Actions

Work Header

I'm Gonna be Around

Summary:

Dalam diamnya dia juga memperhatikan bagaimana Lin Qikai memimpin rapat itu, memberi koreksi juga masukan tambahan untuk hal-hal yang kurang pas dengan keinginannya. Ketegasan dan ketelitian seorang Lin Qikai sudah menjadi rahasia umum bagi mereka yang bekerja bersamanya, sedikit kesalahan sepele bisa berujung petaka kalau tidak segera disempurnakan. Jadi selama rapat Luo Fusheng juga harus pandai-pandai menjaga raut wajahnya setiap kali ada peserta rapat yang melakuan kesalahan dan wajah mereka langsung pucat pasi begitu bertemu pandang dengan Lin Qikai ….

Work Text:

Hujan gerimis turun semenjak pagi dan tak ada tanda akan berhenti walau sudah lewat tengah hari. Sebuah mobil sport mewah berwarna merah melaju kencang memasuki salah satu hotel termewah di kota itu.

Pegawai yang bertugas di pintu depan segera mengenali siapa yang datang. Begitu mobil berenti, para pegawai hotel serentak langsung membungkukkan badan.

“Selamat datang, Èr dāngjiā.”

Seorang pemuda berusia di pertengahan usia dua puluh turun dari kendaraan mewah itu. Parasnya tampan, tubuhnya dibalut pakaian santai berupa kaus berwarna abu gelap dipadu dengan mantel tpis panjang sebatas lutut berwarna krem dan celana jeans juga sepatu boots. Poninya yang sedikit panjang ditata belah tengah dan dibiarkan jatuh secara alami membingkai wajahnya.

Dia adalah Luo Fusheng, putra angkat keluarga Hong yang dipercaya untuk mengatur bisnis keluarga mulai dari bar, restoran hingga kasino. Walau bukan putra kandung, tapi Luo Fusheng berhasil menunjukkan kemampuannya dalam mengelola bisnis keluarga Hong hingga dia mendapat kepercayaan mutlak dari kepala keluarga Hong. Begitu berkuasanya dia hingga panggilan Èr dāngjiā sudah menjadi hak khusus untuk seorang Luo Fusheng.

Berjalan masuk ke dalam hotel itu, Luo Fusheng melirik jam tangannya, “Apa Dàgē sudah selesai rapat?” tanyanya pada salah seorang pegawai yang mengawalnya sampai ke depan lift.

“Tuan Muda Lin akan selesai sekitar sepuluh menit lagi. Anda bisa menunggu di kantornya.”

Luo Fusheng melangkah masuk ke dalam lift begitu pintunya terbuka, “Tidaklah. Aku langsung ke kamarnya saja.”

Dan pegawai di sana hanya bisa membungkukkan badannya saja.

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

Granting You a Dreamlike Life

I’m Gonna be Around © aicchan

Lin Qikai - Luo Fusheng

Modern AU

(Fanfiksi ini ditulis tanpa tujuan untuk mendapatkan keuntungan materi)

ENJOY

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo

Kamar 8081 adalah kamar khusus di hotel itu, kamar dengan konsep Penthouse mewah yang menjadi salah satu nilai jual paling tinggi. Luo Fusheng mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dompetnya dan memakainya untuk membuka pintu. Kartu itu adalah kunci khusus yang hanya dimiliki oleh tiga orang saja.

Di dalam, Luo Fusheng langsung duduk di sofa panjang yang nyaman dan dia bersandar di bantal-bantal empuk di sana.

Tak begitu lama menunggu, pintu kamar terbuka lagi dan kali ini sang pemilik yang masuk.

Lin Qikai adalah pemuda berpenampilan selalu rapi kapan dan dimana pun setelan jas formal dan kacamata berbingkai bulat menjadi ciri khasnya. Putra keluarga Lin itu adalah pimpinan di hotel milik keluarganya ini, dengan bakat dan ketekunannya, dia mampu mengembangkan jaringan hotelnya hingga ke luar negri.

“Fusheng,” sapa Lin Qikai.

Dàgē,” Luo Fusheng melambaikan tangan sekenanya.

Lin Qikai membuka kancing jasnya sebelum duduk di samping Luo Fusheng, “Xingcheng sudah berangkat?”

“Yap. Aku menunggu sampai pesawatnya lepas landas. Aku kan kakak yang baik.”

Tak menanggapi itu, Lin Qikai menuang air putih ke dalam gelas yang selalu tersedia di meja, “Kenapa langsung kemari? Kau tidak ada pekerjaan?”

Luo Fusheng mengangkat bahunya, “Hari ini aku hanya menyiapkan tempat untuk konferensi pers untuk Lan Lan nanti malam dan semua sudah selesai, makanya aku merusuh ke sini.”

“Dia semakin sibuk saja, sama seperti Ruomeng. Rasanya sudah hampir sebulan ini aku tidak bertemu dengannya.”

“Itu sih karena kau saja yang gila kerja sampai tidak sempat pulang ke rumah. Kemarin aku ketemu Ruomeng kok di lokasi pengambilan gambar.”

Meminum isi gelasnya sampai habis, “Mau bagaimana lagi, aku berniat menyelesaikan kontrak baru ini sebelum akhir bulan. Mungkin setelah itu aku bisa sedikit bersantai.”

Luo Fusheng bersila di sofa, “Urusannya lancar?”

“Mn. Lokasi baru sudah disepakati, hanya tinggal proses perizinan dan pembangunan bisa segera dimulai.” Lin Qikai memandang jam tangannya, “Aku harus bertemu dengan arsitek nanti jam 3. Kalau kau menganggur, kau bisa ikut aku.”

“Boleh?”

“Tentu saja. Ide-idemu kadang cemerlang. Hotel ini juga banyak mendapat masukan darimu.”

Senyum lebar menghias wajah Luo Fusheng, “Baiklah!! Aku ikut!” serunya.

Lin Qikai ikut tersenyum, lalu mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol santai, lebih tepatnya Lin Qikai mendengarkan semua keluhan Luo Fusheng tentang ayah angkatnya yang terus berusaha menjodohkan dia dengan gadis-gadis dari keluarga koleganya.

“Yang benar saja!! Aku masih dua puluh empat tahun, masa sudah disuruh menikah. Kau saja tidak pernah dirusuhi Paman dan Bibi untuk segera menikah kan, Dàgē?”

“Mereka tidak pernah memaksaku.”

“Tuh kan!! Terus kenapa yìfù sepertinya pusing sekali masalah jodoh? Padahal aku sudah bilang kalau aku mau konsentrasi kerja dulu.”

Lin Qikai meletakkan gelasnya di meja, “Kenapa tidak kau katakan saja seperti itu pada Paman Hong?”

“Sudah!! Tapi tidak didengarkan. Sampai kesal sendiri aku,” Luo Fusheng mengambil switch dari dalam laci meja dan memainkan dawai itu sambil bersandar pada Lin Qikai, saking seringnya dia merusuh ke tempat Lin Qikai, barang-barang Luo Fusheng banyak yang sengaja dia tinggal di sini. “Dàgē, kau mainkan game-ku, ya?!”

“Hanya coba-coba. Aku penasaran apa yang membuatmu sampai kecanduan seperti itu.”

“Tidak kecanduan, kok,” Fusheng menyamankan posisinya dan mulai bermain.

Lin Qikai sendiri memilih untuk sekali lagi memeriksa sisa jadwalnya hari ini yang sudah dia catat dengan rapi di ponsel. Ayahnya sudah berulang kali menawarkan untuk mencari sekretaris untuknya tapi Lin Qikai selalu menolak. Dia sudah terlalu terbiasa mengerjakan semua sendiri, terlebih lagi dia bukan tipe yang mudah percaya pada orang lain.

Ruangan itu kini hanya diisi oleh suara dari dawai milik Luo Fusheng, tapi dua pemuda itu menikmati suasana santai yang sangat jarang bisa mereka nikmati.

.

#

.

Musim gugur sudah mencapai puncaknya, udara terasa semakin dingin dan dedaunan sudah memerah dengan sempurna. Luo Fusheng melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi melintasi jalan raya yang lengang. Hari ini dia punya misi khusus untuk menjemput Hong Lan, adik angkat yang sejak kecil selalu menempelinya bahkan sampai sekarang setelah dia menjadi salah satu bintang yang terkenal di penjuru negri.

 Sampai di tujuan, Luo Fusheng memarkir motornya begitu saja di depan pintu utama dan dia langsung masuk tanpa peduli sapaan penjaga di depan. Dia memandang jam tangannya sekilas, masih ada lima menit sebelum jadwal pemotretan selesai. Luo Fusheng masuk ke dalam lift dan naik ke lantai 8 tempat pemotretan dilaksanakan.

“Fusheng-!!” seru Hong Lan begitu melihat Luo Fusheng di ambang pintu. Gadis itu udah berganti pakaian dengan baju santai.

“Kau sudah selesai?”

Hong Lan menghampiri Luo Fusheng dan menggandeng lengannya, “Sudah. Kita bisa pergi sekarang.”

Setelah berpamitan pada staff di sana, Luo Fusheng dan Hong Lan kembali ke lantai bawah.

“Kau serius mau pergi ke mal?” tanya Luo Fusheng.

Hong Lan mengangguk, “Aku sudah lama tidak belanja, lagian hari ini jadwalku senggang.”

Sampai di motor milik Luo Fusheng, pemuda itu menyerahkan helm pada Hong Lan, “Tapi kau sekarang bintang besar, tidak bisa seenaknya jalan-jalan di tempat umum begitu.”

Hong Lan tersenyum begitu manis pada Luo Fusheng, “Kan ada Fusheng- yang jadi pengawalku.”

Sudah tidak bisa melawan, akhirnya Luo Fusheng menghela napas panjang dan memakai helmnya sendiri, “Ayo naik! Kita tidak punya banyak waktu karena aku sudah janji pada Yìfù kalau malam ini kita makan di rumah.”

“Oke,” Hong Lan naik di belakang Luo Fusheng dan memeluk pinggangnya sebelum mereka melaju dengan kecepatan luar biasa.

.

Pusat perbelanjaan hari itu cukup ramai karena memang sekarang adalah akhir pekan. Luo Fuheng berjalan di samping Hong Lan, membiarkan gadis itu memeluk erat lengannya, dia tidak takut pada media karena seluruh orang sudah tahu dia kakak dari bintang cantik itu.

Luo Fusheng jadi teringat kehebohan saat pertama media mendapati Hong Lan berjalan dengan seorang pria. Waktu itu karir Hong Lan sedang menuju puncak, jelas saja itu menjadi berita yang meyebar luas dengan cepat. Keluarga Hong sampai harus mebuat klarifikasi karena masalah itu. Tapi itu juga jadi kesempatan untuk Luo Fusheng memberi peringatan pada siapapun yang berniat mengganggu Hong Lan, dia tidak akan segan memakai kemampuan bela diri yang dia kuasai untuk menjaga adik tersayangnya.

Sungguh … Luo Fusheng tidak ingin berusan dengan media hiburan lagi seumur hidupnya.

“Fusheng-, lihat itu, tasnya lucu sekali. Cocok untuk Yuanyuan,” Hong Lan menunjuk sebuah tas di etalase toko bermerek ternama.

Alis Luo Fusheng terangkat, “Yuanyuan?”

“Mmn. Aku dan Ruomeng sepakat ingin memberi hadiah kejutan untuk Yuanyuan. Sekarang dia pasti kesepian karena Xingcheng belajar di luar negri sampai tiga tahun nanti.”

Barulah Luo Fusheng paham kenpaa Hong Lan ngotot ingin pergi kemari. Dia dan Lin Ruomeng sedang dalam misi memanjakan adik kesayangan mereka rupanya. “Lanlan, kalau kau mau memberi kejutan untuk Yuanyuan, kau harusnya belikan dia alat lukis, bukan tas mewah.”

Seketika Hong Lan seperti mendapat pencerahan dari langit, “Kau benar, Fusheng-!!” Gadis itu pun menarik lengan Luo Fusheng menuju ke toko alat tulis.

Mereka berjalan dengan mencoba abai pada orang-orang yang menoleh memandang mereka, kadang memekikkan nama Hong Lan. Sesekali terlihat ada yang ingin menghampiri, tapi langsung membatalkan niat begitu melihat siapa yang ada di samping bintang muda itu.

Hong Lan tertawa senang, “Selama jalan dengan Fusheng-, aku benar-benar bebas dari gangguan. Harusnya kau jadi pengawalku saja setiap hari biar aku bisa shopping dengan leluasa.”

“Heh! Terus kau pikir aku tidak butuh mengurus pekerjaanku?”

“Ya kau kan bisa sewa sekretaris. Kau dan Lin-Dàgē itu sama saja, pecandu kerja.”

“Jangan samakan aku dengan Dàgē!! Dia lebih parah.”

Mereka berjalan sambil terus mengobrol tanpa arah.

.

.

“Kau tidak tidur di sini, Fusheng-?” Tanya Hong Lan saat Luo Fusheng memakai lagi jaket kulitnya seteah mengobrol sebentar usai makan malam.

“Tidak. Aku ada janji pagi-pagi sekali untuk memeriksa gudang wine.”

Hong Lan merengut, “Selaginya aku bisa santai di rumah, kau malah sibuk terus.”

Sekuat hati Luo Fusheng mencoba untuk tidak takluk pada serangan maut adiknya, dia pun menepuk kepala Hong Lan, “Sampai jumpa,” dan dia pun meninggalkan kediaman keluarga Hong untuk kembali ke apartemennya sendiri.

Tempatnya tinggal cukup jauh dari rumah keluarga Hong karena Luo Fusheng memilih lokasi yang lebih dekat dengan tempat kerjanya.

Malam sudah cukup larut begitu dia sampei di gedung apartemen, Luo Fusheng melajukan motornya ke tempat parkir di bawah tanah. Saat dia memarkir motor di tempat khusus yang dia miliki, Luo Fusheng melihat mobil hitam yang familiar. Buru-buru dia turun dari motornya dan menuju ke lift.

Sampai di lantai tempat kamar apartemennya berada, Luo Fusheng langsung membuka pintu yang tidak terkunci.

Dàgē?”

Lin Qikai muncul dari arah dapur, “Hei, aku merusuh malam ini.” Pemuda itu sudah memakai piyamanya karena seperti Luo Fusheng yang meninggalkan banyak barang di tempat Lin Qikai, Lin Qikai juga meninggalkan banyak barang di rumah Luo Fusheng. Rambutnya pun tidak tertata super rapi seperti biasa, tapi hanya disisir seadanya saja supaya tidak terlalu berantakan.

“Tumben?” Luo Fusheng meletakkan helm di lemari yang di dekat pintu lalu mengganti sepatunya dengan sandal rumah. “Ada masalah pekerjaan?”

“Begitulah,” jawab Lin Qikai singkat tapi Luo Fusheng menangkap kalau kakak sulungnya itu sedang tidak ingin membahas tentang pekerjaan, jadi dia hanya diam. “Kopi?”

“Cuma kau yang minum kopi jam segini, Dàgē.” Luo Fusheng menyusul Lin Qikai ke dapur dan melihat dua mangkuk mie yang masih mengepulkan uap panas. “Wah! Mie buatan Dàgē, sudah lama sekali,” dia mencuci tangan sebelum duduk di meja makan dan mulai memakan mie di mangkuk.

Lin Qikai duduk berhadapan dengan Luo Fusheng, “Seharian ini kau kemana?”

“Hm? Aku? Cuma menemani Lanlan belanja, lalu makan malam di rumah.”

“Kau sudah makan?”

Luo Fusheng mengangguk sambil mengunyah mienya.

“Tidak usah dipaksa makan kalau kau sudah kenyang.”

Luo Fusheng menjawab setelah menelan, “Tidak tidak. Makanan buatan Dàgē punya tempat khusus di perutku,” dia tertawa pelan. “Serius. Aku tidak memaksakan diri,” dia melanjutkan makannya dan Lin Qikai pun mulai memakan mienya sendiri.

Mereka makan sambil bicara santai, membahas tentang rencana esok hari.

“Kalau butuh bantuan, aku bisa ke kantormu setelah selesai memeriksa gudang,” Luo Fusheng meminum sisa kuah di dalam mangkuk. “Tidak ada jadwal penting lagi untukku setelah itu, jadi aku lumayan bebas.”

“Boleh. Besok aku hanya ada jadwal rapat di hotel jam tiga.”

“Oke. Aku langsung ke sana begitu selesai dengan pekerjaanku.”

Kemudian setelah menghabiskan makanan mereka, keduanya memutuskan untuk bebersih besok saja dan langsung tidur. Mereka lalu masuk ke kamar Luo Fusheng karena unit apartemen itu memang hanya memiliki satu kamar. Lagipula mereka sudah biasa berbagi kasur sejak kecil, jadi ini sudah seperti sewajarnya saja. Lin Qikai langsung merebahkan diri di kasur sedangkan Luo Fusheng memilih untuk mandi sebentar supaya tidurnya lebih pulas.

Malam itu mereka menikmati istirahat singkat yang sangat berkualitas.

.

.

Seperti yang sudah direncanakan, Luo Fusheng datang ke hotel yang dikelola oleh Lin Qikai. Karena dia akan menghadiri rapat, hari ini Luo Fusheng memakai setelan resmi berwarna biru tua lengkap dengan dasi dan juga sepatu pantofel. Seorang pegawai wanita menyambutnya di pintu lobi dan langsung mengantar Luo Fusheng ke ruang rapat. Di dalam dia melihat para pejabat penting di hotel itu sudah siap, Luo Fusheng pun langsung duduk di kursi kosong yang ada di samping Lin Qikai.

“Kau tepat waktu,” Lin Qikai memberikan sebuah map pada Luo Fusheng.

“Tentu saja, aku tidak mau membuatmu kesal, Tuan Muda Lin,” kelakar Luo Fusheng. Lalu dia langsung membaca data-data dalam map itu Walau sering tampak seperti berandalan yang hanya bisa baku hantam, Luo Fusheng boleh menyombongkan diri kalau dia bisa memahami data finansial seperti ini hanya dengan sekali baca, terima kasih pada didikan luar biasa yang dia dapat sejak kecil.

Tepat setelah Luo Fusheng selesai membaca data di dalam map, rapat pun dimulai.

Mau berapa kali dia turut serta dalam rapat yang dipimpin oleh Lin Qikai, Luo Fusheng tetap merasa kagum bagaimana kakaknya itu bisa membuat orang-orang yang jauh lebih tua darinya menaruh respek yang begitu dalam. Rencana pembangunan hotel baru di Shanghai memang menjadi proyek impian sejak lama, jadi Luo Fusheng paham sekali kenapa Lin Qikai ingin semua sempurna dan bisa berjalan dengan lancar.

Karena dia hanya ‘penyusup’ dalam rapat ini, Luo Fusheng tidak bicara jika tidak diminta, jadi dia mencatat apa yang dia rasa perlu untuk dievaluasi ulang. Dalam diamnya dia juga memperhatikan bagaimana Lin Qikai memimpin rapat itu, memberi koreksi juga masukan tambahan untuk hal-hal yang kurang pas dengan keinginannya. Ketegasan dan ketelitian seorang Lin Qikai sudah menjadi rahasia umum bagi mereka yang bekerja bersamanya, sedikit kesalahan sepele bisa berujung petaka kalau tidak segera disempurnakan.

Jadi selama rapat Luo Fusheng juga harus pandai-pandai menjaga raut wajahnya setiap kali ada peserta rapat yang melakuan kesalahan dan wajah mereka langsung pucat pasi begitu bertemu pandang dengan Lin Qikai ….

“Haaaaah!!! Akhirnya selesai juga,” Luo Fusheng langsung melepas jas juga rompi dalamnya sebelum membanting diri ke sofa empuk yang ada di kamar Lin Qikai. “Dàgē, kau harus metraktirku makan malam.”

Lin Qikai duduk di sofa tunggal, dia juga melepas jas tapi tetap memakai rompi dalamnya, “Baiklah. Kau banyak membantu hari ini, jadi kau mau makan apapun, aku turuti.”

“Sungguh?”

Lin Qikai hanya mengangguk.

“Kalau begitu aku ingin makan shengjian!!”

Kedua alis Lin Qikai terangkat, “Shengjian.”

“Shengjian!!” tegas Luo Fusheng.

“… Kau itu … murah, ya?!”

“HEI!!” Luo Fusheng melempar bantal duduk pada Lin Qikai yang langsung tertawa dan mengelak dari serangan berikutnya.

“Iya iya, maaf!!” Lin Qikai menangkap bantal yang menjadi senjata Luo Fusheng, “Kita makan di restoran dimsum saja kalau begitu.”

Luo Fusheng beranjak dari sofa dan menuju ke kamar tidur untuk berganti pakaian, “Aku tadi tidak bawa mobil loh, soalnya aku nebeng Lanlan,” katanya sambil membuka lemari pakaian kecil di samping lemari utama.

“Oke. Kita pakai mobilku,” Lin Qkai berdiri dan mengambil kunci mobilnya dari dalam laci meja, “ tapi kau yang menyetir.”

“Baik, Tuan Muda. Selama kau yang bayar makanku malam ini, aku mau jadi supirmu.”

Lin Qikai tertawa pelan.

Setelah Luo Fusheng berganti pakaian dengan kaus santai, jeans dan jaket kulit, mereka meninggalkan kamar dan menuju ke lantai parkir di bawah tanah. Mobil milik Lin Qikai walau mewah, tapi tidak mecolok seperti pilihan mobil Luo Fusheng.

Dàgē, kau tidak mau ganti mobil, gitu? Ini sudah kau pakai lebih dari enam tahun loh,” Luo Fusheng masuk ke dalam mobil di kursi pengemudi dan Lin Qikai masuk dari sisi yang lain.

“Untuk apa ganti kalau ini masih berfungsi dengan baik?” Lin Qikai memakai sabuk pengamannya.

Luo Fusheng tidak bicara lagi karena dia memang paham kalo Lin Qikai bukan tipe yang suka berganti-ganti barang demi mengikuti mode. “Kita makan di restoran yang mana?” Luo Fusheng menyalakan mesin dan melaju meninggalkan tempat parkir.

“Terserah kau saja.”

“Oke!!” Luo Fusheng pun melajukan mobil meninggalkan area hotel dan masuk ke jalanan utama yang cukup padat malam itu.

.

Sambil menunggu makanan datang, Luo Fusheng mengeluarkan ponselnya dan membalas beberapa pesan dari Hong Lan.

“Tumben sekali kau pilih restoran seperti ini,” Lin Qikai duduk di samping Luo Fusheng. Sekarang mereka ada di ruang makan privat di salah satu restoran lokal yang ternama, sebuah meja budar besar dengan delapan kursi ada di sana.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, Luo Fusheng menjawab, “Dàgē kan tidak suka makan di keramaian, makanya aku pilih yang ada ruangan privat begini.”

Itu membuat Lin Qikai tersenyum.

Tak lama kemudian pesanan mereka datang semua dan keduanya pun mulai makan.

“Hmm … shengjian di sini enak sih, tapi tetap tidak seenak kedai Niu. Kenapa juga mereka tidak buka sepanjang hari?”

“Yang benar saja,” Lin Qikai membuka salah satu wadah kukusan bambu yang berisi beberapa buah hakau. “Lagipula shengjian itu kan sejatinya menu untuk sarapan.”

“Tapi tetap enak dimakan kapan saja,” Luo Fusheng menghadap sepiring penuh shengjian dan menikmatinya sepenuh hati.

Lin Qikai memandang bagaimana Luo Fusheng melahap makanan kesukaannya. Sesekali dia menambahkan saus pedas dan membuat mulutnya belepotan. “Kau ini,” dia mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan sudut bibir Luo Fusheng, “tetap saja berantakan kalau makan.”

“Mm?? Habisnya aku lapar, Dàgē.”

“Pelan-pelan kalau makan! Sekarang cuma ada kita berdua, kau tidak perlu rebutan dengan Lanlan.”

Luo Fusheng tersenyum lebar, “Kau benar. Aku bisa makan sepuasnya.” Dia menghabiskan sisa shengjian di piringnya dan memesan satu porsi lagi melalui dawai yang tersedia. “Omong-omong Bibi jadi pergi ke Paris?”

“Ya. Rencana lusa berangkat.”

“Ruomeng ikut?”

“Tidak. Dia ada jadwal padat minggu ini.”

“Hmm … wanita di keluarga kita isinya artis semua, ya? Bibi Xia aktris yang sudah punya nama besar. Lanlan dan Ruomeng sekarang sudah jadi bintang muda dengan ribuan penggemar. Yuanyuan juga sudah mulai dikenal sebagai pelukis muda berbakat.”

Lin Qikai menganggukkan kepala, “Kalau dipikir … memang benar. Yang laki-laki justru minatnya berlainan. Kau suka gadget dan otomotif, Xingcheng mengoleksi segala jenis aksesoris.”

“Tapi kau cuma sibuk dengan pekerjaanmu, Dàgē,” Luo Fusheng mengarahkan sumpitnya pada Lin Qikai, “kau sungguhan butuh hobi.”

“Aku punya hobi.”

“Memeriksa berkas sampai lima kali sebelum kau puas itu bukan termasuk hobi.” Luo Fusheng tertawa saat Lin Qikai memukul lengannya.

Mereka menikmati makan malam itu dengan perlahan dan berbincang santai, sesekali membahas tentang hasil rapat yang menurut Lin Qikai masih jauh dari memuaskan.

“Kurasa kau juga harus menambahkan wahana untuk anak-anak,” kata Luo Fusheng. “Lokasinya kan dekat dengan tempat wisata juga, jadi kurasa akan banyak keluarga yang menginap di hotelmu.”

“Hmm … idemu masuk akal. Menurutmu apa yang pas? Playground? Kolam renang?”

Playground bagus, tambahkan yang indoor juga, jaga-jaga kalau hujan. Kolam renang … optional, sediakan saja kolam pendek di samping kolam utama, diisi permainan anak.”

Lin Qikai mengulurkan tangannya untuk menepuk kepala Luo Fusheng, “Kurasa aku harus mulai merayu Paman Hong supaya mengizinkanmu jadi asistenku. Rasanya pekerjaanku berkurang separuh kalau ada kau.”

Senang dengan pujian itu, Luo Fusheng tersenyum seperti bocah kecil yang diberi permen.

.

Selesai makan malam, keduanya memutuskan untuk langsung pulang. Luo Fusheng sekali lagi menginap di tempat Lin Qikai karena besok dia tidak ada pekerjaan penting, jadi dia ingin sejenak bersantai. Sampai di kamar hotel milik Lin Qikai, Luo Fusheng membiarkan kakak tertuanya  mandi duluan. Dia sendiri berbaring di sofa sambil memainkan ponselnya. Ada beberapa pesan dari Xu Xingcheng yang sekarang sedang menuntut ilmu di Perancis.

Untuk beberapa waktu, dia dan Xu Xingcheng sibuk berbalas pesan sampai perhatian Luo Fusheng teralih pada Lin Qikai yang menghampirinya, sudah berganti pakaian dengan piyama.

“Xingcheng?” tanya Lin Qikai sambil duduk di sofa tunggal.

Luo Fusheng ikut duduk dan meyerahkan ponselnya pada Lin Qikai, “Dia bilang sudah rindu masakan lokal, jadi kukirimkan saja foto makan malam kita tadi.”

“Kalian berdua itu tetap saja bocah,” Lin Qikai tersenyum melihat isi percakapan kedua adiknya yang benar-benar selevel obrolan anak SD.

Sambil menunggu Luo Fusheng selesai mandi, Lin Qikai mengambil alih percakapan di ponsel pemuda itu dan mengobrol dengan adiknya yang lain. Padahal baru beberapa bulan, tapi rasanya sudah lama sekali mereka tidak berkumpul bertiga. Biasanya kalau sedang senggang, mereka pasti menyempatkan diri untuk bertemu, entah untuk makan malam atau cuma sekedar minum-minum santai di bar yang dikelola Luo Fusheng.

Saat itu ponsel milik Lin Qikai yang tadi dia letakkan di meja, bergetar. Dia mengambil dawai itu dan membaca pesan yang ternyata dikirim oleh Xu Xingcheng. Heran, Lin Qikai pun membaca pesan itu.

“Sebentar lagi ulang tahun Fusheng.”

Barulah Lin Qikai paham kenapa Xu Xingcheng tidak mengirimnya di ponsel Luo Fusheng. Lin Qikai melirik kalender digital yang ada di meja kecil di samping sofa. Memang benar, sebentar lagi adalah hari ulang tahun Luo Fusheng, tapi momen itu bukanlah momen yang menyenangkan bagi mereka semua.

Lin Qikai bersandar di sofa dan menopang sebelah kaki pada kakinya yang lain. Dia menghela napas dan sekali lagi memandang kalender. 

Bagi Luo Fusheng, juga anggota keluarga yang lain, tanggal itu merupakan hari yang penuh duka.

Saat ayah dan ibu Luo Fusheng mengajak anak mereka untuk merayakan ulang tahun, mereka mengalami kecelakaan lalu lintas yang fatal. Kedua orang tua Luo Fusheng meninggal di tempat kejadian sementara Luo Fusheng berhasil diselamatkan walau mengalami luka yang parah.

Sampai saat ini Lin Qikai masih ingat benar sosok kecil Luo Fusheng yang harus terbaring di rumah sakit selama hampir satu bulan akibat luka-luka dan trauma yang mendalam. Lin Qikai juga yakin kalau dia tidak akan pernah bisa melupakan bagaimana Luo Fusheng menangis sejadinya, memanggil ayah dan ibu yang tidak akan pernah kembali.

Sejak itu Luo Fusheng tak mau lagi merayakan ulang tahun dalam bentuk sekecil apapun, bahkan sekedar menerima ucapan selamat saja dia enggan. Bahkan itu sudah menjadi aturan tak tertulis bagi siapapun yang bekerja di bawah keluarga Hong, Lin dan Xu.

Lamunan Lin Qikai buyar saat Luo Fusheng kembali duduk di sofa. Pemuda itu tampak lebih segar dan dia memakai kaos lengan panjang yang berukuran jauh lebih besar dari badannya.

“Keringkan rambutmu dengan benar!! Kau bisa sakit nanti.”

Luo Fusheng memakai handuk kecil yang melingkar di lehernya untuk mengeringkan rambut yang masih basah kuyub. “Kau ngobrol apa dengan Xingcheng?” dia mengambil ponselnya yang masih dipegang Lin Qikai lalu membaca lanjutan percakapan di sana. “Jadi tahun baru nanti dia tidak bisa pulang? Menyebalkan sekali.”

“Mau bagaimana lagi? Dia pasti sibuk dengan sekolahnya di sana.”

Sambil membalas lagi pesan di ponselnya, Luo Fusheng berpindah posisi menjadi bersila di sofa, “Lagian ngapain sih dia pakai ambil S2 di luar negri segala? Memangnya di sini tidak ada kampus yang bagus, apa?”

Lin Qikai tidak menanggapi.

Suara dering ponsel Luo Fusheng mengejutkan mereka berdua. Luo Fusheng langsung menerima panggilan itu karena berasal dari salah satu bar yang dia kelola. Mereka tidak akan menghubunginya kalau tidak ada sesuatu yang mendesak.

Èr dāngjiā, tolong kemari segera!!” suara Shuang-Jiě, manager yang dipercaya Luo Fusheng untuk mengatur tempat itu, terdengar panik.

Dari belakang terdengar suara keributan dan benda-benda yang pecah.

“Apa yang terjadi?”

“Ada perkelahian dan kami tidak bisa menghentikannya.”

“Aku akan sampai dalam lima menit, segera hubungi polisi!!”

“Tapi dia—”

“Aku tidak peduli sekalipun dia anak presiden. Segera panggil polisi!!” Luo Fusheng memutus panggilan itu dan langsung berdiri.

Lin Qikai memandang khawatir melihat raut wajah Luo Fusheng berubah, “Ada masalah?”

“Aku harus ke bar sekarang. Aku pakai mobilmu ya, Dàgē?”

“Pakai saja.” Lin Qikai berdiri dan mengikuti Luo Fusheng sampai ke pintu, “Perlu aku temani?”

“Tidak usah, Dàgē di sini saja.”

“Baiklah. Hati-hati!”

Tak membuang waktu, Luo Fusheng langsung meninggalkan hotel dan menuju bar yang letaknya memang tidak jauh, hanya berbeda satu blok saja. Dia memacu mobil dengan kecepatan tinggi, untung saja jalanan sudah sepi.

Di depan bar, Luo Fusheng memarkir mobilnya begitu saja. Dia melihat tamu-tamu banyak yang terduduk di halaman depan, beberapa tampak terluka dan beberapa pucat pasi. Pekerja di bar terlihat sigap mengamankan tamu-tamu, itu membuat Luo Fusheng bertekad akan memberi merekasemua bonus.

Èr dāngjiā,” seorang bartender berdiri di dekat pintu masuk, pelipis pemuda itu berdarah jelas karena benda tajam.

“Bagaimana di dalam?”

Dari bartender itu Luo Fusheng tahu kalau yang mencari pekara aadalah anak dari salah seorang pengusaha yang merupakan mitra kerja keluarga Hong. Yang berarti dia pasti memanggil anak buahnya sampai terjadi keributan sebesar ini.

“Dimana Shuang-Jiě?”

“Masih di dalam.”

Luo Fusheng pun langsung masuk ke dalam dan melihat beberapa orang masih baku hantam di bagian tengan bar. Di kericuhan itu Luo Fusheng melihat sosok Shuang-Jiě yang bersembunyi di balik konter bersama beberapa karyawan dan tamu.

“Shuang-Jiě!!”

Èr dāngjiā,” wajah Shuang-Jiě tampak lega melihat kehadiran Luo Fusheng.

Luo Fusheng berlutut di samping wanita yang dia anggap sebagai kakak sendiri itu, “Kau terluka?”

“Tidak. Kami baik-baik saja.”

Sebuah botol melayang ke arah konter dan enghantam meja marmer di sana. Refleks Luo Fusheng melindungi Shuang-Jiě dari pecahan kaca dan dia segera menyuruh semua yang ada di konter untuk segera keluar. Luo Fusheng sendiri tetap di tempat, dia memandang siapa biang onarnya dan menemukan seorang pemuda yang dia kenal dari pesta-pesta membosankan para konglomerat. Pemuda itu tampak mabuk dan mengamuk sambil melempar setiap botol yang ada di dekatnya sambil mengumpat entah apa. Beberapa orang berpakaian serba hitam terlihat bersiaga di dekat pemuda itu, jelas adalah pengawalnya.

“HEH!” Luo Fusheng sudah tak bisa menahan diri lagi dan dia berjalan mendekat ke arah pemuda itu. Jelas saja para pengawal si pemuda langsung menghalanginya, tapi Luo Fusheng bukanlah anak bawang di dunia baku hantam. Pendidikan bela diri sudah dia dapat sejak kecil dan dia sekarang bahkan lebih kuat dari kepala keamanan di rumah utama keluarga Hong.

Tanpa kesulitan berarti, Luo Fusheng merobohkan para pengawal itu dan langsung mencengkram lengan pemuda yang tampak sebaya dengannya.

“LEPASKAN AKU, BRENGSEK!! KAU TIDAK TAHU SIAPA AKU, HAH? AYAHKU BISA MERUBUHKAN TEMPAT BUSUK INI!!”

Tanpa basa-basi, Luo Fusheng menghantamkan kepalanya pada si pemuda itu sampai dia jatuh tersungkur dengan hidung yang berdarah. Sebelum si pemuda itu sempat bangkit, Luo Fusheng menginjak dadanya, menahan supaya dia tetap ada di lantai. “Kalau kau mau cari ribut di sini, pakai namamu sendiri, tidak usah bawa nama ayahmu, bocah manja!!”

Orang lain pasti akan ada dalam kesulitan besar kalau berurusan degan putra konglomerat seperti ini, karena itu Luo Fusheng tidak pernah mengizinkan pegawainya untuk terlibat langsung dan mereka harus segera menghubunginya kalau anak-anak manja seperti ini mencari pekara. Posisi sebagai Èr dāngjiā dari keluarga Hong membuat Luo Fusheng jelas memiliki posisi di atas manusia-manusia sampah yang hanya bisa bergantung pada nama dan harta orang tua.

Luo Fusheng mengeluarkan pisau lipat yang selalu dia bawa kemana pun karena dia sadar kalau dalam bisnis macam apapun, bahaya selalu mengintai dari setiap sudut. Dia mengarahkan pisau itu ke leher pemuda di kakinya, “Kau ingin ini selesai baik-baik atau kau ingin merasakan fasilitas di ruah sakit?”

Pemuda itu memandang tajam Luo Fusheng dan meludahinya di muka.

“Ah … baiklah kalau itu pilihanmu,” Luo Fusheng mengangkat pisaunya, tapi dia menggunakan kepalan tangannya yang lain untuk menghantam kepala pemuda itu sampai dia tersungkur tidak sadarkan diri.  

Dari arah luar Luo Fusheng bisa mendengar suara sirine. Dia berdiri dan membersihkan wajah dengan lengan bajunya. Sampai rumah, dia bertekad akan membakar baju yang dia pakai sekarang.

Seorang petugas kepolisian masuh dan langsung menghampirinya, “Èr dāngjiā, anda tidak apa-apa?” tanyanya. Polisi di distrik ada dalam pengawasan langsung dari keluarga Xu, jadi tidak heran kalau Luo Fusheng juga memiliki kuasa lebih.

“Ah. Aku tidak apa. Urus saja mereka!”

Polisi itu memandang orang-orang yang tergeletak pingsan di lantai. “Apa … apa saya harus melapor pada Inspektur Xu?”

“Tidak perlu libatkan Paman Xu. Kalau ada masalah di kantor polisi, panggil saja aku!”

“Baik, Èr dāngjiā.”

Luo Fusheng pun keluar dan langsung dikerumuni oleh para pegawai yang menanyakan keadaannya. “Sudah sudah!! Kalian ini seperti baru pertama saja melihatku berkelahi,” ujarnya. Lalu mereka semua kembali membantu tamu-tamu yang terluka. Ini akan jadi malam yang menyebalkan.

.

“Fusheng.”

Luo Fusheng menoleh dan terkejut melihat Lin Qikai, “Dàgē? Kenapa kau kesini?”

“Sudah lewat setengah jam tapi kau tidak menghubungiku, kupikir terjadi sesuatu yang gawat.” Lin Qikai memandang Luo Fusheng, memastikan pemuda itu tidak terluka.

“Aku tidak apa-apa. Polisi juga sudah datang, semua terkendali.”

Lin Qikai menghela napas lega, “Bagus kalau begitu,” dia menepuk pundak Luo Fusheng. “Apa kau sudah beritahu hal ini pada Paman Hong?”

“Tidak. Kesehatan Yìfù sedang tidak baik beberapa hari belakangan ini, aku akan selesaikan semuanya sendiri.”

Tiba-tiba saja mereka mendengar suara ribut di sekitar ambulans. Keduanya menoleh dan melihat seorang pria muda yang tampak sedang marah pada petugas medis di sana. Pria itu lalu menoleh ke arah Luo Fusheng dan langsung berjalan ke arahnya dengan wajah penuh amarah.

“KAU!! BERANI-BERANINYA KAU MELUKAI ADIKKU!!” Hadrik di pria walau dia masih berada cukup jauh.

“Aah … datang lagi makhluk manja,” Luo Fusheng hendak maju saat melihat pria itu sudah siap untuk memukulnya.

Namun belum sempat Luo Fusheng bergerak, Lin Qikai sudah berdiri di depannya. Dengan ketepatan yang tidak kalah dari Luo Fusheng, Lin Qikai menangkap lengan pria itu dengan sebelah tangan, menyapu kaki si pria dan mengangkatnya begitu saja seolah beratnya hanya seperti bantal bulu yang ringan, lalu Lin Qikai pun menghempaskan tubuh pria itu ke tanah dengan begitu kerasnya sampai Luo Fusheng yakin kalau paling tidak ada satu atau dua tulang yang terlepas dari sendinya.

Petugas kepolisian bergegas menghampiri mereka berdua dan mengamankan situasi.

Setelah polisi membawa si pelaku tadi, Luo Fusheng menghela napas panjang sebelum meyandarkan kepalanya di pundak Lin Qikai dari belakang dan mengusap-usapkan wajahnya di sana.

“Kadang aku lupa kalau kau lebih kuat dariku, Dàgē.”

Lin Qikai tersenyum dan mengusap kepala Luo Fusheng, “Èr dāngjiā tidak perlu merendah,” katanya sambil tertawa pelan. “Kurasa urusan di sini sudah selesai, lebih baik kita pulang sekarang.”

“Oke.”

Setelah berpamitan pada Shuang-Jiě dan memberi instruksi terakhir pada anggota kepolisian, Luo Fusheng mengikuti Lin Qikai menuju ke mobil dan mereka pun kembali ke hotel.

.

Di kamar, Luo Fusheng langsung membuka kaosnya dan melempar benda malang itu ke tempat sampah. Lin Qikai tidak berkomentar dan hanya diam menyimpan lagi kunci mobilnya di dalam laci. Dia mengikuti Luo Fusheng ke kamar dan melihat pemuda itu mengambil piyama dari dalam lemari milik Lin Qikai lalu  memakainya begitu saja sebelum merebahkan diri di kasur.

Lin Qikai mematikan lampu kamar dan melepas jaket yang dia pakai lalu dia duduk di samping Luo Fusheng. Dia sudah paham kalau kejadian seperti ini selalu membuat suasana hati Luo Fusheng menjadi buruk. Lin Qikai menyelimuti Luo Fusheng sampai sebatas pundak lalu membelai kepala pemuda itu, “Tidurlah!”

Luo Fusheng memejamkan mata dan menyamankan diri dalam sentuhan Lin Qikai. Sesuram apapun suasana hati Luo Fusheng, dia akan segera baikan kalau berada dekat dengan orang yang paling bisa dia percaya di muka bumi ini.

Dalam waktu singkat, Luo Fusheng sudah terlelap.

Perlahan Lin Qikai berdiri lalu keluar dari kamar. Melalui ponselnya dia menghubungi penanggung jawab kepolisian di distrik ini dan meminta semua masalah yang pasti akan terjadi nanti harus segera dilaporkan langsung padanya tanpa melalui Luo Fusheng.

Dia tidak akan membiarkan ada orang yang mengusik ketenangan keluarganya ….

.

Pagi harinya Lin Qikai terbangun dengan Luo Fusheng menempel padanya seperti bocah kecil. Kepala Luo Fusheng bersandar nyaman di pundak Lin Qikai, lengan pemuda itu juga memeluknya erat.

Lin Qikai tersenyum dan mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Luo Fusheng yang tetap pulas dalam tidurnya. Dia melirik jam digital meja yang masih menunjukkan pukul enam pagi. Hari ini tidak ada jadwal yang mendesak jadi dia tidak harus bangun pagi dan bisa sedikit bersantai, setidaknya dia tidak akan memaksa Luo Fusheng untuk bangun.

Terbuai kehangatan Luo Fusheng, Lin Qikai pun memutuskan untuk kembali memejamkan mata.

.

.

#

.

.

Malam tahun baru telah tiba, anak-anak dari keluarga Hong, Lin dan Xu menghadiri pesta tahunan yang kali ini diadakan di hotel yang dikelola oleh Lin Qikai. Acara yang membosankan seperti biasa tapi Lin Qikai tetap mempersiapkan segalanya dengan sempurna sampai semua tamu tidak punya hal untuk dicela.

Walau berasal dari salah satu keluarga terkaya di kota, mungkin di negara ini, Lin Qikai tidak pernah merasa nyaman berkumpul dan bergaul dengan anak-anak dari keluarga konglomerat lainnya yang hanya bisa memamerkan harta milik orang tua.

Dàgē.”

Lin Qikai menoleh dan melihat Luo Fusheng menghampirinya, “Fusheng.”

“Kenapa kau jadi hiasan tembok begini sih? Kau tidak mau berdansa?” Luo Fusheng berdiri di sampingnya, memandang ke lantai dansa yang ramai dengan pasangan yang bergerak mengikuti iringan musik. “Lihat itu, banyak gadis yang memandang penuh harap padamu.”

Lin Qikai mendengus pelan, “Bukannya mereka memandangmu, Èr dāngjiā?” dia meminum sampanye yang terlupakan di gelas yang dia bawa.

“Mana mungkin!! Kalau ada kau, gadis-gadis itu tidak akan melirikku sama sekali,” Luo Fusheng tertawa.

!! Fusheng!!”

Mereka berdua menoleh ke asal suara dan melihat Lin Ruomeng datang menghampiri mereka bersama Hong Lan dan Xu Xingyuan. Ketiga gadis itu, bagi Lin Qikai dan Luo Fusheng, adalah yang paling cantik di antara gadis-gadis lain yang berpenampilan meriah.

“Kenapa kalian malah di sini?” tanya Lin Ruomeng. “Banyak yang mencari kalian loh.”

“Fusheng-, kau masih hutang satu dansa denganku dan Yuanyuan. Jangan berani kabur, ya!!” Hong Lan berkacak pinggang.

Lin Ruomeng memeluk lengan kakaknya, “Kau juga harus berdansa denganku, . Aku mau membuat gadis-gadis itu cemburu dan mundur duluan sebelum berani mendekatimu.”

Kening Luo Fusheng berkerut, “Kau mau buat Dàgē jomblo seumur hidup, Ruomeng?”

“Ya tidaklah!!” Lin Ruomeng memandang kakaknya dengan penuh arti, “Aku hanya punya standart tinggi untuk calon iparku,” dia tersenyum. “Ya … minimal harus sepertimu lah, Fusheng.”

Kerutan di kening Luo Fusheng semakin ketara, “Kenapa aku?”

Lin Qikai menghela napas dan melepaskan diri dari adiknya, “Tidak usah dengarkan dia!” Lin Qikai mendekati Luo Fusheng dan membenahi dasi pemuda itu yang tampak berantakan, “Kenapa kau ini tidak bisa sekali pakai dasi dengan benar?”

“Aku kan bukan kau, Dàgē. Pakai baju seperti ini cukup satu bulan sekali untukku,” Luo Fusheng sedikit menaikkan dagunya agar Lin Qikai bisa merapikan dasinya. “Lagian aku tidak pernah pantas pakai setelan resmi begini, tidak seperti kau yang sepertinya lahir untuk memakai suit,” dia tertawa sementara Lin Qikai hanya tersenyum sambil membongkar ikatan dasi di leher Luo Fusheng.

Kedua pemuda itu jelas tidak sadar kalau tiga gadis yang ada di dekat mereka saling bertukar pandang dengan senyum yang menyimpan sejuta makna ….

“Jadi begitulah, Zheng Bao,” Lin Daoshan meminum anggur dalam gelasnya, “jangan bilang kalau kau tidak melihat semua itu.”

Hong Zheng Bao memandang ke arah putra angkatnya, “Aku baru sadar sekarang. Fusheng itu … dia sama sekali tidak pernah bicara apapun padaku setiap kali topik ini terangkat.”

“Fusheng tipe anak yang tidak suka menceritakan masalahnya sendiri, seharusnya kau yang paling tahu itu,” ujar Xia An Ni. “Ruomeng saja sudah gemas sekali melihat Qikai yang sepertinya berjalan terlalu pelan,” wanita cantik itu tersenyum teringat putrinya yang mengomel karena kakaknya tidak juga mengambil inisiatif dan membiarkan hubungannya dan Luo Fusheng mengambang dalam nama platonik.

“Kau tidak keberatan dengan ini kan, Zheng Bao?” tanya Lin Daoshan.

“Tentu saja tidak,” ujar Hong Zheng Bao. Jika memang ini pilihan Fusheng dan membuatnya bahagia, aku pasti mendukungnya.”

Xu Ruian yang sejak tadi menyimak akhirnya bicara juga, “Tapi aku tidak menyangka Qikai bisa dengan gamblang menyatakan niatnya pada kalian berdua.”

Xia An Ni tertawa, “Kalian sering salah paham dengan Qikai, dia itu sebenarnya tipe yang tidak suka basa-basi dan selalu mengatakan apa yang ada di pikirannya.”

Para orang tua kembali berbincang dan membiarkan anak-anak muda memilih jalan hidup mereka sendiri.

.

Udara dingin terasa sekali di ruang terbuka yang ada di lanta teratas hotel. Sebentar lagi tengah malam, banyak tamu yang memilih untuk keluar karena sebentar lagi akan ada pertunjukan kembang api yang tidak bisa dilewatkan.

Luo Fusheng berdiri di dekat pagar kokoh sambil menikmati segelas alkohol untuk menghangatkan tubuhnya. Dia memandang langit malam ini yang cerah tak berawan, cocok sekali untuk dihiasi dengan gemerlap kembang api.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh mantel tebal yang disampirkan di pundaknya. Dia menoleh dan melihat Lin Qikai di belakangnya, “Dàgē.”

“Kenapa kau di luar tanpa mantelmu, hah? Kalau kau sakit siapa yang mau mengurusmu?”

Senyum lebar menghias wajah Luo Fusheng, “Ya Dàgē lah.”

Lin Qikai ikut tersenyum tapi dia tidak bicara apa-apa. Sejenak mereka berdua berdiri bersisian, memandang wajah kota dari ketinggian. Lampu-lampu yang bersinar di kejauhan membuat malam terlihat lebih indah.

“Ini jadi tempat yang digemari para tamu. Mereka selalu bilang kalau pemandangan di sini luar biasa,” Lin Qikai membenahi letak kacamatanya.

“Jauh lebih berguna daripada sekedar membuat kolam renang di ketinggian, kan?”

Lin Qikai tertawa. Dia memandang Luo Fusheng dan menyibak poni panjang pemuda itu yang menutupi matanya, “Aku sudah bicara pada Paman Hong, dan beliau memberi izin padaku untuk menculikmu selama proses pengerjaan hotel baru.”

Kedua alis Luo Fusheng terangkat, “Serius?”

“Mn. Proposal yang kau ajukan tentang playground kemarin itu diminati sekali oleh Ayah, jadi beliau juga tidak keberatan kalau kau terlibat langsung dalam sisa proyek ini.”

“Wah … Paman Lin sampai bilang begitu. Aku jadi tersanjung.”

“Kau bersedia?”

Luo Fusheng tersenyum lebar, “Tentu saja. Aku akan membantumu sekuat tenaga, Dàgē.”

Lin Qikai ikut tersenyum, “Ini akan jadi hotel yang luar biasa. Aku yakin itu.”

Percakapan mereka terhenti saat terdengar suara para tamu yang mulai menghitung mundur. Lin Qikai dan Luo Fusheng pun memandang ke langit, lalu tepat pada hitugan nol, langit yang semula gelap, kini menjadi terang dengan warna-warna yang ceria disertai seruan meriah dari semua yang berkumpul di sana.

“Selamat tahun baru, Dàgē.”

“Selamat tahun baru, Fusheng.”

Suara kembang api dan juga suasana pesta masih begitu meriah dengan musik yang kembali mengiring malam yang masih panjang.

Lin Ruomeng, Hong Lan dan Xu Xingyuan duduk di sofa sambil menikmati camilan manis yang tersedia di meja.

“Lan Lan, sepertinya tahun ini taruhan kita belum juga ada kepastian yang jelas,” Lin Ruomeng memotong kuenya dengan khidmat.

“Sepertinya begitu, Ruomeng. Kita harus bersabar sampai tahun depan sepertinya.”

Mendengar itu, Xu Xingyuan tertawa pelan, “Kalian berdua ini, ditambah Gēgē juga, kenapa malah menjadikan hubungan Lin Dàgē dan Fusheng- sebagai bahan taruhan sih?”

“Habisnya merea itu menggemaskan sekali!!” kata Ruomeng yang kini malah menusuk kuenya tanpa ampun.

“Menyebalkan juga!!” Hong Lan hampir meremukkan gelas wiski di tangannya.

Xu Xingyuan tersenyum lembut, “Ya—kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua.”

Mereka bertiga kembali memandang Lin Qikai dan Luo Fusheng yang masih berbicang berdua. Bahu mereka bersentuhan dan posisi kepala mereka juga sangat dekat.

“Kalau tahun ini tetap tidak ada kemajuan, aku akan turun tangan sendiri!!” Kata Lin Ruomeng yang diikuti anggukan mantap dari Hong Lan.

Warna-warni dari kembang api yang menghiasi langit malam itu menjadi perwujudan dari harapan agar tahun yang baru ini pun bisa mereka lewati dengan penuh warna dan penuh cinta.

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

THE END

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo