Chapter Text
Namjoon kesal.
Kim Seokjin itu kerjanya mengomel saja. Bosan dengarnya hanya karena lupa menutup pintu toilet. Hanya karena Namjoon masuk ke ruang tengah memakai sepatu saat terburu-buru mengambil kunci mobil yang tertinggal.
Seperti barusan juga, Namjoon baru kembali dari studio pukul tiga dini hari dalam keadaan lelah dan mengantuk. Baru membuka pintu, omelan Seokjin sudah terdengar (walaupun kali ini tak sepenuhnya menyalahkan) perihal Taehyung dan Jimin pulang dalam keadaan setengah mabuk dan nyaris membumihanguskan dapur hanya karena segelas susu. Jungkook ikut terbawa emosi karena baru tidur kurang dari setengah jam namun terganggu. Beruntung dua penghuni lainnya sedang tidak ada ditempat sehingga tidak menambah keributan.
Namjoon baru melepas sebelah sepatunya saat kedua tersangka pembakaran didudukan di sofa utama. Taehyung dengan wajah muram dan Jimin yang nyaris menangis. Lama-lama Seokjin itu jadi mirip Ibu-Ibu, suka mengomel terlalu perhatian, yang marah kalau properti dapurnya disentuh, yang marah kalau anaknya pulang tengah malam padahal dirinya dulu juga begitu. Dia ini laki-laki atau perempuan sih?
Sungguh sial yang menjabat posisi ayah.
“Namjoon, jangan memanjakan mereka lagi! Kalian harus belajar menyalakan kompor besok pagi!”
Namjoon melewatinya seperti angin lalu untuk mengecek dapur. Wajar sih, exhaust fan di atas kompor saja sampai menghitam. Panci berisi ongokan coklat-hitam menjijikan tercencer di lantai. Namjoon makin pusing melihatnya. Apa lagi yang bisa dia lakukan selain membereskan kekacauan dengan mengambil kain pel dan baskom tanpa banyak bicara. Namjoon ingin segera menyelesaikan segalanya dan memeluk Kasur.
“Jangan Hyung, biar kami saja. Maaf merepotkan,” suara Jimin bergetar saat mengambil kain pel dari tangannya. Sesi mengomeli sudah selesai sepertinya.
“Jangan menangis, Chim. Seokjin Hyung hanya emosi sesaat.”
“Tapi tadi benar-benar nyaris meledak—kompornya.”
Aslinya, Namjoon itu lemah pada hal-hal lucu, kecil, dan rapuh contohnya Jimin; dengan mata bengkak dan pipi merona, bibirnya mengerucut bergumam “Taehyung tak mau menurut,” Ingin memeluk rasanya kalau saja Seokjin tak memanggilnya untuk mengekor ke kamar. Setidaknya, saat dirinya menjauh ada Taehyung yang memeluk punggung Jimin.
“Tidur di kamarku saja. Jungkook sedang moody hari ini. Dia menghancurkan kamarnya. Sekarang dia mengungsi ke kasurmu,” kata Seokjin tengah merapikan kasurnya—yang akan mereka berdua pakai nanti. Namjoon menurut saja karena Hoseok benci kasurnya ditiduri orang. Yoongi sama buruknya dengan kamar Jungkook. Namjoon tak bertenanga harus membereskannya. Toh, kasur Seokjin cukup luas untuk ditiduri berdua.
Ini bukan kali pertama Namjoon dan Seokjin tidur seranjang Namun baru kali ini dia gerah ingin membekap mulut si lelaki tertua karena terus saja bercerita—coret—mengomel tentang keadaan rumah yang tak kunjung bersih, tentang Jungkook yang suka marah-marah tanpa sebab, tentang kesepian karena Yoongi banyak menghabiskan waktu di studio, tentang Jimin yang makin sering gonta-ganti teman kencan dan Taehyung yang mendadak punya kebiasaan mabuk.
“Apalagi Hoseok, kenapa dia bisa begitu ceroboh berpacaran di tempat umum! Bagaimana kalau sampai terendus reporter. Bang Shinyuk-Nim sudah mengingatkan berkali-kali tapi tetap saja anak itu. Namjoon kamu juga harus memberitahu mereka. Jangan hanya diam dan menganggap mereka dewasa nyatanya belum paham tanggung jawab. Aku bahkan tidak bisa melepaskan mereka begitu saja. Aku rasaTaehyung terbawa arus teman-temannya. Kurasa—”
Demi Tuhan, Namjoon ingin tidur!
“Tolong, Hyung! Kita tunda sampai matahari terbit, oke?”
Seokjin memunggungi Namjoon, “Kamu juga, kerja terus sampai tidak memperhatikan yang di rumah.”
Demi Tuhan, HENTIKAN!
“Woah Hyung!,” Namjoon bangkit dari tidurnya. Lelah tak tertahankan. Emosinya tak lagi terbendung, “kamu berkata seolah aku harus bertanggung jawab atas hidup kalian semua. Bukankah kita sudah bahas untuk mengurus masalah pribadi masing-masing? Lagi pula kamu siapaku? Ayahku? Pacarku? Kata-katamu seolah mengharuskanku menurut. Aku tidur di sofa saja.”
Malam itu Namjoon tidur di sofa dengan aroma gosong yang masih menguar dan Seokjin menangis dalam gelungan selimut.
Namjoon bangun dengan ekspektasi terlalu tinggi; punggungnya luar biasa sakit dan tenggorokannya kering.
Luar biasa, bahkan dia terbangun nyaris pukul setengah dua belas siang. Rambutnya berantakan. Kaos oblong basah oleh keringatnya segera ditanggalkan menyisakan boxer hitam menggantung acak setelah dia menggaruk pinggang. Namjoon ke dapur untuk menegak segelas air saat pintu depan terbuka lebar, membuatnya tercengang luar biasa.
“Kamu baru bangun? Astaga Namjoon ini jam berapa! Kamu pasti tidur lagi setelah kubangunkan tadi!”
Rumah gaduh seketika. Yang barusan masuk adalah Seokjin yang terlihat lebih ramping dengan gendongan bayi di dada dan tangan kanan-kiri menggamit dua anak berpakaian TK.
Sebentar, itu sungguhan Kim Seokjin? Apa Seokjin selalu secantik ini kalau rambutnya sedikit lebih panjang? Atau dia hanya tak menyadarinya? Dan suaranya juga lebih tinggi dan lembut.
“Bahkan aku sudah menjemput Jimin dan Taehyung pulang dan kamu masih belum bersiap. Kamu kerja jam berapa? Oh, baju Jungkook sudah dicuci kan? Gara-gara sakit dari kemarin bajunya jadi kotor semua. Tadi di jalan Jungkook muntah lagi. Nanti sebelum pergi kerja kita ke dokter ya?”
Sebentar, sebentar, Namjoon macet!
Jungkook siapa? Bayi digendongan Seokjin? Lalu Taehyung dan Jimin itu duo anak TK yang sekarang ricuh main Lego dipojokan?
Sebentar, sebentar, ini Kim Seokjin kenapa punya dada?
Bukan bermaksud mesum memperhatikan tubuh dibalik kaos lengan panjang oversize berkerah lebar yang mirip punya Namjoon, tapi yang benar saja!
“Namjoon?”
“Ka-kamu Kim Seokjin kan?”
“Iya, KIM Namjoon. Aku harap sebagai Papa kamu sudah mencuci baju karena Kookie benar-benar kehabisan sekarang. Dan tolong mandikan si kembar selagi aku mengganti baju Kookie,” dengan penekanan dimarga.
“A-aku—”
“—Kamu benar-benar belum mencucinya?”
Gelas ditangan Namjoon ambyar ke lantai. Duo bocah di pojok ruangan berlari mendekat sebelum dihalau Seokjin demi keamanan. Ah, sepertinya Namjoon benar-benar gila sekarang. Sekilas tadi dia melihat belahan dada Seokjin saat meringsut menarik Taehyung dan Jimin ke gendongan.
Dada padat berisi. Bra hitam renda. Seleranya.
Air mengguyur si bocah-bocah yang sesekali saling menggosok sabun dan bermain perang-perangan. Namjoon bengong duduk di kloset memperhatikan dua bocah itu mandi.
“Papa, Taetae mau punggungnya digosokin,” bocah yang lebih tinggi mengayunkan sponge sabun di muka.
“Chimchim saja!” celoteh yang lebih tembem dan putih.
“Nih! Nanti gantian ya!”
“Kalian akur ya. Pintar deh,” celetuk Namjoon tanpa sadar.
“Iya dong,” keduanya menjawab cepat sebelum saling adu argument tentang siapa yang lebih pintar.
Senyum tipis sudah mewakili kebahagiaan Namjoon dari hal kecil begini. Jimin yang dia kenal sebelum dia bangun lahir di daerah pantai sedangkan Taehyung di daerah pegunungan. Tempat yang berjauhan tapi berkumpul menjadi saudara, kembar pula, di sini, tempat antah-berantah yang sepertinya bukan mimpi karena Namjoon sudah mencuci muka dan memukulkan spatula ke kepalanya namun tak bangun juga.
Setelah insiden menjatuhkan gelas tadi Namjoon segera berhambur ke ruang tengah. Adalah kebiasaan anggota BTS untuk menggantung foto-foto mereka di dinding. Benar saja, seluruh seluk beluk rumah ini sama persis dengan yang Namjoon ingat kemarin, namun foto yang terpajang di sana jauh berbeda. Ada foto anak kecil yang mirip Jungkook bayi, foto Taehyung dan Jimin mengenakan baju renang, foto anak yang senyumnya selebar hoseok, dan seorang anak remaja yang sama persis seperti Yoongi remaja (dengan rambut dipangkas pendek). Berikutnya adalah foto-foto yang mendebarkan juga menakutkan bagi Namjoon: dirinya dan Seokjin dalam berbagai pose berpelukan, menggendong anak-anak, dan berciuman. Namjoon limbung ke sofa.
Kim Namjoon benar-benar menikahi Kim Seokjin? Kim seokjin yang itu? Yang menggucang-guncang tubuhnya dan menangkupkan tangan ke pipi tiba-tiba, “Babe, are you okay? Apa sakit Hobi menular?”
“Ha?”
“Kookie sakit karena tertular Hobi. Tapi syukurnya dia sudah sembuh pagi ini. Sisa bayi kita yang masih sakit. Loh, kamu panas!” spontan kepalanya ditarik ke dekapan setelah tangan Seokjin menempeli dahinya.
Ya, tubuh namjoon panas tapi bukan karena sakit melainkan wajah Seokjin yang terlalu dekat. Apa tadi? Dia memanggilnya Babe?
Namjoon segera menepis tangan Seokjin dan menjauh, perlahan agar tidak melukai perasaanya, “Tidak, aku—uh, baik-baik saja.”
Gila, sahabat baiknya yang jelas-jelas kemarin pria dalam semalam berubah menjadi istri wanita-nya!
Gila!
Beralasan memandikan si kembar yang tak mirip sama sekali adalah cara menghindar terbaik.
Masih berhadapan dengan pancuran air, di atas kloset tempat Namjoon bengong, dia menebak-nebak bagaimana semuanya bisa terjadi. Apa kah ini semacam bertukar jiwa dengan jiwa di alternate universe lain? Tapi Namjoon tidak pernah mendengar hal semacam itu benar-benar nyata. Tapi kenayataan ini benar-benar nyata terasa nyata.
“Ibu kalian benar-benar merawat kalian dengan baik ya. Kalian pintar sekali,” Namjoon kembali menyanjung saat keduanya sudah puas bermain air dan mulai mengeringkan tubuh. Keduanya menyelesaikan semuanya bahkan tanpa Namjoon bantu sedikitpun.
“Tapi mandi sama Mama lebih enak. Beneran dimandiin. Kalo sama Papa Cuma diliatin aja,” curhat si kecil Jimin yang tubuhnya tengah dihanduki Taehyung.
“Tapi kalo mandi sama Papa kita boleh main sabun banyak-banyak. Kalau sama Mama dimarahin,” bela Taehyung.
Oh, 'Mama’ panggilannya.
Sebesit pikiran jahil muncul di otak, “Mama itu galak suka marah-marah ya?”
“Iya!” Jimin berhasil menjawab lebih dahulu, “Tapi Chimchim sayangnya Mama.”
Tiba-tiba Taehyung kecil berlari memeluk kaki Namjoon, “Papa sayang Taetae kan? Taetae punya siapa kalau Mama diambil Chimchim.”
Detik itu, entah mengapa Namjoon berjongkok dan memeluk Taehyung kecil diikuti Jimin setelahnya. Memeluk keduanya yang masih telanjang bulat, begitu natural mengalir memenuhi dadanya hingga sesak. Namjoon tak pernah tahu memeluk anak umur 6 tahun terasa begitu membahagiakan. Diantara aroma sabun bayi dan tubuh anak-anak yang khas, Namjoon merasakan jiwa kebapakannya menyeruah. Namjoon sayang keduanya.
Kata Seokjin saat seperjalanan pulang dari Rumah Sakit, harusnya Yoongi dan Hoseok sudah pulang ke rumah karena jam menunjukkan pukul 4 sore hari.
Sedikit mengulik selama menunggu dokter memanggil tadi, katanya Yoongi berumur 15 tahun dan sudah menyembunyikan foto perempuan di hpnya. Lalu Hoseok berumur 11 tahun. Hoseok sudah mulai menunjukkan ketertarikkanya di seni dan belajar main gitar. Namjoon jadi tak sabar ingin melihat kedua ‘anaknya’ yang lain. Semoga saja di dunia ini Yoongi tidak galak.
"Babe,” Namjoon merinding lagi, “Tadi sudah ijin libur ke kantor?”
Lampu merah memberi kesempatan Namjoon untuk bertemu mata dengan wanita di sampingnya. Ketiga anaknya sudah tidur di kursi belakang, “Tadi sudah ijin dengan Donghyuk Hyung. Katanya semoga Jungkook cepat sembuh,” nama yang Namjoon temukan paling atas dengan embel-embel –kantor.
“Katakan, terima kasih.”
Namjoon tersenyum. Masih ada 30 detik lagi. Hangat menjalari pipi Namjoon saat jemari panjang itu merayapi, merinding, berhenti pada daun telinga dan undercut Namjoon. Sapuannya begitu lembut namun juga aneh. Kalau dideskripsikan, sensasinya seperti jus seledri dan buah naga buatan ibunya.
“Namjoon-ah, kata dokter kita harus sering-sering mengajak Kookie bicara. Aku mulai takut ada sesuatu dengannya karena belum bicara padahal umurnya nyaris setahun.”
“Kapan kamu ke dokter? Sepertinya dokter tadi tidak bilang apa-apa.”
“Aku membawanya minggu lalu saat kamu sibuk di kantor.”
Mencelos hatinya. Namjoon di dunia ini sepertinya punya pribadi yang buruk. Seperti tipikal suami yang membebani seluruh masalah rumah dan anak hanya pada istrinya. Sekalipun dalam posisi kagetnya yang belum hilang (perihal menikahi Kim Seokjin versi wanita), Namjoon itu punya empati yang tinggi. Dia peka dan paham istrinya tengah bersedih. Jadi lima detik sebelum lampu berubah warna, diambilnya jemari yang mengelus lembut pipinya, mengecup punggung tangannya selembut kupu-kupu sebagai komplemen maaf sebelum kembali pada steer mobil dan melaju lagi.
Sesampainya di rumah Namjoon bengong lagi. Dengan Jimin digendongan dan Hoseok yang mendadak menghampirinya untuk membantu mengendong Taehyung dari mobil. Hoseok itu sangat pengertian pada orang tua dan saudaranya. Apalagi bagian Hoseok menciumi pipi gembil adik bungsunya dari kursi bayi mobil. Hoseok di dunia ini sama seperti di dunia kemarin, sayang sekali pada adik-adiknya. Namjoon hanya mengamati tiga langkah di belakang saat dadanya kembali menghangat.
Ngomong-ngomong, Yoongi tak terendus sedikitpun. Sepertinya kebiasaan mengurung diri di kamar masih terbawa hingga sini.
“Mama, kookie bagaimana?” Hoseok segera mencari adik terkecilnya setelah keluar kamar si kembar.
“Sudah minum obat dan akan segera sembuh” Seokjin diekori saat menidurkan si bayi.
Namjoon menemukan ketiganya tiduran—di kamarnya dan Seokjin— dengan posisi Ibu dan anak tidur berhadapan dan si bayi pulas di tengah. Seokjin mengelus lembut kepala si kakak kedua sambil bertanya kegiatan sekolah. Tiba-tiba perasaan itu muncul lagi. Perasaan hangat di dada yang membuat Namjoon ingin menyimpan potongan-potongan adegan ini sebagai kenangan.
“Papa diam aja di pintu? Lapar?” Seokjin membuyarkan lamunan.
Namjoon jadi paham. Saat berdua saja Seokjin akan memanggilnya Babe, tapi kalau ada anak-anak panggilnya menjadi Papa. Lucu juga.
Gelengan kepalanya terpotong panggilan Hoseok untuk tidur di belakangnya. Namjoon menurut. Naik ke atas kasur dengan gerakan kaku dan meletakkan tangannya hati-hati di sisi kepala si kecil Hobi. Tiba-tiba bocah ini meringsut mundur dan menarik tangannya kepelukan. Ya, Hobi memang manja terutama dengan orang tuanya. Benar-benar, anak ini tidak berubah dimanapun.
Hobi itu kecil. Badannya relatif kurus dan tinggi. Namjoon bisa merasakan tulang rusuknya dari balik kaos. Ada keinginan memberi sarapan porsi besar untuk besok dan seterusnya. Pandangannya beralih pada Seokjin yang sebagai pemeran utama pemenuhan gizi anak-anak. Senyuman penuh kasih sayang saat kedua pandang terhubung sebelum beringsut dan mulai tertidur.
Seokjin terlihat kelelahan. Namjoon kembali merasa bersalah. Begitu kah dia memperlakukan istrinya yang sudah mengurus segala keperluan rumah, merawat anak, lalu sang suaminya masih menuntut lebih? Dia sendiri berkontribusi apa untuk rumah tangga mereka selain menafkahi yang notabenya kewajiban? Baju Jungkook saja berakhir Seokjin cucikan tadi. Jungkook terpaksa pakai baju kebesaran milik Jimin sembari menunggu baju-bajunya kering.
Belum ada sehari dia menjabat sebagai suami, Namjoon sudah merasa kesal dengan diri sendiri. Dia jadi membayangkan suami-suami yang suka menuntut ini-itu pada istrinya dan mengeluh kerjanya lebih melelahkan dibanding sang istri. Nyatanya, di depan mata Namjoon jelas istrinya mengurus bayi sakit yang rewel, menjemput anak-anak pulang sekolah, tapi masih sempat masak dan bersih-bersih rumah yang notabenya mendidik lima anak sekaligus. Semuanya dilakukan dengan sangat baik itu sangat luar biasa!
Namjoon bisa berkata demikian karena Seokjin melakukannya seorang diri. Terbukti dari tak ada tanda-tanda PRT di rumah ini (tidak seperti di rumahnya yang lama atau di rumah orang tua Namjoon). Kalau saja sama, Seokjin dulu hidup dalam keluarga kaya yang bahkan punya dua PRT pribadi. Dia bukan tipe orang yang terbiasa berkerja fisik dan monoton. Harusnya, menikahi Kim Namjoon dan melepaskan segala kenyamanan yang dimiliki adalah pengorbanan besar tak terbayarkan. Harusnya Namjoon bisa lebih mengerti istrinya, terutama menerima kenyataan bahwa istrinya adalah Kim Seokjin-wanita.
“Hobi, coba lihat keluar, Yoongi Hyung sudah pulang belum?” lebut Namjoon berbisik di telinga Hoseok. Anak itu membuka mata perlahan dan bangkit dari tidurnya.
“Pasti aku diusir. Papa ini selalu saja kalau aku mau tidur sama Mama.”
Anak ini memang lucu sejak kecil. Wajah dan kelakuannya polos. Tunggu saja monster cilik di dalam dirinya terbangun. Namjoon sudah kenal busuk-busuknya Hoseok dewasa.
Suara klik saat pintu tertutup adalah awal perang batin Namjoon. Dia mondar mandir di balik punggung Seokjin
Bangunkan pelan-pelan atau langsung peluk? Kalau dibangunkan pelan-pelan Namjoon pasti gugur duluan saat bertatapan mata. Tapi kalau langsung peluk jantungnya sudah cukup lelah memburu. Tapi Namjoon penasaran Kim Seokjin benar-benar wanita atau tidak. Dan kalaupun identitasnya kini sebagai suami-istri seharusnya peluk-memeluk adalah hal biasa. Atau mungkin kecupan di pipi? Tidak tidak, terlalu jauh. Atau langsung saja remas dadanya untuk memastikan?
Skinship yang biasa mereka lakukan di depan kamera terasa biasa saja. Bahkan saat Seokjin kalah permainan dan harus mencium pipi Namjoon, tak ada getaran aneh yang menyumbat pernapasannya. Tapi kenapa saat dadanya mulai menyentuh punggung Seokjin, saat tangannya mulai menelusuri tangan dan beristirahat di pinggang, seperti ada tanaman gulma yang melilit jantung dan paru-parunya. Susah sekali bernapas dan jantungnya berkerja ekstra. Aroma rambut Seokjin ikut andil mengaburkan akal sehatnya, manisnya seperti buah beri.
Sensasinya berbeda saat memeluk si kembar Jimin-Taehyung atau Hoseok. Selebih dari rasa cinta dan ingin melindungi, ada rasa ingin memiliki saat memeluk tubuh sintalnya (Ya, namjoon baru menyadari saat tangannya kembali bergerilya; memastikan).
Namjoon merasa tak waras jadinya.
Di dunia manapun Namjoon tetap memiliki idealis yang sama. Dia mendukung kebebasan mencintai di atas gender manapun, sekalipun dia pecinta wanita dan belum pernah sekalipun tertarik dengan laki-laki. Namun kali in dia sedikit takut dengan orientasinya. Bagaimana jika saat dia kembali ke kehidupan sebelumnya namun tak mampu mengubah perasaannya seperti pada Kim Seokjin yang ini?
Wanita di pelukannya mengeliat tak nyaman karena napas berat Namjoon menerpa kupingnya. Ditambah tanggannya yang terus mengelus lebut pinggang dan kini berlaih ke perut yang bajunya sudah tersingkap setengah.
“Babe?” tangannya segera menahan sebelum merambat lebih jauh.
“Mama bangun?”
“Tumben, biasa panggilnya sayang kalau cuma berdua.”
“Kan masih ada Jungkook, Ma,” Dagunya memberi isyarat sambil menoel pipi si bayi yang tetap saja bergeming.
Namjoon penasaran bagaimana aroma kulit Seokjin. Walaupun beberapa hari lalu dia baru saja memeluk Seokjin-lelaki di studio atas dalih sembunyi dari amukan Min Yoongi.
Gila, sensasinya luar biasa! Seokjin sangat manis. Ingan makan rasanya—
“Ngapain sih jilat-jilat? Geli.”
“Ha?”
“Jangan macam-macam. Anak-anak belum makan malam. Yoongi mana bisa siapin makan sendiri.”
“Apalagi Taehyung dan Jimin yang bikin kompor meledak.”
“Eh, kapan Kembar main kompor?”
“Suatu saat nanti di masa depan,” Ada jeda untuk Namjoon memilah-milih panggilan yang tepat untuk gadis ini, “Sayang—” Namjoon menelan keras air liurnya, “Boleh peluk kamu sebentar lagi?”
Perempuan ini malah tertawa sambil menghimpit tubuh keduanya. Menghilangkan jarak yang membuat Namjoon membeku karena jelas bongkahan pantat kenal itu menyenggol daerah privatnya. Tangannya juga dibimbing masuk ke dalam kaos, ke belahan kenyal lain yang dinanti, bergemerisik dengan renda yang menyelimuti.
“Tumben gelagat pinginnya Papa aneh” centil mengomentari.
BAHAYA!
Alarm Namjoon bunyi stadium akhir!
Segera dia turun dari kasur dan keluar kamar, “Ayo makan. Aku lapar,” kabur karena wajahnya sama merah dengan pantat Jungkook saat diare.
