Actions

Work Header

Simpul Pertama

Summary:

Mr Mole x Eagle Dance

Awal pertemuan itu tidak selalu manis, tapi selalu berkesan.
Hanya sepenggal cerita yang menjadi tirai pembuka untuk kedua insan yang tidak seharusnya bersama.

Tapi bukan manusia namanya jika tidak ingin melawan takdir

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Norton Campbell menguap bosan, tak peduli walaupun dirinya dikelilingi oleh wanita cantik berpakaian minim, serta berbotol-botol minuman berkualitas tinggi yang disajikan hanya untuknya. Pria yang lebih dikenal dengan panggilan “Mr. Mole” itu merupakan tuan muda dari organisasi bawah tanah yang fokus utamanya adalah penyeludupan barang-barang ilegal. Bisnis yang diwarisinya dari mendiang orang tuanya berjalan dengan sangat maju di tangannya, sehingga dia dijuluki “Jenius Muda Dunia Bawah”. Namun sayang, belakangan ini ada beberapa “tikus” yang mencoba mengganggu bisnisnya, dan tentu saja hal ini cukup mengganggu Norton.

“Jadi,” ucap Norton kepada seorang pria botak yang berdiri sambil mengusap-usap tangan dengan cemas, “kau bilang transaksinya gagal lagi?”

Pria itu menelan ludah dengan gugup. Walaupun intonasinya terdengar bosan dan tak peduli, tapi ia yakin tuan mudanya ini tidak senang mendengar laporan darinya. “Be-benar, tuan muda. Paket yang seharusnya dikirimkan kemarin malam dicuri, pagi ini ditemukan di markas kepolisian, dan mereka sekarang sedang melacaknya. Kami sudah berusaha menghilangkan bukti-bukti yang ada, ta-tapi... kami tidak bisa... menemukan pelaku pencurian itu....”

Sebuah gelas kaca melayang dan mengenai tembok di belakang si pria, membuatnya berjengit ketakutan. Norton lalu menghela napas kasar dan mengibaskan tangannya. Seketika semua wanita, serta anak buahnya yang lain pergi meninggalkan ruangan itu, hingga tersisa dirinya dan pria di hadapannya.

“Kau tau ‘kan aku benci kegagalan yang berulang?”

“Ma-maafkan saya.”

“Dan kau tau ‘kan apa konsekuensinya?”

Pria itu berlutut dan memohon-mohon di kaki Norton. “A-ampuni saya, tuan muda. Berikan saya satu kesempatan lagi. Sa-saya tidak akan gagal lagi, saya berjanji.”

Norton berdiri dan berjalan ke arah brankas, dan mengambil sebuah revolver. Ia mengusap benda itu dengan sapu tangannya, sebelum memasukkan sebuah peluru ke dalamnya.

“Sayang sekali,” Norton menempelkan moncong pistol itu tepat ke kepala anak buahnya, yang masih memohon pengampunan, “aku tidak sebaik itu.”

Darah segar menyiprat dari tengkorak dan mengotori dinding serta karpet, disertai dengan rubuhnya tubuh seorang pria, yang kini telah kehilangan nyawanya. Norton membuang revolver itu ke lantai dan berjalan keluar.

“Bereskan semuanya,” perintahnya pada anak buahnya yang menunggu di balik pintu sebelum beranjak pergi.

~***~

Naib Subedar menggerutu sembari mengepel bekas tumpahan jus yang mengotori lantai kafe tempatnya bekerja. Kali ini bukan akibat anak-anak yang tak sengaja menjatuhkan gelas, melainkan ulah seorang cewek yang mengguyur kepala pacarnya sambil berteriak tukang selingkuh atau apalah, sebelum kemudian berlari keluar sambil menangis histeris. Dan sebagai “pacar yang baik”, tentu saja cowok yang diguyur itu ikut lari menyusul kekasihnya –dan membuat noda jus berceceran hampir di seluruh lantai kafe.

“Perlu kubantu tidak?”

Pemuda itu menoleh ke arah lelaki berambut coklat pendek yang menatapnya dari konter kasir. “Enggak usah, Eli. Ini emang tugasku. Kau ‘kan capek jaga kasir seharian.”

Eli Clark –pemuda yang mengajak bicara Naib- tersenyum. “Pelanggan yang tadi kocak sekali, ya. Sudah lama tidak ada insiden seperti itu di kafe ini.”

“Kau menikmati semua ini?” tanya Naib tak percaya. Rekannya yang satu ini terlihat seperti biarawan salah alamat, berkat pakaiannya yang selalu tertutup serta sikapnya yang terlalu suka memberi bantuan pada siapapun. Wajar jika Naib berpikir telinganya salah mendengar.

“Hei, menjaga kasir itu membosankan, tau. Beda denganmu yang bebas berinteraksi langsung dengan pelanggan, aku harus berdiri di sini terus sepanjang waktu. Insiden kecil seperti tadilah satu-satunya penghiburku agar tidak mati bosan.”

Naib mengeluarkan tawa lepas dan menopangkan dagunya ke tongkat pel. “Yah, memang benar sesekali melihat drama picisan secara langsung seperti tadi cukup menghibur. Lain kali aku berharap adegan tampar-tamparan saja, biar aku gak perlu repot-repot mengepel seperti ini.”

Kini Eli yang tertawa mendengar komentar Naib. Tepat saat itu patissier mereka, Aesop Carl, menghampiri Eli dan membisikinya sesuatu. Seketika wajahnya menggelap, menggantikan ekspresi cerah yang biasa ia tunjukkan. Ia mengangguk sekali, dan Aesop pun kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.

“Eli?” panggil Naib sambil berjalan menghampirinya ke konter kasir.

Ekspresi tak enak terlukis jelas di wajah Eli. “Maaf Naib, tapi sepertinya kamu belum bisa tidur nyenyak.”

Naib segera menyadari maksud ucapan rekannya, dan hanya bisa membuang napas kasar. “Heh, memangnya aku ini mesin?”

“Aku tahu ini berat untukmu, tapi diantara kita semua hanya kamu yang paling gesit, dan–”

“Aku tau,” Naib memotong ucapan Eli. “Jangan khawatir, Eli. Aku tetap akan melakukannya. Kirimkan saja rinciannya padaku.”

“Oh, tapi kali ini aku juga akan ikut denganmu.”

Alis Naib berkerut tidak setuju. “Tidak usah, kalau cuma mengganggu transaksi mereka, aku bisa sendiri.”

“Bukan begitu. Ini perintah Ketua, aku harus ikut denganmu.”

“Hah? Untuk apa?”

Iris biru jernih Eli menatap Naib lekat-lekat. “Karena menurut informasi Aesop, pada transaksi kali ini, Mr. Mole akan turun langsung.”

~***~

Norton menyandarkan tubuhnya ke tembok gudang tekstil di belakangnya sambil menatap jam sakunya. Waktu menunjukkan pukul duabelas tepat tengah malam, dan seharusnya pihak pembeli sudah datang ke lokasi. Namun sosok yang ia nantikan tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

Apa mungkin “tikus” itu mengacau lagi? Pikir Norton dalam hati.

“Tuan muda,” panggilan itu membuat Norton mengangkat wajahnya, “mereka sudah tiba.”

Sambil berjalan mengikuti anak buahnya menuju ke lapangan disamping gudang, Norton mengawasi sekitar dengan waspada. Entah karena anak buahnya terlalu lemah atau karena “tikus” itu terlalu gesit, sudah keempat kalinya dalam bulan ini transaksinya gagal. Tentu saja para pelanggannya mulai mempertanyakan kualitas Norton sebagai ketua, dan Norton tidak bisa membiarkan citranya tercoreng lebih dari ini. Bagaimanapun caranya, “tikus pengganggu” itu akan dia lenyapkan.

“Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan anda, Mr.Mole.”

Norton tersenyum formal kepada pelanggannya. “Saya yang merasa terhormat bisa bertemu dengan anda, Monsieur Joseph.”

Pria yang dipanggil Joseph itu balas tersenyum formal, sebelum berbicara, “Saya akan langsung ke inti pembicaraan, mengingat akhir-akhir ini transaksi anda sering ‘kemalingan’.” Ia lalu mengayunkan tangannya, dan dua orang pria berpakaian serba hitam maju dan menyerahkan dua buah koper berukuran besar. “Silakan diperiksa terlebih dahulu.”

Tanpa perlu disuruh, anak buah Norton maju dan membuka koper itu, yang mana penuh berisi uang, dan memeriksa keasliannya.

Setelah yakin bahwa keaslian serta jumlah uang yang diterima sesuai dengan kesepakatan, Norton mengibaskan tangannya dan dengan patuh anak buahnya mengeluarkan sebuah lukisan berukuran cukup besar dan menyerahkannya kepada Joseph.

“Lukisan Mrs. Nightingale yang asli, sesuai dengan permintaanmu. Silakan diperiksa,” tutur Norton kepada Joseph.

Joseph memandangi lukisan itu dengan takjub. “Ternyata memang lebih indah dari bayanganku,” gumamnya pelan.

Ketika Joseph hendak memeriksa keaslian lukisan itu, terdengar suara tembakan yang cukup keras disertai sirine keras dari gudang di belakang mereka.

“Tuan muda! Mereka datang!” lapor salah seorang anak buah Norton.

Sudut bibir Norton terangkat naik. “Akhirnya.”

Norton lalu memerintahkan sebagian anak buahnya pergi mengamankan uang serta menyuruh Joseph dan orang-orangnya untuk pergi mengikuti anak buahnya. Bagaimanapun juga, transaksi kali ini tidak boleh berakhir dengan kegagalan, atau organisasinya akan benar-benar tamat. Ia sendiri lalu memerintahkan sisa anak buahnya untuk ikut menangkap para “tikus” yang sudah berani menganggunya.

“Tangkap mereka, tapi usahakan jangan sampai mereka mati. Aku ingin menambahkan rasa sakit pada kematian mereka karena sudah berani mengacaukan bisnisku.”

Belasan anak buah Norton bergerak dan menyusuri area itu, mencari keberadaan “tikus” yang berani mengusik tuan muda mereka. Norton sendiri juga ikut mencari sambil menyiagakan pistol di tangannya. Ia tidak tahu darimana dan bagaimana musuh akan menyerangnya, sehingga dia memilih senjata jarak jauh demi keamanan.

“Di atas!”

Refleks Norton menengadah ke atap gudang, dan ia melihat sesosok pria bermantelkan hitam legam dengan sedikit ornamen bulu berdiri membelakangi bulan purnama. Di lengannya bertengger seekor burung hantu berwarna kecoklatan. Topeng si pria yang berbentuk seperti burung hantu menutupi setengah wajahnya, dan menambah kesan misterius dalam dirinya.

“Tuan muda!”

Suara anak buahnya yang menyerukan namanya menarik kesadaran Norton yang sempat terhipnotis oleh sosok misterius itu. Ia lalu menganggukkan kepala, dan saat itu juga seluruh anak buahnya bergerak memasuki gudang. Namun anehnya, bukannya cemas atau panik, sosok itu malah tampak seperti sedang tersenyum, seolah-olah memang menantikan hal itu.

Apa mungkin dia hanyalah umpan?

Tepat setelah berpikir demikian, Norton merasakan seseorang berlari mendekati dirinya dengan niat membunuh, dan secara refleks ia melompat menjauh. Gerakannya itu mengundang decihan keras dari si penyerang, yang gagal melakukan serangan kejutan kepada Norton. Ditangannya tergenggam sebuah pisau dengan sudut sedikit bengkok –sebuah senjata yang tidak diketahui namanya oleh Norton.

Setelah memastikan jaraknya cukup aman, Norton mengamati lawan di hadapannya dari atas kebawah. Pakaiannya serba biru, dan seperti sosok di puncak gudang, ia mengenakan topeng yang menutupi setengah wajahnya. Namun bedanya, topengnya ini berbentuk seperti burung elang. Entah mengapa Norton lebih menyukai sosok ini dibandingkan yang berada di atas gudang. Pakaiannya yang biru dan kontras dengan langit malam seolah-olah menantang siapapun, dan apa itu? Surai keperakan serta aksesoris berbentuk bulu elang? Norton akan bohong jika bilang bahwa ia tidak terpana. Ditambah fakta bahwa pakaiannya tidak menutupi bagian perut, mengekspos kulit kecoklatannya yang dihiasi bekas luka serta otot perut yang menggoda. Satu kesimpulan di benak Norton, sosok dihadapannya ini begitu cantik dan seksi.

Norton mendengus keras. “Apa-apaan ini. Kupikir yang mengganggu bisnisku adalah sekumpulan tikus, ternyata hanyalah sekawanan burung liar.”

Si penyerang tak menjawab, dan memindahkan tumpuan kakinya, serta mengatur kuda-kudanya. Dengan gerakan cepat, ia kembali menerjang dan mengayunkan senjatanya ke arah Norton. Harus diakui, akurasi dari serangannya itu tidak bisa diremehkan. Dan berkat bentuk senjatanya yang unik, ujung pisau itu beberapa kali menggores tubuh Norton, meninggalkan bekas luka sayatan yang untungnya tidak terlalu dalam.

“Hanya itu yang kau bisa, burung kecil?”

Dengan cepat Norton menembakkan pistolnya dan pelurunya menembus paha si Elang, membuatnya meringis kesakitan dan menghentikan langkahnya.

“Benar, cukup diam seperti itu, maka ini tidak akan terlalu sakit.”

Norton kembali menembakkan pistolnya, dan kali ini menembus pundak kanan si Elang, membuat genggamannya sedikit longgar. Mau tak mau si Elang memindahkan pisaunya ke tangan kiri.

“Kau tahu, burung manis, kalau soal akurasi, aku jauh lebih hebat darimu. Tubuhmu yang lincah itu memang menyusahkan, tetapi jika aku bisa membatasi gerakanmu seperti ini, maka kau tidak bisa apa-apa.”

Si Elang berdiri dengan sedikt gemetar akibat menahan sakit di paha serta pundaknya. Norton lalu mengambil ponselnya dan memerintahkan anak buahnya untuk berkumpul dan menangkap tangkapan mereka.

“Naif sekali kalian. Apakah kalian berpikir bisa menghentikanku hanya dengan berdua? Kalian terlalu menganggap remeh aku.”

Namun si Elang malah tertawa. “Kuakui, ini terlalu sembrono. Tapi sejak awal, tujuan utama kami adalah mengambil data, dan kalau bisa mengacaukan transaksimu seperti sebelumnya, maka itu akan menjadi poin bonus.”

Alis Norton berkerut tak senang. Ia lalu menodongkan pistolnya ke kepala si Elang. “Sebenarnya aku tidak ingin membunuh makhluk secantik dirimu, tapi kupikir demi organisasiku, kau harus mati. Selamat tinggal, Elang Manis.”

Tepat ketika Norton akan menarik pelatuknya, sebuah flashbang meledak di dekat kakinya, membutakan matanya untuk beberapa waktu. Ketika matanya sudah mulai terbiasa, sosok elang tersebut telah menghilang, digantikan dengan secarik kertas di tempatnya tadi berdiri.

Ini peringatan dari kami.

Hentikan organisasimu

Atau kau akan merasakan akibatnya

Norton tertawa dan meremukkan kertas itu. “Baiklah, akan kunantikan aksi darimu, burung kecil.”

Lagipula buruan yang melawan akan lebih menantang, bukan?

~***~

Eli membopong tubuh Naib dengan kepayahan. Bukan karena bobot Naib yang berat, melainkan karena pria itu tak berhenti mengaduh tiap kali pundak ataupun kakinya tersenggol.

“Hei, sudah kukatakan pelan-pelan!”

“Kamu ini bagaimana, posisi kita belum aman, jadi kita harus cepat-cepat menyingkir dari sini! Mr.Mole bisa saja memerintahkan orang-orangnya untuk mencari kita.”

Naib hanya sanggup meringis pelan sebagai balasan. Ia benar-benar tidak menduga bahwa Mr.Mole akan menggunakan pistol, dikarenakan rumor yang beredar bahwa pria itu selalu membunuh lawannya dengan “cakar”, yaitu pisau yang dilekatkan pada sarung tangan khusus miliknya –karena itulah dia diberi julukan Mr.Mole.

“Ngomong-ngomong, apakah Aesop berhasil mendapatkan datanya?”

Eli mendesah panjang. “Sayangnya tidak. Tampaknya mereka telah mengetatkan sistem keamanannya, jadi sewaktu Aesop mencoba mengumpulkan informasi terkait organisasi, data itu tidak ditemukan. Bahkan data mengenai transaksi tadi juga telah dihapus.”

Naib ikutan mendesah panjang. “Jadi misi kita gagal?”

“Sepertinya begitu. Dan maafkan aku, seharusnya aku lebih cepat menolongmu, tapi anak buah Mr Mole tidak bisa diremehkan, sehingga aku sedikit kesulitan keluar dari sana. Aku hanya bisa mengirim popo untuk membantumu.”

“Tidak apa, keputusanmu sudah tepat. Aku yang ceroboh menghadapi dia.”

Ya, rencananya adalah, Eli akan terang-terangan menunjukkan diri dan memancing anak buah Mr.Mole masuk ke dalam gudang. Di dalam gudang, Eli akan bersembunyi dan menyibukkan mereka, sedangkan Naib bersiap-siap untuk menghadapi Mr.Mole dengan serangan dadakan guna memberikan waktu bagi Aesop selaku pencari informasi untuk meretas sistem mereka. Sayang sekali mereka tidak memperhitungkan insting tajam Mr.Mole, atau kemampuan menembaknya. Sewaktu mendengar bahwa Mr.Mole menarik kembali anak buahnya, Eli langsung menyuruh burung hantunya untuk menjatuhkan flashbang yang akan memberikan waktu bagi Naib untuk kabur.

“Ketua pasti akan memarahi kita,” gumam Eli dengan sedikit cemas.

“Jangan khawatir, dia akan memaklumi kita. Lagipula kita tidak benar-benar gagal. Ada satu hal yang berhasil kita ketahui.”

“Oh? Apa itu?”

Naib menatap Eli sambil nyengir. “Mr.Mole ternyata sangat tampan.”

Dan Eli menghadiahi rekannya sebuah tepukan keras di pundak kanannya, tepat di luka tembakannya.

Notes:

Halo semua, Grey di sini. Terima kasih sudah mau mampir kemari!
Anu... tolong jangan tanya ini apa, karena saya juga enggak tahu. Dapat idenya random ditengah-tengah deadline laporan praktikum. Tapi hey, setidaknya saya bisa ikut menyumbang kado untuk Norton. Happy Birthday, you rascal!
*saya speechless setelah membaca surat Norton. Pengen nabok tapi ganteng, duh susah*

Dan mengenai cerita ini, saya tidak akan melanjutkannya, tidak dalam waktu dekat ini. *ataupun waktu jauh*. Saya masih punya tuntutan menyelesaikan fanfiction JackNaib "Pembunuh Hati" *silakan mampir, hehehe* dan juga saya ingin menamatkan original story saya, yang rencananya akan saya terbitkan di wattpad. Maka dari itu, saya tidak bisa janji apakah akan menulis kelanjutannya atau tidak. Tapi saya tetap akan berusaha mencari bahan serta belajar lagi cara menulis action, sehingga nantinya saya dapat membawakan cerita berkualitas bagi kalian para pembaca yang budiman.

Sekian dulu ya, sudah kepanjangan tampaknya. Sampai jumpa lagi,

Salam Abu-Abu,

Series this work belongs to: