Work Text:
Mungkin semua salah Jungkook, mungkin. Namun bisa jadi bukan pula sepenuhnya salah Jungkook. Mungkin.
Bagaimana pun dia masih muda, pikiran dan tindakannya masih impulsif. Seringkali bertindak tanpa berpikir panjang, apa yang mau dilakukan itu yang disegerakan. Begitu juga soal hati. Meski sayang, tapi bisa malah membuat saling menyakiti. Memang Jungkook masih remaja, masih belum bisa mengukur sampai mana lidahnya yang tajam dapat melukai orang kesayangannya. Masih belum mengira tindakannya bakal jadi simalakama.
Maka, saat melihat sosok (yang dulu dan sampai sekarang masih tetap menjadi "orang kesayangan") itu berdiri di seberang jalan, masih dengan pipi bulat tembam yang menggemaskan, bibir tebal yang menyunggingkan senyum yang menyulap garis mata melengkung seumpama bulan sabit, hoodie kebesaran yang membuatnya semakin terlihat mungil dan menggemaskan, sambil melambaikan tangan kelewat ceria.... Jungkook tahu pertahanannya ambyar. Seketika.
"Hai!"
Sapaan kelewat riang itu sedikit mengggerus akal sehat Jungkook yang berusaha untuk bersikap jual mahal. Masa bodoh dulu dengan kesalahan yang membuatnya terpuruk selama tiga tahun belakangan, iya sih tahu, salahnya. Karena sosok itu menggoyahkan hatinya sedemikian rupa, hingga Jungkook merasa gegana. Gelisah galau merana. Saat ini juga.
Ingin terjang peluk, apa daya status tak mengizinkan. Ingin cuek bebek saja, tapi senyum malaikat itu mengundang dosa. Salahnya juga sih, kenapa dulu malah membuat sosok itu pergi darinya. Itu salahnya dan Jungkook menyesal. Jungkook kapok sudah menyakiti malaikat manis yang kini benar-benar berdiri di hadapannya.
Astaga, detak jantungnya kocar-kacir dibombardir ranjau cinta yang dikira sudah mati, eh ternyata kembali aktif berkat radiasi dari sumber cinta itu sendiri. Ah sialan! Park-manis sekali-Jimin-hyeong, sialan!
.
.
.
End
