Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2020-07-01
Completed:
2020-07-14
Words:
1,469
Chapters:
2/2
Kudos:
6
Hits:
110

Teruntuk Bulan

Summary:

Chapter satu: (Drabble) Bulan yang Tidak Begitu Indah.

Notes:

Chapter 1: Bulan yang Tidak Begitu Indah

Summary:

Rangkuman kisah cinta di kehidupan pertama mereka.

Notes:

Hadiah balik untukmu, kawan 😘

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Darah yang tercecer, merah. Sama dengan warna rambut miliknya, ujar suara yang masih dapat ia dengar dengan jelas. Ujar suara yang seharusnya milik pria yang kini tergeletak, berhiaskan pedang tegak berdiri di atas dadanya. Rambut pirang secerah matahari yang ternodai bercak dari warna rambut miliknya. Mata biru seindah langit yang mengusam kehilangan kehidupannya.

Padahal baru saja mereka bertemu. Setelah suara angin, tetesan hujan, pohon yang berguguran. Setelah ia akhirnya memiliki kesempatan untuk memeluk jiwa itu dalam raga nyata.

Ia terlambat mengutarakan perasaannya. Dan kini, ia terlambat mendapatkan kesempatan untuk dapat mengejarnya.

Mungkin di kehidupan selanjutnya.

Sepasang mata itu menatap sendu dari jauh. Lalu mendongak. Bulan tidak terlihat begitu indah hari ini, pikirnya menatap rintik hujan yang melaburkan tetes air mata di wajahnya.

Jam waktu bergerak, berdetak, namun dengan suara detak yang salah. Genangan air melesat naik menuju langit, suara pekik bergetar masuk kembali ke mulut para manusia, darah kering merona kembali. Ia yang dengan malu merangkak masuk, mengisi tubuh yang perlahan menghangat. Sang pedang yang dengan cepat menarik tubuhnya, beriringan dengan luka menganga yang menutup, merapat. Untuk memberikan kesempatan sekali lagi padanya. Pada mereka.

Pada jiwanya yang henti jua menjerit.

Jam masih berdetak, masih dengan suara detak yang salah.

Kali ini .... Pasti bisa ....

Kali ini ....

Mungkin sekali lagi ....

Diiringi detak waktu yang terus dipaksa mengulang siklus yang hanya menghasilkan duka.

Jari-jemari itu dengan sedikit canggung mencoba menggerakan sendinya. Sepasang mata hijau menatap hampa, mengangkat telapak tangannya yang tampak kurus bagai ranting, panjang bagai galah, pucat bagai abu tulang. Meraba wajah yang terdistorsi akibat harga yang harus dibayar.

....

Ah, atau mungkin tidak.

•

Notes:

Merlin: Hoo, lihat! Ada monster! Hmm .... Kau tahu apa yang kurang? Sebuah dong! Biar aku tambahkan dulu! 😘👌