Work Text:
Ooki Yuu ingin jadi kurus.
Bukan, bukan sekurus model pakaian yang dilihatnya di katalog fashion. Mereka orang-orang yang menjalani diet ketat demi pekerjaan.
Ooki ingin jadi seperti Carla Chrétien. Bukan, Carla Chrétien bukan supermodel; bukan di zaman ini, seandainya mungkin. Yang jelas, Carla Chrétien bertubuh tinggi semampai, berwajah langsing dengan mata besar yang indah—pendek kata, cantik. Carla tak perlu make-up untuk bisa tampil memukau, meski Ooki tahu di waktu itu belum ada yang namanya tata rias wajah apa lagi untuk orang-orang yang mengabdi kaum kerajaan.
Carla Chrétien sudah meninggal, dengan tragis, sama seperti para ksatria Moswick lainnya di kastil itu—di zaman itu.
Carla Chrétien sekarang adalah Ooki Yuu.
.
.
.
.
.
Bokura no Kiseki (c) Natsuo Kumeta
The Pearl Inside (c) Roux Marlet
-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari fanfiksi ini-
Dipublikasikan untuk #SelfWorthChallenge
#ValueYourself
Warning: modified canon, gross stuff
.
.
.
.
.
Angka yang ditunjukkan alat itu masih dua digit yang mirip: angka delapan di depan, dan hari ini sembilan di belakang.
Gadis bernama Ooki itu menghela napas. Bukannya turun, berat badannya malah membengkak beberapa minggu belakangan. Ooki tahu itu salahnya sendiri. Dirinya sadar betul akan caranya mengatasi stres: makan dan ngemil.
Dengan ujian-ujian tengah semester hampir dekat dan munculnya kembali memori semua orang akan zaman itu, mana bisa Ooki cari pelarian selain menandaskan persediaan cemilannya, sendirian, di dalam kamar?
Bukannya Ooki belum pernah menghadapi stres sebegini; waktu SMP sudah pernah dan dia bisa bertahan. Tapi kali ini, di tahun pertama SMA-nya, tidak akan semudah itu.
Apa lagi karena semua orang dengan memori di zaman itu pasti akan berpikir, betapa berbedanya Carla Chrétien dulu dengan sekarang. Tak seperti Rida Razarasare yang bereinkarnasi menjadi Takao Haruko (Takao tetap langsing, tegap, cantik seperti Rida) atau Lily Eccleston yang kini bernama Nishizono Momoka (Nishizono tetap mungil, imut nan manis seperti Lily). Kenapa hanya dirinya yang berubah sangat drastis, dari Carla the beauty menjadi Ooki the beast—yang gendut gempal berwajah bundar dengan mata kecil dan muka berbintik-bintik?
Oke, memang tidak ada di antara orang-orang yang bereinkarnasi itu menjuluki Ooki “the beast”, tapi teman SMP-nya pernah mengatainya begitu satu kali, dan gara-gara memorinya sebagai Carla telah kembali dia jadi kepikiran.
Pagi itu Ooki berangkat ke sekolah dengan lebih enggan. Bekal makan siang serta perlengkapan lainnya yang disiapkan ibunya dan dibawanya di dalam tas terasa berat, seperti langkah kakinya yang mungkin teraniaya oleh berat badannya.
“Selamat pagi, Ooki,” sebuah suara menyapanya saat sampai di pintu kelas.
“P-pagi,” sahutnya, menyunggingkan senyum kaku pada temannya yang duduk di dekat pintu itu.
“Kamu agak pucat. Apa mimpi buruk?”
“T-tidak, Minami. Tidak ada mimpi buruk semalam.”
“Syukurlah kalau begitu,” pemuda bernama Minami itu tersenyum tulus dan melanjutkan membaca buku sementara Ooki mengangguk dan pergi ke kursinya.
Ooki tahu Minami Harusumi sendiri—dulunya Putri Veronica—mestinya jauh lebih banyak bermimpi buruk tentang kehidupan sebelum reinkarnasi. Di zaman itu, orang bisa menggunakan sihir dengan bagian dirinya: rambut, tali pusat, bahkan darah. Di satu waktu di zaman itu, digelar sebuah pernikahan politis antara Putri Veronica dari Zerestria dengan Pangeran Eugene dari Moswick, dan Carla termasuk pengawal kerajaan Moswick yang bertugas mengawal sang pangeran. Beberapa waktu setelah pernikahan itu, kastil Zerestria diserang dan hancur. Minami yang dulunya Putri Veronica, sebagai pemilik kastil yang terkena serangan itu, sudah pasti menyaksikan—begitu yang Ooki dengar—banyak sekali kematian. Sang putri sendiri kabarnya mati belakangan, karena ingatan orang-orang lain berhenti di banyak waktu sebelum adanya sihir besar berupa pilar cahaya (artinya mereka sudah mati sebelum pilar cahaya itu aktif), sedangkan Minami bilang pilar cahaya itulah sihir yang telah membunuhnya. Sampai saat ini belum ada yang tahu dalang di balik pembunuhan massal dengan sihir waktu itu, tapi menurut Minami pengguna pilar cahaya itu adalah Pangeran Eugene sendiri, meski belum jelas apa motifnya.
Kalau ada di antara mereka semua yang bereinkarnasi ini bisa disebut pahit, Minami adalah yang nasibnya paling pahit di masa lalu. Begitu pun, Minami mencemaskan perkembangan memori orang-orang lain yang pernah hidup satu zaman bersamanya dan memastikan masa lalu mereka tidak mengganggu masa kini.
Ooki tidak bohong ketika bilang pada Minami dirinya tidak bermimpi buruk. Carla sendiri dahulu mati dalam satu serangan sihir dan Ooki belum berhasil mengingat semua detailnya, jadi hal itu tidak terlalu mengganggunya. Hal yang jelas-jelas lebih mengganggu adalah fakta bahwa dirinya yang dulu sebagai Carla punya penampilan impian yang mustahil didapatkan Ooki sekarang. Ooki merasa payah sekali; di saat Minami dan yang lain berusaha menghadapi pahitnya kematian yang tidak adil, dirinya malah menangisi penampilan yang tidak seindah dulu.
“Hei, Ooki. Nanti siang sepulang sekolah para ksatria Moswick mau berkumpul di taman belakang. Kamu ikut, 'kan?”
Yang dipanggil menengadah, buyar dari lamunan. “Oh. H-hai, Nishina. Hmm, dalam rangka apa?”
Nishina Mizuki, pemuda berkacamata itu, duduk di kursi di depan Ooki. “Kita akan bahas perkembangan tentang Pangeran,” ujarnya pelan-pelan. “Minami sudah tahu, sih. Ini bukan pertemuan rahasia. Tapi, eksklusif untuk ksatria Moswick saja. Takao dan Hiroki dan para pendeta tidak ada yang ikut.”
“Ksatria Moswick saja? Maksudnya pengawal Pangeran Eugene saja?”
“Betul, pengawal Pangeran Eugene saja.”
“Berarti aku dan Nishina, lalu Teshimano ...”
“Juga Yanuma dan Motoi. Kita berlima. Teshimano yang punya usul ini.”
“O-oke, baiklah.”
“Kami mengandalkanmu, Carla Chrétien.” Nishina bangkit sambil menepuk bahu Ooki dan tersenyum.
“Ashley Guivarch juga,” sahut Ooki, menyebut nama Nishina di zaman itu. Dipandanginya punggung Nishina yang menjauh dan teringatlah Ooki akan sebuah kalimat dari pemuda itu,
“Kita semua berubah setelah reinkarnasi!”
.
.
.
.
.
“Jadi, apa pendapat kalian seandainya Pangeran Eugene juga bereinkarnasi ke zaman ini?” Teshimano melontarkan pertanyaan.
“Aku akan tetap setia padanya dan melindunginya,” jawab Nishina tanpa ragu.
“Aku juga sama,” susul Ooki.
“Aku … aku tidak akan mematuhi perintahnya, karena bagiku aku yang sekarang bukan lagi seorang ksatria. Tapi aku akan membiarkannya hidup,” Motoi berpendapat.
“Aku tidak mau mematuhinya lagi,” jawab Yanuma singkat.
“Teshimano sendiri bagaimana?” tanya Nishina.
Ada jeda yang agak panjang sebelum pemuda berambut kucir itu menyahut, “Aku sudah bukan pengawalnya. Tapi … ya, aku juga akan membiarkannya hidup.”
Jeda lagi sebelum Teshimano menutup diskusi,
“Kita belum tahu apa alasan Pangeran Eugene menggunakan sihir pilar cahaya itu. Apakah dia sesungguhnya memang berniat jahat atau tidak—dan jika tidak, artinya pilar cahaya itu hanya kecelakaan—bahkan Minami dan yang lain belum bisa tahu. Tapi setidaknya kita sepakat,” Teshimano memandangi teman-temannya satu per satu sebelum melanjutkan, “kita semua di sini tidak ada yang ingin membunuh Pangeran Eugene, apa pun kebenarannya.”
Pertemuan lima orang yang sama sekali jauh dari kata hangat itu pun bubar. Teshimano masih akan berkumpul bersama Minami dan yang lain, Motoi masih ada klub baseball, dan Yanuma pergi les piano. Nishina pulang bersama Ooki berjalan kaki, kebetulan rumah mereka searah.
“Ngomong-ngomong, Ooki, kamu agak pucat ya?” Nishina membuka pembicaraan. “Teshimano sendiri tidak bilang dirinya dendam pada Pangeran Eugene, 'kan? Apa kamu merasa terintimidasi oleh pertanyaannya tadi?”
“Ti-tidak, kok. Aku tidak merasa begitu. Menurutku Teshimano sedang dilema.”
“Sepertinya dia tahu lebih banyak karena diberi tahu Minami, tapi apa pun itu belum bisa disampaikannya pada kita.”
“Ya, mungkin memang begitu.”
“Kamu sudah makan?” Nishina bertanya tiba-tiba.
Ooki panik ditanya begitu. “B-belum.”
Nishina tertawa kecil. “Pantas saja kamu pucat. Biasanya kamu selalu makan tepat waktu, 'kan? Kenapa belum makan?”
Pertanyaan Nishina bernada perhatian dan ingin tahu, tapi Ooki tak bisa menjawab. Sesungguhnya Ooki juga sedang dilema. Di satu sisi, dia menyukai Nishina tapi tidak mau Nishina tahu. Di sisi lain, ia senang pada perhatian Nishina tapi malu pada kondisinya yang menyedihkan.
“Apa Ooki sakit?”
Yang ditanya menggeleng, berbohong. Nishina menghentikan langkah.
“Kamu jelas sakit. Apa kamu sanggup jalan sampai ke rumah?”
“Memangnya Nishina kuat menggendongku kalau aku bilang tidak?” Ooki menyemburkan kalimatnya tanpa berpikir dan seketika menyesalinya. Tanggapan apa pun dari Nishina akan semakin melukai harga dirinya. Betapa tidak tahu dirinya Ooki! Lihat, Nishina itu badannya ramping. Meskipun dia laki-laki, mana kuat dia menggendong Ooki yang beratnya hampir satu kuintal …?
“Tidak perlu digendong, 'kan. Kelihatannya kamu masih kuat jalan kalau bisa membentak seperti barusan,” sahut Nishina sambil terkekeh. Wajah Ooki memerah sampai ke telinga.
“Mau duduk sebentar? Itu ada bangku taman. Aku baru ingat perlu mengirim pesan ke ibuku.”
Ooki sudah hampir membantah saat ditawari duduk, mengira Nishina mengajaknya istirahat karena tahu berat badan berlebihan membuatnya lekas capek. Entah yang mana alasan Nishina yang sebenarnya, tapi Ooki lega bisa duduk dan mengistirahatkan kaki gempalnya. Nishina sibuk dengan ponselnya selama beberapa menit sebelum bicara lagi,
“Kamu biasanya bawa bekal, 'kan?”
Hanya anggukan dan jawaban lirih, “Iya.”
“Kenapa belum dimakan? Kalau Carla dulu juga selalu makan pada jadwalnya, 'kan.”
Ooki hanya diam. Nishina juga tak bersuara, memantau ponselnya kembali. Ooki sendiri yang kemudian memecahkan keheningan.
“Nishina … k-kamu ingat aku pernah tanya padamu, 'Pasti kamu berpikir, betapa jeleknya Carla yang sekarang'?”
Menutup layar ponselnya, Nishina menyahut, “... ya, aku ingat.”
“La-lalu kamu bilang, 'Kita semua berubah setelah reinkarnasi,' dan itu betul.”
“Memang. Tidak ada yang peduli bedanya penampilanmu dulu dan sekarang.”
“Tapi aku peduli,” bantah Ooki, nyaris menangis. “Aku sudah mencoba meyakini perkataanmu, tapi tidak berhasil. A-aku menderita bulimia. Tadi siang aku tidak ikut kelas olahraga karena pingsan di ruang ganti perempuan.”
Nishina tidak menanggapi sementara air mata Ooki berlinangan. Memalukan sekali penderitaannya itu, tapi Ooki belum menemukan cara untuk sembuh. Dia minum obat tiap hari dan mengikuti konseling setiap minggu, tapi akhir-akhir ini setiap makan banyak dia selalu muntah bahkan tanpa dirangsang. Ooki tak tahu lagi apakah nama penyakitnya masih bulimia atau yang lain. Dia menyesal pernah beberapa kali mencoba memuntahkan makanannya ketika merasa terlalu banyak makan. Sekarang, semua makanan yang masuk di kerongkongannya terasa seperti sodokan yang memicu rasa mual.
“Apa Ooki … sudah coba berobat?” Nishina bertanya pelan-pelan.
Yang ditanya mengangguk, masih terisak. “Orang tuaku membawaku k-ke dokter dan ke psikolog. Tapi aku tidak mungkin cerita ke mereka ten-tentang Carla.”
Ooki kaget ketika Nishina menepuk bahunya—dengan cara yang sama seperti bila Minami menepuk bahu Teshimano, antara teman laki-laki. Tepukannya keras, seolah menyalurkan kekuatan.
“Maaf,” kata itu meluncur perlahan dari Nishina, “mungkin aku juga terlalu membanding-bandingkan Ooki dengan Carla. Aku tidak mengerti perasaan Ooki.”
Nishina menghela napas dalam selagi Ooki masih sesenggukan.
“Carla adalah Carla. Ooki adalah Ooki. Kalian masing-masing cantik dengan cara sendiri-sendiri.”
Kepala Ooki terasa ringan karena terlalu banyak menghirup udara saat menangis. Sedang dicernanya kalimat Nishina yang terakhir, tapi yang bersangkutan sudah bicara lagi,
“Coba kamu makan sedikit bekalmu, sambil memikirkan hal yang menyenangkan. Apa pun selain memori Carla dan tentang zaman itu.”
.
.
.
.
.
Apa hal yang menyenangkan bagi Ooki Yuu? Membayangkan makan cokelat dan keripik di dalam kamar sambil nonton anime di laptopnya. Selain itu, Ooki suka kuda poni. Dia punya beberapa figurin kuda poni di samping tempat tidurnya dan teringat sosok-sosok manis warna-warni itu membuatnya senang.
Bagi Ooki, makan ditemani Nishina juga menyenangkan.
.
.
.
.
.
Esok siangnya, Nishina yang mendapati Ooki jauh lebih segar dan tidak sepucat kemarin menawarkan diri untuk menemani makan di taman sekolah, yang tidak seramai kafeteria saat jam makan siang.
“T-terima kasih, ya, Nishina.”
“Kembali. Bagaimana makanmu?”
“Ng … semalam aku bisa makan banyak tanpa muntah. Sarapan tadi juga.”
“Syukurlah.”
“I-ini berkat Nishina.”
Pemuda itu memandanginya dengan pandang bertanya.
“Semuanya hanya karena cara pandangku salah. Nishina yang membetulkan.”
Nishina tertawa merendah. “Begitu, ya. Baguslah kalau omonganku bermanfaat.”
Ooki mengerutkan dahi. “Tentu saja bermanfaat. M-memangnya Nishina pernah omong besar?”
Yang ditanya meringis. “Dulu sekali. Malah mungkin sering. Tapi kita tidak akan bahas itu sekarang.”
Sambil melanjutkan makan, Ooki berpikir-pikir dan menduga bahwa omong besar yang dimaksud 'dulu' adalah ketika Ashley Guivarch masih bangsawan terpandang yang suka main wanita. Yah, banyak hal terjadi dan status kebangsawanan itu dicopot, bahkan Ashley nyaris dihukum mati waktu itu; tapi berkat Pangeran Eugene, nyawa Ashley selamat. Dari situ tak heran Ashley—Nishina—bersumpah setia pada sang pangeran.
Ooki sendiri yakin bahwa Pangeran Eugene tidak bermaksud jahat dalam peristiwa penyerangan kastil Zerestria. Namun apa yang sesungguhnya terjadi, masih misteri. Ooki sudah memutuskan untuk tetap bertahan pada apa yang telah dipilihnya dahulu: seandainya Pangeran Eugene juga bereinkarnasi ke masa ini, Ooki akan tetap setia pada sang pangeran.
Oh, ada satu hal lagi yang terlintas dalam memori Ooki.
Carla pernah mendengar Ashley bicara dengan salah satu ksatria Zerestria tentang dirinya, satu-satunya ksatria perempuan dari Moswick—secara tak sengaja, tentu. Ashley bilang bahwa Carla memang cantik, tapi kekuatan Carla bukan terletak pada kecantikannya itu.
Terkait hal itu, sejurus kemudian Ooki bertanya pada Nishina, “A-apa maksudmu kemarin, tentang cantik dengan cara masing-masing?”
Nishina menjawab, “Semua orang di sini berubah setelah reinkarnasi. Tapi, sama sepertiku, Ooki tetap setia pada Pangeran Eugene. Kesetiaan itu mutiara yang lebih indah di balik cangkang penampilan yang indah.”
Ooki tahu bahwa Nishina sebagai Ashley Guivarch di zaman itu memang seorang bermulut manis, yang dimaksudkannya sebagai omong besar di pembicaraan sebelumnya. Tapi setidaknya, ia tahu kalimat Nishina yang barusan bukan rayuan gombal. Tidak mungkin merayu gadis seperti dirinya ini, lagipula kemarin Nishina menepuk bahunya seolah-olah dia teman laki-laki—atau itu lebih karena mereka dulu sesama ksatria Moswick?—tapi hei, bukankah Nishina bilang dirinya cantik?
“Jadi, Ooki mau atau tidak?”
“A-apa?”
“Ooki dan aku 'kan sama-sama setia pada Pangeran Eugene."
“I-iya. Lalu?”
“Bagaimana kalau kita jadian—he, Ooki? Oh, tidak. Tolong! Hei, Minami, Teshimano! Tolong ke sini! Ooki pingsan lagi!”
