Actions

Work Header

Tarian Pasangan Berjas

Summary:

Songlan akan menghadiri sebuah pesta keluarga besar yang sudah lama ia tidak datangi.

Itu berarti ini adalah pertemuan pertama bagi Xingchen, dan perkenalan awal suaminya yang ia nikahi 2 bulan lalu tanpa keluarga besarnya merestui....

Notes:

#yicityober yang telat menjadi #Yicity(novem)ber instead (?)

Kali ini kita melompat ke day 18 , 29. Seperti yang saya katakan bahwa day nya ngacak adul. Oke, sip?

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Day 18, 29 : Suit n Tie, Dance – SongXiao

 

Tarian Pasangan Berjas - 

**

 

Songlan akan menghadiri sebuah pesta keluarga besar yang sudah lama ia tidak datangi.

Itu berarti ini adalah pertemuan pertama bagi Xingchen, dan perkenalan awal suaminya yang ia nikahi 2 bulan lalu tanpa keluarga besarnya merestui. Pernikahan mereka memang tanpa restu siapapun, tapi ini atas dasar cinta dan ia menjadi nekat. Banyak ketegangan yang telah mereka lalui. Banyak juga waktu yang tenang telah mereka isi tanpa pengaruh dari siapapun yang menolak mereka.

Ketika Songlan hendak mengikat dasinya, banyak hal yang menakutkan berputar di kepalanya. Di depan cermin, ia menatap diri seperti bertemu kembali sosok penakut yang telah lama ia kubur. Kepalan tangannya menjadi dingin. Kepalanya berkabut. Ekspresinya menggelap.

Ia tak mau berpisah dari Xingchen bagaimana pun halangan mereka hadapi.

Ia seolah tak mau keluar dari pintu itu, atau membawa Xingchen berkumpul dengan keluarganya. Ia membayangkan lirikan cemooh akan dilemparkan pada mereka. Kekangan di dasinya mengetat. Ketakutan itu benar-benar menyerangnya lagi.

“Zichen?”

Xingchen mendekat pada sang suami yang begitu kaku di depan cermin. Rengkuhan dari Xingchen yang membuat Songlan tersentak. Pikiran buruknya buyar seketika.

“Ada yang kau pikirkan?”

Songlan ragu untuk mengungkapkannya. Seorang kepala rumah tangga yang begitu terpuruk itu bukanlah sosok suami ideal bagi siapapun.

Xingchen tahu bahwa Songlan tidak percaya diri. Dengan sedikit sentuhan di kedua pipi Songlan, ia berkata dengan lembut. “Aku benar-benar tidak sabar bertemu keluargamu.” Ia meyakinkan suaminya bahwa Xingchen terlalu senang ketika Songlan mau memperkenalkannya pada keluarganya.

Kata-kata yang Xingchen lontarkan menjadi sebuah tiupan angin sepoi di musim semi. Kehangatan itu sedikit demi sedikit membuat Songlan bisa luluh dari keadaan yang begitu tegang untuknya.

“Aku hanya khawatir bila mereka tetap bisa menerima kita.” Songlan bilang kalau ia tidak mau Xingchen direndahkan, dan dikucilkan. Ia mau istrinya itu ikut diajak berbaur dan menjadi bagian dari keluarganya.

Xingchen terharu atas perhatian suaminya yang tidak berujung. Dengan sayang, ia mencium kening Songlan dan ia katakan, “Apa itu berarti aku harus pakai gaun biar bisa berbaur dengan para istri di keluargamu?”

Songlan mengerut bibir, dan dia melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. “Aku lebih suka kau berjas sama denganku. Bukankah pakaian yang sepadan, berarti kita pasangan paling serasi disana?”

Xingchen membetulkan dasi suaminya. “Berarti kau memiliki banyak suami di pesta nanti. Mereka semua pakai jas.”

Songlan pun tertawa. Mereka akhirnya berciuman singkat pada sore itu.

**

Pesta terselenggara dengan meriah. Para tamu datang dengan pernak-pernik mereka yang begitu menarik mata. Muka ramah mereka menebar banyak senyum pada setiap orang yang dilewati mereka. Berkenalan, minum-minum, tertawa lega.

Hanya Songlan yang pada saat itu masih cukup tegang menjelang ia memasuki ruangan pesta yang cukup ramai. Perjumpaan tanpa kabar selama 2 bulan pada keluarga besar, tetangga lama, bahkan teman sekolah itu menjadi sebuah PR besar untuknya. Ia tak ingat wajah-wajah baru mereka ini. Bisakah dia memakai topeng agar ia tidak perlu tegur sapa?  

Xingchen terus mengecek ekspresi Songlan yang begitu dingin seperti disiram air es. Dalam hatinya yang polos, ia begitu suka melihat betapa lucunya Songlan saat resah. Ia pun dengan  berani menggelayutkan tangan pada Songlan hingga pria itu hampir terjengkang.

“Xing—xingchen?”

Xingchen hanya merekah senyum. Cukup dengan senyuman itu menjadi sumber percaya diri Songlan. Bila suaminya tak meragukan kehadirannya, maka cukuplah Songlan meyakinkan diri bahwa ia juga harus bisa seberani Xingchen. Tangan bergelayut itu ia pegang kuat dalam rengkuhannya. Pipinya sedikit memerah malu ketika beberapa orang mulai melirik mereka.

Semua pasangan, berpakaian formal. Tua-muda, dengan sandingan masing-masing. Serasi dengan kemilau perhiasan dan mencolok di tengah podium yang luas. Benar-benar keluarga Song tiada dua. Mereka benar-benar hidup dalam gemerlap kekayaan hingga membuat pesta besar seperti ini.

Songlan memang tidak sepadan, tapi bagaimana pun ia masih memiliki darah dari pemilik perusahaan terkemuka Song. Maka itulah semua mata memandang kemunculan Songlan yang merangkul suaminya. Salah satu penerus Perusahaan S yang begitu saja pergi.   

Xingchen tersenyum hangat. Meskipun ia bukanlah perempuan, tapi ia sama cantik dan anggunnya dengan para istri di lantai dansa. Beberapa wanita berbisik karena terpesona dengan 2 pria tampan bersanding, dan yang lain merasa bingung.

Kemudian keadaan menjadi lebih runyam ketika seorang wanita berjalan ke tengah ruangan sambil melipat tangan dan tatapan yang begitu tajam.

Disanalah sang Ibu menanti, dan Songlan langsung merasa kerongkongannya menjadi kering.

Ibunya menghampiri, serta mengamati keduanya satu ama lain. Para tamu tidak berkomentar, menahan diri untuk menghormati momen pertemuan langka antara anak dan ibu ini. Xingchen hendak memberikan salam, dan dibalas dengan sedikit canggung oleh Nyonya besar.

“Kalian akhirnya datang,” ucapnya dan Songlan hanya mengangguk pelan. Ia begitu penurut di hadapan wanita yang telah bersih tegang padanya 2 bulan lalu.  

Xingchen awalnya berniat hanya ingin diam. Namun ia iba pada keadaan Songlan yang tampak terpojoki. Keadaan tidak akan pulih apabila dia ikut diam. Maka ia sebaiknya mencairkan sedikit suasana.

“Aku minta maaf telah ikut datang. Tapi Songlan ingin ditemani….” Sebaliknya, ekspresi bersemangat Jiyang menjadi ikut mengeras. Ibu tampaknya telah berhasil menindas mereka menjadi kerupuk gepeng melalui ekspresi kejamnya. Seorang Nyonya besar yang mengelola perusahaan S selepas suami meninggal, bukan perkara yang mudah dan mulus. Ia pasti sudah cukup pusing dengan keadaan kantor, lalu perihal puteranya yang melarikan diri untuk kawin dengan lelaki lain.

Meskipun begitu, sebuah kelembutan menelangsa kepada hati keibuannya beberapa saat kemudian. Tatapan tanpa kehangatan Ibu meluruh sedikit demi sedikit. Sebuah kalimat dengan nada yang lunak membuat para tamu mengurut dada.

“Aku memang sengaja mengundang kalian berdua.”

Xingchen dan Songlan menampakkan ekspresi bingung mereka. Satu kalimat sederhana itu tidak cukup membuat keduanya langsung merespon. Ibu sudah meninggalkan keduanya di tengah lantai dansa pada ekspresi seperi siswa di ujian tengah semester.

Sang Ibu naik ke atas panggung, dan membuat perhatian yang lain sekali lagi jatuh kepadanya.

“Perhatian, saya ingin mengumumkan sesuatu.”

Keheningan telah mendominasi. Tidak ada yang mau berbicara, bahkan mengeluarkan suara kunyahan.

“Saya turut berbahagia dengan kehadiran para undangan. Tak terkecuali seseorang yang selama ini dinantikan untuk kutemui,” senyum kuat namun tetap ramah itu tersungging pada wanita bersetelan serba merah itu. Lampu-lampu panggung menyorotinya, menjadi pujaan malam. “Aku ingin berbagi kebahagiaan ini. Namun tidak ada yang membahgiakan kecuali melihat puteraku juga ikut bahagia.”

Songlan mulai merasakan getaran tak enak di dadanya. Xingchen mulai mengetatkan pegangan di tangannya.

Ibu memberikan senyuman, “Meskipun pada awalnya kami sangat bingung, dan sedih. Namun 2 bulan ini ia melewati hari-hari yang berharga bersama seseorang yang ia cintai. Aku tak ingin kebahagiaan itu hanya dibagi untuk mereka berdua saja.”

Ia menekan ucapannya, “Jadi aku ingin kalian juga ikut berbagi kebahagiaan itu bersama kami, dan kami sangat menerimanya. Puteraku, dan suaminya… Song Xingchen.”

Songlan terpaku. Xingchen mendekap bibir. Cahaya lampu gerak dan tatapan mengarah padanya. Ini seperti sebuah pesta kejutan ketika banyak tepuk tangan mengarah pada mereka yang masih membeku di tempat.

Sumringah licik dari ibunya di kejauhan, mengisyaratkan puteranya pada sebuah momen yang secara jahil mereka bicarakan di masa lalu.

Songlan pun mempergunakan kesempatan ini. Ia berpose seperti akan melamar (lagi) Xingchen. Kali ini dengan banyak saksi. Suara lagu menjadi lembut seperti lagu di pernikahan. Tak ada cincin di antara mereka, karena sudah lama tersematkan. Namun cukup dengan berlutut seperti inilah yang dinanti-nanti para penonton.

“Apa yang kau lakukan?” Xingchen tak percaya pada tindakan Songlan. Saat ini setiap mata tidak habis memandang mereka dengan harap.

Tangan halus suaminya, Songlan bawa pada genggamannya. Ia cium cincin pernikahan mereka yang berkemilauan di bawah cahaya lampu. “Maukah kau menemaniku seumur hidupku dan hidupmu?”

Xingchen takjub setengah mati dan menangis terharu. Air matanya berurai di pipinya yang bersemburat hangat. Ia tergagu menjawab “Tentu saja,” dengan lirihan yang tidak bisa ia kuasai. Xingchen melompat ke pelukan suaminya, dan mereka saling berciuman.

Kemudian lagu berganti menjadi lagu dansa. Semua orang meminta pasangan ini untuk menari..

Dengan malu-malu Songlan menawarkan diri, dan Xingchen tertawa sambil mengatakan “ya” dengan antusias..

Tarian pasangan yang pelan dan romantis menjadi hiburan yang begitu menyentuh hati. Para tamu hampir menitik air mata karena keindahan momen ini, beberapa dari mereka ikut merayakan dengan tarian serupa.

“Aku seharusnya benar-benar pakai gaun jika kita akan berdansa seperti ini,” Xingchen berbisik di tengah dansa. Ia mendekatkan kepalanya di pundak bidang Songlan. “Semua pasangan terlihat serasi dengan gaun indah mereka dan jas pasangannya.”

“Biarkan saja. 2 orang memakai jas menari bersama adalah pemandangan yang langka. Kita harus tunjukkan pada mereka keajaiban di pesta ini…”

Ketika pinggang Xingchen ditarik semakin dekat, bibir Songlan menggumamkan rayuan. “Tapi kalau kau berminat, kau bisa pakai gaun untuk ‘malam pertama’ kita nanti.”

-**-

Notes:

fluffy banget ga sih? //usap peluh

aku benar-benar punya mood bagus untuk aplod songxiao setelah momen mereka di Nanjing <3
btw, say goodbye to CQL, but they are always remain in my heart

Series this work belongs to: