Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2019-08-21
Words:
4,486
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
8
Hits:
101

Dreamcatcher

Summary:

Sepasang anak adam yang terpisah oleh waktu. Lewat sepasang penangkap mimpi buatan tangan yang digantung di kepala ranjang, takdir mempertemukan kembali mereka di alam mimpi. Akankah itu menjadi kesempatan bagi mereka untuk kembali bertemu di dunia nyata?

Side Story of Just Roommate by Folky on Wattpad, JR!AU with slight fantasy.
(Cross-post)

Notes:

BTS © Big Hit Entertainment and themselves.

I don't gain any profit from this fanworks but some fun.

Cross-post dari wattpad, dari sebuah challenge giveaway yang diadakan dalam rangka merayakan ulangtahun sebuah karya fanfiksi berjudul Just Roommate oleh Kak Folky.

Dalam JR!AU, Seokjin merupakan seorang tuna wicara. Seokjin berbicara melalui bahasa isyarat dan media tulis lainnya, buku maupun ponsel.

Happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


Apa yang kaulakukan jika kau mendapatkan kesempatan yang lain?

Seringkali, hal itulah yang kerap terpikirkan ketika Seokjin mendapatkan waktu luang untuk dirinya sendiri. Sebut saja waktu luang, karena waktu kosong yang ia dapatkan biasanya selalu direcoki oleh Jungkook. Pria muda berwajah manis berlaku sadis, yang licik sekali dalam memanfaatkan waktu istirahat milik Seokjin. Hingga sadar tak sadar, lagi-lagi, Seokjin akan menghabiskan seluruh waktu yang dimilikinya untuk meladeni Tuan Muda Chil Sung Pa itu.

Seokjin menghela napasnya. Menikmati kesendiriannya yang terasa berbeda kali ini. Jungkook pergi mencoba berunding dengan sang ayah kalau Seokjin tak salah menangkap dengar pembicaraan Jungkook dengan Yugyeom di ruang kerjanya. Entah soal apa. Jungkook tidak memberi tahu. Jungkook hanya memintanya menunggu dan meyakinkan Seokjin bahwa ia akan melakukan apa pun untuk melindungi Seokjin, bahkan bila ancaman itu datang dari ayahnya sendiri.

Matanya terpejam sejenak, membiarkan angin yang berembus—dari arah balkon dengan pintu kaca yang berfungsi sebagai penghubung kamar dengan balkon dibiarkan terbuka lebar—menerpa tubuhnya yang tengah berbaring di sofa. Kebebasan kecil yang membuatnya bimbang. Tanpa Jungkook, Seokjin merasakan kelegaan sekaligus kehilangan. Lega karena pada akhirnya ia tidak perlu merasa jengah dan kesal dengan tingkah pria muda itu. Namun Seokjin juga merasakan kehilangan, sesuatu yang kini semakin disadarinya ketika berjauhan dengan Jungkook. Apakah ini karena ia sudah terlalu bergantung pada Jungkook?

Perasaan yang dirasakannya ini begitu rumit. Tidak, ini bukan cinta. Rasanya jauh berbeda dari perasaan yang tulus, yang pernah dirasakannya itu. Tapi rasa peduli itu ada, kekhawatiran yang muncul ketika pria muda itu pulang dengan sejumlah luka baru, atau ketika mimpi buruk mendatangi Jungkook dan membuat pria itu memperlihatkan sisi lemah yang hanya ditunjukkannya kepada Seokjin. Seokjin masih membenci pria itu, Seokjin masih yakin dengan itu, sebab Jungkooklah yang membuat hidupnya menjadi serumit sekarang. Benci yang bukan benci? Entahlah. Terjebak menjadi bagian di dalam Chil Sung Pa tanpa ia kehendaki, tapi ia juga tak bisa semudah itu melepaskan diri dari mereka, dari Jungkook. Ragu kembali menyambangi batinnya, saat satu pertanyaan melintas, ataukah ia sendiri yang memang tidak ingin melepaskan diri dari Jungkook?

Seandainya memang ada kesempatan itu, akankan ia bisa memilih kebebasannya? Bisakah Seokjin mendapatkannya meski kemungkinannya hampir mustahil?

Satu nama lain masih sanggup membuat jantung Seokjin bergetar kala mengingatnya. Denyut yang diikuti rasa sesak di dada membuat Seokjin kembali memejamkan mata. Masihkah ia berharap bertemu kembali dengannya? Ia yang namanya enggan untuk kembali dikenang.

“Seberapa besar keinginanmu untuk bertemu dengannya?”

Netra cokelat itu melirik sinis. Si penanya mengulum senyum. Majalah yang sedari dibolak-balik kembali terempas di atas meja kopi pendek di depan sofa. Pelakunya berdiri dan menjauh menuju jendela. Memilih untuk mengamati dedaunan pohon momiji yang telah berubah menjadi kuning jingga kemerahan. Seekor tupai menampakkan diri dari lubang pohon dan secepat kilat berlari menjauhi pandangan sang gadis yang mengintainya.

Hening yang tercipta kembali menerbitkan senyum itu dari bibirnya. “Hei, aku cuma bertanya.”

Sebelah alis tebal Taehyung terangkat. “Apa perlu menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya?”

Byulyi tersenyum penuh arti. Taehyung kembali memfokuskan diri pada data-data yang dikirimkan oleh anak buah sang ayah mengenai tanda-tanda terakhir yang bisa ditemukan untuk mengetahui keberadaan Seokjin. Taehyung benar-benar merindukan Seokjin hingga nyaris gila. Dicermatinya dengan saksama hal-hal yang sekiranya dapat menjadi petunjuk yang dapat digunakan untuk mencari pria kesayangannya itu. Sementara Byulyi yang sempat pergi sejenak, kembali dengan membawa sebuah kantung kertas cokelat di tangan. Byulyi menghampiri adik angkatnya itu dan menyerahkan kantung yang dibawanya pada Taehyung.

“Untukmu.”

Taehyung mengalihkan atensi pada kantung kertas yang terjulur padanya. Ia menghela napas, nyaris mendengus, lalu melepas kacamata yang bertengger di hidung mancungnya dan diletakkan di samping laptop, sebelum beralih untuk menerima kantung kertas itu. Taehyung menatap Byulyi. Sang kakak tersenyum lagi, kali ini lebih tulus.

“Bukalah. Hadiah dariku. Aku meminta kenalanku membuatnya khusus untukmu.”

Taehyung membukanya, sebuah dreamcatcher, penangkap mimpi, dengan hiasan ornamen kupu-kupu dan bulu-bulu angsa warna-warni menyapa dari dalam kantung. Taehyung mengambilnya. Mengamati dalam diam.

“Aku tahu ini terlalu sentimental dan melankolis, tapi mereka bilang bila kita sungguh-sungguh merindukan seseorang dan ingin bertemu dengannya, dreamcatcher akan membantu kita menemuinya di dalam mimpi. Dreamcatcher selalu menangkap mimpi-mimpi indah, siapa yang tahu dari sekian banyak mimpi itu kau bisa bertemu dengannya di sana?”

“Kau percaya hal-hal seperti itu, Noona?”

Byulyi menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Tapi yah, bila kau bertanya, aku percaya. Sekarang, terserah padamu, mau percaya atau tidak. Kau hanya perlu menggantungnya di atas ranjangmu. Oh ya, sebetulnya kenalanku itu membuat sepasang dreamcatcher, tapi yang satunya sudah terjual lebih dulu. Tapi karena aku hanya memerlukan satu untukmu, kurasa tidak masalah kan?”

Taehyung mengangguk tak acuh. Lalu menyimpan kembali penangkap mimpi itu ke dalam kantung dan menaruhnya di atas meja. Meski terlihat tak begitu peduli, tapi hatinya menjeritkan keinginan untuk mencoba usulan sang kakak angkat. Tidak ada salahnya mencoba. Lagipula Taehyung sudah lama tidak memimpikan Seokjin, ia bahkan nyaris tidak tidur. Tidur hanya jika kesadarannya sudah diambil alih alkohol. Itu pun hanya membuatnya semakin pusing dan membuat Taehyung malah menderita insomnia.

Byulyi beranjak dari sofa begitu selesai membaca pesan dari ponselnya yang berdenting menandakan notifikasi masuk. Ketika ia sudah berada di ambang pintu, Taehyung yang telah kembali mengenakan kacamatanya berkata. “Noona, terima kasih.” Lalu kembali menyibukkan dirinya untuk membaca laporan-laporan yang masuk padanya melalui email.

Byulyi tersenyum dan mengangguk sebelum menutup pintu.

Jungkook menerjang Seokjin begitu ia kembali. Seokjin yang tak sigap mengantisipasi hanya bisa pasrah saat keduanya jatuh terjungkal di atas karpet bulu di kamar.

“Aku sangat merindukanmu.” Desah Jungkook sembari mengeratkan dekapan dan menyusrukkan wajahnya pada perpotongan bahu lebar Seokjin. Seokjin bergeming, membiarkan Jungkook melakukan apa pun yang diinginkannya.

Jungkook melepas pelukan setelah merasa moodmeter-nya melambung ke level maksimal. Terisi penuh. “Apa kau kesepian saat aku pergi, sayang?”

Seokjin menggeleng. Dengan tangannya ia mendorong pelan tubuh Jungkook yang masih memepetnya di atas karpet, Jungkook berat ngomong-ngomong, Seokjin merasa kakinya kebas akibat ditindih lama oleh pria muda yang kelebihan hormon di atasnya itu. Jungkook menyadari gestur itu pun menyengir dan turun dari atas tubuh Seokjin. Dibantunya Seokjin untuk kembali berdiri, lalu membimbing Seokjin untuk duduk di atas pangkuannya di sofa sementara ia kembali mendekap Seokjin dari belakang.

“Kau sudah makan, sayang?”

Seokjin mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik di sana. Lalu dicubitnya lengan kekar Jungkook—membuat yang bersangkutan mengaduh—demi memperlihatkan hal yang ingin disampaikannya.

‘Kau sendiri bagaimana?’

“Aku tidak selera makan. Aku dan ayah berdebat cukup alot. Dan tidak. Tidak ada masalah apa pun. Aku sudah membereskannya. Kuharap kau tidak perlu pusing-pusing memikirkannya, sayang.”

Sesungguhnya ada bersit khawatir dalam benak Seokjin manakala mendapati Jungkook tidak mengurus dirinya dengan benar. Bila boleh mengingatkan tentu saja rasa benci itu masih tinggal dalam hati Seokjin, tapi ia bukanlah seseorang yang bisa membiarkan orang lain begitu saja. Ia tetap memiliki kepedulian pada Jungkook. Dan jelas Seokjin tidak suka jika Jungkook tidak memperhatikan kesehatannya sendiri. Seokjin kembali mengetik sesuatu di ponselnya. Jungkook mengamati dari balik punggungnya.

‘Ada roti di dapur. Mau kubuatkan sandwich?’

Jungkook tersenyum lebar. “Baiklah kalau kau memaksa.” Jungkook mengecupi bahu Seokjin sebelum melepas pelukan dan membiarkan Seokjin berdiri untuk pergi ke dapur. Jungkook mengekori dengan langkah ringan.

Seokjin membuka kulkas, memilih beberapa bahan yang akan digunakan untuk membuat sandwich untuk Jungkook. Keju, selada, tomat, daging asap, telur, acar mentimun. Lalu bergerak lincah ke sana kemari demi menyiapkan bahan-bahan makanan tersebut. Mencuci selada dan tomat, memotongnya sesuai kebutuhan. Menggoreng telur mata sapi dan daging asap. Melapisi roti dengan mentega dan memanggangnya di toaster. Terakhir, menyusun bahan isian menjadi tumpukan sandwich lezat yang menggiurkan. Semuanya dilakukan dengan cepat dan terampil. Jungkook yang menonton dari luar pantry sudah beberapa kali meneguk liur tanpa sadar. Wangi freshly baked sandwich buatan Seokjin mampu memancing selera makannya yang sempat hilang disulut kegeraman akan perdebatan alot di antara dirinya dan sang ayah seharian tadi.

My dear roses are truly wonderful,” gumamnya sembari menopang dagu dengan kedua tangannya.

Seokjin memiringkan kepalanya kala indra pendengarannya menangkap gumaman yang Jungkook lontarkan. Gerakannya memotong sandwich untuk disajikan terhenti. Matanya menatap pada Jungkook, ia tak begitu menangkap mengenai hal yang dikatakan Jungkook. Jungkook yang menyadari tatapan penuh tanya yang ditujukan padanya pun tersenyum.

“Bukan apa-apa, sayang. Apa sudah selesai? Apa aku bisa makan?”

Sudut bibir Seokjin berkedut. Bola matanya pun berputar jengah. Sesekali rasanya ia perlu melempar wajah tampan Jungkook dengan wajan atau talenan. Siapa tahu dengan begitu bocah sengak di hadapannya itu bisa sedikit lebih sopan. Seokjin bergeleng-geleng sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya. Disajikannya tumpukan sandwich yang telah selesai ke atas piring dan menaruhnya ke hadapan Jungkook. Sebelum sempat Jungkook menyambar salah satu potongan sandwich itu Seokjin sudah keburu memelototinya seraya menunjuk wastafel dan tangan Jungkook.

“Oh, oke,” jawabnya ringan dan segera menuju wastafel untuk mencuci tangan.

Seokjin mengeluarkan dua buah gelas dan mengisinya dengan susu yang telah ia hangatkan sebelumnya. Diletakkannya kedua gelas itu di samping piring berisi tumpukan sandwich milik Jungkook. Lalu membereskan sisa bahan makanan dan peralatan masak yang ia gunakan sebelumnya. Jungkook mengernyitkan kening ketika mendapati gelas susu di samping piringnya.

“Susu?”

Seokjin menoleh, sebelah alisnya terangkat. Ditutupnya pintu kulkas dan beranjak menghampiri Jungkook sembari mengetik sesuatu di ponselnya. Begitu tiba di sisi Jungkook, ia memperlihatkannya pada Jungkook.

‘Tidak boleh protes. Minum saja. Tidak boleh ada wine atau kopi atau minuman lain. ‘

Bibir Jungkook mengerucut sebal. “Aish … memangnya aku anak kecil?”

Namun meskipun berkomentar begitu, Jungkook tetap menuruti perkataan Seokjin. Menandaskan tumpukan sandwich di piring dan susu di gelasnya. Seokjin pun menghabiskan susu di gelasnya, lalu membereskan peralatan makan mereka yang telah dipakai. Jungkook menghilang setelah makan. Baru kembali ketika Seokjin berniat mematikan lampu dapur dengan memakai setelan baru. Seokjin dibuat mengerutkan kening melihat penampilan Jungkook. Jungkook tersenyum tipis.

Ia menghampiri Seokjin yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Mantel yang tersampir di bahu diletakkan di kursi meja makan terdekat. Kedua belah tangannya terjulur menggapai kedua pipi pria yang lebih tua. Diusapnya lembut sembari tersenyum maklum kala menyadari tindakannya membuat yang bersangkutan melontar tanya lewat tatapan mata.

“Ada misi yang harus kuselesaikan malam ini, sayangku. Jangan khawatir, ya?”

Jungkook terkekeh pelan saat Seokjin memberinya tatapan datar. “Aku lupa kalau mawar kesayanganku ini sangat galak. Tidak apa, aku tetap mencintaimu, Seokjin-hyung. Sayang sekali malam ini aku tidak bisa menemanimu tidur, tapi jangan khawatir. Aku akan menemani mimpi indahmu.”

Jungkook menarik wajah Seokjin untuk mendekat padanya dan melabuhkan ciuman di bibir sekal Seokjin. Seokjin hanya mengikuti permainan Jungkook tanpa berlebihan. Jungkook menyudahi ciuman mereka saat tangan Seokjin yang mengepal sudah memukuli dada bidangnya. Seokjin meraup udara dengan rakus saat bibir mereka berjauhan. Jungkook menyeka seuntai saliva yang meleleh dari sudut bibir Seokjin dengan ibu jarinya. Ditariknya Seokjin untuk duduk di kursi meja makan lalu mendudukkan Seokjin di salah satu kursi yang mengitari meja tersebut. Tangannya menggapai mantel yang tersampir di kursi di sebelah Seokjin duduk, merogoh salah satu sakunya dan menarik sebuah kantung kertas dari sana.

Jungkook mengambil telapak tangan Seokjin dan meletakkan kantung kertas itu di atasnya. “Mereka berkata dreamcatcher adalah pelindung sekaligus pemberi kekuatan terbaik. Kusebut saja seperti itu karena mimpi baik biasanya memberikan kekuatan yang bagus untuk jiwa dan raga sebelum memulai hari. Semacam moodbooster atau pemberi motivasi? Yah, yang seperti itulah. Aku belum tahu kapan aku bisa pulang meski aku janji aku akan segera menyelesaikan misi ini dan kembali padamu, sayangku. Tapi, kurasa benda ini akan membantuku untuk menjagamu dalam tidurmu. Mengusir ketakutan dan mimpi buruk, memberimu mimpi indah hingga tidurmu akan nyenyak sampai pagi.”

Jungkook tersenyum. “Gantungkan di atas tempat tidur kita ya? dan…,” netra hitam itu melongok arloji yang melingkari pergelangan, “kurasa aku harus segera berangkat. Mimpikan aku ya, sayang.” Jungkook memeluk erat Seokjin dan menciumnya lama.

Jungkook enggan melepas tapi ia tahu waktu semakin menyempit. Baru saja ia melepaskan bibir ranum Seokjin, bunyi ketukan di pintu sudah menginterupsi. Berada di depan pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur, Yugyeom membungkuk formalitas dan menyapa keduanya.

“Tuan Muda Jungkook, Tuan Seokjin….”

“Ah, sudah waktunya.”

“Tuan Muda, semuanya sudah berjalan sesuai rencana.”

Jungkook mengangguk. “Mari kita pergi dan selesaikan ini dengan cepat.”

Seokjin mengamati penangkap mimpi yang diberikan Jungkook. Bulatannya menguarkan wangi khas dari pohon willow. Benang-benang dirajut sedemikian rupa sehingga membentuk pola jaring dengan bentuk bunga dandelion. Ornamen berbentuk korsase bunga mawar, manik-manik dan bulu-bulu angsa warna-warni menghiasi si penangkap mimpi. Desainnya unik. Terlalu feminin sebetulnya, tapi Seokjin tak mempermasalahkan karena bagus. Kembali teringat perkataan Jungkook sebelum pamit.

“Mereka berkata dreamcatcher adalah pelindung sekaligus pemberi kekuatan terbaik.”

Kekuatan terbaik ya? Mimpi indah?

Seokjin sudah lupa kapan terakhir malam-malamnya dihiasi bunga tidur. Ia sudah lama tak memeluk mimpi. Bahkan mungkin mimpi sendiri yang menjauh darinya. Sama seperti orang itu. Teringat masa lalu membuat Seokjin mau tak mau kembali mengingat segala hal tentang orang itu. Taehyung. Kalau boleh jujur, sampai sekarang jantungnya masih berdegup dengan cara berbeda manakala otaknya memilih untuk mengkhianati dan memutar ulang memori indah kebersamaannya dengan Taehyung. Sudut hatinya masih merindukan pria itu, masih menjeritkan namanya.

Seokjin melamun sembari menekuri penangkap mimpi miliknya. Hatinya menimbang-nimbang, akankah ia memasang penangkap mimpi itu? Ataukah tidak usah? Ada sebersit ketakutan yang terselubung dengan harapan. Harapan yang terbungkus ketakutan. Seokjin tentu masih berharap, meski sangat kecil dan bukan tidak mungkin akan berkilah untuk mengingkarinya. Tapi harapan itu masih ada. Harapan untuk bisa bertemu kembali dengan Taehyung. Karena cinta itu … masih ada untuknya. Masih tumbuh dalam sudut hatinya. Dan tak akan pernah bisa tergantikan. Masih menggemakan namanya. Nama kesayangan, Kim Taehyung.

Seokjin memejamkan mata sejenak.

Malam semakin beranjak, suasana di luar sana sudah sesenyap pemakaman. Hanya bunyi jarum-jarum jam dinding yang berdetik dan suara detak jantungnya sendiri yang dapat ditangkap oleh indra pendengaran Seokjin. Menguap untuk yang kesekian kalinya, Seokjin pun memutuskan menggantung penangkap mimpi itu di kepala ranjang. Sudah terlalu lelah untuk menggantungnya tepat di atas ranjangnya. Seokjin melebarkan selimut dan membungkus dirinya seperti kepompong. Membiarkan pikirannya melanglang buana sebelum kantuk mengambil alih kesadarannya. Mengantarkannya terlelap menuju pulau mimpi.

Taehyung membenamkan diri ke atas ranjang. Kepalanya berdenyut, penat dan kelelahan akibat terus-terusan menyortir laporan yang masuk dan memilah petunjuk akan keberadaan sang kekasih. Rindunya tak tertahankan. Satu-satunya harapan dan alasan Taehyung untuk bisa tetap berdiri tegak dan menantang matahari. Menemukan kembali sang pujaan hati.

Setelah beberapa saat, Taehyung beringsut untuk mengubah posisi menjadi duduk. Lalu meraih kantung kertas berisi penangkap mimpi yang diberikan oleh Byulyi. Taehyung mengeluarkannya dari dalam kantung, lalu mengaitkannya pada tepian bawah rak buku yang ada di atas kepala ranjangnya. Penangkap mimpi itu bergoyang-goyang setelah Taehyung berhasil menggantungnya. Warna hiasannya yang semarak mengingatkan Taehyung akan keberadaan sumber kekuatan yang telah memberi warna berbeda di dalam hidupnya. Kim Seokjin. Taehyung menggumamkan nama itu berkali-kali seolah merapal mantra.

Mungkin tidak salah juga, mengingat nama Seokjin adalah satu-satunya hal yang tersisa yang dapat menyemangatinya sekarang. Di saat letih, di saat penat mendera. Nama itu yang selalu berhasil menarik kembali kewarasan Taehyung ke alam nyata. Sedikit lagi. Taehyung berusaha meyakinkan diri. Sedikit lagi ia bersama kelompok ayahnya akan menemukan kembali cintanya yang disembunyikan oleh takdir. Sedikit lagi.

“Jin-hyeong…. Aku merindukanmu….”

Tak lama, embusan napas yang teratur dan dengkuran halus terdengar dari sosoknya yang menjemput mimpi.

Ketika Seokjin membuka matanya, hal yang pertama ia lihat adalah sesuatu berwarna merah jambu, mungil, basah dan bergerak-gerak. Seokjin mengerjapkan mata. Terbangun heboh karena tersentak akibat sesuatu dengan ujung merah jambu yang ngotot membauinya.

Hidung. Itu hidung. Seokjin yakin.

Karena setelah diamati dengan saksama, meski sempat membuat makhluk pemilik hidung merah jambu itu sama terkejutnya dengan dirinya, barulah Seokjin menyadari bahwa yang mengganggu tidurnya adalah sesosok makhluk mungil bertelinga panjang dengan bulu berwarna putih bebercak kehitaman. Seokjin menjulurkan tangan untuk meraih tubuh montok si kelinci yang tak keberatan ditimang olehnya. Mungkin kelinci itu penasaran mengapa Seokjin bisa tidur dengan nyenyak begitu saja. Bisa jadi.

Tunggu sebentar.

Seokjin memandangi makhluk bermata bulat menggemaskan yang senang mengernyitkan hidung merah jambunya itu. Kenapa ada kelinci? Ini sebenarnya di mana?

Ketika netra cokelatnya memindai sekelilingnya, barulah Seokjin menyadari bahwa ia tak sedang berada di ranjang empuknya. Melainkan di suatu tempat, seperti hutan di tepi danau? Separuh tubuhnya melekat di hamparan rerumputan hijau, sebelah tangannya menopang tubuh atas dengan sebelah lagi sibuk membelai bulu-bulu halus si kelinci yang duduk diam di pangkuan.

Pemandangannya begitu indah. Membuat Seokjin betah lama-lama memandangi keadaan sekitar yang begitu asri. Pepohonan yang rindang terlihat begitu meneduhkan, padang rumput, herba dan semak-semak berbunga yang cantik, desau angin dan gemercik air yang menenangkan. Apa ini nirwana?

Si kelinci melompat dari pangkuan. Membuat Seokjin terkejut. Si kelinci berhenti setelah beberapa kali melompat, lalu menoleh pada Seokjin, dan kembali melompat seolah meminta Seokjin mengikutinya. Tergerak dengan rasa penasaran akan tingkah menggemaskan si kelinci, Seokjin pun membuntuti lompatan cepat kelinci itu.

“Tunggu! Kau mau ke mana?! Hei!”

Namun si kelinci tetap melompat dengan lincah. Menyibak kumpulan semak dengan tubuhnya. Membuat Seokjin harus menerobos semak-semak itu demi mengikuti jejak si kelinci. Beberapa saat berlalu ketika Seokjin kehilangan sosok itu di balik perdu kembang sepatu yang membawanya ke padang pohon sakura dan pohon prem yang tengah berbunga dengan indahnya. Hujan kelopak bunga terlihat bagai menari. Seokjin terpana. Menerbitkan senyum yang melebar dari telinga ke telinga.

Indah sekali.

Seokjin tanpa sadar terpesona hingga hanya mampu memandangi pemandangan di hadapannya dengan penuh rasa takjub dan kekaguman.

...

Taehyung tidak ingat bagaimana caranya ia sampai di tengah hutan seperti ini. Sejak kapan ia di sini? Mengapa ia bisa sampai di sini?

Namun ia terus berjalan. Di antara kanopi-kanopi belantara, pohon-pohon yang menjulang bak raksasa. Taehyung sendiri tidak yakin apakah hari masih pagi apa telah petang. Tak ada petunjuk apa pun. Hanya senyap yang menyelimuti tempatnya berdiri dan menyusuri tempat yang ia duga merupakan hutan. Hingga di ujung sana, Taehyung melihat seberkas cahaya yang terang.

Memantapkan hatinya, ia bergegas menuju cahaya itu. Melangkah kaki dengan derap cepat yang menggema hingga ke sekeliling. Mengabaikan sejenak kebimbangan dan segala perasaan aneh yang mendera manakala ketidakmengertiannya timbul akibat atmosfer yang berbeda. Sudahlah, ujarnya pada dirinya sendiri. Di ujung sana pasti ada jawabnya.

Taehyung mempercepat langkahnya hingga setengah berlari. Hingga menemu batas di antara gelap dan terang, dengan kupu-kupu beraneka rupa dan warna terbang di sekitar layaknya memberi tarian penyambutan untuknya. Taehyung terpana melihat perubahan itu. Di hadapannya kini terhampar padang rumput nan hijau dengan berhiaskan bunga-bunga yang merumpun dan danau luas nan tenang. Taehyung yakin ia belum pernah melihat tempat ini sebelumnya. Benih-benih tanya mulai mencuat dari lubuk hati. Membuncahkan rasa penasaran sekaligus takjub.

“Wah….” Tanpa sadar ia melontarkannya.

Kakinya melangkah megikuti jalan setapak yang ada, mengitari tepian danau berair jernih dengan angsa-angsa yang berenang hilir mudik di permukaannya. Melintasi sepetak besar bagian danau yang ditumbuhi lotus-lotus beraneka warna, kupu-kupu dan capung mengitari kembangnya sesuka mereka. Hingga ekor matanya menangkap sesesok manusia yang menderap pergi menuju semak-semak dengan tergesa.

Siapa dia?

Taehyung tanpa sadar ikut berlari mengejar. Sekilas ia dapat mendengar pekikan dari sesosok manusia yang berlari cepat di hadapannya. Tak begitu jelas siapa. Rasa penasaran terlanjur memenuhi kepala sehingga Taehyung semakin semangat mengejar. Turut serta menerobos semak-semak dan perdu-perdu yang telah terlebih dahulu menjadi korban terjangan orang itu.

Jarak mereka kian menipis. Entah kenapa sosok di hadapannya itu membuat Taehyung mengingat sosok pria kesayangannya. Rasa rindu mendadak timbul dan menggebu-gebu. Punggung tegap dan bahunya yang lebar. Pinggang sempit dan kaki yang jenjang. Mungkinkah?

Sosok itu menghilang setelah berbelok entah ke mana. Taehyung kelabakan. Di hadapannya hanya ada semak-semak yang tinggi dan pepohonan. Taehyung menutup mata, membiarkan hatinya yang menuntun untuk menemukan sosok yang ia rindukan. Kakinya melangkah ke arah perdu-perdu kembang sepatu, tangannya sibuk menyibak kumpulan daun-daun lebar tanaman kembang sepatu yang melebat di tajuknya. Mengantarkannya ke sisi lain dari padang rumput-bunga yang berada di tepi danau itu.

Hamparan warna merah jambu hingga merah dan ungu dengan berbagai variasi gradasi dari bunga-bunga sakura dan prem segera memanjakan matanya. Seumur-umur, Taehyung baru melihat padang sakura dan bunga prem yang secantik ini.

Entah apa yang mengusiknya, hingga atensinya beralih ke sosok di sebelah sana yang tengah terpana dengan wajah penuh kekaguman. Taehyung bagai ditonjok kuat di perutnya ketika menyadari siapa sosok yang ia kejar sekuat tenaga. Seketika pandangannya mengabur diiringi melelehnya cairan bening yang lolos dari pelupuk mata dan menuruni pipinya.

Itu Seokjinnya! Seokjin kesayangannya.

Taehyung mengusap kasar air matanya dan mulai berlari.

“JIN-HYEEEEEEOOOOOOOOONNGG!!!” jeritnya sepenuh jiwa. Membuat sosok yang tadinya tengah menikmati pemandangan di sekitarnya itu menoleh dengan terkejut.

Seokjin melihat seseorang berlari ke arahnya. Rasa rindunya meluap dan berkerjaran dari dalam hatinya sehingga perut terasa bergejolak dengan gelenyar-gelenyar aneh tapi nyaman. Jantungnya berdentum-dentum. Suara itu adalah suara yang amat dikenalnya. Baru ia bersiap untuk membuka mulut dan bertanya, tubuhnya sudah diterjang lebih dulu hingga keduanya jatuh terjungkal dan bergulingan.

Taehyung memeluk Seokjin kelewat erat hingga menyesakkan, tapi Seokjin sendiri juga melakukan hal yang sama. Wangi khas tubuh masing-masing yang sudah lama tak pernah tercium aromanya, kini kembali menghadirkan nostalgia. Seokjin menangis, sesenggukkan di bahu Taehyung. Pun Taehyung yang kini sibuk mengecupi setiap inchi kulit Seokjin yang terpampang di hadapannya.

Taehyung melonggarkan pelukan, turut menarik serta tubuh Seokjin yang terbaring di bawahnya akibat terjangannya tadi. Lalu kembali memeluk pria kesayangannya itu.

“Jin-hyeong. Jin-hyeong. Jin-hyeong.” Nama Seokjin terus-menerus disebut bak lantunan mantra.

“Taehyung-ie….”

Lirihan lembut yang menggapai telinga itu membuat Taehyung melepas pelukannya lagi. Mata besarnya tampak membola. Ditatapnya sosok di hadapan sembari merengkuh wajah Seokjin mendekat. “A-Aku tidak tahu suaramu seindah ini, Hyeong…. Coba sebut namaku lagi. Aku suka suaramu.”

Seokjin terbelalak. Seolah baru menyadari kenyataan bahwa ia sedari tadi mampu menyuarakan pikirannya. “A-Aku … Taehyung-ie. Taehyung-ie.”

Taehyung tak perlu memikir dua kali sebelum mencium Seokjin dengan gemas. Kecupan-kecupan intens dilabuhkan, jilatan kecil di bibir tebal Seokjin dan lumatan agresif yang diberikan Taehyung membuat keduanya terlena. Taehyung melepas pagutan sesaat kemudian, keduanya terengah hebat. Tapi senyum lebar di wajah keduanya tak pernah absen. Seokjin tertawa diikuti Taehyung semakin posesif mendekap tubuh Seokjin.

“Aku tidak tahu aku bisa berbicara lagi. Ini terasa tidak nyata.”

Taehyung memamerkan cengiran kotak khas yang amat dirindukan Seokjin. “Aku lebih tidak menyangka saat bisa bertemu denganmu, Hyeong. Sayangku, Seokjinku sayang, aku sangat merindukanmu.”

“Aku juga, Tae. Aku juga. Ngomong-ngomong kita di mana?”

Taehyung tersenyum jahil. “Entahlah, aku tidak terlalu peduli hal itu. Yang kupedulikan, aku bertemu denganmu, Hyeong. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi.”

Seokjin tersenyum. “Dan aku masih heran aku bisa bicara lagi. Rasa-rasanya ini bukan hal yang nyata.”

Taehyung menggenggam kedua telapak tangan Seokjin dan mencium buku-buku jari Seokjin dengan mesra. “Suaramu indah, Hyeong. Meskipun ini hanya sementara atau tak nyata sekalipun, akan selalu kuingat dalam hatiku. Suaramu yang lembut dan menyejukan hatiku.”

Seokjin tertawa, nadanya begitu renyah terdengar. “Sejak kapan kau jadi pintar menggombal begini, hmm?”

“Aku bisa menjadi apa pun untukmu, Hyeong. Karena aku sangat mencintaimu.”

Seokjin merasakan sesuatu yang mencengkeram kuat di dalam hatinya. Seolah sebuah peringatan. “Andai semua ini nyata,” lirihnya seraya menunduk.

Taehyung menangkup wajah Seokjin dan kembali mengecup ringan sudut bibir Seokjin sebelum kembali mencumbunya mesra. “Aku akan membuatnya menjadi nyata untukmu, Hyeong.”

Seokjin bergeleng. “Bagaimana jika semua ini hanya fatamorgana? Aku takut berharap lebih, Taehyung-ie. Saat harapan itu memuncak lalu ternyata semuanya hanyalah angan kosong belaka. Jatuh itu sakit, apalagi ketika kau sudah melambung begitu tinggi.”

Taehyung kembali menggenggam kedua telapak tangan Seokjin dan meremasnya perlahan. Kepalanya bergeleng-geleng hingga rambutnya ikut bergoyang. “Tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu, Hyeong. Tidak akan lagi.”

“Bagaimana kalau perasaanmu berubah? Bagaimana kalau kau tidak mencintaiku lagi? Bagaimana kalau kita tidak bertemu lagi? Bagaimana kalau—hmmph”

Taehyung membungkam bibir Seokjin sekali lagi. Mengecupnya hati-hati, membiarkan Seokjin tahu seluruh hal yang dirasakannya. Rasa cintanya, ketakutan maupun kebahagiaannya juga. Bibir Seokjin dikulum bergantian dengan penuh kelembutan. Hingga segenap rasa dan kerinduan yang selama ini terpendam pun tersalurkan.

“Aku tidak akan berubah, perasaanku dan hatiku. Tidak akan pernah. Hanya ada kau, Jin-hyeong. Selalu kamu dan dirimu yang bertakhta di sini.” Taehyung menempelkan telapak tangan Seokjin menuju di mana jantungnya berdegup. “Aku akan menemukanmu lagi dan lagi, tak peduli bila kita terpisah berkali-kali. Aku akan selalu menemukanmu, Hyeong. Aku pasti menemukanmu. Aku akan meyakinkanmu lagi, berapa kali pun kau merasa ragu. Aku akan meneguhkanmu, menjadi penopangmu, bila kau lelah dan membutuhkan sandaran. Aku akan menjadi sandaranmu, Hyeong.”

Seokjin merasa matanya memanas. Lalu lelehan bening itu mengalir menuruni pipinya. Taehyung sigap merengkuhnya kembali dalam pelukan. “Hyeong, ingatlah. Di mana pun dirimu berada, aku akan menemukanmu. Meski itu akan memerlukan waktu, tapi kumohon bersabarlah dan tetaplah menunggu. Aku pasti akan segera menjemputmu kembali. Aku—aku tidak bisa hidup tanpamu. Kaulah satu-satunya alasan aku masih hidup, Hyeong. Karena itu jangan katakana bahwa kau ingin menyerah. Bertahanlah sedikit lagi. Aku akan menemukanmu dan membawamu pulang, Hyeong.”

“Tae….”

“Jangan menangis, Jin-hyeong.”

Seokjin bergeleng lemah dalam pelukan Taehyung. Tangannya merambat naik untuk menangkup wajah Taehyung yang sama basah oleh air mata. Disekanya air mata Taehyung dan ditariknya wajah Taehyung lebih dekat untuk mengecup sudut mata Taehyung. Isakannya masih terdengar, tapi Seokjin sudah mampu mengendalikan dirinya.

“Jangan tinggalkan aku lagi, Tae. Jangan pernah pergi lagi.”

Taehyung mengangguk, senyum kecilnya terbit. Diciuminya wajah Seokjin lagi dan lagi. Seokjin membalas perlakuan itu.

“Tae,” panggil Seokjin lagi. Ibu jarinya yang berada di dagu Taehyung mengusap-usap bagian itu dengan lembut.

“Hmm….”

“Kalau ini mimpi…. Aku tidak mau bangun lagi.”

Taehyung terkekeh. “Jangan begitu dong, Jin-hyeong. Kalau kau tidak bangun bagaimana aku bisa menemukanmu?”

Bibir yang merekah itu mengerucut lucu. Membuat Taehyung gemas dan mengecupinya lagi. Seokjin sampai harus mendorong wajah Taehyung menjauh. “Aku tidak mau berpisah lagi denganmu,” rajuknya seraya mengeratkan pelukan di pinggang Taehyung.

Taehyung menggoyangkan tubuh Seokjin dalam pelukannya ke kanan dan ke kiri dengan gemas. “Jin-hyeongku sayang… jangan khawatir. Aku pasti akan menemukanmu. Aku janji, dengan seluruh hidupku. Aku akan menemukanmu, meski harus mengarungi tujuh samudera sekalipun.”

Seokjin mengangguk pelan. “Baiklah. Aku akan menunggumu.”

Senyum Taehyung tak pernah selebar ini sebelumnya. Seokjin ikut tersenyum. Disandarkannya kepala pada perpotongan bahu Taehyung, membiarkan tubuhnya di dekap erat.

Ketakutan yang selama ini bercokol di hati mereka pun hilang. Hanya ada sukacita, hanya ada bahagia.

Setelah itu segala sesuatunya tampak mengabur. Entah siapa dulu yang terbuai oleh lena dendang alam nan syahdu. Seokjin hanya mampu mengingat samar-samar perkataan Taehyung yang melirih.

“Tunggu aku, Hyeong. Aku pasti menemukanmu dan membawamu pulang. Aku mencintaimu. Selalu.”

Seokjin terbangun ketika fajar masih berpijar nun jauh di ufuk timur. Entah mengapa ia begitu bersemangat hari ini. direnggangkan tubuhnya dengan hati-hati sebelum beranjak ke kamar mandi. Ia memandangi refleksinya di cermin. Wajahnya tampak berseri-seri. Mungkin karena kualitas tidurnya yang membaik?

Kalau boleh jujur, tadi malam adalah tidur terbaik yang pernah dirasakannya semenjak jauh dari Taehyung. Tangan Seokjin terhenti saat akan meraih sikat giginya yang ditaruh dalam sebuah gelas di atas wastafel manakala mengingat Taehyung.

Sekelebat bayangan di mana ia berada di pelukan Taehyung dan ciuman-ciuman yang mereka bagi bersama kembali memenuhi memorinya. Seokjin mengingatnya. Mimpinya semalam. Ia bertemu Taehyung dan mereka begitu bahagia. Seokjin memejamkan matanya. Mengilas balik kenangan dalam mimpinya yang tergambar begitu nyata di dalam kepala.

“Tunggu aku, Hyeong. Aku pasti menemukanmu dan membawamu pulang. Aku mencintaimu. Selalu.”

Seokjin tersenyum mengingat kembali kalimat yang diucapkan Taehyung. Firasatnya berkata untuk mempercayai apa yang ingin ia percayai. Karena itu meski terasa lelah untuk berharap, Seokjin memantapkan hati. Ia akan berharap lagi. Berharap untuk dapat bisa bertemu kembali dengan Taehyung. Ia akan menunggu. Berapa pun lamanya, Seokjin yakin di luar sana Taehyung tetap gigih untuk menemukan cara agar dapat menemuinya lagi.

‘Taehyungie, aku akan menunggumu di sini.’

.
.
.

End

 

 

Notes:

Terima kasih sudah mampir dan membaca!

Ada beberapa lagu yang menemani rexa saat menulis fanfic ini. Inspirasi cerita ini juga berasal dari lagu-lagu tersebut.
- Whalien 52 – BTS
- Coffee – BTS
- The Truth Untold – BTS (Jin, Jimin, V, Jungkook)
- Jamais Vu – BTS (Jin, J-Hope, Jungkook)
- Even If I Die, It’s You – BTS (V feat Jin)

Boleh didengarkan saat membaca ceritanya, cocok untuk membangun feel ehehehe.

Sekali lagi terima kasih sudah berkenan membaca. Jngan lupa baca main story Just Roommate di Wattpad ya?!

Sampai jumpa lagi

Rexa, signing out~