Work Text:
Suasana di puncak gunung es yang menyendiri di tengah-tengah Iceberg Isle itu sesunyi laut yang mengelilinginya.
Rocma berdiri di puncak itu. Tangan bersedekap, menjaga dirinya agar tetap hangat di tengah terpaan angin dingin. Ia diam memandangi langit gelap di atas sana, kontras dengan semburat cahaya aurora yang terus berdansa seirama dengan kedipan para bintang yang menghampar di antaranya.
Idate berdiri di sampingnya dengan rokok yang sedari tadi belum ia nyalakan. Ketimbang memandangi langit atau merokok, saat ini ia lebih memilih memandangi mata Rocma yang kelam dan dalam, seolah memiliki semesta sendiri, di mana Idate telah lama tersesat kala memandanginya.
Ingin sekali ia mengatakan sesuatu seperti: aku percaya langit dan bintang di atas sana iri pada kecantikanmu, atau jika diminta untuk memilih antara kau dan semesta, aku memilihmu--karena sebenarnya kau sudah menjadi semestaku. Namun keduanya sangat berbahaya. Idate tak tahu apakah kepalan tangan atau tendangan yang terlebih dahulu menjatuhkan ia dari sini jika benar-benar mengatakannya.
Sejauh ini tidak ada kata-kata yang diucapkan. Hanya ada desiran ombak di bawah sana. Hanya ada semilir angin yang datang dan pergi. Di luar itu semua, semuanya sangat sunyi dan tenang. Barangkali memang lebih baik seperti ini. Idate sudah cukup senang dengan fakta bahwa malam ini Rocma membiarkan ia berada kurang dari satu meter dari tempat ia berdiri, tanpa berusaha menjauhinya--apalagi meninjunya--sama sekali.
