Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2019-09-09
Updated:
2020-04-29
Words:
82,336
Chapters:
59/?
Comments:
1
Kudos:
11
Bookmarks:
2
Hits:
426

Bunga Rampai

Summary:

Kompilasi cerita Indonesia AU. Ada yang selesai, ada yang tidak. Dikumpulkan di sini agar lebih mudah dibaca.

Notes:

Dulu AU ini dibuat untuk sebuah novel berlatar belakang Reformasi 1998 (karena belum jadi enulis Indonesia beneran kalau belum nulis latar itu). Tapi makin ke sini kisahnya malah berkembang jadi slice of life kehidupan Mali dan Liveo. Welp.

Chapter 1: 198x - Jonathan dan Ira

Chapter Text

Inilah yang berenang dalam pikiranmu saat kau memikirkan tentang cinta:

 

Apa gejala-gejalanya? Berapa kali hatimu harus berdetak lebih cepat (dan berapa banyak per menitnya); pada gradasi merah jambu mana pipimu harus memarun untuk tahu kau menyukai seseorang? Di mana, tepatnya, titik tak dapat kembali, momen di mana perasaan seseorang bergeser dari kasual ke intim? Bagaimana kau membedakan antara afeksi platonis dengan cinta membara mentah-mentah? Seperti apakah tepatnya “perasaan” yang dirasakan semua orang yang mengaku pernah jatuh cinta itu—mereka bilang cinta terasa berbeda bagi setiap orang, tapi pasti ada suatu pola di sana, bukan? Bagaimana mungkin kau mendefinisikan sesuatu yang tidak memiliki pola yang sama, berkata “hei, aku jatuh cinta pada si dia”, dengan taraf keyakinan yang sama seperti saat kau menyatakan satu ditambah satu sama dengan dua?

 

Mereka bilang kau berpikir terlalu rumit. Kau tidak bisa tidak.

 

Mereka bilang “ikuti saja perasaanmu”—tapi mereka tidak tahu beginilah caramu mengikuti perasaan, dengan memperhitungkan segalanya sampai titik pembulatan terakhir, dan ketika kau tidak mampu menemukan perhitungan yang tepat, kecil kemungkinan kau akan memahaminya.

 

Orang bilang kau tidak punya hati. Mereka benar, tetapi itu tetap menohok. Kau tidak mengerti mengapa sesuatu yang benar bisa menohokmu saat kau juga membenci kebohongan.

 

Perasaan manusia adalah perhitungan paling sulit yang pernah kau temui. Menurutmu mungkin itulah koding spesial milik Tuhan agar manusia-manusianya tidak menciptakan manusia-manusia mereka sendiri.

.

.

Suatu hari di musim hujan kau pulang dari pertandingan sepak bola sore. Gerimis yang menggelitik di lapangan telah berubah jadi siraman bah yang menghajar kepalamu dan kau terpaksa berteduh, menggerutu, menuntun sepedamu ke emper toko tua. Di sisi lain emperan adalah warung serabi oncom kenamaan, pembelinya membludak-bludak tak peduli hujan deras yang menghantam. Seorang gadis sedang ikut mengantre, nampak kepayahan membawa dua kantong belanjaan yang menyantel di siku dan satu payung yang dijepit di antara leher dan bahu. Kedua tangannya yang berjari lentik sedang sibuk berusaha mengambil sesuatu dalam tas punggung yang digendong di dada. Melihat wajah manisnya, kau teringat salah satu penyanyi pop kondang dan lagunya pun langsung terngiang di kepala:

 

Entah di sana, atau di sini

Bahagia semua di dunia ini

Oooh....

Dunia di mana arahmu

Ingin aku memandang....

 

Sehembus angin kencang bertiup dan payung gadis itu tertarik jauh, bergulung-gulung di jalan. Tiba-tiba saja kau telah sigap berlari mengejar benda itu kemudian mengembalikannya pada si gadis yang menatapmu dengan mata lebar penuh kejut.

 

“Hati-hati bawa payungnya Mbak,” celetukmu saat mengembalikan benda itu kepadanya, ingin berlagak seperti cowok berkharisma tapi gagal total. Kau berusaha keras menahan merah di pipimu, tersenyum lebar untuk menutupi rasa malumu. Di sini harusnya kau tidak bilang “Mbak”. Di sini harusnya lidahmu mengucap “Teh”.

 

Satu hal yang membuatmu lega, gadis itu pun agaknya merasa sama kikuknya. Ia menerima payungnya dengan canggung, kantong belanja di kedua sikunya berkeresek berisi; cuping telinganya memarun manis saat ia menunduk dan berkata lembut,

 

“Iya a’, terima kasih. Maaf aa jadi kerepotan mengambilkan segala.”

 

Seusai hujan, kau mengayuh kembali sepedamu, mengarahkannya ke sekumpulan ayam yang sedang asyik menotoli tanah, terkekeh sendiri saat mereka menyingkir sambil berkotek panik. Kau tiba di rumah membawa sebuah pengetahuan baru:

 

Nama gadis itu Ira.

.

.

Ira tidak melihat dunia sebagaimana kau melihatnya.

 

Orang banyak berpendapat bahwa kemampuan analitismu adalah salah satu yang terbaik. “Jenius”, begitu cara mereka menyebutnya. Tapi mereka tak pernah tahu betapa kau mengagumi cara Ira memahami banyak hal tanpa preambel logika aritmatika. Dia tidak perlu mengamati dan memisah-misah tingkah laku seseorang, mencocokkan mereka dengan kategori-kategori teoritis sifat manusia, dan mempertimbangkan faktor eksternal untuk mengetahui bahwa orang A perlu diperlakukan seperti ini dan orang B perlu diperlakukan seperti itu. Ira hanya tahu, dengan cara instingtif yang sama sebagaimana kau tahu arah selatan di tempat yang tak pernah kau kunjungi sebelumnya. Segala hal yang kau pahami setelah observasi bertahun-tahun dan berlapis-lapis trial and error, dapat dilakukan secara alamiah olehnya.

 

“Itu namanya sifat perseptif,” dia menyuplaikan istilah itu padamu suatu hari, saat kau tak bisa menemukan jawaban dari rasa ingin tahumu. Kini setelah dekat dengannya kau tahu dia gadis yang pemalu—terbuat dari gestur-gestur canggung dan rona pipi, dari mata yang lebih banyak menatap tanah daripada lawan bicaranya. Bagimu, dia mengingatkanmu pada anak kucing. “Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana aku bisa “mengerti” orang lain. Aku hanya melakukan apa yang kupikir benar.”

 

“Kau bahkan tidak perlu “berpikir”,” rajukmu, menyerempet kekanak-kanakkan, seperti seorang anak yang tahu sahabat terbaiknya berbohong bahwa ia sama-sama mendapat nilai ulangan jelek hanya untuk membuatmu tenang. “Kau langsung tahu. Bagaimana mungkin? Perasaan manusia sangat rumit, setiap kali kupikir aku sudah mendapatkan pola yang tepat, seseorang datang dengan pola yang berbeda dan menghancurkan semuanya. Bagaimana kau bisa menebaknya begitu mudah?”

 

Dia telah lama memahami bahwa “mungkin kau harus berhenti memperhitungkan segalanya” bukanlah jawaban yang tepat untukmu—mengetahui, entah bagaimana, bahwa jawaban seperti itu menyakitimu lebih daripada ia menyelesaikan, bahkan ketika kau sendiri tidak menyadarinya (bagaimana mungkin kau mengenali rasa sakit yang selalu bercokol di hatimu? Kau merasa marah dan frustrasi tetapi tidak pernah sedih—tidak sampai Ira menyadarkanmu, dengan caranya yang lembut).

 

“Kamu tidak perlu menjadi perseptif untuk memahami orang lain. Menurutku caramu menilai orang lain sudah hebat.”

 

“Tetap saja berbeda,” desahmu frustrasi, “aku bahkan tak bisa cukup memahami perasaanku sendiri.”

 

“Aku bisa membantumu kalau kau mau.” Selalu lembut, selalu sopan, melipat kebaikannya menjadi eksistensi paling kecil, paling tak kentara; seolah khawatir orang lain akan merasa terganggu karenanya. Kau berharap suatu hari dia akan berhenti merasa malu karena jiwanya terlalu hangat, karena airmatanya terlalu mudah mengalir untuk orang asing di jalan.

 

“Tentu—ide yang bagus. Tapi kapan-kapan saja,” jawabmu pendek, canggung; mendadak kabur dari topik pembicaraan itu seperti belut melecut lepas dari tangan pemancing.

 

Kau ingin berbagi segala hal dengannya, sungguh. Dalam konteks paling denotatif, kau sudah melakukannya. Dari seni warna rumput sampai peristiwa-peristiwa masa lampau yang menyetir dunia ke arah yang sekarang; kau dan dia telah saling bertukar pikiran layaknya sahabat terdekat.

 

Tapi tentang perasaaan, tentang emosi, tentang kasih; kau yakin kau tak akan mampu memahaminya bahkan jika Ira menjelaskan dalam kata-kata sederhana. Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul di benakmu, obsesif dan bertumbukan dalam kereta-kereta hipotesis dan perhitungan yang belum kau temukan rumusnya, namun satu yang pasti:

 

Kau tidak akan menemukan jawabannya kecuali kau mencarinya sendiri.

.

.

Ketika kau menyadari kau mencintai Ira, kau sedang mengantre di depan warung surabi di tengah hujan deras, payung lipat kecilmu hanya mampu melindungi sebagian kecil kepalamu sementara di sekujur tubuh kau sudah kuyup oleh air hujan yang terbawa angin. Sepatu pantofelmu tenggelam dalam comberan di trotoar yang melengkung, dan orang-orang yang turut mengantre bersamamu mengeluh panjang pendek, mempertanyakan kualitas warung surabi yang jualannya enak tapi terlalu sempit bagi semua pengunjung.

 

Sore itu kau baru pulang kerja—lelah, lapar, dan sedikit dongkol karena siapapun di atas sana memutuskan untuk memeras awan tepat saat kau keluar kantor. Kau hanya ingin segera meloncat ke kasur dan tidur sampai besok pagi (sayangnya besok bukan akhir minggu). Tapi kau kemudian melewati warung itu, warung dengan antrean panjang di depannya meskipun hujan tak mau kompromi; dan kau teringat perjumpaan pertamamu dengan Ira dan bagaimana ia pernah berkata bahwa surabi oncom adalah makanan favoritnya, begitu suka hingga ia rela menempuh perjalanan lima belas kilometer dari rumah untuk membelinya.

 

“Sayangnya tidak bisa sering-sering ke kota,” katanya, saat kau berjalan bersisian dengannya di bulevar kampus, cukup puas mendengarkan ia berbicara. “Abah bilang anak perempuan tidak baik main kejauhan sering-sering.”

 

Selanjutnya kau mendapati dirimu bergabung dalam antrean panjang itu, dan saat antrean bergerak terlalu lambat atau angin kencang bertiup menamparkan lebih banyak air ke jasmu, kau bertanya-tanya kenapa orang rela menunggu dengan konyol seperti ini hanya untuk sepotong surabi dan kenapa, demi segala keanehan dunia, kau pun ikut-ikutan. Kau bahkan tidak akan mau melakukannya jika dimintai tolong orang lain dan dibayar. Tapi di kepalamu terbayang wajah Ira, bagaimana ia akan begitu senang bahwa kau mengabulkan harapannya. Dia bahkan tak perlu meminta.

 

Melihatnya bahagia—sekecil apapun itu—membuatmu bahagia juga.

 

Kemudian kau teringat ibumu dulu, bagaimana ia selalu menawarkan ayam goreng di piringnya terlebih dahulu karena dia tahu kau sangat menyukainya, bahkan ketika itu berarti dia hanya makan nasi dan sambal.

 

“Tapi Ibu juga kan suka ayam goreng,” ujarmu penasaran, “nanti Ibu makan pakai apa?”

 

“Tidak apa-apa,” jawabnya selalu, “Ibu lebih puas melihat kamu memakan ayam goreng itu daripada Ibu makan sendiri.”

 

Dulu kau merasa itu jawaban yang sangat aneh, bahwa ibumu mungkin berbohong hanya untuk membuat anaknya senang. Kini kau tahu perasaannya.

 

Selama kau bisa berdiri dan bergerak kau ingin menuangi Ira dengan kebahagiaan, karena melihat keinginannya terpenuhi adalah kepuasan bagimu. Kepuasan yang, setelah kau menganalisanya lebih lanjut, berbeda dengan rasa bercampur bangga yang kau peroleh saat berhasil mengerjakan suatu proyek sulit dari bosmu. Bukan juga kepuasan bercampur rasa tenang saat kau sukses mengalahkan salah satu ketakutanmu. Yang menjalar di perutmu adalah sesuatu yang lebih damai, seperti panggilan yang terpenuhi, seperti melakukan apa yang menjadi tujuanmu lahir di dunia. Kau bahkan tidak membutuhkan pengakuannya, dia tidak perlu tahu usahamu kerasmu. Jika kau harus berjuang dan menderita untuknya, kau akan melakukan itu dengan senang hati.

 

Hujan semakin deras dan kau harap kau tidak jatuh sakit sebab kau tidak ingin dia merasa bersalah. Ini adalah keputusanmu sendiri, tindakan martir personalmu.

 

Lalu kenyataan itu menghantammu begitu saja: kau mencintainya. Sudah mencintainya selama beberapa waktu, jika keinginan untuk membahagiakannya adalah suatu indikasi. Rasa-rasanya kau telah melakukan banyak hal demi Ira, meski di ingatanmu tak ada yang berbekas lagi: bagimu, entah sejak kapan, itu telah menjadi hal naluriah, tak perlu dihitung sebagaimana kau tak pernah menghitung napasmu.

 

Kau menghabiskan sisa waktu mengantre dengan wajah melamun, otakmu sibuk mengejar-ngejar memori untuk menemukan kapan, tepatnya, kau jatuh cinta padanya. Seperti biasa pertanyaanmu jatuh tak terjawab, tapi untuk sekali ini kau tidak lagi merasakan kekecewaan besar pada dirimu sendiri, seolah kau menatap lubang besar dari sesuatu yang hilang yang dengan mudah ditemukan orang lain.

 

Kau sudah mencintainya dan kau tidak perlu melacak balik untuk tahu kenapa, hanya perlu melangkah ke depan.

 

“Aku mencintainya,” gumammu pada diri sendiri sore itu, berjalan pulang dengan payung di satu tangan dan sebungkus surabi panas di tangan lain. Kakimu berdecak menginjak genangan-genangan air, hatimu terkejut pada keberanianmu menyatakan cinta secara lisan, mengabarkannya pada kosmik dan mematenkannya sebagai kenyataan.

 

Yang lebih mengejutkan adalah bahwa kau tidak takut karena kau tahu itu benar.

 

“Aku mencintainya.”

 

Kau mengabarkan itu berulang kali hingga kata-katamu nyaris menjelma ke suatu bentuk fisik, dan semakin banyak kau mengucapkannya semakin mudah otakmu menciptakan arti-arti di baliknya: mencintai buku-bukunya yang selalu disampul dengan hati-hati dalam plastik mika; mencintai pose berfotonya yang selalu begitu-begitu saja. Giginya, gerut-gerut di hidungnya saat ia tertawa, rambutnya yang selalu jatuh menutupi sebagian wajahnya. Caranya mengamati orang-orang yang melintas dalam diam sembari berharap yang terbaik untuk mereka, dan—

 

—kenyataan akan keberadaannya yang menimbulkan rasa sayang bawah sadar di hatimu (bagaimana mungkin kau tidak merasakannya selama ini?) dan ketidakberadaannya di sisimu yang membuatmu rindu.

.

.

“Aku mencintaimu.”

.

.

Rona mawar membersit di pipinya dan dia bergerak-gerak dalam gestur canggung, namun kau menangkap bahwa itu bukanlah reaksi terkejut dari seseorang yang tidak tahu apa-apa.

 

“Kau sudah menyadarinya duluan, ya?”

 

“Aku sudah sedikit mengira-ngira,” dia menjawab malu-malu, senyuman kecil mengembang di bawah tirai rambutnya. “Aku tidak bermaksud besar kepala, tapi terkadang itu jelas sekali, dari caramu memperlakukanku.” Dia memekik pelan salah tingkah dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Oh, astaga. Bilang apa aku ini? Kedengarannya sok sekali.”

 

Namun dalam suaranya yang teredam telapak tangan kau tetap bisa mendengar senyumnya.

 

Kau mengupas jari jemarinya dan mengintip pada matanya, yang juga menatapmu dengan tatapan hangat.

 

“Hei. Kamu tidak perlu merasa malu karena kamu benar.”

 

Kau menarik terbuka kedua tangannya hingga wajahnya telanjang padamu untuk dilihat.

 

Hari itu kau menciumnya untuk pertama kali, tapi hingga kau menikahinya dan hidup bersama-sama bertahun-tahun sesudahnya, tak pernah kau membeberkan pada mereka yang penasaran bagian mana yang kau cium.

.

.

Beginilah caramu melihat dunia:

 

Apa, kapan, bagaimana, berapa banyak, berapa jauh, mengapa, di mana; apakah sesuatu itu mustahil, mungkin, atau absolut? Kau berjingkat di setiap langkahmu seperti menyeberangi sebuah titian dari selembar jerami: penuh kehati-hatian, perhitungan, dan analisa; penuh pertimbangan bahkan ketika kau hanya ingin berhenti berpikir dan beristirahat.

 

Namun mencintainya adalah seperti terjun ke sebuah ngarai dengan mata terbebat, seperti mendaftar dalam sebuah berjalanan berabad-abad ke luar angkasa di mana spasi dan jarak tak dapat ditebak. Dan kau menikmati setiap detik—bahkan skala yang lebih kecil dari detik—dari perjalanan itu, debaran menegangkan dari rasa penasaran, ketidaktahuan; karena kau tahu saat ketidaktahuanmu terjawab nanti yang ada hanyalah sesuatu yang baru dan berharga.

 

Dan kau berhenti merasa ragu, berhenti takut melangkah jika kau belum tahu pasti—sebab kau memegang pengetahuan bahwa kemanapun kau pergi kau hanya melangkah ke arahnya.

 

Mencintainya terasa seperti memegang seluruh isi semesta di bawah kulitmu yang hanya akan meledak untuknya.

 

Mencintainya adalah mengetahui, benar-benar mengetahui, bahwa beberapa hal menjadi sempurna semata-mata karena kau tak dapat mengukurnya.