Work Text:
"Ya! Kim Namjoon!!! Sudah berapa kali kuperingatkan kau untuk berhati-hati!!!! Aku tidak peduli kau anak pemilik sekolah ini atau punya koneksi di Departemen Pendidikan, tapi kecerobohanmu benar-benar tidak bisa ditolerir!!! Bersihkan kekacauan ini sekarang!"
Namjoon hanya bisa menahan geram. Ini juga bukan maunya untuk mengacau di lab biologi, apalagi saat guru baru itu yang mengajar. Ini murni karena ketidakberuntungan sedang getol-getol merecoki hidupnya. Ah, sialan sekali.
Kenapa juga dirinya harus tersenggol oleh Hoseok? Coba tadi mereka tidak bercanda, tabung-tabung berisi awetan tumbuhan langka itu kan tidak perlu pecah seperti ini. Koleksi pribadi memang menyebalkan. Kenapa juga Kim-saem harus menggunakan koleksi pribadi seperti ini untuk mengajar anatomi tumbuhan?! Kenapa tidak pakai gambar saja yang lebih gampang dan memiliki risiko kecil? Apa dia saja yang ingin pamer huh? Lihat saja, akan Namjoon buat guru itu merasakan kutukan kesialan yang senantiasa mendera hidupnya. Biar Kim-saem itu tahu rasanya dirundung sial! Heh!
Dan untuk empat puluh lima menit selanjutnya, Kim Seokjin, guru biologi yang sebelumnya naik pitam, keluar dari Lab Sains dengan Namjoon dan Hoseok yang mengekorinya di belakang dengan setumpuk laporan percobaan yang mereka ujikan hari ini. Pengaruh intensitas cahaya terhadap klorofil pada tanaman hijau dan tanaman berdaun warna-warni. Mereka berpapasan dengan Min Yoongi, guru musik yang juga baru saja selesai mengajar kelas sepuluh-dua di ruang musik, yang letaknya di sebelah ruang ekonomi rumah tangga. Tepat setelah belokan dari ruangan-ruangan laboratorium sains.
"Min-saem," sapa Seokjin.
Yoongi mengangguk. "Kim-sunbae. Namjoon dan Hoseok."
"Selamat siang, Min-saem."
Yoongi mengangguk lalu menjajari langkah Seokjin untuk menuju ruang guru. Mereka berbelok di koridor dan Yoongi membuka pintu ruang guru untuk mereka semua. Yoongi menuju ke mejanya dan berkutat kembali dengan lembar-lembar partitur miliknya. Sementara Seokjin berbelok menuju ke meja kerjanya yang terletak di dekat jendela. Aura murkanya telah mereda. Namun Seokjin masih mempertahankan ekspresi tegasnya. Namjoon dan Hoseok diam sejenak.
"Letakkan di sini, kalian boleh kembali ke kelas, Namjoon-ah, Hoseok-ah."
Namjoon dan Hoseok pun mematuhi perintah Seokjin, meletakkan lembar laporan yang dikumpulkan di atas meja Seokjin. Membungkuk sebentar untuk pamit dan berbalik untuk kembali ke kelas. Sebelum mereka mencapai pintu, Seokjin memanggil.
"Terima kasih, Namjoon, Hoseok."
Namjoon dan Hoseok berhenti sejenak untuk membalas ucapan Seokjin lalu berlalu dari sana. Ruang guru tampak sepi, Seokjin memperhatikan sekitarnya sebentar lalu ia menghela napas panjang.
"Hari yang buruk ya, Hyeong?" Yoongi bertanya sembari menyodorkan secangkir teh dengan uap yang masih mengepul kepada Seokjin. Menanggalkan pembicaraan formal sejenak.
Seokjin menerima cangkir teh, menghirup aroma teh melati yang menenangkan ketegangan di bahunya sebelum menyesap pelan dan menghela napas lagi. Bibirnya mengerucut maju kala ingatannya kembali memutar insiden di lab tadi. Bagaimana tidak kesal? Koleksi awetan tumbuhan paku kesayangannya hancur. Meski sudah mereda--Seokjin masih marah sebetulnya tapi ia menahan dirinya, terlebih Namjoon sudah membereskan kekacauan yang terjadi. Sebagai guru, ia harus bisa mengontrol emosi. Meski kalau teringat lagi, kekesalannya pun melambung tinggi kembali.
"Namjoon memecahkan koleksiku lagi. Ini yang kelima kali," ujarnya sambil mendengus kencang.
Yoongi menganggukkan kepala. "Kali ini yang mana?"
Seokjin meradang, matanya menatap Yoongi dengan delik tajam. "Yoongi, please."
Seringai kecil terbit di wajah Yoongi, Seokjin kembali mendengus seperti sapi. "Ayolah Hyeong.... Jangan galak-galak begitu. Keriputmu akan semakin bertambah. Kau tidak mau terlihat tua saat hari pernikahanmu tiba kan?"
"Aaaaarrrgggghhhh Yoongi!!! Jangan ingatkan hal itu, aku masih kesal ini!!!"
Yoongi terkekeh sebelum kembali menyesap teh di cangkirnya. "Kukira saat Paman Kim bilang dia akan menunangkanmu dengan anak temannya, dia bercanda. Tapi tidak salah kan kalau candaannya yang kali ini benar-benar menghebohkan."
Air muka Seokjin semakin mengeruh. "APANYA YANG HEBOH?! INI KETERLALUAN SEKALI KAU TAHU?!!!"
Yoongi kembali terkekeh melihat Seokjin yang meledak. "Tapi kan lumayan, Hyeong. Dia murid akselarasi tergenius. Bibit, bebet dan bobotnya unggul sekali. Yakin kau tidak suka?"
"Yoongi, kemari kau, biar mulutmu itu kujahit sebentar!"
Yoongi terbahak sekarang. Puas sekali menggoda kakak sepupunya yang memang cepat sekali naik darah.
"Kau, appa dan semua orang sama saja! Senang sekali melihatku sengsara."
"Aku kan mendukungmu, Hyeong."
"Lihat saja nanti, kudoakan kau cepat-cepat dijodohkan dengan orang yang jauh lebih menyebalikan dari Namjoon!!!"
"Amen. Semoga dia juga punya pipi yang semok atas bawah."
"Kau ini mesum sekali."
"Memangnya kau tidak? Kalau kelas akselarasi senior-satu sedang olahraga kan kau suka sekali menonton mereka."
Seokjin membelalak, bibir tebalnya membentuk huruf o besar, agaknya seekor lalat bisa masuk ke sana. Sepuhan merah mulai menjejak di pipinya yang tembam. "I-Itu tidak--!!!"
"Meh. Talk to my hand, Jin-hyeong. Kau juga bergairah pada tunanganmu kan? Wajar kok."
"ITU TIDAK BENAR!!!" Seokjin meledak lagi. Kali ini wajahnya seperti lobster bakar favorit mereka. Merah membara.
"Sangkal saja semaumu, Hyeong. Aku percaya kok." Lalu Yoongi terbahak lagi dan segera melipir pergi sebelum kepalanya jadi sasaran lempar dari tatakan cangkir yang tergenggam erat di tangan Seokjin. Ah... rasanya puuuaaaasssss sekali.
...
Seokjin menghela napas lega begitu tubuhnya berendam dalam air hangat yang telah dicampur aroma terapi dengan wangi peach dan lily. Memberikan efek yang menyegarkan sekaligus menenangkan. Handuk kecil menempel di atas kening. Seokjin jadi betah lama-lama berendam. Otot-otot tubuhnya yang kaku sepulangnya ia dari sekolah kini mulai melemas dan terasa lebih rileks. Seokjin nyaris tersedot ke alam mimpi jikalau pintu kamar mandinya tak berderit terbuka.
Dari sela lipatan handuk yang sempat melorot menutupi mata, Seokjin mengintip. Mendapati sosok jangkung yang mendekat ke bak mandi tempatnya berada. Namun rayuan aroma terapi membuatnya tak jua beranjak dari posisi enaknya, setengah berbaring di dalam bak mandi dengan tangan terjuntai di masing-masing tepian, punggung dan kepala yang bersandar penuh di ujung bak. Sosok itu berjongkok di ujung bak yang menyisakan jeda ruang dengan dinding kamar mandi. Tangannya terulur lalu memijat bagian pundak lebar Seokjin. Tanpa sadar membuat Seokjin melenguh puas. Pijatan diberikan hingga ke ujung jemari tangan. Enak sekali!
"Hyeong ... sudahan ya berendamnya? Nanti Hyeong bisa sakit kalau terlalu lama berendam."
Bisikan itu sedikit meyentil kesadaran Seokjin yang sudah berada di ambang batas. Di antara ada dan tiada. Seokjin membuka matanya, Namjoon berlutut di samping bak mandi. Wajahnya berpaling ke arah lain, kedua tangannya memegang jubah handuk yang terbentang, siap digunakan. Seokjin memutar tubuhnya jadi menyamping, sebelah tangannya terjulur untuk mengambil handuk. Namun telapak tangan Seokjin berhenti dan memegangi telapak tangan Namjoon. Ada perasaan sedikit sebal karena telapak tangan Namjoon terasa lebih besar ketimbang miliknya. Ah, jangan lupa, dia masih kesal soal kejadian di kelas. Wajahnya serta merta memberengut.
"Hyeong?"
"Kamu jahat, kejam sekali sama koleksiku."
Tunangannya masih merajuk ternyata. Di luar boleh terlihat Seokjin yang dewasa, tapi kalau sedang berdua seperti ini Seokjin seperti jadi menjelma menjadi anak remaja belasan. Namjoon tersenyum simpul. Genggamannya mengerat di jemari merek yang saling bertaut.
"Maaf Hyeong, aku benar-benar tidak sengaja. Dan Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padaku, jadi.... Um, maafkan aku."
Bibir sekal itu mencebik, Namjoon menahan diri untuk tidak gemas.
"Hari Minggu Hyeong tidak sibuk, kan? Minggu besok ini?"
Seokjin bangkit dari posisi setengah berbaringnya di dalam bak mandi, menarik handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah sekaligus berdiri. Namjoon memegangi erat tangan Seokjin, berhati-hati agar tidak terpeleset. Mereka keluar dari kamar mandi.
Seokjin membuka lemari dan menarik setelan piyama dari dalam sana. Lalu berbalik menghadap Namjoon yang berdiri menunggunya.
"Mau ke mana memangnya?"
Namjoon tersenyum, kedua buah lesung pipi menyembul manis. "Taman Nasional."
Kerutan samar seolah menjembatani kedua alis tebal Seokjin. "Taman Nasional?"
Namjoon menggaruk tengkuk dengan canggung. "Menebus kesalahanku?"
Seokjin berkedip lalu kembali masuk ke kamar mandi untuk memakai piyamanya. Digantungkannya jubah handuknya di belakang pintu kamar mandi, lalu menemui Namjoon yang masih setia menungguinya sambil berdiri. Kedua tangannya bertengger di pinggang.
"Ya? Hyeong, ya?"
Bibir Seokjin masih mengerucut. Mereka bertatapan, tapi sedetik kemudian Seokjin yang lebih dulu memalingkan wajah sembari bersedekap. Ia masih marah, tapi melihat wajah penuh penyesalan Namjoon membuat hati Seokjin tergerak. Tersentuh.
"Baiklah...."
Senyum sumringah Namjoon sudah terulas. Seokjin menghela napas lalu kembali bersitatap dengan Namjoon. "Tapi ada syaratnya."
Giliran Namjoon yang mengerjap-ngerjap.
Seokjin kembali memalingkan wajah. Kedua telinganya memerah meski wajahnya masih memberengut kesal. "Temani aku tidur malam ini."
End
