Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2020-06-16
Words:
517
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
25
Hits:
155

Night

Summary:

Khun yang membutuhkan Bam pada malam itu.

Work Text:

TUAN KHUN.

Panggilan tersebut selalu melekat pada benak Khun tatkala ia bertemu dengan Bam untuk kali pertama. Bam, pemuda sopan yang terkurung dan tak mengetahui apa pun perkara dunia yang kini ia pijaki. Terlalu polos, terlalu mudah disakiti. Awalnya Khun berteman dengan Bam hanya mencari cara untuk mempergunakannya. Karena ia percaya, seseorang pasti memiliki "nilai" tuk digunakan, entah itu hal baik atau buruk. 

Namun, entah semenjak kapan. Bam, layaknya sinar mentari, memasuki jiwanya. Untuk kali pertama Khun dapat menyebut seseorang sebagai teman, tidak, hubungannya dengan Bam tak seremeh itu, Bam adalah sahabatnya. Seseorang yang melihat Khun sebagai dirinya sendiri, tak peduli dirinya sekejam apa.

Khun berbaring di kasur, melihat langit-langit kamar yang berwarna krem. Suara detik jam yang seirama dengan jantungnya, menandakan betapa banyak sekon-sekon yang berlalu yang mana ia habisi dengan pikiran mengawang.

Dulu Bam hanyalah seorang bocah polos yang bahkan tak tahu caranya memukul seseorang. Kini, bocah itu jauh lebih kuat darinya. Dulu, Khun-lah yang menganggap bahwa Bam yang membutuhkannya, bukan dirinya. Lucu, kini terbalik. Ia jauh lebih lemah dari Bam dan ia yang membutuhkannya. Bagaimana jikalau Bam menganggapnya lemah dan tak pantas bersanding dengannya? Khun tahu, Bam tidak mungkin memiliki pemikiran seperti itu. Tetapi ... bagaimana jikalau dirinya yang menjadi penghambat Bam?

Rasanya ia ingin menampar pipinya dan berkata, "Tidak mungkin, jangan biarkan pemikiran konyolmu mengacaukanmu."

Ia harus menjadi lebih kuat dari pada siapa pun, agar mampu bersama Bam. Lantas ... bagaimana caranya agar lebih kuat?

Sembari memikirkan hal tersebut, Khun tak sadar adanya ketokan pintu berulang kali.

"Tuan Khun? Sudah tidur?"

Suara itulah yang membangunkan Khun dari segala benak pikirannya.

"Bam?"

"Iya, ini saya."

Khun segera bangkit dan membuka pintunya.

"Ada apa?" tanyanya tatkala netranya bertemu tatap dengan iris kuning agak gelap milik Bam.

Padahal dulu pemuda ini pendek, sejak kapan ia setinggi Khun?

"Anu ... tadi raut wajah Tuan Khun agak pucat, saya khawatir. Apakah Tuan Khun tak apa?"

"Aku ...," kemudian Khun memikirkan hal-hal yang baru saja ia pikirkan, "tidak tahu."

Bam memiringkan kepalanya, tanda tak mengerti.

Khun menarik Bam masuk, menutup pintu dan mengandengnya ke kasur.

"Duduk saja."

Bam menurut, setelah itu Khun duduk di sampingnya.

"Bam, jawab yang jujur."

Bam mengangguk.

"Apakah aku ini menganggu?"

"Apa maksud Tuan Khun?"

"Kini kau lebih kuat daripada diriku, tidakkah aku menghambatmu?"

Bam berpikir sejenak.

"... Tidak, Tuan Khun tidak menghambat saya. Justru karena ada Tuan-lah, saya bisa lolos dari berbagai bahaya. Jikalau Tuan Khun tidak mengarahkan saya. Saya mungkin sudah tiada. Dan juga," Bam memegang tangan Khun, "Tuan Khun adalah teman yang berharga, bagi saya."

Dengan cepat Khun memeluk leher Bam.

"Tuan Khun?" Bam bertanya atas tindakannya yang tiba-tiba.

"Sebentar saja."

"Baiklah." Khun mendengar senyuman dari suara Bam dan ikut tersenyum. Bam menepuk punggungnya pelan.

"Bam, aku takut diriku yang lemah ini tidak sanggup membantumu. Aku takut jika kau tak memerlukanku lagi. Konyol, padahal aku berpikir bahwa diriku akan baik-baik saja, jikalau sampai di titik dirimu tak membutuhkanku lagi. Ternyata tidak ... aku ingin kau membutuhkanku. Selayaknya aku membutuhkan dirimu."

"Saya membutuhkan Tuan Khun."

Khun terkekeh pelan, "Kau mengatakan hal itu hanya demi menenangkanku, 'kan?"

"Tidak. Saya benar-benar membutuhkan Tuan."

"Sesukamu saja." 

Khun tersenyum, sebab ia terlalu bahagia.[]

.

.

.