Work Text:
They say that love is forever—
"Mas? Belum tidur?"
Suara kecil itu berhasil mengejutkan Seokjin yang tengah duduk sambil menyesap cokelat hangat di balkon kamar mereka. Beruntung ia tidak sampai tersedak.
"Kamu ngagetin," ucap Seokjin sambil menaruh mug-nya. "Kamu sendiri, bukannya tadi mau tidur?"
"Dingin," ucap Yoongi singkat yang tanpa basa-basi langsung menuju dipangkuan Seokjin dan menyamankan diri.
Seokjin tersenyum lembut sambil mengelus sayang rambut si manis. "Hangat?"
"Mmm," gumam Yoongi sambil memejamkan matanya.
Mereka tetap diposisinya dalam keheningan selama beberapa waktu. Sampai pada akhirnya Yoongi membuka suara, "Mikirin apa, mas?"
"Ngga kok."
"Hm?"
Satu kecupan mendarat dipuncak kepala Yoongi, "Kamu inget, pas pertama kita ketemu?"
Satu alis Yoongi terangkat–bingung, "Pas aku remedial kalkulus?"
Tawa kecil keluar dari masnya, "Iya," Usapan lembut mendarat di puncak kepala Yoongi. "Kamu tau? Pas pertama ngeliat kamu, mas ga bisa ngalihin pandangan mas."
"Kenapa?"
"Kamu paling pendek soalnya, takut nyon—hei! Sakit tau!"
"Satu, aku ngga mungkin nyontek," bibir kecil itu mengerucut lucu–tanda tidak suka, "Kedua, aku ngga sependek itu!"
Seokjin yang mendengar jawaban kekasihnya kembali tertawa. Oh, betapa lucunya tunangannya saat ini. "Iya, ngga pendek, cuma kurang ting–ow! Yoongi!"
"Ayo ngomong lagi."
Seokjin merengut. "Ish galak." Namun beberapa detik kemudian senyum kembali menghiasi wajahnya ditambah satu kecupan singkat, "Untung aku sayang."
Yoongi tersenyum.
"Mas."
"Hm?"
"Aku sayang mas. Selalu."
Senyum manis terlukis diwajah Seokjin. "Mas tau," ucapnya sambil mendaratkan kembali satu kecupan dipuncak kepala si manis.
"Diantara kita, aku yang sayangnya paling banyak."
"Hmm."
"Sayaaaaaaaaaangggg banget tau ngga mas?"
"Yup."
"Rasa sayang aku ke mas tuh, kaya rambutnya Holly—banyak, dan biarpun dipotong, tapi pasti tumbuh lagi."
"Wow."
"Mas pokoknya yang paling aku sayang."
"Hm."
"Tapi boong aku sebenernya masih sayang sama mantanku."
"Mm—eh, APA?!"
"Bercanda." Jawab Yoongi singkat dengan wajah datarnya.
Seokjin cemberut. "Becanda kamu ngga lucu ah."
"Lucu kok."
"Tapi kamu ngga ketawa tuh?"
"Haha."
"Ish."
"Kalo rasa sayangku ke kamu cuma satu, tapi sebesar kamu. Soalnya kamu doang yang aku sayang."
"Apa sih aku ngga nanya."
Dan jikalau Seokjin melihat warna merah muda mulai menghiasi wajah Yoongi, ia tidak berkomentar.
"Kamu ngga mau tidur di dalem?" Seokjin kembali buka suara ketika lelaki dalam pangkuannya itu dirasakan olehnya mulai tertidur. "Di sini makin dingin."
"Mmm," balas Yoongi singkat. "Mas hangat."
"Gi," satu kecupan lagi-lagi mendarat di puncak kepala Yoongi. "Mas serius. Mana kamu cuma pake kemeja punya mas."
Bukannya menjawab, Yoongi malah memberikan satu ciuman singkat–tanda bahwa ia benar-benar mengantuk dan tidak ingin mendengar protes apapun dari kekasihnya.
Dan Seokjin? Seokjin hanya menghela napas pasrah. Yoongi-nya benar-benar keras kepala. "Kalo kamu besok sakit, mas ngga tanggung jawab ya."
"Mmm." Jawab Yoongi singkat.
Seokjin tersenyum simpul sambil terus membelai rambut sang terkasih. Lagu pengantar tidur tak lupa ia senandungkan agar manisnya tidur dengan lelap. Kekasihnya benar-benar terlihat seperti kucing jika sudah seperti ini.
"Selamat tidur, sayang."
Epilogue:
Seoul, 10:00 pagi.
"Rapper AgustD ditemukan sudah tidak bernyawa ..."
"... balkon apartemen ..."
"... dalam posisi meringkuk ..."
"... kemeja kebesaran yang diketahui milik ..."
"... polisi masih menyelidiki ..."
"... hipotermia ..."
"... over dosis obat tidur ..."
"... diduga depresi ..."
"... dua bulan yang lalu ..."
"... terjatuh dari tebing ..."
"... Kim Seokjin ..."
—Your forever is all that I need.
