Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2020-03-25
Completed:
2020-03-29
Words:
13,610
Chapters:
5/5
Comments:
4
Kudos:
81
Bookmarks:
3
Hits:
834

hot air balloon, him as your cocoon

Summary:

for #secretsantakalopsia

choi byungchan punya impian: naik balon udara. dalam rentang waktu kurang dari seratus enam puluh delapan jam, laki-laki muda itu belajar banyak tentang hidupnya lewat laki-laki asing yang sedang belajar di negara tempat balon udara itu berada.

Notes:

hi!!! it is such a challenging attempt for me to write this, but i am so intrigued with the prompt and the pairing that i had to give myself a try. i hope i did justice with the prompt. tbh i feel very insecure writing this because i adore @clowningweeb's writings and i just don't want to disappoint her. nevertheless, i hope ei and you all enjoy reading this, and i am always open to criticisms (hit me up on dm/twitter/curiouscat). as always, take care, and enjoy your ride with this one!

Chapter 1: pertama

Chapter Text

"akhirnya," gumam laki-laki muda bernama choi byungchan itu begitu menginjakkan kakinya di bandara pagi ini, di negara yang berada di lintas benua asia dan eropa itu. baru pertama kalinya ini byungchan berlibur di turki. sebuah pilihan yang nggak lazim memang, mengingat choi byungchan sesungguhnya bisa memilih negara manapun sebagai destinasi pilihannya hanya dengan sentuhan jari di ponsel (alias, ya tinggal suruh aja anak buah ayahnya, kurang dari tiga hari pun toh byungchan udah bisa menerima tiket pesawatnya), tapi kali ini berbeda. kali ini semua urusan melancongnya, dari memilih destinasi sampai mengurus visa, byungchan sendiri yang atur semuanya

dua puluh tiga tahun byungchan hidup dibawah kungkungan orangtuanya, dimana dia nggak pernah bisa bebas pergi kemanapun tanpa seizin ayah dan ibunya (bahkan ketika liburan musim panas, byungchan tetap harus menurut pada mereka berdua. bila harus ke paris, maka dia akan ke paris. bila dia harus ke bali, maka dia akan ke bali), mungkin untuk pertama kalinya byungchan merasa bisa menikmati betapa repotnya mengurus liburannya sendiri. ditambah, ada alasan spesial kenapa byungchan memilih destinasi ini: balon udara.

bertahun-tahun, byungchan bermimpi untuk naik balon udara, bermimpi untuk terbang di langit yang begitu tinggi di sebuah kota kecil namun sarat akan keindahan dunia milik sang pencipta bernama cappadocia itu. bertahun-tahun juga dia berusaha memberikan kode kepada ayah ibunya untuk mengajaknya kesana sejak remaja, yang jelas-jelas ditolak mentah-mentah oleh ayahnya,

"gimana kalau nggak aman? kamu jangan aneh-aneh, byungchan,"

begitu kilah ayahnya setiap kali byungchan mengajaknya kesana. dasar kelewat protektif, gerutu byungchan setiap kalinya. memang menyebalkan menjadi anak bungsu dari tiga bersaudara, seakan seluruh perhatian orangtuanya jatuh padanya. tapi kali ini, rasanya byungchan udah dewasa, maka kali ini, byungchan pakai kesempatan solo travellingnya yang udah dijanji-janjikan ayah dan ibunya begitu pendidikan sarjananya selesai untuk kesini.

lamunan byungchan pecah kala dia melihat satu koper besar miliknya yang tergeletak di atas conveyor belt bagasi, makin dekat ke tempat dia berdiri. dengan susah payah byungchan mengangkat koper tersebut dengan tangannya sendiri,

"biasanya ada ajudan ayah yang angkatin koper aku," begitu keluh byungchan sembari menaruh kopernya di atas troli, kemudian dia menggelengkan kepalanya. nggak, nggak boleh ngeluh, aku bisa, begitu batinnya. maka dengan langkah ringan, byungchan berjalan sambil mendorong trolinya keluar dari tempat pengambilan bagasi, berjalan diantara ribuan wisatawan dan warga lokal yang sedang berlalu lalang di bandara istanbul.

 

*

 

byungchan nggak henti-hentinya mengerjap kagum dan menganga melihat langit yang begitu biru dan awan yang begitu putih di tempat dia kini berada. beruntung byungchan memilih untuk pergi kesini di saat musim panas. mataharinya memang terik, tapi anginnya sepoi-sepoi, sehingga byungchan nggak merasa kepanasan di tengah-tengah keramaian tersebut. berkali-kali byungchan mengucap kata "wow" kala pandangannya tertuju ke arah bangunan masjid berkubah biru bernama (yang kalau byungchan nggak salah ingat) masjid sultan ahmed itu, tapi orang-orang lebih sering menyebutnya masjid biru. bangunan itu begitu indah dan megah, sangat kokoh karena juga dibentengi pilar-pilar tinggi. sangat besar sepertinya, byungchan belum tau. byungchan belum masuk ke dalamnya. maka, dengan antusias dan rasa penasaran byungchan melangkahkan kakinya masuk ke dalam bangunan megah berasitektur kekaisaran ottoman tersebut. byungchan nggak henti-hentinya mengucap syukur karena udah dikaruniai dua pasang bola mata untuk melihat keindahan bangunan itu. masih nggak percaya buatnya bahwa bangunan ini dibangun sepenuhnya oleh tangan manusia di zaman dahulu kala. puluhan lampu gantung di dalamnya begitu besar dan megah, pilar-pilarnya berkeramik warna-warni indah dengan pualamnya, dan langit-langit kubahnya dihiasi tulisan kaligrafi arab yang byungchan jelas nggak paham artinya, tapi byungchan paham bahwa tulisan itu mengandung makna religius bagi warga lokal dan wisatawan muslim disana.

byungchan pun ikut mengekori salah satu tur berjalan yang dipandu oleh pemandu yang bisa berbahasa inggris (beruntung byungchan masih bisa mengerti bahasa asing itu, walau seadanya aja), mendengarkan dengan seksama tentang sejarah dan serba serbi bangunan yang menggabungkan unsur konstantinopel dan ottoman tersebut, seakan dibawa hanyut di dalamnya dan membuat byungchan dibawa kembali oleh waktu. selesai mendengarkan, byungchan menikmati dirinya sebentar sambil melihat langit-langit kubah tersebut.

byungchan nggak bisa berlama-lama, karena ternyata masjid itu akan ditutup untuk digunakan sebagai tempat peribadatan. agak kesal sebenarnya, tapi biarlah, byungchan rasa-rasanya udah puas. barulah kemudian dia sadar bahwa dia belum memotret dirinya sendiri di dalam masjid tersebut. ini lah repotnya pergi sendiri, nggak ada yang bisa memotretnya. pada akhirnya, byungchan punya ide untuk memotret dirinya sendiri aja dengan kamera ponselnya. akhirnya dia melepaskan tas selempangnya dari pundaknya, kemudian ditaruhnya dengan hati-hati di belakang kakinya,

"siapa juga yang mau nyopet di tempat ibadah kayak gini," begitu pikirnya. maka kemudian dia pun berdiri dan mengambil fotonya sendiri dengan kamera depan ponselnya, tersenyum lebar sesekali mengambil dari sudut yang berbeda supaya tetap mendapat latar belakang masjidnya. puas berfoto, byungchan kemudian berjongkok guna mengambil tas selempangnya dan byungchan pun tersadar, retsleting tasnya terbuka.

byungchan langsung panik, dirogohnya tas selempangnya itu kemudian digoyangkannya supaya retsletingnya menghadap ke arah bawah, isi tasnya keluar semua. dompetnya hilang. bukan cuma dompetnya yang hilang. peta dan secarik kertas kecil berisi rencana perjalanannya selama seminggu di turki juga raib bersama dompetnya. wajah byungchan pucat pasi sekarang. lidahnya kaku dan kelu, sulit buat dia untuk berpikir jernih saat ini. dalam hatinya, dia meracau marah, bisa-bisanya ada orang berbuat dosa di tempat ibadah sesakral dan seindah ini, begitu pikirnya. beruntung byungchan nggak serta merta membawa paspor dan kartu identitasnya di dalam tas itu. paspor dan kartu identitasnya ditinggal di dalam brankas kamar hotel, lengkap dengan amplop berisi sejumlah uang lira turki sebagai cadangan, satu kartu atm yang untungnya bisa menarik uang dimana saja, dan satu kartu kredit atas nama ayahnya, jadi byungchan nggak sepenuhnya miskin hari itu juga. beruntung juga tiket bus menuju cappadocia dan tiket balon udaranya tersimpan dalam format digital di ponselnya. tapi tetep aja, ini ceritanya dicopet, dan dompet itu juga ada isinya, ada beberapa kartu kredit dan kartu atm atas namanya.

maka dengan gusar byungchan berlari menuju ke depan pintu gerbang dan menghampiri kedua petugas keamanan yang sedang berjaga disana,

"excuse me, i need your help," begitu ucap byungchan dengan bahasa inggrisnya yang nggak terlalu fasih. lima menit berbicara dengan kedua petugas keamanan itu, hasilnya nihil. kedua petugas keamanan itu memiliki kemampuan bahasa inggris yang sangat minim. padahal byungchan udah menjelaskan dengan bahasa inggris level idiot (begitu istilah ayahnya kalau harus berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua pihak), bahkan dilengkapi dengan bahasa tubuh, tapi percuma. yang ada, si kedua petugas jadi sama frustrasinya dengan byungchan. byungchan kemudian menjambak rambutnya gusar,

"aduh ampun deh, nggak ada yang mau tolongin aku apa," doanya langsung didengar. dari belakang, pundaknya ditepuk oleh telapak tangan yang cukup lebar. begitu byungchan menoleh ke belakang, di hadapannya ada seorang laki-laki berperawakan tinggi (rasa-rasanya tingginya sama dengan byungchan). dari raut wajahnya terlihat bahwa dia adalah orang asia, tapi hidungnya sesungguhnya kelewat mancung untuk orang asia. rambutnya disibak memperlihatkan keningnya, dan dia memakai jaket jins serta celana senada.

"orang korea?" begitu tanyanya. baru lah byungchan sadar bahwa barusan laki-laki itu berbicara dengan bahasa yang sama dengannya.

"eh, i-iya," jawab byungchan terbata-bata, masih kaget dengan presensi laki-laki itu.

"coba kamu ceritain kronologis kamu dicopet, nanti aku bantu terjemahin," begitu jelasnya. bisa kah byungchan mempercayai lelaki asing ini? tapi pada akhirnya byungchan kembali mengingat-ingat kronologisnya,

"jadi, tadi waktu aku lagi foto-foto, tasku ditaruh di belakang kakiku,"

"sebentar," potong laki-laki itu, kemudian dia menoleh ke arah ke kedua petugas keamanan kemudian berceloteh dengan bahasa yang byungchan baru pertama kali dengar, kayak bahasa alien. tampaknya laki-laki ini benar-benar fasih dalam berbahasa turki. byungchan masih terbengong-bengong melihatnya,

"terus?" oh. oh. iya juga, ceritanya harus dilanjutin,

"oh iya, terus," begitu terus, sampai byungchan selesai menceritakan kronologisnya yang terus-terusan diterjemahi oleh laki-laki mancung ini. lambat laun, ekspresi garang si kedua petugas keamanan kemudian berubah menjadi senyum. dengan sopan mereka membalas celotehan laki-laki itu, lalu mempersilahkan byungchan dan laki-laki itu ikut berjalan bersama mereka berdua.

"ayo ikut mereka ke kantor polisi terdekat, supaya bisa langsung diurus dokumen-dokumen kamu yang hilang," begitu lanjutnya.

 

*

 

proses pelaporan pencopetan itu memakan waktu yang cukup lama, karena lagi-lagi byungchan serta seungwoo harus menceritakan kronologis pencopetan byungchan. mulut byungchan berbusa. persetan dengan birokrasi, pantas aja ayahnya suka seenaknya menyuruh para ajudannya melakukan hal-hal kecil kayak begini. byungchan juga harus menulis berbagai laporan yang diberikan. prosesnya memakan waktu sampai sore hari. di titik ini, byungchan benar-benar udah kelelahan dan nggak sanggup untuk melangkahkan kakinya lagi.

"phew akhirnya," desah byungchan sambil duduk menyender di kursi dalam trem, laki-laki yang barusan membantunya duduk di sebelahnya, tersenyum,

"emang lama kalau disini ngurus-ngurus begituan, tapi syukur juga bisa selesai," begitu ucapnya. beberapa detik kemudian, barulah byungchan sadar bahwa dia belum tau nama laki-laki yang barusan membantunya ini.

"kita belum kenalan," ujar byungchan polos, sambil mengulurkan tangannya,

"aku byungchan," laki-laki itu kemudian mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat sesuatu,

"byungchan, rasa-rasanya aku pernah dengar nama kamu," begitu ucap si laki-laki, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya, mencoba nggak terlalu ambil pusing perihal pernah mendengar nama byungchan tersebut,

"aku seungwoo. han seungwoo," sebutnya. jadi namanya seungwoo. byungchan mengangguk, sambil menjabat tangannya.

"kamu udah lama tinggal disini?" tanya byungchan penasaran,

"hampir dua tahun. aku sekolah disini," oh wow.

"wow, pendidikan sarjana, kah? atau-"

"pasca sarjana. aku ambil hubungan internasional, kebetulan dapat beasiswa pemerintah buat sekolah kesini, jadi ya," dan byungchan mendecak kagum. otak laki-laki ini berarti encer banget, dong?

"wow, pinter dong," celoteh byungchan, disambut dengan tawa tipis seungwoo, yang hanya mengangkat bahunya,

"dibanding pintar, aku lebih menganggap aku orang yang beruntung," begitu kilahnya,

"beasiswa pemerintah turki mensyaratkan mahasiswanya untuk belajar bahasa turki selama setahun. jadi ya, lama-lama aku fasih juga, sih. awal-awal memang susah, tapi lama-lama terbiasa," lanjut seungwoo lagi. byungchan kembali mengangguk.

"terus, sekarang kamu lagi nggak kuliah?" tanya byungchan kembali. seungwoo menggelengkan kepalanya,

"kan lagi liburan musim panas. tadi aku ke blue mosque iseng aja sebenernya, hitung-hitung refreshing sedikit, sampai akhirnya ketemu kamu," seketika byungchan merasa bersalah. mungkin aja laki-laki ini punya sejuta rencana untuk menghabiskan hari liburannya, tapi malah dikacaukan dengan insiden pencopetan dompet byungchan itu, sehingga laki-laki ini terpaksa menemaninya hampir seharian, bahkan rela mengantarnya ke hotel.

"maaf ya, karena aku rencana kamu hari ini mungkin jadi berantakan," gumamnya pelan, seungwoo menggelengkan kepalanya lagi,

"it's okay, aku nggak ada rencana konkrit hari ini, cuma pengen refreshing aja. lagipula," seungwoo kemudian mendekatkan kepalanya ke byungchan,

"sejujurnya, jarang-jarang aku liat ada orang korea yang liburan kesini. ada sih, tapi sehari-hari ya jarang banget. kamu ada rencana apa sampai bisa liburan kesini?" tanyanya penasaran. byungchan berdeham sebentar sambil melihat pemandangan di luar trem,

"aku mau ke cappadocia, naik balon udara," jawabnya singkat, disertai dengan nada ooooh dari seungwoo,

"cuma buat itu?" tanya seungwoo memastikan kembali,

"iya," dan seungwoo mendecak sambil tersenyum.

"fair enough, memang cappadocia indah banget. aku sendiri belum pernah kesana, mungkin di lain waktu kalau sempat," jawab seungwoo jujur, byungchan cuma mengangguk aja. keduanya hanya terdiam menikmati pemandangan dari luar trem, menikmati kesunyian itu sampai akhirnya seungwoo menunjuk ke arah hotel tempat byungchan menginap,

"itu hotel kamu, bukan? ayo berdiri, kita berhenti disini," serunya sambil berdiri mengajak byungchan bangkit dari kursinya. selesai membayar, mereka akhirnya turun di stasiun yang nggak jauh dari hotel byungchan menginap. seungwoo kemudian mengendikkan bahunya sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong jaket jinsnya,

"harusnya kamu tinggal jalan lurus lalu belok kanan, sih. cuma lima menit jalan, kok," begitu petunjuk seungwoo kepada byungchan supaya byungchan nggak tersasar.

"oke," jawab byungchan singkat, maka seungwoo pun menghela napasnya,

"baiklah, byungchan. aku pulang dulu, selamat berlibur," ucapnya singkat, kemudian berbalik badan.

tiba-tiba, entah apa yang ada di kepala byungchan, dia berteriak memanggil nama seungwoo,

"seungwoo, tunggu!" yang dipanggil pun kemudian menoleh, mengernyitkan keningnya, ada perlu apa lagi sehingga byungchan memanggil namanya?

"kamu-" byungchan menarik napasnya dahulu,

"kamu mau nggak nemenin aku sampai ke cappadocia?hah.

"hah?" kali ini seungwoo yang menganga nggak percaya.

"kalau kamu mau tau, sebenarnya aku udah punya rencana buat seminggu ke depan bakal kemana aja. tapi masalahnya, kertasnya ilang, karena kertas itu ada di dompet aku. intinya, sekarang aku buta banget mau kemana aja," celoteh byungchan jujur,

"terus, ya gitu aku nggak pede bakal bisa kemana-mana sendirian. aku nggak bisa bahasa turki, bahasa inggrisku jelek, dan rasa-rasanya aku butuh guide buat liburan aku ini," lanjutnya lagi. kali ini seungwoo mendekatkan dirinya kembali ke byungchan, paham,

"mumpung kamu lagi liburan juga, nggak ngapa-ngapain, mau jadi guide aku, nggak? lagian aku yakin kamu udah tau seluk beluk kota ini, dan kamu bisa bahasa turki juga. bahasa inggris kamu juga lancar. untuk soal biaya, tenang, semua biaya kamu aku yang tanggung, dari makan, transport, semuanya, sampai ke cappadocia-"

"bukannya kamu barusan dicopet? emang kamu masih megang uang?" sanggah seungwoo nggak percaya. biar bagaimanapun, dia sangsi anak se-muda ini mampu menyimpan uang banyak di kantongnya,

"banyak yang nggak kamu tau soal aku, seungwoo," begitu ucap byungchan, seakan byungchan memang punya sesuatu yang seungwoo belum ketahui. maka, seungwoo hanya sanggup mengangguk,

"intinya, tenang aja. tugas kamu cuma nemenin aku selama disini. mau, kan?" ajak byungchan final. sesungguhnya, ini di luar rencana dan impulsif banget, jarang-jarang byungchan bisa begini. sama orang asing pula, baru dikenalnya dalam hitungan jam. maka dari itu, byungchan sangat ikhlas kalau seungwoo menolak ajakannya, kalau seungwoo nggak mau-

"oke," oke. sebentar. apa?

"oke, aku mau," dan byungchan tertegun. laki-laki ini barusan mengiyakan permintaan nggak terduganya itu. seungwoo cuma tersenyum,

"asal kamu yang tanggung biayanya. nggak ada ruginya juga sih, nemenin kamu," lanjutnya sambil melipat tangannya, tersenyum. byungchan langsung salah tingkah, karena benar-benar, laki-laki ini senyumnya manis.

"mau dijemput jam berapa besok?" tanya seungwoo spontan. byungchan kelabakan sendiri, sebelum akhirnya dia berdeham dan berpikir sebentar,

"jam sembilan pagi?" seungwoo cuma mengangguk, sambil menyentuh dagunya,

"oke. jam sembilan pagi aku jemput kamu di hotel,"

"oke," dan hening untuk sementara. dalam hatinya, byungchan masih nggak percaya dengan dirinya sendiri bahwa dia barusan mengajak laki-laki asing untuk berlibur bersamanya. terlebih, ini nggak main-main. ke cappadocia. ke tempat yang selama ini dinanti-nantikannya sejak tingginya bahkan belum mencapai seratus lima puluh sentimeter kala itu.

"baiklah, aku pulang dulu, byungchan. sampai ketemu besok," byungchan nggak sempat lagi membalas perkataan laki-laki bernama han seungwoo itu karena tau-tau, begitu dia mendongak, langkahnya udah terlalu jauh darinya. pada akhirnya, byungchan menurunkan bahunya dan berbalik badan berjalan menuju hotel.

malam itu, ditemani dengan seruput mi ramyun instan dan segelas susu cokelat, byungchan kembali merenungkan keputusannya barusan. udah terlambat, waktu nggak bisa diputar lagi. sekarang yang byungchan bisa lakukan cuma pasrah dan menerima perlakuan impulsifnya barusan. dia benar-benar berharap seungwoo adalah orang yang baik, paling nggak, dari sorot matanya, byungchan tau bahwa seungwoo bukan tipe orang yang akan menipunya di tengah jalan. ya semoga aja nggak ada yang aneh-aneh, gusarnya. tapi byungchan mencoba meyakinkan dirinya sendiri kembali. saat ini, dalam doanya, harapannya cuma,

"semoga aku bisa menikmati liburan ini," ucapnya dalam hati. dan mungkin, dari kehadiran seorang han seungwoo, byungchan bisa berbagi kenangan dan suka citanya dalam liburannya kali ini. atau mungkin, ini baru rencana sang pencipta aja, mungkin ada maksud yang belum diketahui byungchan saat ini, tentang bagaimana han seungwoo dihadirkan dalam kehidupan choi byungchan secara tiba-tiba.