Actions

Work Header

Kimetsu University - Amusement Park Date

Summary:

“Jadi~ Nee-san dapat tiket untuk pergi ke taman bermain, ia dapat 20 tiket dari undiannya, karena dia sibuk dan tidak bisa bermain dengan teman-temannya, makannya dia memberikan tiketnya padaku. Sanemi-san ikut juga ya! Kali ini bawa Genya lho, jangan dilupakan lagi seperti pada saat kita bermain di bar~”

.

Sanemi melihat kearah sekitar. “Si raja PDA dan minionnya mana?” jelas sekali yang dimaksud Sanemi tidak lain Sabito dan kekasihnya, Giyuu.

.

Yuichiro merangkul pundak adik kembarnya. “Mui, mau bermain dengan Nii-san?” tanyanya.

“Aku mau main dengan kak Sanemi.”

.

Uzui tanpa aba-aba langsung menarik baju milik Zenitsu, membuka baju Zenitsu begitu saja. “GYAAAHHH!! UZUI-SENPAI NGAPAIN!?”

“Kamu kan belum mandi, aku lho ngebantu melepas bajumu dengan flamboyan!”

.

“Eh? Bolehkah?” Muka Tanjiro berubah ceria. Rengoku mengangguk, masih memegang ice cream miliknya, kemudian menyodorkannya kedepan Tanjiro. “Coba saja! Tidak apa kok!”

.

AU!College, Sanemui for main pairing <3

Notes:

HAPPY BIRTHDAY DEAR Kairi_Ruka Teman satu fangirling bersama! Terimakasih sudah menambah hari-hari kita jadi penuh berwarna dengan segala asupan multiship <3
Semoga suka sama ceritanya ya <3

Oh ya, sebelumnya ini masih ada sangkut paut sama cerita Kimetsu University - Ousama Game? karena masih sama-sama satu AU. Bagi yang penasaran sama cerita mereka sebelum cerita ini bisa cek ficnya ;)

Update : Guys, astagahhhh Ruka gambarin fanart-nya dong buat fic ini ♡(`ω`)♡ please stop for a while and check this out guys :

FANART

Unyuuuu bangetttt aaaaaa (/ω\)
MAKASIHHH RUKA ASTAGAHHH 💖

BTW, Langsung aja ya ke ceritanya XD Happy reading guys!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Tadi apa...? Kau bilang apa, sekali lagi, Kocho?” Sanemi masih mencerna panggilan dari Shinobu Kocho, teman satu SMA sekaligus sama-sama murid semester 6 ditempat kuliah mereka, Kimetsu University.

“Jadi~ Nee-san dapat tiket untuk pergi ke taman bermain, ia dapat 20 tiket dari undiannya, karena dia sibuk dan tidak bisa bermain dengan teman-temannya, makannya dia memberikan tiketnya padaku. Sanemi-san ikut juga ya! Kali ini bawa Genya lho, jangan dilupakan lagi seperti pada saat kita bermain di bar~” Tanpa bertemu secara langsung pun, Sanemi sudah dapat menebak bagaimana ekspresi Shinobu yang sedang meleleponnya saat ini, tersenyum geli dengan penuh arti.

“Kenapa aku harus ikut juga! Telpon saja langsung Genya sana! Lagipula aku sibu—“

“Tokito bersaudara juga ikut lho,” Potong Shinobu, kemudian melanjutkan pembicaraannya, tidak memberikan Sanemi untuk menyela perkataannya. “Tadi sebelum aku menelpon Sanemi-san, aku telp Muichiro, terus dia dengan senang bilang begini padaku ‘ah, pergi ke taman bermain, pasti asik ya, apalagi ada Kak Sanemi juga.’ Masa Sanemi-san tega menolak ikut setelah Muichiro berkata begitu sih?”

Sanemi menelan ludahnya. Kocho sialan, pikirnya. Ia selalu tahu kelemahan Sanemi dan selalu tahu bagaimana cara untuk menghasutnya. Apalagi setelah kejadian di Bar Butterfly Estate kapan hari, sekarang teman-teman seangkatannya tahu kalau ia mencoba PDKT dengan si bungsu dari keluarga Tokito.

“Tapi~ kalau Sanemi-san tidak bisa ya sudahlah ya, nanti aku akan kasih tau Muichiro kalau senior favoritnya tidak bisa ikut karena sibuk~ kasian sih Muichiro tapi kurasa ia masih bisa bersenang-senang dengan senior lainnya, ‘kan?”

“KAPAN!? BERITAHU JAM BERAPA!” Dan medaklah suara Sanemi saat itu, disisi lain, Shinobu hanya tersenyum puas mendengar jawaban dari Sanemi.

.

.

.

[Sagiri Amusement Park, 9:30 AM]

“Sanemi-san, Genya-kun, disini, disini~!” Shinobu Kocho melambaikan tangannya ketika melihat Shinazugawa bersaudara datang bersama. Beberapa orang sudah datang dan menunggu dengan Shinobu saat itu. Tanjiro, Nezuko, Rengoku, Uzui, Zenitsu, dan Mitsuri. Tampaknya hanya tinggal Tokito bersaudara, Inosuke, Iguro, Sabito dan Giyuu yang masih belum terlihat saat ini.

“Kocho-senpai, terimakasih sudah mengundangku kemari.” Genya dengan malu-malu dan muka merona menunduk, ia memang selalu begitu ketika masa pubertas menghantamnya, padahal ia masih ingat dengan jelas waktu kecil ia pernah memukul anak perempuan.

Ara ara~ Tidak masalah, Genya-kun! Makin banyak kan makin rame juga~ lagipula terakhir kali ‘kan kau tidak boleh ikut bermain dengan kami.” Senyum Shinobu kemudian sambil menatap kearah Sanemi.

“Oh iya aku lupa, Shinobu-chan,” Mitsuri Kanroji mendekat kearah mereka. “Iguro-kun ada part-time disini, dia akan mengisi acara sirkus, tapi paginya dia bisa ikut bermain dengan kita. Kurasa dia sudah berada di tenda sirkus sekarang, mengecek kostum-kostumnya.”

“Ah, kalau begitu berarti tinggal Tokito bersaudara dan Inosuke ya?” Shinobu mengambil ponsel miliknya dan mengecek bila ada pesan masuk.

Sanemi melihat kearah sekitar. “Si raja PDA dan minionnya mana?” Jelas sekali yang dimaksud Sanemi tidak lain Sabito dan kekasihnya, Giyuu.

Kali ini Uzui ikut bergabung, sambil menyeret Zenitsu, memiting pemuda kuning yang masih ngambek entah karena alasan apa. “Kalau cari mereka, mereka sudah datang, lagi di toilet tuh, entah apa yang mereka lakukan secara famboyan disana~” seringai Uzui Tengen, pemuda tingkat enam dalam bidang seni lukis.

“UZUI-SENPAI, UDAH DONG LEPASIN--- AKU GABAKAL KABUR!” Rengek Zenitsu sambil memukul-mukul lengan Uzui yang masih memiting lehernya.

“Gak boleh, aku baru mau melepasmu setelah kita masuk kedalam! Hukuman karena kau menghapus nomor kontakku!” Dan Uzui membiarkan pemuda tingkat 2 dibidang musik itu terus merengek padanya.

“Eh~ apa ini, kok ribut-ribut? Aku melewatkan sesuatu?” Panjang umurlah Sabito, entah dari mana kini ia datang menghampiri kerumunan bersama dengan Giyuu mengekor dibelakangnya. Entah mengapa Sanemi dapat melihat dengan jelas muka bersinar milik Sabito dengan wajah puasnya.

Tanpa pikir panjang ia langsung melempar kaleng minumannya kearah Sabito, tetapi Sabito dengan lihai menangkap kaleng tersebut. “Ada Sanemi ternyata~ kukira ada angin apa yang membuat kalengnya terlempar begini, iri ya sama aku dan Tomioka? Makannya cepat-cepat tembak Mui sana! Hahahaha~~”

“Brengs*k, cari ribut ya!?” Kesabaran Sanemi sudah naik ke ubun-ubun, rasanya ia ingin mencekik wajah polos Sabito yang sedang menertawakannya.

Tanjiro yang melihat mereka dari jauh hanya bisa tersenyum canggung, mencoba untuk menghentikan pertengkaran Sanemi dan Sabito, tapi ia ingat Rengoku dan Nezuko yang saat ini masih asik memakan crepes mereka sampai belepotan. Alih-alih melerai keduanya, Tanjiro akhirnya lebih memilih membersihkan noda dimulut adiknya dan pacarnya.

“Kenapa aku ditembak?” Suara itu terdengar tidak jauh dari tempat mereka berdiam. Tokito Muichiro memiringkan kepalanya, mendengar penggalan kata yang Sabito ucapkan barusan.

Sedangkan disebelahnya, Yuichiro yang berjalan sambil dirangkul oleh Inosuke menjatuhkan tas kecil miliknya. Tidak lama sang sulung Tokito menatap Sanemi tajam, seolah mengatakan ‘Langkahi mayatku sebelum menyatakan cinta pada adik kembarku!’ Sanemi bergidik, ia tahu bahwa mendekati Muichiro bukanlah hal mudah, apalagi dengan sifat protektif kakak kembarnya itu.

“OH! SEMUANYA SUDAH BERKUMPUL YA!” Inosuke yang paling antusias karena diajak ke tempat bermain langsung menjadi sangat ceria, di grup chat mereka dia bilang dia tidak pernah ke taman bermain sebelumnya, makannya ia sangat antusias. Apalagi Yui yang menyebut beberapa atraksi yang bisa memacu adrenalin, sangat cocok dengan Inosuke yang cukup liar.

“Baiklah, karena semua sudah berkumpul, ayo kita masuk saja! Tapi ngomong-ngomong sebelumnya, karena Nee-san tidak bisa ikut, aku akan memberinya vlog saja ya mengenai kegiatan kita disini, dan setelah memasuki atraksinya, kalian wajib memakai bando hewan ya! Tidak boleh protes karena ini peraturannya~”

“Eh? Tapi aku tidak pernah melihat ada aturan wajib memakai bando hewan, Kocho? Memang aku melihat beberapa orang memakainya sih, tapi tidak masalah bagiku! Bando hewan itu lucu! Sayang Senjuro tidak bisa ikut bersama!” ucap Rengoku kemudian.

“Itu peraturan dari Nee-san kok~” balas Shinobu kemudian sambil tersenyum.

Ah. Mereka semua tahu senyum penuh arti milik Shinobu, pasti ia sengaja sekongkol dengan kakak perempuannya, Kanae demi melihat mereka semua memakai bando hewan.

“Supaya adil dan tidak berebut, kita undi saja ya~ ini aku sudah buatkan kertas undiannya. Oh ya, Mitsuri-chan ambil dua ya buat Iguro-san juga.” Awalnya Sanemi ingin protes, yang benar saja, dulu ia sudah didandani saja jelas-jelas tidak cocok, apalagi sekarang ia harus memakai bando hewan yang lucu-lucu seperti itu? Memang sih bukan ia sendiri yang memakainya, tetapi—yang benar saja?

Nyatanya tidak ada yang protes satupun membuat Sanemi mengurungkan niatnya, apalagi ketika ia melihat ekspresi di wajah Muichiro yang jelas-jelas senang ketika melihat tumpukan bando yang sudah menunggu mereka setelah memasuki gerbang nanti. Yah, anggaplah bayaran karena telah ditraktir oleh Kanae Kocho, setidaknya memakai bondu tidak masalah, banyak perempuan dan laki-laki yang memakainya didalam taman bermain ini.

Mereka semua kemudian mengambil kertas undian, dan beginilah hasil dari undian tersebut.

Rengoku – Lion, Tanjiro – Dog, Nezuko – Deer, Sabito – Fox, Giyuu – Panda, Uzui – Wolf, Zenitsu – Rabbit, Iguro – Zebra, Mitsuri – Giraffe, Sanemi – Bear, Muichiro – Koala, Yuichiro – Leopard, Genya – Sheep, Inosuke – Boar dan Shinobu – Mickey.

Semua terdiam, entah hoki seperti apa yang membuat Shinobu tidak memakai bondu aneh-aneh seperti yang lainnya, setidaknya bondu Mickey sudah terkenal dan umum, tidak se-nyentrik bando hewan yang mereka semua gunakan.

“YOSSHHH!! BANDO BABI! AKU DAN BABI MEMANG TIDAK BISA DIPISAHKAN! HAHAHAHA!!”

Dan semua terdiam melihat Inosuke yang kegirangan mendapat undian bando Babi, memang sih Babi itu spiritual animal-nya, makannya dia senang ketika mendapat hewan tersebut. Setelah akhirnya mereka semua melewati gerbang taman bermain tersebut, Shinobu lalu menyerahkan bando sesuai dengan undian mereka masing-masing. Tidak ada yang protes sih, apalagi ternyata bandonya cukup lucu juga (Kecuali mungkin Sanemi yang awalnya ingin protes namun mengurungkan niatnya). Tanjiro bahkan langsung mengabadikan Nezuko dan bando rusa miliknya, ditambah Rengoku yang juga cocok dengan bando singa miliknya membuat ia senang menekan tombol kamera berulang kali di layar ponselnya.

“Ayo semuanya foto bersama di pintu gerbang ya!” Shinobu sudah mengambil kamera miliknya, lalu meminta penjaga taman bermain tersebut untuk mengabadikan mereka. Setelah mereka selesai berfoto, Shinobu kemudian berterimakasih dan mengajak teman-temannya untuk segera masuk.

“Masuk! Masuk! Masuk!” Seru Inosuke berulang kali dengan semangat.

“Yasudah ayo masuk semua!” Shinobu kemudian sambil memulai aksi dari Vlog miliknya, merubah settingan kamera menjadi video dan menjelaskan bahwa mereka berada di Sagiri Amusement Park bersama 13 teman miliknya, satunya ada di tenda sirkus sih, tetapi nanti mereka akan bertemu juga.

“Oh ya, ngomong-ngomong Kanao-chan, Makomo-chan dan Himejima-san tidak ikut?” tanya Nezuko sambil asik melahap roti.

“Kalau tidak salah Kanao-chan, Makomo-chan dan Himejima-san bekerja disini selama liburan ini, Nezuko-chan. Kanao-chan bilang dia bekerja di counter Ice Cream, Makomo-chan bekerja di atraksi Ghost Train, dan Himejima-san jadi penjaga di atraksi Water Park. Kemarin aku mencoba menelepon mereka tetapi mereka tidak bisa bergabung dengan kita. Berbeda dengan Iguro yang hanya part-time nanti malam, mereka semua full time.” Balas Shinobu kemudian.

Uzui akhirnya melepaskan pitingannya terhadap Zenitsu, yang kini mangut-mangut ketika bando kelinci berada dikepalanya, awalnya sih ia protes, tetapi karena mendengar pujian Uzui, Tanjiro dan Inosuke, ia merubah pemikirannya.

Muichiro berjalan disamping Sanemi dan Genya, sedangkan disamping Genya ada Yuichiro yang berjalan bersebelahan dengan Inosuke. Shinobu sih sibuk dengan kamera miliknya, beberapa kali berduet bersama Mitsuri untuk menceritakan suasana di taman bermain tersebut dan tidak lupa mengabadikan moment teman-temannya ini.

.

.

.

[Bumper Cars Arena]

Yuichiro merangkul pundak adik kembarnya. “Mui, mau bermain dengan Nii-san?” tanyanya. Beberapa temannya sudah berhamburan memilih mobil yang ingin mereka gunakan. Tanjiro bersama dengan Rengoku, Sabito dengan Giyuu, Uzui dengan Zenitsu, Inosuke dengan Shinobu, Mitsuri dengan Nezuko, sisanya hanya tinggal Yuichiro, Muichiro, Genya dan Sanemi.

“Aku mau main dengan kak Sanemi.” Ucap Muichiro dengan singkat, kemudian berjalan kearah Sanemi, memegang lengan baju pendek milik Sanemi kemudian merangkul lengannya menuju mobil yang masih kosong. Sanemi sendiri kaget ketika Muichiro langsung membawanya menuju salah satu mobil yang kosong, pura-pura tidak melihat Yuichiro yang memandangnya dengan tatapan ingin membunuh.

Yuichiro menghela nafas pendek, kemudian melihat kearah Genya. “Yasudah bareng Genya saja deh! Yuk!”

Sanemi mengerjabkan matanya beberapa kali, masih tidak percaya ketika Muichiro memeluk lengannya seperti koala, kemudian meminta Sanemi untuk bermain Bumper Cars dengannya. Padahal biasanya si kembar sulit untuk dipisahkan, apalagi Yuichiro sangat protektif terhadap adiknya. Bisa dibilang arena disana cukup buas, bagaimana tidak? Uzui dan Rengoku, keduanya saling bersaing satu sama lain. Zenitsu yang satu mobil dengan Uzui sudah merengek ingin keluar ketika mobilnya ditubruk-tubruk oleh duo Rengoku-Tanjiro, tapi Tanjiro sendiri tampaknya senang-senang saja ketika melihat tingkah laku Rengoku.

Shinobu dan Inosuke tidak kalah ngegas-nya, berhubung Inosuke yang mengendarai mobilnya, ia menubruk siapapun yang berada didekatnya, tapi justru itu malah membuat Shinobu makin senang karena bisa melihat dengan jelas wajah teman-temannya yang stress karena ditubruk Inosuke terus-menerus. Mitsuri dan Nezuko berjalan diujung, dengan damai menikmati kendaraan mereka dan tidak ada yang berani menabrak keduanya, karena mereka tahu Tanjiro bisa langsung melesat demi melindungi adiknya, dan tentunya tidak ada yang mau macam-macam dengan pacarnya Iguro, bisa-bisa mereka jadi makanan hewan buas peliharaan Iguro.

Sanemi dan Muichiro masih asik mengendarai mobilnya dengan tenang, sampai akhirnya ada mobil lain yang menabrak mereka cukup keras.

“F*ck!” umpat Sanemi kemudian melihat kebelakang, dimana Sabito dan Giyuu menabrak mereka, tetapi bukannya disengaja, Sabito dan Giyuu sibuk PDA hingga setir mobil-nya mereka biarkan secara asal, toh akhirnya juga bakal nubruk, jadi yah Sabito tidak peduli juga dan malahan asik melahap Giyuu.

“Oi!! LIHAT-LIHAT DONG!” Bentak Sanemi, kesal dengan pasangan satu itu. Kalau sudah berdua saja lupa segalanya.

“Lha, Sanemi lagi, Sanemi lagi, nge-fans sama kita ya?” Sabito tertawa kecil ketika melihat muka Sanemi yang mulai memerah karena kesal. Giyuu sendiri melihat kearah Muichiro yang masih berekspresi datar, sama datar dengan dirinya.

“Sanemi-san,” ucap Giyuu kemudian. “Yui melihat kearah kita dengan tatapan tajam. Apa yang kau lakukan?”

“Memangnya ini salahku! Kalian yang nabrak ‘kan!”

Tetapi bukannya menjadi reda, suasana disana malah tambah kacau ketika tiba-tiba Inosuke menyeruduk mobil milik Sabito, membuat mobil Sanemi terpental dan bertubrukan dengan mobil Uzui dan Rengoku, dan berakhir dengan Yuichiro yang mengegas mobilnya, berduet dengan Inosuke untuk menyingkirkan mobil-mobil lainnya. Genya sendiri hanya pasrah karena kendali dipegang oleh Yuichiro, sedangkan Shinobu hanta tertawa melihat aksi temannya ini.

Ketika 15 menit telah berakhir, mereka lalu keluar dari atraksi tersebut.

“Buas... ini buas sekali.” Zenitsu merasa jiwanya nyaris melayang ketika Uzui juga ikut dalam aksi keramaian tersebut, katanya tidak flamboyan bila tidak ikut menggila bersama. Sedangkan duo Mitsuri dan Nezuko hingga akhir tetap terlindungi dari aksi baku hantam tersebut.

[Water Park Arena]

“Siapa yang belum mandi tadi pagi, MANDI DISINI SEKARANG!!” Sabito meneriaki teman-temannya, ia yakin ada seorang atau dua orang yang selalu tidak mandi pagi sehingga arena ini sangat cocok bagi mereka, setidaknya sebelum memulai ke atraksi lainnya.

Uzui tanpa aba-aba langsung menarik baju milik Zenitsu, membuka baju Zenitsu begitu saja. “GYAAAHHH!! UZUI-SENPAI NGAPAIN!?”

“Kamu kan belum mandi, aku lho ngebantu melepas bajumu dengan flamboyan!”

“GAK USAH DIBILANG JUGA, MEMANGNYA GARA-GARA SIAPA AKU GA BISA MANDI TADI PAGI!?”

Tidak jauh dari sana, Mitsuri, Shinobu dan Nezuko menghampiri Himejima yang duduk di pos jaga. “Himejima-san!” Shinobu mulai kembali dengan kamera miliknya, memperkenalkan Himejima sebagai penjaga Water Park saat ini.

“Kalian sudah tiba disini, selamat bersenang-senang ya! Jangan lupa utamakan keselamatan.” Himejima mengatupkan kedua tangannya. “Jangan lupa pemanasan juga sebelum berenang dan bermain disini. Bila memerlukan sesuatu jangan segan untuk menemuiku. Namu Amida Butsu.”

Tentunya atraksi air ini sangat luas, selain kolamnya yang juga sangat besar, terdapat juga serodotan air yang cukup menggoda untuk memacu adrenalin. Setelah mereka semua berganti pakaian, mereka kemudian memutuskan untuk mencoba serodotan ekstrim tersebut dengan berpasangan. Jadi, mereka akan naik di pelampung yang cukup diduduki untuk berdua dan akan meluncur bersama. Tentunya pair kali ini masih mirip dengan sebelumnya, kecuali kali ini Inosuke pergi bersama Yuichiro karena Shinobu memilih untuk mengabadikan teman-temannya sebelum ikut bermain. Mitsuri juga pass kali ini karena ia meminta izin untuk pergi ke tenda sirkus milik Iguro, dan mungkin akan membawa Iguro bersama dengan mereka. Sehingga berakhir Nezuko kini bersama dengan Genya.

“Kak Sanemi, kok perosotannya tampak mengerikan ya?”

“Yah, cukup panjang sih, dan alirannya juga deras. Tapi tidak masalah sih, kalaupun terlempar tengah jalan aku pasti tidak akan membiarkanmu terluka.”

“Jelaslah, sampai Muichiro luka awas saja!” Yuichiro yang mengantri dibelakang Sanemi tidak lama berkomentar. Sanemi menghela nafas kembali, namun akhirnya setuju saja, mengingat tidak baik bila berantem dengan calon kakak ipar.

Saat keduanya bersiap dan meluncur, mata Muichiro terbuka sangat lebar. “Kak Sanemi! Kak Sanemi! Ini asyik sekali.” Ucapnya dengan gembira. Jarang sekali Sanemi bisa melihat wajah Muichiro yang sangat antusias. Memang sih alirannya cukup kencang, dan mereka sepertinya sudah meluncur sangat cepat melewati keloknya lintasan air tersebut. Hingga disatu spot, Sanemi melihat dengan jelas diujung spot lainnya, sang raja PDA lagi-lagi melakukan aksinya, menciumi leher Giyuu sambil memeluknya erat.

“WOIII, DIPSHIT! CARI KAMAR SANA SIALAN! JANGAN PDA TERUS-TERUSAN! MENGANGGU TAU!” Teriak Sanemi, yang jelas-jelas membuat Sabito membuka matanya dan tersenyum jahil padanya. Tidak mempedulikan Sanemi, Sabito masih asik memonopoli tubuh Giyuu. Sedangkan dari jauh Shinobu dengan senang hati sudah merekam aksi Sabito, kini menyorot kearah Sanemi dan Muichiro.

Disisi lain, tepatnya di kolam, Rengoku dan Tanjiro asik melakukan racing dimana Zenitsu menjadi wasit mereka, Uzui sibuk menyeruput minuman buah yang dijual disekitar sana. Pada saat giliran Inosuke dan Yuichiro, keduanya sama-sama berteriak kegirangan, bahkan minta mengulangi aksi seluncur dibandingkan bermain di kolam. Genya dan Nezuko yang meluncur bersama, keduanya sama-sama menikmati aluran air tersebut, meskipun Genya sempat gugup karena ia bersama dengan perempuan.

Setelah 2 jam mereka bermain dengan air, akhirnya mereka segera bersiap untuk pergi ke atraksi utama. Tetapi sebelum itu, karena siang itu cukup panas, mereka beristirahat untuk makan siang sebentar dan berakhir membeli Ice Cream.

[Ice Cream Arena]

Kanao yang saat itu sedang sibuk melayani beberapa pelanggan, mukanya langsung bersinar ketika melihat kakaknya dan teman-temannya datang untuk mengunjunginya. Tanpa menunggu, mereka langsung memesan ice cream mereka masing-masing.

“Satu red velvet dan satu lagi oreo vanila ya.” Kanao menyerahkan ice cream tersebut pada Tanjiro. “Terimakasih, Kanao!” senyumnya. “Oh ya, Nezuko mau nii-chan tunggu? Atau—“

“Tidak apa, aku ngantri saja, nii-chan bawa saja ice cream-nya sebelum meleleh. Aku mau mengobrol dengan Kanao-chan juga.” Tanjiro mengangguk kemudian berjalan menuju tempat Rengoku, dimana ia sudah duduk disalah satu kursi dekat dengan air mancur.

“Terimakasih ya, Tanjiro! Pertandingan renang tadi sangat menyenangkan, kita harus melakukannya lagi lain kali!” ucap Rengoku dengan senyum lebarnya. Tidak lama kemudian keduanya saling duduk bersampingan. Entah mengapa, pandangan Tanjiro kini mengarah pada red velvet ice cream milik Rengoku.

“Hm? Tanjiro mau coba?” tanya Rengoku kemudian. Sebenarnya Tanjiro agak malu untuk mengatakannya, ia jarang membeli rasa ice cream yang macam-macam. Makannya ia agak penasaran dengan bagaimana rasa ice cream tersebut.

“Eh? Bolehkah?” Muka Tanjiro berubah ceria. Rengoku mengangguk, masih memegang ice cream miliknya, kemudian menyodorkannya kedepan Tanjiro. “Coba saja! Tidak apa kok!”

Dan akhirnya ketika Tanjiro dengan malu-malu mencoba ice cream tersebut, disisi lainnya, Rengoku juga sama-sama memakan ice cream miliknya, membuat kedua bibir mereka terpisahkan oleh bulatan ice cream. Muka Tanjiro memerah padam.

Sanemi menggerutu. “Ga si brengs*k Sabito, ga Kyoujuro juga! Kenapa semua pada PDA segala sih.” Sanemi misuh-misuh sambil memegang dua buah ice cream ditangannya. Tidak lama ia memberinya pada Muichiro. Inosuke, Genya dan Yuichiro sendiri masih sibuk mengantri dan memilih rasa ice cream sehingga Sanemi meninggalkan ketiganya begitu saja. Ketika ia duduk, dan mulai memakan sebagain ice cream miliknya, tidak lama Muichiro lalu melihat kearah Sanemi. “Kak Sanemi makan rasa apa?” tanyanya.

“Kalau tidak salah mint. Kenapa memangnya?Balas Sanemi.

“Kak Sanemi pernah coba rasa green tea?” Muichiro memiringkan kepalanya, menunggu jawaban dari Sanemi. Muka Muichiro memang tidak bisa membuatnya kalem sama sekali.

“Belum pernah.” Balasnya singkat.

“Kalalu gitu tukeran yuk? Aku juga belum pernah coba rasa mint.” Balas Tokito sambil menyodorkan ice cream green tea milknya. Awalnya Sanemi ragu tetapi setelah melihat tidak ada ancaman disekitarnya (baca : Yuichiro) akhirnya ia menerimanya.

‘Ini bisa dikatakan indirect kiss, ‘kan?’ tanya Sanemi yang baru sadar ketika sudah mencoba rasa green tea tersebut. Muichiro sendiri masih melihat ice cream mint yang ada ditangannya, melihat warna unik dari makanan tersebut. Namun sebelum ia sempat memakannya, tiba-tiba datang Yuichiro, Genya dan Inosuke. Entah disengaja atau tidak, Yuichiro menubruk Muichiro dan membuat ice cream milik Sanemi terjatuh.

“Ahhh, maaf ya, Mui~ aduh, aku tidak sengaja, ini makan ice cream punya Nii-san saja~” ucapnya sambil mengelus-elus kepala Muichiro. Tetapi mukanya mengarah kearah Sanemi sambil tersenyum picik.

“Kak Sanemi... maaf.. jatuh.”

Dan Sanemi berani bersumpah bahwa Yuichiro sengaja melakukannya.

[Carousel Arena]

Tangan Muichiro tiba-tiba menghentikan Sanemi. “Kak Sanemi, aku mau naik itu.” Tunjuknya.

Sanemi memijat dahinya, bukannya ia tidak membolehkan, tetapi atraksi itu tampaknya sangat tidak cocok ditunggangi dirinya yang bermuka sangar. Atraksi kuda-kuda berputar dengan lagu yang begitu ceria sama sekali bertolak belakang dengan image-nya.

“Kenapa tidak? Lagipula tidak mungkin kita main atraksi extreme sehabis makan, bisa-bisa yang ada malah mual~ Ayo kesana!” Ucap Shinobu yang masih asik merekam suasana disana, tidak pernah luput dalam mengabadikan momen-momen teman-temannya ini.

Entah kerasukan apa atau karena bucinnya terhadap Tokito Muichiro, saat ini Sanemi duduk dibelakang kuda-kudaan, didepannya Muichiro asik menikmati wahana tersebut. Meskipun setidaknya tidak terlalu malu-maluin juga sih karena hampir semua temannya kecuali Shinobu ikutan menaiki kuda-kudaan ini, apalagi suara Inosuke yang menggelegar dengan antusias, padahal ini belum atraksi utama.

Tapi yah, begitu. Orang-orang sekitar langsung menghakimi Sanemi, pikirnya mungkin ‘Wajah sangar kok mainnya kuda-kudaan poni? Sudah berbondu, muka sangar, eh mainnya kuda-kudaan.' Yah, mungkin Sanemi bisa dikatakan sebagai manusia bermuka sangar namun berhati hello-kitty.

Sanemi hanya memijit-mijit dahinya untuk kesekian kalinya, belum ditambah Sabito tidak pernah absen menggodanya, kali ini malah Uzui ikutan menggoda Sanemi. Yang penting sang bungsu Tokito senang ketika bermain di wahana ini dan Sanemi rela saja ia dihakimi masa seperti itu. Tampaknya hari masih begitu panjang.

[Rides Arena]

Iguro dan Mitsuri kini bergabung dengan mereka, Iguro bilang ia perlu mempersiapkan beberapa bagian dipanggung makannya ia agak telat untuk bergabung. Bando Zebra yang diundikan oleh Mitsuri juga sudah terpasang dikepala miliknya.

Iguro memandang kearah teman-temannya dengan tatapan tajam. “Kalian tidak macam-macam dengan Mitsuri, ‘kan?”

Dan semuanya serentak menggelengkan kepala miliknya. Setelah kapan hari mereka semua main ke rumah Iguro dan menemukan banyak hewan buas yang ia pelihara, kini semuanya menjadi canggung bila menyangkut ancaman Iguro, karena mereka tahu bahwa pemuda satu itu tidak akan segan untuk melempar mereka sebagai makanan peliharaannya itu. Mitsuri sendiri hanya tersenyum dengan muka ceria sambil memeluk lengan milik Iguro manja, meskipun tinggi mereka terlihat begitu bias sih.

Bila bisa dikatakan, mungkin ini adalah atraksi yang paling ditunggu-tunggu oleh semuanya, kecuali Zenitsu yang sudah minta izin tidak mau ikutan karena takut bila pengamannya longgar atau sebagainya. Bagaimana tidak? Atraksi-atraksi extreme yang membawamu terbang di atas, diputar-putar terbalik, atau diangkat tinggi-tinggi sebelum dijatuhkan begitu saja, jantung Zenitsu tidak akan kuat untuk menerimanya. Namun Inosuke tanpa pikir panjang menyeret sahabatnya itu, meski begitu, Inosuke bilang tidak akan asyik bila ia tidak bersama dengan sahabatnya. Hati Zenitsu luluh juga, akhirnya ia mencoba untuk ikut, meskipun hampir sebagian besar dalam atraksi extreme itu ia yang selalu berteriak paling kencang.

Rasanya jiwa Zenitsu ingin melayang saat itu juga setelah mencoba atraksi extreme yang berbeda untuk ke-6 kalinya. Ia berdiam didekat pagar, beberapa temannya seperti Inosuke, Yuichiro, Rengoku, Tanjiro, Iguro, Mitsuri dan Sabito masih asik memacu adrenalin mereka, sedangkan sisanya beristirahat sebentar. Zenitsu samar-samar bisa melihat Shinobu yang tengah menggoda Giyuu dengan penuh arti, sepertinya terlibat kasus PDA-nya dengan Sabito yang terlalu overlimit. Tiba-tiba sebuah botol dingin terasa didekat lehernya, Zenitsu sedikit berteriak sebelum ia melihat kearah samping, dimana Uzui memberinya minuman tersebut.

“Kasian tenggorokanmu, minum sana.” Ucap Uzui kemudian. “Atraksi selanjutnya seharusnya tidak akan se-extreme ini sih, jadi setidaknya kau bisa tenang, little brat.”

Zenitsu merutuki dirinya, melepas status CLBK pada seniornya dahulu, ternyata perasaannya tidak pernah berubah sekalipun pada Uzui Tengen. Ia menerima botol tersebut kemudian meminumnya, sesekali ia mencuri pandang pada Uzui yang duduk disampingnya.

[Spinning Tea Cup Arena]

Kali ini Yuichiro menggandeng Mui untuk bermain bersama dengannya. Muichiro tidak menolak, ia juga senang karena si kembar Tokito sudah merencanakan untuk bermain atraksi putar-putaran ini semenjak mereka dirumah. Mereka jarang pergi ke tempat bermain seperti ini, dan ketika Shinobu mengajak keduanya, mereka sangat senang bisa pergi ke taman bermain bersama.

Shinobu kali ini ikut bermain, sedangkan Rengoku menggantikan memegang kamera. Karena Tanjiro sedang bermain dengan Nezuko makannya Rengoku menjadi sukarelawan untuk memegang kamera. Kali ini Shinobu bermain dengan Sabito sambil tertawa bersama, seperti sedang merencanakan sesuatu, sedangkan Giyuu bermain dengan Inosuke. Semangat Inosuke masih membara, ia sangat senang dengan permainan-permainan extreme di taman bermain ini, belum ditambah permainan berputar ini dimana ia bisa memutarnya sendiri, Inosuke yang kelewat semangat memutar Tea Cup miliknya dengan cepat, bahkan Giyuu yang terkenal bermuka datar saja sempat melebarkan matanya ketika tau-tau putarannya melebihi batas normal.

Sanemi tidak ikut bermain saat ini, ia hanya melihat kedua saudara itu dari jauh. Genya kemudian duduk disebelah Sanemi dan memberikan minuman pada kakaknya.

Aniki, kenapa Aniki tidak menyatakan perasaan Aniki pada Mui?” tanya Genya penasaran.

Sanemi menyemburkan minumannya begitu saja, kemudian menengok kearah Genya dengan muka ingin menomeli adiknya. Namun, ia mengurungkan niatnya. “Muichiro masih terlalu polos, aku tidak tega. Apalagi dia sepertinya tidak mengerti apa itu kata cinta.”

“Tapi bagaimana bila ada yang menyatakan cinta padanya sebelum Aniki? Memangnya Aniki rela Muichiro direbut orang begitu saja? Dia cukup populer lho waktu aku dengar dari gosip, bahkan anak-anak Teknik membicarakan kembar Tokito, anak Astronomi dan IT.”

Sanemi menghela nafas. Tentu saja ia tidak akan rela memberikan Muichiro pada siapapun, bila ada yang berani mendekat, rasanya ia ingin menonjok siapapun itu.

“Sebelum seseroang merebut Muichiro, bukannya lebih baik bila Aniki yang mengajarinya?” dan ucapan milik Genya terus terpikir dipikiran Sanemi.

[Ghost Train Arena]

Selesai dengan atraksi extreme dan memulihkannya dengan atraksi santai, mereka semua lalu menuju tempat selanjutnya untuk kembali memacu adrenalin mereka dalam bentuk lainnya, arena dimana Makomo berkerja paruh waktu. Shinobu bilang Makomo menjadi salah satu hantu di atraksi itu, makannya mereka mungkin tidak bisa melihat dia di area terbuka. Tanpa menunggu, mereka kemudian memasuki atraksi tersebut.

Satu kereta hanya muat untuk pasangan saja, dan mereka menaiki kereta itu dengan pasangan yang sama seperti sebelumnya. Namun karena Mitsuri bersama dengan Iguro, kali ini Yuichiro naik bersama dengan Nezuko, dan Genya bersama Shinobu.

Seperti rumah hantu pada umumnya, penerangan disana sangat remang-remang, ditambah dengan lampu yang sengaja dipilih berwarna kehijauan demi menciptakan sebuah suasana horror. Ketika kereta melaju, hal pertama yang menyambut mereka adalah teriakan banshee, Sanemi berani sumpah telinganya serasa berdenging setelah mendengar teriakan itu. Sebuah hologram dengan muka perempuan yang menyeramkan menyambut mereka.

Beruntunglah Muichiro maupun Sanemi bukan tipe yang gampang takut dengan hal seperti ini, apalagi Muichiro memiliki wajah yang sangat datar, sehingga Sanemi sendiri tidak tahu bila sebenarnya Muichiro takut atau tidak.

Rute yang mereka lewati mirip dengan rute asylum dimana banyak orang-orang dengan gangguan jiwa nyaris memegang mereka yang sedang melintas. Sanemi dengan sigap langsung menempis tangan-tangan yang nyaris memegang Muichiro, bahkan ia tidak segan mengeluarkan wajah membunuhnya, membuat staff disana ragu bila mereka ingin melakukan tugas mereka untuk menakut-nakuti. Disisi lain, Sanemi tampaknya mengenali teman dekat Sabito dari kejauhan, ia menjadi wanita bermulut sobek, kalau tidak salah Kuchisake Onna? Dan Sanemi cukup mengakui aktingnya sebagai wanita bermulut sobek itu cukup membuatnya takjub.

Tidak hanya beberapa pasien dalam rumah sakit saja, tetapi ada beberapa sosok lainnya seperti mummy, aksi exorcism, vampire, frankenstein, zombie, bahkan hiasan-hiasan boneka yang dibuat seseram mungkin demi menakut-nakuti orang-orang yang memasuki atraksi ini. Naasnya karena dua orang pertama yang masuk sama-sama tidak takut, pair selanjutnya mengira tempatnya tidak seseram yang dimaksud. Zenitsu sudah percaya diri kalau atraksinya tidak seseram pikirannya, namun setelah memasuki, dia yang berteriak paling kencang hingga suaranya terdengar keluar atraksi. Selesai dengan atraksi ini, mereka lalu menuju arena oleh-oleh dimana mereka bisa membeli merch untuk dibawa pulang atau sebagai kenang-kenangan bahwa mereka sudah bermain di Sagiri Amusement Park.

[Ferrish Wheel Arena]

Tanpa terasa, kini matahari sudah mulai terbenam, sudah nyaris 9 jam mereka berada di taman bermain, dan jam sudah menunjukkan pukul 6:40PM. Iguro bilang bahwa sirkus akan dimulai jam 8 malam, dan ia harus kembali ke tempat part-time nya saat ini, meninggalkan teman-temannya. Mitsuri juga ikut bersama Iguro dan menunggu teman-temannya di arena sirkus sebagai acara penutup.

Masih ada waktu, akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam di taman bermain, ketika mereka selesai menyantap makan malam, jam masih menunjukkan pukul 7, akhirnya mereka memutuskan untuk menaiki atraksi yang tenang, sekalian melihat pemandangan juga sebelum pergi ke arena terakhir.

Sanemi duduk didalam bianglala bersama dengan Tokito Muichiro yang terpana melihat pemandangan malam dari suasa disekitarnya. Lampu malam dari perkotaan dan daerah sekitar pegunungan itu terlihat begitu indah. Sanemi kemudian teringat akan perkataan milik adiknya itu.

“Tapi bagaimana bila ada yang menyatakan cinta padanya sebelum Aniki?” ucapan adiknya itu masih membekas di pikirannya hingga saat ini. Persetan dengan siapapun yang hendak mendekati Muichiro, ia tidak akan membiarkannya.

Reflek, tangannya kini memegang kerah milik Muichiro, menarik pemuda itu mendekatinya.

“Kak Sanemi?” Mata Muichiro tiba-tiba terbuka lebar ketika Sanemi menciumnya begitu saja, memeluk junironya dan menciumnya tanpa meminta izin dari Tokito bungsu itu. Ketika keduanya melepas ciuman mereka, Muichiro memandang Sanemi dengan tatapan datar, meskipun samar sebuah rona terlihat ditelinganya.

“Aku—“ Sanemi tidak meneruskan perkataannya ketika Muichiro memeluknya begitu saja seperti koala yang menggantung pada pohon. Tanpa mendengar perkataan lebih lanjut, Sanemi sudah tahu bahwa keduanya memiliki perasaan yang sama, ia ingin mengucapkannya, tetapi aksinya itu terpotong kekita merasakan sebuah goyangan dan aura membunuh dari bawah, dimana ia melihat Yuichiro yang nyaris memecahkan kaca bila tidak dihentikan oleh Inosuke.

Sanemi merinding, baginya hantu di Ghost Train Arena barusan tidak berarti apapun bila dibandingkan dengan si sulung Tokito. Ketika akhirnya mereka keluar dari bianglala tersebut, dan ketika Yuichiro turun, dengan muka Inosuke yang sudah babak belur karena mencoba menahan sohibnya ini agar tidak memecahkan kaca, hal pertama yang ia lakukan adalah menonjok Sanemi.

“SIAPA YANG MEMBERIMU IZIN MENICUM MUI HAH!?” Murkanya, mukanya memerah karena kesal, ia mengepalkan tangannya erat. Teman-temannya kini segera berlarian untuk mengerubuni mereka, siap-siap melerai bila terjadi keributan ditempat itu.

Sanemi membuang ludah yang bercampur dengan darah, kemudian menatap Yuichiro dengan serius. “Aku serius dengan Mui.” Balasnya kemudian.

Yuichiro kemudian menundukkan kepalanya ketika Muichiro langsung berjongkok dan memeluk Sanemi. Melihat tindakan adik kembarnya, apa yang bisa dilakukan Yuichiro? Tampaknya mereka berdua sama-sama menyukai satu sama lain. “Bila kau tidak membuatnya bahagia, akan kukubur kau hidup-hidup!” ucap Yuichiro kemudian, mengepalkan tangannya erat-erat dan mencoba untuk mengatur emosinya. Tidak lama Genya lalu datang dan mengusap pundak milik Yuichiro. Shinobu hanya tersenyum melihat mereka, untungnya ini tidak berakhir dengan kondisi yang buruk. Yuichiro memang tipe tsundere dibandingkan dengan adik kembarnya itu.

Tiba-tiba teman-temannya langsung menyoraki mereka berdua, bahkan Sabito melempar konfeti kearah Sanemi dan Muichiro. Sanemi melebarkan matanya, tidak pernah menyangka mereka akan melakukan surprise seperti ini. Tunggu, jangan-jangan semuanya sudah direncankan? Ah, pasti ini ulah Kocho, pikir Sanemi dalam hatinya. Muichiro kemudian berpindah dari memeluk Sanemi lalu memeluk kakak kembarnya, dan alih-alih keduanya malah menangis bersama. Tanjiro dan Zenitsu malah berkaca-kaca setelah melihat aksi mengharukan tadi, seperti acara meminta restu dari orangtua (?) tetapi pada kasus ini adalah Sanemi yang meminta restu pada Yuichiro. Sabito, Giyuu, Rengoku dan yang lainnya juga turut bahagia ketika melihat akhirnya Sanemi resmi juga dengan Muichiro, meskipun memerlukan pengorbanan pipi Sanemi yang tampaknya bengkak saat ini.

Tepat 15 menit sebelum pukul 8, mereka semua lalu pergi menuju arena sirkus dimana Iguro bekerja paruh waktu. Kali ini Himejima dan Kanao serta Makomo ikut bergabung karena atraksi Air dan Ice Cream counter telah tutup, sedangkan shift milik Makomo sudah berganti, sehingga ia sudah bebas sekarang.

[Circus Arena]

Tempat itu sungguh menakjubkan, panggung yang dirakit sedemikian rupa menyerupai bentuk panggung sirkus yang biasanya mereka lihat di film-film atau movie, tetapi dengan perpaduan nuansa halloween. Permainan sirkus terbagi menjadi beberapa bagian didalamnya, atraksi-atraksi menengangkan yang dilakukan oleh beberapa orang yang sudah profesional. Permainan sulap menjadi pembuka bagi acara tersebut, kemudian disusul dengan aksi-aksi seperti berjalan diatas tali, melempar pisau di tempat berputar dimana sosok manusia berputar dipapan bulat, trapeze, Wheel of Stunt, Rollabolla, Hulla Aerial, dan atraksi-atraksi heboh lainnya hingga saat ini dimana beberapa hewan buas kini keluar. Sebuah singa melompat diatas kobaran api, aksi tersebut berhasil membuat Rengoku dan Tanjiro terpana dengan mata yang bersinar-sinar.

Tidak lama, Iguro muncul dengan setelan tuxedo dan masquerade mask miliknya. Mulutnya tertutup oleh perban yang telah dilukis menyerupai sebuah senyum yang cukup mengerikan, seolah ia adalah seorang antagonis dalam permainan ini. Hewan-hewan buas mengelilinya, bagai sebuah sulap karena mereka sangat patuh dengan Iguro, sesosok ular putih yang sangat familiar langsung merayap ketubuh Iguro dan berdiam di lehernya. Mungkin hal itu biasa bagi teman-temannya, tetapi bagi orang-orang awam, entah mengapa itu terlihat begitu menakjubkan. Iguro memandu beberapa hewan tersebut untuk melakukan berbagai atraksi, hingga pada akhirnya sebelum penutupan, teman-temannya melihat sosok Mitsuri melayang dengan menggunakan tali di arena tersebut.

Tunggu, sejak kapan Mitsuri jadi ikut berpartisipasi?

Namun, hal yang membuat mereka semua takjub adalah ketika Mitsuri menari dengan begitu indah, Mitsuri memang memiliki tubuh yang lentur, kemudian ia mengakhirinya dengan menggantung diudara, dekat dengan Iguro seolah mengajaknya untuk ikut melayang diudara bersama dengannya. Mitsuri mengulurkan tangannya kearah Iguro sambil tersenyum dan Iguro menerima uluran tangan tersebut. Semua orang yang menyaksikan acara itu bertepuk tangan meriah. Pertunjukan sirkus malam ini begitu menakjubkan. Bahkan Inosuke sudah memandang pertunjukan itu dengan mata berbinar-binar, mungkin ia ingin ikut berpartisipasi bila dikemudian hari ada acara sirkus seperti ini lagi.

.

.

.

Setelah semuanya puas dengan acara hari ini, satu persatu dari mereka kemudian pamit untuk pulang karena jam sudah menunjukkan jam 10 malam saat ini. Shinobu juga berterimakasih pada teman-temannya karena mereka sudah ikut memeriahkan dalam acara hari ini.

Sanemi dan Genya kini berjalan bersama Tokito bersaudara. Muichiro menggandeng tangan milik Sanemi dan Yuichiro, sedangkan tangan Yuichiro menggandeng tangan milik Genya. Katanya kasian Genya kalau tidak ikut digandeng.

“Aku masih belum memberikan restu pada kalian berdua lho, ingat jangan macam-macam, Sanemi.” Ucap Yuichiro ketika mereka sudah sampai dirumah kediaman Tokito. “Tapi aku percaya kalau kau bisa menjaga adikku.” Ucapnya kemudian lalu mendorong masuk Muichiro.

“Kak Sanemi, Genya-kun, terimakasih untuk hari ini.” Ucap Muichiro yang mulai menghilang dari penghilahan Shinazugawa bersaudara. Genya hanya tersenyum canggung sambil melambaikan tangannya sedangkan Sanemi langsung berjalan kemudian.

“Aniki selamat ya.” Ucap Genya tulus.

“Terimakasih.” Sanemi kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tampak tidak gatal. “...juga karena sudah menyadarkanku tadi, Genya.”

Dan Genya membuka matanya lebar sebelum tersenyum, ia sangat senang ketika melihat kakaknya juga ikut senang.

Notes:

Terimakasih buat yang sudah mampir dan baca ceritanya, semoga bisa menghibur ya (>W<)b