Work Text:
Day 1, 25 : Food and Obsession – Songlan x Xingchen - Xueyang
- As Bitter As This Cream Pie -
cr. blackrist.lofter.com
(Xueyang modern!au)
**
**
Ini sangat menyedihkan.
Sangat—sangat menyedihkan.
Apa yang terjadi pada Xueyang saat ini hingga tubuhnya tersungkur tidak berdaya di sebuah area pusat pembelanjaan yang begitu ramai hingga seluruh pasang mata menatapnya dengan iba?
Tungkainya begitu lemah untuk membangunkan diri. Bergerak saja tak ingin. Semuanya buram di depan pandangan mata. Hanya kepalanya yang runyam dengan segala kepelikannya mengingat kejadian setengah jam lalu.
Kepala Xueyang berkedut. Aliran darah berpacu keras ke ubun-ubun ketika momentum tersebut terekam memori.
"Kau tak apa, Anak Muda?"
Pergi Brengsek, saat seorang wanita muda mengulurkan tangan padanya. Xueyang bukan sosok yang perlu dikasihani saat ini. Mereka yang tidak paham dengan suasana hatinya yang campur aduk itu, lebih baik enyah sebelum keadaan semakin memburuk.
Dikasihani enggan, merepotkan iya. Xueyang terduduk seperti seorang tunawisma yang lumpuh di tengah jalan yang begitu padat penduduk. Tentu saja semuanya akan menawarkan bantuan dengan wajah lugu mereka, atau meludahimu karena menyusahkan. Disini Xueyang menginginkan sebuah mobil masuk jalanan sempit sekadar melindasnya atau membuatnya koma sementara waktu sampai kesaksian itu tidak ia ingat lagi.
Mari kita putar rekaman setengah jam lalu yang membuatnya ...........
**
"Dasar kau penguntit kelas rendahan!"
Sebuah siraman air dingin menyapu wajahnya hingga basah sampai ke pakaian baru. Oh sial.
Xueyang perhatikan gadis berambut konde dua itu begitu saja pergi tanpa ucapan perpisahan selain yang kalimat kedua dari terakhir mengatakan 'Aku ingin putus saja!' yang ia balas baik dengan 'Oh'. Xueyang berdecak miris sambil mengeringkan kausnya dengan sebuah serbet di dekat sendok. Tengkuknya yang dingin bukan karena air yang tumpah, namun semua pandang mata tampaknya sedang senang memperhatikan.
Tontonlah hingga puas, Bedebah.
Xueyang tahu, seorang Xue Yang tidak pernah bisa menjalin sebuah hubungan jangka panjang. Tidak ada keseriusan untuk suatu komitmen bercinta, tidak juga kata sayang untuk mereka yang pernah ia kencani. Semua sekadar keinginan semu yang mereka harapkan dari pemuda tampan sepertinya. Xueyang seorang anak dari keluarga yang (tidak) baik-baik, dan telah tewas dalam kecelakaan mengenaskan. Mereka melimpahkan harta warisan yang begitu besar berupa rumah, apartemen, perusahaan dengan saham milyaran, dan segala tetek bengek-nya padanya. Terlahir menjadi anak satu-satunya, tidaklah buruk, bukan?
Namun sosok yang begitu bebas seperti Xueyang, tidak pernah merumitkan hal demikian. Semuanya tak ia kendalikan, tak juga ia nikmati dengan puas. Ia simpan saja sampai habis kalau umurnya masih cukup panjang. Lalu Xueyang bebas menikmati dunia ini menunggu sampai hancur seketika.
Hingga Xueyang bertemu seseorang yang membuat kekasihnya (—mantan-mantan) meneriaki 'Penguntit kelas rendahan' sebagai alasan meminta putus.
Klang .
Seorang pemuda tinggi memasuki café dengan santainya. Muka tertutup masker. Di balik penutup sebagian wajahnya, Xueyang bisa melihat ada rupa yang begitu cantik. Dua mata tajam nan indah itu begitu familiar. Tubuh kurus semampainya berjalan mendekati counter kue. Saat ia membungkuk untuk melihat rupa-rupa kue berbagai bentuk yang begitu menggoda hasrat makan, rambut panjangnya yang terikat terjatuh ke sisi pundak.
Tangannya bergetar, mengenggam garpu seperti ingin mencolok sesuatu.
"Cream pie-nya satu. Bisa kasih sedikit topping cokelat?"
Garpunya pun tertusuk cepat ke cream pie pesanannya yang baru setengah termakan dengan begitu gemas. Xueyang sudah melotot panas melihat pemuda itu menghampiri salah satu kursi yang tidak jauh dari miliknya. Tentu saja semua gerak-geriknya tertangkap mata tanpa sedetik pun ia lepas. Ketika ia duduk, memegang HP, sampai melamun melihat sekitarnya. Seluruh postur itu mengenyangkan hasrat daripada ketika mengisi perut dengan kue sepiring.
Demi Tuhan, itu dia!
Orang yang akan membuat konteks cinta itu akan menjadi sebuah komitmen yang abadi untuk seorang Xue Yang. Lelaki yang membuatnya rela mengejar sampai ke ujung dunia, dan mengabaikan perempuan manapun yang menyerahkan hati dan tubuhnya pada pemuda dengan senyum taring khasnya.
"Pe—permisi, a—apa kau Xiao Xingchen?"
Rupanya mata Xueyang mampu beralih kepada seorang gadis manis yang sudah berdiri membawa secarik kertas di tangan dan mendekati Xingchen. Gadis itu tersenyum malu-malu. Sangat memuakkan, membuat Xueyang mengunyah kasar kuenya.
"Sssst." Jari lentiknya menempel di depan bibir. "Ya. Tapi bisakah kau tidak beritahu siapapun?" matanya kemudian memberikan kedipan mesra yang membuat gadis itu hampir saja jatuh pingsan.
Xue Yang, 21 tahun. Seorang pengangguran kaya raya. Tampaknya sudah kehilangan jiwa dalam kurun waktu 5 menit lamanya. Detik berhenti bergerak, menjaganya pada momen luar biasa yang tidak pernah ia lihat sedekat ini. Seorang Xiao Xingchen, mengedipkan mata tepat di depan matanya (dengan jarak 2 meja dari miliknya dan tentu saja bukan ditujukan untuknya sendiri.....tapi ..... persetan).
Jiwanya terbang ke udara, Xueyang yang sepertinya lebih layak untuk pingsan saat itu juga.
Tanpa ia sadari, gadis itu sudah membungkuk hormat dan sedikit berlari ketika sudah mendapatkan apa yang ia mau. Ia mendapatkan sebuah tanda tangan eksklusif dari aktor kesayangan negara. Memang sebuah kesempatan yang baik sekali. Xueyang jadi ingin menghampirinya dan melakukan hal yang sama.
Tapi tentu saja tidak sekonyol meminta tanda tangan seperti fanboy kelas kakap.
Mungkin lebih kepada memintanya untuk menandainya sebagai suaminya, kalau bisa. Ah, rasanya ingin menghajar diri sendiri karena permintaan berlebihan ini. Sangat memalukan. Berhentilah tersenyum seperti orang sinting, Xue Yang.
"Ini kuenya, Tuan."
Ia perhatikan Xiao Xingchen membungkuk sedikit sebagai terima kasih pada si pelayan yang mengantarkan pesanannya. Kue berbalut krim putih itu tampak enak di balik kemasannya yang transparan. Xueyang sudah menikmatinya, dan memang rasanya begitu manis dan enak—seperti dia. Kue yang tidak pernah menjadi nomor satu di daftar favoritnya 2 tahun lalu, langsung menghempas semua makanan manis yang ia suka. Jika Xiao Xingchen menyukai sesuatu, Xueyang juga akan menyukainya. Itu adalah prinsip.
Jadi ia makan cream pie miliknya secepat kilat, untuk mengejar Xiao Xingchen sebelum ia pergi lebih jauh. Ini adalah sebuah kesempatan terakhir dalam seumur hidup untuk berhadapan langsung dengan sang Aktor ternama yang ia puja-puja.
Ia harus membuat Xingchen mengetahui siapa Xue Yang, dan seperti apa rupanya.
**
Dengan begitu cekatan, Xueyang mengikutinya. Tubuhnya tergesa-gesa mengejarnya, tapi sesekali Xueyang mencoba untuk mengendalikan diri agar tidak terlalu terlihat.
Ini sebuah momen yang cukup lucu. Selama ini mantan-mantannya mengingatkan Xueyang pada kebiasaan aneh memberikan perhatian lebih pada idola besar hingga beberapa kali mengabaikan mereka. Mereka pikir, definisi fans fanatiknya melekat kuat dan tidak bisa dihapuskan.
Mereka salah. Xueyang masih ditingkat memuja namun menyadari jaraknya terlalu jauh saat itu.
Tapi kali ini jarak jauh itu menjadi dekat. Xueyang bahkan siap menggapainya ketika punggung sempit itu tercapai oleh luas pandangnya. Apakah Xueyang bisa menerima predikat 'fanatik' itu sekarang?
Perjalanan yang cukup makan waktu dari café sebelumnya, membuatnya semakin awas di setiap langkah. Xingchen sesekali menoleh, entah karena menyadari atau ia pun sedang awas dengan paparazzi yang sewaktu-waktu mencuri fotonya. Oh, seharusnya Xueyang juga bawa kamera di saat-saat seperti ini.
Setiap kali ia menoleh, Xueyang terus menyembunyikan diri. Dari memberi jarak 5 meter, kemudian melambat sampai jarak menambah 10 meter. Sangat jauh, lalu sedikit lebih dekat. Bersembunyi di belakang pohon, mungkin juga di belakang seorang lelaki tua yang sedang membaca koran.
Sampai ia lihat Xingchen memasuki lokasi tempat parkir umum.
Kali ini Xueyang mencoba bersembunyi di balik tiang lampu yang tidak terlalu jauh dari sebuah mobil mercedes hitam metalik yang dihampiri oleh Xingchen. Orang itu tampak santai pergi kesana seolah menghampiri mobilnya sendiri. Xueyang tahu bagaimana gaya mobil pribadinya karena beberapa kali ia sering memperhatikan di tv, berita, vlog nya dan lain-lain. Yang pasti mobil itu bukan miliknya. Sungguh, bukan.
Xueyang ingin sekali menyusul Xingchen dan mengingatkannya bahwa itu bukan mobilnya. Mungkin ia akan salah masuk mobil, meskipun itu terdengar konyol karena dua mata Xingchen sungguh normal. Atau, hanya dalam sehari mobil miliknya berubah warna dan Xueyang akan mempertanyakan sejak kapan Xingchen menggantinya dengan warna yang terlalu gelap untuk seseorang sepertinya.
Setiap persepsi yang menggumpal di kepalanya, semakin lama mengalir jatuh setelah Xingchen benar-benar telah memasuki mobil itu.
Saat pintu itu perlahan terbuka, kepala Xueyang otomatis melongok tidak berdaya sampai agak menjauhi tiang. Lupa kalau saat ini ia sedang dalam persembunyian. Ia sungguh penasaran dengan adanya orang kedua di dalam mobil itu.
Ekspresi Xueyang yang sebelumnya antusias, kini berubah menjadi sangat dingin. Tubuhnya mendadak kaku.
Seseorang berada di dalam mobil itu, wajahnya tampan. Pantas untuk dipuji karena perbandingannya sedikit berbeda dari wajah tampan Xueyang sendiri. Bisa dibandingkan, namun Xueyang akui ia lebih tampan....sedikit.
Jauh dari sekadar ketampanan yang membuat Xueyang mampu mengecil menjadi sebuah bakso daging, adalah sentuhan yang dipujanya didapatkan pria (tampan) sialan itu.
Ciuman mesra macam apa di antara mereka!?
Mata Xueyang seperti elang yang mencumbui udara saat terbang. Masih sangat fokus dan begitu detail menatap dari jauh, seakan minus matanya tidak berarti apa-apa. Tidak ada momen yang bisa ia lewatkan, apalagi pada sebuah kejadian luar biasa barusan. Ciuman yang datang di antara keduanya benar-benar meyakinkan, bukanlah buatan. Seperti sebuah ciuman sapa, tapi itu tidak berlaku untuk seorang aktor ternama dengan pria asing, di dalam sebuah mobil berdua saja.
Ciuman mereka dalam. Ciuman sepasang kekasih.
Saat jiwa Xueyang sudah mengambang di udara, mobil hitam metalik itu telah pergi. Meninggalkan Xueyang pada keterdiamannya di antara mobil-mobil yang terparkir tanpa tuannya.
Lalu waktu setengah jam selanjutnya pun terjadi.
**
Itulah alasan Xueyang tersungkur seperti mayat hidup. Kenyataan yang tersembunyikan, namun Xueyang harus mengetahuinya, adalah hal terburuk yang ia miliki selama hidupnya selain ditinggal pergi oleh 12 mantannya dengan satu alasan yang sama. Ia tidak akan menangis untuk itu. Seorang Xueyang tidak pernah menangis ketika ditinggalkan mantannya.
Oh, mungkin ada sedikit perih di mata sedari tadi, mungkin karena bekas debu-debu di jalan raya. Ia hanya perlu mencuci muka. Bukan masalah besar. Hiks.
Obsesi dan cintanya yang mengakar pada Xiao Xingchen terlalu menyakitkan untuk disangkal.
Kepalanya begitu kacau 2 hari ini, ia sama sekali tidak membuka pintu rumahnya untuk siapapun. Bahkan untuk asisten rumah tangganya datang untuk bekerja.
Xueyang pun berlalu dari tempat tidurnya setelah 8 jam disana dengan melamun untuk mengisi perutnya yang terasa kosong. Membuka kulkas untuk mendapati kue cream pie sisanya dua hari lalu yang tertinggal disana, paling layak dimakan daripada makanan lainnya.
Cream pie itu, adalah kenangan buruknya.
Saat ia memakannya, ia akan ingat kejadian saat itu. Saat ia tidak memakannya, ia akan mati kelaparan beberapa jam lagi.
Cream pie yang lembut di dalam mulutnya terkunyah lambat. Ia merasakan sensasi dinginnya, dan kemanisan yang terasa nikmat.
Namun sesuatu yang memiliki kenangan buruk di dalamnya, semanis apapun rasanya, akan menjadi pahit di dalam hatinya.
