Actions

Work Header

Sialan, Semuanya Semakin Kacau Karena Kau!

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Day4,9,11  : Envious, Festival, Birthday

- Damn it, I'ts Getting WORSE because of You! - 

**

"26 Januari"

Xueyang memberikan tanda centang pada sebuah tanggal di dalam kalendernya. Tanggal itu begitu spesial. Bahkan ia beri hati dengan warna merah terang.

Ulang tahun Xiao Xingchen. Lelaki yang mengisi hatinya. Seorang senior dari departemen yang sama di kampus yang menerima cintanya sebelum ia menjadi alumni. Xueyang berada di awan jika mengingat bahwa tahun ini akan jadi tahun pertama ia merayakan hari jadi dari kekasihnya yang akan genap 26 tahun.

Dengan cengiran lebar, ia berpikir panjang. "Hadiah apa yang bagus untuknya?"

Ia sudah pikirkan sebuah hadiah besar. Mungkin sebuah boneka jumbo? Namun persepsi tersebut diambil dari sudut pandang kekasih wanita. Bagaimana langsung saja memberi cincin? Mereka baru saja berpacaran selama 3 bulan dan hadiah itu terlalu mengikat. Apalagi dia mahasiswa tingkat dua yang masih matang. Xiao Xingchen akan menceramahinya terus menerus karena membuang uang.

Matanya bergulir pada sisi dapur di apartemennya. Sebuah sumringah lebar terbentuk hingga bisa melewati telinga.

Ia berpikir untuk membuat permen cokelat.

Ketika Xingchen menjadi asisten dosen dan mengajar privat Xueyang di satu waktu, permen yang dibawanya selalu disisihkan untuk membuat Xueyang bersemangat belajar. Mungkin permen cokelat Xingchen lah yang membuat Xueyang dimabuk asmara oleh si Kakak Senior yang manis dan rupawan sampai saat ini. Xueyang bersih kukuh membalasnya serupa.

Mungkin dengan kandungan alkohol lebih banyak...

**

Songlan juga menandai kalender dan begitu fokus dengan tanggal ulang tahun Xingchen pada tanggan 26 Januari. Ia menggaruk-garuk kepala kebingungan sejak dari tadi.

Ia tidak terlalu mengetahui minat Xingchen. Kekasihnya itu memiliki banyak sekali minat, bahkan ia selalu bilang 'aku suka apapun' yg membuatnya tidak bisa memperkirakan hadiah paling spesial untuknya.

Ini adalah kali pertama ia merayakan ulang tahun bersama sahabatnya yang statusnya sudah naik pangkat --berpacaran. Tapi ia bahkan tidak bisa memikirkan hadiah paling bagus untuknya. Ia merasa 4 tahun menjadi partner dan 3 bulan berpacaran itu hanyalah kesia-siaan yang mulus. Songlan terus mengutuk diri.

Dengan mood yang tidak begitu bagus, tiba-tiba ia mencium bau cokelat dari kamar sebelah.

Instingnya berkata awas tiap kali ia mendapati sesuatu mencurigakan terjadi di kamar sebelah. Maka ia membuka pintu balkon dengan tergesa-gesa, dan mengintip dari sana untuk melihat tetangga paling dibencinya sedang membuat sesuatu.

Baunya sangat enak sekali. Perpaduan pahit, sedikit bau cokelat manis yang lembut sudah menagih indera penciumannya. Sayang sekali Songlan tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana sang Rival memasaki cokelat buatannya.

Songlan akui bahwa laki-laki itu memang pintar. Pintar di angkatannya, pintar memasak, dan pintar merebut kekasih orang. Lebih tepatnya, tidak memberi kesempatan Songlan untuk memiliki Xingchen seorang. Setiap hari Songlan harus berkompetisi mengambil perhatian Xingchen, sampai pada akhirnya Xingchen membuat keputusan paling tidak waras.

Kenangan itu menamatkan Songlan pada hubungan threesome ini. Semakin menambah kebencian pria itu pada laki-laki pendek sialan tersebut.

Songlan berdecak dengki, dan mulai berpikir lebih keras daripada biasanya. Ia tak ingin kalah telak dari Xueyang. Dengan cekatan ia membuka pencarian google untuk bertanya pada siapapun, hadiah pertama paling berkesan bagi kekasih yang lahir di bulan Januari. Tanpa sedikit pun terlewat, jawaban paling bagus didapatkannya dari laman promosi liburan.

Songlan akhirnya bisa tersenyum juga melihat sebuah ide cemerlang dari sana. Ia berakhir memesankan tiket untuk pergi ke festival musim dingin di Harbin berdua saja di hari ulang tahunnya. Jika sudah dipesan, Xingchen tidak akan bisa menolak.

Sampai jumpa Xueyang bodoh—Songlan mengutuk sambil tertawa bengis di dalam hatinya.

Sementara itu, Xueyang telah menyelesaikan permen cokelatnya dalam kurun waktu hanya setengah jam dan sudah bisa menaruhnya di kulkas untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

Ia cukup puas dengan kreasinya. Cokelat dan musim dingin adalah perpaduan yang begitu pas. Apalagi dengan seseorang yang semanis Xiao Xingchen.

Xingchen selalu memuji sisi kreatif dan serba bisa Xueyang. Ia tidak sabar untuk dipuji lagi dengan cokelat buatannya.

Sebelum ia terbawa ke langit karena membayangkan kemungkinan fantastis yang belum terjadi, ia langsung melompat ke kursi komputernya. Ia sudah menunggu-nunggu saat terbaik dimana pemesanan tiket eksklusif ke festival musim dingin sudah terkirim ke emailnya.

Rupanya benar ada kotak masuk, dan isi pesan itu berisi tiket wahana.

2 tiket sudah dibelinya, maka cokelat dan tiket pergi ke festival adalah 2 hadiah yang paling diandalkan Xueyang.

Dengan begitu tak ada yang bisa menandingi kekuatan cintanya.

**

Xueyang dan Songlan datang hampir bersamaan di depan pintu apartemen Xingchen.

Tidak ada satu pun kata yang dilemparkan satu sama lain. Mereka hanya saling melempar tatapan tidak suka, mendecih, lalu membuang muka. Itu sudah menjadi rutinitas untuk pertemuan keduanya sejak mereka pertama kali bertemu.

Meskipun keduanya sudah dinobatkan menjadi sama-sama kekasih Xiao Xingchen, keduanya tetap tidak bisa akur. Bahkan ketika mereka bertetangga, atau setelah mereka tidur bersama di satu ranjang bersama Xingchen, pun tidak akan pernah terlihat akrab. Diam itu emas, lebih baik mereka menganggap satu sama lain tidak pernah ada daripada pembunuhan berdarah menjadi bagian dari rencana terdalam mereka.

Setelah mengisi waktu terhadap penekanan batin untuk satu sama lain, pintu di depan mereka pun terbuka.

"Senangnya kalian sudah datang!"

Xingchen muncul dengan penampilan yang membuat mata dua  kekasihnya melebar. Ia  mengenakan pakaian tebal berwarna peach nya yang terlihat imut dari Songlan, kacamata manisnya, ditambah scarf berwarna merah muda dari Xueyang. Ia benar-benar malaikat paling indah di mata Xueyang dan Songlan—

"Aku juga sudah siap!"

Dua pasang mata itu turun dan menatap gadis mungil di samping Xingchen yang terihat gembira.

Gadis itu berputar-putar senang, lalu bergelayut bahagia di tangan sepupu tercinta—Xiao Xingchen sendiri. Ia lengkap mengenakan sweater hijau kesayangannya yang dirajut langsung olehnya. 

"Aqing!?" pekik keduanya bersamaan seperti melihat tuyul kecil. 

"Kenapa kalian terlihat kecewa gitu melihatku? Aku datang kemari karena undangan spesial. Benar bukan Xingchen gege?" gadis itu menunjukkan ekspresi manjanya. Ia satu-satunya penyihir cilik yang bisa membuat Songlan maupun Xueyang kalah telak soal mencuri perhatian Xingchen.

Xingchen sendiri merangkul Aqing dengan gemas. "Tentu saja! Tiket yang kalian berikan sangat cukup untuk kita berempat. Jadi ini adalah perjalanan satu keluarga yang lengkap."

Songlan menyanggah, "Tunggu! Seingatku aku beli 2 saja."

Xueyang pun ikut menyela, "A—aku juga."

Mereka berdua saling melempar pandang. Kebetulan apa ini!?

"Pas bukan. Karena masing-masing dari kalian membeli dua," Xingchen tersenyum lembut dan bunga-bunga seakan bertebaran di segala sisinya. Songlan dan Xueyang dengan pasrah menerima keadaan menyedihkan ini dengan lamunan panjang.

"Aku mencium permen!" Aqing tanpa permisi merebut kotak di tangan Xueyang. "Permen!"

"Ayo, kita pergi sebelum jalanan ramai."

Xueyang dan Songlan berjalan lemas ke arah mobil yang berbeda.

**

Aqing puas setelah menghabiskan 1 kotak permen cokelat. Bahkan Xingchen belum sempat mencobanya dikarenakan ia sudah puas melihat Aqing senang. Anak itu sangat dimanjakan Xingchen, membuat Xueyang menggerutu kecewa. Untuk apa ia menghabiskan hampir 1 jam nya untuk seorang gadis tak tahu sopan santun itu.

Tidak hanya itu, Songlan juga sama kecewa. Ia tidak menyangka musuh bebuyutannya juga ikut memberi tiket. Itu berarti Xueyang memiliki senjata lebih banyak daripada ia sendiri.

Ia kalah lagi. Songlan tidak terima. Sepanjang perjalanan, kemudinya tidak stabil. Xueyang sering mengomel di samping ia duduk karena Songlan tidak serius mengemudi. Padahal ia tidak peka, kalau Songlan sedang melampiaskan kekesalannya pada pemuda keparat di sampingnya.

Diam-diam Xingchen terhibur dengan keributan kecil dari 2 kekasihnya itu.

Dengan perjalanan yang cukup ugal-ugalan, mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat. Barangkali Xueyang muntah daratan untuk sesaat, dan Songlan memberikan apresiasi kemenangan pertama melihatnya tersiksa.

Sementara itu, pemandangan di dalam festival terlihat cukup ramai, namun tidak sesak. Banyak kedai makanan disana, dan manusia-manusia  mengantri. Tidak ada satupun lapak yang kosong.

Mereka berempat melakukan banyak kegiatan penghapus menat di setiap lokasi. Mereka mengitari banyak kedai dan mencoba banyak makanan. Aqing paling rakus, Xingchen paling suka seafood. Sementara 2 pria lainnya sangat tidak bernapsu untuk menikmati hidangan apapun, hanya berlalu dengan raut loyo.

Kemudian mereka bermain ice skating. Sayang sekali Songlan mengerat tubuh di dinding dengan susah payah karena ia tidak bisa bermain di atas es sedikit pun.

Sedangkan Xueyang pamer karena keahliannya, dan membuat Songlan sakit mata.

Tapi kesialan tentu saja terlempar pada pemuda tukang pamer tersebut, karena dipaksa Xingchen untuk menemani Songlan. Dua elemen paling bertentangan ini tidak bisa ribut ataupun menentang keinginan yang berulang tahun, hanya bisa mengerut diri menjadi seorang anak penurut.

Berkali-kali Songlan jatuh dramatis dan menimpa Xueyang hingga terlihat seperti sepasang roti lapis. Keadaan mereka menjadi pemandangan paling menggemaskan untuk Xingchen.

Sampai malam pun berlangsung cepat.

Aqing masih ingin bermain dengan kembang api. Sementara Xingchen akan mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan kaki-kakinya.

Xueyang dan Songlan terlihat repot dengan semua belanjaan yang Aqing beli dimanapun kedai ia injak. Xueyang terus mengomeli Aqing ketika gadis itu sedang tidak ada, dan Songlan yang mendengarnya tidak akan terima.

Ia bilang kalau keberadaan Xueyang lah yang sangat tidak menguntungkan.

Dianggap begitu Xueyang makin tidak terima dan menendang kaki Songlan hingga laki-laki di sisinya hampir saja tersandung. Es krim vanila nya benar-benar mengenai pakaiannya. Mulailah sebuah lava panas tak terlihat mengalir deras di mukanya.

"Kau mau cari ribut, ya?!"

Xingchen tertawa melihat kelakuan keduanya di depan mata. Baginya melihat keributan dua kekasihnya akan selalu menjadi tontonan terbaik. Meskipun ia sering kewalahan melerai mereka.

Sebelum keributan berat terjadi, Xingchen pun berseru memanggil mereka.

"Songlan! Xueyang! Kemarilah," Xingchen menepuk 2 sisi kosong di tempat ia duduk.

Lava panas di kedua muka mereka, mulai sejuk. Dengan pasrah dan tidak berdaya, Xueyang dan Songlan seperti pangsit loyo yang butuh dukungan dari kekasih tercinta mereka.

Pada akhirnya dua orang itu duduk dengan damai setelah mendapatkan usapan di kedua kepala mereka.

"Kalian sudah dewasa, tapi tetap saja berkelahi pada sesuatu sekecil itu."

"Dia yang duluan!" Xueyang menunjuk ganas ke arah Songlan.

Songlan menukas, "Kau yang terus menggerutu seperti nenek tua."

Xueyang memelotot, dan Songlan berpose ingin melempar tinju besarnya.

Xingchen dengan sigap melerai keduanya.

"Sudah, sudah...lihat! Kembang api akan segera menyala."

Tak lama kemudian, tunjukan Xingchen yang mengarah ke langit gelap itu dipenuhi dengan Kembang api tepat di tengah malam. Berbagai bentuk bunga api menghiasi angkasa dan membuat semua orang melihat takjub.

Xingchen menatap dua kekasihnya dengan senyuman lebar. Bahkan selain melihat mereka berkelahi, ketika di saat seperti inilah Xingchen mengabadikan momen ini begitu luar biasa...Bagaimana mungkin ia tidak bisa membagi cintanya untuk 2 orang yang begitu menyayanginya?

Ia lalu mencium pipi pada dua kekasihnya hingga keduanya saling melempar pandang dengan kaget.

"Aku bersyukur aku punya kalian. Ini adalah ulang tahun terbaikku. Ini yang pertama, dan aku menanti ulang tahun selanjutnya..."

Xingchen menggenggam kedua tangan mereka sama erat, senantiasa menikmati pemandangan malam paling indah bersama 2 orang terkasihnya...

Xueyang dan Songlan tersipu ketika melihat malaikat mereka di sudut pandangan masing-masing.

Otak mereka melalang buana.

Songlan, "Ultah selanjutnya, aku akan sewa satu kamar hotel atas namaku dan Xingchen saja."

Xueyang, "Ultah selanjutnya, aku akan mengempeskan ban mobil Songlan sebelum pergi ke rumah Xingchen."

 

**

Notes:

Tanggal ulang tahun Xingchen diambil dari ultah Jiyang karena ultah Xingchen tidak diketahui.

Dan ulang tahunnya Jiyang cuman beda tanggal aja sama Mir, loh.. beda tipis. Kita seumuran /.\

See u!

Series this work belongs to: