Actions

Work Header

Oppa, Saranghae Yeongweonhi

Summary:

Bukankah kami hanya teman masa kecil? Lalu, mengapa perasaan ini muncul?/Cinta tak memiliki alasan…/Oppa, saranghae yeongweonhi!/Genderswitch. YeWook fic. Abal? RnR? Saengil chukkae, Wookie oppa! -mysticahime

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Disclaimer: Never owns Super Junior!

Warning: Genderswitch! Cerita semau author. Ada pergantian P.O.V. Mungkin tipe cerita pasaran. Mellow? Hahaha. Alur cepat. Bahasa Korea masih rada ngaco, mohon koreksi u_u JANGAN SALAHIN AUTHOR ATAS PLOTNYA! *ngacir* XDD Oh ya, no bashing! :)

Catatan: Data diambil dari google. Rambut Yesung oppa versi before: lihat MV Suju H – Pajama Party. Rambut Yesung oppa versi after: lihat EHB episode 11. *digeplak*

.

.

.

.

Oppa, Saranghae
Yeongweonhi

.

.

Happy birthday, Kim Ryeowook oppa! XD

.

.

.

mysticahime™

© 2011

.

.

.

Wookie P.O.V

Masa SMA adalah masa sekolah yang paling indah—apakah kalian percaya itu?

Jika kalian bertanya padaku, tentu aku akan menjawab: TENTU SAJAAAAA!

Masa SMA-ku yang kini kujalani merupakan saat-saat keemasan dalam garis hidupku. Oke, mungkin kalian menganggapku sedikit berlebihan, tapi memang beginilah adanya.

Namaku Kim Ryeowook, dan saat ini aku duduk di kelas dua SMA; masa-masa kejayaan.

Mungkin kalian akan bertanya-tanya mengapa aku begitu menikmati masa SMA-ku, benar kan? Aku akan memberitahunya: semua karena Kim Yesung.

Bukan, meskipun sama-sama bermarga Kim, Kim Yesung bukanlah kakak atau adikku. Yesung oppa—begitu biasa aku memanggilnya; dia kan lebih tua—adalah kakak kelasku yang juga merupakan teman masa kecilku. Kami akrab karena rumah kami bersebelahan.

Akan kuceritakan rahasia besar—ehem, kecil, kok, kecil—pada kalian: Yesung oppa adalah cinta pertamaku. Tidak ada yang tahu mengenai hal ini. Tidak Umma, tidak Appa, tidak juga teman-temanku. Oke, Yesung oppa sendiri juga tidak pernah mengetahui bahwa aku sudah lama menyukainya. Biarlah perasaan ini hanya aku yang mengetahuinya.

Aku bukan yeoja yang tergolong populer di sekolah. Aku yeoja yang biasa-biasa saja, berusaha mendapatkan nilai yang bagus dalam pelajaran di sekolah, aktif dalam klub memasak, dan... masih awam dalam menghadapi namja.

Meski begitu, Yesung oppa membuat hari-hariku selalu berwarna.

Oppa, jeongmal saranghae...

.

.

.

.

Halaman sekolah—seperti biasa—dipenuhi dengan siswa-siswi yang baru datang. Yup, hari ini masih pagi, dan sekolah baru dimulai setengah jam lagi.

Aku suka datang ke sekolah lebih awal, karena aku bisa bertemu Yesung oppa yang memang selalu datang pagi karena kegiatan klubnya. Yesung oppa memang atlet kebanggaan sekolah dalam cabang atletik.

Jadi, seperti biasanya, aku segera menuju ke lapangan, berusaha menemukan sosok Yesung oppa yang sedang berlari menembus angin. Aku akan mengamatinya, seperti biasa, dan baru akan mengajaknya mengobrol setelah latihan selesai.

Ah, itu dia.

"Oppa!" aku berseru dan melambaikan tangan ketika melihat anggota klub atletik bubar dan mengambil tas masing-masing.

Namja berambut cepak itu mendongak. "Ah, Wookie!"

Senyuman lebar muncul di wajah Yesung oppa, dan ia berjalan mendekatiku. Aku balas tersenyum.

"Kau capek, Oppa?" tanyaku. Kusodorkan sebotol minuman isotonik dingin yang tadi kubeli di minimarket dalam perjalanan menuju sekolah. "Mianhaeyo, tadi aku terlambat bangun, jadi tidak melihat latihan Oppa secara keseluruhan."

Namja itu tertawa, dan aku sangat menyukai tawanya. "Gwaenchana, Wookie. Sama sekali bukan masalah besar. Semalam kan kau belajar hingga larut malam—"

Kata-kata Yesung oppa terputus ketika terdengar suara tawa yeoja. Kami berdua menoleh ke satu arah: ke tempat sekumpulan yeoja cantik yang tergabung dalam klub cheerleader berada.

Wajah Yesung oppa langsung berubah menjadi cerah. Ia berpaling kepadaku. "Kau ke kelasmu saja, Wookie. Aku akan menyapa Tiffany."

Dan tanpa menunggu jawabanku, ia langsung mendekati yeoja-yeoja itu, menyapa salah satunya yang berambut sebahu.

Senyumku langsung hilang.

Tiffany. Tiffany Hwang. Yeoja itu adalah orang yang ditaksir oleh Yesung oppa selama beberapa bulan ini. Kebetulan sekali, klub cheerleader dan klub atletik sering menggunakan lapangan yang sama bila berlatih, membuat Yesung oppa bisa bertemu yeoja itu lebih sering.

Apa yang bisa kulakukan?

Seperti yang kubilang, cintaku bertepuk sebelah tangan.

Dengan gontai, aku berjalan ke kelas, berusaha tidak melihat mereka mengobrol.

.

.

.

.

"Wookie!"

Aku mendongak dari makanan yang sedang kutata di dalam kotak bekal. Sebenarnya klub memasak sudah bubar dari setengah jam yang lalu, namun aku memutuskan untuk menata masakanku dalam kotak bekal. Makanan yang tampilannya menarik pasti akan terlihat lebih enak. Rencananya, makanan ini akan kumakan untuk makan malam setelah les.

Yesung oppa masuk ke dalam ruangan klub dengan penampilan 'belajar'nya yang biasa. Kacamata putih bertengger di atas hidungnya, membingkai kedua matanya yang sipit.

"Nae, Oppa?" tanyaku, mencoba tersenyum. Ia tidak diikuti oleh Tiffany. Baguslah.

"Kau mau pulang sekarang?" tanyanya, sebelah tangannya menggenggam tali tas yang tersampir di atas bahu.

"Setelah selesai membereskan ini." Kutunjuk peralatan memasak yang tadi kugunakan dan belum kucuci. "Dan sebenarnya hari ini aku ada les..."

"Oh." Yesung oppa terdiam. "Baiklah, aku akan membantumu membereskan ini."

Namja itu meletakkan tasnya di atas meja yang bersih, kemudian ia mendekatiku, mengangkat tumpukan peralatan masak yang tampak kotor. "Biar aku yang mencucinya, Wookie."

"Gomawo, Oppa," jawabku tulus. "Oppa tidak ada latihan klub lagi?"

"Tidak." Yesung oppa menyalakan keran air dan mulai membasahi teflon.

Kami terdiam cukup lama. Yesung oppa sibuk dengan cuciannya, aku sibuk menata makanan dan menenangkan jantungku yang berdebar-debar dengan heboh. Jarang sekali aku mendapat kesempatan untuk berduaan saja dengan Yesung oppa, dan semua ini membuatku gugup.

"Wookie..." Yesung oppa seolah akan mengatakan sesuatu, namun terlihat ragu-ragu. Aku meliriknya.

"Ada apa, Oppa?" tanyaku bingung.

"Ani, hanya saja..." Tadi katanya 'Ani', tapi masih ada kelanjutannya?

"Katakan saja, Oppa." Aku menempatkan irisan tomat tepat di tengah-tengah kotak bekal. Mmm. Tinggal irisan telur.

"Aku..." Yesung oppa terlihat salah tingkah. "Apa menurutmu aku terlihat cocok dengan Tiffany?"

Tiffany lagi.

Bahkan saat berduaan denganku (yah, hanya pikiranku saja), Yesung oppa tetap membicarakan Tiffany.

"Kau kan teman sekelasnya, Wookie," kata Yesung oppa sambil menyabuni alat-alat memasakku, "bisakah kau menanyakan bagaimana tipe namja yang disukainya?"

"..." Apa yang bisa kukatakan? Apa?

"Jebal..."

Ya, aku paling tidak tahan bila ada yang memohon kepadaku. Bagaimana ini?

Aku terdiam, berpura-pura sibuk menata potongan telur di dalam kotak bekal. Ah, sial. Setelah ini, makananku sudah selesai ditata. Apa lagi yang harus kulakukan untuk tetap berpura-pura sibuk?

"Wookie...?" Suara Yesung oppa terdengar lagi.

Hhh...

"Aku tidak terlalu dekat dengannya, Oppa." Aku mencoba tersenyum dan menatapnya. "Tapi aku akan mengusahakan untuk bertanya pada Tiffany-ssi."

Tanpa memedulikan keran air yang menyala dan kedua tangannya yang masih ternoda busa sabun, Yesung oppa langsung melompat dan memelukku.

"Gomawo, Wookie!" serunya senang. "Kau memang bisa diandalkan!"

Aku balas tersenyum kecil. "Cheonmaneyo, Oppa. Tapi... kau membuat bajuku basah..."

Yesung oppa tersadar, kemudian namja itu kembali mencuci. "Mianhae, Wookie," katanya. "Aku sama sekali tidak sadar, hahaha..."

Mengesampingkan perasaan sakit yang menjalari diriku, apa yang harus kulakukan? Kalau boleh jujur, aku ingin menangis sekeras-kerasnya, walau ini bukan kali pertama Yesung oppa membuatku sedih. Sejak masih SD, Yesung oppa selalu naksir yeoja cantik di sekolah kami—tetapi ia tidak pernah naksir aku.

Alih-alih berfrustasi ria, aku menjawab, "Gwaenchana, Oppa. Apa kau mau mencicipi masakanku hari ini?"

Namja itu menoleh ke arahku. "Jinjja? Tentu saja aku mau!"

.

.

.

.

Pada kenyataannya, aku tidak baik-baik saja.

Memangnya siapa yang bisa berada dalam keadaan baik-baik saja bila baru saja menangis selama dua jam? Mataku bengkak dan seolah akan terlepas dari rongga mataku. Rasanya berat.

Mungkin, inilah akibat dari cinta yang tak terbalas. Ralat, bukan tak terbalas, karena aku memang tidak pernah menyatakannya secara langsung pada Yesung oppa. Kurasa, istilah 'cinta tak tersampaikan' lebih menggambarkan keadaanku saat ini.

Tadi aku sudah bertanya pada Tiffany Hwang—kami satu tempat les, tapi tentu saja Yesung oppa tidak tahu kenyataan ini. Aku juga tidak pernah cerita. Kalau Yesung oppa tahu aku satu tempat les dengan Tiffany, namja itu akan berusaha mengantarku ke tempat les untuk mengobrol dengan yeoja itu. Dan aku tidak mau terus-menerus menanggung rasa sakit.

Memang aku egois.

Aku memejamkan mataku, berusaha untuk tidur. Mungkin pagi nanti, aku akan merasa jauh lebih baik.

Semoga.

.

.

.

.

To: Yesung Oppa

Tipe cowok yang Tiffany suka itu kayak Robert Pattinson. :)

.

.

.

.

Aku ralat kata-kataku. Masa SMA bukan lagi masa keemasan. Tidak bila Yesung oppa kini jelas-jelas mendekati yeoja lain. Belum pernah Oppa terlihat serius seperti ini. Yeoja-yeoja yang dulu diincar Yesung oppa tidak pernah sampai membuatnya ingin tahu tipe namja yang disukai yeoja itu. Kalau begitu, Yesung oppa benar-benar mencintai Tiffany.

Yang berarti lagi-lagi cintaku tak akan tersampaikan.

Aku mengerang frustasi dan memutuskan untuk keluar kamar, membantu Umma menyiapkan sarapan, secepat kilat membenahi diri, kemudian pergi ke sekolah dan mengurung diri di ruang klub. Memasak akan mengalihkan pikiranku dari Yesung oppa.

"Annyeong, Umma." Kusapa Umma yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.

"Annyeong, Wookie-ya," balas Umma sambil tersenyum. "Pagi sekali kau bangun hari ini."

"Aku tidak bisa tidur, Umma," jawabku jujur. "Lagipula, hari ini aku ada piket, jadi aku harus berangkat lebih awal."

Bohong. Memang hari ini jatahku piket, tapi sebenarnya aku tidak perlu pergi terlalu pagi. Ini masih jam enam, sekolahku dimulai jam setengah delapan.

Kubantu Umma memotong-motong sayuran, menjerang air, kemudian menata meja makan. Secepatnya. Rasanya tidak lucu bila anak perempuan tidak membantu umma-nya sendiri menyiapkan sarapan.

Sarapan hanya kunikmati berdua dengan Umma. Appa memang susah bangun pagi, jadi biasanya ia akan makan setelah aku pergi ke sekolah. Entah cara apa yang digunakan Umma untuk membangunkan Appa.

Aku turun dari tangga dengan mengenakan seragam lengkap dan mencangklong tas di pundak.

"Pergi dulu, ya, Umma." Kucium tangan Umma dan bergegas keluar pintu. Yak, pokoknya aku akan mengurung diri di ruang masak sampai bel tanda sekolah dimulai berbunyi, jadi aku tidak perlu melihat Yesung oppa berlatih di lapangan. Juga tidak perlu melihat Yesung oppa dan Tiffany mengobrol—

"Annyeong, Wookie."

Tanganku yang hendak membuka pagar rumah berhenti di udara.

Yesung oppa berdiri di depan pagar rumah kami. Menatapku. Tersenyum lebar.

"Oppa?" Kunaikkan sebelah alisku, tidak percaya. Ada yang berbeda dari Yesung oppa pagi ini. Mmm... apa ya? Eh— "Ada apa dengan rambutmu?"

Yesung oppa menarik sejumput rambutnya. "Bagus, kan? Kemarin aku pergi ke salon dan memaksa stylist-nya meng-extension rambutku sedikit. Tadinya aku mau minta dikeriting seperti Robert Pattinson, tapi katanya, aku tidak terlalu cocok, jadi—" ia tersenyum lebar, "—seperti ini. Bagaimana?"

"Bagus," kataku. Walau beda jauh dengan Robert Pattinson, tapi... lumayan. Eh, tunggu. Robert Pattinson?

"Apa menurutmu Tiffany akan menyukainya?"

Deg.

"Jadi Oppa sengaja membuat rambut Oppa seperti itu karena... Tiffany?" tanyaku ragu.

"Tentu saja!" Namja itu tampak sumringah."Gomawo, Wookie, karena sudah memberitahuku tipe namja yang disukai Tiffany. Aku akan membuat Tiffany menyukaiku. Nah, ayo kita berangkat ke sekolah."

Dan ia menarik tanganku.

Aku tidak tahu Yesung oppa berceloteh apa saja selama perjalanan kami menuju sekolah. Aku terlalu sibuk menahan air mataku yang hampir menetes.

.

.

.

.

Lagi-lagi, aku tidak bisa tidur.

Entah berapa lama aku hanya mengganti-ganti posisiku di atas ranjang—kedua mataku sama sekali tidak mau terpejam. Rasanya di sini sakit sekali, jantungku seolah ingin menembus rongga dadaku. Berdenyut-denyut dan perih.

Aku tidak bisa menyalahkan siapa pun. Bukan salah Tiffany karena Yesung oppa menyukainya. Bukan salah Yesung oppa karena menyukai Tiffany. Mungkin, ini salahku—aku—karena tidak pernah berhasil menyampaikan perasaanku.

—karena aku takut ditolak.

Ya, aku, Kim Ryeowook, memang pemalu. Aku tidak pernah berani menunjukkan bagaimana perasaanku yang sesungguhnya. Aku hanya mudah menangis, memendam semuanya sendiri.

Tapi, sampai kapan aku harus menyimpan semua perasaanku pada Yesung oppa?

Secercah ide masuk ke dalam otakku. Aku segera bangun dari tempat tidur dan duduk di meja belajar, mengambil selembar kertas dan pena. Ya, aku dapat menuliskannya. Bila aku terlalu malu sehingga tidak bisa bicara, penaku tetap bisa berbicara.

Dan aku pun mulai menulis...

.

.

.

.

Karena gagal menghindari Yesung oppa di pagi hari, aku memutuskan untuk pergi sekolah mepet dengan waktu bel berbunyi. Jadi aku bisa langsung ke kelas tanpa ditanyai macam-macam. Seperti itulah.

Tapi, ternyata Yesung oppa menunggu di gerbang sekolah. Ketika aku melewatinya begitu saja, ia langsung menyambar tanganku.

"Heyo," katanya.

Aku hanya menatapnya. Wajah namja itu kelihatan sangat senang—tapi entah mengapa tidak terlalu senang juga. Seolah ada dua emosi berimpitan dan berusaha menyeruak keluar pada saat yang bersamaan.

"Mengapa tadi pagi kau tidak melihatku latihan?" tanyanya, menarik tanganku dan mulai berjalan. "Ayo, kita pulang bersama."

Aku tak bisa menolak. "Tadi pagi aku kesiangan..."

"Oh." Yesung oppa menggaruk-garuk kepalanya. "Oh ya, rasanya agak... aneh juga, ya, berambut gondrong seperti ini."

Ternyata. Itu yang membuat Yesung oppa terlihat tidak-terlalu-senang-tapi-sangat-senang. Memang sih, menurutku, ia terlihat lebih bagus dengan—

"Oppa, di mana kacamatamu?" aku menyadari sesuatu yang kurang di wajah Yesung oppa. Benar, ia tidak memakai kacamata putihnya seperti biasa. Walau ia tidak pernah memakai kacamata ketika berlari, biasanya ia akan memakai kacamatanya bila pulang sekolah.

"Aku memakai lensa kontak," kata Yesung oppa bangga. "Aku jadi terlihat lebih keren, kan?"

"Kurasa begitu." Aku tersenyum tipis.

"Rambut gondrong, tanpa kacamata—" Yesung oppa sedikit berpose—tetap melangkah. "Aku yakin Tiffany pasti suka padaku."

Telingaku mulai terasa panas.

"Walaupun memakai lensa kontak itu sedikit merepotkan, tapi selama Tiffany berkemungkinan menyukaiku—"

Oke, aku sudah tidak tahan lagi.

Kakiku berhenti melangkah, membuat Yesung oppa ikut berhenti. Namja itu menatapku dengan heran. "Waeyo, Wookie?"

"Oppa..." Aku harus bicara. Aku harus bisa mengatakannya! "Apa menurutmu, kau tidak terlalu memaksakan diri?"

"Eh?" Sebelah alis namja itu terangkat, hanya saja tidak terlalu kentara karena tertutup poni barunya yang agak panjang. "Apa maksudmu, Wookie?"

Kelopak mataku mulai bergetar. "Apa kau... tidak memaksakan diri menjadi sosok yang disukai Tiffany-ssi? Kulihat, Oppa tidak terlalu bahagia dengan ini semua..."

"Wookie..." Wajah Yesung oppa berubah. Senyumnya menghilang.

"Sampai kapan Oppa akan berpura-pura menjadi orang lain?" Bibirku juga bergetar. Jangan sampai aku menangis sekarang! "Mengapa Oppa tidak sadar bahwa ada yeoja lain yang menyukai Oppa apa adanya?"

"Apa maksud—"

Sebelum Yesung oppa menyelesaikan kata-katanya, aku segera memeluk lehernya. Entah apa yang mendorongku untuk menyentuh bibirnya dengan bibirku. Dan aku berlari pergi meninggalkannya.

.

.

.

.

Aku keluar dari kamar mandi dengan mata sembap. Selama mandi tadi, aku terus menangis. Kuharap Umma dan Appa tidak akan memerhatikannya saat makan malam.

Umma dan Appa sudah duduk di meja makan, menungguku. Wajah mereka yang biasanya menyambutku penuh senyum kini tampak datar, membuatku bertanya-tanya apa yang ada di pikiran mereka saat ini.

Umma menyiapkan makananku dalam diam.

"Wookie," tiba-tiba Appa membuka mulut, tepat sebelum aku menyuapkan makananku. "Appa dan Umma mau berbicara denganmu."

"Nae, Appa," jawabku.

Umma menatap Appa dengan tatapan tidak enak. "Mungkin semuanya akan terasa berat, Wookie."

Oke, aku mulai merasa tidak nyaman. "Katakan saja, Appa, Umma, jangan membuatku penasaran seperti ini."

Kini Appa dan Umma bertukar pandang, lalu kembali menatapku.

"Sebenarnya, mulai minggu depan, Appa dipindah tugaskan ke Chunanh..."

.

.

.

.

Yesung P.O.V

Aku terdiam menatap punggung Wookie yang semakin menjauh. Yeoja itu berlari secepat yang ia bisa, kemudian menghilang di balik gerbang besar yang menjadi akses utama masuk ke dalam sekolah.

Apa yang ia lakukan tadi? Menciumku?

Aku tidak percaya ini.

Hei, bukankah ia teman masa kecilku? Tetangga? Teman baik? Adik kelas?

Berhenti, Yesung, kuperingatkan diriku sendiri, jangan terus-menerus menyebut hubunganmu dengan Wookie!

Nae, Kim Ryeowook adalah teman masa kecilku, satu tahun lebih muda dariku. Kami sudah bersama-sama semenjak masuk sekolah dasar. Appa-nya Wookie adalah pengusaha yang sering berpindah-pindah tempat usaha. Ketika aku kelas dua SD, keluarga mereka pindah ke sebelah rumahku.

Sebagai teman masa kecil, aku berusaha melindungi Wookie seperti seorang kakak baginya. Wookie memang anak tunggal, sama sepertiku.

Kesimpulannya... aku sama sekali tidak menyangka Wookie akan menciumku.

Yeoja itu memang susah ditebak, terlebih lagi Wookie termasuk pendiam untuk ukuran yeoja. Aku kaget sekali ketika tiba-tiba ia memprotes tindakanku.

—dan menciumku.

Aish, mengapa Wookie bersikap seperti itu? Terlebih lagi kata-katanya itu.

Mengapa Oppa tidak sadar bahwa ada yeoja lain yang menyukai Oppa apa adanya?

Yeoja lain yang menyukaiku apa adanya? Maksudnya... Wookie? Apa ia menyukaiku? Apa sebenarnya selama ini Wookie menyukaiku?

Aish, membingungkan!

.

.

.

.

Malamnya, aku tidak bisa tidur tanpa sebab yang jelas. Bayang-bayang Wookie selalu merasuki pikiranku, dan aku jadi tidak bisa berpikir dengan jernih. Kusentuh bibirku. Masih terasa bekas bibir Wookie tadi sore.

...

...

...

Mengapa aku terus memikirkan Wookie?

Bukannya aku menyukai Tiffany?

Aaarrrggghhh... babo!

.

.

.

.

Wajah yang terpantul di cermin yang berada di hadapanku adalah wajah lelah dengan kedua mata merah. Setelah semalam kurang tidur gara-gara memikirkan Wookie, sekarang mataku sepertinya iritasi karena lensa kontak.

Yep, dari setengah jam yang lalu, aku berusaha memasang lensa kontak dengan baik, namun benda kecil itu terus-menerus lepas dari bola mataku ketika aku mengedip-kedipkan mata.

Aaaarrrggghhh!

Mataku semakin merah dan mulai perih.

Ternyata mencolok-colok mata tidak nyaman. Sebaiknya hari ini aku memakai kacamata lagi saja.

.

.

.

.

Sejak kecil, aku suka berlari. Aku senang berlari ke mana pun aku pergi. Dengan berlari, aku merasa bebas dan lepas. Rasanya tidak ada beban yang menghimpit kedua bahuku. Aku menyukai saat-saat membelah angin yang menerjangku, saat-saat kedua kakiku saling berlomba untuk mendahului satu sama lain.

Aku terdaftar sebagai anggota klub atletik cabang lari semenjak SMP. Wookie-lah yang mendukungku untuk terus berlari. Di saat Umma dan Appa-ku lebih setuju aku mengejar prestasi akademik, Wookie terus mendorongku untuk mengikuti klub atletik.

Seperti cheerleader pribadi saja.

Biasanya, Wookie melihatku berlatih sebelum masuk ke kelas, menunggu selesai berlari, kemudian memberikan sebotol minuman isotonik sambil tersenyum. Dengan adanya kedua hal itu, aku bisa terus semangat untuk memacu kakiku lebih dan lebih cepat lagi.

Tapi, semenjak dua bulan yang lalu, sumber semangatku berubah.

Bukan Wookie, bukan minuman isotonik yang dibawanya.

Tapi Tiffany Hwang, anggota klub cheerleader yang juga berlatih di lapangan yang sama dengan tempat klub atletik berlatih.

Aku menyukai yeoja itu ketika melihatnya beraksi bersama anak-anak cheerleader lainnya. Ia tampak begitu cantik dan lincah. Mengagumkan. Aku suka melihatnya tersenyum. Aku senang berbicara dengannya. Aku ingin membuatnya berpaling padaku.

—hanya saja, sekarang semuanya terasa berbeda.

Aku berdiri dengan perasaan hampa di tepi lapangan bersama anggota klub atletik lainnya, melakukan pemanasan sebelum mulai berlari. Kedua kakiku seolah tak ingin berpacu dengan cepat hari ini. Ada apa denganku?

Lewat ekor mataku, kulihat Tiffany dan teman-temannya sedang berlatih salto. Namun entah mengapa, aku tidak terlalu tertarik untuk melihat aksi mereka hari ini.

Aku menoleh ke belakang—ke bagian pinggir lapangan. Ke satu tempat yang biasanya diisi oleh seorang yeoja.

—aku lebih merindukan teman masa kecilku yang selalu membawakan minuman isotonik setiap harinya.

.

.

.

.

Latihan hari ini gagal total. Aku dimarahi oleh pelatih karena catatan waktuku menurun drastis. Biasanya, aku bisa menempuh jarak 100 meter dalam waktu 11 detik. Hari ini, aku memerlukan waktu hampir 18 detik.

Menyebalkan.

Pikiranku tak bisa teralihkan dari Wookie, aku juga tidak tahu menapa.

Mungkin, aku masih ingat kejadian saat yeoja itu menciumku.

Mungkin, karena lama-kelamaan aku merasa punya rambut gondrong itu... merepotkan. Rasanya tidak bebas. Aku harus menguncir rambutku bila akan berlari.

Aish, mengapa kau ini, Yesung? Mengapa terus memikirkan Wookie? Bukankah kau menyukai Tiffany? Kuacak-acak rambutku sendiri.

"Yesung." Suara Donghae menyadarkanku. Teman sekelasku itu berdiri di sebelahku sendirian. Tumben sekali, biasanya Donghae selalu bersama-sama dengan yeoja chingu-nya, Eunhyuk.

"Waeyo, Hae?" tanyaku.

"Ada Tiffany di depan kelas," ia memberitahuku. "Memang bukan mencarimu, sih..."

Tiffany?

"Kau tidak menemuinya?" tanya Donghae bingung melihatku diam saja. "Biasanya kau paling semangat kalau Tiffany datang ke kelas kita."

Aku mengangkat bahu. "Entahlah, Hae. Aku juga tidak mengerti. Akhir-akhir ini aku memikirkan orang lain—"

"Kau sudah tidak menyukai Tiffany, Yesung?" Kedua mata fishy itu membulat tak percaya. "Hei, aku baru dengar itu!"

"Aku juga," kataku, lebih kepada diriku sendiri sementara hatiku bertanya-tanya. Benarkah aku tidak menyukai Tiffany lagi?

"Eh?"

Aku memilih mengabaikan Donghae yang sepertinya ingin mengorek info lebih jauh lagi, kembali fokus dengan pikiranku. Tapi, Donghae ternyata tidak mau menyerah.

"Ayolah, sekarang siapa yang kau sukai, Yesung?" tanyanya dengan suara memelas. "Kau kan bisa bercerita padaku... Untuk apa kita menjadi teman, eh?"

.

.

.

.

Donghae mendengarkan ceritaku dengan sungguh-sungguh. Wajahnya yang biasanya tak pernah serius kini datar sedatar-datarnya. Namja itu diam selama aku menceritakan tentang Wookie dan kejadian kemarin.

"Ummm..." gumam Donghae setelah aku selesai bercerita. "Jadi... kau mulai memikirkan Wookie-ya?"

"Mungkin..." aku menunduk. Pikiranku kacau. Aku sama sekali tidak mengerti apa-apa.

"Kurasa," kata Donghae, "perasaanmu pada Tiffany hanya sebatas kagum. Bagaimana, ya? Eh, mengapa kau menyukai Tiffany?"

Aku mengerucutkan bibir. "Karena Tiffany cantik dan terlihat menarik saat beraksi dengan grup cheerleader-nya?"

"Gotcha!" Fishy itu menjentikkan jarinya. "Kau memang kagum padanya."

Eh?

"Kalau kau menyukai seseorang, kau tidak perlu alasan untuk menyukainya. Perasaan itu muncul tiba-tiba, dan seiring kau mengenal orang itu, kau akan semakin menyukai segala hal mengenainya. Cinta tak butuh alasan."

"Lalu, apa yang kurasakan pada Wookie?" tanyaku. Ini yang masih mengganjal. Memang sih, saat Donghae bilang aku hanya mengagumi Tiffany, jantungku seperti mencelos...

Donghae mengangkat bahu. "Aku tidak tahu, kau harus memikirkannya sendiri, Yesung. Karena cuma kau yang akan mengerti."

Aku menggaruk-garuk kepalaku.

"Oh ya." Donghae berdiri dari tempatnya duduk selama mendengar ceritaku—di mejaku. "Kalau mendengar ceritamu tadi, kurasa, Wookie itu benar-benar menyukaimu apa adanya."

.

.

.

.

Ketika berjalan pulang, aku melewati rumah keluarga Wookie. Kulihat Jungsoo ahjumma sedang mengangkut beberapa kardus ke dalam sebuah mobil box bersama dengan Youngwoon ahjussi. Tapi aku tidak melihat sosok Wookie.

Sedang apa sebenarnya mereka?

Aku berjalan masuk ke rumah dan hampir bertabrakan dengan Umma ketika membuka pintu.

"Umma, keluarganya Wookie sedang apa?" tanyaku pada Umma. "Aku tidak melihat Wookie tadi."

"Yesung, keluarga Wookie akan pindah ke Chunanh nanti malam," kata Umma, "Wookie sudah pergi duluan tadi siang. Oh ya." Umma merogoh kantong celemeknya. "Tadi pagi Wookie menitipkan ini untukmu."

Aku menerima benda yang disodorkan Umma padaku. Sebuah amplop putih. Ada namaku tertulis di depannya. Jelas, ini untukku. Tapi, aku tidak terlalu berminat membacanya. Pikiranku masih terfokus pada kata-kata Umma tadi.

Wookie akan pindah?

Kok tidak bilang-bilang padaku?

"Yesung," Umma membuyarkan lamunanku, "sekarang istirahatlah dulu. Nanti agak malam, kita bertamu ke rumah Wookie, mengucapkan perpisahan pada Jungsoo dan Youngwoon."

Aku hanya bisa mengangguk lemah.

.

.

.

.

Entah berapa lama aku tertidur. Ketika tersadar, kurasakan ponselku bergetar heboh. Ada seseorang yang menelpon.

Kutatap layar ponselku. Nama Tiffany terpajang di sana.

Tiffany?

Aku langsung terduduk dan menekan layar ponselku.

"Yeobosaeyo?"

"Yesung oppa?" terdengar suara Tiffany di seberang sana. "Apa aku mengganggu?"

"Oh, tidak. Tidak." Kuubah posisiku, duduk di tepi ranjang. "Waeyo? Ada apa tiba-tiba meneleponku?"

"Ah, tidak..." Tiffany terkikik. "Hanya saja... aku bingung mengapa Oppa tiba-tiba memiliki rambut panjang."

Aku tertawa hambar. Yeoja itu malah tidak menyadari bahwa aku ingin ia memperhatikanku. Dulu sih.

"Ganti suasana," aku mencoba bercanda, tapi sepertinya tidak berhasil. "Itu saja?"

"Nae, Oppa. Sampai besok."

Percakapan ini bahkan tidak sampai satu menit. Aku tidak tahu mengapa aku tidak mempunyai topik untuk dibicarakan dengannya. Padahal biasanya aku cukup cerewet. Selama aku berusaha mengobrol dengan Tiffany setelah latihan klub juga... percakapan kami begitu-begitu saja. Lain halnya mengobrol dengan Wookie. Percakapan kami selalu mengalir, kecuali kemarin.

Tunggu dulu.

Mengapa aku merasa lebih nyaman bersama Wookie?

.

.

.

.

Jungsoo ahjumma dan Youngwoon ahjussi menyambut kami dengan tersenyum ketika aku dan Umma berkunjung ke rumah mereka.

"Jungsoo, aku akan sangat kehilanganmu." Umma memeluk Jungsoo ahjumma. "Jangan lupa untuk memberi kabar."

"Tentu," balas Jungsoo ahjumma. "Aku juga akan merindukanmu, Chullie-ah..."

Mulai deh, mulai deh. Aku memutar-mutar mata bosan. Para ahjumma memang suka terlalu dramatis kalau berpisah. Tak heran Appa menolak berpamitan dengan Youngwoon ahjussi. Appa memang bukan tipe orang yang suka berbasa-basi, katanya, tadi pagi Appa sudah ber-say hi dengan Youngwoon ahjussi.

Appa aneh. Masa ber-say hi sama tetangga yang mau pindah?

"Jungsoo ahjumma." Kupanggil Jungsoo ahjumma, menghentikan percakapannya dengan Umma yang sudah ngalor-ngidul ke segala topik. "Di mana Wookie sekarang?"

"Wookie-ya pergi tadi siang, katanya mau mengurus sekolah barunya di Chunanh sana." Jungsoo ahjumma menjawab dengan senyum manis. Coba Umma-ku rajin tersenyum seperti itu. Kemudian, kening yeoja itu berkerut. "Wookie tidak memberitahumu, Yesung?"

Memberitahu apa? "Ani," jawabku seraya menggeleng.

Jungsoo ahjumma mengangguk-angguk. "Aneh. Ahjumma juga tidak mengerti kenapa, tapi tadi siang ketika Ahjumma bilang pada Wookie untuk berpamitan denganmu, Wookie hanya tersenyum tipis." Yeoja itu menatapku. "Apa kalian bertengkar?"

"Ani." Hanya itu yang bisa kujawab. "Tapi kata Umma, Wookie menitipkan surat padaku—belum kubaca, sih, tapi—"

Jungsoo ahjumma tersenyum lagi. "Kalau begitu, nanti bacalah surat dari Wookie. Mungkin ia menuliskan sesuatu padamu. Wookie itu pendiam, jadi—"

Kata-kata Jungsoo ahjumma selanjutnya bagai kaset yang diputar dengan cepat—aku tidak dapat mencerna kata-katanya dengan baik. Aku begitu gelisah dan penasaran dengan isi surat dari Wookie.

Kira-kira, apa yang ditulis oleh yeoja itu, ya...?

.

.

.

.

Yeoja memang cerewet.

Lama sekali baru Umma dan Jungsoo ahjumma berbincang-bincang. Bukannya aku mengatai Jungsoo ahjumma cerewet. Yang cerewet itu justru Umma-ku, bicara ini-itu, bergosip. Aaahhh...

Setelah memasuki rumah, aku segera menghambur ke atas—ke kamarku. Aku ingin cepat-cepat membaca surat dari Wookie. Rasa penasaran merayapi tubuhku. Tanganku rasanya gemetar ketika membuka segel surat itu...

.

.

.

.

Yesung oppa...

Aku selalu menyukai Yesung oppa semenjak pertama kali kita bertemu. Aku senang berteman dengan Oppa. Memang Oppa tergolong cerewet untuk ukuran seorang namja, tapi... aku merasa senang bila bercakap-cakap dengan Oppa.

Aku suka bila melihat Yesung oppa berlari. Oppa terlihat berkilauan ketika melesat di jalur, mengalahkan namja-namja lainnya. Seperti ada sayap di punggung Oppa. Sayap yang membawa Oppa ke garis finish.

Oppa terlihat keren dengan rambut baru dan lensa kontak, tetapi, aku selalu paling menyukai ketika Yesung oppa memakai kacamata. Aku sangat konyol kan, Oppa?

Aku bodoh, Oppa, tapi kini aku akan mendukungmu dengan Tiffany-ssi. Aku setuju bila Oppa mencintai Tiffany. Ia yeoja yang baik. Tiffany satu tempat les denganku, mian aku tidak pernah memberitahu Oppa soal ini. Semoga Oppa tidak marah padaku.

Yesung oppa, jangan pernah berhenti berlari! Aku ingat ketika dulu Oppa bilang ingin menjadi pelari yang hebat. Hwaiting, Oppa! ^^

Oh ya, Appa bilang kami akan pindah ke Chunanh selama beberapa tahun. Kuharap Oppa tidak kehilanganku, teman masa kecil Oppa. Mian aku tidak bisa bicara langsung pada Oppa. Aku sangat menyesal soal kejadian hari ini... Anggap saja kejadian itu tidak pernah ada.

Terima kasih karena mau menjadi teman masa kecilku :D

Temanmu,

Kim Ryeowook

P.s: Oppa, jangan memaksakan diri untuk mengubah dirimu demi yeoja yang kau sukai. Buatlah yeoja itu menyukai dirimu apa adanya :D

P.p.s: Oppa, saranghae yeongweonhi! Aku akan tetap mencintai Oppa sampai kapan pun, meskipun Oppa menyukai yeoja lain.

.

.

.

.

Aku menggigit bibir setelah membaca surat dari Wookie.

Aku memang namja yang babo, tidak peka. Aku sudah menyakiti Wookie selama ini. Aku menganggap diriku menyukai Tiffany dan memaksakan diri untuk menjadi orang yang disukai olehnya...

—dan aku tidak menyadari bahwa ada yeoja yang menerimaku apa adanya.

Wookie, kuharap, suatu hari nanti aku bisa bertemu denganmu lagi. Ya, suatu saat nanti...

Dan aku akan mengungkapkannya padamu dengan sepenuh hati.

Donghae benar, cinta memang tak memerlukan alasan. Karena dalam proses mengenali dirinya, kau akan menyukai segala hal tentangnya.

Nah, bagaimana bila kau menjadi satu-satunya alasan cinta itu ada, Kim Ryeowook?

.

.

.

.

To: Wookie Kim

From: Kim Yesung

Subject: Surat

Mian karena lama menyadarinya, Wookie.

Aku menunggu yeoja yang kucintai itu kembali tinggal di sebelah rumahku dan menontonku latihan lari setiap pagi dengan sebotol minuman isotonik.

Will you?

-FIN-

Notes:

Author's Bacot Area

*ngunyah Pocky dengan muka babo*

Eh, udah selesai ya? Astagaaaaa~ *lempar bungkus Pocky jauh-jauh*

FIC APAAN NIH? *siap" neken tombol delete* Bisa-bisanya aku bikin plot gaje kaya gini, padahal niatnya mau bikin cerita yang nyesek =w= Mana ending-nya gantung pula ==a

Eh, lupa.

SAENGIL CHUKKAE, KIM RYEOWOOK OPPA! XDD *tebar kembang* Semoga oppa makin keren, makin sukses, makin jago nyanyi, makin terkenal, makin—*disumpel Pocky*

*kunyah kunyah*]

Oke deh, bacotanku jangan terlalu dianggep. Kkk~

Masih ada yang mau review fic ini? Yang review aku paketin YeWook oppadeul ke rumahnya, hahaha XD

Review?

Me ke aloha,
mysticahime™
Bandung, 21 Juni 2011, 00.51 a.m

Series this work belongs to: