Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2019-10-03
Words:
1,221
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
98
Bookmarks:
8
Hits:
864

Surat dari Uzui

Summary:

Tanjirou mendapat surat dari Uzui, sang mantan Pilar Suara. Tapi surat tersebut diserahkannya kepada Zenitsu. Mengapa? /Untuk Bucintober Day 1 #Loveletter

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Tanjirou sering sekali berkirim surat. Kapan pun dan di mana pun, ia selalu terlihat menulis surat di waktu senggangnya. Ketika siang hari adalah waktu istirahat bagi anggota Pembasmi Iblis lainnya, bagi Tanjirou, itu adalah waktunya untuk menulis surat.

Ia mengirimkan suratnya kepada siapa saja. Urokodaki selaku pelatihnya, Senjuurou selaku adik dari mentornya, Tamayo dan Yushirou, bahkan para wanita di rumah bordil tempat dia menyamar dulu. Ia menulis surat-surat itu seperti menulis buku harian.

“Zenitsu!” ia memanggil kepada sahabatnya, Zenitsu yang kebetulan menjalankan misi bersamanya. Anak berambut pirang itu segera mendekat.

Tangan Tanjirou menyerahkan selembar kertas yang dilipat persegi panjang. Sebuah surat. Di bagian depannya tertulis nama Tanjirou sendiri, tapi entah kenapa sang pemilik surat malah menyerahkan suratnya tersebut kepada Zenitsu.

Jelas, pengguna Napas Petir kebingungan. Surat itu dituju kepada Tanjirou, kenapa yang bersangkutan malah memberikan surat itu kepadanya?

“Ini surat dari Uzui-san, aku diminta untuk menyerahkannya kepadamu tanpa membaca kelanjutannya,” kata penerus Pilar Api sambil ikut menatap si surat dengan bingung. Ia heran, kalau surat itu pada akhirnya akan ditujukan kepada Zenitsu, kenapa Uzui tidak mau mengirimkannya langsung kepadanya melalui gagak—err, pipitnya?

Mendadak, wangi Zenitsu yang biasanya baik hati jadi kesal dan menyebalkan sekali. Raut wajahnya yang cerah tiba-tiba berubah jadi merengut parah. Tanjirou bingung setengah mati tapi tak bisa berbuat apa-apa karena terlalu kaget.

Dengan gerakan kilat, Zenitsu merebut kertas surat yang dilipat rapi oleh Tanjirou setelah dibacanya satu kalimat. Sahabat polosnya itu anak yang jujur, ia pasti menuruti kata-kata Uzui yang memintanya untuk tidak membaca kelanjutan surat itu dan langsung menyerahkannya kepada Zenitsu begitu dibacanya.

Tanjirou tidak pernah melihat Zenitsu semarah dan sekesal ini sebelumnya, kecuali saat ia mengetahui Tanjirou keluyuran membawa gadis cantik sembari melaksanakan tugasnya sebagai pembasmi iblis (baca: Nezuko). Bedanya, kali ini bukannya menghunus pedang (yang hampir tidak pernah terlihat terhunus), Zenitsu mengeluarkan korek api.

Ia memercikkan api dengan korek itu beberapa kali. Ketika apinya keluar, kertas surat dari Uzui langsung dibakarnya.

Dibakar.

.... dibakar.

Muka Tanjirou horor seketika. Spontan menahan tangan Zenitsu dari upayanya membakar surat dari mantan Pilar Suara. “Apa yang kaulakukan, Zenitsu!? Itu tidak sopan! Kau bahkan belum membacanya!”

Zenitsu meronta-ronta, mencoba lepas dari jeratan Tanjirou yang menahan kedua tangannya. “GGRRR! Biarkan aku membakar surat laknat ini, Tanjirou! Aku tak sudi membacanyaaa!”

Selagi mereka bergulat (secara harfiah), surat itu terbakar habis jadi abu dalam waktu singkat.

“AAAAAAAAA!!”

.

Sebelum ini Uzui telah mengirimkan Zenitsu surat beberapa kali. Baik saat ia sedang dalam misi tunggal maupun bersama teman-temannya. Setiap kali waktunya menjalani misi, saat itu Uzui selalu mengirim surat untuknya sampai Chuntarou jadi sangat sibuk.

Awal-awalnya, surat yang dikirim sang mantan Pilar Suara isinya biasa-biasa saja. Menanyakan kabar, bagaimana misi hari itu, kabar teman-teman kalau sedang bersamanya, dan topik-topik standar lainnya. Zenitsu juga membalasnya dengan topik standar seperti kabar Uzui dan istri-istrinya, Oyakata-sama sekeluarga, kediaman pilar dan keadaan markas saat itu.

Namun, lama-kelamaan, surat yang dikirim Uzui jadi berisi hal yang aneh.

Permulaannya dari kalimat, “aku rindu kamu, Zenitsu.”

Kemudian Zenitsu menjawabnya dengan polos. “Ya, aku juga merindukanmu, Uzui-san. Teman-teman di markas, anak-anak Kupu-Kupu, semuanya juga!”

Agaknya, Uzui salah mengerti jawaban Zenitsu yang super tidak nyambung. Surat tersebut dibalas dengan kalimat yang lebih intens lagi, dan Zenitsu masih menanggapinya dengan persepsi yang berbeda.

Miskomunikasi, intinya.

Zenitsu baru memahami maksud isi surat Uzui setelah menanyakannya pada Tanjirou, yang ia pikir lebih berpengalaman karena memiliki banyak guru. Rasanya, Zenitsu pikir Tanjirou paham bahasa surat-menyurat daripada dia yang paling-paling hanya dapat surat dari gurunya dan Uzui saja.

Isi surat yang ditanyai Zenitsu berisi, “aku tidak sabar ingin bergelut malam sambil berkeringat hebat bersamamu, Zenitsu. Kapan kau akan pulang dan mengisi suara yang kosong di dada ini?”

Zenitsu ingat sekali muka Tanjirou yang seperti kentang terkejut saat membaca surat aneh Uzui. Anak petir tidak paham. Kalau suratnya dari anak perempuan mungkin dia akan mengerti. Tapi Uzui kan laki-laki, ia juga laki-laki, maksudnya bagaimana?

Tanjirou berdehem, suaranya sangat aneh. Tangannya yang kapalan menyerahan surat Uzui itu kepada Zenitsu, kemudian membawanya menyingkir dari keramaian kota yang saat itu mereka singgahi. Zenitsu mengedip kebingungan.

“Zenitsu,” kata murid Pilar Api intens, sambil memegang bahu sahabatnya seakan sedang memberitahu rahasia yang sangat penting. Zenitsu menanggapi dengan menggumam bingung sambil menautkan alis.

“Itu... Uzui-san mengirimkanmu surat cinta...”

Sejak saat itu, setiap surat dari Uzui datang kepada Zenitsu, tanpa aba-aba langsung dibakarnya sendiri. Kalau dibuang, gagak kiriman Uzui selalu datang membawakannya kembali surat itu.

Masih mending kalau surat itu dari anak perempuan, Nezuko atau anak-anak dari Rumah Kupu-Kupu misalnya. Tapi tentu saja tidak mungkin. Nezuko tidak akan sempat menulis surat (kalaupun ada waktu untuk itu, lebih baik dan aman kalau ia gunakan untuk tidur), dan anak-anak Kupu-Kupu juga sangat sibuk dengan prajurit yang terluka yang datang setiap harinya.

Lah, surat—kata Tanjirou—cinta menggelikan itu datang dari laki-laki, yang telah beristri (tiga orang lagi!). Kesal bukan main hati Zenitsu dibuatnya.

“Coba dibaca dulu suratnya, Zenitsu. Mungkin kali ini tidak seperti yang kaupikirkan. Aku yakin Uzui-san tidak berniat buruk kepadamu,” tegur Tanjirou. Mukanya agak tidak enak saat melihat sisa-sisa abu bekas kertas surat yang dibakar Zenitsu barusan.

Zenitsu, saat itu sedang menangis nestapa meratapi nasib. Maksud hati ingin dapat surat cinta dari anak perempuan, yang datang malah surat cinta dari bapak-bapak beristri tiga. Menjijikkan sekali, bukan?

“Tapi setiap kali datang, isi suratnya hal-hal yang menjijikkan. Mana mungkin aku jadi tidak berprasangka buruk, coba? Lagian itu orang ngapain sih ngirim surat begituan ke aku? Ke istrinya kek, sana! menyebalkan!”

Tanjirou menanggapinya dengan lembut. Ia tahu jelas Zenitsu sangat iri dengan Uzui yang sampai punya tiga istri, pun juga kesal dengan muka Uzui yang ternyata sangat tampan. Tanjirou manut-manut maklum. “Iya, aku tahu. Tapi kali ini saja, ya? Suratnya dibaca dulu, kan kasihan Uzui-san sudah capek-capek menulis surat, tapi tidak dibalas—dibakar pula lagi. Sekarang dia cuma punya satu tangan dan satu mata, lho.”

Menghela napas, Zenitsu akhirnya menyerah. Sesuai kata Tanjirou, ia akan membaca surat dari Uzui kalau datang lagi. Kasihan, soalnya.

.

Satu hari kemudian, saat mereka sedang menginap di Rumah Wisteria, gagak Tanjirou yang namanya panjang sekali itu membawakan surat dari Uzui, untuk Zenitsu. Sesuai janji, Zenitsu akan membacanya dahulu.

“Apa kabar, Zenitsu? Aku ingin memberitahu dengan elok kalau kami semua baik-baik saja, walaupun kau tidak tanya karena kau tidak pernah lagi membalas suratku.”

Baiklah, sejauh ini normal. Orang ini banyak bicara seperti biasa.

“Aku ingin tahu bagaimana misimu beberapa minggu terakhir. Aku sengaja mengirimkan surat ini melalui Kamado karena kudengar kau selalu membakar suratku.

“Hati-hati saat menjalankan tugas. Jangan lupa sarapan dan makan yang banyak. Badanmu kurus dan kecil sekali, soalnya.

“Kuharap kau selalu sehat. Jangan terus bertengkar dengan burung pipitmu. Bagaimanapun, di misi tunggal, kau hanya memiliki dia.”

Sudah masuk ke bagian pertengahan, mungkin Tanjirou benar. Surat-surat dari Uzui tidak seperti perkiraannya. Apa orang itu sudah tobat?

Zenitsu mengangkat bahunya, baiklah, satu paragraf lagi.

“Terakhir, kapan kau akan datang menjadi istri keempatku?”

Anak Petir mengangkat kepalanya seketika. Maksudnya apa ini??? Kenapa orang itu berkata begini? Apa yang terjadi? Apa dia tidak puas dengan ketiga wanita cantik yang sudah sukarela jadi istri-istrinya itu?

“Kami berempat telah menyediakan kamar khusus untukmu kalau kau pulang ke markas. Kuharap kau suka. Aku tak sabar ingin—”

“AAAAAAAAAA!!!! SUDAH KUDUGA ORANG ITU GILA!!!”

Teriakan Zenitsu menggema. Burung-burung di atas pohon ketakutan, Tanjirou hampir tersedak sup miso yang menjadi makan siangnya, Nezuko mendadak terbangun dalam kotaknya.

Sementara pengguna Napas Petir merogoh korek, sekali lagi membakar surat dari Uzui untuk yang kesekian kalinya.

Notes:

terima kasih sudah membaca fanfik ini dan fanfik-fanfik sebelumnya. Terima kasih juga untuk kudos yang telah diberikan~

Kimetsu no Yaiba punya Gotouge Koyoharu