Work Text:
Tak ada yang abadi.
Mengenai kalimat bijak yang pernah tersohor lewat lagu populer beberapa tahun silam itu, Hiroto Maehara lebih dari paham. Gebetan-gebetannya yang tak pernah jadi pacar; masa sekolah dan kuliahnya yang dipenuhi kekonyolan dan jati diri buaya yang mendesak muncul di permukaan; bulan-bulan neraka ketika jadi mahasiswa bimbingan Karasuma-sensei yang lebih angker daripada urban legend tentang jendela kantor dosen yang bisa bergerak sendiri; hari ketika ia ujian skripsi dan Koro-sensei, pembimbing utamanya, terlambat datang karena habis mempersiapkan rekaman baru di YouTube malam sebelumnya; hari upacara wisudanya yang bikin orang tuanya menangis (mulanya karena haru, kemudian karena kesal dan malu. Hiroto tak sengaja menginjak jubah toga yang kepanjangan milik orang di depannya saat akan maju ke hadapan rektor dan mereka jatuh dengan berisik.) Sehubungan kejadian yang terakhir itu, barangkali penyebabnya adalah tumpahnya es krim stroberi milik Karma, teman kosnya, yang sembarangan ditaruh di meja belajar Hiroto. Bukan tenung dari Karma Akabane yang bikin Hiroto kecelakaan. Es krim itu menumpahi lembar teks pidato Gakushuu Asano yang dipersiapkannya sebagai perwakilan wisudawan, yang dicuri secara iseng oleh Karma. Soal kenapa jadi Hiroto yang kena sial, penyebabnya tetap menjadi misteri.
Semuanya pernah terjadi, ada di dalam memori, dan sudah berlalu. Kehidupan berjalan terus dan, kadang-kadang, selama perjalanan itu, ada yang hilang dan tidak bisa kembali.
Hiroto harusnya tak perlu tersedak di kafeteria rumah sakit siang itu, ketika didengarnya berita dari radio. Dia kelaparan sehabis tiga operasi beruntun dan tadi pagi bangun kesiangan hingga belum sempat sarapan, jadi dia merasa berhak meraup makanannya dengan cara paling tidak beradab asal orkestra di perutnya bisa lekas selesai.
Tapi Hiroto mendengar kabar duka itu, dan dia tersedak. Hatinya tiba-tiba ambyar.
Ambyar Brothers Return: Tribute to Didi Kempot
Oleh :
emirya sherman dan Roux Marlet
Disklaimer :
Ansatsu Kyoushitsu (c) Yuusei Matsui
Shingeki no Kyojin (c) Hajime Isayama
Fanfiksi ini adalah murni karya nonprofit, kami tidak mengambil keuntungan sedikit pun dari fanfiksi ini.
Ini masa pandemi COVID-19. Semua orang dihimbau untuk tinggal di rumah, kerja dari rumah. Pria berambut hitam itu memang bisa melakoninya dengan mudah; buat saja modul atau kuliah daring, semua pengajar melakukan itu sekarang. Tapi, bagi pekerja sektor kesehatan seperti di rumah sakit, work from home hampir sama mustahilnya dengan menaklukkan hati Aguri Yukimura.
Anak-anak didiknya yang sudah lulus, tentu semuanya kini tengah bekerja. Bahkan mungkin ada yang menjadi garda depan dalam perang umat manusia melawan penyakit menular yang mak bedhundhuk muncul ini.
Koro-sensei sendiri saat ini bukan praktisi rumah sakit; dia memang dosen keperawatan, tapi lebih karena pengalaman di masa dulu, yang kalau diminta diceritakan nanti malah mengindikasikan delusi tingkat tinggi.
Di waktu senggang begini, usai mengunggah pelajaran bagi para mahasiswa, entah kenapa di nuraninya ada setitik niat usil untuk berbuat jahil pada sesama member Ambyar Brothers. Pembaca yang budiman tentu saja ingat dengan kelakuan sekumpulan Homo sapiens jantan yang membaiat diri sebagai musisi level pemula yang booming tahun lalu, 'kan?
Ponsel terangkat, senyum terkulum, Koro-sensei berswafoto ganteng sambil mengangkat segelas es krampul. Persis perompak Karibia merayakan syukuran atas harta jarahan, hanya saja perompak Karibia tidak ada yang minum es krampul.
"Nurufufufufu ...," kekeh Koro-sensei sebagai preambul.
"Work from home sambil minum es ternyata segar sekali, ya," begitu pokok utama dari pesan tersebut.
Hampir saja ditutup dengan menenggak wedang krampul sekaligus es batunya, seseorang telah mencibir foto Koro-sensei. Tentu saja tidak cukup dengan ketikan atau emot marah-marah, tetapi langsung dengan pesan suara. Orang yang mengomentari itu adalah Hiroto Maehara.
"Wuuu ... swooombingnyaaa. Mentang-mentang WFH!" Lengkap dengan iringan beep monitor dan teriakan rekannya yang bilang ada perawat ruangan yang mau menjemput pasien.
"Aduuuh Maehara-kun kok malah mainan hape sih? Ayahandamu ini gak pernah ngajarin kamu korupsi waktu lhooo ...," balas Koro-sensei.
Hiroto membalas secepat kilat, "Siapa yang korupsi? Ini aja baru selesai operasi terakhir kok, tinggal observasi di ruang pemulihan. Laper tau, Senseei! Dari tadi belum makaaan."
"Ya udah tinggal makan dong, kayak orang susah aja sih kamu itu."
Nun di seberang percakapan, Hiroto siap ancang-ancang beli nasi timlo porsi jumbo. Sementara Pak Mario yang baru saja membuka grup tidak ikut berkomentar selain,
"Aku juga mau es krampul. Apa besok sekalian jadi menu minuman baru saja, ya? Tapi, siapa yang tahu kapan Corona minggat dan kantinku bisa buka lagi?"
"Wah, boleh banget tuh, Pak Mario. Buat Ambyar Brothers nanti digratisin, ya," susul Bang Red Eye persis setelah pesan Pak Mario mengudara di grup.
"Mantap jiwa," timpal Pak Lovro.
"Mau jugaaaa dong, es krampul gratis :( nikmat tuh di cuaca sepanas ini," Hiroto sudah berpindah ke mode teks sekarang. Dilanjutkannya dengan, "Eh, Pak Lovro paham istilah beken juga ternyata *kabur"
"Kerja yang benar kamu," gerutu Pak Lovro.
"Pak Chantha mana nih kok belum kelihatan?" Bang Red Eye yang kelihatannya sama nganggurnya karena ruangan kampus terus-menerus dikunci dan bengkelnya menjadi sepi, mengetik dengan giat.
"Lagi jaga laaaah, Bujaaang," balas Pak Lovro. "Nanti sore gantian sama saya. Berjaga itu butuh fokus!"
"Lah orang Maehara-kun aja jaga di kamar operasi, bisa pegang hape," komentar Bang Red Eye.
"Oi! Jaga kampus di era rawan maling begini, tiap shift sendirian pula, butuh konsentrasi ekstra! Heh pada gak tahu, ya, musim Corona begini tu rawan maling!" Pak Lovro berapi-api.
"Iya deh iya, Pakdhe. Udahan aja ya ngobrolnya, kami 'kan cuma ngganggu Pak Lovro dan Pak Chantha."
Oknum bernama Red Eye tiba-tiba offline.
"Huh. Ya udah, saya toh mau bersih-bersih rumah!" pungkas Pak Lovro.
Pak Chantha mungkin memang tidak buka hape. Pak Lovro betulan tidak daring lagi dan Pak Mario juga tak muncul lagi (mungkin sedang mencari resep es krampul). Koro-sensei sudah hampir menutup ponselnya ketika Hiroto nongol lagi, membawa berita duka berupa teks dan foto.
Hiroto berjalan dengan lesu, sudah berganti baju, mata memandang layar gawai di tangannya. Ambyar itu jenis perasaan yang tak terdefinisikan, tak terucapkan, tak tergantikan. Sedih yang satu ini lebih menyedihkan daripada kehilangan gebetan atau uang jajan, atau gabungan keduanya. Untung jam dinasnya sudah selesai, jadi dia bisa segera pulang untuk merayakan dukacita bersama Sobat Ambyar di mana-mana yang sepenanggungan dengan berpulangnya sang Lord-setelah dia mandi sangat bersih dulu, tentunya. Ibu Hiroto bakalan menyemprotnya dengan disinfektan dalam selang air kalau dia nggak langsung mandi setelah pulang dari RS.
"Hei, Maehara!"
Kepala berambut oranye itu berputar, dilihatnya sosok yang familier.
Hiroto Maehara kini seorang perawat kamar operasi di rumah sakit swasta. Baru-baru ini dia tahu bahwa Eren Yeager si apoteker lulusan Royal Capital University juga kerja di tempat yang sama. Mereka pernah ketemu di kamar operasi, waktu itu Eren bertugas mengecek isi troli emergensi sehabis ada kode biru di sana dan menguncinya.
Yang namanya reuni, biasanya, setelah diawali ekspresi kaget karena bertemu lagi dengan sosok lama dalam kubur memori, diikuti kalimat manis, "Hai, lama tak jumpa!"
Dalam kasus Hiroto dan Eren, yang disebut belakangan langsung cemberut saat melihat si casanova dalam seragam operasi. Ah, dunia yang hanya selebar daun kelor memang benar adanya.
"Astaga, elu lagi?!"
Hiroto nyengir salah tingkah, tak tahu harus berucap apa. Kilas balik tentang prahara skripsi tertukar melejit di dalam kepala. Sungguh bukan reuni yang manis.
Eren menatap dan berdeham, tampaknya tak terlalu bermaksud jahat. "Oh, kamu memang jurusan anestesi, kok, ya. Makanya tugasnya di sini."
"Eh. Iya."
"Mulai besok aku juga tugas di sini, nih."
Hiroto melongo. "Oh iya? Di ruang obat?"
"Di mana lagi?" gerutu Eren. "Karena aku masih baru, aku yang ditugaskan di sini. Sebelumnya, farmasi rawat jalan selalu kekurangan orang."
Otak Hiroto berputar lambat. "Lho, memangnya kamu baru berapa lama kerja di sini? Bukannya kamu yang lulus duluan?"
"Satu minggu. Kuliahku 'kan lima tahun."
Perlu beberapa detik lagi buat Hiroto paham, pendidikan profesi setelah Eren lulus sarjana membuatnya masuk kerja lebih belakangan daripada dirinya.
"Oke, deh. Mohon kerja samanya, ya ... Eren. Eren WerbenJagerManJensen."
"Sembarangan! Dari dulu gak pernah bener nyebut nama. Mana dulu nyebutnya Eren Jaguar lagi!" tukas Eren sadis.
Sosok familier yang kini tengah melaju ke arahnya dari IGD adalah si Mr. WerbenJagerManJensen. Ah, Hiroto tak pernah bisa mengingat nama belakang Eren yang susah diucapkan itu. Dulu saja dia salah sebut hingga bikin kesasar di rimba Royal Capital.
"Kamu sudah dengar?" berondong Eren, matanya nyalang.
"Hah?"
"Didi Kempot meninggal. Masa belum tahu?" Kalau dilihat-lihat lagi, mata Eren bengkak, mirip waktu masa skripsi dulu.
"Ta-tahu, kok."
Eren manyun, tapi bukan karena marah (Hiroto punya perasaan aneh bahwa Eren selalu tampak marah tiap kali bertemu dengannya, atau itu ada hubungannya dengan raut wajahnya sejak orok), karena dia tiba-tiba bilang begini,
"Kalian nggak akan rekaman lagi? Tribute to the Godfather of Broken Heart? Come back gitu lho. "
Pahamlah Hiroto sekarang. Penggemar musik indie ini sudah berpindah haluan ke campursari, entah sejak kapan. Dalam pikirannya yang narsis, mungkin Eren jadi ngefans Lord Didi sejak menonton video cover Ambyar Brothers di YouTube. Atau dia juga ngefans pada mereka, Ambyar Brothers sendiri?
Yang mana pun boleh. Hiroto nyengir sambil menepuk bahu Eren seolah mereka kawan lama,
"Boleh juga idenya."
Ide yang dilontarkan Hiroto dengan penuh semangat itu dihantam kekecewaan ketika Pak Mario membalas,
"Gimana caranya mau rekaman? Orang disuruh stay at home. Diangkut Satpol PP baru tahu rasa kau!"
"Maehara juga kerjanya di luar kota," timpal Bang Red Eye.
"Sudah lama sekali akun kita nggak bikin rekaman baru. Orang-orang pasti sudah pada lupa kita ada di YouTube," timpal Pak Chantha yang baru muncul di grup.
Hiroto terpekur di kamarnya. Tenang, dia sudah mandi pakai sabun antiseptik sesuai prosedur pulang kerja.
Teringat akan seseorang teman lama yang sekarang sealiran dalam genre musik, Hiroto tersenyum penuh determinasi. Mr. WerbenJagerManJensen pasti bersedia membantu. Toh, Eren ternyata men-subscribe kanal Ambyar Brothers dengan sukarela dan pikiran yang sadar. Pasti orang itu akan bersedia dimintai sedikit bantuan, tapi dalam hal ini kita membicarakan seorang Hiroto Maehara yang sepertinya masih akan ada bau-bau kerusuhan menyangkut namanya.
"Ya elah gitu aja ribut! Ini udah zaman internet keleus, wahai Bapak-bapak uzur. Kalo mau gaul jangan setengah-setengah dong," ceramah Hiroto melawan norma kesopanan.
"Woy, aku gak setua itu kali!" elak Bang Red Eye.
Hiroto masih semangat ceramah, "Gini ya, Bapak-bapak yang budiman, kuliah daring aja bisa, masa nyanyi daring gak bisa. Malu dong sama kominfo."
"Gak usah kebanyakan ceriwis deh. Kalau kamu tahu caranya, bilang sini langsung. Gak usah muter-muter kayak gasing," ujar Pak Mario.
"Tenang dong, aku punya kawan yang pasti mau membantu kita," jawab Hiroto.
"Kawanmu itu udah pasti mau membantu atau malah belum kau tanyai dia mau membantu atau enggak?" tanya Pak Lovro.
Intinya sih begini; tidak perlu kumpul-kumpul komunal, ya bujang. Teknologi sudah sedemikian canggih untuk mempertemukan para Sobat Ambyar di mana pun mereka berada.
Sementara grup Ambyar Brothers masih ribut dan menyangsikan setiap omongan Hiroto, grup angkatan 104 pun juga ikut aktif. Bermula dengan sebuah pesan dari Eren yang berniat mencari tahu bagaimana cara menggabungkan audio dan video dengan hasil yang selaras, estetik, rapi, dan oke punya.
Dari semua anggota, baru Jean saja yang muncul batang hidungnya. Itu pun dengan komentar yang kurang sedap dipandang netra.
"Lupa aku tuh, kalo punya grup angkatan pas kuliah. Kirain grupnya udah dimakan rayap."
Eren membalas, "Eh maaf lho, ya, kalo aku mengganggu mas calon PNS."
"Pinginnya sih jadi PNS, gara-gara Covid nih SKB-nya mundur gak tahu sampai kapan. Padahal targetku lolos PNS tahun ini."
"Turut berduka saya, Mas. Semoga mendapat tempat yang tenang di surga."
"Woy ngomong apa sih, Yeager, berdukanya yang jelas dong. Kalo yang kamu doain Corona biar segera minggat sih kuaminin," ujar Jean.
"Aku juga ngedoain biar Corona-nya ilang, Jean-boooy. Capek tahu, batuk dikit aja rasanya paranoid."
Eren kembali mengetik, "Guys, jadi ada yang bisa membantuku, gak? Kok pada gak muncul sih?"
"Loh, aku dari tadi nongol di grup gak dianggep nih?" tanya Jean.
"Halah, orang kamu dulu ngajarin biar kursor laptop bisa gerak aja salah kok," cecar Eren.
"Loh yang rusak itu emang bukan kursornya, Yeageeer."
"Tapi tetap saja kau sesat, Jean-boooy!"
Di tengah pertikaian Eren dan Jean, sebaris nama pemilik dari otak brilian di balik kranium terlihat sedang mengetik sesuatu, lalu terhenti beberapa saat, kemudian terlihat mengetik lagi, lalu berhenti lagi, selang tujuh detik kembali mengetik. Eren merengut jengkel di depan gawai,
"Armin jadi ngetik gak sih?"
Pesan dari Armin setelah mengetik dengan hilang timbul adalah emot tawa, membuat Eren hanya tepuk jidat.
"Hehe ... hehehehe," begitu pesan pertama Armin setelah ditunggu hampir dua menit. Aduh, admin grupnya malah nge-prank.
Baru saja Eren mau mencibir, Armin langsung mengirim pesan yang sangat dinanti oleh Eren.
"Kalau hanya menggabungkan audio dan video itu mudah kok," ujar Armin.
Demi Ganesha sang dewa kecerdasan, muka Eren cerah dan glowing seketika. Hebat nian Armin itu.
"Armin aku padamuuu, deh."
Angin segar serasa berembus di hidung Hiroto ketika Eren mengirim chat,
"Maehara, aku punya kenalan yang bisa memenuhi kebutuhanmu!"
Segera Hiroto mengetik di grup Ambyar Brothers, "Lihat nih, bantuan sudah datang, Bapak-bapak kolonial!"
Kemudian ponsel Hiroto hening. Eren rupanya tidak nge-chat apa pun lagi. Hiroto panik, "Oi, gimana?" kirimnya ke Eren.
"Mana bantuannya?" Koro-sensei memperparah keadaan semenit kemudian. "Aku sudah pakai pomade dan baju terbaikku, nih."
"Astaga-dragon, aku 'kan nggak bilang kita mau langsung rekaman!" balas Hiroto.
"Aku sudah nyiapin galon kosong di rumah, nih," timpal Pak Mario.
"Gitarku sudah di-stem," imbuh Bang Red Eye.
Hiroto memelototi foto profil Eren dalam jubah toga. Orangnya sedang online sekarang! Dipencetnya logo gagang telepon, memaksa Eren menanggapinya.
Sambungan ditolak sepihak oleh Eren. Uh, rasanya lebih cidro dibanding teleponnya ditolak gebetan. Sejurus kemudian, Eren mengetik,
"Bentar!"
Hiroto merepet, "Duh, Mr. WerbenJagerManJensen! Kamu lebih P-H-P ketimbang gebetanku waktu semester satu!"
"Kalian mau rekaman berapa lagu?" Eren bertanya.
"Mungkin dua atau tiga," balas Hiroto secepat mungkin sebelum Eren kabur lagi.
"Pamer Bojo mau?" Eren rupanya masih di seberang chat Hiroto.
Pikiran jahil Hiroto membuat tafsir ambigu dari pertanyaan Eren, "Idih, punya bojo aja belum, mana bisa pamer!"
Eren mengirim emot gambar pup.
"Ampun ampun. Hei, temenmu itu gimana?"
"Ini dia lagi siapin. Kalian siap-siap aja, nanti bisa langsung rekaman."
Mata Hiroto membola. "Wah, sip." Malah dia sendiri yang belum touch up untuk rekaman! Dibongkarnya lemari dan diaduknya laci, merutuki diri yang lupa beli pomade sebelum himbauan karantina mandiri. Nanti dia kalah ngejreng dibanding Koro-sensei, dong!
Selesai bersiap, Hiroto membuka chat Eren. Si apoteker mengirim sebuah file audio dan meneruskan sebuah daftar panjang yang mestinya diketik oleh temannya yang ahli IT:
1. Unduh mp3 di satu hape dengan pencet gambar panah ke bawah, lalu pasang headset di telinga.
2. Siapkan satu hape lainnya untuk merekam. Apabila kesulitan, minta bantuan teman atau keluarga.
3. Siapkan diri untuk bernyanyi atau main alat musik. Kalau bisa, latar belakangnya jangan layar televisi atau kaca, nanti bisa muncul Sadako.
4. Kalau sudah siap, nyalakan perekam video di hape kedua (biasanya berupa tombol merah), putar lagu mp3 di hape pertama (tandanya adalah segitiga dengan ujung runcing hadap kanan), lalu nyanyikan/mainkan bagian masing-masing.
Hiroto merengut, "Ini kayak step-by-step belajar komputer buat orang tua!"
"Lha, 'kan memang anggotanya tua-tua?" balas Eren. "Udah tuh, kalian bisa langsung rekaman sendiri-sendiri. Nanti kirim hasilnya ke aku."
Hiroto meneruskan semuanya ke grup Ambyar Brothers dan mencoba memutar audio. Rupanya itu versi minus one, lagu yang hanya ada musiknya yang biasa dipakai di karaoke, dari lagu "Pamer Bojo". Hiroto jadi semangat dan baru sadar, dia hanya punya satu ponsel. Tak hilang akal, dibukanya laptop dan diunduhnya audio itu di sana, tak lupa headset dipasang di port audio si laptop. Ponsel disiagakan untuk rekaman, karena Hiroto tahu kualitas gambar kamera hapenya top markotop.
Tapi, belum jadi dia rekaman, WA-nya ribut lagi. Grup Ambyar Brothers biang keladinya.
"Gimana caranya ngerekam video?" Pak Chantha bertanya.
"Baiknya posisi hapenya mendatar atau tegak? Biar galonku kelihatan semua," timpal Pak Mario.
"Ada yang sudah bisa unduh mp3-nya? Caranya gimana, sih?" Pak Lovro pun ikut meramaikan suasana, sambil mengguncang serenteng kunci sebagai kecrekan.
Hiroto tepuk dahi.
"Salam kenal, saya Armin Arlert, akan membantu Bapak-bapak semua."
Ujung-ujungnya, Hiroto memasukkan Eren dan Armin ke grup dan mereka sekarang sedang melakukan group video call (setelah lewat perjuangan Hiroto yang mati-matian mengarahkan anggota senior bagaimana caranya untuk video call).
Pak Lovro takjub sekali dengan canggihnya teknologi dan malah menyapa semua orang. "Hei, Pak Dosen! Kau tambah kurus saja!" ucapannya yang terakhir membuat Koro-sensei memberengut. Terang saja, warung-warung di dekat rumahnya pada tutup!
Armin memotong, "Baiklah, saya akan mulai panduannya. Pertama, untuk mengunduh file audio ..."
Eren sendiri tidak ikut video call karena malas menyimak suara Armin yang betul-betul memperinci langkah demi langkah. Agaknya Armin sudah terlatih kesabarannya saat mengajari Kakek Arlert memakai gawai. Eren sendiri sedang mencari lagu lain yang pas untuk tribute, dan dia memakai radio untuk mencari inspirasi lewat berita-berita tentang sang maestro.
Di salah satu gelombang, didengarnya bahwa telah beredar lagu teranyar Didi Kempot, buah karya pamungkas sang maestro yang terbit gegara pandemi. Judulnya "Ojo Mudik" alias "Jangan Mudik" dan di sana dilibatkan beberapa pejabat lokal dari Surakarta, kota kelahiran Pakdhe Didi. Saat mendengarkan info ini di radio, Eren yang lagi minum jus tersedak.
(Duh, kok jadi pada tersedak, sih?)
Eren melotot, tapi satu nama yang dirasa dikenalnya itu tidak disebut ulang. Eren berselancar di ponselnya sambil penasaran; jelas yang disebut tadi adalah Rifai.
Eren terkekeh sendiri dan merasa lega setelah memastikan bahwa orang yang dimaksud bukan mantan dosen pembimbingnya waktu skripsi dulu. Dia nggak sanggup membayangkan pria beraura demit itu nyanyi, di genre lagunya Lord Didi pula.
Kembali ke grup WA, tutorial belum selesai. Eren coba bergabung dan mendapati Armin mencak-mencak di kursinya.
"Bukan, bukan begitu Pak! Maksud saya seperti ini, ayo lihat ke arah tangan saya, dong!"
Eren hanya bisa berdoa agar Armin dilimpahi kesabaran unlimited seperti kuota data di bulan-bulan pandemi. Setelah ini pun, Armin masih harus menampung keenam file hasil rekaman, memisahkan audio dari videonya, mengeditnya, dan mengepaskan semuanya kembali. Soal mengunggah konten itu ke YouTube, bapak dosen muda yang juga pegawai kios fotokopi itu bilang dirinya yang akan mengerjakan.
Perjuangan membuat persembahan terakhir bagi Pakdhe pun berlanjut ... dengan huru-hara, tentu. Tapi berkat bantuan berbagai pihak, karya itu pun jadi juga dan beredar di dunia maya, di mana para Sobat Ambyar di berbagai daerah turut melepas kepergian Lord.
(Jangan lupa, setelah huru-hara itu lewat, Armin dan Eren harus di-kick dari grup Ambyar Brothers).
Di masa physical distancing, justru social tightening harus diperkuat. Karena yang harus dipisah itu fisik satu sama lain, bukannya hubungan sosial apalagi hati.
Catatan Penulis [11 Mei 2020]
Sepetik kamus bahasa Jawa:
-Cidro punya arti mirip dengan padanan bahasa Indonesianya, 'cedera'. Dalam konteks lagu-lagu Didi Kempot, kata ini ekuivalen dengan sakit hati.
-Bojo itu bahasa Inggrisnya 'spouse'.
Satu trivia kecil:
-Salah satu pejabat yang terlibat dalam pembuatan lagu "Ojo Mudik" adalah Kapolresta Solo Kombes Pol Andy Rifai.
Disklaimer susulan:
-Smitty WerbenJagerManJensen adalah nama karakter dalam serial Nickelodeon, SpongeBob SquarePants kreasi Stephen Hillenburg.
Cerita ini, sesuai dengan judulnya, dipersembahkan untuk The Godfather of Broken Heart, sekaligus memeriahkan Stay at Home challenge yang diadakan oleh KaizumiAyame.
Garis pemisah, alih-alih tanda pemisah yang biasa dipakai penulis seperti pada Mozaik Lepas, adalah pengingat bahwa kita masih harus physical distancing.
Terima kasih sudah membaca dan Salam Ambyar.
...***...
Mozaik Lepas
...***...
"Baaang, Abang sini dulu deh," panggil Eren pada Abangnya.
Bukannya menghampiri adiknya, Zeke malah melengos menuruni tangga.
"Bentar, pup dulu."
Mengabaikan adab kesopanan, Eren terus saja meneriaki Zeke supaya cepat-cepat mendatanginya. Sesungguhnya Zeke agak heran melihat Eren senewen nongkrong di depan laptop sadari tadi, sambil memaki-maki seseorang bernama Maehara karena lama sekali. Entah, Zeke tidak punya ide tentang Eren dan seseorang yang bernama Maehara itu sedang berkomplot tentang apa. Sejak pagi, Eren sudah mem-booking mau pinjam speaker kepunyaannya dan menggelar beberapa stoples jajanan di kamarnya.
Zeke menimbang penuh kehati-hatian, perlukah ia melaporkan kelakuan Eren pada ayah mereka?
Pasalnya, terakhir kali Eren berperilaku demikian adalah saat acara kartun favoritnya khatam riwayatnya, itu saja hampir 12 tahun yang lalu. Bedanya kali ini Eren menatap monitor dengan semringah, persis karyawan dapat THR dadakan.
Baru saja Zeke angkat kaki dari toilet, Eren memekik kegirangan.
"Bang, cepetaaan!" teriak Eren.
Heran, Eren memang suaranya tipe-tipe suara TOA, Zeke di lantai bawah sedangkan Eren dari lantai dua.
Saat menaiki tangga suara musik tradisional menyambut telinga Zeke, membuat dia semakin heran dengan kelakuan Eren. Sekadar informasi, biasanya sore-sore begini, Eren menyeduh kopi lalu menyetel lagu dengan headset sambil duduk atau sok-sokan merem syahdu di tepi jendela. Sampai hampir keriting pita suara Zeke mengingatkan kalau ada setan lewat Eren bisa terjengkang dan salto mencium tanah.
"Ereeen, udah sore ini, jangan ribut. Kamu mau didatangi pak RT?" omel Zeke di mulut pintu kamar Eren yang terbuka.
Eren malah menyuruh Zeke mendekat sambil cengar-cengir, "Sini, Bang."
"Enggak, kecilin dulu volumenya. Kek orang hajatan aja," tegas Zeke.
Inikah efek dari keseringan mendengarkan lagu dengan headset? Zeke curiga ambang pendengaran Eren sedikit geser gara-gara itu.
"Ya Gusti, pandemi begini mau membuat janji ketemuan dengan Sp. THT masih bisa gak, ya?" batin Zeke.
"Iya-iya udah, sini-sini, Bang. Kita nonton lagu cover Didi Kempot dulu," ajak Eren.
"Huh?"
Hampir empat menit lebih tiga puluh detik mereka melihat monitor. Awalnya Zeke merasa asing dengan genre yang dibawakan grup tersebut. Sesekali berkomentar betapa random-nya anggota grup tersebut, ada yang ganteng sekali, ada yang wajah kriminal, ada yang seperti bapak-bapak pula.
Hingga pada komentar, "Eh, kok ada galon segala?"
Eren terlihat berseri-seri seperti baru saja mendapat anggota MLM.
Pada akhirnya pun abangnya Eren bertanya, "Bagus juga mereka. Nama grupnya apa?"
