itu tiga minggu lalu, dan sampai sekarang Minhee masih merinding jika mengingatnya. 

 

Minhee hampir pingsan saat ia datang ke rumah Yunseong, untuk menjemputnya kencan, dan menemukan Hwang Minhyun membukakan pintu dengan wajah tertekuk. Minhee akan lebih percaya, jika ada yang mengatakan bahwa Yunseong adalah adik Kim Jonghyun—kakak seniornya yang lain, kekasih Hwang Minhyun—mengingat beberapa sifat mereka yang mirip, dan bukannya si kakak senior tergalak. 

 

"Cari siapa?" Minhee sudah boleh pingsan, kan, suara Hwang Minhyun dingin dan seram. 

 

"Anu, Kak, cari... ." 

 

"Cari siapa?!" belum sempat Minhee menjawab, Hwang Minhyun sudah memotongnya. 

 

Minhee sudah akan menjawab, tapi tiba-tiba saja ada tangan yang memukul belakang kepala Hwang Minhyun. 

 

"Ngapain, sih, di pintu kayak satpam? Bukannya nyuruh masuk malah diinterogasi gitu Minhee-nya," ternyata pelakunya adalah Kim Jonghyun. 

 

"Tapi, Jjuya... ," anu, Minhee tidak salah dengar, kan? Hwang Minhyun benar sedang merengek, kan? 

 

"Tapi apa? Sudah tahu Minhee mau datang jemput Yunseong, kamu malah cari gara-gara. Kamu mau diambekin sama Yunseong gara-gara nggak kasih Minhee masuk?" 

 

Minhee mengedipkan matanya. Tiba-tiba ia ingat rumor saat ospek dulu. Rumornya, Kim Jonghyun sebenarnya lebih galak daripada Hwang Minhyun. Bahkan kabarnya, Hwang Minhyun pun takut pada Kim Jonghyun. Tapi, karena Minhee belum pernah melihat bagaimana Kim Jonghyun saat marah, maka ia tidak percaya dengan rumor tersebut. Tapi, sepertinya rumor tersebut memang benar jika melihat bagaimana Hwang Minhyun langsung tunduk begitu saja pada Kim Jonghyun. 

 

("Emang dasarnya Kak Minhyun bucin parah ke Kak Jonghyun itu," kata Yunseong saat ia menanyakan kebenaran rumor. "Yah, walaupun sebenarnya Kak Jonghyun kalau sudah marah emang ngeri, sih.") 

 

"Yuk, masuk, Minhee. Nunggu Yunseongnya di dalam aja," Kak Jonghyun melempar senyum. Senyum yang sama manisnya dengan senyum Yunseong. Duh, kenapa bukan Kak Jonghyun saja yang jadi kakaknya Yunseong? Kenapa harus Hwang Minhyun yang jadi kakaknya Yunseong? 

 

"Errr... ," Minhee menggaruk belakang lehernya, menatap ragu-ragu pada Hwang Minhyun yang masih berdiri di tengah pintu menghalangi. 

 

Kak Jonghyun menghela napas, lalu menarik tangan Minhee masuk. 

 

"Abaiin aja itu makhluk yang nongkrong di pintu. Biarin aja diambekin sama Yunseong gara-gara nggak kasih kamu pintu." 

 

"Jjuyaaaa... ," Minhee merinding. Hwang Minhyun yang ini berbeda dengan Hwang Minhyun yang dikenalnya. Amat berbeda. "Kok gitu, sih? Aku, kan, cuma... ." 

 

"Cuma apa? Cuma mau interogasi Minhee, gitu?" 

 

Hwang Minhyun nyengir, "Hehehe, itu tahu." 

 

"Kak Minhyun mau ngapain?" suara Yunseong tiba-tiba masuk ke pendengaran. 

 

"Nggak ngapa-ngapain, kok! Sumpah!" 

 

"Aku nggak percaya, Kak Minhyun pasti mau macem-macem, kan, sama Minhee! Ngaku!" 

 

"Nggak, kok, Yunseong manis, kakak nggak mau ngapa-ngapain temen kamu itu, kok." 

 

Kak Jonghyun mendengus. "Kakakmu tadi hampir nggak kasih masuk Minhee, Yun." 

 

Hwang Minhyun langsung menoleh, memasang tampang melas. "Jjuyaaaaaa, aku nggak gitu tadi." 

 

"Kak Minhyun kalo macem-macem, awas aja. Aku ngambek selamanya nanti." 

 

"Kakak jangan diambekin, dong. Kamu nggak kasian sama kakak?" 

 

"Nggak." 

 

Minhee, yang hanya bisa jadi penonton, hanya bisa mengikuti semua dengan matanya. Rasanya Minhee ingin melarikan diri saja. Biarpun Hwang Minhyun kadang memasang tampang melas pada Yunseong atau Kak Jonghyun, tapi setiap pandangan mata mereka bertemu, pandangan Hwang Minhyun seolah-olah bisa membunuhnya. 

 

Yunseong meraih tangan Minhee, menariknya menuju pintu. 

 

"Eh, eh, mau ke mana itu?" Minhee mengumpat dalam hati. Hwang Minhyun bisa tidak, sih, berhenti mengganggu? "Mau ke mana kamu sama temenmu itu?" 

 

Yunseong mendelik. "Mau kencan. Mau kencan sama pacar ya. Bukan temen." 

 

Hehehe, Minhee tersenyum. Pacar. Minhee suka kata itu. 

 

"NGGAK BISA! KAMU MASIH BAYI, NGGAK BOLEH PACARAN!" 

 

Yunseong menghela napas. Sepertinya sudah terlalu sering mendengar argumen yang sama. 

 

"Kak... ." 

 

Perkataan Yunseong disela oleh suara 'Plak!' akibat pukulan tangan Kak Jonghyun ke lengan Hwang Minhyun. 

 

"Sampai kapan, sih, mau jadi kakak overprotektif gitu? Kasihan Yunseong, tahu. Gara-gara kamu, yang pedekate sama Yunseong pasti kabur." 

 

"Biarin," Minhee mengedipkan matanya. Matanya tidak salah lihat, kan? Hwang Minhyun cemberut? "Yunseong masih kecil, nggak boleh pacaran dulu." 

 

"Kak, aku udah 19 tahun, Kak. Kakak mau gini terus sampai kapan? Sampai aku mati?" 

 

Hwang Minhyun mendekati Yunseong. Tangannya terulur, mengusak rambut Yunseong. 

 

"Tapi, aku nggak rela kamu punya pacar di umur segini." 

 

Yunseong memasang tampang datar terbaik yang pernah Minhee lihat. "Kak, kakak sadar nggak, sih, kakak pacaran sama Kak Jonghyun dari kakak umur 15? Aku masih sadar buat nggak mikirin masalah cinta-cintaan dulu di umur segitu. Nggak kayak kakak, yang kerjaannya tiap hari ngintilin Kak Jonghyun mulu. Nempel-nempel kayak lintah." 

 

Yunseong kembali menarik tangan Minhee. Minhee hanya bisa menurut. Minhee menberanikan diri menoleh ke arah Hwang Minhyun dan Kak Jonghyun. Menemukan Kak Jonghyun yang menahan tawa dan Hwang Minhyun yang hanya bisa melongo. 

 

Minhee melepaskan tarikan tangan Yunseong, lalu membawa tangan Yunseong dalam genggamannya. 

 

"Yun," Yunseong hanya menggumam menanggapi panggilan Minhee. "Itu nggak apa-apa ninggalin Kak Minhyun kayak gitu? Kamu nanti nggak akan kena marah, kan?" 

 

"Kak Minhyun biarin aja, nggak usah dipikirin. Paling juga sekarang lagi ngerengek ke Kak Jonghyun." 

 

"Tapi, kamu nggak akan kena marah, kan? Aku khawatir kalau kamu nanti pulang-pulang malah dimarahin." 

 

Yunseong tertawa. 

 

"Harusnya yang perlu kamu khawatirin itu kamu, bukan aku. Siapa tahu, nanti pas kamu anter aku pulang kamu yang bakal dimarahin sama Kak Minhyun." 

 

Minhee memucat. Jika bukan karena Kak Jonghyun dan Yunseong, riwayatnya pasti sudah berakhir tadi. 

 

Melihat muka pucat Minhee, Yunseong semakin kencang tertawa. 

 

"Ya, ampun. Kamu beneran takut sama Kak Minhyun, ya?" Yunseong menggelengkan kepalanya. "Nggak usah takut, Kak Minhyun cuma bisa ngegonggong, nggak bisa gigit. Kamu tenang aja." 

 

Lalu, hening. Memilih berjalan dalam diam. 

 

"Yun... ." 

 

"Ya?" 

 

"Aku seneng banget tadi kamu nyebut aku pacar kamu," Minhee tersenyum—agak terlihat konyol sebenarnya. 

 

"Kan, kamu memang pacarku. Kamu lupa udah nembak aku?" 

 

"Nggak! Aku nggak lupa, kok!" Minhee menggelengkan kepalanya, "Cuma, aku seneng aja. Soalnya, kan, kadang ada yang nggak mau ngaku kalau udah punya pacar ke keluarganya." 

 

"Iyakah?" 

 

"Hu-um!"

 

"Oh. Aku nggak tahu. Aku baru kali ini pacaran, Min. Waktu ditanya udah punya pacar atau belum, ya, aku jawabnya udah. Lagian bohong itu nggak baik, loh." 

 

Aku baru kali ini pacaran, Min. Aku baru kali ini pacaran, Min.

 

Itu artinya, Minhee pacar pertama Yunseong, kan? Minhee tersenyum seperti orang bodoh. Kalimat Yunseong terus terngiang di telinganya. Rasanya seperti terbang ke langit ke tujuh. 

 

"Min, kamu kenapa?" 

 

Minhee masih tersenyum. Sampai-sampai pipinya terasa sakit karena ia terus-terusan tersenyum dari tadi. 

 

"Aku seneng banget, Yun. Aku pacar pertama kamu." 

 

Minhee dapat melihat pipi gembil Yunseong merona. Minhee tergoda, sangat tergoda. Minhee mendekatkan wajahnya pada Yunseong, mencuri sebuah kecupan singkat pada pipi memerah Yunseong. Pipi Yunseong tambah merah. Minhee puas melihatnya.