Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Third Time is the Charm, Loka Cita
Stats:
Published:
2020-06-08
Words:
708
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
6
Bookmarks:
1
Hits:
63

White Rose

Summary:

Jeon Jeongguk, surat dan mawar putih ... membuat Taehyung gelisah hingga insomnia.

Ditulis untuk event challenge #Lokacita dan #thirdtimeisthecharm

Notes:

Ditulis untuk event #LokaCita dan #Third TimeIsTheCharm 

BTS in Indonesia Local High School!AU

BTS © Big Hit Entertaiment and themselves. This is a fanwork, I do not own the original, but I do own my fanfic story. This is for fun and not for commercial purpose.

Happy reading

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Bagaimana cara untuk dapat mengerti akan cinta? Apa itu cinta sebenarnya?

Taehyung gelisah berbaring di ranjangnya. Waktu telah menunjuk pada pukul satu dini hari. Namun matanya tak kunjung memberat, malah kian membelalak seolah baru saja di-endorse energi kafein. Taehyung menghela napas lalu bangun. Ranjangnya sudah acak-acakan. Bantal, guling hingga selimut sudah tak lagi berada di tempatnya akibat Taehyung yang sedari tadi tak bisa diam. Berusaha mencari posisi ternyaman untuk tidur, tapi tak jua menuju pulau mimpi.

Taehyung menuju ke meja belajarnya. Ia membuka laptopnya, meraih ransel dan mengambil camera case dari dalam sana. Taehyung menghubungkan kamera digital miliknya dengan kabel usb ke laptop, ia membuka folder galeri dan mulai membuka file foto-foto yang diambil tadi siang selama di klub.

Mereka memoto beberapa pemandangan jalan-jalan di Bandung. Mulai dari Jalan Asia-Afrika, Braga lalu pindah ke Jalan Merdeka. Mengabadikan pemandangan di jalan-jalan Kota Paris van Java ketika siang hingga senja tiba dalam potret dua dimensi. Kegiatan klub bermodus jalan-jalan sebetulnya. Namun tak ada yang protes, mereka memang sedang memburu banyak obyek foto untuk pameran seni akhir tahun yang akan digelar bersamaan dengan festival sekolah tahunan. Semua klub di sekolah berlomba-lomba memberikan yang terbaik. Akan ada pekan olahraga di minggu pertama, lalu pekan pameran dan bazaar makanan di minggu kedua dan minggu ketiga yang merupakan puncak festival akan ada pertunjukan besar-besaran dari seluruh klub di pensi.

Taehyung dapat begitu banyak pemandangan bagus untuk diabadikan. Jarinya lincah bermain di tetikus untuk berpindah dari gambar satu ke gambar lainnya. Meski Taehyung puas dengan hasil jepretannya, dia tetap harus menunggu keputusan dari Pak Bogum yang menjadi pembimbing di klub fotografi mengenai foto mana yang akan dipajang pada galeri foto pameran mereka nanti.

Hingga jemarinyaberhenti di sebuah foto. Foto candid seorang juniornya yang tengah membidikkan kamera ke salah satu gedung unik di Jalan Merdeka, BIP. Jeongguk bak tengah berpose, padahal ia hanya sedang mengambil potret gedung. Taehyung tanpa sadar jadi mengabadikan momen itu. Wajah serius Jeongguk terekam dalam dimensi dua. Lambungkan lamunan Taehyung kembali akan pertanyaan yang dari senja rasuki pikirannya. 

“Hhhh… apa sih? Jadi nggak bisa tidur gini,” keluhnya dengan wajah memelas. Taehyung capek, lelah, ingin tidur. Namun sosok dalam potret membuatnya bimbang dengan perasaan yang entah sejak kapan mulai bersemi di hatinya.

Taehyung seolah memutar ulang tumpukan memori. Teringat akan kenangan awal keduanya bertemu. Jeongguk mengenakan seragam putih-biru tua saat MOS berlangsung, pita merah putih melingkar di kerah yang biasanya dilingkari dasi. Pun topi dari rumput purun dikenakan di kepala ganti topi seragam untuk menghalau terik matahari. Jeongguk bersama teman-teman seangkatan sibuk mengikuti acara MOS yang digelar tiga hari dengan khusyuk. Taehyung yang waktu itu membantu jadi seksi dokumentasi terpaku menatap remaja belia yang berpipi gembul lucu.

Jeongguk menyapanya terlebih dulu kala itu. Senyum kelincinya membuat Taehyung langsung menyukainya. Bukan suka yang bagaimana saat itu. Murni karena senyum lucu itu menggemaskan dan Taehyung memang bucinnya segala sesuatu yang menggemaskan. Makanya dia senang saja saat disapa dan diajak berkenalan.

Hari kedua Jeongguk yang bantu Taehyung hampir dalam setiap kegiatan. Taehyung juga tidak mengerti kenapa dirinya malah jadi merepotkan orang, terlebih ini juniornya. Hingga membuat soulmate sehidup sematinya, Park-bantet kesayangan-Jimin, mengoloknya dengan sindiran Taehyung punya berondong jagung. Tentu saja Taehyung menampiknya. Jeongguk hanya berbaik hati membantunya dan dia lakukan itu ke semua orang. Anaknya ramah dan memang ringan tangan. Walau sekilas terlihat punya aura dingin mencekam, tapi pada dasarnya Jeongguk anak yang berhati emas.

Hari ketiga yang merupakan hari terakhir, kejutan pun menghampiri Taehyung dalam bentuk surat dan setangkai mawar putih. Setiap junior diharuskan menulis surat kepada senior yang sudah membimbing mereka selama tiga hari. Yang jadi persoalan, suratnya Taehyung tanpa nama. Tulisannya juga menggunakan ketikan, meski amplop suratnya ada tulisan tangan yang rapi jali dan malah sekilas terlihat seperti diketik daripada ditulis. Ya jelas Taehyung bingung. Inginnya sih dapat surat dari Jeongguk, tapi Taehyung tak berani bertanya. Pun ketika orangnya di depan mata. 

Lalu semua itu buatnya bingung hingga mata enggan menutup ketika waktu tidur tiba. Pagi tinggal menghitung  jam, Taehyung menghela napas. Bisa dipastikan pagi nanti Taehyung kena jatah omelan. Taehyung mengambil ponsel. Menyusuri kontak terakhir yang mengirimkan pesan lewat aplikasi obrolan. Nama Jeongguk berada di daftar teratas.

[Selamat tidur ya, Kak. Terima kasih buat bimbingannya hari ini.]

Taehyung jadi tak mengerti. Apakah ini cinta? Atau ia hanya sedang tersesat saja?

 

End

 

Notes:

Terima kasih sudah membaca. Rexa tadinya mau bikin lebih panjang tapi belum sempat TTATT semoga nanti bisa menulis lebih banyak.

Terima kasih buat penyelenggara event, maaf rexa ga bisa menulis lebih banyak. Terima kasih buat semua, sampai jumpa lagi.

Rexa, sign out