Actions

Work Header

Sorga, Neraka, dan Kita di Antaranya

Summary:

Tempat itu bukan surga, karena Peter ada di sana.

Tapi James berada di sana pula, maka tentunya juga bukan neraka.

Di mana kita, dan mengapa kita di sini?

Notes:

The Promised Neverland adalah milik Kaiu Shirai dan Pozuka Demizu. Tidak ada keuntungan finansial diambil dari cerita ini, walau demi apapun saya mendapatkan kepuasan batin melimpah-limpah karena berhasil menyelesaikannya. Terima kasih.
.
.
.
editor: arianadez
art: _anshaccan

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“… apa kau menyesalinya?”

“Ya ... dan tidak.”

“Aku pun demikian. Lebih baik kita memiliki sedikit penyesalan.”

[Emma—Kaoru Mori]

.

.

.

Satu hal yang pasti: tempat itu bukan neraka.

Tidak ada api pemberangus raga, tidak pula jiwa-jiwa meratap-rana. Hanya padang rumput, menghampar ke seluruh mata angin, tinggi bilah-bilah daunnya setara seakan selalu dipelihara. Langit, biru hidup dengan awan bergumul-gumul, melengkung tinggi di atas kepala. Tiada gunung maupun bukit. Hanya tanah rata.

Angin berembus, sejuk semerbak membawa kenangan dari masa lama. Tentang bermain petak umpet di antara berbaris-baris kain putih. Tentang harum air yang menyelubungi udara. Gelak suara tawanya menggema, melintasi ruang waktu hingga akhirnya menguap di bawah hangat sang surya.    

Ah, betapa keindahan sederhana ini begitu sempurna. Tidak ada satu kemewahan pun di negeri fana, dengan segala gelimang pesonanya, dapat mereplika barang secuil keelokan ini—keelokan absolut yang surgawi.

Meskipun, Peter tahu, tempat ini pun bukanlah surga. Tidak mungkin surga, sebab Peter ada di sana. 

“Peter.”

Jantungnya yang tak lagi berdebar menggelenyar nyeri, napasnya yang tak lagi ada tercekat di tenggorokan. Sekonyong-konyong Peter merasakan suatu keberadaan di belakang punggungnya, keberadaan yang seperti hantu dari masa lalu meskipun kali ini terdapat kemafhuman bahwa itu bukan hantu. Ia nyata—kulit pucat rembulan, bibir penuh yang meliuk dalam senyuman, mata sekilau galaksi.

“Apakah itu kau, Adikku?”

Siapa lagi kalau bukan aku, batin Peter, menolak untuk menjawab atau sekadar menolehkan kepala. Keberadaan itu—orang itu—bergerak mendekatinya, irama langkahnya anggun tertata sebagaimana ia dulu melangkah melintasi lorong-lorong panjang rumah megah mereka.

Mereka begitu dekat sekarang. Peter dapat merasakan hasrat orang itu, menjarumi kulitnya, menuntut perhatian.

“Peter, ini aku. Tidakkah kau mengingat—”

“Mana mungkin aku melupakanmu?”

Sahutan itu terucap sebelum Peter sempat menahannya, meluncur melewati bibir dan pecah di antara mereka sebagai rasa rindu tak tertanggul. Sebuah dekapan melingkupinya dari belakang, kehangatannya melontarkan Peter kembali ke hari-hari yang tak akan pernah terulang. Ia berlari di antara baris-baris jemuran putih melambai-lambai, menoleh, terkikik geli melihat kilasan sepatu putih, kemeja putih, rambut pirang keperakan. Harum air menguap di udara. Kelebat riuh kain bagai layar di samudera.

Sepasang lengan kuat, mendekapnya seperti ajakan pulang.

Tertangkap kau, tikus cilik! Aku akan memakanmu sekarang!

Haha! Jaaame, aduh, sudah dong! Geli—hahaha!

“James.”

Bahkan setelah sekian lama, aroma kakaknya tetap sama. Rambut James menggelitik pipi Peter seperti bunga bulu rerumputan.

“Aku kangen sekali padamu, Peter,” bisiknya, suaranya berat, terbebani isak. Peter memejamkan mata.

Begitu pula aku.

Tempat itu hanyalah sebuah padang rumput, menghampar ke seluruh mata angin, tinggi bilah-bilah daunnya setara seakan selalu dipelihara. Di atas, langit biru tumpah ruah bersama gelombang awan. Tidak ada gunung maupun bukit. Hanya tanah rata.

Tempat itu bukan surga, karena Peter ada di sana.

Tapi James berada di sana pula, maka tentunya juga bukan neraka.

Di mana kita, dan mengapa kita di sini?

.

.

.

Saat air dingin memukul keluar seluruh udara di dalam paru-parunya, saat arus sungai itu menghempasnya hingga James tidak tahu lagi mana dasar dan mana permukaan, ia berpikir:

Semoga aku hanyut jauh dan mereka tidak pernah menemukanku.

Timah panas telah melubangi punggungnya, air membekapnya hingga bernapas merupakan suatu kemustahilan. Ia akan mati, segera, dan jenazahnya akan tampak begitu tak bermartabat; kuyup oleh darah dan berbuih-buih di mulut. 

Jika selongsong tak bernyawa itu dipersembahkan kepada Peter; anak itu akan ketakutan. Mata kekanakannya yang belum pernah mengenal kematian akan kehilangan kepolosan. Dalam keheningan, tanpa perlawanan, sesuatu yang lembut dalam diri anak itu akan remuk redam. Sesuatu yang, hingga momen itu, tidak disadarinya ada.

Air mata menitik di ujung mata James, berkelindan dengan air. Dia telah mengalaminya juga, rasa remuk redam itu; ketika menyaksikan anak-anak di dalam tabung, mata mereka lebar dalam pelotot ngeri. Betapa James bersumpah untuk menghindarkan Peter dari pengalaman serupa, betapa ia ingin agar beban ini hanya menjadi miliknya, agar kelak ketika Peter menerima tampuk tanggung jawab ini, dunia yang dikenalnya hanyalah yang berdiri di atas keadilan.

Betapa segalanya telah berbalik menyerang mereka berdua.

Ah, Peter. Sungguh James terlalu menyayanginya, rasa sayang dan percaya yang buta hingga kini menjerumuskan mereka dalam kejatuhan lebih dalam. James akan mati, dan Peter akan mengemban kutukan ini di kedua bahu mungilnya, belum lagi dewasa. James akan mati dan Peter harus menanggung darah itu di tangannya. 

Peter tidak akan pernah memahami apa yang dicita-citakan James untuknya. Jika kelak anak-anak martir berhasil mengikuti semua petunjuk Minerva, Peter tidak akan menyambut mereka di gerbang sebagai kawan. Ia akan menatap mereka penuh kebencian, sebagaimana anak-anak itu pun akan membencinya. Rantai dendam yang tak terputus, bahkan jauh setelah kebebasan telah dimenangkan.

Dia tidak menyesali segala yang telah ia berikan kepada anak-anak martir, tapi ia menyesali segala yang belum ia berikan pada Peter. Dalam kegagalannya mewujudkan surga, James telah menciptakan neraka baru bagi Peter—dengan bara lebih panas dan tombak-tombak lebih tajam daripada yang seharusnya ia tanggung.

Dingin air sungai tak lagi terasa. Panas darah menguar dari lubang luka. Di tengah rasa sakit menjelang ajal, hanya satu hal yang terus berputar-putar di kepalanya:

Maafkan aku, Peter. Maafkan aku, maafkan aku—

.

.

.

Dalam kenangan Peter, James adalah sosok elegan tanpa cela.

Saat menarik James dari lembar-lembar memorinya, ia akan melihat seorang pemuda tegap, terhormat, anggun, dan berkarisma. Seorang Ratri ideal, berjalan seimbang di antara peran pemimpin dan penjaga. Bahkan lama setelah ia mangkat pun Peter masih meneladani pembawaan dirinya. Bahasa tubuhnya. Cara bertuturnya.

Bahkan lama setelah ia mangkat pun, James selalu menjadi guru terbaiknya.

“Ayo, Peter. Sebentar lagi kita sampai!”

James menarik tangannya penuh semangat, air mukanya berbinar-binar saat memimpin Peter ke tujuan mereka—sebuah pohon akasia di garis cakrawala, satu-satunya benda tegak di hamparan rumput ini selain mereka berdua.

Betapa janggalnya. Peter tidak pernah mengingat James seperti ini, begitu luap oleh gairah petualangan, nyaris kekanakan. James-nya dulu adalah danau tenang di bawah sinar rembulan; tapi kini tiba-tiba saja seekor lumba-lumba meloncat keluar, mengusik datar permukaannya hingga terbentuk gelombang ricuh tak terhenti.

“Kau penuh semangat sekali,” celetuk Peter, retoris. James menoleh, pipinya merah setelah menyeret Peter menyeberangi padang seharian, senyumnya membentuk dua dekik di pipi.

“Tentu, karena adikku di sini,” sahutnya, matanya melebur dalam kelembutan. Merasa tidak berhak menerimanya, Peter melayangkan pandang ke siluet pohon akasia, masih ratusan langkah lagi di depan mereka meskipun rasanya telah begitu dekat. Akankah mereka mencapai pohon itu, ataukah jarak ini akan terus bertahan, seperti antara Tantalus dan pohon buahnya?

“Kau lelah, Peter?” James menariknya mendekat hingga mereka berjalan bersisian. Telapak James, dulu melingkupi telapak Peter seperti cangkang pelindung, kini telah seukuran. James menyisipkan jemarinya di antara jemari Peter, mengeratkan gandengan seperti jalinan kepang.

Ada apa, Peter? Kau lelah? Kemarilah, biar kugendong dirimu.

Ngg … Tidak apa-apa. Aku masih kuat.

Jangan bohong. Kakimu sakit, kan? Sini, kugendong saja dulu. Kalau sudah baikan, kau boleh jalan lagi. Oke?

“Tidak. Aku baik-baik saja.”

Tapi James tetap berhenti berlari. Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah santai, bahu bergesekan, langkah sama tegap sama panjang. Sesekali Peter melirik James, mempelajari profilnya. Hidung lurus ciri khas keluarga mereka, bulu matanya, lekuk-lekuk di telinganya, semburat merah jambu lehernya. Bersamaan dengan gelitik angin di tengkuk, hadirlah pemahaman bahwa pria ini memang benar James-nya. 

James yang membawanya berjalan-jalan ke dalam hutan lalu menggendongnya di punggung dalam perjalanan pulang. James yang mengajaknya bermain tikus dan kucing di antara jemuran. James, membangunkannya di tengah malam, menggendongnya ke menara tertinggi untuk melihat bintang. 

Kenangan-kenangan yang terkesampingkan itu merekah bagai tunas di musim semi. James tertawa lepas. James mencolek krim kue lalu megoleskannya ke hidung Peter. Mata berkilauan, bukan hanya oleh wibawa tapi juga kenakalan. James adalah pemimpin ketiga puluh lima dari klan Ratri, tapi ia juga lebih, lebih dari itu.

Dia tidak pernah berubah. Peter hanya tumbuh dewasa …

… dan tragedi dalam pendewasaan adalah melupakan.

“Ah, di sinilah kita akhirnya.”

Mereka mencapai pohon akasia ketika matahari mulai condong ke barat. Rupanya pohon itu tetap di tempat dan rupanya mereka bukan Tantalus. James mengelilingi pohon yang tak seberapa besar itu dengan penuh keingintahuan, meraba-raba batangnya yang bergetah, mengira-ngira usianya seolah usia masih berarti di tempat itu.

Peter duduk di ujung bayang-bayang daun, menyaksikan matahari perlahan turun.

Tu sais, quand on est tellement triste on aime les couchers de soleil.” 

“Hm? Ada apa, Pete?” James menghentikan penyelidikan usia pohonnya untuk duduk di samping sang adik.

Peter mengedikkan bahu. “Bukan apa-apa. Hanya teringat sebuah cerita yang pernah kaubacakan untukku.”

“Ah, aku ingat cerita itu. Pangeran Kecil, bukan? Il était une fois un petit prince qui habitait une planète à peine plus grande que lui, et qui avait besoin d'un ami ....

“Mmm. Pangeran Kecil tinggal di planet yang sangat kecil, hingga jika ia ingin melihat matahari terbenam, ia tinggal menggeser kursi beberapa langkah.”

“Suatu hari, ia menyaksikan matahari terbenam sampai empat puluh empat kali.”

“Mmm.”

Kau tahu, bila kita sangat sedih, kita senang melihat matahari terbenam.

Matahari tenggelam sambil berdarah-darah, merahnya memburat di rerumputan seperti noda yang tak terhapus. Tapi ia akan terhapus, nanti, jika malam tiba. Padang rumput akan berhenti membara, digantikan malam segelap mulut serigala.

James menyisipkan rambut Peter ke belakang telinganya. “Apa kau sedang sedih, Peter?”

“Apakah kau sangat sedih?” Aku bertanya, “ketika kau menyaksikan matahari terbenam empat puluh empat kali?”

Tapi Pangeran Kecil tidak menjawab.

.

.

.

Tanpa bertanya pun James mafhum bahwa ia bukan yang pertama kali tahu. 

Klan Ratri bukanlah sekadar kerbau buta yang mengerjakan tugas tanpa pernah bertanya-tanya. Dalam barisan tiga puluh tiga orang di antara Julius dan dirinya, beberapa pasti pernah sama penasaran. Beberapa pasti pernah menghadapi kenyataan.

Jika tidak ada yang pernah berusaha mematahkan belenggu ini sebelumnya, itu bukan karena mereka tidak tahu. Mereka tidak mau.

Barangkali terlalu peka justru membuat seseorang mudah perih dan ngilu. Rasa itulah yang merongrong James semenjak membaca surat-surat pengakuan Julius—perih ngilu tak terampu, seolah dosa-dosa merajang bagian paling lembek dari hatinya dengan sembilu. Diam-diam ia dapat memahami ketika seseorang ingin mengelak dari penderitaan itu. Ketika seseorang membunuh nurani mereka sambil menipu diri dan anak-cucu mereka bahwa kita melakukan ini semua demi dunia.

Nasib anak-anak itu toh tidak lebih baik dari jutaan anak lain di dunia ini. Tidak ada makhluk pemakan manusia di sini, tapi manusia tidak pernah berhenti membinasakan kaumnya sendiri. Mengibarkan bendera keadilan bagi anak-anak di dunia sana barangkali sama dengan memperburuk nasib anak-anak yang telah menderita di sini. Membawa anak-anak itu kemari barangkali tidak menjamin mereka memperoleh kedamaian duniawi.

Klan Ratri terkutuk seribu tahun lamanya, tapi pendahulunya memilih dikutuk daripada mendorong dunia ke ngarai kebinasaan yang nyata. 

James mengerti.

Tapi ia tidak bisa.

Melindungi anak-anak di dunia ini sembari mengumpankan anak-anak di dunia sana tidak terasa seperti sebuah kepahlawanan. Suara hatinya terus menuntut dari imaji mata kosong anak-anak di dalam tabung. Kepekaan ini adalah stigmata-nya, berkah yang ia bayar dengan lara.

“James, coba kau pikir. Takdir manusia ‘kan sudah digariskan sejak sebelum lahir. Jadi, kalau anak-anak itu sudah ditakdirkan untuk berkorban, bukankah menolong mereka justru menyalahi takdir?”

Peter berlutut di samping meja James, kedua lengannya terlipat di meja menyokong dagu. Itu adalah posisi favoritnya sejak dulu, hanya saja belakangan ia selalu berlutut di sana untuk berdebat dengan James alih-alih minta dimanja-manja.

James hanya tersenyum, mengusap helai-helai rambut sang adik. Dari mulut orang dewasa, kata-kata itu akan terdengar keji. Dari mulut anak kecil, kata-kata itu hanya mengiris hati. Miris, sebab mereka tidak benar-benar paham apa yang mereka ucapkan. Bagaimana mungkin ia paham, jika dunianya dibentuk oleh orang-orang dewasa yang mencekokinya dengan dusta?

“Peter, sudah larut. Kenapa kau masih di sini? Tidurlah.”

Peter mengerutkan alis. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Ini baru jam sepuluh. Aku bukan anak kecil lagi.”

Tapi kau memang anak kecil. Dua belas tahun bukan waktu yang cukup untuk menjadi dewasa. James hanya melanjutkan membaca buku di hadapannya, menyusuri kata-kata kuno yang tergurat di dalamnya.

“James!”

“Ya, Peter?”

“Jawab aku. Kenapa kau ingin sekali membahayakan dunia kita?”

Tuduhan berat dari seorang bocah.

“Peter,” James mengangkat kepala, berusaha menahan desah. “Memang benar takdir sudah ditentukan, tapi kita tidak pernah tahu takdir apa yang menanti setiap orang. Bagaimana jika sebaliknya—anak-anak itu ditakdirkan untuk selamat, tapi aku tidak menolong mereka? Bukankah itu menyalahi takdir?”

“Takdir mereka sudah jelas. Sudah tertulis berulangkali selama seribu tahun.”

“Hmm … Mungkin sekarang saatnya takdir itu berubah?”

“Bagaimana kalau ternyata takdir tidak berubah?”

“Setidaknya aku tidak menyesal pernah mencoba.”

Peter merengut. Dulu, pernah ada masa di mana James menganggap ekspresi itu menggemaskan. Kini wajah muram Peter adalah tusukan lain ke jantung, mengingatkan James pada ketidakberdayaannya sendiri.

Peter seperti kuncup bunga mati suri di tanah celaka. Daunnya kotor berbercak mala, kelopaknya menghitam oleh jelaga, tapi segala itu belum sungguh-sungguh menyerap ke akarnya. Seandainya bisa, James ingin mencuci bersih segala racun itu dan menyirami Peter dengan pemahaman berbeda sekarang juga. Masih belum terlambat. Hidup anak itu belum benar-benar dimulai.

Seandainya bisa.

Tapi pemahaman ini begitu berbahaya. Ketika James memutuskan untuk menerimanya, ketika kawan-kawannya berteguh hati mendukungnya; mereka sadar telah mengalungkan tali gantungan ke leher sendiri. Salah langkah sekali dan mereka akan mati. James bahkan belum sanggup melawan terang-terangan, hanya mengirim petunjuk-petunjuk kecil seperti Hansel di hutan menebar serpihan roti. Bagaimana mungkin James membahayakan Peter seperti itu? Bagaimana mungkin James membiarkan Peter menggadaikan jiwa kanak-kanaknya, belum lagi mekar remaja, demi menanggung perih dan ngilu ini bersamanya?

“Kau tolol, James.”

“Jangan berkata seperti itu padaku, Pete.”

Pipi Peter memerah. “Aku akan mengatakan apapun yang kumau! Kau tolol, egois, sinting, gila! Kau akan membawa kita semua menuju kehancuran, dan kau sama sekali tidak peduli!”   

Suatu saat kelak, Peter akan paham. Kelak, James akan menuntunnya agar mereka melangkah bersisian. Tapi tidak sekarang.

“Ya. Maafkan aku.” 

Kelak Peter akan membayar juga harga untuk sebuah rasa peka. Tapi sekarang belum waktunya.

.

.

.

Kemudian, mereka akan menyerahkan kamu kepada penganiayaan, dan akan membunuhmu, dan kamu akan dibenci oleh seluruh bangsa karena nama-Ku.

[Matius 24:9]

.

.

.

“Pete, lihat.”

Ke depan hidung Peter, James menyodorkan sebuah kerajinan tangan. Beberapa utas rumput yang saling dikepang, warna kuning dan hijau silang-menyilang, hingga membentuk semacam jalinan gelang. Pantas dari tadi James diam saja, ternyata ia sedang asyik sendiri.

“Bagus,” komentar Peter, menaikkan sedikit ujung bibirnya, merasa seperti seorang ibu memuji prakarya balita. 

James terkekeh. “Ini ikat rambut. Boleh kuikat rambutmu, Peter?”

“Mm.”

Hari telah berganti. Di timur matahari terbit lagi, tapi mereka masih enggan beranjak dari pohon akasia. Bayang-bayang pohon ikut bergetar ketika angin menggodai dedaunannya. Suara desah daun-daun saling bergesekan, halus rumput di bawah telapak tangan, dan jemari James menelisik di antara helai rambutnya menghipnotis Peter dalam kelenaan.

“Dari dulu kau tidak suka memotong rambutmu,” James menyeletuk, menyisir pirang Peter dan membaginya menjadi tiga bagian. “Kau ingat? Setiap kali tiba waktunya bercukur, kau akan menangis. Pada akhirnya semua menyerah dan membiarkanmu memanjangkan rambutmu.”

Peter mendengkus. “Aku tidak suka tukang cukur kita dulu. Dia terlalu banyak omong. Setiap kali menggarap rambutku, ada saja yang dikomentarinya.”

“Oh, ya? Aku baru tahu!” James tergelak. “Apa dia masih mencukur sampai sekarang, sehingga kau tetap memanjangkan rambutmu?”

“Tidak. Dia sudah lama pensiun. Sekarang aku memanjangkan rambut karena aku menyukainya.”

Atau lebih tepatnya, ia memanjangkan rambut karena sosok yang menyapanya di cermin saat rambutnya tercukur pendek membuatnya pedih. Hidung itu. Garis rahang itu. Mata terang itu.

Betapapun terpisah, akan selalu ada hal-hal yang mengingatkanmu pada saudara sedarahmu.

James bersenandung pelan sambil terus mengepang. Tiba-tiba ada rasa rawan menyergap hati Peter, menyadari kembali—seakan kesadaran kemarin hari hanyalah mimpi dan kenyataan baru hinggap detik ini—bahwa James kini bersamanya. Bahwa jemari yang membelai kulit kepalanya sungguh-sungguh jemari kakaknya, bahwa kini mereka bersua lagi meskipun Peter tak pernah berani sekadar memimpikannya.

Kini ia tidak perlu lagi pedih menyaksikan segala yang mengingatkannya pada James. Ia sudah di sini dan Peter tidak perlu merindukannya lagi.

“Kau tahu, di dunia itu, ada seorang anak yang sangat mirip denganmu.” Sekonyong-konyong, imaji seorang anak laki-laki terlintas di benak Peter. Bocah pirang dengan kelembutan di matanya, yang membawa dirinya dalam bahasa tubuh begitu familiar, yang membangkitkan kembali William Minerva hingga Peter sempat bertanya-tanya adakah kakaknya terlahir kembali.

Tapi menjadi tumbal bukanlah kutukan seorang Ratri.

Gerak mengepang James terhenti sejenak. “Benarkah? Kau mengenalnya?”

Jika kau terlahir di Grace Field, mungkinkah kita akan berteman?

“Tidak. Aku cuma tahu. Dia dan kedua temannya memimpin pemberontakan anak-anak.”

“Ah.”

“Dan mereka berhasil, ngomong-ngomong. Kurasa ini berarti aku harus menyelamatimu juga, huh?”

Entah reaksi macam apa yang ia harapkan. Tawa lega James, barangkali, atau embusan napas puas atas sebuah tugas yang tertunai. Namun James hanya terdiam lama. Bayang-bayang mulai bergeser menjauhi matahari, tak ada suara di padang itu selain napas mereka berdua. Saat akhirnya James bertanya, suaranya terdengar begitu rapuh seakan angin telah lama melubanginya. 

“Tahun berapa?”

Tahun berapa kau mati, Peter?

“Dua ribu empat puluh tujuh.” Peter tak perlu menoleh untuk membaca raut kakaknya; tercabik antara terkejut, bangga, dan duka. Sukacita atas kebebasan anak-anak itu—kurang dari dua puluh tahun semenjak James menebar petunjuk pertamanya—tentu tak terelakkan. Tapi ia tak juga menggerhanai kesedihan. 

Bagi James, James yang lembut hati dan menghormati kehidupan, Peter harusnya tidak mati secepat itu.

“Seandainya kau ikut merayakannya bersama mereka.”

“Tidak perlu. Itu bukan pencapaianku.” Dia bukan lagi kanak-kanak yang bisa memulai lembaran baru tanpa terbayang cerita di lembar-lembar lalu.

Kepangan telah selesai. James mengikat ujung rambut Peter dan seketika Peter merasakan kepalanya begitu ringan. “Apakah mereka menginginkannya? Merayakan kemerdekaan itu bersamamu?” Apakah kau mati sebagai kawan, atau lawan?

Mari kita ubah takdir kita. Mari hidup bersama-sama.

“Entahlah,” Peter terkekeh kasar. “Aku tidak memahami jalan pikiran anak kecil.”

Perlahan, James menyandarkan dahinya di bahu sang adik. Desahannya menyisip melewati kain kemeja Peter saat ia berbisik, “Kurasa mereka menginginkannya. Anak-anak mampu melakukan hal-hal di luar dugaan orang dewasa.” 

Seperti memaafkan demi melepaskan diri mereka sendiri dari belenggu dendam. Seperti membuka mata di pagi hari dan percaya bahwa hari ini adalah awal kehidupan baru.

“Entahlah, Jame.”

Anak perempuan itu menggertakkan gigi. Seseorang menekan luka di lehernya. Mengapa mereka berusaha begitu keras untuk menyelamatkannya? Mengapa mereka nampak begitu khawatir? 

Peter tidak dapat lagi mengerti semua itu. Ia adalah Peter Pan dalam jubah merah, telah menua dengan membuang segala keajaiban kanak-kanak; dan jikapun ia berusaha, keajaiban itu tak akan kembali.

.

.

.

“Smee, apa kita bisa membangun sebuah planetarium di Goldy Pond?”

“Planetari—James, jangan meminta yang aneh-aneh.”

“Tidak perlu terlalu mewah, tanpa teleskop sungguhan pun tak apa. Cukup dengan proyektor bintang dan miniatur planet-planet.”

“Ya, kalaupun kau minta teleskop, mana mungkin kita bisa memasangnya di sana,” Smee memutar bola mata, “Lagipula, kenapa tiba-tiba ingin planetarium?”

“Peter suka melihat bintang.”

“Ack, tentu saja Peter. Seperti arsitektur ala desa boneka itu untuk Peter juga. Serius, kau ini mau membuat desa perlindungan, atau taman bermain untuk adikmu?”

“Jangan begitu. Sebagian besar anak-anak di sana seumuran Peter. Mereka akan lebih nyaman tinggal di desa yang seperti taman bermain, daripada bangunan minimalis modern. Bukannya desain awalmu jelek,” James cepat-cepat menambahkan sambil tersenyum manis ketika Smee membuka mulut, meradang, “tapi hanya … kurang sesuai dengan pengguna sasaran.”

“Dan tidak sesuai selera Peter.”

James tertawa, mengangkat kedua tangan tanda menyerah. “Dan tidak sesuai selera Peter, ya.”   

“Kau benar-benar kelewat memanjakannya,” Smee menggerundel, tapi ia toh membuka kembali blueprint hologramnya. Dengan sentuhan jari ia menandai titik-titik kosong di lahan Goldy Pond, memasukkan data perhitungan luas dan rancangan kasar bangunan.

“Memang sedikit memaksa, tapi kurasa kita bisa membangun planetarium kecil di dekat jalur rahasia nomor 6. Atau lebih baik—kita bisa menyembunyikan jalur itu di bawah planetarium. Bagaimana?”

“Sempurna, Smee. Kau memang arsitek terbaikku.”

“Tidak perlu menjilat begitu, Bos Minerva.”

“Hei, aku tulus!” James menampar belakang kepala sahabatnya. Mereka berdua terkekeh-kekeh. Hanya di balik pintu tertutup ini saja, mereka bisa melunturkan formalitas antara atasan dan bawahan demi mendalami kembali siapa mereka sesungguhnya—sepasang sahabat, bertemu di masa kuliah dan bersumpah untuk saling menjaga.

“Tapi James, kau serius akan merekrut Peter suatu hari nanti?” Smee mendorong kacamatanya, sebuah kebiasaan jika ia mengangkat topik agak canggung.

“Tentu saja. Kenapa tidak?”

“Yah ....” Smee mengangkat bahu, menujukan pandangannya ke rak buku di belakang punggung James alih-alih lurus ke mata sang lawan bicara. “Kau tahu. Peter agak ... berbeda darimu, ‘kan?”

“Tidak juga. Dia seperti itu karena dia tidak tahu. Sejak kecil orang-orang mengajarinya hal yang salah.”

“Kau menerima didikan yang sama dan tidak berpikir demikian.”

“Hmm, kurasa karena aku sudah bertemu banyak orang. Orang-orang baik sepertimu misalnya,” James menyikut lengan Smee menggoda. Pria itu menyunggingkan senyum tipis, menggeleng.

“Cuma kau yang bisa bilang begitu. Orang lain akan menyebutku berandal dan kau malaikatnya.”

James benar-benar tergelak. “Ah, itu karena mereka belum kenal dirimu saja,” sangkalnya. Ia menengadah menatap bentangan blueprint di hadapan mereka, tersenyum dalam pendar cahaya biru. “Peter juga begitu. Matanya masih tertutup, karena dia belum tahu.”

“Kau yakin dia akan berubah?”

“Aku percaya pada Peter.” 

Di benak James sebuah desa tersusun bata demi bata, aman dan tersembunyi seperti desa peri dalam ceruk rahasia. Dan di jalanannya yang terbuat dari batu-batu bulat, meliuk elok di antara rumah-rumah mungil, Peter berlarian sambil tertawa-tawa, bergandengan tangan dengan anak-anak sepantarannya.

“Baiklah. Aku percaya padamu.”

Tak ada kebencian. Tak ada penumbalan. Kelak anak-anak itu akan saling menuntun, menembus jalur rahasia di perut sebuah planetarium. Bersama-sama, mereka menyongsong masa depan dalam kebebasan.

.

.

.

Namun, seandainya kamu harus menderita demi kebenaran, maka kamu akan diberkati. “Jangan takut dan jangan gentar terhadap mereka yang membuatmu menderita.”

[1 Petrus 3:14]

.

.

.

Suatu ketika, James mengajak Peter mengunjungi Notre-Dame.

Keagungan katedral itu telah bernapas bersama legenda, tapi baru saat itu, ketika duduk di panti umat dengan langit-langit panjang melengkung di atas kepalanya, mendengarkan khotbah yang menggaung-gaung dalam relung setua sejarah manusia; Peter menghayati arti kemuliaan rumah Tuhan. Di bawah tatapan tenang patung-patung para Santo, sesuatu dalam dirinya merinding menyesakkan. Dalam cahaya biru yang menghidupkan lukisan-lukisan kaca clerestorium, Peter seolah mengerti, sungguh-sungguh mengerti, arti kepasrahan.

Namun satu yang tak dapat dipahami Peter. Pada sekujur tembok batu mulus sang katedral, puluhan gargoyle bertubuh lencir panjang mencuat seperti lidah siluman. Mereka berfungsi sebagai talang air, demikian James menjelaskan, sembari menunjuk pada mulut-mulut gargoyle yang beku menganga. Mereka menjaga bangunan katedral tetap berdiri dengan menampung hujan lalu memuntahkannya jauh-jauh dari tembok, agar mortar perekat batu tidak leleh terbawa air.

Mengapa? Mengapa mereka memilih gargoyle sebagai penjaga sebuah rumah agung? Mengapa bukan patung para malaikat yang merelakan sayap-sayap kudus mereka sebagai jalur air? Mengapa harus mempercayakan tugas sepenting itu pada simbol kejahatan?

Pada masa itu, konsepsi Peter tentang bajik dan batil masih begitu sederhana. Malaikat, dengan wajah lembut pada ikon-ikon mereka, tentulah simbol segala yang murni lagi murah hati; sebagaimana iblis dengan tanduk dan mata ular adalah peringatan akan hal-hal yang harus dihindari. 

Butuh waktu baginya untuk mengetahui bahwa malaikat tidaklah selalu berwajah elok berlaku santun. Mereka semena-mena makhluk taat, prajurit-prajurit Allah yang membinasakan Sodom dengan keteguhan yang sama seperti saat mereka menyampaikan wahyu kepada para nabi. Mereka tidak selalu bersayap putih, cahaya mereka barangkali begitu silau hingga melumerkan mata. Nilai tinggi mereka hadir dari kepatuhan buta, patuh memusnahkan sebagaimana patuh mewelas asih; tak terpisahkan antara keduanya.

Dan Lucifer, Sang Iblis, dulu pun pernah malaikat di suatu masa—bintang fajar yang memilih menjadi raja di neraka ketimbang pelayan di surga.

Maka, sesungguhnya, bisakah mata manusia benar-benar membedakan yang salim dan yang zalim? Menggulung sebuah kota ke dalam tanah terdengar seperti sesuatu yang lalim sampai Tuhan sendiri yang melakukannya. Gargoyle buruk rupa itu barangkali malaikat dalam samaran, atau barangkali itulah wujud asli mereka sebab nilai keindahan di mata manusia bukanlah nilai keindahan hakiki. 

Tempat ini pun, dengan rumput harum seempuk permadani dan mentari bulat bagai koin pembeli segala keinginan, benarkah merupakan suatu anugerah? Tidak mungkinkah kehangatan mentari dan angin sepoi-sepoi ini kutukan dari Allah?

“Peter selalu mempertanyakan hal-hal yang menarik, ya,” celetuk James, tersenyum. Diselipkannya lagi rambut Peter yang lepas dari ikatan ke belakang telinga, setiap sentuhannya begitu menyayang mesra.

Tanpa menoleh pada kakaknya, Peter menanggapi, “Pertanyaanku hanya menarik bagimu karena jalan pikiran kita tidak sama.”

Tak peduli bagaimanapun mereka belajar untuk saling mengerti, pada akhirnya yang mereka peroleh bukanlah keselarasan, melainkan pengetahuan pahit bahwa mereka amat berbeda.

Dan akulah sang Peter untuk Ender-mu, pikiran itu melecut sebelum Peter sempat menahannya.

“Kau benar,” James mengangguk, mengikuti arah pandang Peter, ke cakrawala yang masih tak berujung. “Kita melihat banyak hal dari dua perspektif berbeda. Ketika menyaksikan para tentara berangkat ke medan perang, aku bertanya-tanya kenapa mereka mengangkat kepala begitu tinggi padahal mereka pergi untuk membunuh orang. Tapi kau melihat martir, yang lapang dada mengorbankan diri demi tanah air.”

Peter tersenyum miring. “Jadi aku memang si anarkis di antara kita berdua.”

“Bukan begitu.”

Ketegasan dalam suara James begitu mengejutkan. Peter menoleh dan mendapati James menatapnya dengan tajam, tatapan yang begitu jarang ia munculkan kecuali saat ia benar-benar ingin menyampaikan suatu pesan. Bahkan ketika mengatakan bahwa hidup mereka adalah kutukan, mata James tidak setajam itu.

James menghela napas. “Perang adalah hal yang sulit. Kita mengira bahwa pemecahannya sederhana saja—jangan berperang. Tapi menghentikan perang barangkali justru mempertahankan ketidakadilan atas nama perdamaian. Dunia telah begitu rumit hingga kau sulit menemukan di mana benang kejahatan berakhir dan benang kebaikan dimulai. Beberapa orang tidak memiliki pilihan selain menggunakan kekerasan.”

“Aneh rasanya mendengarmu bicara begitu,” Peter mengerutkan dahi, “Kau hanya mengatakannya karena berusaha sependapat denganku. Kita tahu kau bukan orang seperti itu. Orang sepertimu tidak akan pernah menjustifikasi peperangan.”

“Kau tidak mengetahui segala hal yang ada di pikiranku, Peter. Dulu kau masih sangat muda.”

Kata-kata itu bagai panah prajurit yang menembus langsung ke jantung. Peter berusaha menyembunyikan luka dari ekspresinya, tapi James menyadari lebih dulu.

“Maaf. Bukan begitu maksudku, Peter.”

“Jangan minta maaf. Kau benar,” Peter menekuk kedua kaki ke dada, membuang napas perlahan. Benar, dia dulu masih sangat muda. Bahkan di hari-hari ketika Peter mampu memadatkan rasa bersalah dan menyimpannya jauh-jauh di kolong kesadaran, ketika ia bisa meyakinkan diri bahwa mengkhianati James adalah hal yang patut dibenarkan; Peter masih terheran-heran bagaimana ia dulu sanggup melakukannya. Betapa sebuah aksi dari seorang anak kecil mampu menggoyah dunia dari porosnya.

Ah, berapa usianya kala itu? Tentunya tidak jauh berbeda dengan anak-anak Grace Field. Dia baru saja mulai memakai setelan jas dan celana panjang alih-alih kemeja dan celana pendeknya. Suaranya masih mencengkok canggung antara lengking anak kecil dan bariton.

James benar. Anak kecil memang mampu melakukan banyak hal tak terduga.

“Apa kau ingat waktu aku mengantarmu ke rumah singgah para veteran?”

Pertanyaan James membujuk Peter kembali ke masa sekarang, ke padang rumput ini yang lantang membentang. Tidak ada kematian lagi di sini. Tapi, karena mereka telah mati, bukankah kau juga bisa bilang tidak ada kehidupan?

“Rumah singgah yang kau bangun di pinggir kota itu?”

“Ya. Dulu kau suka sekali mengunjungi mereka. Alih-alih bermain dengan anak-anak seumuran di taman kota, kau lebih menikmati duduk-duduk di ruang tamu rumah singgah, mendengarkan para veteran bercerita.”

Samar-samar, seperti sketsa yang digambar dengan arsiran pensil, Peter dapat membayangkan tempat itu: sebuah bangunan besar tiga lantai di antara kebun mapel, berdinding bata merah, dan berjendela tinggi. Sebuah kolam air mancur bundar dengan miniatur Athena Parthenos menggericik merdu, persis di depan tiang bendera tinggi dengan bendera negara mengelebat gagah menantang langit. Sebuah mobil klasik hitam merayap elegan pada jalan aspalnya, berhenti tepat di depan teras berundak-undak; dan muncullah Peter, masih bercelana pendek, memeluk kompartemen biola.

Ayo cepat, Jame! Acaranya sudah hampir dimulai!

Setiap hari Sabtu minggu kedua, para veteran mengadakan acara minum teh bersama. Semacam media temu kangen sekaligus bernostalgia. Ratri bersaudara selalu diundang, dan setelah mendengar permainan biola Peter suatu kali, mereka memintanya untuk terus membawakan lagu sebagai pembuka acara.

Dulu ia menuruti permintaan itu dengan penuh rasa bangga.

“Cerita-cerita mereka lebih menarik daripada bualan anak kecil di taman kota,” Peter mengangkat bahu. James terkekeh.

“Tahukah kau, dulu aku hampir menolak membiayai pembangunan rumah singgah itu.”

“Kau, menolak membiayai kegiatan amal?” Peter mengangkat satu alis. “Kenapa?”

Rumput-rumput mendesah saat James merebahkan tubuh di atas mereka, melipat kedua tangan di bawah kepala. Awan bergerak malas, sejenak menghalangi matahari sebelum mempertunjukkannya lagi. 

“Sejujurnya, aku dulu tidak terkesan pada para veteran. Orang-orang menganugerahi mereka medali atas ketegaan mereka menghilangkan nyawa orang lain. Aku tidak tahan mendengar mereka membangga-banggakan masa lalu, mengakui diri seorang patriot padahal di negeri seberang mereka tak ubahnya rombongan biadab.”

James menarik napas dalam-dalam seakan sedang mengendalikan diri. Peter menunggu, setengah khawatir setengah menduga-duga adakah James akan mengritiknya juga setelah ini. Ia bahkan tidak mengerti kenapa masih khawatir, padahal telah lama ia menerima kenyataan bahwa prinsip mereka berseberangan, dan akan selalu demikian.

“Tapi kau begitu tulus pada mereka, Peter,” James melanjutkan, dan rasa hormat dalam nadanya menggetarkan dada Peter dalam rasa tersanjung yang tak pada tempatnya. “Mereka yang hampir dilupakan dunia ini, mereka yang tidak kuanggap lebih daripada mesin pembunuh. Mereka hanya punya sedikit cerita dan mendongengkannya berulang-ulang; tapi kau sabar mendengarkan. Saat mereka berusaha melucu, kau tertawa.

Saat kau berkata, terima kasih telah melindungi kami, begitu sarat akan penghormatan dan rasa syukur; saat kulihat mata kelabu mereka berkaca-kaca oleh rasa bangga; aku mengerti. Aku tidak dapat membenarkan pembantaian, tapi mereka hanya manusia. Mereka melakukan apa yang benar bagi mereka—bertahan hidup, melindungi negara, melindungi keluarga, melindungi masa depan anak-anak seperti dirimu.

Tentu, akan selalu ada benih-benih buruk, mereka yang menyambut kekacauan hanya karena senang mengacau; tapi kurasa sebagian besar dari kita tidak benar-benar bermaksud buruk.”

James tertawa getir. “Jika ditelisik lebih dalam, para pahlawan ini mungkin sama-sama korban perang sebagaimana orang-orang yang mereka bunuh. Menghilangkan nyawa orang lain memang salah, tapi bagaimana bisa aku mengadili tanpa mengetahui apa yang mereka alami? Bagaimana bisa aku menolak keberadaan mereka, ketika merekalah yang memungkinkanku hidup merdeka? Pandangan kita berbeda, Pete, tapi justru karena perbedaan itulah kau membuka mataku pada dunia yang lebih luas.”

Peter tahu James berusaha menarik benang merah di antara mereka berdua, tapi tanpa sadar ia justru telah menggarisbawahi sejauh mana mereka saling berlawanan. James dapat membaca terlalu dalam kemudian mengasimilasi pemahaman baru tanpa menggoyahkan prinsipnya sendiri. Ia menerima para veteran sebagai pahlawan, tanpa menjustifikasi hal-hal yang salah di matanya sendiri.

Peter, sementara itu, tidak mengagumi para patriot walaupun mereka telah membunuh. Baginya yang mereka lakukan bukanlah pembunuhan, melainkan suatu tugas mulia. Mereka patut diapresiasi justru karena berani menanggung tanggung jawab itu demi kepentingan bersama.

Dan sebagian besar dari kita tidak benar-benar bermaksud buruk? Benarkah James memandang dunia seperti itu? Tidakkah terbesit baginya betapa jauh manusia sanggup mementingkan diri sendiri, sampai titik mereka menginjak-injak arti “kemanusiaan”?

Kapan pun Peter merenungkan tentang kemampuan manusia untuk mengejami sesama, tentang kemampuannya sendiri untuk mengejami sesama, ia tertegun, tapi bukannya tidak menduga, saat mendapati bahwa tidak ada batas yang jelas untuk itu. Selama ada alasan, selama ada tekanan, mereka akan selalu menemukan cara untuk membela diri. Tidakkah James—

Peter menghentikan rentetan pertanyaannya. Kemakluman kembali hadir, seperti secercah sinar putih di ujung lorong. Ah, ya. Ini satu lagi perbedaan mereka, bukan? James terlalu tulus, terlalu baik untuk dunia. Dialah malaikat yang digambarkan dalam dongeng anak-anak sebelum mereka mengenal kisah-kisah kebinasaan; menegakkan keadilan absolut meski itu berarti melawan dan membahayakan mereka yang tidak bersalah.

Di sisi lain adalah Peter, yang hanya sekadar makhluk taat. Taat pada tradisi, taat pada kebenaran yang disodorkan kepadanya. Tidak ada keperluan untuk bertanya ketika harga yang dibayarkan sudah jelas—antara seluruh manusia di dunia atau klannya sendiri dan sedikit anak-anak (sebagian hidup bahagia sampai di malam kematian mereka, sebagian lagi tidak dilahirkan sebagai manusia sejak awal—jadi benarkah mereka manusia, atau hanya binatang berwujud manusia?). James adalah idealisme. Peter adalah realitas.  

Siapakah yang benar di antara mereka berdua? Akankah mereka benar-benar tahu?

.

.

.

Seandainya James memberitahu Peter tentang kemungkinan membuat Janji baru dengan Sang Dewa, Peter pasti akan mendukungnya.

James bahkan tidak perlu lagi menjelaskan pemahamannya. Jika Peter tahu ada sebuah cara untuk mematahkan kutukan klan Ratri tanpa perlu mengorbankan dunia, jika ratusan anak-anak martir dapat menyeberang ke sisi manusia tanpa perlu mengorbankan berjuta lainnya, jika membuat janji baru berarti menunaikan misi sebagai seorang Ratri; Peter akan setuju. 

Karena itulah yang dilakukan seorang Ratri. Kau melindungi dunia dengan mengorbankan dirimu sendiri.

Namun di sini James melihat batas keteguhan hatinya sendiri. Ia sanggup berkorban hidup, tapi Sang Dewa akan menuntut lebih dari kehidupan. Sebagaimana ia meminta Julius untuk terus menanggung penyesalan; Sang Dewa akan meminta sesuatu yang paling berharga bagi James sebagai bayaran, sesuatu yang membuat kemenangannya terasa hampa.

James tak dapat mengusir ketakutan bahwa Sang Dewa akan merenggut Peter darinya. Peter, yang terlalu ia cinta hingga James membiarkannya hidup dalam kegelapan hanya agar anak itu tetap aman.

Rasa takut itu terlalu besar hingga James bahkan tak mampu menembus Tujuh Tembok meski ia telah memecahkan teka-tekinya. Di malam mereka terlempar keluar dari dimensi Sang Dewa, James berlutut di depan Smee, menangis memohon ampun.

“Maafkan aku. Aku akan memberikan hidupku. Aku akan memberikan segalanya. Tapi, Peter ….”

Smee memeluknya dan bersumpah bahwa kegagalan ini akan menjadi rahasia mereka berdua. Tidak seorang pun, terlebih lagi Peter, boleh tahu bahwa James telah mencapai titik keegoisannya. Jika Peter tahu, ia akan berkeras menggantikan James. Ia akan menghadap Sang Dewa dan tanpa pikir panjang menyetujui kontraknya; mengira dia akan sanggup membayar harga apa pun sebab Peter hanyalah seorang anak kecil yang belum memahami arti penyesalan.

James tidak mampu membiarkan Peter hidup seperti itu. Ia tidak mampu membiarkan dirinya sendiri hidup seperti itu. Biarlah anak-anak martir membuat janji mereka sendiri jika memang mau. Biarlah James memilih jalan sulit sebagai penolong belaka. Apapun, asal jangan Peter.

Meskipun pada akhirnya, ia membuat Peter menderita juga. Dalam dekapan dingin kematian, segala jalan cerita yang mungkin terjadi berpusar-pusar dalam benaknya. Seandainya James mengalahkan keegoisannya, Peter mungkin akan menjadi pahlawan. Pengorbanannya dikenang oleh anak-anak martir hingga akhir keturunan. Seandainya James lebih berani, anak-anak martir tidak perlu menderita lebih lama lagi. 

Seandainya James sedikit saja lebih murah hati, Peter tidak perlu terbebani. 

Dalam dekapan dingin kematian, James akhirnya memahami arti penyesalan.

.

.

.

Pada suatu pagi, Peter terbangun dan mendapati dirinya telah lebih tua daripada James.

Tepatnya sehari setelah ulang tahunnya yang kedua puluh tiga. Ia ingat sensasi janggal yang merambat di nadi pergelangannya, menyadari bahwa sekarang ia adalah yang lebih tua dari Ratri bersaudara. Di hari-hari sebelumnya, ia selalu melihat imaji James di dalam benak, berdiri di depan memunggunginya, menatap dunia yang belum pernah dilihat Peter. Peter melangkah mendekat, satu hari satu langkah, hingga pada akhirnya kemarin ia berdiri tepat di sisi sang kakak.

Peter mengerling. Wajah James nampak mati, bibirnya terpatri abadi dalam senyum kosong.

Lalu mulai hari itu, sehari setelah ulangtahun kedua puluh tiga, Peter memulai perjalanan menjauh dari kakaknya. Tiada lagi jejak langkah James di depan sana. Tidak ada lagi teladan yang nyata.

Peter Ratri menjadi ketua klan ketiga puluh enam di usia tiga belas tahun dan ia memimpin dengan caranya sendiri, tapi baru pada usia dua puluh tiga lebih satu hari ia secara resmi berjuang seorang diri. Pagi hari itu, ditemani detak jam meja dalam kesunyian kamarnya, Peter menitikkan airmata.

“Kau terlihat lebih tua daripada yang kuingat,” Peter berujar tiba-tiba. Hari ini mereka memutuskan berjalan ke timur, bosan ke barat mengejar matahari terbenam. Tak ada perubahan. Rumput-rumput masih berbunga putih bulat, angin masih meniup rambut Peter lepas dari ikatan. Mereka tidak haus, tidak pula lapar.

“Benarkah?” James tergelak. Ia masih saja menganyam tali rambut dari dedaunan. Di pagi hari, ia akan duduk di belakang Peter, mengepang lalu mengikat rambutnya lagi. Terus, berulang-ulang, seakan mereka berada di Naraku, suatu lapisan neraka di mana melarikan diri dari repetisi adalah kemustahilan.

“Mm.” 

James Ratri dalam kenangan Peter memanglah seorang dewasa, tapi dewasa yang baru menyelesaikan buncah remaja. Kini wajah James lebih panjang, tegas—tidak ada lagi sisa-sisa keremajaan di garis rahangnya. James di padang rumput ini adalah seorang dewasa muda pada puncaknya. “Sekarang kau terlihat seperti berusia dua puluh lima tahun.”

Usia yang bahkan tak pernah sempat dikecapnya.

“Ini menarik. Menurutku kau juga terlihat seperti pria dua puluh lima tahun,” James menelengkan kepala. Peter tidak terkejut. Meski tidak pernah melihat wajahnya sendiri semenjak mati, ia merasakan vitalitas menggeliat di jejaring ototnya. Punggung tangannya nampak lebih halus, jajak kakinya terasa lebih mantap. Usianya belum terlalu tua ketika mati, tapi tubuhnya waktu itu telah terasa begitu berat dan letih.

“Hm, orang bilang kita memang mendapatkan tubuh paling sempurna saat tiba di surga,” James melanjutkan penuh kontemplasi, mengetuk dagunya.

Peter mendengkus. “Seolah ini surga saja.”  

“Eh? Kau tidak percaya kita sedang berada di surga?” 

Pertanyaan itu terdengar amat polos, mengingatkan sekali lagi bahwa meskipun James adalah kakaknya, Peter-lah yang hidup lebih lama. James memiliki tubuh berusia dua puluh lima tapi benaknya terhenti di usia dua puluh tiga. Peter mengecap kehidupan hanya enam tahun lebih lama, tapi rasanya ia telah menelan kepahitan hidup seribu tahun.

“Yah, kau boleh percaya bahwa kau berada di surga.”

“Tapi kita ‘kan berada di tempat yang sama.”

“Ya.” Tapi tidak mungkin ada surga untukku.

James menatap Peter lekat-lekat hingga membuatnya hampir salah tingkah. “Aku benar-benar memberi impresi yang bagus kepadamu, ya?” James bertanya akhirnya, “Sampai-sampai kau mengira aku jauh lebih baik darimu?”

“Jangan menanyakan hal konyol.”

“Tidak, sungguh. Kenapa kau pikir aku lebih baik darimu? Kenapa kau kira aku berhak mendapatkan surga, sedangkan kau tidak?”

“Jame,” Peter mengucapkan namanya perlahan-lahan, seakan sedang menjelaskan sesuatu yang sederhana pada anak kecil. Ada suatu masa ketika itu akan terdengar lucu. “Kau ingin membebaskan anak-anak itu dari sistem peternakan. Aku menghentikanmu dan membiarkan sistem itu terus berjalan.” Dan perbuatan-perbuatan busuk lainnya, ia menambahkan dalam hati, belum siap membuka segala rahasianya. Tidak pada James. Tidak sekarang.

“Tapi dalam usahaku itu, aku membahayakan seluruh dunia dan aku tidak peduli.”

“Tapi dunia tetap aman, jadi itu belum dihitung sebagai kesalahan. Lagipula, kau wafat sebagai martir.”

“Demikian pula dirimu, Peter. Kau melindungi dunia manusia sampai akhir.”

Tentu saja James akan mengira demikian. Ia bahkan belum tahu bahwa Peter mati bunuh diri, bahwa Peter menusukkan pisau itu ke nadi lehernya bukan demi siapapun selain dirinya sendiri. Peter sudah tidak peduli nasib dunia setelah ini. Ia hanya ingin mati sebagai seorang Ratri, menolak mengakui bahwa dunia sudah tidak membutuhkannya lagi.

“Dengar, kau tidak perlu menganggapku sesuci itu, terutama karena aku bukan orang suci. Bukan masalah bagiku jika tidak masuk surga.” Ia telah mempersiapkan diri sejak memeluk tubuh dingin James di jembatan itu. Bahkan jikapun ia melindungi dunia sampai titik penghabisan, kejahatannya terhadap kakaknya sendiri cukup untuk mengirimnya ke api pemusnahan.

“Masalah bagiku jika adikku berpikir ia tidak pantas mendapatkan pembalasan atas segala kebaikannya. Dosa tidak menghapus budi, Peter, demikian pula sebaliknya.”

“Sudah pasti dosaku lebih berat daripada budi.”

“Bukan dalam tugas dan kecakapan manusia untuk menimbangnya. Lagipula, kau berjalan di sisiku saat ini adalah bukti yang cukup bahwa kita setara. Jika menurutmu aku pantas mendapatkan surga, maka kau juga.”

“Entahlah, Jame. Seperti katamu—pemahaman tentang hal ini berada di luar kecakapan manusia. Mungkin ini adalah neraka bagiku sebagaimana ini surga bagimu.”  

“Berada di sisiku terasa seperti neraka bagimu?” James cemberut, berusaha mencairkan suasana.

Tapi Peter mendadak merasa amat lelah. “Bisa dibilang begitu. Keberadaanmu mengingatkanku bahwa aku telah membunuhmu di usia sangat muda.”

James tergugu. Sesaat nampaknya ia ingin berkata-kata, barangkali, aku tidak pernah menyalahkanmu, Peter, tapi mereka tahu pernyataan itu tak berguna. Peter tahu James tidak menyalahkannya, tapi itu tidak mengubah apa pun. Itu tidak akan menyembuhkan luka yang kadung menganga.

“Aku bohong,” James mendadak berucap, melipat kedua tangan di depan dada seakan membutuhkan semacam perlindungan diri. “Tentang Tujuh Tembok. Kepada semua orang—bahkan dalam pena yang kuberikan pada anak-anak martir—kubilang aku tidak dapat menemukan pintu masuknya. Itu dusta. Aku pernah masuk ke sana.”

Peter mengangkat alis. “Lantas? Semua orang pernah berbohong. Itu bukan kesalahan besar.”

“Beberapa kebohongan mengandung konsekuensi lebih berat daripada yang lain,” Bibir James tertarik dalam senyum yang tidak mencapai matanya. “Kau tahu, ketika memasuki tempat itu, Sang Dewa menyerangku dengan berbagai halusinasi. Aku melihat kematianmu, Peter. Aku melihat Sang Dewa merenggutmu sebagai bayaran atas sebuah janji baru. Itu sebuah ujian untuk melihat sejauh mana tekadku, dan aku gagal.” 

James tertawa kasar seakan mendorong kembali sesuatu yang akan meledak dari dadanya. “Aku egois dan terlalu menyayangimu. Rasa sayang yang akhirnya menyakitimu. Aku bisa menghentikan semua ini enam belas tahun lebih awal, Pete. Tapi aku tak mau. Itu saja sudah cukup untuk menggunungkan dosaku.”

Pada akhirnya, betapa pun berusaha, mereka tetaplah seorang Ratri.

.

.

.

“Terserahlah jika kau ingin berkompetisi tentang dosa,” gumam Peter, setelah mereka terdiam lama dan deru angin bosan mengisi kesunyian. “Aku tetap pada keyakinanku. Tuhan manapun tak mungkin mengizinkanku mengintip sorga mereka. Tapi jika kau merasa cukup rendah untuk tinggal di neraka bersamaku, aku tak melarang. Mari sebut saja tempat ini neraka dan habis perkara.”

Dari arah belakang, senja kembali mewarnai sabana. Merahnya menjilat-jilat seolah ingin membakar kulit dengan bara. James menggaet lengan Peter, menjalinkan jari-jemari mereka, sebagaimana dulu Peter menggelayut di lengan James jika tak ingin berpisah darinya. Gestur yang amat kanak-kanak. Untuk kesekian kalinya, Peter diterjang gelombang melankolis. James sungguh mati terlalu muda.

“Lebih baik aku bersama adikku di neraka, daripada sendiri dalam keabadian surga.”

Di ujung langit, satu bintang muncul benderang, tenang tak berkedip. Di kehidupan duniawi mereka menyebutnya kejora. Di kehidupan setelah mati ini ia semena-mena manik langit; menghiasi malam sembar menunggu matahari kembali terbit.

.

.

.

“Jika kau tidak tumbuh dewasa dengan caraku maka kau tidak tahu rasanya. Jika kau tidak tahu rasanya, sebaiknya jangan menghakimi.”

[The Brief Wondrous Life of Oscar Wao—Junot Diaz]

.

.

.

“Peter, kau masih bangun?”

“Ya.”

“Lihatlah, bintang malam ini begitu indah.”

“….”

“Apa kau masih suka melihat bintang, Peter?”

“… Kadang-kadang.” Tidak sama sekali. Menara tertinggi di rumah mereka telah diruntuhkan, teleskop hadiah ulang tahun James telah berpindah tangan ke panti asuhan. Melihat bintang menjadi begitu menyakitkan sebab ia bukan dewa yang dapat mengabadikan pahlawannya di langit malam.

“Ah, coba lihat rasi yang di sana itu. Kau masih ingat namanya?”

“Orion. Pemburu yang menawan hati Artemis dan mati ditembus panah sang dewi sendiri.”

“Kalau di sampingnya?”

“Taurus. Bintang paling terangnya Aldebaran.”

Tawa kecil. “Kau benar-benar menghafal semuanya, ya. Ingat tidak, dulu waktu masih kecil, kau—”

“James. Maaf, aku lelah.”

“… Oh. Baiklah, kita lanjutkan ini besok.”

“….”

“Tidurlah, Peter. Aku akan menjagamu.” 

Dengkus keras. “Menjagaku dari apa? Tidak ada apa-apa di sini, Jame. Dan kita toh tidak bisa mati lagi.”

Belaian lembut dan kecupan di dahi.

“Aku tahu. Tapi biarkanlah aku tetap menjagamu.”

.

.

.

Saat Peter membuka mata, James masih duduk di sampingnya. 

“Selamat pagi, Peter. Tidurmu nyenyak?” 

Matahari masih terbit sewarna kuning telur. Embun masih menggantung di pucuk-pucuk rumput dan membasahi punggung. Jari jemari James menyibakkan rambut Peter ke belakang, setelah ini ia akan meminta Peter duduk agar James bisa menyisir dan mengikat rambutnya.

“Pagi. Kau tidak tidur?”

“Aku tidak mengantuk.”

Mungkin mereka terjebak di Naraku, suatu lapisan neraka di mana melepaskan diri dari rutinitas adalah kemustahilan.

Usai menebahkan pakaian putih mereka dari rumput, usai mengunci kepangan Peter dengan ikat rambut, mereka melanjutkan perjalanan. Masih ke timur dan akan terus ke timur sampai mereka bosan.

“Menurutmu, ada apa di horizon sana?” Satu tangan James menunjuk ke depan, yang lain menggaet lengan Peter rapat-rapat. Seakan mereka bisa tersesat. Seakan horizon akan berpindah tempat.

“Entahlah. Pohon akasia lagi, barangkali.” Akasia yang lalu telah lenyap ditelan jarak. James gagal menebak usianya sebab ia tidak tahu seberapa tebal rata-rata pertumbuhan kambium spesies itu.

“Hm, ya, mungkin akan ada akasia lagi,” James menelengkan kepala. “Tapi bayangkan kalau kita menemukan sesuatu yang lebih hebat. Menara Babel, misalnya.”

Peter mengernyit. “Menara Babel?”

“Ya! Mungkin di ujung sana, menara itu telah menanti kita. Sebuah menara yang begitu tinggi hingga menembus kolong langit. Jika kita terus mendakinya, suatu ketika kita akan berjalan sejajar dengan bintang dan meteor, mendengar deru kencang saat mereka melewat di sisi tembok ….”

Penuh keriangan, James mulai berceloteh. Menara Babel akan tampak seperti tusuk gigi dari kejauhan, tapi dari dekat, lebar penampangnya hampir seluas satu desa. Jalur pendakian dibuat di permukaan luarnya, berulir-ulir, menghitam oleh jelaga. Bagian dalamnya terbagi menjadi ratusan ribu lantai, setiap lantai terdiri dari ceruk-ceruk sebagai rumah bagi para arsiteknya.

Ah, betapa tentang ini pun Peter sempat lupa: bagaimana kakaknya begitu senang berkhayal dan bercerita. Di masa hidupnya dulu, James menulis banyak buku dongeng anak-anak. Hampir di setiap halaman persembahan, ia menulis—untuk Peter.  

“… Di lantai-lantai tertentu, mereka membangun teras untuk bercocok tanam. Mungkin masih ada beberapa jenis tanaman tersisa di sana. Kita akan melihat sesuatu selain rumput-rumput ini.” 

Namun, betapa banyak pun buku cerita dipersembahkan untuknya, Peter tak pernah pandai berimajinasi. Ia hanyalah cermin realitas, tak dianugerahi kemampuan untuk menciptakan yang belum pernah ada. Menara Babel milik James adalah sebuah tempat komunal di mana peradaban tumbuh dengan rendah hati, di mana sebuah bangsa saling bahu membahu untuk mencapai pencerahan spiritual tertinggi, di suatu tempat dekat singgasana Tuhan.

Menara Babel dalam bayangan Peter hanyalah menara dalam Alkitab. Sebuah simbol keangkuhan yang pembangunannya dihentikan oleh Tuhan dengan cara mengacaubalaukan bahasa bangsa pembangunannya, hingga mereka tak lagi memahami satu sama lain.

Peter ingin tertawa tanpa humor, tapi ditahannya agar James terus mendongeng. Betapa lucunya. Bahkan dalam Alkitab pun, Tuhan mengakui bahwa manusia tidak ditakdirkan untuk bersatu.

.

.

.

Peter terlahir saat James berusia sepuluh tahun.

Saat mengintip ke dalam buaian, James bertanya-tanya apakah malaikat telah menitipkan salah satu bayi mereka pada ibunya. Rambut pirang makhluk kecil itu begitu halus. Bibir mungilnya begitu merah jambu. Di matanya yang masih biru bening, James melihat pantulan dirinya sendiri.

“Ini adikku?” bisik James takjub, jantungnya bergetar oleh kekuatan kata itu. Adikku. Rasa kepemilikan itu mengikatnya dan James dengan senang hati menyerahkan diri.

“Ya, Jame. Namanya Peter. Jaga dia baik-baik, ya?”

Saat James meletakkan telunjuk ke dalam telapak tangan Peter, bayi itu menggengamnya. Kulit adiknya amat lembut, seperti serbuk dari sayap kupu-kupu. Pada detik itu James tahu ia telah terlahir kembali. Ia meninggalkan kepompong kanak-kanaknya dan memulai hidup dengan tanggung jawab.

Ia seorang kakak sekarang.

“Tentu. Aku akan menjaga adikku, selama-lamanya.”

Itu sumpah pertamanya.

.

.

.

Barangkali memang beginilah neraka. Sebuah padang indah sunyi di mana hanya ada mereka berdua, semakin hari semakin menyadari betapa mereka begitu berbeda namun tetap saling terlalu menyayangi hingga hati mereka seperih terbelah dua. Barangkali inilah hukumannya; mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengubah satu sama lain dan senantiasa diingatkan betapa perseberangan itulah yang telah membinasakan keduanya. 

Atau barangkali inilah sesungguh-sungguhnya sorga; berada bersama seseorang yang paling kau cinta dan mengetahui, sepasti setiap sel dalam tubuhmu sendiri, bahwa mereka pun mencintaimu sama setianya walaupun kalian teramat berbeda. Hanya kalian berdua dan peradilan-peradilan dalam diri kalian sendiri, tanpa bisikan-bisikan dari luar yang membutakan. Akan membenci atau tetap saling menyayangi pada akhirnya; itu akan menjadi pilihan kalian sendiri.

Bukankah demikian itu yang disebut kemerdekaan hakiki? Ataukah itu hanya berarti kau harus menanggung jawabi segala perbuatanmu sendiri? 

Siapa yang dapat mengetahui dengan pasti? Hal-hal seperti itu bukan dalam tugas dan kecakapan manusia untuk memahami.

Tapi yang mereka tahu adalah ini: setiap pagi saat mereka terbangun, mereka saling memandang ke dalam mata masing-masing. Padang rumput itu membentang dalam hijau paling hijau; langit melengkung dalam biru paling biru. Tak ada burung. Tak ada hujan. Kadang, pohon akasia menyapa di cakrawala.

Dan di antara semua itu mereka berjalan bersisian, saling melukai lalu saling menyembuhkan. Menjalani balasan sesudah mati ini bersama-sama; hingga kelak mereka lebur dalam kekekalan.

.

.

.

“... Wah, kalau dipikir-pikir, kita masih berada dalam kisah yang sama! Kisah itu masih terus berlanjut. Bukankah kisah-kisah besar tak pernah berakhir?"

"Tidak, mereka tak pernah berakhir sebagai kisah," kata Frodo. "Tapi orang-orang di dalamnya datang dan pergi ketika peran mereka berakhir. Peran kita akan berakhir kemudian atau segera."

[The Lord of the Rings: The Two Towers—J.R.R. Tolkien]

 

 

 

 

Notes:

Catatan Kaki:

  1. Karakterisasi James. Saya sengaja membuat James lebih cheerful daripada yang digambarkan di telepon rekaman (chapter 72) maupun kenangan Peter (chapter 173). Saya rasa, orang yang menulis buku Petualangan Ugo dan bisa akrab dengan adik yang jarak usianya jauh pastilah punya sisi kekanakan juga. Peter hanya tidak menyadari sisi kekanakan James karena waktu itu dia masih anak-anak dan menganggap James orang yang “cool”.
  2. Karakterisasi Peter. Sejujurnya saya gagal paham dengan penggambaran watak Peter. Cara pandang dia di chapter 173-174 semacam bertolak belakang dengan chapter-chapter sebelumnya. Sebelum 173-174, Peter seolah-olah memang cuma psikopet psikopat yang senang melihat orang lain menderita. Terus tiba-tiba flashback-nya muncul dan motivasi dia jadi jelas, tapi tidak disokong argumen karakter yang kuat. Karena itu, saya memutuskan untuk hanya menggunakan perwatakan Peter dari 173-174.
  3. Karakterisasi Smee. Hehe, seru juga menebak-nebak watak salah satu pendukung Minerva ini. Buat saya, Smee yang cukup lihai selamat dari witch hunt-nya Peter, tapi tetap dengan boneknya kerja di Lambda demi menolong Norman, adalah sosok yang lumayan “kerad”. Dan dia bisa menjadi informan andalan Norman, yang berarti dia tahu cukup banyak tentang Minerva atau merupakan orang dekat Minerva. Saya jadi ingin mengeksplorasi hubungan James dan Smee lebih dalam. Mungkin nanti saya akan menulis tentang dinamika mereka juga.
  4. Tujuh Tembok. Ini adalah headcanon yang saya pilih untuk memberi kedalaman pada karakter James. Entah kenapa, dari dulu saya merasa “pertolongan” James agak setengah hati. Mungkin dia tidak all out agar tidak ketahuan oleh Legravalima, tapi saya senang membayangkan bahwa dia juga punya motif egois. Dan, walaupun di chapter 128 Norman mengatakan bahwa William Minerva tidak bisa menemukan pintu ke Tujuh Tembok, saya memutuskan untuk menggunakan “celah” bahwa pernyataan itu datang dari Norman, bukan James sendiri. Kenyataan yang sebenarnya? Hanya James Ratri (dan Smee) yang tahu.
  5. Menara Babel. Dengan ini saya menegaskan bahwa pernyataan Peter tentang “Tuhan mengakui bahwa manusia tidak ditakdirkan untuk bersatu” adalah interpretasi Peter semata. Referensi yang saya gunakan adalah kisah Menara Babel di Kitab Kejadian 11: 1-9. Adapun interpretasi “sesungguhnya” dari ayat-ayat tersebut saya serahkan pada pembaca.
  6. Referensi Literatur. Seperti yang kalian sadari, saya mereferensi, menyadur, dan/atau mengutip beberapa literatur ke dalam cerita ini. Daftarnya adalah sebagai berikut:
    • “… apa kau menyesalinya?” ...: Emma—Kaoru Mori
    • ... tinggi bilah-bilah daunnya setara seakan selalu dipelihara: Harimau! Harimau!—Mochtar Lubis
    • Dalam keheningan, tanpa perlawanan …: Human Act—Han Kang
    • Tu sais, quand on est tellement ..., Il était une fois un petit prince ...: Le Petit Prince—Antoine de Saint Exupéry.
    • Kau tahu, bila kita sangat sedih …,“Apakah kau sangat sedih?” Aku …: Le Petit Prince—Antoine de Saint Exupery, terjemahan Bahasa Indonesia
    • Barangkali terlalu peka justru …: Manjali dan Cakrabirawa—Ayu Utami
    • Ia adalah Peter Pan dalam jubah merah: Peter Pan in Scarlet—Geraldine McAughrean
    • ... mentari bulat bagai koin ...: All Summer in A Day—Ray Bradbury
    • sang Peter untuk Ender-mu: Serial Ender's Game--Orson Scoot
    • Jika kau tidak tumbuh dewasa ...: The Brief Wondrous Life of Oscar Wao—Junot Diaz
    • Gambaran James tentang Menara Babel: Tower of Babylon—Ted Chiang
    • Wah, kalau dipikir-pikir ...: The Lord of The Rings: The Two Towers—J.R.R. Tolkien