Work Text:
Samatoki pernah mendengar tentang penyakit hanahaki sebelumnya. Cukup sering muncul di berita-berita, seorang tokoh besar atau artis ternama mempermalukan diri mereka sendiri dengan batuk-batuk mahkota bunga di tengah siaran langsung. Bagi Samatoki, membiarkan diri mereka dipilih oleh penyakit itu saja sudah memalukan, apalagi membiarkan hal itu diketahui oleh publik—itu lebih memalukan lagi.
Menyedihkan. Bodoh, bahkan.
Makanya itu, merupakan sebuah penghinaan besar-besaran selama ia berusaha meresapi apa yang terjadi sekarang: ia barusan batuk. Memuntahkan mahkota bunga.
Mahkota bunga itu tersembur. Melayang-layang turun, dengan perlahan, dengan dilambat-lambatkan, begitu menyebalkan, seolah mengejeknya! Waktu seolah berhenti tiba-tiba, kecuali mahkota bunga terkutuk itu. Pandangan Samatoki mengikuti, hingga mahkota itu menjejak rerumputan dan berhenti.
Itu mahkota bunga yang tersembur saat ia batuk. Tadi.
Waktu berjalan. Samatoki mengangkat kepala dan melihat Ichiro sama mematungnya.
“Samatoki?”
Samatoki belum pernah merasa semenyedihkan ini, ketika mendapati dirinya kalah cepat angkat suara.
Kerap kali didengarkannya cerita-cerita mengenai orang-orang yang terkena hanahaki. Ada yang menyembunyikan informasi itu dari orang yang disayang selama bertahun-tahun hingga kemudian mati sendiri. Ada yang melakukan operasi diam-diam dan perlu menjalin hubungan kekerabatan dari awal. Ada yang dipaksa oleh keadaan untuk mengungkapkannya. Ada yang inisiatif mengaku tanpa diminta siapa-siapa.
Namun, yang jelas, apa pun itu cerita yang Samatoki dengar, tidak ada yang seperti dirinya: mengetahuinya berbarengan dengan orang yang dimaksud. Barusan, ia dan Ichiro sedang berbincang (dengan catatan apabila saling menyeru dan merendahkan satu sama lain disebut sebagai sebuah perbincangan), dan saat ia hendak memikirkan kata-kata balasan selama Ichiro meneriakinya, ia merasa lehernya gatal dan ia perlu terbatuk.
Maka, ia batuk.
Sederhana. Sesederhana itu. Kalau mahkota bunga tidak ikut tersembur juga.
Kata-kata balasan yang telah ia susun di kepalanya menguap, begitu pula dengan rentetan kata-kata yang tadi Ichiro lontarkan. Keduanya diam. Membeku. Semuanya terisap oleh langit sore sialan, membuat mereka terpaksa memusatkan perhatian pada mahkota bunga—yang takkalah sialan—yang lolos keluar; mahkota berwarna putih, kontras dengan rerumputan yang gelap karena minim penerangan.
Keduanya bertatapan. Ada interaksi tanpa suara yang terjalin. Kedua mata mereka bicara, mempertimbangkan kalimat apa untuk dilontarkan, mana kalimat yang tidak lebih bodoh dari kalimat yang lainnya.
Itu apa? Adalah kalimat tanya yang paling bodoh. Itu takmungkin dikatakan. Siapa pun tahu kalau itu mahkota bunga. Tersembur, lalu melayang turun. Jelas mahkota bunga. Mengatakan bahwa itu adalah serpihan keripik tadi siang adalah kebohongan konyol tak berdasar. Begitu jelas, hingga Samatoki bahkan curiga kalau orang buta juga bisa tahu kalau batuknya tadi memuntahkan mahkota bunga.
Apakah mahkota bunga itu muncul dari batukmu? Jelas iya. Tidak mungkin hal sebodoh itu ditanyakan. Siapa pun tahu, lebih-lebih kamu yang melihatnya persis di depanku, ketika sedang meneriakiku.
Siapa orang yang dimaksud itu?
Samatoki tidak tahu apakah itu pertanyaan bodoh atau bukan. Mungkin iya. Mungkin tidak.
Pertanyaan itu akhirnya muncul ke permukaan, disuarakan Ichiro dengan parau. “Apakah itu aku?”
Oh. Samatoki tersentak sedikit. Itu berbeda dengan apa yang ia kira.
Itu bukan pertanyaan bodoh. Malah, kalau Samatoki boleh memberi pendapat lewat kacamata objektif, itu adalah pertanyaan yang pintar. Mengherankan juga, kata sifat itu harus ia lekatkan pada seseorang yang paling merepotkannya sepanjang masa.
Samatoki begitu marah dengan dunia dan seisinya kini. Setelah sebelumnya ia sedang dalam keadaan marah pula karena mereka berdua sedang saling berteriak dan mengatai apa pun yang bisa dikatai mengenai masing-masing, kini ia dibuat marah oleh sesuatu yang sama sekali lain. Dan karena di hadapannya hanya ada Ichiro, maka bodoh amat, meskipun ternyata itu adalah orang yang (iiiiiyuuuh—Samatoki akan butuh waktu untuk membiasakan diri dengan kenyataan ini) dia—ternyata (ternyata!)—sayangi (iiiyuh), Samatoki tetap akan menjadikannya tempat pelampiasan kemarahan.
Kedua mata Ichiro membelalak lebar, kentara bahwa ia tidak percaya. Ha-ha, lucu, Samatoki sendiri juga tidak memercayainya. Ia menarik napas dan mengembuskannya dengan kasar, masih tidak mau mengalihkan pandangan dari Ichiro. Berpaling berarti kalah, dan mana mau ia melakukannya, terutama setelah semua ini.
“Ya, itu kamu.”
Sebenarnya, sebenarnya, Samatoki ingin berteriak.
Bodoh banget, anjir, setan, bangsat, sialan, bajingan, dasar babi, dasar tahi—
Apabila Samatoki sedang sendiri, sudah bisa dipastikan bahwa ia akan menyuarakan umpatan-umpatan kemarahan itu keras-keras, berkeliling untuk menendangi semua tempat sampah yang tersebar di seluruh taman, dan pulang sambil takhenti-hentinya mengutuki semesta kurang ajar yang langsung menempatkannya pada keadaan tanpa pilihan.
Masalahnya adalah, ia tidak sendiri. Itu menyebalkan.
Dan seorang lain itu—yang keberadaannya membuat Samatoki menjadi tidak sendiri—adalah orang yang menjadi biang keladi ini semua.
Itu lebih menyebalkan.
Ia sempat menangkap kilatan di tepi kedua mata Ichiro sebelum pemuda itu menyekanya cepat-cepat. “Tapi, tapi, aku tidak bisa membalas perasaanmu.” Kalimat itu diakhiri dengan kepala tertunduk dan suara isakan tertahan, dan, sekalipun orang bodoh tahu bahwa suasana itu berarti kesedihan tanpa perlu pembacaan susah-payah, Samatoki takpernah merasa begini diperolok seumur hidupnya.
Kurang ajar benar. Penempatan keadaan macam apa ini! Samatoki tidak terima dikasihani semesta, dan lebih-lebih, ia tidak terima dikasihani seseorang yang berdiri di hadapannya.
Samatoki mengerjap, dan—entahlah apakah hari menjadi makin temaram ataukah benda-benda di sekitarnya menggelap mendadak—detik berganti dan warna-warna dunia taklagi dapat terserap matanya. Bangku cokelat yang berada takjauh di dekat mereka menua warnanya; dan lampu-lampu kuning menghiasi jalan setapak di taman menjadi lebih redup. Akan lebih menyenangkan seandainya ia tidak tahu kenapa, hanya saja Samatoki mengetahuinya: otaknya mencoba untuk mematikan perasaan. Langkah pertamanya diawali dengan menghentikan pemahaman bahwa dunia itu penuh warna.
Apakah bisa, yang namanya mematikan perasaan, memaksakan penyakitnya sembuh tanpa berobat atau lain hal? Kalau yang ini, Samatoki tidak tahu. Ia tahu bahwa kesembuhan hanya dapat menimpa penderita hanahaki dengan dua hal: operasi, atau ditunggu saja hingga lama-lama penderitanya mati.
Tapi bagaimana kalau ia hendak mencoba mematikannya, sendiri?
Mungkin, Samatoki akan mengetahui jawabannya suatu hari nanti. (Sebagaimana dengan dunia yang tentu ikut bertanya-tanya kini.) Maka ia menegakkan tubuh, menahan diri untuk tidak berjalan beberapa langkah lebih dekat dan mengusap kepala orang bodoh menyusahkan yang ternyata (tekankan kata ternyata!) dia sayangi itu.
Ia berdeham.
Ichiro mengangkat kepala, bereaksi atas dehaman itu. Bekas tangisan di wajahnya makin jelas. Aneh melihatnya, terutama ketika beberapa menit yang lalu ekspresi di wajah bocah itu jelas-jelas adalah marah dan kekecewaan. “Maafkan aku,” katanya, seolah-olah penyakit sialan ini disebabkan olehnya—oke, secara teknis, itu memang benar sih—“aku … eh, aku nggak bisa melakukannya. Aku nggak bisa membalas perasaanmu.”
“Itu bagus. Siapa yang minta juga?” Ia menghunuskan tatapan kebencian lurus-lurus, lekat-lekat, pada lawan bicara. Itu bukanlah sorot mata yang ingin ia lontarkan—Samatoki mengakuinya—hanya saja itu adalah sorot mata yang dirinya ingin Ichiro terima. Sekarang, sore ini, ia memang belum dapat sepenuhnya membenci bocah di hadapannya itu, tetapi apabila terus-menerus memaksa menipu diri sendiri, pasti, pasti, suatu saat nanti kebencian itu akan menetap dan menolak pergi.
Samatoki ingin hari itu cepat-cepat datang. Dikuatkannya diri, dan ia membalikkan badan. “Toh, kamu memang nggak perlu melakukannya.” Samatoki membiarkan punggungnya yang berbicara.
Dunianya hitam-putih saat Samatoki menyusuri jalan menuju tempatnya pulang.
Barangkali itu karena hari telah malam.
