Work Text:
Disclaimer:
Mo Dao Zu Shi milik Mo Xiang Tong Xiu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Hai, Lan Zhan, kau di sana?
Umm, dengarkan aku, oke?
Sebelumnya terima kasih karena tidak memblokir nomorku—
J-jangan dimatikan! Dengarkan dulu, dengarkan, ya? Yang akan kukatakan ini sangat penting—
—oke, lumayan penting.
Yah, cukup penting. Hehe.
Ahem.
Jadi, Lan Zhan, sudah berapa lama sejak kita, uhm, putus?
Aku minta maaf. Waktu itu kita terburu-buru memutuskan. Waktu itu aku terburu-buru memutuskan.
.
.
.
Aku rindu Lan Zhan.
Lan Zhan, aku berani bersumpah, aku tidak pernah berniat pisah denganmu. Aku tidak pernah punya rencana untuk mengakhiri sesuatu yang berkaitan denganmu. Aku tidak pernah …
… aku …
Sekarang aku ingin dengar cacianmu lagi.
Yang seperti waktu itu. Dan sebelum-sebelumnya juga.
Meskipun … meskipun terakhir kali aku bilang aku muak dan tidak mau mendengarnya lagi, sebenarnya tidak begitu! Ah, tidak, aku memang kesal—siapa yang tidak kalau setiap hari kena omel terus, maksudku, waktu itu aku terbawa emosi. Aku tidak mendengarnya betul-betul. Padahal yang Lan Zhan katakan ada benarnya, tapi aku terlalu dungu untuk paham. Aku jadi marah pada Lan Zhan padahal Lan Zhan punya maksud baik.
Lan Zhan,
Beberapa hari lalu aku memenangkan kontes kaligrafi. Aku hebat, kan?
Wei Ying-mu bisa dibanggakan, kan?
… puji aku Lan Zhan. Aku sengaja pamrih khusus di depanmu, aku berusaha keras untukmu, jadi tolong puji aku.
Sebut aku tidak punya malu, aku memang tidak punya malu.
Ayo … kita mulai lagi.
Kau tidak keberatan, kan?”
---
Lan Wangji menatap datar layar ponsel jadulnya yang kini membisu. Ia membuang napas, lalu meletakkan benda itu di atas nakas.
Hari ini adalah tepat tiga belas tahun setelah pesan suara itu dikirimkan kepadanya.
Tiga belas tahun.
Dan selama tiga belas tahun itu Lan Wangji selalu memutarnya setiap malam menjelang tidur.
Ia melakukannya untuk menghukum diri sendiri.
Lan Wangji menghukum dirinya sebab harga diri masa muda yang terlampau tinggi membuat ia kehilangan kesempatan memeluk Wei Wuxian sekali lagi.
Ini cara dia membayar penyesalan seumur hidupnya kepada Wei Wuxian.
Wei Wuxian.
Yang meninggalkannya, meninggalkan dunia tanpa mendengar jawaban apapun darinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
