Work Text:
Yoshitaka mendengar bunyi nyaring berasal dari dapur. Kelopak mata ia usap pelan sebelum mendelik ke beker yang berada di sudut meja, jarum jam menunjuk ke angka tiga.
Selimut Yoshitaka sibak dengan kasar, selanjutnya sambil mengusap-usap rambutnya yang tidak beraturan ia berjalan menuju sumber suara; dapur apartemennya. Walau dalam hati Yoshitaka tahu benar siapa pelakunya, ia tetap harus memastikan.
Benar saja yang Yoshitaka batin. Dari sudut matanya ia dapat melihat Taichi lengkap dengan apron dan sepasang sarung tangan siap memanggang cookies bertabur topping cokelat ke dalam oven.
Yoshitaka yang pertama kali membuka suara, "Taichi. Demi Tuhan, ini pukul tiga malam! Apa yang kau lakukan?"
Tidak perlu waktu lama untuk Taichi membalas sambil menatap tajam Yoshitaka, "Kau tidak lihat?" ada jeda yang Taichi ambil untuk menarik napasnya kasar, "Aku merayakan hancurnya rencana dan jam tidurku."
Kaki Yoshitaka langkahkan untuk beringsut mendekati posisi Taichi. Sedangkan Taichi sendiri tetap menyibukkan diri merapikan perabot yang sebelumnya telah ia gunakan sembari menunggu cookies panggangannya matang.
"Hei, kita bahkan baru menerapkan social distancing belum genap sepuluh hari, Taichi. Aku tau dirimu lelah, dan untuk itu kau butuh tidur. Bukan stress baking seperti ini," Yoshitaka mengelus pelan punggung Taichi, mencoba menenangkan sosok dihadapannya.
Taichi menghentikan semua perbuatannya, kali ini lepas sebuah helaan napas, "Aku ingin ke akuarium. Aku ingin melihat ubur-ubur," Yoshitaka hapal sekali bahwa hal ini merupakan kebiasaan Taichi ketika yang bersangkutan sedang jenuh.
Kepala di angguk pelan, Yoshitaka turut mengamini ucapan Taichi, tangan ia gunakan untuk menghadapkan arah pandang Taichi ke dirinya, lalu dahi ia tempelkan ke milik lawan bicaranya, "Aku mengerti. Setelah semua pandemi ini selesai, aku akan membawamu ke akuarium, kita bisa melihat ubur-ubur seberapa lamapun kau mau," Taichi mengiyakan dalam diam.
Butuh beberapa detik sebelum Yoshitaka menyadari posisi keduanya saat ini sangatlah canggung. Pelan tapi pasti semburat merah tercipta di pipinya.
Bunyi oven menandakan panggangan yang telah selesai menjadi distraksi. Tiga langkah cepat Yoshitaka ambil untuk mundur, lengan digunakan untuk menutupi pipinya yang memerah.
"A-ah, sudah matang, ya? Perasaan baru saja tadi kau memasukkannya ke dalam oven," diiringi oleh tawa sukar, Yoshitaka mencoba mengalihkan topik.
Taichi dengan sigap mengeluarkan hasil panggangannya dari oven, kemudian mengalihkan pandangannya ke Yoshitaka, "Sebelum kau kembali tidur, bagaimana? Mau cookies?"
"Tentu, tetapi kau habis ini juga harus tidur, dirimu butuh istirahat. Oke?" Yoshitaka dengan cepat mengiyakan pertanyaan Taichi, dan membatin tidak habis pikir bagaimana pujaan hatinya satu ini dapat merubah sikap secepat itu. Namun sekarang ia tidak ingin terlalu memusingkan hal tersebut, ia sibuk menikmati momen berharga yang terjadi diantara mereka berdua.
