Work Text:
T R I M E S T E R P E R T A M A
"Jingwu, aku dinyatakan hamil,"
Sudah 3 bulan semenjak Ji Jingwu mendengar kabar yang sempat membuat dahinya berkerut dan tidak kembali ke bentuk semula karena semua ini terlalu di luar nalarnya.
Namun, inilah sekarang.
Jingwu menjalani hidupnya yang tentram bersama Mu Siyang, yang tengah mengandung anak mereka.
Meski tidak dapat dipercaya, namun Jingwu merasa senang sekali memiliki buah hati dengan orang yang dicintainya.
"Kamu ga ngidam?"
Jingwu iseng bertanya pada suatu saat yang damai, dimana tidak ada hujan, bahkan angin badai. Saat ketika ia baru saja kembali dari pekerjaannya, dan merebahkan diri di sofa sembari memperhatikan Siyang yang tengah asyik mengerjakan pekerjaannya di laptop.
"Memang kalau hamil harus ngidam?" Siyang malah balik bertanya ketika ditanya. Matanya tidak pindah dari layar yang ditatapnya.
Yang ditanya malah mengedikan bahu, "kakak sepupuku baru saja melahirkan tiga bulan lalu. Saat hamil, konon katanya ngidamnya sangat sulit dipenuhi dan rasa mualnya begitu hebat," cerita Jingwu sembari menatap atap. Mungkin pikirannya kembali pada 3 bulan lalu, saat sang ibu mengajaknya berkunjung menjenguk sang sepupu yang baru saja melahirkan seorang bayi perempuan.
"Ah Jing, kapan kamu akan mempunyai bayi sepertiku?" goda sang kakak sepupu kala melihat anak dari adik sang ayah menggendong putrinya.
"Aku masih 26 tahun, dan belum menikah," ujarnya kala itu.
Kini jika dikilas balik, cepat juga ia menjadi seorang (calon) ayah. Bahkan setahun pun belum berlalu semenjak ia mengatakan hal tersebut.
Kalau diingat-ingat, Jingwu senyum-senyum sendiri jadinya. Ia begitu shock dan juga senang disaat bersamaan disaat Siyang dengan ragu mengabari kehamilannya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" suara Mu Siyang membuyarkan lamunannya.
"Tidak," jawab Jingwu masih cengar-cengir memeluk bantal—berusaha menyembunyikan senyumnya. Kalau dipikir-pikir, lucu juga.
"Kau tidak ingin makan sesuatu begitu?" tanya Jingwu lagi.
"Aku ingin makan kare," ujar Siyang acuh.
"Sedang dibuatkan kan?" Jingwu mengernyitkan alisnya.
Siyang mengangguk, "karena aku ingin makan kare, lalu bilang ke juru masak untuk dibuatkan kare sebagai makan malam,"
"Bukaaaan, sesuatu yang seperti ngidam,"
"Ngidam memangnya seperti apa sih?" mulai terpancing, Siyang menjauhi laptopnya sejenak. Menatap Jingwu untuk memberikannya jawaban. Alisnya berkedut kesal.
"Contohnya, kau ingin makan manisan yang susah ditemukan, atau mungkin cake yang saat itu kita temui di Jerman, atau ingin jalan-jalan ke pantai. Seperti keinginan yang kuat dan kau tidak tahan untuk tidak melakukan ataupun menginginkannya,"
Siyang berhenti sejenak dari kegiatan yang tengah dilakukannya; mengetik, "tidak, sementara ini sedang tidak ingin apapun secara khusus,"
"Aneh sekali, padahal saat itu kakak sepupuku ngidam ingin mangga, dan sang suami harus memetiknya sendiri,"
"Kau sanggup manjat pohon, memang?"
"Sanggup,"
"Sanggup turun sendiri?"
Jingwu terdiam. Ia teringat akan kenangannya saat masih SMP dahulu, dimana ia bisa memanjat pohon, namun tidak bisa menuruninya. Sekali hal ini ia ceritakan pada Siyang, Jingwu tak menyangka jika Siyang mengingatnya hingga saat ini.
"Ah Jing, jangan permalukan dirimu sendiri untuk hal yang mustahil," ujar Siyang seraya kembali pada ketikannya.
Demikian, Jingwu nampak tidak puas dengan jawaban Siyang, "atau mungkin kau kesal denganku?"
Gantian kini Siyang yang mengernyitkan alisnya, "maksudmu?"
"Selain meginginkan, ngidam juga bisa berupa kesal dengan berbagai hal yang sepele, atau mungkin dengan pasangannya sendiri," jelas Jingwu dengan bangga kepada Siyang yang masih mengernyitkan dahinya—menatapnya curiga.
"Aku akan membencimu seumur hidup jika kau tetap menanyakan hal tersebut," ancam Siyang dingin.
Jingwu terdiam. Menyerah. Mungkin Siyang memang tidak ngidam. Syukur deh. Meski maksud hati ingin memanjakannya, namun apa boleh buat jika Siyang memang tidak memiliki keinginan khusus terkait kehamilannya.
"Shaoye, makan malam sudah jadi," ujar sang housekeeper yang datang ke ruang tengah.
Harum semerbak kare menyeruak seketika Siyang dan Jingwu memasuki ruang makan.
"Baunya enak sekali, jadi lapar," Siyang mengomentari sembari bersiap duduk di meja makan.
"Bau apa ini?" Jingwu berkebalikan dengan Siyang yang menghirup dalam-dalam aroma rempah tersebut; menutup hidungnya.
"Bau kare," Siyang lagi-lagi menatap curiga Ji Jingwu.
"Tapi baunya tidak seenak yang aku ingat," Jingwu nampak menutup hidungnya dengan air muka yang tak enak.
Tanpa menjelaskan lebih jauh, Jingwu pun melesat ke kamar mandi karena rasa mualnya yang semakin menjadi. Khawatir dengan keadaannya, Siyang pun menyusul pria tersebut.
"Kau kenapa? tiba-tiba sekali?" Siyang mengusapi punggung dari Jingwu yang kini tertunduk di wastafel untuk mengeluarkan rasa mualnya.
Jingwu tidak bisa menjawab, karena rasa mualnya sendiri sudah membuatnya tidak kuat beraktifitas lain selain terfokus pada rasa tersebut.
"Sepertinya kau masuk angin," Siyang masih berceloteh sembari menatap iba Jingwu, "kalo kare-nya sebau itu, kita makan yang lain saja ya,"
Jingwu menggeleng—menolak tawaran Siyang, "kau makan saja, aku akan coba memakan yang lain," ujarnya setelah membasuh mulutnya.
Siyang masih mengurut punggung Jingwu-berharap dapat mengurangi rasa mualnya, "kau ini kenapa sih, aneh sekali,"
Malam dilewati dengan Siyang makan kare sendirian di ruang makan, sementara Jingwu terbaring seorang diri di sofa karena tenaganya pun ikut terkuras saat tadi ia mengeluarkan rasa mualnya di kamar mandi. Buah-buahan dingin sementara ini baru mengganjal perutnya sebagai makan malam.
“Jingwu,”
Dari layar televisi yang tengah ditontonnya, Jingwu melihat sosok Siyang yang datang dari arah ruang makan, membawa mangkuk—entah isinya apa.
“Kau belum makan apapun, maka itu, kubuatkan sup tomat untukmu. Makan yuk,” ujar Siyang sembari mengisyaratkan Jingwu untuk bangkit dari sofa yang memang nyaman untuk dipakai bermalas-malasan tersebut.
Diisyaratkan demikian, Jingwu beranjak dari rebahannya dan tempat yang kini kosong pun diduduki oleh Siyang. Menatap isi mangkuk yang dibawa Siyang, Jingwu menempelkan tubuhnya pada laki-laki yang kini berada di sisi kirinya tersebut.
“Makan dulu,” Siyang mengangsurkan mangkuk yang masih mengepulkan asap tersebut—masih hangat.
Jingwu menatap sup tomat tersebut, lalu menatap Siyang, “suapin,” pintanya manja.
Kalau saja tadi Jingwu tidak mual-mual di kamar mandi, Siyang mungkin sudah mencubit habis pinggang Jingwu yang kebanyakan kulit doang. Mengalah, Siyang pun mulai menyuapi Jingwu.
“Kau yang membuatnya?” tanya Jingwu tanpa mengalihkan pandangan dari televisi—mirip bocah SD yang tengah disuapi ibunya.
“Ya, hanya memblender tomat yang ada, lalu dimasak dengan ditambah krim, rempah dan garam,” jelas Siyang sembari menyuapi Jingwu dengan hati-hati saking pria tersebut enggan mengalihkan pandangan dari acara TV—National Geographic.
“Oh iya?” kali ini Jingwu menatapnya. Badannya pun mengarah pada Siyang, “terima kasih, Siyang. Sup nya enak, dan mualku mulai hilang,” senyumnya yang membuat Siyang malah tidak tahu harus bagaimana karena wajah polos Jingwu membuatnya jadi salah tingkah—haruskah kesal karena ada sup yang blepotan di bibir, atau senang karena Jingwu mengucapkan terima kasih kepadanya. Yang jelas Siyang tersipu malu.
“Ah Jing,” Siyang menyodorkan napkin untuk Jingwu mengelap mulutnya karena supnya sudah habis dan Siyang selesai menyuapinya.
Selesai makan, Siyang mengisyaratkan Jingwu untuk meletakkan kepalanya dipangkuan.
“Tapi kan aku baru makan, memang boleh tiduran?” Jingwu, ragu ingin menerima tawaran tersebut.
“Aku tau perutmu masih tak enak dan ingin bersandar kan? Aku mengerti karena pernah mengalaminya. Tidak apalah, rebahan dipangkuanku. Kalau tiba-tiba mual lagi, bilang saja,” Siyang mengusapi belakang kepala Jingwu—membujuknya untuk merebahkan diri.
Tidak menolak, Jingwu segera meletakkan kepalanya pada paha Siyang.
Sebuah kedamaian yang tidak sesiapapun mengerti kecuali dirinya. Membiarkan Siyang memanjakan dirinya, sentuhannya membuat lelah yang menyelinap dalam syarafnya hilang seketika. Nafasnya menjadi teratur, dan semua letihnya bisa terlupakan.
“Siyang,” Jingwu membuka pembicaraan, “bagaimana kondisi tubuhmu? Maksudku, melelahkan sekali mengandung dan menahan mualnya?”
Siyang menggelengkan kepala meski tidak terlihat Jingwu, “memang aneh rasanya, ada manusia lain di dalam tubuhku. Namun, rasa mualnya tidak seperti awal-awal. Sekarang ini aku malah tidak merasa mual,”
“Oh ya?” Jingwu sejenak melirik Siyang, “syukurlah jika kau tidak merasa kepayahan. Namun, jika ada sesuatu yang bisa kulakukan, akan kulakukan. Maka itu, bilanglah padaku. Membawa beban sendirian akan terasa berat,” Jingwu menangkap tangan Siyang yang tengah menyisiri rambutnya, mengunci jemarinya dengan jemari Jingwu, lalu menggenggam tangannya—menguatkan.
“Katanya, jika kandungan memasuki bulan ke-empat, bayinya sudah diberi nyawa,” ujar Siyang, “aku mengajaknya berbicara setiap pagi, supaya hari ini pun baik-baik di dalam sana sampai waktunya lahir nanti,”
“Sungguh?” kali ini Jingwu tak lagi melirik, ia sedikit mengangkat kepalanya dan menatap Siyang.
Yang ditatap mengangguk—meyakinkan.
“Nak,” Jingwu kembali meletakkan kepalanya pada pangkuan Siyang, “tolong jangan buat ibumu susah ya,” ujarnya pada perut Siyang yang masih belum terlihat membundar. “Aku akan bekerja agar bisa memberimu makan enak, sebagai gantinya tolong kau tumbuh dengan sehat dan ceria ya nak, aku menantikanmu di sini,” Jingwu mengusap halus permukaan kulit yang membatasi dirinya dan sang anak.
Melihat apa yang dilakukan Jingwu, Siyang hanya tersenyum. Jingwu begitu perhatian, dan membuatnya merasa begitu beruntung. Tangan sebelah kirinya—yang tidak sedang digenggam Jingwu, pun mengusapi kepala sang putra semata wayang keluarga Ji tersebut. Siyang ingin berterima kasih untuk semua perhatian Jingwu terhadapnya. Untuk semua yang telah Jingwu lakukan untuknya—termasuk menurunkan kepalanya dihadapan kepala keluarga Mu untuk membawa putra satu-satunya untuk tinggal bersamanya, sebagai bentuk pertanggung jawaban Jingwu terhadapnya.
Perasaan Siyang begitu damai, sejenak ia berharap waktu mengalir lebih lambat dari biasanya. Perlahan, Siyang menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. waktu menunjukkan pukul 9 malam. Memang sudah waktunya tidur, terlebih sesekali kantuk menghampiri sehingga Siyang kerap menguap. Suasana yang begitu enak untuk ketiduran di sofa, sampai tiba-tiba terdengar suara isak tangis. Saat tersadar, dilihatnya bahu Jingwu terguncang. Jingwu menangis dan genggaman pada tangannya semakin mengencang.
“Ah Jing, kau kenapa? Ada yang sakit?” Siyang mendadak khawatir karena belum pernah ia mendapati Jingwu menangis apalagi sampai terisak seperti ini.
Yang ditanya menepuk-nepuk paha Siyang, lalu mencium tangan yang digenggamnya, “tidak, aku tidak kenapa-kenapa,” ujarnya lirih.
“Lalu kenapa kau menangis, Jingwu?” Siyang tidak mendapatkan jawaban yang ada dalam praduganya. Ia khawatir sejadi-jadinya. Mengusap dahi Jingwu dengan harapan ia bisa memberi tenang pada pria tersebut.
“Aku merasa sedih sekali karena bayi gajah tersebut tertinggal kawanannya. Bagaimana ia bertahan hidup kedepannya,” jelas Jingwu yang membuat Siyang serta merta menatap televisi dan masih mendapati acara National Geographic yang sedari tadi ditonton Jingwu.
Ini, penyebabnya?
Siyang merasa jengkel jika diperbolehkan demikian. Namun karena tidak ada hal yang serius, ia mungkin seharusnya bersyukur kalau penyebab Jingwu terisak hanyalah tontonan alam liar belaka.
“Aku pikir kau kenapa,” Siyang menghela nafas, “tumben kau emosional sekali,”
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala, lalu tak lama berselang, tangisnya pecah. Jingwu menutup mulutnya dengan tangan Siyang yang tengah digenggamnya.
Jingwu hari ini, seperti bukan Jingwu. Aneh sekali. Apa ia terbentur kepalanya, atau ada setan yang merasuki sosok Jingwu. Namun jika dibilang sosok setan pun, kelakuan Jingwu hanya aneh saja, tidak menyebalkan tidak juga membuatnya jengkel. Jingwu kenapa?
“Apa kau mau kuberikan pelukan?” Siyang menatap Jingwu iba. Kenapa tontonan National Geographic saja bisa membuatnya menangis?
Yang ditawarkan mengangguk—menerima tawaran Siyang yang akhirnya membuat pemuda tersebut membungkukkan badannya dan memeluk Jingwu sekena-nya. Dagunya disandarkan pada pelipis Jingwu dan tangan yang satunya mengusap kening Jingwu yang boleh dibilang lebar jika saja style rambut depannya tidak seperti ini, maka terlihat sekali dahi lebarnya.
Setelah 15 menit Siyang memeluk Jingwu seperti ini, dan tangisnya mereda seiring dengan selesainya program National Geographic tersebut.
“Jingwu,” panggilnya ketika pria tersebut terbangun dari sofa, “kau aneh sekali hari ini. Ada apa?”
Jingwu menggelengkan kepalanya, “aku pun tidak tahu kenapa aku aneh hari ini,” jawabnya seraya mengambil tisu yang diangsurkan Siyang untuknya.
“Kau mual pada bau kare, dan kau begitu emosional,” Siyang memaparkan kejadian aneh seharian ini.
Yang baru saja selesai meniup hidungnya, sejenak berhenti. Seperti tersadar pada sesuatu.
“Aku mual pada bau-bauan, dan aku begitu emosional,…” gumamnya tanpa peduli terdengar Siyang atau tidak, “… jangan-jangan, aku ngidam,”
Namun gumaman tersebut terdengar jelas oleh Siyang, “kau? Ngidam?” ulangnya setengah tertawa, “apa kau juga hamil sepertiku?”
Jingwu masih tertegun. Bingung. Tidak bisa menerima kalau ternyata dirinya yang terkena gejala-gejala orang hamil.
Namun Siyang tidak setega itu—mengolok bapak muda yang bahkan tidak tahu harus berbuat apa saat Siyang memberinya alat tes kehamilan yang menunjukkan tanda positif pada tiga bulan lalu. Jingwu hanya terdiam membatu. Bergantian menatap dirinya dan alat tes kehamilan yang disodorkan pada telapak tangannya. Adegan ini bertahan selama 10 menit saking Jingwu tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.
“Ah Jing,” panggilnya supaya ia tidak terlalu jauh menyelam dalam pemikirannya sendiri, “kau tidak apa-apa? Kau seperti terkejut,” lengannya mengusap punggung Jingwu.
“Masa iya aku ngidam?” tanyanya dengan nada yang tak percaya. Tatapannya kosong seperti baru melihat hantu.
Siyang mendengarkannya, lalu tersenyum pada pundak Jingwu. Pria ini memang helpless jika menyangkut masalah kehamilan dirinya. “Ah Jing, mungkin aku tidak ngidam atau mual lagi berkat dirimu,” ujar Siyang pelan pada Jingwu yang masih tetap diam tak bereaksi, “maka itu, maaf ya,” usapan pada punggung Jingwu tidak dilepaskannya.
Mendengar kata maaf, Jingwu lantas menghadapkan dirinya pada Siyang, “tidak. Kenapa kau minta maaf?” alisnya terangkat sebelah pada Siyang yang mengangkat kedua bahunya.
“Aku hanya berpikir jika mual saja sudah sangat melelahkan, bagaimana melahirkan nanti,” jelas Jingwu yang lagi-lagi pandangannya entah kemana—jauh dengan pikirannya, “maka itu rasanya aku harus lebih memanjakanmu,” senyumnya seiring tatapnya pada Siyang, “Siyang, terima kasih,”
Ada perasaan yang begitu menenangkan saat mendengar ucapan terima kasih tersebut. Siyang menyandarkan kepalanya pada bahu Jingwu seiring tangannya terlingkar pada pinggang pria tersebut, “kau pun boleh manja kepadaku, secara dirimu juga menanggung ngidam-ku,” tawanya.
“Rasanya aku mau makan buah mangga,” gumam Jingwu sembari mengusap kepala Siyang yang tersandar pada pundaknya.
“Lalu, harus aku yang memetiknya?” kepalanya terangkat, lalu menatap Jingwu tak percaya.
“Lebih enak kalau kau yang langsung memetiknya,” candanya.
“Tega,” Siyang menjepit hidung Jingwu sebelum menariknya, “aku benci dirimu, Jingwu,”
Yang habis dicubit hidungnya malah tertawa meski matanya berair—menahan perih, “jangan membenciku, nanti anaknya mirip diriku loh,”
-fin-
