Work Text:
“Satu … dua … tiga … empat! Satu … dua … tiga … empat!”
Tepukan tangan mengiringi seruan mengenai ritme-ritme gerakan yang ditarikan Jimin. Wakil mentor tari di kampus sekaligus kakak tingkat merangkap kakak sepupunya, Jung Hoseok, sedang membantu Jimin untuk mempersiapkan diri demi kompetisi tarian yang akan diikuti tiga bulan lagi.
Tiga bulan lagi. Dan Jimin merasa dirinya tak jua mengalami perkembangan yang signifikan dengan tariannya. Tubuhnya seolah mengkhianati ambisi hatinya sendiri. Seperti bukan Jimin saja.
Iringan melodi dari piano yang dimainkan Yoongi pun berhenti dengan kasar. Tuts yang ditekan mendekingkan nada sumbang. Jujur, Yoongi sudah tak tahan lagi melihat tarian putus asa Jimin. Ia beranjak dari kursi dan berdiri di samping Hoseok dengan wajah kesal.
“Stop! Stop! Stop! Berhenti! Sudah Jimin, kau membuatku sakit mata!”
Hoseok mengembuskan napas lelah. Tangan yang tadi bertepuk kini beralih untuk memijit pangkal hidungnya. Harus ia akui, usaha keras Jimin terlihat sangat menyedihkan. Namun ia tak sampai hati mematahkan semangat Jimin yang bernyala-nyala itu. Lain dengan Yoongi yang kesabarannya setipis kertas. Yoongi itu perfeksionis, segalanya harus sesuai, waktu, tenaga dan yang lebih penting lagi pengorbanan yang sudah diberikan, harus sesuai dengan hasilnya. Dan Jimin seolah hanya membuang-buang semua hal yang begitu berharga untuk Yoongi. Waktu, tenaga dan pengorbanan yang telah Yoongi berikan, termasuk me time-nya terbuang percuma. Hasilnya? Nol besar!
Jimin berhenti meliukkan tubuh, harus dia akui, latihan kali ini memang sulit. Jimin tak menemukan inti dari rancangan koreografi yang sebetulnya memukau. Gerakannya sudah bagus, nyaris sempurna. Sesuai dengan arahan Hoseok dan sesuai dengan koreografi yang telah disusun. Namun selalu ada yang kurang. Sudah dikatakan, Jimin kesulitan menjadi dirinya sendiri. Dan dia tidak tahu mengapa. Ada sekelumit rasa sedih dan kecewa saat kembali mendengar bentakan Yoongi. Kakak tingkat Hoseok dan Jimin dari Jurusan Seni Musik itu mau meluangkan waktu untuk membantu mengiringi tarian Jimin dengan alunan pianonya setelah melihat video tarian Jimin yang direkam oleh Hoseok sebelumnya. Hoseok bilang mereka memerlukan seorang voluntir untuk memainkan piano yang akan mengiringi tarian Jimin selama latihan sekaligus saat lomba dan memohon pada Yoongi untuk berkolaborasi dengan Jimin. Yoongi yang sebelumnya pernah berkolaborasi dengan Hoseok tentu menyetujuinya. Apalagi adik sepupu Hoseok itu sangat sopan, bertalenta dan berdedikasi tinggi. Yoongi sangat suka bekerja sama dengan orang yang bertanggung jawab seperti itu.
Jadwal dibuat, koreografi dirancang, lagu pun dipilih. Mereka sudah memulai latihan itu sejak awal musim panas, kompetisi itu sendiri diadakan di akhir musim gugur, kurang lebih mereka sudah berlatih selama dua bulan. Tiga bulan lagi menuju hari H, tapi Jimin bahkan belum dapat menemukan jiwa dari tariannya. Hoseok tahu ini akan menjadi suatu kesulitan bagi Jimin, sebab sebagai seorang penari, tarian tanpa jiwa itu bagaikan sebuah kehampaan. Gurun tanpa oase, lagu tanpa harmoni. Meski terlihat indah tapi keindahannya tidak dapat dinikmati. Pesan yang ingin Jimin bagikan lewat tariannya tak akan dapat tersampaikan kepada para audiens.
Hoseok mengambil botol minum dan handuk dari bangku dan menyodorkannya pada Jimin.
“Kita break dulu ya, Jimin. Untuk hari ini kita sudahi dulu.”
“Tapi Hyeong—”
“Turuti kata Hoseok, Jimin. Percuma menari lagi, kau hanya akan membuat tubuhmu cedera. Berapa kali aku perlu mengingatkan? Jiwa! Inti! Tarianmu butuh jiwa itu, Jimin. Aransemen lagu yang kubuat hanya akan berakhir sia-sia kalau kau begini terus!”
Jimin sesak. Tahu ia memang salah, tapi kalau dilemparkan tepat ke wajahnya begini kan bikin hatinya berkeping-keping. Bahunya melorot, nyala api di matanya meredup. Emosinya kini mulai berulah dengan ikut ambil bagian di tengah memanasnya suasana.
Hoseok yang mengerti Jimin mau meledak dengan segera menggenggam tangan Jimin dan mengelus punggungnya. Handuk dan botol minum terabaikan di lantai. “Kita bicarakan ini nanti ya?” bujuknya dengan suara lembut. Ia sungguh tak ingin membuat semua ini menjadi lebih sulit. Yoongi benar, tapi Jimin pun tak sepenuhnya bisa disalahkan. “Sekarang kita istirahat dulu, tidak baik juga kalau memaksa. Yoongi-hyeong ada benarnya. Kita sama-sama mendinginkan kepala dulu ya?”
“Aku pergi.” Yoongi membereskan tasnya lalu mendahului Hoseok dan Jimin keluar ruangan. Hoseok mengangguk pelan sementara Jimin masih meradang, menatap punggung Yoongi yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Hyeong, tinggalkan aku,” ujarnya sambil melepaskan diri dari Hoseok.
Hoseok menghela napas lagi. Meninggalkan Jimin yang sedang emosi itu tak mungkin dilakukannya. Hoseok tidak mau Jimin kenapa-kenapa, karena saat emosinya tidak stabil seperti ini Jimin bisa melakukan sesuatu yang mungkin akan berakhir dengan menyakiti dirinya sendiri. Bukan berarti Jimin berniat mencelakai dirinya, tapi saat melampiaskan emosi Jimin terkadang tidak sadar sudah melakukannya secara impulsif dan agresif. Hoseok terlalu hapal dengan kelakuan adik sepupunya yang manis itu. Jimin akan kesulitan mengatur emosi saat mood-nya jelek dan hal itu akan memengaruhi segala tindakannya.
“Kau tahu kan? Yoongi-hyeong tidak pernah bermaksud untuk berlaku jahat padamu. Dia hanya tidak begitu pandai bicara langsung.”
“Tapi tidak perlu sebegitunya juga kali, Hyeong! Aku tahu ada yang kurang dalam tarianku. Aku tahu!” Jimin pun meledak. “Tapi aku juga kecewa karena aku tak mampu menemukan cara untuk mengatasinya. Aku berusaha, Hyeong. Aku berusaha.”
Suara Jimin bergetar di akhir kalimat. Ia terduduk di lantai dingin ruang latihan. Hoseok menghampirinya dan menepuk puncak kepalanya.
“Jimin-ie sudah melakukan yang terbaik, aku tahu itu. Tapi melakukan yang terbaik saja tidak cukup. Aku benar kan? Nah, sekarang kita hanya perlu mencari cara yang cocok untuk mengatasi hal itu, bukan? Kau harus yakin pada dirimu sendiri.”
“Bagaimana kalau aku memang tidak layak, Hyeong? Bagaimana kalau mereka salah. Aku memang tak sehebat itu. Seharusnya kaulah yang layak mengikuti kompetisi itu, Hobi-hyeong. Kau jauh lebih berbakat. Kau terlahir dengan bakat itu dan menghidupinya. Sedangkan aku...”
Jimin terlalu sibuk mengeluh hingga tak menyadari perubahan di wajah yang biasanya murah senyum itu. Hoseok marah. Benar-benar marah. Hoseok memejamkan matanya, menghitung dalam hati angka-angka satu hingga sepuluh dengan cepat secara berulang di dalam hati. Sambil menyugesti diri, ‘Ini bukan salah Jimin. Ini bukan salah jimin. Ini bukan salah Jimin….’
“… aku bahkan tidak mampu menjiwai tarianku. ADOOOOOHHHHHH!!!”
Jimin menjerit ketika cubitan maut itu menyasar pipi tembamnya. Hoseok benar-benar menarik pipi seempuk bakpao itu sekuat tenaga. Bahkan tidak melepasnya hingga Jimin memukul-mukul kedua tangan Hoseok yang masih setia menyiksa pipi Jimin. Hoseok baru melepas ketika ia sudah puas dan mata Jimin pun berkaca-kaca dibuatnya.
Jimin bersiap protes, tapi Hoseok sudah lebih dulu kembali berancang-ancang menyerang pipi bulat Jimin. Jimin refleks menyembunyikan pipinya dengan kedua telapak tangannya yang mungil. Bibirnya yang tebal jadi mengerucut lucu.
“HYEONG!!! Jangan siksa pipiku!!!”
Hoseok nyaris memutar bola matanya. Ditoyornya kening Jimin gemas. “Makanya kalau bicara jangan sembarangan. Kamu layak! Kamu pantas! Kamu bisa, Jimin-ah! Yang kamu perlukan hanyalah percaya, percaya pada dirimu sendiri, percaya pada kami. Padaku dan Yoongi-hyeong. Kami akan membantumu.”
“Tapi lawan-lawanku lebih keren, Hyeong,” cicitnya dengan kepala menunduk.
“Gini deh kalau habis diomelin Yoongi-hyeong. Padahal dia itu menyemangati kamu lho, Jimin.”
Jimin refleks menolehkan kepalanya, Hoseok meringis saat melihatnya. Takut leher Jimin akan patah seketika. Namun untungnya itu hanya dalam angan saja.
“Menyemangati? Aku?” tanya Jimin dengan mata sipitnya yang membola sembari menunjuk diri sendiri dengan telunjuknya.
Hoseok menahan diri untuk tidak menarik rambutnya, gemas berlapis sedikit kesal. Astaga. Dua orang itu memang leletnya lebih parah daripada seekor siput. Hoseok menghela napas, nyaris mendengus.
“Tak tahulah. Tanyakan sendiri sana, nomor ponselnya kan sudah kuberikan. Gimana sih?!”
Mendadak terasa ada api yang membakar pipi Jimin dari dalam. Sentilan itu tak ayal membuat Jimin serba salah. Jimin pun mengipasi wajah dengan jemarinya. Hoseok terkekeh karenanya.
“Mulut Yoongi-hyeong memang seperti itu. Tapi itu bukan karena dia benci, melainkan karena dia terlalu lugas saja.”
Jimin menunduk, memeluk lututnya. “Kukira dia benci denganku yang terlalu lelet,” lirihnya.
Hoseok menepuk punggung Jimin dengan sayang. “Ayo kita makan es krim! Kutraktir sebagai hadiah karena hari ini kau sudah berusaha sangat keras.” Tangannya terjulur pada Jimin.
Senyum kecil terulas di bibir Jimin. Disambutnya uluran tangan kakak sepupu kesayangan. “Aku mau makan es krim cokelat yang banyak!”
Hoseok menarik Jimin hingga keduanya berdiri bersama-sama. “Oke, ayo kita pergi, Jimin-ah!”
….
Beberapa hari kemudian Jimin masih berlatih, kali ini sendirian. Sesekali Hoseok menemani, kadang menari bersama Jimin untuk menyemangatinya. Tanpa terasa dua bulan telah berlalu. Bulan terakhir untuk persiapan pun tiba. Jimin sudah dapat menyelaraskan tarian dengan musiknya, meski musiknya hanya rekaman dari permainan piano Yoongi. Jimin masih belum dapat menemukan jiwa dari tariannya, tapi semakin ia berlatih, ia semakin memahami dirinya, tariannya dan lagu yang mengiringinya. Melodi yang dimainkan Yoongi, yang mencerminkan diri Yoongi.
Di satu waktu sebelumnya, ketika Hoseok menyerahkan sebuah usb flashdisk berisi rekaman lagu yang dimainkan Yoongi, lagu yang nantinya akan mengiringi tarian miliknya, Jimin mendengarkannya sembari berbaring dan menutup matanya. Ia bisa membayangkan gerakan-gerakan yang telah dibuat bersama mentor tarinya dan Hoseok. Lagu itu lagu klasik yang sering ia dengar. Dengan sedikit aransemen ulang dari Yoongi untuk menyesuaikan dengan koreografi yang disusun. Lagu yang dimainkan khusus untuknya.
Jimin merenung sejenak. Akan seperti apakah bila ia berhasil menarikan tariannya? Apakah pesannya akan tersampaikan pada audiens? Kepada juri?
Jimin menarik napas panjang. Lalu memejamkan mata.
Dalam ingatannya memperlihatkan dirinya yang masih kecil, di masa lalu bersama Hoseok dan kakak-kakak sepupunya yang lain. Jimin selalu bersembunyi di balik tirai. Ketika kakak-kakak sepupunya mengajaknya bermain, ia menggeleng dengan wajah yang menunduk. Lalu kembali bersembunyi. Jimin kecil sangatlah pemalu.
Hingga di satu waktu, kala Hoseok berkunjung, sang kakak sepupu berhasil membuka cakang persembunyian Jimin. Jimin bisa melihat kembali dirinya yang masih kecil mulai membuka diri. Rasa percaya dirinya yang mulai tumbuh seiring dirinya yang mendapatkan motivasi dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Jimin kecil pun mampu menghadapi tantangan dengan penuh percaya diri, bahkan ketika ikut serta menari bersama Hoseok kala itu.
Jimin pun membuka mata. Satu tanya melintas di benaknya. Jika Jimin yang dulu bisa mendapatkan rasa percaya diri dan mampu mengatasi tantangan, bukankah seharusnya Jimin yang sekarang jauh lebih kuat dan harus lebih percaya diri?
“Jimin-ie!”
Jimin menoleh, mendapati Hoseok yang melambai dari arah pintu ruang latihan. Jimin menghela napas panjang. Ia harus menguatkan tekad. Jimin berdiri lalu berlari mendapati Hoseok.
“Hyeong, ayo ajari lagi gerakan yang ke delapan!”
Hoseok tersenyum dan mengangguk. “Oke, siapkan dirimu, Jimin! Aku akan serius melatihmu!”
….
Jimin kembali tenggelam dalam latihan. Sedikit demi sedikit ia mulai mendapatkan gambaran mengenai tariannya. Ia tidak sekadar menari. Ia tidak boleh sekadar percaya diri. Namun ia harus bisa menyatukan semua unsur terbaik yang ia miliki menjadi sebuah tarian penuh harmoni bersama lagu yang mengiringi.
Jimin berlatih keras setelahnya. Berusaha menyatukan potongan-potongan koreografi, bakat tari, rasa percaya dirinya, bersama dengan lagu yang dimainkan oleh Yoongi. Lagu itu mampu memantik semangat Jimin untuk melakukan tariannya dengan lebih baik. Jauh lebih baik lagi.
Jimin membiarkan melodinya menyatu dengan dirinya. Membiarkan nada-nada yang teralun mengalir dan menghidupi tariannya. Tarian ini adalah miliknya. Tarian yang mencerminkan dirinya, kepercayaan dirinya. Hoseok menepuk tangannya bersemangat. Kepalanya mengangguk-angguk antusias. Jimin mengakhiri tariannya, lalu tepuk tangan Hoseok menggema di ruang latihan.
Dari balik pintu ekor mata Yoongi mengawasi. Yoongi selalu mengawasi. Keputusannya untuk meninggalkan Jimin mencari tahu sendiri apa yang diperlukannya tidaklah salah. Jimin sedikit demi sedikit bisa menyentuh inti dari tariannya dan menyatu dengannya. Yoongi mengoreksi melalui Hoseok, memberitahukan pendapatnya melalui sudut pandang yang berbeda. Mengasah potensi yang dimiliki oleh Jimin dengan cara yang sedikit tak biasa.
Ujung bibir Yoongi terangkat mendapati senyum lebar Jimin yang terulas di wajah letihnya. Hatinya bersyukur kala menemukan kemajuan yang diraih Jimin. Tangannya meremas kantung jaketnya, sebuah usb flashdisk teremat dalam genggaman. Usb yang berisikan rekaman aransemen dari lagu yang dimainkan olehnya. Ada sejumput resah yang bergelayut dalam dada Yoongi. Bayang ketakutan akan penolakan Jimin menari-nari dalam benak, sejak ia mengkritik pedas adik sepupu Hoseok itu. Hoseok sudah memberitahunya, bahwa Jimin tidak marah padanya, apalagi benci. Karena yang Jimin perlukan adalah sebuah lecutan agar ia bisa melangkah lebih jauh lagi. Selangkah demi selangkah.
Yoongi sendiri mengakui, kesalahan yang dibuat Jimin bukan terletak pada tidak adanya bakat atau ketidakbecusannya dalam menggali bakat dalam dirinya sendiri. Sungguh bukan itu. Jimin sangat berbakat. Seperti garis keturunan darah seniman memang mengalir dalam nadi kedua saudara sepupu itu.
Hoseok sangat berbakat. Pemuda yang menyandang gelar the wonderful dancing machine di kampus mereka itu memang kesohor berkat bakatnya dalam bidang tari. Sengaja absen ikut kompetisi karena disibukkan dengan tugas kuliah yang nyaris terbengkalai akibat padatnya jadwal latihan sekaligus pameran serta pagelaran seni yang diikuti Hoseok. Praktek memang penting, tapi teori pun tak kalah penting. Demi menyanggupi tantangan bisa lulus cepat dari sang ayahlah, Hoseok mati-matian mengejar tugas-tugas mata kuliah yang diambilnya untuk diselesaikan. Karena itu Jimin, sang adik sepupu kesayangan yang baru menginjak semester pertama di fakultas yang sama pun didapuk menjadi peserta kompetisi. Tentunya, Jimin tak serta merta bisa mendapatkan kesempatan itu dengan mudah. Seleksi ketat pun diadakan demi menetralisir prasangka pilih kasih dan tuduhan tidak adil. Jimin lolos dengan bersih.
Namun tetap saja, krisis percaya diri melanda Jimin seperti tsunami yang meluluhlantakan daratan. Begitu latihan bersama dilakukan, Jimin justru seperti anak TK yang kehilangan arah. Kemampuannya tersembunyi dalam ketakutannya sendiri. Yoongi mencoba bersabar, tapi semakin meluangkan waktu latihan bersama, Yoongi menyadari, Jimin tak terbiasa dengan keberadaannya.
Yoongi ingat bagaimana Hoseok tetap memohon padanya untuk membantu Jimin latihan. Yoongi bukannya tak ingin, tapi mereka harus melakukan sesuatu untuk meningkatkan rasa percaya diri milik Jimin.
“Aku ingin memberikan ini,” ujarnya sembari menyerahkan flashdisk itu pada Hoseok.
Kening Hoseok mengernyit. “Eh?”
“Kau tahu maksudku apa, Hoseok-ah. Terima kasih sudah menunjukkannya padaku. Aku berharap dia akan lebih percaya pada dirinya sendiri kali ini.”
“Lho, Hyeong…. Maksudnya, Hyeong akan mengundurkan diri jadi pengiring musiknya Jimin ini?”
“Untuk sementara ini, ya. Sampai dia terbiasa dengan lagu yang sudah kuaransemen ulang ini. Aku tidak mau berlatih bersama jika hanya akan membuatnya seperti itu. Membuang waktu. Tariannya tidak sungguh-sungguh meski tekadnya segigih itu. Terlalu kaku dan terlalu dipaksakan. Aku tahu bedanya, Hoseok. Aku percaya dengan semua gagasan kalian, tapi semua itu percuma kalau Jimin tak menyadari kalau dirinya pantas untuk bersaing dengan yang lain. Kalau ia sendiri tak percaya pada kemampuannya, siapa lagi? Kau yang bertanggung jawab untuk hal itu.”
Hoseok menghela napas. “Aku mengerti, kurasa itulah mengapa Namjoon menyuruhku menemui Hyeong saat aku pertama kali ditunjuk sebagai peserta. Kau benar-benar hebat, Hyeong.”
“Simpan pujian itu nanti. Pastikan saja bocah itu menemukan kepercayaan dirinya, aku akan melakukan bagianku sebaik mungkin.”
“Baiklah Hyeong, terima kasih untuk ini.” Hoseok melambaikan tangannya yang menggenggam flashdisk hitam . “Kupastikan Jimin memahami dirinya sendiri dan menarikan tarian itu dengan percaya diri.”
Kini ia bisa melihatnya, kepercayaan diri yang Jimin bentuk sedikit demi sedikit. Tariannya tak lagi sekaku sebelumnya, Jimin sudah mengerti bagaimana menjiwai tariannya. Senyum kecil terulas, Yoongi meninggalkan ruang latihan.
….
“Jimin! Ada yang ingin bertemu denganmu!”
Jimin menghentikan kegiatannya membereskan peralatan tulis dan buku-bukunya. “Eh? Menemuiku? Siapa?”
“Temui saja.”
Jimin menggaruk tengkuknya, kepalanya sendiri dipenuhi tanda tanya. Ia mengangguk sebelum kembali membereskan tasnya dan beranjak keluar kelas. Di samping pintu Jimin menemukan sosok yang diam-diam ia kagumi semenjak awal mereka bertemu. Min Yoongi. Yoongi tengah memandang ke arah lain sembari melipat tangan di depan dada. Jimin tersentak manakala kedua mata mereka bertemu pandang, tanpa sadar membuatnya mengeratkan pegangan pada pegangan tas ransel yang digendongnya.
“Yoongi-hyeong,” cicitnya pelan. Tatapan tajam dari mata sipit Yoongi mendadak membuatnya mengkeret layaknya tikus yang tengah ditatap oleh predator bebuyutan, kucing.
Yoongi menganggukkan kepala. “Jimin, kau sudah selesai?”
Jimin mengerjap.”Eh? Se-selesai?” Jimin mendadak tergeragap.
“Kelasmu sudah selesai?”
“Eh, itu … i-iya, Hyeong. Baru saja selesai.” Jimin menahan diri untuk tidak menjambak rambutnya sendiri. Kenapa ia malah jadi segugup ini sih? Lama tak berjumpa dengan Yoongi, kecuali melihat sosok yang ia kagumi itu dari jauh, membuat Jimin mendadak kehilangan kemampuan bersosialnya. Dan Yoongi selalu membuat dirinya tak mampu berhenti mengagumi sosok yang tanpa sadar sudah diidolakannya itu.
“Ayo, ikut!”
Yoongi beranjak dari tempatnya berdiri tadi dan mendahului Jimin untuk melangkah keluar dari gedung kampus. Jimin yang otaknya masih berusaha fokus akibat terdistraksi karena sosok Yoongi yang ingin bertemu dengannya pun menjadi terlambat bereaksi.
“Ah, Hyeong! Tunggu!” Jimin berseru sambil berlari mengejar Yoongi.
Yoongi membawa Jimin menuju taman yang tak jauh dari gedung fakultas Jimin, masih di dalam kompleks kampus. Mereka duduk di sebuah bangku di bawah pohon maple yang daunnya mulai menampakkan warna-warni gradasi musim gugur. Awal musim gugur sudah tiba meski udara masih terasa gerah. Namun semilir angin yang berembus sepoi-sepoi mengurangi terik siang yang menyengat.
Begitu Jimin duduk, Yoongi menyodorkan sekaleng kola pada Jimin. Jimin sedikit terkejut karena tak menyadari bahwa Yoongi membelikannya minum. Ingin menolak karena sungkan, tapi tatapan Yoongi membuat Jimin tak kuasa menyuarakan penolakan. Jimin takut akan tatapan tajam Yoongi sejujurnya. Batinnya kembali mengingatkan pada komentar Hoseok yang menyatakan bahwa Yoongi adalah orang baik dan bukannya galak, Yoongi hanya terbiasa bersikap tegas dan lugas. Tangannya meraih ragu kaleng kola yang disodorkan padanya.
“Te-rima kasih, um, Yoongi-hyeong.”
Yoongi terkekeh. “Kau lucu sekali.”
“Hah?”
“Kamu, lucu.”
Jimin mengerjapkan matanya. “Aku? Lucu?”
“Ya, kamu, Jimin-ah. Kamu lucu. Tingkahmu.”
“Errr….”
“Aku tidak bermaksud untuk mencelamu. Tapi tingkahmu yang seperti ini membuatku gemas. Ngomong-ngomong, latihanmu sudah semakin membaik kan?” Yoongi meneguk kopi dari kaleng yang dipegangnya.
Jimin tidak mengerti mengapa ada panas yang merambati pipinya, padahal mereka tengah berteduh dari terik siang. Berdeham setelah meneguk kola, Jimin tersenyum canggung. “Ah, itu. Iya, aku mulai memahami maksud perkataanmu waktu itu, Hyeong. Aku belum yakin tapi sepertinya aku mulai mengerti jiwa dari tarianku.”
“Hoseok sudah memberi tahuku, mungkin sebelumnya aku bersikap terlalu tegas untukmu, tapi aku hanya ingin bersikap apa adanya. Aku minta maaf jika kau kesulitan karenanya.”
Jimin menggeleng pelan. Jemarinya agak meremas kuat kaleng kola yang isinya separuh. “Aku … mungkin terkejut, tapi aku tidak membencimu, Hyeong. Aku bisa merasakan kebaikanmu dibalik sikap tegasmu. Aku bersyukur karenanya, aku jadi bisa melangkah jauh sedikit demi sedikit. Aku … bukan orang yang memiliki percaya diri yang besar seperti Hoseok-hyeong. Aku juga masih hijau dalam hal apa pun. Tapi berkat kalian berdua, aku bisa seperti sekarang. Aku tidak akan mempermasalahkannya, Yoongi-hyeong. Terima kasih sudah bersusah payah untukku. Jujur, aku gugup tiap latihan bersama denganmu, Hyeong. Lagu yang kau mainkan begitu indah, aku takut tidak mampu mengimbanginya, makanya aku malah menari dengan canggung.”
Yoongi meletakkan kaleng kopi di sebelahnya. Tangannya terangkat untuk bersedekap di depan dada. “Aku biasanya selalu bisa mengendalikan emosi, tapi untuk beberapa hal aku terkadang menjadi kehilangan kendali. Bukan salah dirimu, tapi aku memang terlanjur berekspektasi yang lebih ketika Hoseok menunjukkan videomu yang sedang menari. Jadi, aku memang sengaja tidak menemanimu latihan sampai kau bisa lebih percaya pada dirimu sendiri. Kemarin Hoseok mengundangku untuk melihat hasilnya. Dan untuk itu aku mengajakmu berbicara.”
Jimin menoleh untuk menatap Yoongi. Seolah menantikan kelanjutan dari ucapan Yoongi. Senyum tipis mengembang dari wajah Yoongi. Lagi-lagi membuat Jimin terpesona hingga tak sanggup menahan semu merah jambu yang menodai pipinya. Jimin pun menunduk sembari meremas kaleng kola. Jantungnya berdegup kencang. Sepertinya Jimin terlanjur menyukai Yoongi. Meski terasa tidak tepat, tapi Jimin tak mampu menghindar lagi. Biarlah, yang penting bisa latihan bersama lagi, urusan hati bisa dilanjutkan nanti setelah kompetisi. Jimin akan berjuang untuk keduanya, kompetisi tari dan juga hati Yoongi. Tak masalah apa pun hasilnya nanti, Jimin hanya perlu berjuang saat ini.
“Aku akan mengiringi tarianmu. Selama satu bulan terakhir ini, mari menyelaraskan tarianmu dengan laguku. Aku yang akan menemanimu dalam kompetisi itu. Bersiaplah.”
Jimin tersentuh. Lalu mengangguk kencang. “Terima kasih sudah percaya padaku, Hyeong. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Mohon bantuannya!”
….
Jimin menarik napasnya yang putus-putus. Latihan kali ini tak main-main. Dua minggu telah berlalu dan latihan menjadi semakin intensif. Yoongi sesekali memberikan kritik mengenai penampilannya, Hoseok ikut menceramahi dan mengoreksi mana kala Jimin melakukan kekeliruan. Jimin menguatkan diri dan hati. Ia sudah berjuang sejauh ini, ia tidak bisa kembali atau berhenti meski rasanya tak sanggup lagi. Tekadnya menguat seiring lecutan semangat yang diberikan oleh Hoseok dan Yoongi.
“Five! Six! Seven! Eight! Five! Six! Seven! Eight!”
Seruan Hoseok membuat Jimin kembali berkonsentrasi. Jimin menggerakkan seluruh tubuhnya, menapaki lantai seirama dengan musik yang mengalun dari piano yang dimainkan Yoongi. Satu gerakan berputar sebelum kedua tangannya merentang dan gerakan penutup memukau yang diiringi lengkingan nada tinggi dari piano. Jemari Yoongi lincah memainkan deretan nada terakhir dengan lembut, Jimin mengakhiri tarian dengan pose yang kuat.
Tepuk tangan Hoseok menggema di dalam ruangan. Kepalanya mengangguk-angguk. Senyumnya merekah lebar. Puas sekali.
“Wah, Jimin-ie! Kau keren sekali!” ujarnya sembari menyodorkan handuk pada Jimin.
Jimin menggumamkan terima kasih seraya menyeka peluh dengan handuk yang diterima dari Hoseok. Napasnya berantakan. Wajahnya juga memerah akibat lelah. Jimin menarik napas panjang berkali-kali hingga ia mampu bernapas lebih normal.
Yoongi merapikan deret kertas partitur lalu mendekat pada keduanya. “Sepertinya kau sudah mampu menjiwai tarianmu, Jimin-ah. Selamat. Tapi bukan berarti semua ini selesai. Kuharap kau tetap berlatih dengan baik hingga hari H nanti.”
Senyum yang membentuk bulan sabit di mata Jimin pun muncul. “Berkat Hyeong berdua aku bisa melakukannya. Menyelaraskan hatiku dengan gerakan koreografi dan musik, aku kira akan mudah. Tapi … aku sekarang mengerti. Terima kasih, Hoseok-hyeong, Yoongi-hyeong. Aku tidak akan menganggap segala sesuatunya semudah itu dan aku akan terus berusaha!”
Hoseok menepuk-nepuk punggung Jimin dengan bangga. “Nah itu, begitu baru benar! Kau tidak boleh bimbang dan ragu. Jangan lupa, kami dapat merasakan kebimbanganmu Jimin-ie. Tentu saja kami tidak akan membiarkanmu menjadi ragu lagi. Kamu harus tetap semangat ya, Jimin-ie!”
“Iya, Hoseok-hyeong. Maaf sebelumnya aku tidak menyadari hal ini. aku memang menyukai tarian, tapi aku merasa asal melakukannya dengan sungguh-sungguh sudah cukup. Ternyata sekadar sungguh-sungguh saja tidak cukup. Sekarang aku tidak mempunyai penyesalan lagi. Aku akan terus berjuang sekuat tenaga!”
“Selanjutnya, karena kita masih punya waktu dua minggu, ada baiknya kita juga mengamati tarian pada kompetisi sebelumnya. Setidaknya kamu bisa mempelajari dan membayangkan kompetisinya seperti apa. Itu bisa mengurangi rasa gugup dan demam panggung juga.”
“Siap, Hoseok-hyeong!”
Yoongi tersenyum tipis mengamati interaksi keduanya. “Kalau begitu aku permisi duluan. Kalau ada perubahan jadwal latihan tolong beri tahukan aku. Sampai jumpa.”
Jimin membungkukkan tubuhnya. “Terima kasih untuk bantuannya, Yoongi-hyeong.”
“Oke, Hyeong. Nanti kutelepon ya?” balas Hoseok dengan satu jempolnya terangkat.
Yoongi mengambil tas dan melambai tanpa membalikkan badan, lalu menghilang di balik pintu. Jimin memerhatikan punggung Yoongi yang lenyap di balik pintu sebelum menoleh dan mendapati Hoseok mengerling kepadanya dengan seringai jahil. Jimin seperti pencuri yang tertangkap basah sedang mengambil curiannya.
Hoseok melebarkan seringainya sambil mengangguk-angguk melihat perubahan ekspresi Jimin. Jimin seketika menggeleng kuat-kuat. “Bukan, Hyeong! Apa pun yang Hyeong pikirkan saat ini, bukan seperti itu!”
Hoseok tertawa. Tawanya terdengar menyebalkan di telinga Jimin. “Aku padahal tidak berbicara apa pun, Jimin-ie. Tapi melihatmu menyangkal seperti ini, aku akan dengan senang hati menyetujui kalau memang ada apa-apanya antara kamu dengan Yoongi-hyeong.”
Bibir Jimin serta merta mengerucut maju bak ikan cucut. “Hyeong, apa-apaan?! Tidak! Sama sekali tidak ada apa-apa!”
Hoseok tergelak makin kencang. “Iya, iya. Tidak ada apa-apanya sekarang, belum tahu nanti setelah kompetisi,” godanya makin gencar.
Jimin melempar handuk di tangannya dengan kekuatan penuh ke arah Hoseok. Hoseok berkelit untuk menghindar, membuat Jimin makin sebal hingga misuh-misuh dengan semangat meski tubuhnya sudah lelah. Paling banyak menyumpah sialan dan kakak sepupu jahat. Hoseok tertawa makin kencang mendengarnya. Ada perasaan senang ketika melihat wajah Jimin merona dengan bibir meruncing dan pipi menggembung lucu. Menggemaskan. Hoseok berharap yang terbaik untuk adik sepupu kesayangannya itu.
….
Hari yang ditunggu telah tiba. Kompetisi tari kontemporer pun digelar. Jimin merasa gugup saat berada di ruang tunggu. Menunggu giliran untuk menampilkan tarian terbaiknya. Para rivalnya satu persatu menunjukkan bakat mereka yang mengagumkan. Bohong bila Jimin tak merasakan gemetar.
Hoseok dan keluarganya ada di bersama penonton yang lain, menonton penampilan setiap peserta dari bangku penonton. Mentornya menepuk punggung Jimin beberapa saat yang lalu, mengucapkan kalimat penyemangat lalu menyingkir demi memberikan waktu agar Jimin mampu membangun konsentrasinya sendiri. Jimin jadi gelisah. Tinggal dua penampil lagi lalu gilirannya pun tiba. Keringat dingin terasa mengalir di sepanjang punggungnya.
Sentuhan di bahu membuatnya terlonjak. Yoongi ikut terkejut karena tak menyangka akan reaksi Jimin akibat sentuhannya.
“Maaf….”
Jimin menggeleng. “A-Aku yang minta maaf, Hyeong. Aku gugup sekali.”
Yoongi kembali menepuk punggung Jimin dengan maksud memberikan dukungan. Hangat tangan Yoongi membuat Jimin merasa nyaman. Rasanya jadi lebih tenang.
“Tidak perlu gugup, abaikan saja para penonton. Kau hanya perlu fokus pada dirimu sendiri. Bebaskan dirimu, biarkan semuanya mengalir dari dalam hatimu. Ikuti laguku, kau akan baik-baik saja, Jimin.”
“A-aku akan berusaha.” Oh, betapa Jimin benci saat suaranya mulai terbata-bata. Aduh sial! Tadi ia berhasil mengatasi gugupnya, kenapa sekarang malah makin parah. Pikirkan sesuatu yang menyenangkan, pikirkan sesuatu yang menyenangkan! Jimin berusaha menyugesti dirinya sendiri. Namun tangannya yang bergetar, degup jantungnya yang kencang, membuktikan dirinya yang dilanda tremor.
Yoongi menghela napas. Mungkin seharusnya ia tadi tidak menemui Jimin dulu. Namun sebentar lagi giliran Jimin tampil dengan dirinya yang akan duduk dan mengiringi tarian Jimin dengan permainan pianonya. Kolaborasi seperti yang pernah dilakukannya bersama dengan Hoseok tahun lalu dan tahun sebelum-sebelumnya. Ia ingin memberikan semangat pada Jimin, tapi sepertinya hal itu malah membuat demam panggung Jimin semakin parah. Tak mungkin ia membiarkan Jimin seperti ini.
Yoongi melirik adik tingkatnya itu sembari memindai keadaan sekitar. Ruangan tunggu yang ditempati Jimin kebetulan sedang sepi. Mungkin sedikit afeksi pada si pencuri hati bisa menghilangkan demam panggung yang dialami. Yoongi menimbang dalam hati. Satu sisi menyuruhnya menyemangati dengan cara biasa, sisi lain dirinya menyuruhnya untuk segera bertindak. Yoongi menggaruk rambutnya yang tidak gatal lalu menghela napas panjang.
Risikonya biar ditanggung nanti.
Yoongi meraih kedua pundak Jimin lalu memutar agar menghadap padanya. Kedua pasang mata mereka bersirobok. Jimin terkesiap. Belum sempat Jimin membuka mulut untuk bertanya, bibirnya dibungkam oleh kecupan lembut dari bibir Yoongi. Sejenak, Jimin merasa dunianya berhenti.
Seringai jahil menghiasi wajah Yoongi ketika ia menarik diri. Namun Jimin mendapati ketulusan dalam tatapan Yoongi. “Aku suka kamu. Mungkin waktunya tak tepat. Tapi aku ingin kamu tahu, aku selalu mendukungmu, Jimin-ah. Jangan takut, kalau kau merasa gugup, lihat aku. Fokus padaku dan aku akan di sana untukmu. Kamu pasti bisa.”
Seperti terkena mantra, Jimin seolah terhipnotis dengan perkataan Yoongi. Gemetar yang melanda tubuhnya hilang, senyum manisnya pun terkembang. Hatinya yang tadi goyah kini seolah mendapatkan kekuatan baru. Jimin mengangguk dengan penuh rasa percaya diri.
Ketika mentornya kembali menemui mereka untuk mengumumkan bahwa giliran merekalah yang akan tampil selanjutnya, Jimin melangkah tegap dengan senyum di wajahnya. Yoongi mengikuti dari belakang. Satu motivasi terlintas dalam benak Jimin.
“Aku akan menari sekuat tenaga. Aku akan menampilkan tarian yang terbaik. Aku akan membuat orangtua dan mentorku bangga. Aku tidak akan mengecewakan Hoseok-hyeong. Aku akan membuat Yoongi-hyeong melihat tarianku. Agar ia mengetahui isi hatiku, kalau aku juga menyukainya. Aku bisa!”
….
Jimin berhasil dengan gemilang. Skor miliknya adalah yang tertinggi. Peraih gelar juara pun disandangnya. Dan semua itu berkat kerja kerasnya dan dukungan dari orang-orang yang disayanginya. Jimin memeluk erat Yoongi begitu turun dari podium. Hoseok tertawa melihatnya. Tanpa ingat rasa malu, Jimin menyuarakan isi hatinya melalui kecupan di pipi Yoongi. Membuat audiens semakin menggila dengan sorak-sorai euforia kemenangannya.
Jimin baru sadar ketika orangtua dan mentornya mendekat. Mendadak wajahnya menjadi semerah buah semangka. Yoongi membungkuk untuk menyapa, mengenalkan diri sebagai partner kolaborasi dari Jimin. Tuan Park yang bijak pun menyambut ramah, meski sedikit menggoda putranya yang kelewat semangat akibat memenangkan kompetisi. Jimin tak tahu lagi ekspresi wajahnya seperti apa. Rasanya ia ingin menggali lubang di tanah dan bersembunyi selamanya. Hoseok mengucapkan selamat sambil memeluk keduanya. Selamat untuk kemenangan mereka dan juga atas hubungan baru keduanya.
….
Seminggu berlalu setelah kompetisi tari digelar. Jimin masih latihan meski tidak seintens sebelumnya. Kini Jimin masuk dalam klub tari secara resmi bersama Hoseok. Ia berlatih bersama rekan-rekan lain yang tak kalah berbakat. Ada Kim Taehyung, mahasiswa yang baru pindah dari Daegu. Ada Jeon Jeongguk yang jauh lebih muda darinya. Jimin berlatih bersama-sama dengan mereka. Tujuan mereka bertambah lagi, menapak jauh lebih tinggi seiring tantangan yang semakin bertambah.
“Jimin-ah, ada yang ingin bertemu.”
Jimin yang sedang berbaring segera beranjak bangun. “Siapa?”
“Dia menunggumu di depan.”
Jimin tersenyum lalu mengucapkan terima kasih sebelum berlari keluar ruang latihan. Seolah déjà vu, Jimin dapat melihat Yoongi tengah menunggu sambil bersandar di dinding dengan tangan yang dilipat di depan dada.
“Yoongi-hyeong.”
Yoongi menoleh. “Belum selesai ya?”
Jimin mendekat dan ikut bersandar di samping Yoongi, tangannya melepaskan lipatan tangan Yoongi, menyelipkan tangannya pada lengan Yoongi lalu memeluknya erat. “Sudah selesai latihannya, tapi Pelatih Lee bilang mau ada sesuatu yang dibicarakan. Makanya belum bisa pulang.”
“Kalau begitu aku akan menunggu di tempat parkir.”
“Boleh tidak kalau aku meminta Hyeong menunggunya di sini saja?”
Yoongi menoleh pada Jimin yang memasang wajah memelas bak anak kucing yang haus belaian. Maunya tak bereaksi, tapi apa daya Jimin selalu punya tempat khusus terlembut di hatinya. Membuat Yoongi mengulurkan tangannya yang bebas untuk mengacak sayang helai rambut hitam Jimin.
“Kasih aku tenaga tambahan supaya kuat menunggu,” pinta Yoongi kemudian.
Senyum bulan sabit Jimin pun terulas. Jimin sedikit menarik lengan Yoongi agar yang bersangkutan bisa merunduk. Dihapusnya jarak sebelum satu kecupan berlabuh di pipi Yoongi.
“Tunggu aku ya, Hyeong! Aku mencintaimu!” serunya sebelum kembali ke dalam ruang latihan. Yoongi jadi ikut tersenyum karenanya. Sedikit demi sedikit, mereka melangkah jauh lagi. Baik untuk meraih cita-cita, pun jua untuk menggapai cinta.
End
