Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Quil Opus
Stats:
Published:
2019-10-01
Words:
2,935
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Hits:
65

The Last Petal Of Peony

Summary:

Taehyung bagai mahkota bunga terakhir yang gugur menemu masanya.

Notes:

BTS © Big Hit Entertainment and themselves.

I don't gain any profit from this fanworks but some fun. For Drabbletober with angst themed, Angstober 2019.

1st prompt: Shattered Petals.

Happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Taehyung berjalan melewati jalan setapak dengan pepohonan yang menaunginya dari terik matahari siang. Di tangannya bergelayut keranjang dari anyaman bambu. Topi lebar menghiasi kepalanya, bintik-bintik peluh mengalir di wajahnya. Ia lelah, gerah, tapi hal itu tak mengurangi senyum khasnya yang melebar.

Ia memasuki gerbang pagar dari kayu yang dicat cokelat. Roda gerbang pagar berdecit saat ia menggesernya agar terbuka. Lengannya menarik kembali pegangan pada pintu gerbang pagar yang membuat celah masuk sebelumnya. Menutup gerbang yang cukup besar itu.

Salakan riang seekor anjing menyambutnya begitu ia mendekat ke salah satu petakan green house yang ada di dalam gerbang pagar. Taehyung menoleh, mendapati Monnie mendekat sambil menggoyang ekor dengan semangat. Refleks Taehyung berjongkok dan membelai kepala Monnie yang kini menjilatinya.

“Monnie-ya, sudah lama? Mana Namjoon-hyeong?”

Monnie menyalak lebih keras sembari berputar-putar, kepalanya dijulurkan ke suatu arah, lalu kembali berputar dan menyalak riang. Seolah ingin Taehyung tahu, ia mengerti pertanyaan pemuda itu dan menunjukkan tempat Namjoon berada. Taehyung tersenyum lebar hingga membentuk persegi dengan senyumnya, dielusnya bulu Monnie dari kepala sampai punggung dan menepuk-nepuknya sayang.

“Baiklah anjing pintar, tunjukkan jalannya!”

Monnie segera berlari sambil menyalak keras. Ia berhenti setelah beberapa meter, menoleh untuk memastikan Taehyung mengikutinya, membuat Taehyung terkekeh melihat tingkah anjing kesayangan kakaknya itu. Digerakkan dagunya maju, memberi isyarat agar Monnie melanjutkan perjalanan. Monnie segera berlari kembali. Monnie berhenti di salah satu green house yang terletak paling belakang dari kompleks green house tersebut. Menyalak riang di depan pintunya sambil berputar. Taehyung segera menyusulnya.

Dielusnya kembali kepala Monnie dengan sayang. Matanya melirik pada papan informasi yang berada di samping pintu. Di sana terpajang informasi seperti jenis tanaman yang berada di dalam green house, daftar jadwal pemupukan, pergantian media, penyiraman, bahkan masa panen. Taehyung masih larut dalam pikirannya sendiri ketika pintu green house terbuka memunculkan sosok sang kakak.

“Lho, Taehyung? Bukannya hari ini kamu seharusnya mengambil bunga peony yang siap potong?”

Taehyung tersentak sambil memegangi dadanya. “Aduh, Hyeong! Jangan bikin kaget dong!”

Mimik terkejut Taehyung sangat lucu hingga membuat Namjoon menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa. Aduh adiknya ini. “Harusnya aku yang bilang begitu. Kamu kok di sini? Green house peony kan ada di sebelah sana.”

Bibir Taehyung otomatis mengerucut. “Habisnya tadi Monnie yang ajak aku kemari.”

Namjoon menggelengkan kepala. “Dasar kamu ini. Ya sudah, aku bantu buat memotong bunga-bunga peonynya. Ayo! Pasti Appa dapat pesanan dari toko bunganya Seokjin-hyeong. Kita harus bergegas!”

Namjoon bergegas menuju green house yang digunakan untuk menanam peony. Mereka mendapatkan pesanan khusus dari beberapa toko bunga, termasuk salah satunya adalah toko bunga milik Seokjin, tunangan Namjoon. Taehyung mengekor di belakang Namjoon bersama dengan Monnie yang masih bersemangat. Tiba di dalam green house, Namjoon menuju ke rak perkakas, membawa ember dan gunting potong khusus. Taehyung juga segera mengambil peralatannya dan juga ikut mengenakan sarung tangan seperti yang Namjoon lakukan. Begitu berbalik menghadap hamparan bunga, mereka menuju ke petak di mana peony siap panen berada.

Di dalam green house ini keluarga mereka menanam krisan, peony, gerbera dan daisy dalam petak-petak yang tersedia. Sistem pengairan otomatis disetel agar menyiram tanaman-tanaman tersebut dengan air sehingga kelembapan media tanam dan ruangan pun terjaga. Menyediakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman sehingga pertumbuhan tanaman menjadi optimal.

Peony-peony yang belum mekar penuh adalah peony yang siap dipanen. Sigap Taehyung dan Namjoon memanen bunga-bunga cantik itu dengan cermat dan hati-hati. Bunga-bunga yang sudah dipotong diletakkan di dalam ember khusus berisi cairan yang dapat menjaga nutrisi yang diperlukan agar kesegaran bunga tetap terjaga. Ember-ember besar yang mereka bawa pun kini mulai terisi bunga-bunga peony yang telah dipotong rapi. Namjoon berhenti sejenak untuk memotong bunga, ia menuju ke pojok ruangan, mengambil gerobak dorong barang. Mirip seperti troli di super market, hanya saja tidak ada dinding gerobaknya. Namjoon memindahkan ember-ember besar itu ke atas gerobak dorong itu dan menyusunnya dengan hati-hati.

Taehyung menyelesaikan kegiatannya dan kini ikut membantu Namjoon memindahkan ember-ember tersebut ke atas gerobak. Setelah selesai, Namjoon membawa gerobak itu menuju pintu green house. Taehyung membereskan peralatan yang mereka pakai. Sejenak, benaknya disambangi  kenangan tentang orang itu. Kenangan saat orang itu ada dan membantunya memanen bunga-bunga, sayur-sayuran atau buah-buahan di lahan pertanian keluarganya.

…..

“Taetae, jangan melamun! Nanti tanganmu tergunting.”

“Taetae, kau tahu? Bunga-bunga pohon apel sudah mulai mekar!”

“Taetae, buah-buah stroberi di petak ini sudah mulai ranum! Ayo ke sini! Kamu harus tahu rasa segarnya buah stroberi yang ranum!”

“Taetae, cara membersihkannya bukan seperti itu.”

“Taetae, aku baru sadar, kamu semakin manis bila berada di antara bunga-bunga peony itu.”

“Taetae, apa kau tahu? Peony artinya keberanian dan hidup bahagia. Sama seperti kamu, berani menghadapi apa pun di dunia ini. Aku suka kamu yang seperti itu. Jangan lupa hidup bahagia ya?”

…..

Ingatan-ingatan itu menyesakkan. Paru-paru Taehyung seperti dihimpit. Sesak, sungguh sesak. Kenapa harus teringat lagi? Kenapa kenangan itu datang lagi? Taehyung memukul pelan dadanya. Sedikit terbatuk karena rasa sesak yang dirasakannya.

“Taehyung?”

Taehyung mengabaikan panggilan Namjoon. Masih berusaha bernapas, tapi batuknya makin parah. Pukulan di dada membuat kebas, tapi sesaknya masih terasa.

“Taehyung, kau kenapa?!” Namjoon buru-buru menutup sambungan telepon di ponselnya. Menghampiri Taehyung yang bersimpuh dengan napas megap-megap. Tersengal karena batuknya. Air mata pemuda itu sudah menganak sungai, tatapannya tak fokus.

“Taehyung dengarkan aku, aku tahu kamu bisa mengatasi ini, tarik napas panjang. Tae, bernapas sepertiku.” Namjoon menarik tangan Taehyung yang masih memukul dadanya sendiri. Memberikan contoh bagaimana untuk bernapas dengan baik. Taehyung mencobanya, tapi menggeleng ketika batuknya malah semakin hebat.

Beberapa detik selanjutnya, Taehyung tersedak, lalu dunianya menggelap.

…….

“Dia terserang panik lagi. Kurasa kita perlu menjadwalkan Taehyung-ah ke psikiater.”

“Tapi dokter….”

“Nyonya Kim, tolong jangan berpikiran negatif. Taehyung tidak sakit jiwa, bukan seperti itu maksud saya. Dia memerlukan bantuan professional, teman saya seorang psikiater dan dia bisa membantu Taehyung. Dia orang baik, anda bisa mempercayakan Taehyung padanya. Tentu saja semua keputusan berada di tanganmu, Nyonya Kim. Saya hanya menyarankan.”

Nyonya Kim tertunduk, di sebelahnya Seokjin mengusap punggung wanita yang sudah seperti ibunya sendiri itu.

“Dokter, berikan kami waktu untuk berpikir, sebelum itu adakah sesuatu yang bisa kami lakukan untuk membantu Taehyung menghadapi kenyataan yang ditolaknya saat ini? Kami juga tidak menginginkan Taehyung terus-terusan terpuruk dalam kesedihan.” Seokjin bertanya menggantikan Nyonya Kim.

“Membawa Taehyung jalan-jalan mungkin bisa dilakukan Seokjin-ssi. Pada intinya kita harus membantunya menghadapi kenyataan, meski sulit, tapi saya tahu Taehyung pasti bisa. Dia hanya perlu diberikan dukungan moral dan juga komunikasi yang baik.”

“Terima kasih dokter.”

“Kalau begitu saya permisi dulu. Kuharap Taehyung-ssi bisa cepat pulih.”

…..

Mereka duduk bersama di bawah pohon ek, berteduh dari teriknya sang mentari. Jimin tengah mengipasi diri dengan topi lebarnya. Taehyung membuka kotak bekal yang dibawa. Di pinggir kebun kubis mereka berteduh, mengamati bagaimana capung beterbangan di dekat genangan air di sela bedengan. Beberapa kupu-kupu juga ikut bercengkerama, tampak menari bebas di udara. Kubis-kubis tumbuh dengan baik, hijau daunnya menyegarkan setiap mata yang memandang.

“Taetae, kalau panennya berhasil, ayo kita bikin kimchi yang banyak!”

Taehyung mengangguk dengan mulut penuh. Buru-buru menelan kunyahan. “Seokjin-hyeong akan membantu katanya.”

“Kamu cerita sama Seokjin-hyeong?”

Taehyung mengangguk antusias. “Katanya supaya bisa masak nasi goreng kimchi buat kita.”

“Seokjin-hyeong memang keren!”

“Jimin juga keren,” gumamnya sembari menggigit telur gulung.

“Eh, kamu bilang apa, Taetae?”

Taehyung menggeleng. “Tuh, ada butir nasi di pipimu. Jimin-ie makannya kayak anak kecil.” Taehyung pun mengambilkan butir nasi yang menempel pada pipi Jimin.

Jimin tertawa. “Aku sengaja kok ehehehe.” Membuahkan kerutan kening dan sebelah alis Taehyung yang terangkat. Jimin mengecup sudut bibir Taehyung. “Biar aku ada alasan membalas kebaikanmu,” lanjutnya lagi dengan nada menggoda.

Entah karena matahari terlalu panas hari ini, ataukah memang ada hal lain yang memicu kalor yang merambati pipi Taehyung. “Ya! Park Jimin-ssi!”

Debaran jantung Taehyung menggebrak bak tabuhan genderang perang.

…..

“Jimin-ie!”

Taehyung tersentak ketika tubuhnya melonjak dari posisinya berbaring. Begitu terkejut dengan suara jeritannya sendiri. Derap langkah terdengar dari luar kamarnya, sebelum pintu kamarnya digeser menampakkan Namjoon dan kedua orangtuanya yang menghampiri Taehyung dengan tergesa.

Taehyung sendiri tak sadar, cairan bening telah menganak sungai di pipinya. Ibu yang pertama kali memeluknya, mengusap punggung dan menenangkannya dengan kata-kata lembut.

…..

Namjoon menyerahkan kunci mobil bak terbuka yang berisikan kotak-kotak kubis, wortel dan lobak pada Jimin. Taehyung berlari mendapatkan mereka dan segera masuk untuk duduk di kursi penumpang di sebelah kursi kemudi. Namjoon hanya geleng-geleng melihat kelakuan sang adik.

“Ayo jalan, Jimin-ie!”

“Ya sudah, kabari aku begitu kalian tiba di tokonya Lee-ahjumma. Biar aku yang bantu jelaskan kepada Ahjumma, oke?”

“Siap, Hyeong!” ujar keduanya serempak.

Tangan Namjoon terulur mengacak rambut cokelat Taehyung, hasil pewarnaannya di salon minggu lalu. Katanya bosan dengan rambut hitamnya, lalu ingin mengubah suasana hati biar makin ganteng. Nyatanya ia makin terlihat menggemaskan. Sejujurnya, Taehyung mengecatnya karena Jimin pernah bilang warna cokelat sangat cocok buat rambut Taehyung. Taehyung ingin tahu bagaimana respon Jimin jika ia benar-benar mengecat rambutnya menjadi cokelat.

Hasilnya?

Memuaskan. Jimin memeluknya erat dan mengacak rambutnya dengan gemas. Hati Taehyung membumbung tinggi karena Jimin memujinya sangat manis. Meski Jimin juga menambahkan kalau ia menyukai Taehyung apa adanya. Membuat Taehyung makin tersipu. Jimin saat itu pun berkata padanya, kalau beberapa hari lagi ia ingin memberikan kejutan untuk Taehyung. Taehyung di minta menunggu.

Kesabaran Taehyung pun terbayar, karena saat ini adalah saat yang dijanjikan oleh Jimin. Tepatnya, Jimin akan mengajaknya kencan selepas mengantar kotak-kotak sayuran ke toko langganan mereka. Taehyung tak ingin melewatkan hari itu begitu saja, sebisa mungkin ia ingin supaya hari ini mereka bisa bersama-sama selalu. Namjoon mengerti gelagat Taehyung pun membiarkannya. Tahu benar bahwa Jimin tengah berusaha keras untuk mewujudkan impian mereka, impiannya dan Taehyung. Hidup bahagia bersama-sama. Kencan setelah pulang bekerja adalah permulaannya.

Kini mobil bak terbuka itu pun melaju meninggalkan lahan pertanian mereka. Namjoon masih melambaikan tangan untuk membalas lambaian tangan Taehyung. Seokjin yang baru saja membuka pintu rumah segera mendekati sang tunangan.

“Oh, mereka sudah berangkat?”

Namjoon mengangguk. “Mereka semangat sekali. Aku harap semuanya berjalan lancar.”

Seokjin mengerutkan kening. “Ada acara apa memangnya?”

Namjoon terkekeh. “Sayangku, masih ingat tidak dua tahun yang lalu aku terburu-buru berkunjung ke tokomu dan menyerahkan seluruh hidupku padamu? Jimin akan melakukannya hari ini.”

Seokjin memekik tertahan. Kedua tangannya menutupi mulutnya yang menganga lebar saking terkejutnya. “Astaga! Ya Tuhan! Jangan katakan kalau—”

Namjoon merengkuh Seokjin dan mengangguk. “Benar. Jimin sudah meminta izin pada Appa dan Eomma untuk meresmikan hubungan. Kami tentu menyetujuinya, aku sendiri tahu kalau Jiminlah yang mampu kuandalkan untuk melindungi dan menjaga Taehyung. Aku ingin melihat Taetae kami bahagia.”

“Aaaaaaa, Taehyung-ieku sudah besar. Aku ikut bahagia mendengarnya.”

“Taehyung belum tahu kejutan Jimin, kuharap semuanya berjalan lancar hari ini.”

Seokjin menangkupkan kedua tangannya di depan dada. “Semoga segala sesuatunya berjalan lancar!”

…..

Mereka tiba di bagian belakang toko bahan makanan segar milik Lee-ahjumma. Jimin menurunkan rem tangan begitu memarkirkan mobil di area parkir yang aman di seberang jalan. Toko Lee-ahjumma dan tempat parkirnya memang dibatasi dengan jalan raya. Meski tidak terlalu ramai, tetap saja mereka harus hati-hati. Taehyung melepaskan sabuk pengaman dan segera turun dari mobil. Jimin mengikuti dari belakang setelah mengunci mobil sembari membawa buku ekspedisi yang berisikan catatan tentang jumlah pesanan dan informasi lainnya.

Ahjumma!” teriak Taehyung begitu melihat wanita paruh baya keluar dari pintu belakang toko. Lee-ahjumma melambaikan tangan. Taehyung segera berlari, tak sempat memperhatikan jalan karena merasa jalanan sedang sepi.

Suara klakson sebuah truk menyalak nyaring membisingkan. Menulikan telinga, membuat Taehyung tergeragap. Ia seolah dilumpuhkan. Berdiri kaku di tengah jalan tanpa daya. Jeritan Lee-ahjumma tertelan bisingnya klakson dan suara decit akibat pedal rem yang diinjak spontan. Truk tetap melaju.

“TAEHYUNG!!!”

Semuanya gelap.

…..

Ketika Taehyung sadar, kepalanya berdenyut sakit. Terasa seperti ada godam yang dihantamkan berkali-kali. Serta merta suara-suara yang dikenalinya mendekat dan hal itu membuat Taehyung merasa nyaman sekaligus bingung secara bersamaan.

Ada apa? Tanyanya.

Sayang bibirnya tak mampu menyuarakan. Hal itu membuat impuls saraf di otaknya tersentak. Seketika ia membuka mata, meski pening melanda kepalanya yang terasa amat berat, dan meski ia kesulitan membuka mata akibat silau oleh cahaya, Taehyung berusaha keras meraih kesadarannya.

Wajah eomma-nya yang menangis adalah hal pertama yang Taehyung lihat. Ucapan syukur di sekelilingnya adalah kalimat pertama yang ditangkap telinganya. Kemudian satu persatu sosok yang disayanginya, appa-nya, Namjoon-hyeong dan Seokjin-hyeong. Taehyung mencoba tersenyum, agar keluarganya tidak khawatir.

Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Ingin Taehyung mengatakannya. Namun bibirnya seolah terkunci. Kenapa terasa berat untuk berbicara?

Seorang pria dan wanita berpakaian putih berada dalam jangkauan penglihatannya. Memintanya melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Taehyung menurut saja. Seperti ketika diminta menggerakkan bola matanya mengikuti cahaya senter kecil dari pria itu. Taehyung mengerjap-ngerjapkan matanya setelah appa berjabat tangan dengan pria itu.

Batinnya mendadak seperti menggebuk kewarasannya. Ada yang kurang. Ada yang hilang.

Tunggu—

Di mana—?

“—min-ie?”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Taehyung menoleh pada eomma. “—min-ie, d’na?” Taehyung terbatuk setelahnya.

Seokjin menghampiri sambil membawa segelas air putih, dibantunya Taehyung meminum air terlebih dulu.

Taehyung berdeham. “—yeong … Jimin-ie mana?”

Isak tangis eomma yang terdengar setelahnya membuat wajah Taehyung memucat. Ia memerhatikan kakinya yang digips. Tangannya meraba kepalanya. Ada perban di sana. Dan Taehyung baru menyadari ada plester yang melintang di pipinya.

“—omma? Jimin-ie….”

Appa-nya mendekat. “Nak, kamu harus tabah ya? Kami ada di sini untukmu.” Tuan Kim meraih tangan Taehyung yang berada di pangkuannya, mengusap sayang dan menepuknya hangat.

Namjoon menarik eomma-nya mundur, Seokjin memeluk sang eomma sementara Namjoon berdeham. Mencoba menjelaskan. “Taehyung-ie belum ingat? Kalian kecelakaan saat mengantarkan pesanan sayur ke toko Lee-ahjumma. Menurut keterangan Ahjumma, kamu mendadak lari menyeberangi jalan tanpa melihat kiri-kanan, bersamaan dengan truk yang melaju kencang di jalan itu. Ke arahmu. Kamu mendadak berhenti, mungkin karena terlalu terkejut dengan bunyi klakson. Jimin berusaha menolongmu. Jimin mengorbankan dirinya demi kamu. Jimin tidak bisa diselamatkan karena lukanya terlalu parah. Kamu sendiri mengalami gegar otak ringan akibat benturan, luka di beberapa bagian tubuh dan kakimu terkilir parah. Maafkan kami Taehyung-ie.”

Taehyung membelalakan mata. Mata besar yang biasanya bercahaya itu dipenuhi lapisan bening yang siap pecah kapan saja. Taehyung bergeleng. Satu kali. Ditatapnya mata sang kakak, appa, eomma dan calon kakak iparnya. Berharap ia menemukan kebohongan. Berharap keluarganya sedang mengerjainya saja. Namun pancaran duka yang terlihat di keempat pasang mata di hadapannya membuat Taehyung bungkam. Semuanya nyata. Seperti kilasan balik kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu.

Taehyung menjerit. Jimin. Jimin. Tidak. Tidak. Dan nama Jimin lagi. Jeritan histerisnya melolong pilu, kembali membuka luka di hati keluarganya yang serupa dengan luka yang tergores dalam di hati Taehyung sendiri. Histerisnya berlanjut, Taehyung mengamuk dan meronta. Tuan Kim mencoba menahan rontaan Taehyung, tahu jelas bahwa gerakan barbar sang putra berpotensi melukai dirinya sendiri. Namjoon segera berlari keluar, mencari pertolongan. Seokjin berusaha menenangkan Nyonya Kim yang nyaris ikut histeris.

Paramedis datang dan berusaha menenangkan Taehyung. Dokter terpaksa memberikan sedatif. Taehyung mulai berhenti meronta saat sedatif itu memasuki sistemnya. Tubuhnya melunglai, gelap kembali menyergap kewarasannya.

…..

Kala matanya terbuka, Taehyung mendapati Seokjin tengah menungguinya dengan senyum khawatir yang terulas.

“—yeong….”

Seokjin membantu Taehyung duduk. Segelas air diberikan. Taehyung menenggaknya hingga habis.

“Gimana perasaanmu?”

Taehyung bergeleng. “Tidak terlalu baik. Tenggorokanku sakit, Hyeong.”

Eomma sedang membuatkan bubur. Nanti dimakan ya? Namjoon-ie bilang kamu mimpi buruk dan berteriak dalam tidur. Mungkin itu sebabnya tenggorokanmu sakit. Aku sudah bikin teh madu dan lemon, nanti diminum ya? Biar tidak jadi peradangan.”

Taehyung mengangguk lemah. Seokjin mengacak pelan rambut Taehyung. “Mau mandi? Biar lebih segar? Air panasnya sudah siap lho.”

Taehyung tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk, Seokjin mengulas senyum dan membantu Taehyung berdiri dan menuntunnya ke kamar mandi. Seokjin menyiapkan air mandi.

“Aku bisa sendiri, Hyeong.”

“Kalau begitu aku tinggal ya?”

Seokjin pun berlalu, memberikan kesempatan Taehyung untuk menata diri dan hati. Taehyung mengulas senyum tipis saat Seokjin menyempatkan melihatnya sebelum menutup pintu kamar mandi.

…..

Everland, The World of Fantasy. Adalah taman hiburan yang dikunjungi oleh Keluarga Kim saat itu. Tuan dan Nyonya Kim merelakan diri untuk mengenakan bando dengan telinga hewan. Namjoon dan Seokjin memakai bando dengan pita besar di kepala mereka. Begitu pun Taehyung, bedanya bando yang dikenakannya memiliki kawat yang membentuk halo malaikat. Mereka menikmati acara hari itu dengan bahagia, setidaknya berusaha ceria untuk membantu menularkan optimisme pada Taehyung yang kondisi emosinya masih labil.

Seokjin getol menarik Taehyung untuk menaiki berbagai wahana. Namjoon mengekori mereka meski seringkali tidak ikut serta menaiki wahana yang dipilih sang tunangan. Namjoon memilih untuk mengawasi keduanya, sekaligus berusaha membantu kedua orangtuanya yang staminanya sudah tak semuda Taehyung maupun Seokjin yang seperti menyimpan energi lebih.

Namjoon duduk di bangku sambil menyaksikan Seokjin dan Taehyung yang menikmati komidi putar.

Dapat dikatakan, acara jalan-jalan mereka berhasil mengembalikan sebagian tawa Taehyung yang sempat terengut sebelumnya.

….

Hari sudah larut malam ketika mereka kembali ke rumah. Seokjin dan Namjoon menyetir bergantian hingga tiba di kediaman Kim. Taehyung yang tertidur pun terbangun ketika mesin mobil dimatikan. Mereka turun dan segera masuk ke dalam rumah.

Seokjin menginap malam itu. Ia tidur di kamar Taehyung untuk menemani si bungsu. Tentu saja baik Namjoon dan Taehyung tidak ada yang keberatan. Status mereka yang masih tunangan memberikan batasan atas beberapa hal yang mereka sepakati bersama, termasuk masalah tidur jika harus menginap di rumah pasangan. Dengan Taehyung sendiri karena sejak hari naas itu, Taehyung tidak bisa tidur jika tidak ditemani terlebih dahulu. Bisa dibilang, Seokjin jadi sering menginap di rumah Namjoon demi ikut menjaga Taehyung. Tak tega dengan keadaan calon adik ipar kesayangan.

Seokjin masih berbincang dengan Namjoon di beranda ketika Taehyung sudah mengganti pakaiannya dengan piyama. Masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Tak lama Seokjin menyusul, bergantian dengan Namjoon. Taehyung masuk ke kamarnya terlebih dulu. Memberikan privasi untuk kakak dan calon kakak iparnya sejenak. Dalam hati menjadi sedikit bersalah sebab telah banyak membuat Seokjin kerepotan, apalagi Namjoon. Namun Taehyung tak kuasa. Hatinya masih terombang-ambing, tak menemu pijakan untuk bertahan.

Taehyung ingin lepas, ingin merelakan. Namun ia tak mampu melepas diri dari bayang masa lalu. Ia bagai kuntum peony yang menemu masanya, layu dan mengering. Merontokkan helai demi helai mahkota bunganya, hingga tak lagi bersisa.

 

End

Notes:

Terima kasih sudah mampir dan membaca. Semoga dapat menghibur teman-teman sekalian. Sampai jumpa di fanfic rexa yang selanjutnya.

Rexa, signing out~

Series this work belongs to: