Work Text:
Agatsuma Zenitsu menggerai rambutnya yang panjang sampai melewati bahu. Ia baru saja selesai mandi dan mencuci rambutnya malam ini. Tetes-tetes air berjatuhan membasahi yukata musim panas yang dikenakannya.
Sekilas, Zenitsu mendengar suara tetesan air yang jarang-jarang, seperti jatuh dari tempat yang cukup tinggi. Itu tidak mungkin tetesan air dari rambutnya karena pasti langsung jatuh ke pakaian yang dikenakannya.
Pilar Petir mencari-cari, suara itu berasal dari—
“Tengen, kamu ngapain di situ?”
—Uzui Tengen, penerus kesayangannya, sedang bersembunyi di balik lorong. Mimisan.
.
Bermusim-musim sebelumnya.
Hari itu bukanlah hari keberuntungan Zenitsu, bukan pula hari sialnya.
Oyakata-sama memanggilnya secara pribadi, tidak bersama kedua temannya, Tanjirou sang Pilar Api dan Inosuke sang Pilar Hewan Buas. Hanya dirinya sebagai Pilar Petir yang menghadap Oyakata-sama di hari yang mendung tersebut.
“Aku punya permintaan padamu, Zenitsu,” kata beliau. Kedua putri kembarnya duduk di sampingnya seperti biasa. Zenitsu cukup penasaran.
Ia tidak tahu atau penglihatannya tak awas, seorang anak bertambah. Muncul secara tiba-tiba tepat di samping Oyakata-sama yang berwajah setenang air. Apa Oyakata-sama punya anak lainnya yang mereka para pilar tidak ketahui? Atau...
“Anak ini Tengen, dia berasal dari keluarga shinobi. Aku ingin menjadikan dia sebagai penerusmu.”
Seumur-umur, Zenitsu tidak pernah punya penerus, memikirkannya saja tidak. Kakek menjadikannya penerus menggantikan murid tertuanya Kaigaku, setelah kakak seperguruan Zenitsu itu tewas di tangannya sebagai iblis.
Zenitsu tidak punya pemikiran panjang seperti Tanjirou yang sudah memilih penerusnya, Rengoku Kyoujuurou dari keluarga yang turun temurun menjadi Pilar Api. Pun dia juga tidak seperti Inosuke yang terang-terangan menolak untuk memiliki penerus, karena teknik yang ia miliki berbeda dari yang lain menyesuaikan keadaan tubuhnya. Zenitsu hanya belum berpikiran sampai ke sana saja.
Siapa sangka Oyakata-sama lah yang akan memilihkan penerus untuknya.
Anak itu pendiam sekali. Ia akan berbicara kalau ditanya, tapi lebih dari itu ia bungkam seperti batu. Rambutnya tak berwarna, putih seperti kapur. Matanya merah menyala dan terlihat mendominasi. Setiap saat mukanya terlihat cemberut dan itu membuat Zenitsu penasaran.
“Namamu siapa?” tanya Pilar Petir tersebut. Kini ia dan calon penerusnya—Zenitsu masih menganggapnya calon, karena ia masih belum yakin akan membawa anak itu ke kediamannya sebagai penerus atau tidak—itu sedang duduk santai di bawah pohon yang teduh sambil makan onigiri salmon kesukaan Zenitsu.
“Uzui Tengen,” anak itu menjawab cepat. Ia punya suara yang berat dan jelas walau perawakannya seperti bocah berusia sembilan atau sepuluh tahun. Pakaiannya hitam-hitam seperti shinobi dan punya ikat kepala seperti milik shinobi.
“Keluargamu?”
“Tidak ada.”
“Usiamu berapa?”
“Sepuluh tahun.”
Kemudian mereka terdiam tanpa kata. Zenitsu menyesali ketidakmampuannya membawa diri di hadapan anak-anak seperti Tanjirou, yang memang memiliki banyak adik sehingga piawai membuka pembicaraan di depan anak kecil. Zenitsu, yang tidak pernah punya saudara, mendadak jadi menginginkannya.
Ditambah lagi sifat Tengen yang memang irit kata. Mungkin disebabkan karena ia dibesarkan di keluarga shinobi yang senyap, makanya sifat itu membawa kepribadian Tengen menjadi anak yang sungguh pendiam dan hanya bicara kalau ditanya.
Bahkan ia tidak mengucapkan apa-apa saat Zenitsu memberinya onigiri isi salmon. Anak itu hanya menunduk dan mukanya sedikit kemerahan. Cuma itu saja.
Zenitsu garuk-garuk kepala, bingung sendiri. Bukan masalah ia mengharapkan kata terima kasih dari si kecil Tengen, hanya saja kalau mengucapkan kalimat-kalimat dasar saja ia tidak mau, bagaimana anak itu bisa akrab dengan anak-anak lainnya nanti?
Dan yang lebih penting, kenapa Oyakata-sama memilihnya sebagai guru untuk Tengen?
.
Sebagai pasangan pilar-penerus, tentu saja Zenitsu dan Tengen tinggal bersama. Kediaman para pilar dan markas pembasmi iblis yang disatukan membuat Tengen mau tidak mau harus bertemu dan dikenalkan dengan anak-anak sesama penerus pilar lainnya. Ditambah anak-anak dari Rumah Kupu-Kupu.
“Yomoya! Selamat datang, Zenitsu-san!” sapa Kyoujuurou, penerus Pilar Api. Ia sedang menyapu halaman kediaman yang ia tinggali bersama Tanjirou. Saat melihat Zenitsu datang bersama Tengen untuk mengenalkan anak itu kepada lingkungannya, dengan bersemangat Kyoujuurou langsung mengundang mereka masuk.
“Tanjirou mana?” tanya sang Pilar Petir sambil pasang telinga ke sekitarnya. Cukup asing melihat Kyoujuurou tanpa Tanjirou di sampingnya, mengingat anak yang selalu semangat itu selalu mengikuti Tanjirou ke mana-mana seperti ekornya.
“Umu! Shishou diberi tugas oleh Oyakata-sama dan sudah pergi pagi-pagi sekali! Saya pun tidak sempat memberi percikan api doa!” tampak raut muka Kyoujuurou yang sedikit murung, mencoreng wajah bersemangat yang biasanya terlukis tanpa absen di penampilannya. Tapi anak itu lalu fokus kepada bocah berambut kapur yang dibawa Zenitsu. “Siapa dia, Zenitsu-san?”
Zenitsu juga tampak kecewa karena Tanjirou sudah pergi pagi-pagi sekali tanpa bilang apa pun kepadanya. Sepertinya tugas yang diberikan cukup mendesak. Namun Pilar Petir itu segera menimpali pertanyaan Kyoujuurou. “Namanya Tengen, dia akan jadi penerusku. Kalian bisa jadi teman baik.”
Seperti yang semua orang lakukan, Kyoujuurou mengulurkan tangannya. Ia ingin bersalaman dengan Tengen. Walaupun Kyoujuurou termasuk anak yang berusia belia, namun ia telah hafal tata krama yang tepat. “Namaku Rengoku Kyoujuurou, murid Kamado Tanjirou sang Pilar Api. Salam kenal, Tengen.”
Di sisi lain, Tengen tidak membalas jabatan tangan Kyoujuurou kecil. Ia justru menunjuk tangan Kyoujuurou dan menghadap kepada Zenitsu. Seakan bertanya apa yang harus ia lakukan dengan tangan Kyoujuurou tersebut.
Zenitsu menggaruki tengkuknya. “Umm... kamu harus menggenggam tangannya, Tengen. Kyoujuurou ingin berkenalan denganmu...”
Tengen menuruti, ia membalas jabat tangan Kyoujuurou dengan kaku. Mukanya masih bingung, tetapi ia masih melanjutkan jabat tangannya. Kyoujuurou selaku pihak yang paling bingung, cuma tersenyum saja.
“Sebut namamu,” perintah Zenitsu dengan lembut. Tengen menurutinya.
“Uzui. Tengen...” jawab murid Zenitsu tersebut, lebih kaku lagi daripada jabatan tangannya. Kyoujuurou tidak mengucapkan apa-apa, tapi Zenitsu yakin pasti anak itu bingung luar biasa. Senyumnya masih lebar, namun tidak pada tempatnya.
Sampai saat Zenitsu melepas tangan Tengen dengan lembut dari tangan Kyoujuurou, ia positif kalau tidak dihentikan Tengen akan menjabat tangan itu selamanya. Ia menepuk pundah Tengen yang sekaku boneka kayu, kemudian mengusap kepala kapurnya. “Maaf ya, Kyoujuurou. Selama ini Tengen tinggal di lingkungan shinobi, jadi ia tidak terbiasa dengan hal-hal sosial seperti ini.”
Murid Pilar Api mengerjap-kerjap, baru saja sadar dari linglungnya. “Oh, benarkah? Maafkan aku kalau begitu, kukira shinobi sudah lama punah.”
Mereka berpamitan dengan Kyoujuurou yang lanjut menyapu halamannya. Zenitsu melambaikan tangan, diikuti Tengen kecil yang melambaikan tangannya dengan kaku.
.
“Hwahahaha! Siapa makhluk kecil itu, Monitsu?”
Tengen bergidik, bukan karena ketakutan sebab melihat monster manusia berkepala babi aneh yang sedang berdiri di atas satu tangannya dan membuka kakinya lurus-lurus, melainkan karena tersinggung dikatai kecil. Anak itu bersikap sigap, mengeluarkan kunai entah dari mana kemudian menatap si monster babi tajam.
Secepat kilat Zenitsu menahan tangan muridnya. “Tahan, tahan, Tengen! Dia bukan musuh. Orang ini Hashibira Inosuke, Pilar Hewan Buas, dia teman dekatku selain Tanjirou. Inosuke, ini muridku Tengen.”
“Murid?” tanya Inosuke, ia menurunkan kakinya yang lurus horizontal, lalu berdiri seperti manusia normal. Kepala babinya dibuka, menampakkan wajah ayu seperti boneka dan rambut biru laut yang semakin pucat di bagian ujungnya. “Seriusan? Sejak kapan kau memutuskan untuk punya murid?”
Zenitsu menghela napas, sesuatu yang selalu dia lakukan saat ditanyai pilar lainnya. Mereka tahu Zenitsu tidak pernah kepikiran untuk punya murid, tiba-tiba seorang anak kecil berambut kapur datang tanpa ada pemberitahuan sebelumnya untuk menjadi murid si Pilar Petir.
“Oyakata-sama yang membawa anak ini padaku. Entah dari mana beliau memungut anak ini, tapi karena ini permintaan beliau, aku akan mendidiknya,” jelas Zenitsu lelah. Beberapa hari terakhir itu adalah kalimat yang berkali-kali diulangnya saat mengenalkan Tengen pada teman-teman pilarnya.
Zenitsu lebih dahulu mengenalkan Tengen pada yang lainnya daripada Tanjirou dan Inosuke. Kedua temannya itu sebenarnya baru saja pulang dari misi tunggal, dan Tanjirou pergi lagi setelah kemarin sore kembali. Zenitsu tak sempat mengenalkan Tengen padanya.
Inosuke menggumam panjang, mengamati Tengen dari atas ke bawah, seperti memeriksanya. Bukan hanya itu, Inosuke juga mengamati atas bawah depan belakang kiri kanan Tengen, berputar-putar seperti gasing. Zenitsu bingung sendiri, Tengen pun, karena tidak menganggap perlakuan Inosuke itu sebuah ancaman, ia diam saja.
Mendadak pilar paling nyentrik itu berhenti di depan teman dekat petirnya, menggenggam bahunya erat-erat. “Yosh, Monitsu!” panggilnya. Zenitsu mengerjap-ngerjap, ada apa dengan bocah satu ini?
“Kalau kau butuh bantuan untuk mendidik si kecil ini, panggil saja Inosuke-sama ini! Dia kecil tapi tidak lemah, bisa dilatih!” Inosuke berkata sembari mengguncang-guncang badan Zenitsu sampai yang bersangkutan jadi pusing.
“Ooookkkkeeee~” sahut Zenitsu lemas, jarang-jarang Inosuke bersedia melatih seseorang, terlebih anak kecil yang bertampang ngajak berantem macam Tengen. Kadang Inosuke memang mau mengajari seseorang, tapi setelah dia bosan atau terlalu lama, orang yang ia ajari jadi terbengkalai.
“Ga mau!”
Guncangan di badan Zenitsu terhenti. Kedua pilar itu menoleh kepada Tengen yang cemberut parah. Matanya yang merah menatap Inosuke bagaikan seekor hewan yang menandai musuhnya. Muka cemberutnya itu malah membuatnya terlihat seperti kelinci.
“Oi, oi. Ada apa, Kecil? Kau tidak mau diajari oleh Inosuke-sama ini?” ujar Inosuke mengintimidasi. Sebenarnya ia sendiri tidak masalah kalau Tengen tidak diajari olehnya, hanya saja ia penasaran dengan si kecil Tengen yang terlihat pendiam, tapi malah jadi murid dari pilar paling berisik baik jurus maupun suaranya.
“Aku ga kecil, dan aku cuma mau diajari sama Zenitsu!”
Agatsuma Zenitsu mengerjap cepat. Itu adalah kalimat terpanjang Tengen sejak pertama kali mereka bertemu. Anak itu hanya ingin dilatih oleh Zenitsu, tidak dengan Inosuke yang bahkan adalah teman dekat gurunya tersebut. Hanya Zenitsu saja.
Apa yang terjadi kalau anak ini nantinya bertemu dengan Tanjirou?
“Ngomong-ngomong, Tengen. Harusnya kau memanggilku ‘guru’!”
“Zenitsu ya Zenitsu!”
